Rokok itu Candu

Saya cuma tertawa saat Khayat, teman saya, menaruh sebuah pengumuman berwarna hijau di depan saya. Tulisan papan tadi “Boleh merokok” Sepertinya, berdebat dengan seorang perokok adalah salah satu hal yang sia-sia. Rokok sama halnya seperti agama, seperti candu. Orang akan mencari pembenaran untuk terus mengonsumsinya.

Anti rokok
Mungkin, seseorang baru berhenti merokok setelah ada keluarganya menjadi korban atau dokternya memberi ultimatum harus berhenti. Sama seperti ayah dan kakek saya. Ayah baru berhenti merokok setelah asap rokoknya merusak paru-paru saya. Untuk itu, saya harus menjalani perawatan selama setahun. Secara tidak langsung, rokok menyumbang ke buruknya kondisi kesehatan saya saat ini. Konsumsi obat yang berlebihan waktu kecil pernah membuat sistim kekebalan berbalik menyerang tubuh saya. Kakek (Dari pihak ayah) dahulu juga perokok berat. Dia berhenti gara-gara sakit dua puluh tahun lalu. Dan, saat beberapa waktu lalu berkali-kali masuk rumah sakit karena batuk parah, dokternya bilang itu akibat rokoknya dulu. Kakek saya dari pihak ibu juga berhenti merokok setelah terbaring di rumah sakit.

Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa orang-orang mau mengorbankan diri untuk mengonsumsi rokok. Pembelaan paling sering saya dengar adalah kasihan buruh pabrik rokok dan petani tembakau kalau tidak ada yang membeli rokok. Pembelaan yang aneh. Kapan sih buruh pabrik rokok kaya? Bukannya mereka harus bekerja berjam-jam, melakukan suatu hal berulang-ulang tiap hari hanya untuk upah tidak terlalu banyak di atas UMR? Saya tidak yakin mereka bisa menabung atau punya uang pensiun. Bagaimana nanti kalau mereka sudah tidak bekerja? Mereka akan lebih miskin karena sudah terlanjur tidak punya keahlian lain.

Petani tembakau? Tempat bermain saya di sebuah kaki gunung hampir seluruh penduduknya menanam tembakau saat musim kemarau. Petani enggan (juga tidak cukup akses informasi) mencari komoditas lain yang tidak butuh banyak air. Selain itu sudah ada perusahaan rokok yang memberi bibit, pinjaman modal, dan membeli panennya. Apakah mereka kaya? Tidak juga. Masih banyak penduduk desa yang bekerja sebagai buruh migran di negeri orang karena alasan ekonomi. Dan ironisnya, setelah pengeluaran untuk makan dan biaya sekolah, tebak apa pengeluaran bulanan terbesar keluarga petani? Rokok. Yang dikonsumsi rokok yang membeli tembakau mereka.
Kalau memang benar-benar kasihan, kenapa uang yang dipakai untuk membeli rokok tidak ditabung saja lalu diberikan ke petani tembakau supaya mereka punya modal untuk membuka usaha lain? Alasan lain saya tidak tertarik untuk merokok karena saya tidak setuju dengan penjajahan diatas muka bumi. Kecanduan termasuk didalamnya. Apalagi dengan mengonsumsi rokok secara terus-menerus, seseorang memperkaya para pemilik pabrik dan industri rokok.

 

Iklan

Saya Butuh Dokter Bukan Sales Obat

Saya mulai paranoid waktu penglihatan saya kabur selama beberapa hari. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah klinik mata. Di ruang tunggu, saya hampir pulang karena antriannya panjang. Setelah menunggu sekitar setengah jam, petugas bertanya dokter mana yang saya pilih. Berhubung benci mengantri, saya mengambil dokter dengan antrian pasien “hanya” 20 orang. Dokter jaga lain pasiennya ada yang sampai 70-an orang.

Saya mulai panik saat melihat pasien-pasien dengan mata diperban keluar-masuk ruang periksa. Bagi saya, mata organ yang sangat berharga. Hampir semua hobi dan pekerjaan yang saya lakukan menggunakan mata. Bagaimana kalau nanti ada apa-apa dengan mata saya?

Di ruang tunggu saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu muda. Ia bertanya mata saya kenapa. Dan, ceritanya membuat saya bertambah panik. Sejak setahun lalu, matanya terkena virus. Awalnya, pandangannya hanya kabur dan semakin lama semakin tidak jelas. Katanya, sekarang sudah membaik setelah tiap bulan ia berobat. Ia juga bilang, ada tetangganya yang matanya kena virus dan kabur permanen. Saya cuma diam dan shock. Bagaimana kalau nanti saya benar-benar tidak bisa melihat?

Setelah lebih dari tiga jam menunggu bonus hampir kelaparan, nama saya dipanggil juga. Seorang suster mengecek mata kiri dan kanan saya. Dan, saya disuruh menunggu lagi. Tidak terlalu lama, nama saya dipanggil lagi untuk menemui seorang dokter. Saya berjumpa dengan seorang dokter. Dia bertanya apa keluhan saya. Setelah melihat-lihat kedua mata saya, dokter tadi dengan santainya bilang itu hanya mata kering. Bu dokter kemudian menuliskan resep. Ia baru berkata kalau di mata saya ada luka akibat terkena debu yang menyebabkan air di mata saya tidak merata. Kalimat tadi muncul setelah saya tanya. Total ngobrol kami hanya lima menit.

Di kasir, saya harus mengeluarkan 130 ribu rupiah. Coba tebak, isi resepnya apa? Obat tetes mata dan copy resep. Si apoteker berkata kalau kopi resep tadi bisa dipakai saat membeli tetes mata lain. Saya kan bingung. Saya tidak mendapat info sampai kapan saya boleh membeli dan memakai obat tetes mata yang sama? Bukannya obat tetes mata tidak boleh dipakai terus-menerus? Saya juga tidak tahu bagaimana cara mencegah supaya mata saya kering selain dengan menggunakan obat tetes mata.
Ini entah ke berapa kalinya saya kesal dengan dokter. Bukan sekali dua kali, saya bertemu dokter yang memperlakukan pasiennya tidak manusiawi. Maksudnya, kami ke dokter karena kami ingin tahu apa yang salah dengan badan kami. Sepertinya saya berharap terlalu banyak karena sebagian (besar) dokter yang saya temui sekadar menganggap pasiennya sebagai lahan pencari uang. Saat membuat resep, beberapa yang saya temui tidak memberi tahu apa efek samping dari obat. Mereka juga tidak memberi tahu saya jika ada pilihan obat lain dengan komposisi sama dengan harga lebih murah.

Apa bedanya dengan sales obat? Saya ingin dokter yang punya filosofi seperti dr. Tan Shot Yen. Di bukunya “Saya Ingin Sehat dan Sembuh” ia berkata kalau tugas dokter itu bukan mengobati. Tapi ia menjaga supaya pasien tidak sakit dengan cara mengajarkan cara hidup yang sehat.