Bisnis Separuh Hati

Suatu malam, saya diajak Diar–teman saya–untuk makan nasi kepal. Iseng saja kami bertanya ke penjualnya, jumlah kepal nasi yang bisa dia jual dalam sehari. Tebak berapa? 200 kepal. Kami kemudian menghitung keuntungan bersih yang ia dapat. Harga per kepal nasi tadi 3.500. Setelah dikurangi perkiraan biaya sewa tempat, bayar pegawai, dan bahan, pemiliknya tiap bulan bisa untung lebih dari 10 juta. Itu belum termasuk laba dari penjualan produk lain seperti kripik dan produk lain. Angka yang sangat besar untuk sebuah gerobak makan yang berjualan di emperan toko. Saya dan Diar langsung berpandang-pandangan. Angka tadi lebih dari pendapatan kami per bulan.

pedagang pasar
Mungkin kami hanya melihat manisnya keuntungan yang didapat pemilik gerobak tadi. Kami tidak sempat bertanya bagaimana dulu dia berdarah-darah memulai bisnisnya. Bisa jadi awalnya dia harus puluhan kali mencoba untuk mengemas produknya. Juga berkali-kali menciptakan susunan bumbu yang tepat. Mungkin awalnya ia sempat dicibir karena tidak menggunakan gelar sarjananya untuk bekerja. Tidak semua orang bisa melalui hal tersebut. Saya kenal banyak orang yang pernah mencoba hal serupa tapi mereka memilih berhenti.
Diar kemudian mengingat-ingat keinginannya berbisnis sejak dulu. Dulu ia pernah bermimpi punya tower bernama Diar Tower juga membuat perusahaan dengan nama IndoDiar. Seingat saya sejak SMA, dia berkali-kali ganti barang dagangan. Pernah dulu ia tertarik berjualan cabai. Dengan sepupu dan temannya, mereka menyewa lahan. Belum ada setahun mereka berhenti karena harga cabai jatuh.

Saya pun tidak jauh beda. Waktu SD saya pernah menjual es dan menyewakan buku. Waktu SMP pernah berjualan kartu nama. Semua tetangga dan teman saya tawari. Sampai beberapa teman punya kartu nama dengan jenis sama karena saya bujuk untuk memesan. Sepertinya semakin dewasa, saya malas mencoba mulai berdagang. Pernah sekali. Itu karena terpaksa. Dulu saya pernah menghadiahi diri saya sebuah novel. Untuk mencetak ribuan eksemplar, saya harus mencicil 3 juta per bulan. Berhubung saya tidak mau membayar cicilan tadi dari gaji bulanan. Mau tak mau saya harus menjual buku-buku tadi.

Akhir-akhir ini saya kembali berpikir untuk berbisnis. Semakin banyak bertemu dengan orang, saya mulai berpikir salah satu cara untuk menolong orang adalah dengan memberinya pekerjaan. Saat seseorang bekerja pada kita, akan lebih mudah untuk mengajarnya melakukan sesuatu. Sepertinya, saya harus mulai secara serius memulai bisnis sekarang juga.

 

Iklan

Harga Sebuah Karya

Seorang teman, sebut saja Entus, bercerita kalau menerima tawaran untuk mengerjakan sebuah program TV. Entus sempat menolak mengerjakan tontonan tersebut karena anggarannya terlalu kecil. Ia akhirnya mengambil program tadi karena timnya sedang membutuhkan uang.
Saya jadi teringat saat membaca majalah milik sebuah perusahaan beberapa waktu lalu. Majalah yang dikelola seorang penulis senior di sebuah komunitas tadi tampilannya jelek. Warna dan foto yang dipakai seperti asal pasang. Sebagian besar artikelnya berantakan. Banyak salah ketik dan tulisannya tidak menarik. Terlalu fatal mengingat penanggung jawabnya bukan penulis kemarin sore.

Saya kemudian bertanya, apakah pembuatan terbitan tersebut mepet waktunya? Si penulis dengan santainya menjawab jika perusahaan pemesan majalah tidak menghargai seni. Mereka membayar rendah satu paket mulai dari penulisan, editing, hingga desain majalah. Saya, langsung tidak menaruh hormat pada penulis tadi. Menurut saya, saat mengatakan iya untuk sebuah pekerjaan artinya tidak ada lagi alasan untuk mengerjakan dengan separuh hati. Kata iya artinya saya tidak lagi memikirkan berapa banyak saya dibayar. Bagaimanapun juga, nama saya akan tercantum di karya tadi. Bukankah pekerjaan yang bagus bisa saya pakai untuk mencari klien baru?

Saya dan penulis tadi kemudian ngobrol tentang hal lain. Ia menawarkan jasanya jika suatu saat nanti saya membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan komunitas buku. Saya hanya tersenyum dan berkata sedang tidak punya rencana.  Padahal, kalaupun ada, saya tidak tertarik mempekerjakan orang yang hanya semata-mata bekerja untuk uang. Saya tidak yakin hasil kerjanya akan bagus.

Di lain waktu, seorang teman bercerita kalau ia gagal psikotes di sebuah perusahaan media. Saya heran, setahu saya, ia baru satu bulan bekerja di tempat sekarang. Terlalu cepat untuk melamar kerja di tempat lain. Menurut Anggi, tempat kerjanya sekarang menyenangkan. Sayang gajinya terlalu kecil. Saya kemudian bertanya, mungkin tidak untuk menego gaji? Anggi bilang, kemungkinan tersebut ada setelah program yang ia tangani sekarang selesai.

Kami kemudian ngobrol tentang bekerja sebaik mungkin sebagai bukti kalau kita menyukuri apa yang kita punya. Bukankah saat kita senang bekerja, sesuatu akan terasa lebih ringan? Bukankah karya yang bagus pasti akan menarik perhatian orang? Kalau sudah saatnya, tawaran akan datang sendiri kok. Bukankah suatu pekerjaan yang baik akan membawa kita naik kelas? Yang artinya, ada orang yang mau membayar lebih mahal.