Bermain di Museum Dirgantara

Horee… Jadi penjaga anak paruh waktu lagi. Sabtu kemarin, Mbak Tita dari Matatours mengundang anak-anak di Tempat Penitipan Anak Bringharjo untuk jalan-jalan ke Museum Dirgantara. Berhubung rencananya  sudah diumumkan sekitar dua bulan lalu, guru-guru TPA memakai acara tadi untuk “menjinakkan” anak-anak. Jadi, tiap kali ada yang berantem atau ribut parah, beberapa guru mengancam. Yang nakal nggak boleh ikutan pergi lihat pesawat. Lumayan bikin krucil-krucil yang lucu itu nurut. 😀

ImageAslinya, kami janjian berangkat jam 8.30. Supaya nggak ngaret dan tunggu-tungguan, kami yang mau nemeni main sengaja datang jam delapan. Ternyataa… mereka sudah siap sejak tadi. Tapi, tetep aja berangkatnya butuh waktu lama. Nggak gampang ngajakin anak-anak umur dua sampai lima tahun yang jumlahnya 50 orang itu. Pas jalan ke bus yang diparkir dekat Benteng Vredenburg, turis-turis yang lewat pada gemes sama mahluk-mahluk kecil ini. Ada yang iseng megang kepala, nyubit, sampai moto.
Di parkiran museum sudah ada bus-bus besar. Halaman luarnya sesak dengan rombongan sekolah. Kalau dilihat dari mobilnya, banyak yang dari luar kota. Berhubung dalam museum pasti penuh dan nggak asik kalo berjubelan, Mbak Tita ngajakin main di luar dulu.

Niat awalnya, kita mau duduk-duduk di dekat salah satu pesawat sambil menggambar bersama dan baca buku. Baru sejam kemudian pas museumnya mulai sepi, kita masuk. Ternyata… kali ini anak-anaknya cepat banget selesai menggambarnya. Habis itu mereka juga bosen dibacain buku. Akhirnya, isinya jadi acara bebas main-main.

ImageAda yang rame-rame muterin roda pesawat, ada yang nglemparin kodok. Kalo ngelihatin mereka, kayaknya bahagia itu sederhana banget. Susahnya adalah, mereka lari ke mana-mana. Ada satu anak, namanya Ata lari ke selokan. Diikuti teman-teman lainnya. Mereka bengong di pinggir selokan sambil memuji itu sungai yang indah. Saya bingung, mau bilang selokan dan sungai itu beda. Tapi setelah mereka lihatin dengan tampang: memang bedanya seperti apa? Akhirnya saya ngalah. Ya udah, anggep aja itu sungai. Habis itu beberapa anak ngelihatin riak-riak di air yang dibuat sama serangga sambil teriak-teriak “Ada ikaaan. Ada Ikannn…” Saya bingung lagi mo ngejelasin kalau itu bukan ikan.

Akhirnya, kami masuk juga ke dalam museum. Supaya nggak ilang, adik-adik tadi dibagi dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok jalan bareng-bareng sambil bikin ular-ularan. Supaya nggak bosen, kita nyanyi-nyanyi naik kereta api.
Di dalam museum, anak-anaknya pada heboh tiap kali lihat pesawat-pesawat yang besar. Foto di dinding, miniatur seragam, atau pesawat kecilnya dicuekin. Ruang yang paling menarik buat mereka itu hanggar yang isinya pesawat-pesawat kuno. Pada seneng dan berebut buat naik helikopter, reruntuhan pesawat, sama truk-truk kuno. Sayangnya, hanggar tadi atapnya dari seng. Panasnya ampun deh. Kita yang gede-gede nggak kuat terlalu lama di dalam. Akhirnya, kami ngajakin mereka pindah ke ruang berikutnya.
Sayang, ruangan berikut yang isinya maket-maket nggak terlalu menarik buat para balita ini. Akhirnya kami pergi ke ruang audio visual. Pas mau masuk, kami kalah cepat sama rombongan dari SD. Mereka sudah menduduki semua kursi di ruangan. Kita ngalah deh trus pada duduk di lantai.

ImagePas lampunya dimatiin, anak-anak SD tadi pada jejeritan lebay. Si Bapak yang muter film sampai ngancam filmnya nggak bakal dimulai kalo nggak berhenti teriak. Kami, sempat khawatir kalo adek-adek TPA takut dan nangis, ternyata enggak.
Film dimulai dan penonton mulai tepuk tangan. Ceritanya tentang pesawat-pesawat yang berakrobat di udara dan bikin formasi. Selama lima belas menit film diputar, ruangan berkali-kali penuh suara kagum dan tepuk tangan.

Kami pun keluar dan mulai makan siang. Menunya nasi kuning yang dibuat sama asisten rumah tangganya Mbak Tita. Sehabis makan, bus yang bawa kami pulang belum datang. Anak-anaknya mulai lari ke mana-mana. Berhubung ibu-ibu yang tadi ngawal mereka dah kecapean. Gantian saya, Phie, dan Bayu yang nungguin. Ribut banget oi. Pada rebutan pengen naik jeep dan minta digendong karena nggak bisa manjat. Jadilah kami gantian menggendong krucil-krucil. Awalnya sih nyenengin. Lama-lama capek juga. Baru kerasa pagi setelah bangun tidur besoknya. Lengan saya sakit. Akhirnya, busnya datang juga setelah sejaman ditunggu. Pulang deh.

ImageUntuk teman-teman yang tertarik menemani anak-anak di Tempat Penitipan Anak Beringharjo di hari sabtu, hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com? Untuk sementara, baca buku dan menggambar di TPA baru rutin tiap sabtu minggu ketiga. Kadang, ada acara lain di luar itu. Teman-teman juga bisa membantu kami dengan cara mengumpulkan buku anak bekas.

Iklan

Don’t judge the food by it queue

Di jalan menuju kantor saya, ada warung sate kambing yang ramai sekali. Tiap kali berangkat ke kerja, saya selalu melihat parkiran di depannya penuh sampai ke jalan raya. Saking larisnya, warung itu selalu tutup sebelum jam makan siang.

Suatu hari, saya berangkat ke kantor terlalu pagi (masih jam 8 kurang maksudnya :P). Karena penasaran, saya iseng mampir sarapan di warung sate tersebut.  Saya memesan gule dengan asumsi lebih cepat disajikan daripada sate. Setelah menunggu lama, akhirnya gulai kambing yang saya pesan datang juga. Saya menghabiskan menu tadi dengan agak kecewa. Rasanya tidak sesuai dengan panjang antreannya. Sampai di kantor, saya memulai survei kecil pada teman-teman yang pernah mencoba makan di warung tersebut. Tidak ada satupun yang menyebut kalau masakan di sana enak. Aneh bukan?

Itu bukan kali pertama saya “tertipu” oleh antrean rumah makan. Dulu saya pernah penasaran dengan gudeg di sebuah gang. Saya dan teman saya datang ke warung gudeg tersebut sekitar pukul sebelas malam.  Kami batal makan karena malas melihat antreannya. Pembelinya selain memenuhi gang juga memanjang hingga puluhan meter di jalan raya. Beberapa hari kemudian, saya dan teman lain sengaja datang ke sana pukul delapan malam. Kami pikir, jika datang lebih awal, antreannya masih sedikit. Ternyata, waktu kami datang warungnya malah belum buka. Hanya ada seorang bapak dan ibu yang sedang menyiapkan api dan peralatan makan. Kami pergi ke rumah makan lain untuk makan malam sambil menunggu warung gudeg tadi buka. Saat kami kembali ke tempat tadi sekitar pukul sembilan, antreannya sudah panjang sekali. Karena tidak yakin akan sabar mengantre, kami memilih untuk pulang.

Akhirnya, kami kesampaian makan di sana beberapa hari kemudian. Kami bersama dua orang teman. Kebetulan malam itu hujan baru saja turun. Orang jadi malas datang ke warung lesehan.  Selain becek, atap terpal bongkar pasang warung tidak bisa melindungi pembelinya dari tetesan air hujan. Selain kami, malam itu hanya ada beberapa pembeli. Sehabis makan, saya dan dua orang teman sempat berdiskusi mengenai rasa dan panjangnya antrean saat hari biasa. Kami bertiga memberi rating dua dari empat bintang untuk gudeg itu. Rasanya standar sekali. Ada banyak gudeg lain di Jogja yang jauh lebih enak. Hanya satu orang teman yang berkata  gudeg tadi enak. Sayangnya, teman yang satu ini tidak valid sebagai juri lomba memasak. Ia hanya mengenal dua kategori makanan: enak dan enak sekali. Untuknya, besarnya porsi makanan lebih penting daripada rasanya.

Saya juga pernah penasaran sekali dengan gudeg ceker di depan SMA 1 Solo. Seorang teman yang hobi berwisata kuliner sering bercerita tentang betapa enaknya gudeg tadi. Kalau sedang kurang kerjaan, ia pergi ke Solo malam-malam hanya untuk makan gudeg! Katanya lagi, gudeg tadi hanya buka jam 12 malam dan selalu habis sebelum pukul empat pagi. Gimana nggak ngiler coba? Kebetulan, saya sedang ada acara di Solo. Saya mengajak beberapa teman untuk membuktikan cerita tentang gudeg tadi. Kami sengaja bergadang dan pergi ke tempat tadi waktu tengah malam. Ternyata, warung tadi baru buka sekitar jam satu. Kami lalu menunggu warung tadi buka sambil nongkrong di angkringan depan kampus UNY.

Kami kemudian kembali untuk makan gudek. Rasanya memang enak, tapi saya tidak akan mau lagi bergadang hanya untuk sekadar makan gudeg. Sebelum pulang, saya sempat manyun, di banner warug gudeg tadi ada tulisan: ia punya cabang di jalan dekat hotel. Dan cabang tadi buka jam 7 malam! Males banget nggak seh? Padahal besok kami harus bangun pagi untuk pulang!

Meskipun sering tertipu dengan antrean makanan. Saya tidak pernah kapok iseng berhenti di warung makan yang parkirannya penuh. Entahlah, sepertinya rumah makan yang ramai selalu menggoda untuk dicoba. Beberapa hari yang lalu misalnya, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berhenti di sebuah warung bakmi jawa hanya karena melihat kursinya penuh pengunjung. Saya lupa, bakmi jawa bukan makanan yang tepat dipesan saat kelaparan. Saya hampir terharu saat seorang pelayan mengantarkan bakmi pesanan saya. Bayangkan! Lebih dari satu jam saya menunggu. Bakmi jawa tadi enak. Rasa telur dan bumbunya sangat menyatu di kuahnya. Tapi yaa… nyiksa nunggunya itu loo.