Pekerjaan Impian

Seorang kenalan bercerita jika ia bosan dengan pekerjaannya. Katanya, pekerjaan itu tidak sesuai dengan bakatnya. Gajinya juga tidak memadai. Ia kemudian bertanya bagaimana cara mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan. Maksudnya, yang sesuai dengan hobinya sekaligus mendapat banyak uang.

Saya sempat bingung menjawabnya. Awalnya sempat ingin jujur berkata: Memang ada pekerjaan yang gampang, bikin senang, dan dibayar mahal? Kalau pun ada, itu butuh proses bertahun-tahun. Dan, tidak semua orang rela berkorban untuk mencapai hal tadi. Saya kemudian balas bertanya ke teman tadi. Selama ini, sejauh apa usaha yang ia lakukan supaya orang tahu jika ia ahli di suatu bidang? Sudahkah ia memiliki portofolio dan menawarkan jasanya ke orang-orang yang mungkin akan membayarnya? Dan, ia menjawab belum untuk semua pertanyaan saya.

Pembuat Film DokumenterCerita sejenis sering sekali saya dengar atau baca di grup sebuah komunitas. Ada saja yang bertanya, bagaimana caranya mendapat uang dari ngeblog, atau membuat film. Dengan catatan: cara cepat dan mudah. Sayangnya, selama ini saya belum pernah menemukan cara instan untuk dibayar melakukan hal yang seseorang suka. Semua kenalan saya, mulai programmer, komikus, pembuat film, sampai blogger butuh waktu bertahun-tahun untuk dicari klien.

Banyak yang tadinya pekerja kantoran dan hampir menyerah untuk bekerja lepas karena awal karirnya seret pemasukan. Tidak sedikit juga rekan saya yang keluar dari pekerjaannya untuk meraih karir impian dan terpaksa kembali ke pekerjaan yang menawarkan gaji bulanan. Yang meski tidak sesuai dengan keinginan mereka, menawarkan uang untuk membayar cicilan.

Ngobrol-ngobrol tentang proses, saya jadi ingat cerita Ika Koentjoro. Seorang ibu rumah tangga yang memutuskan menjadikan ngeblog sebagai profesi. Mbak Ika ini mulai ngeblog sejak tahun 2011. Awalnya ia hanya iseng latihan menulis. Lama-lama, ia berfikir bagaimana cara supaya kegiatannya ini tidak sekadar membuang waktu tapi juga menghasilkan uang. Mulailah ia belajar mengenai cara menarik orang supaya membaca blognya. Semakin banyak pengunjung artinya semakin tinggi kemungkinan ia dibayar untuk menulis reviuw. Setelah memutuskan untuk mendapat pendapatan dari ngeblog, Mbak Ika menggunakan domain berbayar. Ia juga lebih rajin menulis.

Selain itu, Mbak Ika sering mengikuti lomba. Katanya, ikut lomba itu semi untung-untungan. Mungkin dari 40 an lomba yang ia ikuti, hanya beberapa yang ia menangkan. Ada banyak faktor seseorang menang lomba. Mulai dari selera juri atau saingan lain. Setidaknya, tiap ikut lomba, hal tadi menarik pengunjung untuk membaca. Kalau menang lomba, akan meningkatkan namanya di kalangan blogger. Mbak Ika bilang, ia butuh waktu bertahun-tahun untuk selalu mendapat penghasilan dari hobinya tadi. Tidak ada yang namanya hobi menjadi uang dalam waktu singkat.

Iklan

Harga Sebuah Karya

Seorang teman, sebut saja Entus, bercerita kalau menerima tawaran untuk mengerjakan sebuah program TV. Entus sempat menolak mengerjakan tontonan tersebut karena anggarannya terlalu kecil. Ia akhirnya mengambil program tadi karena timnya sedang membutuhkan uang.
Saya jadi teringat saat membaca majalah milik sebuah perusahaan beberapa waktu lalu. Majalah yang dikelola seorang penulis senior di sebuah komunitas tadi tampilannya jelek. Warna dan foto yang dipakai seperti asal pasang. Sebagian besar artikelnya berantakan. Banyak salah ketik dan tulisannya tidak menarik. Terlalu fatal mengingat penanggung jawabnya bukan penulis kemarin sore.

Saya kemudian bertanya, apakah pembuatan terbitan tersebut mepet waktunya? Si penulis dengan santainya menjawab jika perusahaan pemesan majalah tidak menghargai seni. Mereka membayar rendah satu paket mulai dari penulisan, editing, hingga desain majalah. Saya, langsung tidak menaruh hormat pada penulis tadi. Menurut saya, saat mengatakan iya untuk sebuah pekerjaan artinya tidak ada lagi alasan untuk mengerjakan dengan separuh hati. Kata iya artinya saya tidak lagi memikirkan berapa banyak saya dibayar. Bagaimanapun juga, nama saya akan tercantum di karya tadi. Bukankah pekerjaan yang bagus bisa saya pakai untuk mencari klien baru?

Saya dan penulis tadi kemudian ngobrol tentang hal lain. Ia menawarkan jasanya jika suatu saat nanti saya membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan komunitas buku. Saya hanya tersenyum dan berkata sedang tidak punya rencana.  Padahal, kalaupun ada, saya tidak tertarik mempekerjakan orang yang hanya semata-mata bekerja untuk uang. Saya tidak yakin hasil kerjanya akan bagus.

Di lain waktu, seorang teman bercerita kalau ia gagal psikotes di sebuah perusahaan media. Saya heran, setahu saya, ia baru satu bulan bekerja di tempat sekarang. Terlalu cepat untuk melamar kerja di tempat lain. Menurut Anggi, tempat kerjanya sekarang menyenangkan. Sayang gajinya terlalu kecil. Saya kemudian bertanya, mungkin tidak untuk menego gaji? Anggi bilang, kemungkinan tersebut ada setelah program yang ia tangani sekarang selesai.

Kami kemudian ngobrol tentang bekerja sebaik mungkin sebagai bukti kalau kita menyukuri apa yang kita punya. Bukankah saat kita senang bekerja, sesuatu akan terasa lebih ringan? Bukankah karya yang bagus pasti akan menarik perhatian orang? Kalau sudah saatnya, tawaran akan datang sendiri kok. Bukankah suatu pekerjaan yang baik akan membawa kita naik kelas? Yang artinya, ada orang yang mau membayar lebih mahal.

Membayar Cicilan Hidup Sekarang

Seorang kenalan lama, sebut saja Bagas, datang ke kantor. Karena sudah tidak bertemu sekitar empat atau lima tahun, kami ngobrol panjang lebar. Tiba-tiba saya teringat, terakhir bertemu, Bagas sedang menyelesaikan skripsi. Setahu saya, skripsi tersebut dulu tertunda sekitar dua tahunan. Saya kemudian bertanya apakah ia jadi menyelesaikan kuliah atau tidak.

Bagas menjawab bahwa skripsinya terhenti di tengah jalan. Berhubung ia sudah terlalu lama tidak lulus, ia mendaftar lagi sebagai mahasiswa baru untuk menyelesaikan studinya. Kuliah yang hanya tinggal skripsi tadi ia abaikan. Ia memilih untuk mencari pekerjaan dahulu. Ia baru akan menyelesaikan studinya jika mendapatkan tawaran pekerjaan yang membutuhkan gelar.

Saya bertanya, kenapa ia tidak menyelesaikan kuliahnya dahulu? Pekerjaan-pekerjaan yang ia inginkan, adalah pekerjaan formal yang biasanya mensyaratkan pendidikan minimal S1. Bagas berkata, ia malas mengeluarkan uang dan waktu untuk mengerjakan hal yang belum pasti terpakai (baca: dapat duit). Saya kemudian teringat, ada banyak orang yang baru mau bersusah payah mengerjakan sesuatu saat mendapat imbalan yang jelas.

Hal yang aneh. Bukannya hidup itu seperti menabung? Kita melakukan sesuatu sedikit demi sedikit dan baru kelihatan hasilnya setelah hal tadi rutin dilakukan selama bertahun-tahun. Hidup itu tidak seperti membeli barang secara kredit. Dimana kita mendapat mobil di muka dan baru membayar cicilannya nanti.

Sayangnya, tidak hanya Bagas yang menunda menabung hidupnya. Banyak orang di sekeliling saya enggan melakukan sesuatu saat tidak mendapat bayaran langsung. Kebanyakan orang cenderung menghitung berapa bayaran tunai yang akan mereka peroleh saat melakukan sesuatu. Jangankan orang lain, saya yang secara sadar tahu bahwa apa yang kita lakukan saat ini akan dibayar kelak saja masih suka menunda banyak hal.

Salah satu contoh sederhana, mengelola blog. Sejak dahulu, saya tahu kalau blog bisa menjadi portofolio. Yang nanti akan mengundang orang untuk menggunakan keahlian saya. Tapi hal tersebut menuntut blog yang diurus secara teratur. Sayangnya, sejak tahun 2008, blog ini lebih banyak terbengkalai. Niat untuk memposting minimal satu bulan pun sering terlewat. Padahal, untuk menulis sekitar 300 sampai 600 kata saya hanya butuh waktu satu jam. Terlalu sibuk? Sepertinya tidak.

Baru akhir-akhir ini saya mulai rajin posting karena membuat target 110 postingan sepanjang 2014. Awalnya, hal tersebut terasa sangat berat. Ada saja alasan untuk tidak menulis. Sulit ternyata melawan rasa malas. Dasar manusia!