Para Pengumpul Recehan

Seorang Bapak usianya mungkin sekitar 40 tahun berdiri di gerbang rumah. Waktu saya datangi, Bapak tadi bercerita, adiknya yang kelas empat SD butuh uang untuk membeli buku dan seragam. Ia meminta uang seiklasnya. Saya diam sebentar. Awalnya, saya yang sedang beres-beres sempat berpikir untuk memintanya mengepel rumah. Sekalian memintanya untuk membereskan rumput di taman dan merapikan tumpukan barang bekas di garasi. Saya bisa membayarnya untuk itu.

Tapi saya membatalkan niat tadi saat tidak nyaman melihat wajahnya. Saya merasa ia bukan orang yang ramah. Waktu saya meminta maaf karena tidak bisa mengabulkan permintaannya, orang ini kemudian marah dan pergi tanpa pamit. Saya kemudian merasa beruntung batal memintanya membereskan rumah. Saya tidak tahu apakah orang tadi menipu atau tidak. Kalaupun benar ia butuh uang, kenapa ia merasa layak meminta uang ke orang asing? Bukankah masih banyak orang yang lebih membutuhkan uang dan ada masih mau bekerja untuk itu.

Saya jadi ingat dua minggu lalu saat naik angkot di Jakarta. Dua orang pemuda mungkin umurnya 20-an tahun tiba-tiba masuk dan duduk di dekat pintu. Salah seorang wajah dan tubuhnya penuh tato. Seluruh penumpang menatapnya dengan pandangan risih. Kami berusaha untuk menjauh darinya. Ia kemudian berbicara dengan nada penuh ancaman. Katanya, mereka butuh uang untuk makan. Secara halus, ia menyatakan lebih baik sisihkan sedikit uang kalian daripada nanti ada sesuatu dengan barang berharga yang kalian pegang. Beberapa penumpang merasa tidak nyaman kemudian buru-buru mengeluarkan uang.

pedagang pasar

Kecuali saya dan seorang teman. Kami tidak suka memberi uang orang yang tidak bekerja. Bukan masalah jumlahnya, memberi uang kepada peminta-minta akan membuat mereka nyaman di jalanan. Mereka akan terus-menerus melakukan hal tadi karena tidak perlu bersusah payah bekerja. Penghasilan seorang pengemis dalam sebulan bisa lebih dari lulusan S1. Lebih baik berikan uang kepada lembaga amal supaya dikumpulkan dengan uang orang lain. Yang mungkin bisa memberi pekerjaan seseorang.

Sekarang, saya mulai meniru kebiasaan seorang teman. Namanya Ali. Ia punya kebiasaan memberi uang lebih saat membeli sesuatu atau naik taksi. Pedagang dan penjual jasa kecil ini sudah bekerja. Mereka layak untuk mendapat uang karena punya harga diri untuk tidak meminta-minta. Kata Ali, mumpung kita masih bisa memberi. Bisa jadi, suatu saat nanti kita butuh pertolongan orang. Semoga saja saat semakin banyak kita berbuat baik, nanti ada yang membalas.

 

Cerita Kopi Ulubelu

Kami hore-hore bisa sampai ke Sekretariat Bersama Kelompok Tani Sumber Rejeki dengan selamat. Untuk sebagian rombongan yang pertama kali ke hutan di PegununganUlu Belu, Tanggamus, Lampung, perjalanan sebelumnya terlalu mengerikan. Kami butuh waktu lebih dari dua jam hanya untuk menempuh perjalanan 9 kilometer. Jalan setapak yang kami kadang hanya berupa parit yang lebarnya kurang dari satu meter. Di boncengan tukang ojek, saya hanya bisa berdoa semoga kaki saya tidak terbentur batu. Atau tidak terjatuh di jurang yang ada di kanan jalan. Gunung, hutan, dan kebun kopi di kiri dan kanan kami sebenarnya indah, tapi saya terlalu panik untuk menikmatinya. Berkali-kali, wartawan dan rombongan tamu memilih untuk turun dari boncengan dan berjalan kaki. Meski para tukang ojek berkata “Percaya saja sama kami” para penumpang kadang masih jalan kaki.

Sesampainya di lokasi, saya langsung membersihkan badan. Tangan dan kaki saya penuh dengan memar dan baret gara-gara terpeleset.  Tiba-tiba saya sangat bersyukur. Bagi saya, perjalanan ini hanya permainan. Beda dengan ratusan petani hutan yang mengelola 499,63 hektar hutan lindung di Pegunungan Ulubelu, Tanggamus. Mereka sehari-harinya harus melalui jalan tersebut (bahkan lebih jauh lagi) untuk mencari nafkah.

Pak Amin, ketua kelompok Sumber Rejeki membuka dengan ucapan selamat datang. Ia kemudian bercerita tentang Gapoktan Sumber Rejeki yang berdiri tahun 1999. Tahun 2007, kelompok tani  yang beranggota 365 orang ini mendapat ijin pengelolaan selama 35 tahun yang bisa diperpanjang.

Sebelum ada ijin, anggota kelompok mengelola hutan dengan asal-asalan. Mereka enggan menginvestasikan waktu dan uangnya karena tidak yakin bisa memperoleh hasilnya. Sebelum mendapat ijin pengelolaan sementara tahun 2000, para petani hutan tersebut harus kucing-kucingan dengan aparatur negara. Mereka kerapkali diusir dengan kekerasan. Di sisi lain, hutan tidak terawat dan banyak ditumbuhi alang-alang yang mudah terbakar.

Semenjak ada program HKm, kesejahteraan petani hutan meningkat. Satu hektar lahan kira-kira bisa menghasilkan antara satu hingga satu setengah ton kopi. Komoditas yang dipanen antara bulan Maret hingga Agustus tersebut dijual dengan harga 16.000 hingga 23.000 per kilogram. “Salah satu pertanda kami sejahtera itu terlihat dari kemampuan para petani menyekolahkan anak. Dulu, sebelum ada ijin, kami ragu menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Jangan-jangan nanti tanaman yang kita urus tahun depan sudah tidak bisa dipanen. Bagaimana kalau anak terlanjur sekolah, apa bisa bayar biayanya? Sekarang, banyak yang menyekolahkan anak sampai kuliah. Beda dengan dulu yang mau beli beras saja kesulitan,” tutur seorang petani hutan yang menemui kami.

Di tengah-tengah petani yang bercerita peningkatan pendapatan setelah mereka mengelola hutan, seorang peserta dari Kesatuan Pengelola Hutan Lindung “protes”. Menurutnya, petani salah karena menjadikan hutan lindung sebagai perkebunan kopi. Ia berpendapat petani harus ikut aturan dimana dalam satu hektar lahan harus ada 400 batang tanaman kayu. Sepertinya ada yang aneh! Setahu saya, tugas KPHL itu merencanakan hingga menjalankan pengelolaan hutan. Bukankah seharusnya mereka melakukan susuatu supaya kondisi hutan membaik? Pernah petugas yang protes tadi membantu para petani yang buta hukum dan mungkin miskin akses informasi? Petani-petani tadi taunya cuma menanam dan memanen pohon kopi untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Kalau nggak dikasih contoh (juga bibit), jangan berharap banyak deh.

Kalau mengutip kata Irfan Bachtiar, konsultan kehutanan,  fungsi hutan lindung itu sebagai penyangga tata air dan kesuburan tanah. Selama kopi atau tanaman lain yang ada masih bisa mengikat air, itu tidak jadi masalah. Menurut Swari Utami Dewi, kopi jauh lebih baik daripada hutan dijadikan kebun kelapa sawit. Lalu, pemberian hak kelola hutan pada masyarakat itu mengurangi konflik atas tanah.

Ok, tanaman monokultur memang tidak baik untuk kesuburan tanah. Kalau mengikuti pasal 33, pemerintah (di sini Departemen Kehutanan) wajib membantu petani-petani bagaimana cara mengelola lahan dengan baik. Termasuk didalamnya memberikan bantuan bibit tanaman keras.
Saya lebih salut dengan upaya pihak swasta mitra para petani HKm Sumber Rejeki. Salah satunya PT Ulubelu Cofco Abadi. Perusahaan exportir kopi milik pasangan suami istri Rinaldi Hartono dan Elmira Tjahja. Sehari setelah melihat Pegunungan Ulu Belu, saya mampir ke warung kopi mereka. Saya bertemu dengan Bu Elmira yang menceritakan awal mula usaha mereka. Tahun 2009, mereka yang tadinya tinggal di Amerika pulang untuk mengurus orangtuanya. Mereka kemudian mulai berbisnis kopi pada tahun 2010.

Keduanya merupakan keturunan pedagang kopi dari Talang Padang. Bedanya, kakek nenek keduanya sekadar pengumpul kopi yang kemudian menjualnya. Sejak keduanya memutuskan untuk serius di bidang perkopian, mereka berusaha untuk mendapat sertifikat 4C (Common Code for Coffee Community) supaya kopinya diakui secara internasional. Untuk itu, kopi mereka harus mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan dan ekonomi dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran kopi-nya. Salah satu alasan mereka tertarik berbisnis kopi adalah rasa miris karena kopi Lampung yang robusta tidak dianggap di percaturan kopi internasional yang memuja kopi jenis arabika. Selain itu, kopi Indonesia dianggap bermutu buruk. Karenanya harga kopi dari Indonesia lebih rendah dari kopi dari negara lain. Dan lebih menyedihkan lagi, perdagangan kopi di Lampung dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.

Suami-istri ini menerapkan prinsip kewirausahaan sosial dalam berbisnis. Untuk mengajarkan kepada petani cara menanam kopi yang baik, mereka bermitra dengan Universitas Lampung. Perusahaan ini mulai tahun 2012 mulai melakukan penanaman kayu keras seperti medang, suriah, cempaka, mimbri, durian, mangga, pala, hingga pete di hutan yang dikelola petani mitranya. Mereka percaya jika pola penanaman monokultur ke depannya akan merusak kualitas dan kuantitas kopi.

Baru tahun lalu perusahaan Ulu Belu mengemas kopi untuk dijual dalam bentuk bubuk. Sebelum mengemas produk tersebut, mereka mencari cara supaya kopi bisa tahan lama tanpa memasukkan pengawet kimia ke dalamnya.  Saya sempat bertanya, perdagangan kopi yang mereka lakukan butuh investasi waktu dan uang bertahun-tahun. Bisa dibilang, mereka awalnya tidak tahu bagaimana bisnis ini akan berlanjut. Saya suka dengan jawaban, ibu Elmira, si pemiliknya ” Kalau kita ingin berbuat baik, sejahat-jahatnya orang masih ada Tuhan yang jaga.”

Waktu Bu Elmira bercerita tentang produknya yang hanya berisi kopi murni tanpa bahan kimia atau gula, saya jadi ingat pertanyan teman yang berasal dari Australia beberapa tahun lalu. Ia heran kenapa Indonesia yang negara penghasil kopi nomer empat dunia, penduduknya mengkonsumsi kopi instan. Begini saudara-saudara, kopi adalah komoditas mahal. Kopi-kopi dengan mutu bagus tidak beredar luas di pasaran karena mahal. Kebanyakan kopi lokal sudah dicampur dengan jagung, beras, atau, mentega. Belum lagi perusahaan lokal tidak memiliki distribusi dan modal yang bagus.

Oh iya, ini video yang saya ambil waktu ke Pegunungan Ulu Belu untuk gambaran seperti apa medannya.

Perusahaan Jahat Perusak Bumi

Sewaktu Bakrie membeli saham Path, beritanya langsung ramai di media sosial. Entah berapa banyak orang sibuk mencerca, kecewa, dan bahkan mengatakan langsung meng-un-install aplikasi tersebut. Alasan orang-orang tadi kurang lebih sama. Bakrie seharusnya bertanggungjawab karena perusahaannya menyebabkan Porong terendam lumpur. Kenapa ia memilih untuk berinvestasi padahal masih punya hutang dengan penduduk yang kehilangan rumah dan lahan.

Kenapa hanya Bakrie? Bukannya ada banyak pengusaha-pengusaha yang memperkaya dirinya dengan cara menyengsarakan banyak orang? Saya bukan ahli isu perburuhan. Di logika saya, ada banyak perusahaan yang pemiliknya bergelimang harta karena mempekerjakan buruhnya dengan jam kerja panjang, gaji tidak layak, dan mungkin kesehatan mereka terganggu karena terpapar suara berisik mesin terus menerus atau bahan kimia. Nah,apakah teman-teman yakin laptop, hp, jam tangan, sepatu dan kosmetik yang kalian pakai itu dibuat dengan memperhatikan pekerjanya?

Dengan alasan kepraktisan, kadang kita suka memilih suatu barang yang kita tahu pemiliknya tidak manusiawi. Saya sendiri sampai saat ini selalu membeli air galon produk tertentu. Karena saya malas merebus air. Sebenarnya, saya bisa saja membeli penyaring air, tapi harga awalnya terlalu mahal. Padahal saya sering mendengar di tempat- tempat perusahaan tadi mendirikan pabrik, selalu muncul konflik. Setelah sumber airnya dikuasai oleh perusahaan tersebut, petani sekitar kesulitan untuk mengairi sawahnya.

Saya jadi ingat saat tahun lalu bertemu dengan banyak pegiat hutan di sebuah acara yang membahas mengenai kejahatan kehutanan. Di berbagai wilayah di Indonesia, ada banyak perusahaan yang melakukan penyerobotan lahan, pengemplangan pajak, alih fungsi lahan, hingga pembunuhan saat menjalankan bisnisnya. Mengerikan. Dan, masih banyak contoh yang bisa kita temui di sekeliling kita tentang perusahaan-perusahaan berusaha mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan efeknya.

Sepertinya, menuntut pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tadi, terlalu lama. Lalu, apakah kita hanya diam saja? Tidak. Ada banyak cara yang kita lakukan untuk mengurangi dampak buruk perusahaan jahat. Menjadi konsumen cerdas. Kita berusaha sebisa mungkin menggunakan barang karena butuh,bukan karena ingin dan terlihat keren. Sebarkan hal ini ke orang-orang yang ada di lingkaran pengaruh kita. Jika membuat karya, tulis atau filmkan. Semakin banyak konsumen cerdas, sebuah perusahaan akan semakin berpikir untuk mengambil keuntungan di atas penderitaan orang lain.

Selama ini, saya cenderung suka menolak tawaran untuk bergabung dengan MLM. Saya hanya mau menjadi anggota mlm yang produknya memang saya butuh dan saya pakai. Saya tidak mau “memaksa” orang lain membeli barang yang mereka tidak butuh dengan iming-iming, kalau kau ikut, nanti kau bisa kaya. Sadar nggak sih berapa banyak uang yang kita dapat dan berapa yang perusahaan MLM dapat? Jika kita menjadi anggota MLM dan berhenti, tidak ada uang lagi masuk. Tapi perusahaan tetap mendapat pembelian dari orang-orang yang sudah kita rekrut.