Lembaga (yang katanya Sakti) Bernama Media Massa

“Ketika Legislatif, Yudikatif, dan Eksekutif tidak bisa diharapkan, media menjadi tempat bersuara rakyat,” tutur seorang pemimpin redaksi sebuah redaksi media massa. Ucapan heroik tersebut menjadi kata sambutannya kepada beberapa pengunjung kantornya. Benarkah?

Media

Redaktur pelaksana koran tersebut bercerita jika suatu hal akan menjadi berita apabila aktual. Dan tebak, apa yang dimaksud dengan aktual? Isu yang menjadi perbincangan banyak orang. Standarnya berdasar jumlah koran yang laku. Bagaimanapun juga, media massa hidup dari iklan. Semakin banyak pembaca yang ia miliki akan berdampak pada banyaknya pemasang iklan.

Intinya media menyerahkan standar aktual atau tidaknya kepada pasar. Bukankah hal tersebut akan membuat media cenderung untuk memuat isu-isu yang bombastis? Perceraian Farhat Abbas, warna baju Julia Perez, atau Ibu negara yang marah di Instragram, apakah itu penting? Ya, berita-berita tersebut menarik untuk dibaca. Seseorang tidak perlu berpikir keras untuk mencerna info tersebut. Tapi apa gunanya? Beranikah pemilik media mengeluarkan berita-berita yang membuat cerdas dengan taruhan medianya tidak terlalu laku?

Kita ambil contoh satu kasus yang saat ini sedang ramai. Tentang pelecehan seksual yang dialami sebuah murid sekolah internasional. Media massa, memberitakan hal tersebut berulang-ulang. Ada yang bercerita tentang kronologis kejadian sampai konflik antara orangtua korban melawan sekolah. Tetapi, adakah yang memberitakannya dengan cara yang memberi pengetahuan kepada pembacanya? Seperti bagaimana si pelaku bisa menjadi penjahat? Apakah cara untuk mencegah supaya tidak ada lagi pelaku yang lain berkeliaran?

Sayangnya, sebuah berita kadang dianggap bisa dipertanggungjawabkan saat dimuat oleh media massa. Kadang, masyarakat tidak berpikir ada mesin ekonomi di balik itu semua. Ada pemodal atau politisi yang menjadi penyumbang atau pemilik media. Mereka berkepentingan supaya kita membeli produknya atau memilih mereka.
Sesuatu yang dianggap berita juga belum tentu benar. Dalam sehari, sebagian besar wartawan harian memiliki tenggat untuk menulis tiga berita. Bayangkan, apa sempat mereka mengecek datanya? Bisa saja mereka menulis tanpa konfirmasi ulang. Bukankah mereka menjadi seperti robot? Sempatkan para pekerja media beristirahat dan berpikir mengapa mereka melakukan hal tersebut? Adakah idealisme untuk memberitakan yang baik atau mengejar bonus saat beritanya dimuat? Belum lagi jurnalis juga manusia. Mereka punya banyak masalah pribadi seperti membayar tagihan, anaknya sakit, dan lain-lain. Sempatkah mereka untuk berpikir jauh tentang hal-hal yang mereka tulis?

Saya pribadi, sekarang berhati-hati saat menerima sebuah info. Sejak dahulu saya jarang menonton televisi. Lama-lama saya juga mengurangi membaca koran. Sepertinya hidup saya baik-baik saja tanpa harus mengonsumsi kedua hal tadi setiap hari. Saya tidak mau terus menerus berpikir banyak hal buruk terjadi di dunia ini tanpa melakukan sesuatu.  Di sisi lain, saya masih percaya diantara industri media tadi masih ada wartawan baik yang bekerja karena mereka ingin berbagi ilmu atau informasi. Sebagai pembaca dan penonton, kita harus pintar memilih mana yang akan kita konsumsi.

Iklan

Infotainment yang tidak menghibur apalagi memberi pengetahuan

Seorang teman di kantor tiba-tiba iseng menyetel TV. Kami yang sedang bosan akhirnya ikut-ikutan menonton. Lebih dari setengah jam, kami menghabiskan waktu untuk melihat acara nggak penting: berita keretakan rumah tangga Farat Abbas. Di layar kaca, sama sekali tidak ada pernyataan dari Farhat atau pun istrinya kalau pernikahan mereka bermasalah. Si pembuat berita seenaknya menafsirkan hal tersebut dari Farhat yang tidak datang ke acara pernikahan putrinya. Aneh bukan? Menyimpulkan sesuatu tanpa ada sumber. Lalu, berkali-kali si pembawa acara menggunakan kata “mungkin”. Setahu saya, itu tidak bisa dikategorikan sebuah berita.

Saya lebih heran lagi karena di Indonesia, acara sejenis itu disebut infotainment. Sepenangkapan saya, info itu artinya sesuatu yang penting atau membuat cerdas. Si A ribut dengan si B, perselingkuhan si C, koleksi tas D, liburan si E, bagian mana yang membuat penontonnya pintar ya? Penting? Tanpa tahu itu pun hidup saya masih baik-baik saja. Lalu kata entertainment. Itu lebih aneh lagi, mendapat hiburan dari kabar perceraian. Yang sakit itu yang meliput atau yang menonton ya?

Sepertinya, hampir tiap hari, stasiun-stasiun TV nasional menayangkan hal tersebut. Karena mengejar rating? Saya lupa siapa yang pernah berkata kalau stasiun TV malas berpikir jika selera pasar bisa dibentuk. Bukankah penonton TV menyukai infotainment karena mereka disuguhi hal tersebut berkali-kali. Seorang kenalan mengiyakan kalimat tadi. Setelah menikah, ia keluar dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Di rumah, dia hanya punya dua teman: wajan dan remote TV. Tidak ada pilihan lain (mungkin lebih tepatnya tidak ada ide lain) untuk membunuh waktu sambil menunggu suaminya pulang. Bisa jadi, hal yang sama terjadi di penonton-penonton acara nggak jelas tadi. Hanya karena stasiun TV menyuguhkan. Bukankah sesuatu yang dilakukan berkali-kali akan menciptakan kebiasaan?

Beberapa hari lalu, seorang teman membuka percakapan dengan berita jika Cristine Junsung bercerai lagi. Dengan berapi-api dia berkomentar tentang pernikahan Cristine yang baru berumur beberapa bulan. Ia juga berkomentar mengenai suami Cristine yang umurnya jauh lebih tua. Saya cuma bisa bengong. Teman saya bercerita seolah-olah dia mengenal Cristine! Padahal, bertemu saja belum pernah. Dan sepertinya cerita yang sama bisa kita temui dengan mudah di seluruh Indonesia. Saya cuma berpikir, kalau kita tiap hari sibuk menghabiskan waktu dengan hal tidak penting, kita lupa ada banyak hal penting yang seharusnya kerjakan. Saya percaya, sikap seseorang ditentukan oleh apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Kalau tiap hari diberi tontonan sampah seperti itu, bagaimana Indonesia bisa jadi bangsa yang cerdas?