Berkah Sri Getuk untuk Warga Bleberan

Gerbang

Jika ada teman berlibur ke Jogja, saya kerap mengajak mereka ke Air Terjun Sri Gentuk. Bagi saya, tempat tersebut bukan sekadar lokasi wisata. Kawasan Sri Getuk merupakan hasil kerja keras warga yang didukung oleh banyak pihak. Mulai dari desa, pemerintah sampai CSR BNI. Saya senang menceritakan perubahan yang kawasan tersebut alami kepada teman-teman.

Saya pertama kali datang ke Desa Bleberan pada tahun 2006. Saat itu, penduduk setempat tidak menganggap air terjun dan gua di desanya sebagai sesuatu yang menarik. Sesekali, satu dua turis datang. Orang luar enggan singgah karena jalan setapak menuju desa susah dilewati. Jalan tersebut becek tiap kali musim hujan tiba. Selain itu, untuk apa berkunjung ke daerah yang tandus dan kering?

Keadaan mulai berubah sejak warga mengemas desanya menjadi obyek wisata. Ide tersebut muncul dari Tri Harjono yang beberapa waktu lalu menjabat sebagai kepala desa. Sekitar tahun 2007 an, ia mengajak warganya bekerja bakti merapikan kawasan air terjun. Untuk mendapat dukungan penduduk, ia datang ke pertemuan-pertemuan dusun dan menyampaikan mimpinya. Awalnya, masyarakat tidak tertarik. Masyarakat belum melihat keuntungan yang akan mereka dapat. Bagi mereka, air terjun tersebut sudah lama ada dan belum pernah memberikan pemasukan.

Air terjun sri getuk

Dengan bantuan perangkat desa, Pak Tri mulai menata kawasan tersebut menjadi tempat wisata. Masyarakat membentuk paguyuban pengelola wisata. Mereka bergotong royong membuat tangga supaya air terjun mudah dijangkau. Dahulu, untuk mencapai air terjun orang harus berjalan melalui persawahan. Rute tersebut tidak memungkinkan pengunjung melihat perbukitan kars yang menyusun kawasan tersebut. Kontur batuan unik yang ada di kiri dan kanan sungai baru terlihat saat orang menyusuri sungai.

Paguyuban kemudian memiliki ide untuk membuat rakit. Mereka meminjam uang dari tokoh masyarakat sebagai modal. Percobaan membuat perahu tersebut sempat gagal dua kali. Perahu yang didesain warga tidak bisa berjalan sembari membawa beban menyusuri sungai. Sampai Pak Marjuni, salah seorang anggota paguyuban mendapat ide untuk memperbaikinya. Ia mengadopsi rakit yang dipergunakan pengangkut kayu dan pupuk di Sungai Kampar.

sri getuk

Para pengelola Sri Getuk kemudian membuat web untuk mempromosikan tempat wisata tersebut. Mereka juga memasang iklan di beberapa majalah. Mulailah pengunjung berdatangan. Warga, dengan bantuan kabupaten membuka tempat wisata tersebut secara resmi pada tahun 2009. Berbagai kesenian daerah tampil di acara tersebut untuk menarik pengunjung. Mereka juga mendatangkan wartawan untuk meliput lokasi tersebut.

Lama kelamaan, wisatawan mulai banyak berkunjung. Mereka memoto air terjun dan menyebarkan melalui media sosial. Hal tersebut mengundang orang lain untuk datang. Kini, Sri Getuk dikunjungi ratusan orang tiap hari. Jumlah tersebut bisa mencapai ribuan orang tiap akhir pekan. Pada hari biasa pengunjung membayar 7.000 rupiah. Biaya tersebut belum termasuk ongkos parkir.

Kini, obyek wisata tersebut mendatangkan pemasukan bagi desa. Termasuk 80 orang warga yang bekerja di sana. Mereka terdiri dari pengelola wisata, tukang parkir, penarik perahu, penjaga tiket masuk, hingga petugas kebersihan. Sejak Sri Getuk menjadi tujuan wisata, jumlah warga yang merantau untuk bekerja berkurang. Anak-anak muda yang lulus sekolah bisa bekerja di sana. Para pengelola wisata berusaha menata kawasan supaya lebih banyak warga bisa terlibat. Setelah lokasi ini menjadi ramai, warga mulai berjualan makanan dan minuman. Dahulu mereka hanya membuka dagangannya saat akhir pekan saja. Jumlahnya pun hanya satu dua. Supaya terorganisir, paguyuban membuat deretan warung. Bangunannya merupakan bantuan dari BNI.

Saya kagum mendengar bagaimana warga berpikir jauh ke depan. Mereka membatasi orang luar untuk berinvestasi di sana. Beberapa tahun lalu, desa menolak pemodal dari luar yang hendak membeli tanah warga untuk membangun hotel. Pemerintah desa tidak ingin penduduk lokal kalah oleh pemodal dari luar.

Setelah air terjun mulai tertata, lokasi tersebut mengundang berbagai bantuan. Termasuk Corporate Social Responsibility BNI. Selain membangun warung diseputaran lokasi, BNI menambah jumlah perahu dan membuat gapura tempat penjualan tiket. Selain membangun infrastruktur, BNI juga memberikan bantuan berupa serangkaian pelatihan. Mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pemandu lokal sampai cara mengemas pangan lokal. Dengan demikian bisa menjual wingko, kripik, dan tiwul untuk oleh-oleh.

Libur lebaran kemarin, saya kembali mengunjungi Sri Getuk. Kawasan tersebut penuh dengan pengunjung. Ratusan bus, mobil, dan motor menyemut di tempat parkir. Dalam sehari, pengelola mendapat pemasukan lebih dari dua puluh juta rupiah hanya dari tiket masuk. 40-an pedagang yang berjualan di seputaran obyek wisata juga kecipratan rejeki. Dagangan mereka laris karena tiap hari ada lebih dari 2000 pengunjung. Tentu saja sebagian berbelanja. Pembangunan-pembangunan bantuan dari pihak luar membuat lokasi tadi tetap nyaman meski ada ribuan orang datang.

Iklan

Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Cerita Padi di Tiga Negara

Padi di Manggarai, FloresPertanian bukan lagi lahan pencari nafkah yang menjanjikan. Hal tersebut menyebabkan jumlah petani kecil berkurang. Lahan-lahan pertanian kemudian beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, atau mall yang memberikan uang lebih. Lalu, bagaimana nasib kita ke depannya? Dengan penduduk bumi yang diperkirakan berjumlah 9 milyar orang pada 2050, mampukah nanti lahan pertanian yang tersisa mencukupi kebutuhan sekian banyak mulut?

Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan dalam riset kolaboratif yang dilakukan alumni Asian Public Intelectual. Ekoningtyas Margu Wardani dan 4 orang rekannya melakukan penelitian mengenai padi di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Riset yang dipublikasikan dalam bentuk pameran foto ini memilih padi sebagai subyek penelitiannya karena komoditas ini ditanam di hampir semua benua. Beras merupakan hasil pertanian penting yang dikonsumsi hampir separuh penduduk bumi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada beras. Kita yang dahulu memiliki beragam bahan makanan pokok, kini mulai meninggalkan jagung, sagu, ketela, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia pengimpor beras. Impor komoditas pertanian juga dilakukan pemerintah untuk menjaga harga produk pertanian tetap rendah. Padahal dari sisi petani kebijakan tersebut merugikan dan membuat orang enggan bertani.

Di Indonesia meski harga padi organik lebih tinggi, tidak banyak petani mau menanamnya. Lahan-lahan pertanian terlanjur mengandung banyak zat kimia. Untuk menjadi lahan organik, tanah butuh tiga hingga lima tahun untuk mengembalikan kesuburannya. Selama masa itu, produktivitas padi turun.

Thailand yang dikenal sebagai negara pengekspor beras pun petaninya belum sejahtera. Sarana produksi pertanian kerap lebih mahal daripada harga jual produk. Petani yang tidak mampu membayar hutang lama-lama menjual lahannya karena terlilit hutang. Di lokasi penelitian, para petani beralih ke organik karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di Ogawa, Jepang, pertanian organik tidak lepas dari seorang tokoh bernama Yoshinori Kaneko. Ia kembali ke pertanian organik pada tahun 71 karena melihat kerusakan lingkungan. Ia mengajarkan peranian organik kepada para petani muda yang kebanyakan berasal dari kota. Mereka memilih menjadi petani karena bahagia bisa hidup harmonis dengan alam dan terhubung dengan konsumen berasnya. Kaneko berprinsip bahwa “Uang tidak membuat kita hidup. Kita hidup karena makanan yang kita makan.” Istrinya menambahkan bahwa jangan pernah berharap pada pemerintah. Lebih baik para petani menanam apa yang mereka makan. Setelah itu, sebarkan dengan berbagi makanan sehatmu.

Senada dengan Kaneko, Prof. PM. Laksono dalam pembukaan pameran menyarankan tentang kemandirian pangan. Menurutnya, tiap orang sebaiknya bertani sendiri untuk mencukupi kebutuhan dapur. Beliau sendiri menggarap sepetak lahan untuk dimasak sendiri. Lalu, adakah teman-teman yang mau kembali menjadi petani? Saya pun mulai dengan menanam sayur di pekarangan rumah.

Hal Sepele Bernama Menyampah

Saat lewat jalan raya ke arah Gunungkidul, saya dan teman melihat seorang pemulung sedang memungut sampah yang sebagian besar plastik bertebaran di pinggir jalan. Teman saya lalu memaki-maki pembuang sampah sembarangan. Apa mereka tidak berpikir kalau menambah pekerjaan petugas kebersihan? Saya melihat ke luar jendela, sepertinya semakin banyak tumpukan sampah di pinggir Hutan Bunder. Seingat saya, sebelum tahun 2005, tumpukan sampah tidak sepanjang itu. Volume sampah sebanding dengan kenaikan kunjungan wisatawan ke Gunungkidul.

Sampah di Muncar, BanyuwangiSaya teringat saat mendaki gunung beberapa tahun lalu. Kami tidak yakin dengan jalur yang kami ambil. Saat melihat sisa bungkus makanan di jalan setapak, teman saya bilang kami ada di jalur yang benar. Sampah artinya jalur ini sering dilalui. Aneh bukan? Katanya pendaki gunung itu pecinta alam? Kok (banyak yang) menyampah seenaknya? Bukankah sampah membuat pemandangan tidak enak dilihat?

Apa susahnya membuang sampah di tempat sampah? Alasan yang paling banyak saya dengar adalah: tidak ada tempat sampah. Apakah menyimpan sebentar lalu membuangnya jika menemukan tempat sampah itu susah?
Mungkin membuang sampah pada tempatnya kedengarannya sepele. Tapi hal kecil yang dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang bisa merugikan. Saya pernah beberapa kali melihat orang dengan entengnya membuang sampah di sungai. Bayangkan jika puluhan orang melakukan hal yang sama tiap hari? Bukankah sungai akan tersumbat dan membuat banjir? Di rumah-rumah panggung saat ke Kalimantan Selatan dan Muncar, saya melihat penduduk tiap hari membuang sampah di bawah rumahnya. Apa penghuni rumah tidak terganggu dengan bau sampah yang membusuk? Apa mereka tidak berpikir kotoran tadi menimbulkan penyakit?

Membuang sampah sembarangan bukan monopoli orang yang tidak berpendidikan. Seorang kenalan bercerita tentang seorang pengajar yang membuang plastik bungkus makanan di jalan. Padahal ibu tadi dosen universitas terkenal yang S3nya di luar negeri. Apa dia tidak berpikir kalau selain mengotori, sampah plastik juga butuh ratusan tahun diurai tanah?

Jangankan sembarangan, dibuang di tempat sampah saja plastik yang menumpuk menimbulkan masih masalah. Plastik butuh ratusan tahun untuk diurai. Selama ini, masih banyak orang yang belanja di supermarket dan boros kantong plastik. Rata-rata, kantong plastik tadi langsung dibuang begitu sampai di rumah. Seringkali, kantong plastik hanya dipakai untuk membungkus satu barang kecil. Bisakah teman-teman mulai mengurangi sampah dari membawa kantong sendiri? Kalau pun terpaksa menggunakan kantong plastik, simpan dan gunakan berkali-kali. Dan kembali lagi ke membuang sampah pada tempatnya. Sepertinya itu kebiasaan yang perlu ditanamkan sejak kecil.

Bisnis Separuh Hati

Suatu malam, saya diajak Diar–teman saya–untuk makan nasi kepal. Iseng saja kami bertanya ke penjualnya, jumlah kepal nasi yang bisa dia jual dalam sehari. Tebak berapa? 200 kepal. Kami kemudian menghitung keuntungan bersih yang ia dapat. Harga per kepal nasi tadi 3.500. Setelah dikurangi perkiraan biaya sewa tempat, bayar pegawai, dan bahan, pemiliknya tiap bulan bisa untung lebih dari 10 juta. Itu belum termasuk laba dari penjualan produk lain seperti kripik dan produk lain. Angka yang sangat besar untuk sebuah gerobak makan yang berjualan di emperan toko. Saya dan Diar langsung berpandang-pandangan. Angka tadi lebih dari pendapatan kami per bulan.

pedagang pasar
Mungkin kami hanya melihat manisnya keuntungan yang didapat pemilik gerobak tadi. Kami tidak sempat bertanya bagaimana dulu dia berdarah-darah memulai bisnisnya. Bisa jadi awalnya dia harus puluhan kali mencoba untuk mengemas produknya. Juga berkali-kali menciptakan susunan bumbu yang tepat. Mungkin awalnya ia sempat dicibir karena tidak menggunakan gelar sarjananya untuk bekerja. Tidak semua orang bisa melalui hal tersebut. Saya kenal banyak orang yang pernah mencoba hal serupa tapi mereka memilih berhenti.
Diar kemudian mengingat-ingat keinginannya berbisnis sejak dulu. Dulu ia pernah bermimpi punya tower bernama Diar Tower juga membuat perusahaan dengan nama IndoDiar. Seingat saya sejak SMA, dia berkali-kali ganti barang dagangan. Pernah dulu ia tertarik berjualan cabai. Dengan sepupu dan temannya, mereka menyewa lahan. Belum ada setahun mereka berhenti karena harga cabai jatuh.

Saya pun tidak jauh beda. Waktu SD saya pernah menjual es dan menyewakan buku. Waktu SMP pernah berjualan kartu nama. Semua tetangga dan teman saya tawari. Sampai beberapa teman punya kartu nama dengan jenis sama karena saya bujuk untuk memesan. Sepertinya semakin dewasa, saya malas mencoba mulai berdagang. Pernah sekali. Itu karena terpaksa. Dulu saya pernah menghadiahi diri saya sebuah novel. Untuk mencetak ribuan eksemplar, saya harus mencicil 3 juta per bulan. Berhubung saya tidak mau membayar cicilan tadi dari gaji bulanan. Mau tak mau saya harus menjual buku-buku tadi.

Akhir-akhir ini saya kembali berpikir untuk berbisnis. Semakin banyak bertemu dengan orang, saya mulai berpikir salah satu cara untuk menolong orang adalah dengan memberinya pekerjaan. Saat seseorang bekerja pada kita, akan lebih mudah untuk mengajarnya melakukan sesuatu. Sepertinya, saya harus mulai secara serius memulai bisnis sekarang juga.

 

Cerita Kopi Ulubelu

Kami hore-hore bisa sampai ke Sekretariat Bersama Kelompok Tani Sumber Rejeki dengan selamat. Untuk sebagian rombongan yang pertama kali ke hutan di PegununganUlu Belu, Tanggamus, Lampung, perjalanan sebelumnya terlalu mengerikan. Kami butuh waktu lebih dari dua jam hanya untuk menempuh perjalanan 9 kilometer. Jalan setapak yang kami kadang hanya berupa parit yang lebarnya kurang dari satu meter. Di boncengan tukang ojek, saya hanya bisa berdoa semoga kaki saya tidak terbentur batu. Atau tidak terjatuh di jurang yang ada di kanan jalan. Gunung, hutan, dan kebun kopi di kiri dan kanan kami sebenarnya indah, tapi saya terlalu panik untuk menikmatinya. Berkali-kali, wartawan dan rombongan tamu memilih untuk turun dari boncengan dan berjalan kaki. Meski para tukang ojek berkata “Percaya saja sama kami” para penumpang kadang masih jalan kaki.

Sesampainya di lokasi, saya langsung membersihkan badan. Tangan dan kaki saya penuh dengan memar dan baret gara-gara terpeleset.  Tiba-tiba saya sangat bersyukur. Bagi saya, perjalanan ini hanya permainan. Beda dengan ratusan petani hutan yang mengelola 499,63 hektar hutan lindung di Pegunungan Ulubelu, Tanggamus. Mereka sehari-harinya harus melalui jalan tersebut (bahkan lebih jauh lagi) untuk mencari nafkah.

Pak Amin, ketua kelompok Sumber Rejeki membuka dengan ucapan selamat datang. Ia kemudian bercerita tentang Gapoktan Sumber Rejeki yang berdiri tahun 1999. Tahun 2007, kelompok tani  yang beranggota 365 orang ini mendapat ijin pengelolaan selama 35 tahun yang bisa diperpanjang.

Sebelum ada ijin, anggota kelompok mengelola hutan dengan asal-asalan. Mereka enggan menginvestasikan waktu dan uangnya karena tidak yakin bisa memperoleh hasilnya. Sebelum mendapat ijin pengelolaan sementara tahun 2000, para petani hutan tersebut harus kucing-kucingan dengan aparatur negara. Mereka kerapkali diusir dengan kekerasan. Di sisi lain, hutan tidak terawat dan banyak ditumbuhi alang-alang yang mudah terbakar.

Semenjak ada program HKm, kesejahteraan petani hutan meningkat. Satu hektar lahan kira-kira bisa menghasilkan antara satu hingga satu setengah ton kopi. Komoditas yang dipanen antara bulan Maret hingga Agustus tersebut dijual dengan harga 16.000 hingga 23.000 per kilogram. “Salah satu pertanda kami sejahtera itu terlihat dari kemampuan para petani menyekolahkan anak. Dulu, sebelum ada ijin, kami ragu menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Jangan-jangan nanti tanaman yang kita urus tahun depan sudah tidak bisa dipanen. Bagaimana kalau anak terlanjur sekolah, apa bisa bayar biayanya? Sekarang, banyak yang menyekolahkan anak sampai kuliah. Beda dengan dulu yang mau beli beras saja kesulitan,” tutur seorang petani hutan yang menemui kami.

Di tengah-tengah petani yang bercerita peningkatan pendapatan setelah mereka mengelola hutan, seorang peserta dari Kesatuan Pengelola Hutan Lindung “protes”. Menurutnya, petani salah karena menjadikan hutan lindung sebagai perkebunan kopi. Ia berpendapat petani harus ikut aturan dimana dalam satu hektar lahan harus ada 400 batang tanaman kayu. Sepertinya ada yang aneh! Setahu saya, tugas KPHL itu merencanakan hingga menjalankan pengelolaan hutan. Bukankah seharusnya mereka melakukan susuatu supaya kondisi hutan membaik? Pernah petugas yang protes tadi membantu para petani yang buta hukum dan mungkin miskin akses informasi? Petani-petani tadi taunya cuma menanam dan memanen pohon kopi untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Kalau nggak dikasih contoh (juga bibit), jangan berharap banyak deh.

Kalau mengutip kata Irfan Bachtiar, konsultan kehutanan,  fungsi hutan lindung itu sebagai penyangga tata air dan kesuburan tanah. Selama kopi atau tanaman lain yang ada masih bisa mengikat air, itu tidak jadi masalah. Menurut Swari Utami Dewi, kopi jauh lebih baik daripada hutan dijadikan kebun kelapa sawit. Lalu, pemberian hak kelola hutan pada masyarakat itu mengurangi konflik atas tanah.

Ok, tanaman monokultur memang tidak baik untuk kesuburan tanah. Kalau mengikuti pasal 33, pemerintah (di sini Departemen Kehutanan) wajib membantu petani-petani bagaimana cara mengelola lahan dengan baik. Termasuk didalamnya memberikan bantuan bibit tanaman keras.
Saya lebih salut dengan upaya pihak swasta mitra para petani HKm Sumber Rejeki. Salah satunya PT Ulubelu Cofco Abadi. Perusahaan exportir kopi milik pasangan suami istri Rinaldi Hartono dan Elmira Tjahja. Sehari setelah melihat Pegunungan Ulu Belu, saya mampir ke warung kopi mereka. Saya bertemu dengan Bu Elmira yang menceritakan awal mula usaha mereka. Tahun 2009, mereka yang tadinya tinggal di Amerika pulang untuk mengurus orangtuanya. Mereka kemudian mulai berbisnis kopi pada tahun 2010.

Keduanya merupakan keturunan pedagang kopi dari Talang Padang. Bedanya, kakek nenek keduanya sekadar pengumpul kopi yang kemudian menjualnya. Sejak keduanya memutuskan untuk serius di bidang perkopian, mereka berusaha untuk mendapat sertifikat 4C (Common Code for Coffee Community) supaya kopinya diakui secara internasional. Untuk itu, kopi mereka harus mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan dan ekonomi dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran kopi-nya. Salah satu alasan mereka tertarik berbisnis kopi adalah rasa miris karena kopi Lampung yang robusta tidak dianggap di percaturan kopi internasional yang memuja kopi jenis arabika. Selain itu, kopi Indonesia dianggap bermutu buruk. Karenanya harga kopi dari Indonesia lebih rendah dari kopi dari negara lain. Dan lebih menyedihkan lagi, perdagangan kopi di Lampung dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.

Suami-istri ini menerapkan prinsip kewirausahaan sosial dalam berbisnis. Untuk mengajarkan kepada petani cara menanam kopi yang baik, mereka bermitra dengan Universitas Lampung. Perusahaan ini mulai tahun 2012 mulai melakukan penanaman kayu keras seperti medang, suriah, cempaka, mimbri, durian, mangga, pala, hingga pete di hutan yang dikelola petani mitranya. Mereka percaya jika pola penanaman monokultur ke depannya akan merusak kualitas dan kuantitas kopi.

Baru tahun lalu perusahaan Ulu Belu mengemas kopi untuk dijual dalam bentuk bubuk. Sebelum mengemas produk tersebut, mereka mencari cara supaya kopi bisa tahan lama tanpa memasukkan pengawet kimia ke dalamnya.  Saya sempat bertanya, perdagangan kopi yang mereka lakukan butuh investasi waktu dan uang bertahun-tahun. Bisa dibilang, mereka awalnya tidak tahu bagaimana bisnis ini akan berlanjut. Saya suka dengan jawaban, ibu Elmira, si pemiliknya ” Kalau kita ingin berbuat baik, sejahat-jahatnya orang masih ada Tuhan yang jaga.”

Waktu Bu Elmira bercerita tentang produknya yang hanya berisi kopi murni tanpa bahan kimia atau gula, saya jadi ingat pertanyan teman yang berasal dari Australia beberapa tahun lalu. Ia heran kenapa Indonesia yang negara penghasil kopi nomer empat dunia, penduduknya mengkonsumsi kopi instan. Begini saudara-saudara, kopi adalah komoditas mahal. Kopi-kopi dengan mutu bagus tidak beredar luas di pasaran karena mahal. Kebanyakan kopi lokal sudah dicampur dengan jagung, beras, atau, mentega. Belum lagi perusahaan lokal tidak memiliki distribusi dan modal yang bagus.

Oh iya, ini video yang saya ambil waktu ke Pegunungan Ulu Belu untuk gambaran seperti apa medannya.

Dongeng Tentang Hutan Indonesia

Di web Greenpeace Indonesia, saya membaca tulisan lama tentang Indonesia yang pernah tercatat sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di Guinness World Records. Tahun 2000 hingga 2005, laju deforestasi Indonesia berkisar pada angka 1,8 juta hektar/ tahun. Angka tadi menyebabkan banyak hutan alam musnah. Setengah dari sisanya masih terancam keberadaannya antara lain oleh penebangan komersil, kebakaran hutan, dan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit.

Saya jadi teringat waktu ke Flores dengan rute dari Maumere ke Labuhan Bajo. Sebelumnya, saya pernah beranggapan seluruh Flores kering kerontang. Ternyata saya salah! Kami melewati gunung-gunung hijau. Bahkan, teman saya yang aktivis lingkungan di Austaria berkali-kali takjub dan bilang tempat ini keren.

Kota Bajawa di Flores

Kota Bajawa di Flores

Sayangnya, di daerah Manggarai, hutan cantik tadi berlubang-lubang akibat tambang. Karena ingin tahu kondisi masyarakat di sekitar tambang, saya mengikuti Pater lokal ke desa untuk sosialisasi tolak tambang. Kami berangkat malam-malam ke pertemuan warga. Di sana, Pater sempat berdebat dengan beberapa warga. Salah satunya, seorang bapak yang barusan pulang merantau. Dia bilang, desanya nggak maju-maju dan penduduknya semiskin saat dia pergi merantau. Menurutnya, kalau ada tambang mangan, orang-orang akan dapat pekerjaan. Perusahaan juga akan membangun jalan untuk penduduk desa.

Flores, Manggarai

Gereja desa di Manggarai

Saya sempat gondok banget. Enak aja dia bikin seolah-olah perusahan tambang itu pahlawan. Beberapa penduduk desa, termasuk tetua yang mabuk termakan ucapannya. Saya lalu cerita tentang liburan saya ke Bangka beberapa waktu sebelumnya. Di sana, dua teman saya membuat film dokumenter tentang tambang. Ada banyak lubang-lubang besar bekas tambang di mana-mana. Apakah penduduk lokal bisa kaya dari tambang? Tidak. Yang diuntungkan dari tambang cuma pemilik modal. Penduduk lokal memang mendapat upah dan pekerjaan. Tapi resikonya tinggi. Banyak yang meninggal kerena kecelakaan. Setelah timah di suatu tempat habis ditambang, si pemilik modal pergi. Mana mau mereka mengeluarkan uang untuk mengembalikan lubang-lubang tadi.

Pagi harinya, Pater Simon mengisi kebaktian minggu di Gereja dekat calon tambang. Pater yang berceramah tentang bahaya tambang menyuruh saya bergabung. Saya sempat bengong waktu Pater meminta saya maju ke mimbar. Saya tidak menyangka bakal ditodong “memberi pencerahan” 😀 Selain ini kali pertama saya ke gereja, saya nggak pede karena belum mandi. Di depan mimbar, saya bingung dilihatin sekitar 70an orang asing. Akhirnya saya bilang kira-kira seperti ini: “Hai, saya Lutfi, dari Jogja. Kemarin, dalam perjalanan kemari saya lewat hutan-hutan. Hutan tadi cantik, beda banget dengan hutan-hutan di Jawa. Di tempat kami, sebagian besar hutan isinya tanaman sejenis. Banyak yang gundul malah. Sayang saja kalau hutan tadi harus ditebangi karena mau ditambang. Buat nanam pohon sampai besar saja butuh puluhan tahun. Apalagi sampai nanti jadi ekosistem lengkap dengan hewan didalamnya. Saya tidak tahu berapa uang yang dibutuhkan untuk mengembalikan hutan ini seperti semula.”

Selamatkan Harimau

Ya, saat hutan rusak, ada binatang yang terancam punah. Greenpeace memilih harimau sumatra sebagai maskot protect paradise karena sekarang jumlahnya tinggal 400an ekor. Bisa jadi, kalau hutan rusak, mereka akan menyusul harimau jawa yang punah duluan. Waktu ke Aceh, saya dan beberapa teman sedih melihat sisa hutan dibakar. Sayang banget, padahal hutan tadi sepertinya dulu keren. Selama di Aceh, kami lewat banyak hutan lain yang masih bagus. Kami sering mampir ke hutan untuk menghirup udara segar atau iseng bermain. Semoga saja tidak menyusul hutan yang dibakar tadi. Kata penduduk sekitar, hutan yang dibakar tadi akan diubah menjadi perkebunan sawit. Dulu, saat hutannya masih bagus, katanya sering ada harimau lewat di jalan setapak tengah hutan. Entah sekarang mereka ada di mana.

Hutan rusak di Aceh Barat

Cerita tadi hanya segelintir dari dongeng sedih hutan. Ada jauh lebih banyak cerita lain yang infonya hanya diketahui di lingkup kecil. Data Departemen Kehutanan tahun 2012 menyebutkan jika 136.173.847,98 hektar lahan (60%) dari luas Indonesia adalah hutan negara. Dari keseluruhan lahan yang berada di bawah Dephut tersebut, 33.915.418 hektar ijin pengelolaannya dikuasai oleh 535 perusahaan. Wilayah tersebut rawan kasus kejahatan kehutanan di sana. Lalu, bagaimana cara kita ikut ambil bagian dalam menghentikan kerusakan hutan? Sesuatu yang mungkin menurut kita nun jauh di sana. Ada banyak cara kok. Salah satunya dengan menyampaikan berita tentang hutan. Saat suatu isu dibicarakan banyak orang, para pengambil kebijakan akan lebih berhati-hati untuk memutuskan sesuatu. Karena mereka merasa diawasi. Kita juga bisa mulai mencari daftar produk yang dihasilkan dari perusakan hutan. Jika ada banyak orang mengurangi pemakaian produk tadi, produsennya pasti akan berusaha lebih ramah bumi.