Berbuat Baiklah dan Dunia akan Membalas, Begitu Juga Sebaliknya

“Hah, kamu kok betah jalan sama orang itu?” komentar seorang teman saat saya bercerita pergi dengan seseorang. Teman-teman yang lain kemudian menimpali dengan komentar sejenis. Kenalan kami, sebut saja Anggun, kami labeli sebagai pembuat masalah. Ia suka seenaknya mengatur orang lain. Anggun juga labil, ia tidak segan-segan memaki jika orang lain bertindak tidak sesuai yang dia inginkan.

Saya kemudian bercerita tentang Anggun yang tidak punya teman. Saya kasihan, dia tidak pernah mendapat contoh bagaimana memperlakukan orang lain. Wajar saja kalo kemudian Anggun menjadi orang yang menyebalkan. Mungkin, jika ada yang mau jadi temannya, Anggun jadi anak yang lebih ramah. Komentar semua teman yang pernah berinteraksi dengan Anggun sama: “Siapa sih yang mau temenan dengan mahluk labil seperti itu.”

Di sisi lain, Anggun pernah bercerita, dia menjadi korban bullying di kampusnya. Saya tidak pernah bertemu dengan teman di kampusnya, tapi melihat cara dia membentak-bentak semua orang, siapa sih yang tidak balas berteriak? Lalu, biasanya orang akan berkata ke orang lain, jangan dekat-dekat mahluk satu itu.
Anehnya, Anggun sama sekali tidak pernah merasa jika ia bermasalah. Dia tidak pernah sadar kalau orang akan membalas perlakuannya. Ada hukum timbal balik di dunia. Apa perlakuan kita terhadap dunia, akan dibalas dengan dengan hal setimpal. Jadi, kalau ada seseorang yang selalu bermasalah dengan orang lain, yang salah dia, bukan dunia.

Bukan hanya Anggun, orang cenderung menyalahkan dunia luarnya. Dulu, saya juga pernah mengalami hal tersebut. Hampir tiap tahun saya pindah kerja karena saya tidak menyukai orang-orang yang ada di sekeliling saya. Memang sebagian orang yang pernah bekerja dengan saya menyebalkan. Tapi, level menyebalkan mereka bisa jadi berkurang jika saya bisa menahan diri. Kalau saya tidak menyerang balik, orang pasti akan bertingkah laku lebih baik.
Tapi sepertinya lebih mudah menyalahkan dunia, menyalakan orangtua, dan menyalahkan pemerintah atas semua hal yang terjadi pada diri kita. Saya jadi ingat minggu lalu waktu saat menjadi narasumber di acara “Blogger bicara Hutan” yang diselenggarakan Greenpeace. Seorang mahasiswa bertanya, apakah saya pernah membuat tulisan-tulisan yang mempertanyakan kebijakan pemerintah. Saya balik bertanya, kenapa harus menunggu kebijakan pemerintah? Sepertinya, orang-orang yang ada di pemerintahan terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Kenapa kita tidak mulai membuat perubahan yang kita inginkan dari diri kita sendiri? Kalau kita blogger, tulis itu di blog. Ajak orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kalau semua orang menunggu pemerintah berbuat sesuatu, kapan ada perubahan.

Iklan

Para Pemuja Matahari

Saat mendengar judulnya, orang sering bertanya: “Ini novel tentang Suku Aztec, Maya, atau Inca ya?” Bukaann… Ini novel tentang remaja yang keliling Jawa sendirian. Kenapa judulnya Para Pemuja Matahari? Baca deh, ada kok di akhir novelnya 😛

Ceritanya, ada seorang mahasiswi berumur 19 tahun namanya Naia. Dia pamit untuk pergi ke tempat sepupunya di Jakarta. Saat seharusnya pulang, Naia pergi untuk mengelilingi Jawa. Dan mulailah dia jalan-jalan sendirian ke tempat-tempat yang dulu cuma pernah ia baca di koran dan majalah atau lihat di TV.

Waktu di Baduy, dia sempat kaget karena masyarakat sana beda banget sama buku-buku yang pernah ia baca. Saat Naia melanjutkan perjalanan ke Gunung Salak, dia bergabung dengan serombongan mahasiswa dan hilang.

Naia sempat hampir pulang, tapi ia merasa perjalanannya belum seberapa dan melanjutkan pergi ke Segara Anakan. Di tempat yang ada di Laguna Nusakambangan ini, ia bertemu dengan seorang nelayan yang masih sangat muda. Nelayan tadi harus putus sekolah untuk mencari nafkah buat keluarganya.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke Semarang. Naia kemudian menyebrang ke Karimun Jawa dan bersenang-senang dengan seorang turis dari Inggris. Di penginapan, ia bertemu dengan serombongan turis lokal dan bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen.

Nah, itu tadi sedikit gambaran ceritanya. Kalau ingin tahu seperti apa cerita lengkapnya juga ilustrasi laiinya, baca saja di novelnya. Ayo cari di rak novel di toko buku terdekat. Atau, bisa dipesan lewat Lrwahyudyanti@yahoo.com atau 08170420500. Harganya didiskon dari Rp. 39.500 jadi Rp.30.000 (belum termasuk ongkos kirim).

“Dengan tutur kata yang sederhana, pengalaman perjalanan penulis dengan catatan sejarah dan kebudayaan setempat mampu membuat pembaca terhanyut..”Kioen Moe, General Manager Program and Development Metro TV

“Membaca novel ini membuat saya iri! Iri pada Naia yang udah keliling Jawa dan menikmati budaya plus pemandangan yang eksotis. Kapan ya bisa jalan-jalan kayak dia?” (Ken Terate, penulis teenlit).