Kadang, Niat Baik Saja Tidak Cukup

Seorang kenalan, kita sebut saja Fajar, mengirim pesan kalau ia akan datang ke Jogja. Fajar meminta nomer teman lain yang pernah menawarkan buku hibah. Kata Fajar, ia sudah berjanji pada pengunjung kecil perpustakaannya akan ada buku baru.

Sebelumnya, saya terkesan dengan kegiatan Fajar. Ia membuka perpustakaan dan mengadakan kegiatan seperti menari dan mendongeng untuk anak di sebuah desa. Saya berusaha membantu dengan memberi info tentang sebuah hibah buku. Tapi caranya meminta tolong tidak lagi membuat saya bersimpati. Ia membuat kesan seolah-olah orang lain harus membantunya. Ia tidak memikirkan bahwa si pemberi hibah sedang berlibur. Buku-buku tersebut ada di kantor. Butuh waktu untuk menyiapkan.

Fajar juga tidak berpikir ada puluhan taman bacaan lain yang menginginkan buku tersebut. Perpustakaan lain lebih dahulu mengirimkan permohonan. Banyak yang lokasi perpustakaannya lebih terpencil. Bisa jadi mereka lebih kesulitan mengakses buku.

Saya jadi teringat niat baik yang pernah dilakukan beberapa teman. Kadang, niat tersebut tidak diikuti oleh cara yang baik. Terlalu sering orang berpikir mengenai tujuan yang ingin mereka capai tanpa memikirkan efeknya untuk orang lain. Tidak hanya satu atau dua kali si pelaku niat baik ini memanipulasi orang lain. Mereka membuat orang lain merasa bersalah jika tidak bergabung.

Saya juga pernah melakukan hal yang sama. Beberapa tahun lalu, saya ingin membuat perpustakaan di sebuah desa. Saya mengeluarkan banyak energi dan waktu untuk mengumpulkan buku dan membuat kegiatan. Niat saya baik, saya ingin membuat anak-anak di desa tadi menyukai buku. Desa mereka jauh dari kota. Buku bagi orangtua mereka yang petani merupakan barang mahal. Jika ada perpustakaan, harapan saya, anak-anak di sana bisa membaca buku dengan mudah.

perpustakaan dan buku

Sayangnya saya lupa jika buku itu benda mati .Kalau tidak dibarengi dengan komitmen untuk datang secara rutin sembari mengadakan kegiatan bermain, percuma. Buku-buku tadi kemudian menumpuk di rak buku seorang tokoh desa. Tidak ada penduduk lokal yang punya waktu luang untuk mengajak penduduk lain melakukan kegiatan membaca.

Bukan hanya saya. Orang-orang di sekitar saya sering melakukan hal yang mereka pikir baik. Tanpa berpikir dari sudut pandang orang yang mendapat bantuan. Atau orang-orang lain yang mereka mintai tolong untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Kadang saya bertanya, apakah benar saya dan mereka tulus? Ataukah kami hanya ingin terlihat baik? Entahlah.
Sekarang saya memilih untuk melakukan sesuatu yang sederhana. Hal yang bisa saya jaga komitmennya untuk melakukan hal tadi secara terus menerus. Seperti menulis di blog, membantu taman bacaan teman yang sudah berjalan. Sambil menunggu nanti ada hal besar yang bisa saya kerjakan. Semoga lebih cepat.

 

Drama itu Cukup Ada di Sinetron Saja

Saya selalu berusaha sibuk atau keluar kota saat seorang kenalan, sebut saja Bunga ingin bertemu. Bukannya sombong, lama-kelamaan saya bosan mendengarkan tragedi hidupnya. Mulai dari punya pacar playboy tapi dia terlanjur cinta mati, ibu yang hobi mencela apapun tindakannya, juga teman-temannya yang menikam dari belakang. Untuk mendukung ceritanya, tidak jarang Bunga menangis tersedu-sedu. Kalau sedang baik hati, saya jadi pendengar yang baik. Kalau sedang kumat sinisnya, saya hanya berkomentar: “Kamu ke psikolog saja deh”. Ditambah dengan ceramah standar: “Hei, di dunia ini ada lebih dari 7 milyar orang. Banyak yang anggota tubuhnya tidak lengkap atau dibuang orangtuanya tapi tidak secengeng kamu.”

Dan, orang yang saya kenal hobi mengasihani diri sendiri bukan hanya Bunga. Hampir tiap minggu ada kenalan atau teman yang tahu-tahu mengirim pesan tentang kisah sedihnya. Mulai dari aku sakit lo, tadi tidak sempat makan karena terlalu keras bekerja, sampai seorang istri yang masih belum bisa melupakan mantan suami padahal ia sudah menikah lagi. Apa hubungannya dengan saya?

Kata teman saya, ada orang-orang punya kecenderungan menjadi drama queen. Ia kemudian bercerita tentang seseorang yang pernah membuat heboh teman sekantor gara-gara pura-pura buta. Si mbak ini juga pernah beberapa kali meminta teman-temannya datang ke acara ganti agama hanya untuk mendapat perhatian.
Kalau mengutip dari Physyc Central, penyakit ini namanya hisrionic personality. Definisinya begini:
Histrionic personality disorder is characterized by a long-standing pattern of attention seeking behavior and extreme emotionality. Someone with histrionic personality disorder wants to be the center of attention in any group of people, and feel uncomfortable when they are not. While often lively, interesting and sometimes dramatic, they have difficulty when people aren’t focused exclusively on them.
Itu histeria kelas berat yang sudah masuk dalam kategori sakit jiwa. Ada juga histeria ringan yang sering kita temui di sekitar kita. Bisa jadi kita termasuk di dalamnya. Pengidap histeria ini sering menampilkan dirinya sebagai “korban” atau “ratu”. Entah kenapa, pelakunya lebih banyak perempuan. Mungkin karena perempuan cenderung makhluk sosial yang butuh pengakuan dari orang lain? Balik ke ratu atau raja drama, bukankah tiap hari media sosial kita penuh tukang sampah yang berkeluh kesah. Orang-orang ingin mengabarkan pada dunia kalau dirinya orang paling malang sedunia. Atau orang-orang yang memiliki pencitraan ini lo saya, mahluk keren karena melakukan ini dan itu.
Waktu makan malam dengan teman, kami menganalisis (ini bahasa keren dari merumpi) tentang beberapa kenalan kami yang hobi menjadi pusat perhatian. Ada yang suka menelfon atau meminta pertolongan lawan jenisnya tanpa alasan jelas. Dan, entah kenapa, orang-orang yang kami absen ini populer di komunitasnya atau di dunia maya. Mereka punya kegiatan sosial dan sering mendapat pujian karena hal tadi. Beberapa bahkan pernah mendapat penghargaan untuk aktivitas sosialnya. Yang kalau dilihat lebih dekat, kegiatan sosialnya tidak sehebat koar-koarnya di dunia maya. Saya tidak tahu mereka sadar atau tidak, orang-orang ini suka memanipulasi orang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka juga suka menyenang-nyenangkan orang lain dengan harapan mendapat perhatian.

Kasihan ya Indonesia. Pantas Indonesia tidak maju-maju. Pada sibuk mendapat nama supaya kelihatan keren dan menjadi pusat perhatian. Biasanya, drama queen atau king ini hanya mau membantu saat ia diuntungkan. Ia juga hanya mau mendengar hal-hal yang berkaitan dengan dirinya atau kelompoknya.

Anak Papua

Ada banyak teori mengenai kenapa seseorang punya kepribadian histeria. Kepribadian ini tidak disebabkan oleh hal tunggal. Kemungkinan paling besar perilaku tersebut efek dari perlakuan orangtua atau lingkungan terdekat pada usia belia. Iya, karena kepribadian seseorang terbentuk pada masana kanak-kanaknya. Cara seseorang memperlakukan orang lain merupakan proyeksi dari kekurangan yang ia dapat waktu kecil.
Saya kemudian bercerita ke teman, kalau saya tidak menyukai orang-orang yang kami bicarakan tadi. Mungkin, karena saya terbiasa menjadi satu-satunya perempuan atau menjadi yang paling muda di sebuah komunitas atau organisasi. Sepertinya, saya merasa tersaingi saat ada orang lain menjadi pusat perhatian. Mungkin, saya juga punya bakat histeria.

Agama Penyebar Kebencian

Pagi-pagi saya hanya mengelus dada sewaktu membaca pesan dari sepupu saya. Isinya begini:
“Ya Allah, Islam punah di Jayapura 😦 Marilah kita berdoa bersama-sama agar kita semua selalu dalam limpahan rahmat dan hidayatnya…..”

Pesan tersebut masih panjang. Intinya Pemda Manokwari (yang bikin sepertinya buta peta karena dia bilang Jayapura) menetapkan Manokwari sebagai Kota Injil. Akibatnya ada pelarangan jilbab, adzan, juga pembangunan masjid. selanjutnya, ajakan itu meminta supaya pesan tadi disebarkan ke sebanyak mungkin muslim. Ini bukan sekali dua kali, para sepupu saya mengirimkan pesan sejenis. Intinya, umat agama lain (nasrani) memusuhi Islam. Kita harus bela agama kita.
Saya kemudian bertanya, apakah sepupu saya pernah baca draf perdanya secara utuh? Setelah sepupu saya bilang belum, saya berkata jangan asal meneruskan pesan. Dulu di Ambon orang bunuh-bunuhan gara-gara ada gosip kalau masjid dibakar. Masjid Ambon

Kadang saya sering sedih dan malu. Islam agama yang mengajarkan kebaikan dikotori oleh umatnya yang menyebar kebencian. Sebenarnya bukan hanya Islam. Saya juga kenal beberapa teman nasrani yang status atau tweet di media sosialnya penuh dengan cerita tentang orang-orang Islam yang membenci penganut lain.

Lalu, apakah manusia yang tidak menganut agama formal bukan penyebar kebencian? Belum tentu. Saya kenal banyak orang yang membenci dengan agama karena mereka beranggapan agama itu penyebab banyak orang berperang. Berkali-kali saya katakan, bukan agama yang membuat orang berlaku buruk ke penganut agama lain, tapi ego manusia. Mereka mendapat pembenaran jika agamanya (dengan demikian dirinya)yang paling baik. Orang-orang sombonglah yang berlaku demikian. Pembenci agama juga sama sombongnya karena ia beranggapan dirinya lebih baik daripada umat beragama.

Saya lebih salut dengan orang-orang yang menolong orang lain tanpa memandang apa agama mereka. Orang-orang yang berusaha membuat lingkungannya menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali karena percaya Tuhan memerintahkan tiap manusia untuk berbuat kebaikan. Dan hal baik tidak diajarkan dengan kebencian. Seseorang yang terlalu sibuk untuk membenci tidak akan punya waktu untuk melakukan kebaikan.

Lagi-lagi saya terlalu menyederhanakan agama. Sebagai seorang muslim, saya percaya Islam menyuruh umatnya untuk lebih cerdas. Ayat Al-Quran yang turun pertama kali berbunyi: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” Meminjam tafsiran dari Harun Yahya, ayat ini memerintahkan manusia untuk banyak belajar. Membaca alam dan isinya. Tugas manusia menjadi pemimpin di muka bumi. Ia harus cerdas dan memahami hukum alam supaya tindakannya membuat bumi menjadi tempat yang lebih nyaman dihuni.

Musuh Islam itu bukan penganut agama lain. Musuh Islam itu kebodohan dan kemiskinan (akibat kebodohan). Seringkali saya melihat orang-orang di sekitar saya punya agama tapi tidak punya Tuhan. Membaca syahadat, salat lima waktu, dan selalu bercita-cita untuk naik haji tapi suka berbohong, mengambil sesuatu yang bukan haknya, paling parah: bodoh. Sudahkah kau beragama dengan baik? Maksudnya, apa yang kau lakukan untuk orang lain dan bumi? Mungkin tidak sempat karena terlalu sibuk menghakimi orang lain.

Jangan Sia-siakan Waktu untuk (menjadi) Orang Jahat

Saya masih duduk di kursi pesawat saat penumpang lain berebutan berdiri. Saya terbiasa menunggu sampai sebagian besar penumpang turun karena malas berdesak-desakan. Tiba-tiba seorang ibu berusia sekitar 50 an tahun membanting ransel saya. Entah apa yang ia teriakkan tapi sepertinya ia kesal karena buru-buru ingin keluar. Apesnya, tas saya menghalangi bawaannya. Penumpang lain kaget dan memandang ibu tadi. Seorang bapak memperingatkan si ibu. Katanya: Hati-hati membanting barang, ibu tadi bisa dituntut jika kena orang.

Pesawat

Awalnya, saya ingin meminta nomer hp ibu tadi. Untuk berjaga-jaga jika laptop dalam tas rusak. Tapi saya mengurungkan niat saya. Orang dengan emosi labil percuma diajak bicara. Kalau pun ada apa-apa dengan laptop saya, dia juga tidak bisa mengganti datanya. Sepertinya, ibu tadi sudah memiliki banyak masalah. Kalau dilihat dari cara berpakaiannya yang tidak nyambung, ia bukan dari kalangan berada. Bisa jadi, ia terlalu capai dengan banyak tagihan atau masalah keluarga. Sepertinya dia tidak berpikir saat bertindak. Ia masih beruntung, jika orang lain yang ada di posisi saya, pasti akan ada adu mulut bahkan berbuntut panjang.
Apakah itu artinya orang-orang yang ada di golongan ekonomi ke bawah lebih rawan stres? Tidak juga. Mungkin teman-teman pernah memiliki bos tempramental. Yang hobi berteriak pada bawahannya. Atau suka menunjukkan kalau ia berkuasa. Atau jangan-jangan, teman-teman juga memperlakukan orang dengan buruk? Ya, mungkin mereka lebih bisa mendapat keinginannya lebih cepat. Tapi apa ia tidak berpikir. Sampai kapan posisinya ada di atas orang lain? Dan jika ia memperlakukan orang dengan buruk,  bukankah  ada banyak orang berharap ia jatuh? Apa yang terjadi nanti kalau dulu orang-orang yang dia tindas membalas?

Konon sebagian besar perilaku kita terbentuk sebelum kita berumur 6 tahun. Saat kita masih kecil, mental kita juga tumbuh. Kita menyerap perlakuan orang-orang yang ada di sekitar kita dan tanpa sadar melakukan hal yang sama. Orang dengan perilaku buruk cenderung memiliki orangtua dengan kelakuan sama. Coba perhatikan orang-orang yang hobi mengkritik orang lain. Biasanya ia tumbuh di lingkungan yang jarang memuji. Lalu orang-orang yang tempramental cenderung punya orangtua yang hobi menuntut anaknya untuk berprestasi.

Tapi, perilaku juga bisa berubah seiring hal-hal yang kita alami. Saya sedang berusaha untuk berbuat baiklah supaya dunia akan membalas dengan perbuatan baik. Bukankah membuat senang orang lain itu meringankan beban mereka? Semoga, kelak ada orang-orang lain yang juga meringankan hari kita. Bukankah hidup itu seperti lingkaran? Saat kita memperlakukan seseorang dengan buruk, orang tersebut kemungkinan juga berlaku buruk ke orang lain. Bisa jadi nanti korban dari perilaku buruk itu membalas ke kita. Hidup ini sulit, sebaiknya kita jangan menambah beban orang lain. Kita akan mendapat apa yang kita lakukan. Bukan berarti kita berbuat baik karena ingin orang lain membalas kebaikan kita. Itu artinya berdagang.

Harga Sebuah Karya

Seorang teman, sebut saja Entus, bercerita kalau menerima tawaran untuk mengerjakan sebuah program TV. Entus sempat menolak mengerjakan tontonan tersebut karena anggarannya terlalu kecil. Ia akhirnya mengambil program tadi karena timnya sedang membutuhkan uang.
Saya jadi teringat saat membaca majalah milik sebuah perusahaan beberapa waktu lalu. Majalah yang dikelola seorang penulis senior di sebuah komunitas tadi tampilannya jelek. Warna dan foto yang dipakai seperti asal pasang. Sebagian besar artikelnya berantakan. Banyak salah ketik dan tulisannya tidak menarik. Terlalu fatal mengingat penanggung jawabnya bukan penulis kemarin sore.

Saya kemudian bertanya, apakah pembuatan terbitan tersebut mepet waktunya? Si penulis dengan santainya menjawab jika perusahaan pemesan majalah tidak menghargai seni. Mereka membayar rendah satu paket mulai dari penulisan, editing, hingga desain majalah. Saya, langsung tidak menaruh hormat pada penulis tadi. Menurut saya, saat mengatakan iya untuk sebuah pekerjaan artinya tidak ada lagi alasan untuk mengerjakan dengan separuh hati. Kata iya artinya saya tidak lagi memikirkan berapa banyak saya dibayar. Bagaimanapun juga, nama saya akan tercantum di karya tadi. Bukankah pekerjaan yang bagus bisa saya pakai untuk mencari klien baru?

Saya dan penulis tadi kemudian ngobrol tentang hal lain. Ia menawarkan jasanya jika suatu saat nanti saya membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan komunitas buku. Saya hanya tersenyum dan berkata sedang tidak punya rencana.  Padahal, kalaupun ada, saya tidak tertarik mempekerjakan orang yang hanya semata-mata bekerja untuk uang. Saya tidak yakin hasil kerjanya akan bagus.

Di lain waktu, seorang teman bercerita kalau ia gagal psikotes di sebuah perusahaan media. Saya heran, setahu saya, ia baru satu bulan bekerja di tempat sekarang. Terlalu cepat untuk melamar kerja di tempat lain. Menurut Anggi, tempat kerjanya sekarang menyenangkan. Sayang gajinya terlalu kecil. Saya kemudian bertanya, mungkin tidak untuk menego gaji? Anggi bilang, kemungkinan tersebut ada setelah program yang ia tangani sekarang selesai.

Kami kemudian ngobrol tentang bekerja sebaik mungkin sebagai bukti kalau kita menyukuri apa yang kita punya. Bukankah saat kita senang bekerja, sesuatu akan terasa lebih ringan? Bukankah karya yang bagus pasti akan menarik perhatian orang? Kalau sudah saatnya, tawaran akan datang sendiri kok. Bukankah suatu pekerjaan yang baik akan membawa kita naik kelas? Yang artinya, ada orang yang mau membayar lebih mahal.

Dress to Impress

Seorang teman bercerita dia baru saja mengunjungi sebuah mall di Bekasi. Di pusat perbelanjaan tadi ada ketentuan untuk berbaju rapi. Teman saya sempat melihat seorang ibu-ibu dengan baju daster dan sandal jepit diusir oleh satpam. Padahal, bisa jadi kan si ibu tadi bermaksud belanja? Tidak seperti teman saya yang berbaju keren tapi nggak punya duit dan cuma sekadar cuci mata? 😀

Saya jadi teringat kata dua mantan bos saya. Mereka sangat memperhatikan penampilan. Menurut keduanya, bagaimana seseorang bisa dinilai isinya jika sampulnya saja sudah tidak menarik dilihat. Meskipun saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat tadi, saya senang terlihat cantik. Sekarang, saya merasa baju yang baik itu penting untuk kenyamananan kita. Catat, bagus tidak ada hubungannya dengan merk. Juga tidak harus barang mahal. Menggunakan barang-barang yang baik merupakan penghargaan ke diri sendiri. Rasa nyaman dengan yang kita pakai akan meningkatkan rasa percaya diri. Dan, secara tidak langsung akan membuat kita melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Teman-teman sering merasa tidak, ada banyak orang masih memakai baju dalam yang sudah lusuh atau bahkan berlubang. Mereka beranggapan baju tadi ada di dalam dan tidak kelihatan. Sayangnya, banyak yang tidak sadar kalau badan kita juga punya perasaan. Coba deh bandingkan saat memakai baju dalam yang sudah tidak layak pakai dengan yang masih bagus. Beda kan?

Tapi, saya juga tidak tertarik dengan orang yang cuma bagus luarnya saja. Fisik keren, percuma kalau tidak diimbangi dengan otak yang bagus dan kelakuan yang menyenangkan. Siapa sih yang mau berlama-lama berkumpul dengan mahluk cantik yang nggak nyambung diajak ngobrol? Ok, mahluk yang fisiknya indah memang menyenangkan dilihat, tapi kalo kelakuannya nggak asyik, siapa yang mo dekat-dekat?

Meskipun saya memilih baju untuk kenyamanan diri sendiri. Kadang ada aturan dari luar yang mau nggak mau “harus” ditaati. Saat ada di lingkungan pesantren, saya yang biasanya memakai rok pendek berganti baju panjang. Dan sepertinya, saya mulai harus mempertimbangkan untuk memakai sepatu di acara resmi. Beberapa waktu lalu, saat mengerjakan publikasi untuk acara peresmian CSR sebuah bank, saya sempat ditegur karena memakai sandal. Menurut si bapak, untuk acara formal seharusnya mengenakan sepatu. Kalo bukan klien, saya akan bilang, saya mikir pakai otak bukan dengan sepatu, sambil cengengesan. Tapi, sepertinya saya perlu berjaga-jaga kalau lain kali ada acara resmi lain. Bisa jadi sandal yang saya anggap sopan tidak berlaku di mata orang lain. Mungkin, saya nyari sepatu di Zalora saja ya? Sepertinya akan lebih irit waktu daripada harus keluar-masuk beberapa toko untuk memilih model yang cocok.