Suramadu, Putri Cantik yang Masih Tertidur

Matahari Terbit MaduraMeski berkali-kali singgah di Surabaya, baru tahun lalu saya melintasi Jembatan Suramadu. Gara-gara ingin melihat matahari terbit di jembatan terpanjang di Indonesia tersebut, saya sengaja berangkat malam dari Jogja. Sayang, saya tidak menemukan lokasi yang tepat untuk mengambil gambar. Terpaksa saya harus puas mengambil matahari terbit dari pinggir jalan. Padahal, jika bisa mengambil foto dengan latar Suramadu, saya akan mempromosikan jembatan tadi secara gratis ke teman-teman melalui media sosial. Bayangkan jika ribuan turis melakukan hal yang sama.

Di Jogja, ada beberapa tempat wisata yang ramai sejak para turis menyebarkan foto-fotonya di dunia maya. Salah satunya Kalibiru. Beberapa tahun yang lalu, penduduk desa ini belum menganggap wisata sebagai sumber mata pencaharian. Kini, mereka mendapat pemasukan lebih dari 50 juta rupiah tiap bulannya. Jumlah besar untuk sebuah desa yang awalnya mengandalkan pertanian. Angka tersebut sumbangan dari tiket masuk. Penduduk masih mendapat pemasukan dari parkir atau penjualan makanan. Kunjungan turis meningkat sejak pengelola wisata membuat tempat duduk di atas pohon. Pengunjung kemudian dengan senang hati memamerkan foto-foto seperti ini di media sosial.

Suramadu bisa mengadopsi hal tersebut. Pengelola wisata perlu membuat semacam gardu pandang tempat pengunjung berfoto dengan latar belakang konstruksi jembatan. Karena turis menyukai foto matahari terbit dan terbenam, ada baiknya pembuatan gardu pandang ini mempertimbangkan hal tersebut. Lokasi foto narsis tersebut harus unik supaya orang lain tergoda untuk berkunjung.

Saat melewati Suramadu, saya melihat turis-turis hanya sekadar mampir. Mereka berkendara dari arah Surabaya dan singgah sejenak di Madura. Sebagian cukup lewat sebentar di Pulau Garam kemudian berputar balik. Beberapa lanjut untuk menikmati wisata kuliner bebek atau berbelanja di sentra batik yang jaraknya tak lebih dari satu kilo dari jembatan. Sayang sekali. Karena Madura punya banyak potensi wisata yang bisa menahan turis untuk berkunjung lebih lama. Hal tersebut hanya perlu dikemas supaya terlihat menarik.

Jual Batik Madura

Selama ini, pengunjung Suramadu cukup singgah sebentar di Madura karena mereka kurang mendapat informasi. Banyak yang tidak terlalu tahu hal-hal unik di Pulau Madura. Kalaupun tahu, kadang orang kesulitan menemukan transportasi umum menuju tempat tersebut. Gardu Pandang Suramadu perlu memajang foto-foto lokasi wisata dan budaya Madura. Foto-foto tersebut lengkap dengan peta transportasi ke sana. Termasuk transportasi alternatif seperti mobil pengangkat sayur yang membawa penumpang dari pasar ke desa-desa.
Saya dan beberapa teman belum kesampaian berlibur di Pulau Kangean. Padahal, kami sudah bertahun-tahun memasukkan Kangean ke daftar liburan. Hingga kini, kami masih ragu berangkat karena ada terlalu banyak info yang berbeda mengenai jadwal kapal. Supaya informasi mengenai Madura bisa diakses lebih banyak orang, perlu web khusus untuk wisata. Portal ini juga menyediakan sarana tempat calon pengunjung bisa bertanya mengenai penginapan dan jadwal karapan sapi.
Kadang sekadar memajang foto tidak cukup untuk mengundang orang untuk datang. Portal wisata tersebut juga perlu dilengkapi dengan cerita tentang Madura. Seperti saat mempromosikan batik Madura. Alangkah baiknya jika foto tersebut lengkap dengan cerita mengenai cara pembuatannya atau sejarah motif sebuah batik. Detail-detail seperti berapa tahun seorang pembatik berlatih untuk menghasilkan goresan yang halus perlu ada dalam cerita tersebut. Saat seseorang mengerti rumitnya membuat selembar batik tulis dengan banyak detail, ia tidak akan keberatan membeli dengan harga layak.
Untuk memastikan supaya lebih banyak orang berkunjung, portal wisata tersebut perlu dilengkapi dengan perkiraan anggaran. Bagi sebagian orang, berlibur merupakan hal mahal. Calon turis jenis ini perlu tahu berapa banyak anggaran yang akan mereka keluarkan. Portal wisata Suramadu perlu memberikan beberapa contoh rute serta perkiraan anggaran untuk berlibur. Rute ini perlu mempertimbangkan jika turis memiliki standar ekonomi yang berbeda. Jadi, ada paket wisata hemat yang isinya menggunakan transportasi umum dan penginapan dengan harga di bawah seratus ribu per hari. Juga rute untuk calon turis kelas menengah dan atas.

Angkutan umum Surabaya
Orang datang kembali ke sebuah tempat wisata atau merekomendasikan ke orang lain apabila mereka menyukai tempat tersebut. Untuk itu, para pengelola wisata perlu melayani pengunjung dengan baik. Orang-orang yang bergerak di bidang wisata harus menyadari jika perlakuan mereka terhadap turis akan mempengaruhi jumlah kunjungan berikutnya. Pemda atau Dinas Wisata perlu berinvestasi dalam mendidik para pengelola wisata. Mereka perlu menyadarkan penduduk lokal mengenai pentingnya merawat lokasi wisata. Hal ini butuh waktu bertahun-tahun. Karena biasanya, penduduk lokal enggan melakukan sesuatu yang efeknya tidak langsung terasa.

Iklan

Bertualang dan Tuliskan Ceritamu

travelblogger25 Oktober lalu, saya dan Firsta (admin discoveryourindonesia) menjadi narasumber tentang travel dan blogging di Jagongan Media Rakyat. Sebelum acara, beberapa panitia berkomentar acaranya bakal didatangi banyak orang. Kami hanya tertawa. Undangan yang menyebar di media sosial kadang susah diprediksi. Dari sekian orang yang ikut membagikan flyer kami posting di dunia maya, belum tentu mereka datang.
Acaranya mulai jam tiga lebih. Firsta presentasi lebih dahulu. Awalnya, ada 20-an orang hadir. Lama kelamaan, peserta bertambah hingga ruangan penuh. Firsta mulai bercerita tentang blognya yang berusia satu tahun. Ia membuat discoveryourIndonesia setelah berjalan-jalan di luar negeri. Orang yang ia temui banyak yang bertanya: di mana itu Indonesia? Sebelah mananya Bali? Karena blognya bertujuan memperkenalkan Indonesia ke wisatawan asing, Firsta menulis dalam Bahasa Inggris.
Firsta kemudian bercerita tentang perjalanannya ke Myanmar. Mulai dari gambaran umum Myanmar, cara mengurus visa, sampai lokasi favoritnya di sana. Presentasinya berlanjut dengan tips merawat blog. Mulai dari menemukan konten yang menarik hingga mendapatkan pembaca lewat google dan media sosial. Untuk sebuah blog yang baru berusia satu tahun lebih, menurut saya, discoveryourindonesia dikelola dengan baik. Mungkin karena latar belakang Firsta marketing, ia mengerti pentingnya branding dan konsistensi. Sepertinya, ia mempraktekkan hal itu dalam mengelola blog.

Snorkling di Maluku
Setelah itu, gantian saya bercerita tentang kegiatan jalan-jalan dan menulis saya. Awalnya saya membuat blog sekadar untuk berlatih menulis. Lama kelamaan, saya ingin punya domain sendiri. Blog www.kotakpermen.com berisi jurnal perjalanan saya di sana. Meskipun demikian, saya masih sering menulis catatan perjalanan di blog gratisan. Karena saya punya komitmen untuk selalu memperbaharui tulisan di blog lama.
Saya kemudian bercerita tentang beberapa yang pernah saya datangi di Indonesia. Cerita dari Aceh sampai Papua tadi punya benang merah: Indonesia itu kaya tapi punya banyak cerita sedih. Kalau di Sumatra, saya mengambil contoh di tiga tempat. Salah satunya Lampung. Setelah berkunjung ke Perusahaan Ulu Belu, saya baru tahu kalau Indonesia itu produsen kopi nomer 4 dunia. Ironisnya, kita lebih banyak mengonsumsi kopi instan yang banyak campuran zat kimia dan gulanya. Di Lampung juga, saya bertemu dengan sekelompok petani kopi. Mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan ijin untuk mengelola hutan yang kini mereka jadikan perkebunan kopi. Cerita saya kemudian berpindah ke pulau-pulau lain. Kebanyakan ceritanya tentang tempat yang punya sumber daya alam melimpah tapi hanya dikuasai oleh segelintir orang.
Setelah mengunjungi banyak tempat, saya merasa menulis saja tidak cukup. Saya ingin meninggalkan sesuatu untuk orang yang pernah saya datangi. Karena saya tertarik dengan pendidikan, saya dan beberapa teman kemudian membuat program bernama berbagibuku. Program yang webnya sedang dalam proses pembuatan ini, mengumpulkan buku untuk perpustakaan komunitas. Terutama untuk komunitas yang jauh dari kota atau memiliki program mendidik anak tidak mampu. Silahkan hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com jika ingin tahu lebih lanjut.
Saya ingin mengajak orang membaca buku karena sekolah, apalagi di luar Jawa, sangat tidak mengajarkan bagaimana cara hidup. Tahun lalu, waktu pergi ke Maluku, saya melihat anak SD yang diajar cara menabung di bank. Padahal, bisa jadi anak-anak tadi tidak pernah ke bank yang letaknya ratusan kilo dari desanya. Apa yang mau ditabung? Orangtua mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan. Mereka hanya menjual hasilnya jika berlebih. Sistem barter masih berlaku di sana. Aneh saja memaksa mereka menghafal fungsi bank.
Saya kemudian sedikit bercerita tentang bagaimana cara memperbaiki menulis. Menurut saya, menulis itu proses. Seseorang butuh waktu bertahun-tahun untuk punya tulisan yang menarik. Orang yang terbiasa menulis pun belum tentu punya tulisan yang enak dibaca. Mereka harus rajin membaca supaya bisa membedakan kalimat yang menarik dan tidak.
Saat sesi tanya jawab, kami mendapat banyak pertanyaan seputar perjalanan dan menulis. Saya melihat beberapa peserta menuliskan jawaban-jawaban kami. Senang rasanya melihat ada yang datang jauh-jauh di tengah cuaca panas. Mereka masih mendengarkan cerita kami hingga acara berakhir. Bahkan, saya masih menjawab pertanyaan beberapa orang di luar acara diskusi. Obrolannya beragam. Ada yang bertanya, apakah tidak berbahaya bagi seorang perempuan pergi jauh? Bagaimanakah cara memilih sudut pandang cerita yang menarik? Sampai bagaimana cara mendokumentasikan perjalanan. Sepertinya para peserta ingin melihat lebih banyak tempat. Tapi, beberapa masih takut berkunjung ke tempat asing. Ada juga yang beranggapan jalan-jalan itu mahal. Jalan-jalan itu menyenangkan, kita akan melihat ada banyak hal yang tidak kita dapat melalui media massa atau sekolah. Jadi, kapan kau akan jalan-jalan?