Dress to Impress

Seorang teman bercerita dia baru saja mengunjungi sebuah mall di Bekasi. Di pusat perbelanjaan tadi ada ketentuan untuk berbaju rapi. Teman saya sempat melihat seorang ibu-ibu dengan baju daster dan sandal jepit diusir oleh satpam. Padahal, bisa jadi kan si ibu tadi bermaksud belanja? Tidak seperti teman saya yang berbaju keren tapi nggak punya duit dan cuma sekadar cuci mata? 😀

Saya jadi teringat kata dua mantan bos saya. Mereka sangat memperhatikan penampilan. Menurut keduanya, bagaimana seseorang bisa dinilai isinya jika sampulnya saja sudah tidak menarik dilihat. Meskipun saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat tadi, saya senang terlihat cantik. Sekarang, saya merasa baju yang baik itu penting untuk kenyamananan kita. Catat, bagus tidak ada hubungannya dengan merk. Juga tidak harus barang mahal. Menggunakan barang-barang yang baik merupakan penghargaan ke diri sendiri. Rasa nyaman dengan yang kita pakai akan meningkatkan rasa percaya diri. Dan, secara tidak langsung akan membuat kita melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Teman-teman sering merasa tidak, ada banyak orang masih memakai baju dalam yang sudah lusuh atau bahkan berlubang. Mereka beranggapan baju tadi ada di dalam dan tidak kelihatan. Sayangnya, banyak yang tidak sadar kalau badan kita juga punya perasaan. Coba deh bandingkan saat memakai baju dalam yang sudah tidak layak pakai dengan yang masih bagus. Beda kan?

Tapi, saya juga tidak tertarik dengan orang yang cuma bagus luarnya saja. Fisik keren, percuma kalau tidak diimbangi dengan otak yang bagus dan kelakuan yang menyenangkan. Siapa sih yang mau berlama-lama berkumpul dengan mahluk cantik yang nggak nyambung diajak ngobrol? Ok, mahluk yang fisiknya indah memang menyenangkan dilihat, tapi kalo kelakuannya nggak asyik, siapa yang mo dekat-dekat?

Meskipun saya memilih baju untuk kenyamanan diri sendiri. Kadang ada aturan dari luar yang mau nggak mau “harus” ditaati. Saat ada di lingkungan pesantren, saya yang biasanya memakai rok pendek berganti baju panjang. Dan sepertinya, saya mulai harus mempertimbangkan untuk memakai sepatu di acara resmi. Beberapa waktu lalu, saat mengerjakan publikasi untuk acara peresmian CSR sebuah bank, saya sempat ditegur karena memakai sandal. Menurut si bapak, untuk acara formal seharusnya mengenakan sepatu. Kalo bukan klien, saya akan bilang, saya mikir pakai otak bukan dengan sepatu, sambil cengengesan. Tapi, sepertinya saya perlu berjaga-jaga kalau lain kali ada acara resmi lain. Bisa jadi sandal yang saya anggap sopan tidak berlaku di mata orang lain. Mungkin, saya nyari sepatu di Zalora saja ya? Sepertinya akan lebih irit waktu daripada harus keluar-masuk beberapa toko untuk memilih model yang cocok.

Iklan

Cantik vs sandal hak tinggi

Konon katanya, perempuan lebih dituntut untuk menjadi cantik. Kadang, mereka kemudian suka menyakiti dirinya untuk disebut cantik. Salah satunya saat memilih alas kaki. Untuk saya pribadi, hal pertama yang saya pertimbangkan saat membeli alas kaki adalah kenyamanan saat dipakai. Tak heran jika seluruh sandal dan sepatu saya berhak rata. Tapi saya pernah sekali terpaksa membeli sepatu berhak tinggi karena “diharuskan tampil cantik” tadi. Ceritanya begini, waktu itu saya mendapat undangan untuk hadir di sebuah acara resmi yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi. Penyelenggara mengatakan mereka menyiapkan kebaya, aksesoris, dan perias wajah. Mereka juga berpesan supaya saya memakai sepatu hak tinggi dengan warna netral.

Saya sempat kaget waktu mendengar kata: “Wajib memakai sepatu hak tinggi”. Aduh nggak kebayang deh jalan dengan sepatu yang nggak nyaman ini. Seumur hidup, saya baru satu kali memakai sepatu hak tinggi. Itu pun sudah lima tahun sebelumnya pada pesta pernikahan salah seorang sepupu saya.

Awalnya saya sempat protes dan membayangankan kalau kaki saya akan lecet. Juga tidak nyaman karena tidak bisa dipakai lari-lari. Karena saya tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, saya mencoba memakainya sebelum acara untuk pergi makan malam. Saya tidak mau nanti mempermalukan diriku dengan terjatuh. Selama acara makan malam tadi, saya tersiksa karena memakai sandal milik adik yang tinggi haknya 7 senti! Sangat tidak menyenangkan karena saya harus berjalan pelan-pelan. Kaki saya juga pegal karena harus berjinjit! Sepanjang makan malam, saya mengutuk mahluk kejam yang menciptakan benda tadi.

Menurut saya, memakai sepatu hak tinggi itu konyol. Untuk apa sih rela menyakiti diri sendiri? Setahu saya, manusia awalnya menciptakan sepatu untuk melindungi kakinya. Karena manusia punya telapak kaki yang datar, seharusnya kakinya juga dilindungi oleh sepatu datar. Bukan sepatu hak tinggi yang lekuknya tidak sesuai dengan tulang kaki. Lama-kelamaan, pemakaian sepatu hak tinggi akan menyebabkan sakit punggung dan tulang kaki bengkok.

Seminggu sebelum acara dimulai, saya sakit. Kaki saya bengkak dan dokter tidak mengijinkan saya memakai sepatu hak tinggi. Masalah belum selesai karena tiga hari sebelum acara, saya baru teringat kalau tidak memiliki sandal “resmi” bisa dipakai ke sebuah pesta. Saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sandal. Ternyata….  90% sandal pesta yang ada di pusat perbelanjaan tersebut punya hak! Karena tidak menemukan barang yang saya cari, saya pergi ke toko sepatu lain. Malangnya, di toko sepatu lain juga sama. Sandal-sandal pesta yang ada juga berhak minimal lima senti. Saya keluar masuk lebih dari enam toko hingga akhirnya menemukan sebuah sandal pesta yang meskipun ada haknya, masih cukup nyaman untuk dipakai.

Yang lebih menyebalkan lagi, harga rata-rata sandal tadi diatas 200 ribu! Menurut saya, sayang sekali kalau harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sandal sekali pakai. Itu baru satu sepatu. Tiba-tiba saya teringat ada banyak perempuan yang ingin dibilang modis memiliki berbuah-buah sepatu. Mereka selalu menyesuaikan sepatunya dengan warna dan model bajunya. Kenapa? Karena mereka terbiasa dijejali jika perempuan terlihat lebih cantik dengan sepatu hak tinggi. Majalah dan televisi yang mereka konsumsi tiap hari juga menyarankan jika masing-masing bentuk sepatu itu hanya pantas jika dipadukan dengan jenis baju tertentu. Jadi, seorang perempuan harus memiliki berjenis-jenis sepatu. Tanpa mereka sadar kalau mereka hanya menguntungkan produsen sepatu.

Pada waktu acara di stasiun TV tadi, lagi-lagi saya mengalami hal yang tidak menyenangkan. Harus memakai make-up. Bayangkan, tiga jam sebelum acara dimulai, saya harus duduk manis di depan kaca. Saya terpaksa pasrah saat seorang penata rias mencoret-coret muka saya. Entah apa saja yang ia sapukan di wajah. Yang pasti sebelum memakai bedak, ia mengoleskan beberapa lapis cairan berwarna coklat dan kuning. Kelopak mata saya juga berkali-kali disapu dengan beberapa warna. Selain itu si penata rias ini juga menggariskan pensil alis di mata. Rasanya perih sekali. Ia juga menambahkan cairan lengket maskara yang membuat mata berat. Saya cuma bisa menolak saat perias ini menawarkan untuk memakai bulu mata palsu.

Yang paling menyebalkan. Semua pria yang ada di tempat tersebut tidak ada yang memakai make-up. Hanya perempuan yang diharuskan memakai make-up. Konon katanya, make-up ini membuat seorang perempuan terlihat lebih cantik. Nggak adil kan? Kenapa hanya perempuan yang harus terlihat cantik? Bukankah itu membuat dia seperti barang?

Kenapa itu menjadi hal yang sepertinya harus? Selama ini saya tidak pernah memakai make-up. Saya merasa hidup saya baik-baik saja tanpa make-up. Saya selalu beranggapan bahwa saya tidak perlu mengikuti para model atau artis supaya dipuji cantik. Saya sudah merasa sudah cantik tanpa harus menutupi wajah dengan barang kimia yang entah apa saja penyusunnya (Sombong itu perlu daripada minder :P). Siapa tahu produsen kosmetik tadi memasukkan hal aneh yang bisa merusak kulit saya kelak.

Ps: foto diambil dari butikmewah.com