Read A Loud di TK Pembina

Bulan lalu, Mbak Kantri mengirim pesan. Ia bertanya apakah komunitas Goodreads Indonesia wilayah Jogja membacakan buku di sekolah. Mbak Kantri kemudian bercerita. Ia sedang mencari teman untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Selama ini, mendongeng untuk anak-anak biasanya hanya mengandalkan lisan. Ia ingin ada kegiatan membacakan buku dengan menarik, supaya anak-anak menyukai buku. Ibu yang dulu pernah mengajar di Lazuardi Global Islamic School ini percaya kalau anak usia dini perbendaharaan katanya terbatas. Mereka membutuhkan benda yang nyata atau peraga visual untuk memahami apa yang diceritakan.

Membaca bukuObrolan tersebut berlanjut di Ma-Buk, acara bulanan GRI Jogja yang isinya makan-makan sembari bertukar cerita seputar buku. Mbak Kantri menawarkan untuk memulai kegiatan baca buku tersebut di TK Pembina, Umbulharjo. Ia berharap supaya acara tersebut menjadi kegiatan rutin.

Kami kemudian bertukar cerita tentang budaya membaca di Indonesia. Buku baru dianggap sebagai hal penting bagi segelintir orang. Banyak yang berpendapat gemar membaca itu bukan hal yang perlu. Ironisnya, kadang pendapat tadi muncul dari orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan. Tahun lalu, saya pernah punya kegiatan membacakan buku di sebuah penitipan anak. Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola penitipan anak tersebut menghentikan kegiatan itu. Alasannya, membaca buku tidak ada di kurikulum.

Mendongeng untuk anak
Tidak sekali dua kali saya menemui anak-anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran. Orangtua masih berpikir hal tersebut membuang waktu. Mbak Dewi bercerita jika di sekolah anaknya ada buku-buku cerita untuk dibaca sebagai selingan. Berbeda dengan jaman ia kecil atau mungkin sekolah lain. Guru akan menyita jika ada yang ketahuan membawa buku cerita ke sekolah. Padahal, buku itu sumber ilmu pengetahuan. Membiasakan menyukai buku-buku berat harus dimulai dari menyukai buku-buku yang sederhana dahulu. Dan hal tersebut ditanamkan sejak kecil.
Akhirnya, kami memulai kegiatan membacakan buku tanggal 15 September lalu. Sebenarnya, ada 14 orang yang konfirmasi datang. Sayang, kami lupa mengingatkan mereka beberapa hari sebelum acara. Ada 7 orang yang datang untuk membacakan buku. Karena beberapa relawan datang terlambat, kami memulainya di satu kelas saja. Supaya masing-masing relawan tidak kerepotan menghadapi terlalu banyak anak. Kami tidak menyangka jika anak-anak di sana antusias dengan buku.

Pendidikan usia dini
Seusai membacakan buku, beberapa teman berpikir sepertinya kegiatan ini perlu dilanjutkan. Hal tersebut akan dibahas saat Ma-Buk akhir bulan ini. Rencananya, kami akan memanen sayuran organik di Taman Bacaan Mata Aksara. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 13,5. Ada yang tertarik ikut? Jika ada lebih banyak orang, kegiatan ini bisa berjalan rutin. Hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com untuk agenda berikutnya. Atau, silahkan bergabung di grup https://www.facebook.com/groups/179962022020876/ untuk info Ma-Buk berikutnya: Ayo berteman sambil merayakan buku 🙂

Tentang Para Pegiat Literasi

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan Rembug Budaya Baca dari Direktorat Jenderal PAUDNI, Kemendikbud. Saya girang saat pertama kali melihat daftar pesertanya. Ada pegiat literasi dari Aceh sampai Papua terdaftar di sana. Beberapa nama saya kenal baik dan tahu kegiatannya. Ada pula yang pernah saya lihat atau baca profilnya di media massa.

Di acara tersebut, saya banyak berkenalan dan ngobrol dengan teman baru dari daerah lain. Saya berkali-kali terharu mendengar cerita-cerita mereka. Banyak kisah seputar suka duka mengajak lingkungannya menyukai buku. Tapi, ada satu benang merah yang saya temui. Mereka memulainya dari jatuh cinta pada buku (beberapa juga menulis). Kemudian ingin supaya orang lain juga mengalami hal serupa.

Membaca Buku

Yang saya salut dari rekan-rekan ini, mereka memulainya dari niat ingin berbagi. Bukan karena ada program atau ingin mendapat uang. Mereka meyakini perbuatan baik akan mengundang banyak jalan atau pertolongan. Bisa jadi, perbuatan baik itu kelak mendatangkan teman dan rejeki.
Mbak Evi, pengelola Taman Bacaan Melati, pernah berkali-kali mengalami hal tersebut. Salah satunya dahulu sewaktu sanggar bacanya harus memperpanjang kontrakan. Waktu itu, mereka sedang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar sewa rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tiba-tiba sebuah program televisi datang untuk melakukan syuting di lokasi tadi. Mereka memberikan sejumlah uang setelahnya. Dana tersebut akhirnya mereka gunakan untuk membayar uang sewa.

Rejeki juga tidak harus selalu berupa uang. Saya jadi teringat cerita Imhe, seorang pegiat literasi dari Makassar. Ia editor di sebuah koran yang mendapat tugas mengisi rubrik literasi. Ia sempat kebingungan karena harus mencari banyak tulisan tiap hari. Awalnya, hanya ada 5 orang penulis di Makassar yang mau membantunya untuk mengisi halaman tersebut. Lama kelamaan, peminat rubrik literasi meningkat. Mereka kemudian mengadakan berbagai kegiatan off air berkaitan dengan literasi. Workshop atau diskusi dengan berbagai tema ini lokasinya berpindah-pindah. Kebanyakan di kampus dan dengan mahasiswa sebagai relawan. Imhe dengan bangga bercerita bahwa mereka hanya cukup mengeluarkan uang sekitar satu juta rupiah untuk sebuah acara. Banyak orang yang menawarkan diri menjadi panitia tanpa dibayar.Tahun lalu, mereka menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan terpilih dari rubrik literasi. Dana penerbitan buku didapat dari menyisihkan honor pengisi rubrik tersebut.
Lalu ada Bapak Sergius Womsiwor dari SMP SMA Satu Atap Wasur. Ia mengelola sebuah sekolah berasrama. Saat ini, ada 800 orang anak bersekolah dan tinggal di sekolah yang letaknya di dalam Taman Nasional Wasur. Bapak itu dengan bangga menunjukkan rekaman tayangan televisi yang meliput dirinya. Intinya, lakukan sesuatu. Jika kamu bisa konsisten, orang akan tahu dan memberikan penghargaan.
Saya akhirnya juga bisa bertemu Ibu Kiswanti. Bu Kis awalnya tertarik membuka perpustakaan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Filipina. Ia kemudian membeli sepeda dan meminjamkan buku sembari berjualan jamu keliling. Lama-lama, koleksi bukunya bertambah. Setelah banyak media massa meliput tentang kegiatannya, seorang pengusaha kaya tertarik merekrutnya untuk bekerja di sebuah lembaga. Rekan lain yang datang di acara tersebut bercerita, dulu ia mengenal Bu Kis sejak masih tinggal di rumah gubuk hingga sekarang bisa membangun rumah layak huni dengan perpustakaan berisi ribuan buku.

Ada juga Pak Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Salatiga. Sayang, saya belum sempat ngobrol banyak dengan beliau. Semoga suatu hari nanti saya punya waktu dan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi mereka. Sepertinya akan ada lebih banyak cerita menarik yang bisa saya tulis atau buat film. Supaya orang-orang di tempat lain mengikuti jejak mereka. Selama ini saya percaya kegiatan membaca bisa menutup kekurangan dunia pendidikan. Bukankah lebih baik melakukan sesuatu daripada mengutuki sistem?

Perpustakaan di tengah-tengah Lapangan Denggung

Minggu lalu, saya, Bayu dan Atri nongkrong setengah hari di Lapangan Denggung, Sleman, Yogyakarta. Kami menggelar perpustakaan keliling. Biasanya, tiap minggu ada Mas Adi dan Mbak Heny dari Taman Bacaan Mata Aksara yang membuka perpustakaan keliling di lapangan ini. Kami cuma jadi tim hore yang sekadar meramaikan. Berhubung beberapa minggu berturut-turut keduanya ada acara lain, perpustakaannya sempat absen.

Karena merasa sayang kalau kegiatan perpustakaan keliling absen terlalu lama, kami menawarkan diri menggantikan. Minggu sekitar jam delapan, kami bertiga sudah sampai di Mata Aksara. Awalnya, kami ingin membawa motor perpustakaannya. Berhubung Bayu sempat menabrak tong sampah saat mencoba mengendarainya, kami memutuskan tidak membawa motor ini.

Motor Perpustakaan Keliling
Saat pertama kami menggelar karpet dan buku-buku, pengunjung masih enggan berkunjung. Kami sempat disangka tukang jualan buku. Untuk mengisi waktu, kami membuat kopi. Kami memang sengaja membawa kopor untuk merebus air. Kebetulan saya hobi membeli kopi-kopi lokal saat pergi ke luar kota. Lama-lama, banyak anak kecil datang untuk membaca buku ditemani orangtuanya. Karpet yang kami bawa mirip seperti penitipan anak.
Kegiatan ini ada tiap minggu pagi dari sekitar pukul 9 sampai selepas Dhuhur. Silahkan kalau mau datang ke Lapangan Denggung untuk membaca-baca buku. Tempatnya teduh dan menyenangkan untuk duduk-duduk. Biasanya, kalau motor perpustakaan bisa dibawa, ada ratusan buku yang bisa dibaca. Mulai dari komik, novel, buku tentang berkebun, sampai kesehatan ada di sini. Mbak Heny dan Mas Adi juga sering membawakan buku yang dipesan pembaca. Buku-buku tadi merupakan koleksi Taman Bacaan Mata Aksara yang jumlahnya sekitar 4000 buku. Biasanya kalau ada motor perpustakaan, anak-anak juga bisa bermain atau menggambar dan mewarnai. Semuanya tidak dipungut biaya.

Perpustakaan Keliling di Lapangan Denggung, SlemanSupaya kegiatan ini tetap berlangsung tiap minggu, adakah yang tertarik menjadi relawan? Bergantian menunggui buku-buku ini tiap minggu pagi? Bisa juga nanti kita mulai mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan mengajak orang lain untuk lebih menyukai membaca. Seperti diskusi misalnya? Silahkan datang langsung tiap minggu pagi atau hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com dan Mbak Heny di henywardaturrohmah[at]yahoo.com

Internet dan Buku untuk Sanggar Belajar Borobudur

Saya punya daftar Resolusi 2012 yang panjang. Ada satu yang sebenarnya keinginan lama yang dulu sempat saya takut untuk penuhi. Bikin sanggar belajar di Desa Borobudur. Ya, sebuah ruang publik yang lengkap dengan perpustakaan, dan internet tempat penduduk di Desa Borobudur bisa tahu tentang dunia luar.

Cerita ini dimulai sekitar tahun 2002 lalu. Waktu itu, saya sempat tinggal di dekat Candi Borobudur. Dulu, saya dan teman-teman sering bikin les sore untuk anak-anak SD di sore hari. Sesekali, kami jalan-jalan ke candi, sawah, atau bukit bareng anak-anak kecil di sana sambil bacain buku-buku cerita untuk mereka. Entah kenapa, saya suka kawasan di seputaran Candi Borobudur. Saya berharap suatu saat bisa bikin sekolah informal di sana.

Tapi hidup terus berjalan. Saya harus nglanjutin kuliah, kerja, sibuk ngejar beasiswa, dan mulai melupakan mimpi tadi. Selain itu, dulu sempat berpikir kalau harus punya banyak uang kalau ingin mimpi tadi terwujud. Dan, sepertinya hal tadi jauh dari jangkauan saya.

Sekitar tahun 2009, saat punya waktu luang, saya jadi relawan di beberapa sanggar belajar. Lama-lama saya teringat mimpi yang dulu belum pernah terwujud. Keinginan tadi semakin kuat waktu nonton acara Waisak tahun 2010. Saya, bareng Top x dan Lio waktu itu salah baca jadwal perayaan Waisak. Karena kebingungan, kami berputar-putar Desa Borobudur untuk nyari info tentang perayaannya. Kami sempat berheni sebentar untuk melihat-lihat sawah-sawah yang dikelilingi perbukitan. Dan, saya jadi mulai membayangkan, sepertinya menyenangkan punya sekolah di sini.


Saya kemudian mulai menghubungi kenalan-kenalan yang pernah punya aktivitas di seputaran Borobudur untuk mencari informasi. Ada beberapa tidak membalas pertanyaan saya. Mungkin mereka terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk meladeni saya. Akhirnya saya bertemu dengan Pak Kun, dosen sebuah PTS di Jogja, yang pernah menjadi fasilitator sebuah kegiatan di Borobudur. Dari Pak Kun, saya mendengar cerita tentang ironi di Desa Borobudur. Dia bilang tentang Candi Borobudur yang dikunjungi 2,5 juta turis tiap tahunnya tapi masyarakat di sekitarnya miskin. Mereka yang rata-rata hidup sebagai petani, kebanyakan tidak mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Malah, tiap tahun ada saja penduduk yang kehilangan tanah sumber mata pencaharian mereka karena banyak pendatang yang tertarik untuk membelinya.

Waktu saya cerita tentang Desa Borobudur tadi ke kantor, rekan-rekan saya mendukung supaya ada kegiatan di sana dengan nama Javlec Junior. Karena, kami belum mendapat donatur, programnya bisa dimulai dari membuat perpustakaan keliling untuk anak yang tidak memakan banyak biaya.

Berhubung saya butuh banyak teman untuk menjalankan perpustakaan tadi, saya mengajak teman-teman dari Komunitas Canting yang memang punya kegiatan sejenis di tempat lain. Ajakan saya untuk mengadakan perpustakaan keliling untuk anak di Desa Borobudur ternyata juga disambut baik oleh Anta dari Perpustakaan Guru Bangsa. Ia yang menjadi perantara kami untuk meminjam mobil perpustakaan keliling. Berhubung buku-buku perpustakaan keliling tadi kebanyakan bukan buku untuk anak, kami juga meminjam buku dari perpustakaan anak Yayasan SATUNAMA.

Kegiatan perpustakaan keliling kemudian berjalan dengan bantuan dari banyak teman. Ada yang menyumbang waktu untuk jadi relawan, ada juga yang memberikan donasi berupa buku dan uang untuk operasional perpustakaan.

http://telkomspeedy.com”
http://telkomspeedy.com



Lama-kelamaan, banyak penduduk di Desa Borobudur menyambut baik perpustakaan ini. Mulai muncul ide untuk mengubahnya menjadi perpustakaan permanen supaya lebih banyak warga yang bisa mengakses buku, dan ada lebih banyak kegiatan. Kami mulai sering ngobrol tentang kemungkinan mengubah supaya perpustakaannya bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak kalangan.

Masalah terbesar di Desa Borobudur adalah warganya kebanyakan petani miskin. Rata-rata kepemilikan lahan mereka sekitar seribu meter persegi. Apabila tanah tadi ditanami palawija seperti ketela, cabai, dan pepaya, pendapatannya belum cukup layak untuk menafkahi sebuah keluarga yang berisi empat atau lima orang.
Masalah tadi, akan terpecahkan jika penduduk memiliki banyak informasi tentang alternatif mata pencahariaan. Mereka mungkin bisa memanfaatkan peluang dari pariwisata jika mendapat banyak info tentang dunia di luar Desa Borobudur. Dan, kami percaya jika menyediakan sebuah sanggar belajar yang berisi buku, internet, dan berbagai kegiatan pelatihan seputar peluang usaha merupakan jawaban dari masalah tadi. Tahun 2012 ini, kami sedang mengupayakan supaya hal tadi terwujud.

Teman-teman bisa membantu kami mempercepat berdirinya sanggar belajar ini. Saat ini, warga Dusun Maitan menyediakan sebuah bangunan untuk diubah menjadi sanggar belajar. Teman-teman bisa membantu mulai dari menyumbang buku anak atau buku pengetahuan umum dan ketrampilan (seperti kesehatan, memasak, dan menjahit). Atau jadi relawan saat ada kegiatan belajar dan bermain. Hubungi saya di email Lrwahyudyanti[at]yahoo.com untuk info lebih lanjut.

Bermain Bersama di Desa Borobudur :)

Horeee…. Javlec Junior punya acara perpustakaan keliling lagi di Desa Borobudur. Sore itu, saya ditemani Anta, Galuh, dan Uci memakai mobil milik Perpustakaan Guru Bangsa. Waktu kami datang, sekitar tiga puluhan anak SD bergabung. Mereka sibuk memilih dan membaca-baca buku yang mereka suka. Beberapa meminta relawan untuk membacakan buku.
Saat kami mengeluarkan peralatan gambar, adik-adik tadi langsung berebut. Uci sampai kewalahan berteriak menyuruh mereka mengantri. Hebatnya, kali ini gambar mereka sangat beragam. Bukan cuma gambar dua buah gunung dengan matahari terbit di tengah-tengah seperti biasanya. Ada yang menggambar pesawat, kapal, ikan, pelangi, bunga, pokoknya macem-macem deh.

Setelah semua menyelesaikan gambarnya, kami bermain “Beruang Mengamuk”. Jadi permainannya begini: gara-gara hutan di tebangi, beruang kehilangan tempat mencari makan. Ia kemudian menyerang penduduk desa yang punya ladang di pinggir hutan.

Waktu beruang datang dan menggeram, anak-anak yang jadi penduduk desa harus pura-pura mati atau berpegangan ke temannya yang jadi pohon. Kalau ada penduduk desa yang pura-pura mati tertawa saat digelitik beruang, dia ikut berubah jadi beruang. Nah, kalau anak yang jadi pohon, dia harus mengangkat kedua tanganya tinggi-tinggi. Kalau nanti tangannya jatuh, ia dan penduduk desa yang berpegangan padanya ikut jadi beruang. Semua pemain harus berhenti saat Uci yang jadi burung, bernyanyi. Si beruang kembali ke hutan dan penduduk desa kembali bekerja.

Setelah menunjuk salah satu anak untuk jadi beruang dan empat orang jadi pohon, permainan dimulai. Ribut banget. Semuanya pada teriak-teriak pas si beruang datang. Permainan yang seharusnya penuh dengan acara orang pura-pura mati, entah kenapa bisa berubah jadi main kejar-kejaran. Saking ramainya, saat Uci si burung bercuit-cuit (dia bingung gimana mo nyanyinya jadi diubah jadi cuitan), nggak ada yang ngedengerin. Akhirnya permainan selesai dengan semua orang berubah jadi beruang 😀

Permainan kedua dimulai dengan penggantian beruang. Beruang kali ini sepertinya sangat menikmati perannya. Dia semangat sekali waktu merangkak-rangkak sambil menggeram-geram. Yang jadi penduduk desanya sebagian langsung pura-pura mati. Anehnya, sebagian anak tiba-tiba pada lari ke pojokan dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Heh? Kami tertawa karena di aturan permainan kan nggak ada pernyataan klo penduduk desa bisa berubah jadi pohon? 😀

Berhubung sudah jam setengah enam, permainan dibubarkan. Sebelum pulang, sebagian adik-adik meminjam buku buat dibaca di rumah. Ada beberapa yang meminta, supaya minggu depan kami datang lagi. Pengen sih, semoga tahun depan bisa punya acara tiap minggu.
Sebelum pulang, kami mampir dulu ke tempat Ibu Eli untuk ngobrol tentang rencana bikin perpustakaan yang permanen. Supaya klo adik-adik ini mau minjem buku, engga harus nunggu kami datang.

Nah, temen-temen ada nggak yang mau bantuin kami ngumpulin buku anak? Atau mau jadi relawan perpustakaan keliling? Hubungi saya di Lrwahyudyanti@yahoo.com ya? Teman-teman juga bisa mendukung kami untuk memenangkan hibah dari sebuah bank. Caranya, masuk ke link lalu klik box bergambar twitter, fb, dan atau like. Terimakasih buat Wini, Indra, Ike, Mas Tezar, dan Mas Manteb buat donasinya.

Perpustakaan Keliling di Desa Borobudur

Minggu, 14 Agustus lalu, Javlec Junior punya acara perpustakaan keliling di Desa Borobudur lagi. Kali ini, ada empat orang relawan. Selain saya ada Anta, Natty, dan Daniel yang menemani sekitar lima puluh anak usia SD menggambar, mendongeng, dan melipat kertas.

Senengnya lihat adik-adik di Dusun Ngaran 2 antusias bermain bersama. Entah kenapa, saat menggambar, hampir semua anak menggambar gunung. Mereka baru mengganti menggambar obyek lain saat kami minta. Itu pun mencontek gambar ilustrasi dari buku cerita anak. Ternyata, adik-adik ini ingin bisa menggambar banyak hal, tapi mereka bingung harus mulai dari menggambar apa. Akhirnya, kami janjian supaya tema pertemuan berikutnya piknik sambil belajar menggambar. Sepertinya bakal seru. Ada yang mau jadi relawan mengajar menggambar?

Selain adik-adik usia SD, ada belasan remaja putri dan ibu-ibu bergabung. Mereka asyik membaca buku tentang memasak dan pengetahuan umum. Anta sengaja membawa buku-buku jenis ini karena di pertemuan sebelumnya, beberapa ibu-ibu yang menanyakan buku-buku jenis ini. Ok, kami usahakan di pertemuan selanjutnya ada lebih banyak buku umum supaya ibu-ibu bisa ikutan baca. Ada yang mau nyumbang atau bantu mengumpulkan buku?

Menjelang buka, kelompok-kelompok kecil tadi digabung menjadi satu. Ramai sekali. Sempat ada keributan karena ada seorang anak yang menangis karena diganggu teman-temannya. Sebenarnya, kami menyiapkan beberapa hadiah untuk adik-adik yang berani maju ke depan untuk bercerita tentang gambarnya atau buku yang mereka baca. Berhubung pada belum berani untuk maju kedepan, akhirnya kami membuat pe-er menulis. Adik-adik yang mengumpulkan tulisan waktu pertemuan berikutnya, akan mendapatkan hadiah tadi. Sebelum buka, ada sesi peminjaman buku. Kali ini Romi yang jadi petugas perpusnya.

Kami lalu berbuka bersama dengan makanan yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu dan sumbangan dari Wini dan Indra. Terimakasih 😀

Sehabis buka, kami diundang makan malam di rumah ibu Eli, salah seorang kader desa. Di sana sudah ada bapak sekretaris desa, ibu anggota BPD dan beberapa orang Kepala Dusun. Intinya, mereka menyambut baik rencana kami untuk membuat perpustakaan. Bahkan, kami ditawari tempat untuk membuat perpustakan yang permanen. Ada ibu yang menawarkan puluhan bukunya untuk dijadikan satu. Lumayanlah, buat nambah koleksi buku.

Mereka malah meminta supaya kegiatan perpustakaannya diadakan tiap minggu. Pengen sih, mungkin nanti kalau ada lebih banyak relawan yang mau membantu atau kalau pemuda yang tinggal di seputaran candi gabung.

Kami juga sempat ngobrol-ngobrol tentang kondisi masyarakat di seputaran Desa Borobudur. Ironis sekali. Masyarakat di sana banyak yang miskin padahal di desa tadi punya obyek wisata yang didatangi 2,7 juta pengunjung pertahunnya. Itung aja berapa duit masuk kalo tiket masuk ke candi buat turis lokal 23 ribu. Dari sekian banyak uang tadi, pengelola candi cuma nyumbang 70 juta setahun ke desa. Trus ada banyak cerita tentang penduduk yang kehilangan tanah tempat mencari nafkahnya pas dulu candi dijadiin tempat wisata. Sekarang juga tanah-tanah penduduk banyak yang berpindah tangan. Karena miskin, banyak penduduk lokal yang ngejual tanahnya saat diiming-imingi uang sama pendatang.

Berhubung sudah kenyang dan sudah malam, kami pulang sekitar jam delapanan. Sampai ketemu bulan depan 🙂