Berkah Sri Getuk untuk Warga Bleberan

Gerbang

Jika ada teman berlibur ke Jogja, saya kerap mengajak mereka ke Air Terjun Sri Gentuk. Bagi saya, tempat tersebut bukan sekadar lokasi wisata. Kawasan Sri Getuk merupakan hasil kerja keras warga yang didukung oleh banyak pihak. Mulai dari desa, pemerintah sampai CSR BNI. Saya senang menceritakan perubahan yang kawasan tersebut alami kepada teman-teman.

Saya pertama kali datang ke Desa Bleberan pada tahun 2006. Saat itu, penduduk setempat tidak menganggap air terjun dan gua di desanya sebagai sesuatu yang menarik. Sesekali, satu dua turis datang. Orang luar enggan singgah karena jalan setapak menuju desa susah dilewati. Jalan tersebut becek tiap kali musim hujan tiba. Selain itu, untuk apa berkunjung ke daerah yang tandus dan kering?

Keadaan mulai berubah sejak warga mengemas desanya menjadi obyek wisata. Ide tersebut muncul dari Tri Harjono yang beberapa waktu lalu menjabat sebagai kepala desa. Sekitar tahun 2007 an, ia mengajak warganya bekerja bakti merapikan kawasan air terjun. Untuk mendapat dukungan penduduk, ia datang ke pertemuan-pertemuan dusun dan menyampaikan mimpinya. Awalnya, masyarakat tidak tertarik. Masyarakat belum melihat keuntungan yang akan mereka dapat. Bagi mereka, air terjun tersebut sudah lama ada dan belum pernah memberikan pemasukan.

Air terjun sri getuk

Dengan bantuan perangkat desa, Pak Tri mulai menata kawasan tersebut menjadi tempat wisata. Masyarakat membentuk paguyuban pengelola wisata. Mereka bergotong royong membuat tangga supaya air terjun mudah dijangkau. Dahulu, untuk mencapai air terjun orang harus berjalan melalui persawahan. Rute tersebut tidak memungkinkan pengunjung melihat perbukitan kars yang menyusun kawasan tersebut. Kontur batuan unik yang ada di kiri dan kanan sungai baru terlihat saat orang menyusuri sungai.

Paguyuban kemudian memiliki ide untuk membuat rakit. Mereka meminjam uang dari tokoh masyarakat sebagai modal. Percobaan membuat perahu tersebut sempat gagal dua kali. Perahu yang didesain warga tidak bisa berjalan sembari membawa beban menyusuri sungai. Sampai Pak Marjuni, salah seorang anggota paguyuban mendapat ide untuk memperbaikinya. Ia mengadopsi rakit yang dipergunakan pengangkut kayu dan pupuk di Sungai Kampar.

sri getuk

Para pengelola Sri Getuk kemudian membuat web untuk mempromosikan tempat wisata tersebut. Mereka juga memasang iklan di beberapa majalah. Mulailah pengunjung berdatangan. Warga, dengan bantuan kabupaten membuka tempat wisata tersebut secara resmi pada tahun 2009. Berbagai kesenian daerah tampil di acara tersebut untuk menarik pengunjung. Mereka juga mendatangkan wartawan untuk meliput lokasi tersebut.

Lama kelamaan, wisatawan mulai banyak berkunjung. Mereka memoto air terjun dan menyebarkan melalui media sosial. Hal tersebut mengundang orang lain untuk datang. Kini, Sri Getuk dikunjungi ratusan orang tiap hari. Jumlah tersebut bisa mencapai ribuan orang tiap akhir pekan. Pada hari biasa pengunjung membayar 7.000 rupiah. Biaya tersebut belum termasuk ongkos parkir.

Kini, obyek wisata tersebut mendatangkan pemasukan bagi desa. Termasuk 80 orang warga yang bekerja di sana. Mereka terdiri dari pengelola wisata, tukang parkir, penarik perahu, penjaga tiket masuk, hingga petugas kebersihan. Sejak Sri Getuk menjadi tujuan wisata, jumlah warga yang merantau untuk bekerja berkurang. Anak-anak muda yang lulus sekolah bisa bekerja di sana. Para pengelola wisata berusaha menata kawasan supaya lebih banyak warga bisa terlibat. Setelah lokasi ini menjadi ramai, warga mulai berjualan makanan dan minuman. Dahulu mereka hanya membuka dagangannya saat akhir pekan saja. Jumlahnya pun hanya satu dua. Supaya terorganisir, paguyuban membuat deretan warung. Bangunannya merupakan bantuan dari BNI.

Saya kagum mendengar bagaimana warga berpikir jauh ke depan. Mereka membatasi orang luar untuk berinvestasi di sana. Beberapa tahun lalu, desa menolak pemodal dari luar yang hendak membeli tanah warga untuk membangun hotel. Pemerintah desa tidak ingin penduduk lokal kalah oleh pemodal dari luar.

Setelah air terjun mulai tertata, lokasi tersebut mengundang berbagai bantuan. Termasuk Corporate Social Responsibility BNI. Selain membangun warung diseputaran lokasi, BNI menambah jumlah perahu dan membuat gapura tempat penjualan tiket. Selain membangun infrastruktur, BNI juga memberikan bantuan berupa serangkaian pelatihan. Mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pemandu lokal sampai cara mengemas pangan lokal. Dengan demikian bisa menjual wingko, kripik, dan tiwul untuk oleh-oleh.

Libur lebaran kemarin, saya kembali mengunjungi Sri Getuk. Kawasan tersebut penuh dengan pengunjung. Ratusan bus, mobil, dan motor menyemut di tempat parkir. Dalam sehari, pengelola mendapat pemasukan lebih dari dua puluh juta rupiah hanya dari tiket masuk. 40-an pedagang yang berjualan di seputaran obyek wisata juga kecipratan rejeki. Dagangan mereka laris karena tiap hari ada lebih dari 2000 pengunjung. Tentu saja sebagian berbelanja. Pembangunan-pembangunan bantuan dari pihak luar membuat lokasi tadi tetap nyaman meski ada ribuan orang datang.

Belajar Menyenangkan di Museum

Museum Jogja Perjuangan

Saya percaya seseorang bisa mengumpulkan lebih banyak informasi ketika ia belajar dengan menggunakan seluruh indranya. Salah satu caranya dengan mengunjungi museum. Beruntung saya tinggal dan besar di Jogja yang memiliki beragam museum. Beberapa diantaranya menarik untuk dikunjungi.

Saya masih teringat saat dua tahun lalu mengajak 50-an murid sebuah penitipan anak ke Museum Dirgantara. Saya dan beberapa teman, menemani balita-balita tersebut belajar tentang transportasi. Di sana, mereka gembira bisa berlarian sambil menyentuh pesawat. Beberapa bahkan bisa dinaiki. Kami berteriak-teriak kagum saat melihat film tentang sekelompok penerbang. Seusai berkeliling, kami menggambar bersama. Anak-anak tersebut kemudian menceritakan kembali pengalamannya melihat benda-benda yang bisa terbang itu.

Museum Dirgantara Jogja

Museum perlu penataan yang cantik untuk membuat orang terkesan. Hal tersebut membuat pengunjungnya mengajak orang lain untuk datang. Museum Kolong Tangga merupakan salah satu museum yang kerap saya promosikan. Saya pernah mengajak editor Koran Tempo Makassar ke tempat tersebut. Karena terpesona dengan mainan-mainan yang pernah ia lihat pada waktu kecil, ia kemudian menulis untuk korannya. Ia mengundang orang lain untuk berkunjung ke sana. Bukankah hal tersebut merupakan promosi yang baik?

Museum Jogja Kolong Tangga

Barang-barang di museum adalah benda mati. Ia baru akan menarik dan punya “nyawa” saat ada pendongeng yang baik. Saya menemukan hal tersebut di Museum Batik. Waktu itu saya mengajak teman-teman dari Komunitas Goodread. Guide kami bisa menceritakan dengan baik tentang sejarah batik dan peralatan yang digunakan untuk membuatnya. Kami baru tahu kalau canting itu jumlahnya belasan macam. Lebih banyak daripada yang kami lihat di pasaran. Kami juga terpesona melihat batik kuno yang ditulis dengan sangat halus. Titik-titiknya seukuran pena satu mili. Jaman sekarang sudah tidak ada lagi pembatik setrampil itu.

Museum Batik Jogja

Jogja masih memiliki banyak museum lain. Saya harap museum lebih banyak berbenah untuk menarik pengunjung. Hal tersebut bisa tercapai jika museum memiliki pengelola-pengelola cerdas dan mencintai pekerjaannya. Mereka perlu membaca banyak buku supaya memiliki informasi untuk disampaikan ke pengunjung. Ia juga harus memiliki ketrampilan untuk membuat informasi tersebut menarik. Sebagai referensi, pengelola museum perlu banyak mempelajari cara museum lain menarik pengunjung. Internet mempermudah hal tersebut. Semoga ke depannya, para pengelola ini bisa mengubah museum jadi tempat menyenangkan. Saya tunggu.

Suramadu, Putri Cantik yang Masih Tertidur

Matahari Terbit MaduraMeski berkali-kali singgah di Surabaya, baru tahun lalu saya melintasi Jembatan Suramadu. Gara-gara ingin melihat matahari terbit di jembatan terpanjang di Indonesia tersebut, saya sengaja berangkat malam dari Jogja. Sayang, saya tidak menemukan lokasi yang tepat untuk mengambil gambar. Terpaksa saya harus puas mengambil matahari terbit dari pinggir jalan. Padahal, jika bisa mengambil foto dengan latar Suramadu, saya akan mempromosikan jembatan tadi secara gratis ke teman-teman melalui media sosial. Bayangkan jika ribuan turis melakukan hal yang sama.

Di Jogja, ada beberapa tempat wisata yang ramai sejak para turis menyebarkan foto-fotonya di dunia maya. Salah satunya Kalibiru. Beberapa tahun yang lalu, penduduk desa ini belum menganggap wisata sebagai sumber mata pencaharian. Kini, mereka mendapat pemasukan lebih dari 50 juta rupiah tiap bulannya. Jumlah besar untuk sebuah desa yang awalnya mengandalkan pertanian. Angka tersebut sumbangan dari tiket masuk. Penduduk masih mendapat pemasukan dari parkir atau penjualan makanan. Kunjungan turis meningkat sejak pengelola wisata membuat tempat duduk di atas pohon. Pengunjung kemudian dengan senang hati memamerkan foto-foto seperti ini di media sosial.

Suramadu bisa mengadopsi hal tersebut. Pengelola wisata perlu membuat semacam gardu pandang tempat pengunjung berfoto dengan latar belakang konstruksi jembatan. Karena turis menyukai foto matahari terbit dan terbenam, ada baiknya pembuatan gardu pandang ini mempertimbangkan hal tersebut. Lokasi foto narsis tersebut harus unik supaya orang lain tergoda untuk berkunjung.

Saat melewati Suramadu, saya melihat turis-turis hanya sekadar mampir. Mereka berkendara dari arah Surabaya dan singgah sejenak di Madura. Sebagian cukup lewat sebentar di Pulau Garam kemudian berputar balik. Beberapa lanjut untuk menikmati wisata kuliner bebek atau berbelanja di sentra batik yang jaraknya tak lebih dari satu kilo dari jembatan. Sayang sekali. Karena Madura punya banyak potensi wisata yang bisa menahan turis untuk berkunjung lebih lama. Hal tersebut hanya perlu dikemas supaya terlihat menarik.

Jual Batik Madura

Selama ini, pengunjung Suramadu cukup singgah sebentar di Madura karena mereka kurang mendapat informasi. Banyak yang tidak terlalu tahu hal-hal unik di Pulau Madura. Kalaupun tahu, kadang orang kesulitan menemukan transportasi umum menuju tempat tersebut. Gardu Pandang Suramadu perlu memajang foto-foto lokasi wisata dan budaya Madura. Foto-foto tersebut lengkap dengan peta transportasi ke sana. Termasuk transportasi alternatif seperti mobil pengangkat sayur yang membawa penumpang dari pasar ke desa-desa.
Saya dan beberapa teman belum kesampaian berlibur di Pulau Kangean. Padahal, kami sudah bertahun-tahun memasukkan Kangean ke daftar liburan. Hingga kini, kami masih ragu berangkat karena ada terlalu banyak info yang berbeda mengenai jadwal kapal. Supaya informasi mengenai Madura bisa diakses lebih banyak orang, perlu web khusus untuk wisata. Portal ini juga menyediakan sarana tempat calon pengunjung bisa bertanya mengenai penginapan dan jadwal karapan sapi.
Kadang sekadar memajang foto tidak cukup untuk mengundang orang untuk datang. Portal wisata tersebut juga perlu dilengkapi dengan cerita tentang Madura. Seperti saat mempromosikan batik Madura. Alangkah baiknya jika foto tersebut lengkap dengan cerita mengenai cara pembuatannya atau sejarah motif sebuah batik. Detail-detail seperti berapa tahun seorang pembatik berlatih untuk menghasilkan goresan yang halus perlu ada dalam cerita tersebut. Saat seseorang mengerti rumitnya membuat selembar batik tulis dengan banyak detail, ia tidak akan keberatan membeli dengan harga layak.
Untuk memastikan supaya lebih banyak orang berkunjung, portal wisata tersebut perlu dilengkapi dengan perkiraan anggaran. Bagi sebagian orang, berlibur merupakan hal mahal. Calon turis jenis ini perlu tahu berapa banyak anggaran yang akan mereka keluarkan. Portal wisata Suramadu perlu memberikan beberapa contoh rute serta perkiraan anggaran untuk berlibur. Rute ini perlu mempertimbangkan jika turis memiliki standar ekonomi yang berbeda. Jadi, ada paket wisata hemat yang isinya menggunakan transportasi umum dan penginapan dengan harga di bawah seratus ribu per hari. Juga rute untuk calon turis kelas menengah dan atas.

Angkutan umum Surabaya
Orang datang kembali ke sebuah tempat wisata atau merekomendasikan ke orang lain apabila mereka menyukai tempat tersebut. Untuk itu, para pengelola wisata perlu melayani pengunjung dengan baik. Orang-orang yang bergerak di bidang wisata harus menyadari jika perlakuan mereka terhadap turis akan mempengaruhi jumlah kunjungan berikutnya. Pemda atau Dinas Wisata perlu berinvestasi dalam mendidik para pengelola wisata. Mereka perlu menyadarkan penduduk lokal mengenai pentingnya merawat lokasi wisata. Hal ini butuh waktu bertahun-tahun. Karena biasanya, penduduk lokal enggan melakukan sesuatu yang efeknya tidak langsung terasa.

Bermain di Museum Dirgantara

Horee… Jadi penjaga anak paruh waktu lagi. Sabtu kemarin, Mbak Tita dari Matatours mengundang anak-anak di Tempat Penitipan Anak Bringharjo untuk jalan-jalan ke Museum Dirgantara. Berhubung rencananya  sudah diumumkan sekitar dua bulan lalu, guru-guru TPA memakai acara tadi untuk “menjinakkan” anak-anak. Jadi, tiap kali ada yang berantem atau ribut parah, beberapa guru mengancam. Yang nakal nggak boleh ikutan pergi lihat pesawat. Lumayan bikin krucil-krucil yang lucu itu nurut. 😀

ImageAslinya, kami janjian berangkat jam 8.30. Supaya nggak ngaret dan tunggu-tungguan, kami yang mau nemeni main sengaja datang jam delapan. Ternyataa… mereka sudah siap sejak tadi. Tapi, tetep aja berangkatnya butuh waktu lama. Nggak gampang ngajakin anak-anak umur dua sampai lima tahun yang jumlahnya 50 orang itu. Pas jalan ke bus yang diparkir dekat Benteng Vredenburg, turis-turis yang lewat pada gemes sama mahluk-mahluk kecil ini. Ada yang iseng megang kepala, nyubit, sampai moto.
Di parkiran museum sudah ada bus-bus besar. Halaman luarnya sesak dengan rombongan sekolah. Kalau dilihat dari mobilnya, banyak yang dari luar kota. Berhubung dalam museum pasti penuh dan nggak asik kalo berjubelan, Mbak Tita ngajakin main di luar dulu.

Niat awalnya, kita mau duduk-duduk di dekat salah satu pesawat sambil menggambar bersama dan baca buku. Baru sejam kemudian pas museumnya mulai sepi, kita masuk. Ternyata… kali ini anak-anaknya cepat banget selesai menggambarnya. Habis itu mereka juga bosen dibacain buku. Akhirnya, isinya jadi acara bebas main-main.

ImageAda yang rame-rame muterin roda pesawat, ada yang nglemparin kodok. Kalo ngelihatin mereka, kayaknya bahagia itu sederhana banget. Susahnya adalah, mereka lari ke mana-mana. Ada satu anak, namanya Ata lari ke selokan. Diikuti teman-teman lainnya. Mereka bengong di pinggir selokan sambil memuji itu sungai yang indah. Saya bingung, mau bilang selokan dan sungai itu beda. Tapi setelah mereka lihatin dengan tampang: memang bedanya seperti apa? Akhirnya saya ngalah. Ya udah, anggep aja itu sungai. Habis itu beberapa anak ngelihatin riak-riak di air yang dibuat sama serangga sambil teriak-teriak “Ada ikaaan. Ada Ikannn…” Saya bingung lagi mo ngejelasin kalau itu bukan ikan.

Akhirnya, kami masuk juga ke dalam museum. Supaya nggak ilang, adik-adik tadi dibagi dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok jalan bareng-bareng sambil bikin ular-ularan. Supaya nggak bosen, kita nyanyi-nyanyi naik kereta api.
Di dalam museum, anak-anaknya pada heboh tiap kali lihat pesawat-pesawat yang besar. Foto di dinding, miniatur seragam, atau pesawat kecilnya dicuekin. Ruang yang paling menarik buat mereka itu hanggar yang isinya pesawat-pesawat kuno. Pada seneng dan berebut buat naik helikopter, reruntuhan pesawat, sama truk-truk kuno. Sayangnya, hanggar tadi atapnya dari seng. Panasnya ampun deh. Kita yang gede-gede nggak kuat terlalu lama di dalam. Akhirnya, kami ngajakin mereka pindah ke ruang berikutnya.
Sayang, ruangan berikut yang isinya maket-maket nggak terlalu menarik buat para balita ini. Akhirnya kami pergi ke ruang audio visual. Pas mau masuk, kami kalah cepat sama rombongan dari SD. Mereka sudah menduduki semua kursi di ruangan. Kita ngalah deh trus pada duduk di lantai.

ImagePas lampunya dimatiin, anak-anak SD tadi pada jejeritan lebay. Si Bapak yang muter film sampai ngancam filmnya nggak bakal dimulai kalo nggak berhenti teriak. Kami, sempat khawatir kalo adek-adek TPA takut dan nangis, ternyata enggak.
Film dimulai dan penonton mulai tepuk tangan. Ceritanya tentang pesawat-pesawat yang berakrobat di udara dan bikin formasi. Selama lima belas menit film diputar, ruangan berkali-kali penuh suara kagum dan tepuk tangan.

Kami pun keluar dan mulai makan siang. Menunya nasi kuning yang dibuat sama asisten rumah tangganya Mbak Tita. Sehabis makan, bus yang bawa kami pulang belum datang. Anak-anaknya mulai lari ke mana-mana. Berhubung ibu-ibu yang tadi ngawal mereka dah kecapean. Gantian saya, Phie, dan Bayu yang nungguin. Ribut banget oi. Pada rebutan pengen naik jeep dan minta digendong karena nggak bisa manjat. Jadilah kami gantian menggendong krucil-krucil. Awalnya sih nyenengin. Lama-lama capek juga. Baru kerasa pagi setelah bangun tidur besoknya. Lengan saya sakit. Akhirnya, busnya datang juga setelah sejaman ditunggu. Pulang deh.

ImageUntuk teman-teman yang tertarik menemani anak-anak di Tempat Penitipan Anak Beringharjo di hari sabtu, hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com? Untuk sementara, baca buku dan menggambar di TPA baru rutin tiap sabtu minggu ketiga. Kadang, ada acara lain di luar itu. Teman-teman juga bisa membantu kami dengan cara mengumpulkan buku anak bekas.

Para Pemuja Matahari

Saat mendengar judulnya, orang sering bertanya: “Ini novel tentang Suku Aztec, Maya, atau Inca ya?” Bukaann… Ini novel tentang remaja yang keliling Jawa sendirian. Kenapa judulnya Para Pemuja Matahari? Baca deh, ada kok di akhir novelnya 😛

Ceritanya, ada seorang mahasiswi berumur 19 tahun namanya Naia. Dia pamit untuk pergi ke tempat sepupunya di Jakarta. Saat seharusnya pulang, Naia pergi untuk mengelilingi Jawa. Dan mulailah dia jalan-jalan sendirian ke tempat-tempat yang dulu cuma pernah ia baca di koran dan majalah atau lihat di TV.

Waktu di Baduy, dia sempat kaget karena masyarakat sana beda banget sama buku-buku yang pernah ia baca. Saat Naia melanjutkan perjalanan ke Gunung Salak, dia bergabung dengan serombongan mahasiswa dan hilang.

Naia sempat hampir pulang, tapi ia merasa perjalanannya belum seberapa dan melanjutkan pergi ke Segara Anakan. Di tempat yang ada di Laguna Nusakambangan ini, ia bertemu dengan seorang nelayan yang masih sangat muda. Nelayan tadi harus putus sekolah untuk mencari nafkah buat keluarganya.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke Semarang. Naia kemudian menyebrang ke Karimun Jawa dan bersenang-senang dengan seorang turis dari Inggris. Di penginapan, ia bertemu dengan serombongan turis lokal dan bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen.

Nah, itu tadi sedikit gambaran ceritanya. Kalau ingin tahu seperti apa cerita lengkapnya juga ilustrasi laiinya, baca saja di novelnya. Ayo cari di rak novel di toko buku terdekat. Atau, bisa dipesan lewat Lrwahyudyanti@yahoo.com atau 08170420500. Harganya didiskon dari Rp. 39.500 jadi Rp.30.000 (belum termasuk ongkos kirim).

“Dengan tutur kata yang sederhana, pengalaman perjalanan penulis dengan catatan sejarah dan kebudayaan setempat mampu membuat pembaca terhanyut..”Kioen Moe, General Manager Program and Development Metro TV

“Membaca novel ini membuat saya iri! Iri pada Naia yang udah keliling Jawa dan menikmati budaya plus pemandangan yang eksotis. Kapan ya bisa jalan-jalan kayak dia?” (Ken Terate, penulis teenlit).

Terumbu Karang, Rusa, Banteng, dan Merak Liar di Baluran

 

Beberapa waktu lalu, saya bersama tiga orang teman ingin melihat penyu bertelur di Taman Nasional Meru Betiri. Sayang, medan menuju tempat tadi sulit untuk dicapai pada bulan Desember sehingga kami mengganti tujuan. Kami memilih untuk pergi ke Taman Nasional Baluran di Banyuwangi, Jawa Timur.

Karena ingin menghemat biaya (baca: pelit), kami berangkat dengan Kereta Api ekonomi Sri Tanjung. Kereta ini berangkat pukul 07.30 dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.  Kereta mulai menjadi tidak nyaman selepas pukul 11 siang. Panas dan gerah sekali karena ada terlalu banyak orang berdesakan dalam kereta. Saya sampai berteriak kegirangan saat ada tukang es krim lewat!

Lama-kelamaan, kami mulai mati gaya dan bingung mau ngapain. Kebayang nggak sih, duduk di bangku keras selama 15 jam sambil sesekali disikut orang lewat? Atau kami yang kurang kreatif saja tidak punya ide untuk menghabiskan waktu? Padahal kalau saja kami mau mengamen, waktu 15 jam itu lebih dari cukup untuk balik modal (FYI: harga tiket Jogja-Banyuwangi cuma 35 ribu). Toh banyak pengamen di kereta yang suaranya ancur berat. Saya saja sempat berpikir mau memberi uang selama mereka tidak menyanyi.

Kereta mulai sepi sehabis Stasiun Jember. Saat, memasuki Banyuwangi, beberapa penumpang yang tersisa disuruh pindah ke gerbong paling depan dan petugas mulai mematikan lampu. Kami merasa beruntung karena kebetulan naik di gerbong yang masih baru. Karena gerbong lain yang kami lewati baunya pesing sekali. Masa bayar 35 ribu buat perjalanan sejauh itu mau berharap banyak!

Kereta sampai di stasiun terakhir sekitar jam 11 lebih. Kami  kemudian berjalan kaki menuju penginapan yang tidak jauh dari sana. Menurut petugas kereta, di losmen ini kamar ber-AC dengan kamar mandi dalam sewanya cuma 60 ribu. Awalnya, kami sempat berpikir akan mendapat kamar yang bersih dan nyaman dengan asumsi ada banyak penginapan murah di Jawa Timur. Ternyata, kami salah besar. Kamar kami sempit sekali. Memang sih ada kamar mandi dalam dan AC. Tapi pintunya rusak dan AC-nya jika dinyalakan justru menyebar debu ke seluruh ruangan.

Pagi sehabis sarapan, kami menyewa angkot menuju Baluran. Di pintu masuk, kami ditawari penginapan di Bekol dengan harga mulai 35 ribu per orang atau di Pantai Bama dengan harga 300 ribu per cottage. Karena ingin melihat matahari terbit dan berenang pagi-pagi, kami memilih untuk menginap terlebih dahulu di pinggir pantai.

Saat melintasi hutan menuju Pantai Bama, kami sempat berhenti berkali-kali dan turun dari angkot sambil berteriak-teriak kegirangan gara-gara melihat ayam hutan. Sepertinya ini efek dari perjalanan lama yang membosankan, segala sesuatunya kemudian terlihat lebih indah.  Termasuk ayam hutan yang aslinya tidak jauh berbeda dengan ayam kampung biasa.

Waktu kami sampai di penginapan Bama, penjaganyanya berkata kalau mereka tidak menyediakan makan. Biasanya, tamu yang menginap menelpon dulu beberapa hari sebelumnya. Untung saja penjaganya mau berbaik hati memasak untuk kami selama kami menginap di Baluran. Mereka bahkan mencarikan kerang, ikan, dan cumi-cumi sebagai lauk.

Kami memesan perahu untuk melihat terumbu karang selepas makan siang. Karena tidak sabar melihat pantai dengan ombak tenang, kami berenang-renang di depan cottage duluan.  Sayang, di sana banyak sampah sisa air minum kemasan. Siang harinya kami naik perahu untuk melihat tempat penanaman terumbu karang yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai. Kebanyakan terdiri dari karang-karang keras. Ada beberapa yang berwarna kuning, biru, dan merah. Meski jumlahnya tidak banyak, di sini ada berbagai macam ikan warna-warni. Mungkin karena terlalu capai dan kurang tidur, saya sempat memberi makan ikan-ikan dengan mutahan makan siang saya.

Sore harinya, pantai mulai sepi. Hanya ada kami berempat! Mungkin karena ini bukan musim liburan, jarang ada orang berkunjung. Tapi kami senang karena merasa seperti punya pantai pribadi. Kami hanya harus berhati-hati dengan gerombolan monyet nakal yang suka mencuri makanan.

Keesokan harinya, kami bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Sayangnya, langit terlalu berawan sehingga hanya terlihat warna merah di atas cakrawala. Laut surut jauh sekali sehingga kami tidak bisa berenang pagi-pagi. Saat asyik berjalan-jalan di pinggir pantai sambil melihat monyet mencari ikan, dari jauh kami melihat puluhan titik-titik di sisi lain pantai. Kami lalu berlari menyusuri pantai dengan kaki telanjang saat mengetahui titik tadi puluhan ekor rusa. Saat kami bisa sedikit dekat, rusa-rusa ini berlari membentuk barisan menuju hutan. Kami berjalan pulang pelan-pelan karena batu dan karang-karang mati yang tadinya tidak kami hiraukan sekarang terasa menyakitkan.

Sebelumnya, kami berencana untuk menyusuri hutan dengan ditemani pemandu. Sayang, hujan deras tadi malam membuat jalan setapak penuh lumpur dan susah untuk dilewati. Akhirnya kami berjalan kaki sejauh tiga kilo ke Savana Bekol. Ada banyak jenis burung hinggap di pepohonan sepanjang perjalanan. Kami berkali-kali melihat kingfisher dan hornbill. Sampai di penginapan, setelah makan siang kami tertidur  karena kecapaian.

Sore harinya kami berjalan-jalan ke savana. Berhubung kecil kemungkinan untuk melihat kerbau atau banteng di musim hujan, kami memilih untuk mengejar-ngejar merak. Mereka seringkali bersembunyi di gerombolan tanaman akasia yang memenuhi tepian savana. Kami sempat masuk ke sela-sela tanaman berduri ini supaya bisa melihat merak, ayam hutan, atau kupu-kupu dari dekat. Lengan dan kaki kami berkali-kali tergores duri akasia. Tanaman ini berasal dari Afrika. Pada tahun 70an, tanaman ini didatangkan untuk mencegah Savana Bekol yang sering terbakar tiap musim kemarau. Sayangnya, sekarang pohon ini justru menguasai savana dan pihak taman nasional mengeluarkan banyak biaya untuk memangkasnya tiap tahun.

Menjelang magrib, kami duduk di tepi jalan setapak dekat lokasi yang menurut petugas ada sarang meraknya. Masih penasaran untuk melihat burung cantik ini dari dekat. Malangnya, nyamuk di sana ganas-ganas. Berhubung saya punya kadar kolesterol tinggi, nyamuk menyukai darah saya dan saya tidak betah berlama-lama di sana. Saya harus cukup puas mendengar nyanyian parau merak dari jauh saat matahari mulai terbenam.

Hari terakhir. Sehabis mandi pagi, saya berjalan-jalan ke savana karena petugas berkata ada seekor kerbau melintas. Saya ingin mengambil fotonya dari dekat. Tapi niat tersebut batal saat saya ingat kalau ada dua kemungkinan seekor binatang terpisah dari kawanannya. Ia sedang hamil atau mantan pemimpin yang dibuang dari kawanannya yang biasanya lebih buas. Berhubung kerbau tadi tidak kelihatan berperut buncit, saya pun batal mendekat.

Sopir angkot menjemput kami. Ia kemudian mengantar kami ke ATM karena kami kehabisan uang gara-gara tidak memasukkan uang makan saat menghitung perkiraan biaya. Akhirnya kami pulang naik bus PATAS supaya bisa tidur.

Lost in Bali

Kata Bali untuk sebagian besar orang identik dengan pantai dan liburan, tapi tidak untuk pengalaman saya kemarin. Gara-gara Merpati yang suka ingkar janji dan dengan sepihak membatalkan penerbangan ke Maumere, saya dan seorang rekan saya terpaksa bermalam di Bali. Kami sampai di Bali sekitar pukul sepuluh lebih malam. Kami waktu itu sudah mencoba memesan hotel saat masih di Jogja. Tapi, travel agent yang teman saya hubungi mengatakan hari itu hotel-hotel yang ada di jaringan mereka sudah penuh.

Saya dengan pedenya mengusulkan lebih baik kita pergi saja dan nanti kita bisa mencari hotel di sana. Biasanya, di Jogja saat seramai apapun, kalau hanya semalam pasti ada hotel di Sosrowijayan atau Prawirotaman yang kosong. Saat sampai, kami minta diantar sopir taksi ke Jalan Poppies Lane II. Kami kemudian berjalan kaki menyusuri jalan tadi. Malam itu, Poppie Lane sangat ramai. Banyak turis asing hilir mudik atau nongkrong di cafe-cafe yang tersebar di kiri dan kanan jalan. Kami kemudian mulai bertanya ke hotel dan penginapan yang ada disepanjang apakah ada kamar kosong. Dan ternyata, penginapan-penginapan tadi penuh. Hanya ada satu penginapan yang masih memiliki kamar, tapi harganya mahal. Sekitar jam 12 malam, setelah mengalami kaki pegal berjalan dan punggung sakit karena menggendong ransel, kami menyerah.

Kami memutuskan untuk naik taksi dan meminta sopirnya untuk mencarikan hotel. Sopir taksi kemudian mengantar kami berputar-putar di wilayah Kuta. Ia yang turun dan bolak-balik menanyakan adakah kamar kosong ke beberapa penginapan. Kami, yang sangat kelelahan setengah tertidur di taksi. Akhirnya mobil sampai di sebuah hotel dengan inisial D (nggak nyebut merk, nanti bisa dituduh pencemaran nama baik). Awalnya, kami tidak yakin kalau masih ada kamar karena parkir hotel tadi penuh sekali. Ada beberapa bus pariwisata terparkir di depannya. Belum lagi ditambah belasan mobil pribadi. Kami mendapat sebuah kamar dengan harga sewa 175 ribu per malam. Karena terlalu capai dan malas berputar-putar, akhirnya kami ambil kamar tadi. Sebelum pergi, sopir taksi tadi meminta ongkos 70 ribu rupiah. Awalnya, saya enggan membayar sebanyak itu karena harga yang tercantum di argo hanya 36 ribu rupiah.

Hotel tadi sangat mengenaskan. Tangga ke lantai dua sangat curam dan keramiknya banyak yang lepas. Para penghuni kamarnya lebih mengibakan lagi. Banyak yang tidur sambil menggelar tikar di lantai! Kamar yang saya tempati pun sebelas dua belas hancurnya. Temboknya bergelombang-gelombang tidak rata. Kamar mandinya bocor dan kuncinya sulit dibuka. Sepertinya di hari biasa harga sewanya jauh dibawah 175 ribu. Saya tidak bisa tidur semalaman karena ruangan itu panas sekali. Jangankan AC, kipas pun tidak ada. Saya baru hampir bisa tidur menjelang jam empat pagi. Sialnya, saat saya hampir memejamkan mata, ada seorang bapak-bapak menggedor pintu sambil berteriak: ”Subuh! Subuh!” Sepertinya, ia guru dari rombongan SMA yang menginap di hotel tadi dan berpikir kamar saya bagian dari rombongannya.