Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Merayakan Buku di Mata Aksara

Minggu, 12 Oktober, lalu puluhan ibu-ibu dan anaknya yang rata-rata berusia balita memenuhi lantai dua mata Aksara. Sebenarnya, acara berjudul “Membangun Budaya Baca di Keluarga” tersebut ditujukan bagi para orangtua. Untuk mengingatkan kembali jika membaca itu penting untuk masa depan anaknya. Entah kenapa, acara berbau pendidikan anak lebih menarik bagi ibu-ibu.

 

Saat si ibu ngobrol tentang membaca di lantai dua, Mbah Bad mengajak anak-anak mereka berkebun. Mbah Bad membawa bungkus benih. Ia mengajak adek-adek yang datang mengenal buah-buahan dan sayuran. Ia menunjukkan gambar sayur dan buah-buahan pada seluruh peserta. Adek-adek tadi selain menyebut nama buah dan sayuran yang ditunjuk juga bercerita mana saja yang pernah mereka makan.
Rombongan kemudian pergi ke kebun organik di lantai 3. Beberapa ibu menemani anaknya karena mereka masih takut ditinggal. Waktu melihat kebun, beberapa langsung memetik sisa tomat yang belum dipanen. Warna merah tomat memang menggoda untuk dimakan. Akhirnya, sesi berkebun menjadi sesi bermain tanah. Lucu lo, melihat anak usia 2 sampai 4 tahun mencampur pupuk dan tanah. Saya tidak tahu apakah mereka menaati contoh Mbah Bad. Yang pasti mereka asyik mengisi polybag dengan bibit. Sesudah selesai, anak-anak tadi mencuci tangan. Namanya anak-anak, sempat-sempatnya bermain air. Mereka kemudian turun bergabung dengan ibu-ibunya.
Lantai dua kemudian menjadi hiruk pikuk. Saat Mas Sholahuddin Nurazmy dan Pak Muchsin Kalida bercerita tentang pentingnya menulis, anak-anak ini bermain trampolin atau menggambar. Sambil berceloteh dan berteriak. Sepertinya peserta diskusi tidak merasa terganggu. Mereka mendengarkan cerita kedua pemateri. Diskusi mengenai pentingnya membaca kemudian bergeser menjadi obrolan tentang menulis. Kedua pembicara mengatakan jika menulis itu bisa dimulai dari mana saja. Gunakan media apa saja yang paling mudah ditemui. Bisa mulai dari menulis di buku atau sekadar status facebook. Bercerita juga tidak harus tentang hal yang wah atau besar. Kejadian yang dialami setiap hari juga bisa kok menjadi bahan tulisan. Yang penting, mulailah menulis.
Mas Adi, pengelola Mata Aksara, menambahkan ide menulis bisa didapat dari membaca buku. Ia melanjutkan kalau banyak buku yang bisa dipinjam di sana. Seseorang yang banyak membaca buku, akan lebih mudah mendapat inspirasi untuk menulis.

Setelah diskusi berakhir, ibu-ibu tersebut berlatih menulis. Temanya tentang buku yang bisa mereka bacakan untuk anaknya sebelum tidur. Meski banyak yang mengaku tidak tahu darimana harus mengawali menulis, mereka terlihat serius. Sepertinya, melihat besarnya antusiasime ibu-ibu, acara ini akan ada kelanjutannya. Setelah acara, beberapa masih tinggal untuk membaca buku. Ada juga yang bertanya jam berapa taman bacaan buka supaya bisa kembali untuk meminjam buku. Sepertinya, perlu lebih banyak perpustakaan-perpustakaan komunitas mandiri yang bisa mengajak lingkungannya melek literasi. Supaya lebih banyak orang membaca di Indonesia.

Sekolah itu (seharusnya) Mengajar Berpikir Kritis

Andi, kenalan yang tinggal di Jambi, bercerita kalau ia sedang mengumpulkan bahan tentang sekolah alam. Ia membuka sekolah untuk Suku Anak Dalam di wilayah Taman Nasional Bukit 30. Ia merasa bahwa lingkungan tempat Suku Anak Dalam tinggal kaya sumber daya alam. Sayang mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelola hal tersebut. Ia tertarik untuk membuat sekolah yang mengajak muridnya memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh sekolah formal.

Mendongeng untuk anak
Saya jadi teringat tiap kali berkunjung ke luar Jawa atau daerah yang jauh dari kota. Saya miris melihat buku pelajaran yang dibuat Pulau Jawa digunakan oleh sekolah-sekolah dari Aceh sampai Papua. Bisa jadi, si pembuat tidak tahu latar belakang calon pengguna bukunya yang beraneka ragam. Bayangkan seorang anak di pedalaman Maluku diajar cara menabung di bank. Padahal, orangtua dan tetangganya hidup dari berburu dan meramu. Orang-orang disekelilingnya tidak akrab dengan konsep uang. Bisa jadi mereka malah belum pernah melihat wujud bank karena lokasi terdekatnya ratusan kilo. Padahal mereka tidak pernah keluar dari kampung. Atau seorang anak di pelosok Papua yang harus menghafal fungsi internet. Padahal belum tentu ada komputer di wilayahnya. Dan, masih banyak lagi cerita seputar sekolah yang memisahkan muridnya dengan lingkungan.
Menurut saya, seharusnya sekolah bukan tempat menyeragamkan seorang murid. Sekolah yang baik mengajak muridnya berpikir kritis. Membuat anak-anak didiknya beranggapan jika belajar itu menyenangkan. Sehingga mereka rajin mencari tahu tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking. Yang entah apa gunanya untuk hidup. Kelak, saat tumbuh dewasa, murid-murid yang terbiasa berpikir kritis akan menjadi orang yang gemar bertanya. Mereka juga cenderung akan melakukan sesuatu jika merasa ada yang salah dengan lingkungannya. Tentunya, sekolah seperti ini butuh guru yang memang cinta mengajar dan ingin berbagi. Bukan sekadar guru yang memilih pekerjaan tadi semata untuk mencari nafkah. Berhubung guru ini harus cerdas, sekolah wajib menyuplai mereka dengan berbagai macam buku.

foto by Valens Riyadi

foto by Valens Riyadi

Sekolah yang keren idealnya lengkap dengan perpustakaan. Ada berbagai macam buku di sana. Mulai dari buku-buku cerita dengan gambar menarik hingga ensiklopedi yang berisi ilmu pengetahuan. Guru mengajak murid-muridnya menyukai buku dan banyak membaca. Tidak harus dimulai dengan buku-buku yang berat. Membiasakan membaca bisa dimulai dengan bacaan-bacaan ringan atau komik. Lama-lama, seseorang yang terbiasa membaca buku akan mengembangkan jenis bacaannya. Kelak, ia akan membaca berbagai jenis buku.
Sayangnya, di Indonesia, sekolah semacam itu belum bisa berkembang. Sekolah-sekolah formal masih harus mengikuti kurikulum yang telah ditentukan dari pusat. Yang belum memberikan ruang untuk keanekaragaman. Saya lebih setuju dengan pendapat jika sekolah dan guru pertama seorang anak itu keluarganya. Sekolah formal bukan tempat menitipkan anak untuk dididik. Untuk menciptakan keluarga-keluarga yang bisa menjadi guru, kita perlu membiasakan diri untuk terus belajar. Banyak membaca buku, rajin datang ke diskusi, pergi ke museum, dan menonton film-film bagus. Mari, berusaha lebih pintar supaya kita bisa menjadi sekolah untuk (calon) anak kita. Lebih baik lagi kalau kita bisa membagi kepandaian itu dengan lingkungan.

Give Away Sekolah Impian

http://”//www.youtube.com/embed/qmcZpviA_wM”

Read A Loud di TK Pembina

Bulan lalu, Mbak Kantri mengirim pesan. Ia bertanya apakah komunitas Goodreads Indonesia wilayah Jogja membacakan buku di sekolah. Mbak Kantri kemudian bercerita. Ia sedang mencari teman untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Selama ini, mendongeng untuk anak-anak biasanya hanya mengandalkan lisan. Ia ingin ada kegiatan membacakan buku dengan menarik, supaya anak-anak menyukai buku. Ibu yang dulu pernah mengajar di Lazuardi Global Islamic School ini percaya kalau anak usia dini perbendaharaan katanya terbatas. Mereka membutuhkan benda yang nyata atau peraga visual untuk memahami apa yang diceritakan.

Membaca bukuObrolan tersebut berlanjut di Ma-Buk, acara bulanan GRI Jogja yang isinya makan-makan sembari bertukar cerita seputar buku. Mbak Kantri menawarkan untuk memulai kegiatan baca buku tersebut di TK Pembina, Umbulharjo. Ia berharap supaya acara tersebut menjadi kegiatan rutin.

Kami kemudian bertukar cerita tentang budaya membaca di Indonesia. Buku baru dianggap sebagai hal penting bagi segelintir orang. Banyak yang berpendapat gemar membaca itu bukan hal yang perlu. Ironisnya, kadang pendapat tadi muncul dari orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan. Tahun lalu, saya pernah punya kegiatan membacakan buku di sebuah penitipan anak. Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola penitipan anak tersebut menghentikan kegiatan itu. Alasannya, membaca buku tidak ada di kurikulum.

Mendongeng untuk anak
Tidak sekali dua kali saya menemui anak-anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran. Orangtua masih berpikir hal tersebut membuang waktu. Mbak Dewi bercerita jika di sekolah anaknya ada buku-buku cerita untuk dibaca sebagai selingan. Berbeda dengan jaman ia kecil atau mungkin sekolah lain. Guru akan menyita jika ada yang ketahuan membawa buku cerita ke sekolah. Padahal, buku itu sumber ilmu pengetahuan. Membiasakan menyukai buku-buku berat harus dimulai dari menyukai buku-buku yang sederhana dahulu. Dan hal tersebut ditanamkan sejak kecil.
Akhirnya, kami memulai kegiatan membacakan buku tanggal 15 September lalu. Sebenarnya, ada 14 orang yang konfirmasi datang. Sayang, kami lupa mengingatkan mereka beberapa hari sebelum acara. Ada 7 orang yang datang untuk membacakan buku. Karena beberapa relawan datang terlambat, kami memulainya di satu kelas saja. Supaya masing-masing relawan tidak kerepotan menghadapi terlalu banyak anak. Kami tidak menyangka jika anak-anak di sana antusias dengan buku.

Pendidikan usia dini
Seusai membacakan buku, beberapa teman berpikir sepertinya kegiatan ini perlu dilanjutkan. Hal tersebut akan dibahas saat Ma-Buk akhir bulan ini. Rencananya, kami akan memanen sayuran organik di Taman Bacaan Mata Aksara. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 13,5. Ada yang tertarik ikut? Jika ada lebih banyak orang, kegiatan ini bisa berjalan rutin. Hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com untuk agenda berikutnya. Atau, silahkan bergabung di grup https://www.facebook.com/groups/179962022020876/ untuk info Ma-Buk berikutnya: Ayo berteman sambil merayakan buku 🙂

Perpustakaan di tengah-tengah Lapangan Denggung

Minggu lalu, saya, Bayu dan Atri nongkrong setengah hari di Lapangan Denggung, Sleman, Yogyakarta. Kami menggelar perpustakaan keliling. Biasanya, tiap minggu ada Mas Adi dan Mbak Heny dari Taman Bacaan Mata Aksara yang membuka perpustakaan keliling di lapangan ini. Kami cuma jadi tim hore yang sekadar meramaikan. Berhubung beberapa minggu berturut-turut keduanya ada acara lain, perpustakaannya sempat absen.

Karena merasa sayang kalau kegiatan perpustakaan keliling absen terlalu lama, kami menawarkan diri menggantikan. Minggu sekitar jam delapan, kami bertiga sudah sampai di Mata Aksara. Awalnya, kami ingin membawa motor perpustakaannya. Berhubung Bayu sempat menabrak tong sampah saat mencoba mengendarainya, kami memutuskan tidak membawa motor ini.

Motor Perpustakaan Keliling
Saat pertama kami menggelar karpet dan buku-buku, pengunjung masih enggan berkunjung. Kami sempat disangka tukang jualan buku. Untuk mengisi waktu, kami membuat kopi. Kami memang sengaja membawa kopor untuk merebus air. Kebetulan saya hobi membeli kopi-kopi lokal saat pergi ke luar kota. Lama-lama, banyak anak kecil datang untuk membaca buku ditemani orangtuanya. Karpet yang kami bawa mirip seperti penitipan anak.
Kegiatan ini ada tiap minggu pagi dari sekitar pukul 9 sampai selepas Dhuhur. Silahkan kalau mau datang ke Lapangan Denggung untuk membaca-baca buku. Tempatnya teduh dan menyenangkan untuk duduk-duduk. Biasanya, kalau motor perpustakaan bisa dibawa, ada ratusan buku yang bisa dibaca. Mulai dari komik, novel, buku tentang berkebun, sampai kesehatan ada di sini. Mbak Heny dan Mas Adi juga sering membawakan buku yang dipesan pembaca. Buku-buku tadi merupakan koleksi Taman Bacaan Mata Aksara yang jumlahnya sekitar 4000 buku. Biasanya kalau ada motor perpustakaan, anak-anak juga bisa bermain atau menggambar dan mewarnai. Semuanya tidak dipungut biaya.

Perpustakaan Keliling di Lapangan Denggung, SlemanSupaya kegiatan ini tetap berlangsung tiap minggu, adakah yang tertarik menjadi relawan? Bergantian menunggui buku-buku ini tiap minggu pagi? Bisa juga nanti kita mulai mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan mengajak orang lain untuk lebih menyukai membaca. Seperti diskusi misalnya? Silahkan datang langsung tiap minggu pagi atau hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com dan Mbak Heny di henywardaturrohmah[at]yahoo.com

Baca Buku, Yuk! Karena Sekolah Saja Tidak Cukup

Hari minggu lalu, Goodreads Jogja dan 1001 buku mengadakan ngobrol bareng mengenai dunia pendidikan dan budaya membaca. Acara tersebut menjadi bagian dari Booklover Festivalnya Radio buku. Ceritanya, ide obrolan ini dimulai dari keprihatinan teman-teman dengan dunia pendidikan (formal) di Indonesia. Selama ini, pendidikan cenderung dipersempit menjadi sekolah. Orangtua menitipkan anak-anaknya ke sekolah dan berpikir bahwa mendidik itu tugas sekolah. Padahal, seharusnya orangtua yang diberi amanah untuk mendidik anak. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking.

diskusi buku di radio buku

Ada 4 pembicara yang memulai diskusi. Mas Anto yang bekerja di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, Mas Adi yang menjadi Komite Sekolah TK dan SD Model, Mbak Tata yang praktisi anak dan Pendidikan, lalu Mas Ganjar yang relawan literasi di 1001 buku. Mas Anto bercerita pengalamannya waktu berbicara di depan guru dan kepala sekolah RSBI. Dia iseng bertanya kapan mereka terakhir baca buku di luar buku umum. Jawabannya: waktu kuliah. Kebayang ga, menurut dinas pendidikan, guru yang ada di RSBI itu guru bagus. Buku itu salah satu cara mendapat pengetahuan. Kalo yang bagus saja tidak menganggap buku penting, guru-guru dengan level dibawahnya seperti apa?

Obrolan kemudian berlanjut ke ironi kurikulum 2013. Kurikulum yang bagus tadi tidak diimbangi oleh guru-guru sekolah yang siap untuk mengajarkan hal tersebut. Memperbaiki kurikulum tanpa menyiapkan guru itu seperti punya mobil bagus dengan sopir tidak terampil. Guru-guru di sekolah formal, rata-rata terbiasa mengajar satu arah. Guru berbicara dan murid mendengar. Banyak yang menjadi guru karena menganggapnya pekerjaan bukan panggilan jiwa.

Sekolah memperlakukan anak-anak yang unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda dianggap sebagai barang kodian. Mereka disamaratakan kemampuannya dan dipaksa untuk menguasai hal yang sama. Selain itu, sekolah juga menjadi menara gading. Mereka membuat murid tidak mengenali lingkungan sekitarnya karena hal yang diajarkan tidak membumi.

Sedangkan untuk membudayakan membaca di sekolah, sekolah-sekolah umum memiliki perpustakaan dengan koleksi buku membosankan. Perpustakaan bahkan menjadi tempat penyimpanan buku paket. Yang dikeluarkan tiap tahun ajaran baru. Kalaupun ada dana Bantuan Operasional Sekolah, pihak sekolah cenderung dipakai untuk membangun fisik daripada membeli buku. Bukankah guru dan kepala sekolahnya sendiri tidak peduli dengan buku?

Sebagai bagian dari mendidik, di beberapa tempat muncul gerakan-gerakan literasi. Muncul orang-orang dan komunitas yang menyediakan bacaan dan mengajak lingkungan sekitar untuk membaca. Berhubung membaca itu sebuah kebiasaan, sebaiknya ia ditanamkan sejak dini. Sayang, masih sedikit buku anak yang bagus dan punya muatan lokal.

Obrolan yang berjalan 3 jam tadi tidak menawarkan solusi untuk memperbaiki dunia pendidikan. Terlalu banyak masalah dan mungkin saat ini buang-buang energi kalau mau merubah sistem pendidikan. Setidaknya, kalau kita tahu pendidikan formal di Indonesia bermasalah, kita bisa memilih cara untuk menyikapinya. Mendidik itu tugas pertama orangtua dan keluarga itu sekolah pertama. Kalau pun nanti akan menitipkan anak ke sekolah, orangtua dan keluarganya harus tahu bahwa sekolah saja tidak cukup. Salah satu cara supaya menjadi pendidik yang baik, orang harus punya banyak referensi untuk mengajar. Buku merupakan salah satu sumber untuk mengisi pengetahuan para pendidik dan calon pendidik.

Bermain di Museum Dirgantara

Horee… Jadi penjaga anak paruh waktu lagi. Sabtu kemarin, Mbak Tita dari Matatours mengundang anak-anak di Tempat Penitipan Anak Bringharjo untuk jalan-jalan ke Museum Dirgantara. Berhubung rencananya  sudah diumumkan sekitar dua bulan lalu, guru-guru TPA memakai acara tadi untuk “menjinakkan” anak-anak. Jadi, tiap kali ada yang berantem atau ribut parah, beberapa guru mengancam. Yang nakal nggak boleh ikutan pergi lihat pesawat. Lumayan bikin krucil-krucil yang lucu itu nurut. 😀

ImageAslinya, kami janjian berangkat jam 8.30. Supaya nggak ngaret dan tunggu-tungguan, kami yang mau nemeni main sengaja datang jam delapan. Ternyataa… mereka sudah siap sejak tadi. Tapi, tetep aja berangkatnya butuh waktu lama. Nggak gampang ngajakin anak-anak umur dua sampai lima tahun yang jumlahnya 50 orang itu. Pas jalan ke bus yang diparkir dekat Benteng Vredenburg, turis-turis yang lewat pada gemes sama mahluk-mahluk kecil ini. Ada yang iseng megang kepala, nyubit, sampai moto.
Di parkiran museum sudah ada bus-bus besar. Halaman luarnya sesak dengan rombongan sekolah. Kalau dilihat dari mobilnya, banyak yang dari luar kota. Berhubung dalam museum pasti penuh dan nggak asik kalo berjubelan, Mbak Tita ngajakin main di luar dulu.

Niat awalnya, kita mau duduk-duduk di dekat salah satu pesawat sambil menggambar bersama dan baca buku. Baru sejam kemudian pas museumnya mulai sepi, kita masuk. Ternyata… kali ini anak-anaknya cepat banget selesai menggambarnya. Habis itu mereka juga bosen dibacain buku. Akhirnya, isinya jadi acara bebas main-main.

ImageAda yang rame-rame muterin roda pesawat, ada yang nglemparin kodok. Kalo ngelihatin mereka, kayaknya bahagia itu sederhana banget. Susahnya adalah, mereka lari ke mana-mana. Ada satu anak, namanya Ata lari ke selokan. Diikuti teman-teman lainnya. Mereka bengong di pinggir selokan sambil memuji itu sungai yang indah. Saya bingung, mau bilang selokan dan sungai itu beda. Tapi setelah mereka lihatin dengan tampang: memang bedanya seperti apa? Akhirnya saya ngalah. Ya udah, anggep aja itu sungai. Habis itu beberapa anak ngelihatin riak-riak di air yang dibuat sama serangga sambil teriak-teriak “Ada ikaaan. Ada Ikannn…” Saya bingung lagi mo ngejelasin kalau itu bukan ikan.

Akhirnya, kami masuk juga ke dalam museum. Supaya nggak ilang, adik-adik tadi dibagi dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok jalan bareng-bareng sambil bikin ular-ularan. Supaya nggak bosen, kita nyanyi-nyanyi naik kereta api.
Di dalam museum, anak-anaknya pada heboh tiap kali lihat pesawat-pesawat yang besar. Foto di dinding, miniatur seragam, atau pesawat kecilnya dicuekin. Ruang yang paling menarik buat mereka itu hanggar yang isinya pesawat-pesawat kuno. Pada seneng dan berebut buat naik helikopter, reruntuhan pesawat, sama truk-truk kuno. Sayangnya, hanggar tadi atapnya dari seng. Panasnya ampun deh. Kita yang gede-gede nggak kuat terlalu lama di dalam. Akhirnya, kami ngajakin mereka pindah ke ruang berikutnya.
Sayang, ruangan berikut yang isinya maket-maket nggak terlalu menarik buat para balita ini. Akhirnya kami pergi ke ruang audio visual. Pas mau masuk, kami kalah cepat sama rombongan dari SD. Mereka sudah menduduki semua kursi di ruangan. Kita ngalah deh trus pada duduk di lantai.

ImagePas lampunya dimatiin, anak-anak SD tadi pada jejeritan lebay. Si Bapak yang muter film sampai ngancam filmnya nggak bakal dimulai kalo nggak berhenti teriak. Kami, sempat khawatir kalo adek-adek TPA takut dan nangis, ternyata enggak.
Film dimulai dan penonton mulai tepuk tangan. Ceritanya tentang pesawat-pesawat yang berakrobat di udara dan bikin formasi. Selama lima belas menit film diputar, ruangan berkali-kali penuh suara kagum dan tepuk tangan.

Kami pun keluar dan mulai makan siang. Menunya nasi kuning yang dibuat sama asisten rumah tangganya Mbak Tita. Sehabis makan, bus yang bawa kami pulang belum datang. Anak-anaknya mulai lari ke mana-mana. Berhubung ibu-ibu yang tadi ngawal mereka dah kecapean. Gantian saya, Phie, dan Bayu yang nungguin. Ribut banget oi. Pada rebutan pengen naik jeep dan minta digendong karena nggak bisa manjat. Jadilah kami gantian menggendong krucil-krucil. Awalnya sih nyenengin. Lama-lama capek juga. Baru kerasa pagi setelah bangun tidur besoknya. Lengan saya sakit. Akhirnya, busnya datang juga setelah sejaman ditunggu. Pulang deh.

ImageUntuk teman-teman yang tertarik menemani anak-anak di Tempat Penitipan Anak Beringharjo di hari sabtu, hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com? Untuk sementara, baca buku dan menggambar di TPA baru rutin tiap sabtu minggu ketiga. Kadang, ada acara lain di luar itu. Teman-teman juga bisa membantu kami dengan cara mengumpulkan buku anak bekas.