Suatu hari di Hutan Jati Gunungkidul

Jumat, sore tanggal 14 Desember saya dan Timur datang ke Sekretariatnya Kelompok Tani Hutan Sedyo Lestari di Desa Karangasem, Paliyan, Gunungkidul. Rencananya kami ngerjain dokumentasi peringatan 5 tahun Hutan Kemasyarakatan. Jadi ceritanya mulai tahun 1995, masyarakat di Gunungkidul dan Kulonprogo nanemi hutan negara pake pola Hutan Kemasyarakatan. Dulu mereka mau ngelakuin itu karena dapat imbalan bertumpangsari dan kelak dapet bagian saat kayu jati yang ditanam panen.

tari topeng  gunungkidul

Tanggal 15 Desember 2007, petani-petani hutan ini dapat ijin tetap pengelolaan hutan. Sayangnya, ijin tadi cuma untuk pemanfaatan kawasan hutan negara. Agar bisa memanfaatkan kayu di kawasan hutan, mereka masih butuh ijin kayu. Pohon-pohon yang ditanam kebanyakan antara tahun 2000 mpe 2001 kemarin tu dah mulai berdesakan. Sebagian harus dijarangi supaya pohon yang bagus-bagus bisa besar. Berhubung ijin kayunya lama nggak turun-turun, petani yang bergabung di Paguyuban Petani HKm akhirnya mutusin untuk bikin peringatan 5 tahun.

Pas kami datang, acara ternyata baru dimulai malam hari. Tenda-tenda tempat seharusnya pameran masih kosong. Habis magrib, barulah tenda-tenda tadi keisi dengan produk petani hutan mulai dari berbagai makanan olahan dari umbi-umbian, mebel, sampai kerajinan kayu. Malam hari sekitar pukul 7, acara dimulai dengan pidato-pidato. Salah satunya dari Bupati Gunungkidul yang juga mendukung program HKm. Habis itu pertunjukan wayangnya dimulai. Ceritanya tentang Semar Mbangun Khayangan. Berhubung saya engga bisa menikmati wayang, akhirnya saya dan Timur pulang ke rumah Bu Rokhimah, tempat kami menginap setelah mengambil gambar buat stock film.

wayang semar mbangun khayangan

Besok paginya, kami balik lagi ke lokasi acara. Sekitar jam 9 pagi, ada sekitar 20 jip berjajar di jalan raya. Rombongan lalu jalan nyusuri jalan raya ke arah Panggang. Lewat jalan-jalan berkelok-kelok yang kiri kanannya hutan jati. Seru! Sebenarnya, hampir tiap bulan saya lewat jalan-jalan tadi. Tapi naik jip rame-rame tu rasanya beda.

Pertama, kami berhenti di Wana Wisata Watu Payung di daerah Girisuko. Selain disambut oleh tarian jathilan, rombongan disuguhi makanan dari ketela yang diolah macem-macem. Tiwulnya enak banget.
Saya sama Timur lalu wawancara sama beberapa pengurus Kelompok Tani Sidomulyo. Mereka cerita tentang sejarah tempat wisata tadi. Dulu, tahun 2000-2001, hutan di daerah tadi sama kaya di daerah Gunungkidul lainnya: habis dijarah.

hutan gunungkidul

Pemerintah kemudian ngenalin program Hutan Kemasyarakatan. Peduduk rame-rame nanami hutan negara dengan tanaman jati karena dua hal. Awalnya mereka senang dapat lahan untuk pertanian. Trus ntar kalau kayu yang ditanam gede, mereka ngarepin dapet bagi hasil. Entah kenapa, tahun 2008 tiba-tiba tempat tadi ditetapkan jadi kawasan hutan lindung. Berhubung mereka nggak bisa ngarepin lagi hasil penjualan kayunya, masyarakat lalu ngubah lokasi tadi jadi tempat wisata.

Kebetulan lokasinya emang bagus. Ada di atas bukit dan bisa ngliat gunung-gunung dan lembah di sepanjang jalan. Trus nggak jauh dari sana juga ada air terjun. Masyarakat lalu swadaya buat bikin sarana seperti ruang pertemuan, gardu pandang, dan MCK. Sayangnya, duit mereka terbatas. Sarana yang dibangun belum bisa menampung lebih banyak orang. Efeknya, mereka sering nolak kalo mau dipakai outbond lebih dari 150 orang. Masyarakat di sana minta supaya pemerintah ngasih perhatian.

Habis itu kami jalan ke lokasi HKm lain lewat jalan berbatu. Sepanjang jalan kami lewat sama pohon-pohon yang berderet rapat. Sore hari, rombongan balik untuk acara potong tumpeng. Orang-orang mulai lesu gara-gara dapet berita kalo Pak Menhut batal datang hari seninnya.

4

Minggu pagi sebelum acara. Saya dan Timur jalan-jalan sama Bu Rokhimah ke hutan negara yang dia garap. Sambil direkam, Bu Rokhimah cerita kalau dulu di Gunungkidul itu susah cari kerjaan. Bapaknya dan tetangga sekitar yang kerja serabutan sering diupah sama orang Dinas Kehutanan untuk nebang kayu. Berhubung orang-orang mulai ngerti kalau kayu laku dijual, orang luar mulai nyuri kayu dan lama-kelamaan hutan gundul.

Program penghijauan yang dilakukan dulu-dulu pun engga berhasil. Karena tiap kali tanaman jati mulai besar, petani hutan pada njabut tanaman kayu supaya engga ngeganggu tanaman pertanian yang mereka tanam di bawahnya. Sejak Hutan Kemasyarakatan dikenalin di DIY, ada banyak masyarakat nanami hutan negara dengan tanaman kayu.

Dibandingin dengan program penghijauan lain, hutan negara yang ditanami dengan pola HKm tutupannya jauh lebih bagus. Petani penggarap lahan tadi jadi punya rasa memiliki. Mereka bikin kelompok buat ngeronda supaya engga ada pencuri kayu. Semenjak hutan negara tertutup sama pohon, sumber air di desa nggak lagi kering tiap kemarau.

Menhut Zulkifli Hasan

Agak siangan dikit kami datang ke lokasi acara buat sarasehan. Pembicara yang dateng ada Wakil Bupati Gunungkidul, Prof San Afri Awang (staff ahli menhut) sama Prof Suhardi (ahli pangan lokal tapi pas presentasi cerita tentang partainya). Sarasehan ini ngobrolin tentang perbaikan ekologi setelah muncul HKm. Di tengah-tengah acara, petani-petani pada minta supaya ijin kayunya cepat diturunkan. Kalau sampai akhir Desember engga ada kabar, mereka mau ramai-ramai ke Jakarta buat nemuin Menhut. Saya hampir ikutan pengen nangis waktu denger permintaan ini diucapin rame-rame. Ya, petani-petani ini dah lama banget nunggu ijinnya turun. Waktu awalnya denger menhut mau datang, mereka jadi berharap kalau ijin kayunya bakal ditanda-tangani.

Habis makan siang dan beres-beres, saya pulang ke Jogja bareng temen-temen dari Yayasan Shorea. Tiba-tiba ada telfon yang ngabarin kalau Pak Menhut besok siang jadi datang. Mas Puji yang nerima telfon awalnya sempat nggak percaya. Habis itu ia berusaha nelfon teman-teman di Gunungkidul buat nyiapin petani-petani buat datang besok. Mereka lalu masang lagi tenda, spanduk dan umbul-umbul yang barusan dibongkar.

Pas hari H, sebelum acara mulai hujan turun deres. Ratusan petani terutama dari seputaran Gunungkidul bela-belain datang. Habis pak Menhut pidato, mereka minta bareng-bareng supaya Menhut nandatangani ijin kayunya. Dannn… akhirnya ijin kayunya ditanda-tangani saat itu juga. Pada hore-hore sesudahnya.

Saya jadi inget waktu ngobrol sama Jastis Arimbar sebelumnya. Waktu saya cerita kalo di banyak tempat di Indonesia pengelolan hutan yang dilakukan sama masyarakat secara ekologi, sosial, dan ekonomi lebih bagus. Sayangnya, pengelolaan hutan jenis ini nggak populer. Yang tau cuma orang-orang kehutanan aja. Karena itu sering peraturan dan macem-macem engga ramah sama pengelolaan hutan jenis ini. Kalo kata Jastis sih, rata-rata petani hutan ini miskin dan engga berpendidikan. Mereka juga engga punya duit makanya susah nyari ijin lewat jalur hukum. Beda sama perusahaan-perusahaan yang mau ngelola hutan. Mereka bisa bayar pengacara untuk ngurus ijinnya supaya cepat turun. Moga aja sih ntar petani-petani hutan di tempat lain juga ngambil cara yang sama. Bareng-bareng bikin acara supaya mereka diperhatikan.

Iklan

Suatu Hari berkunjung ke Hutan berbatu di Gunungkidul

Beberapa bulan ini, saya bakal sering jalan-jalan di hutan-hutan di Pulau Jawa. Kali ini bukan untuk main, tapi buat kerjaan. Ceritanya, saya sedang nyusun buku tentang pengelolaan hutan oleh masyarakat di Jawa.

Hutan pertama yang saya datangi ada di daerah Ngepohsari, Semanu, Gunungkidul. Berhubung waktu itu sedang ada pelatihan di sana, jadilah saya pergi bersama beberapa teman sekantor. Berhubung waktu itu lagi kehabisan ide muter lagu apa, entah kenapa tiba-tiba kami muter DVDnya Cherrybelle.

Dan, perjalanan diisi dengan ngedengerin info nggak penting banget. Mulai dari bagaimana Cherrybelle terbentuk, apa saja hobi personilnya, trus bagaimana sifat-sifat mereka. Hallooo, kayaknya bumi nggak bakal berhenti deh kalau saya nggak tahu kalau mereka terbentuk tanggal 27 Februari 2011 (tuh kan, mpe apal info nggak banget ini).

Sebenarnya, saya pernah beberapa kali datang ke hutan negara ini. Kalau pas lagi ke sana, kadang disuguhi makanan aneh-aneh. Kaya belalang goreng. Enak sih, cuma dulu pas pertama makan rasanya aneh. Gimana gitu, nelen mahluk yang bentuknya kaya topengnya ksatria baja hitam melotot.

Dulu sih waktu pertama kali lihat lokasi hutannya, saya takjub. Kok ada sih orang yang mau-maunya nanami tanah yang permukaannya batu doang? Apalagi tanah di sana jenisnya lempung yang engga subur. Apa hasilnya sebanding dengan capenya?

Waktu ngobrol-ngobrol dengan petani hutan di sana, cerita mereka seragam. Mereka mau nanami hutan tadi karena nggak punya (mungkin lebih tepat dibilang nggak tahu) alternatif cari nafkah lain.

Dulunya, lahan yang sekarang tertutup oleh pohon jati itu hamparan baru beralang-alang. Petani-petani di sana butuh waktu sekitar dua tahun supaya batu-batu tadi tersusun jadi teras-teras dan ada tanah untuk ditanami. Waktu enam bulan diolah, sebenarnya lahan tadi dah bisa ditanami, cuma hasilnya belum maksimal.

Jadi inget cerita Mbak yang kerja di rumah. Dulu, saya pernah tanya ke Mbak kenapa begitu lulus SMP (malah ada juga yang lulus SD) lalu pada kerja di luar kota. Kebanyakan karena mereka engga punya ketrampilan, biasanya kerja jadi pembantu rumah tangga atau di pabrik. Mereka bilang, kerja di luar, meskipun banyak yang jam kerjanya capek dan digaji rendah, masih lebih mending daripada bertani. Yang tiap hari kepanasan dan harus nyangkul berat. Pantesan, saya sering ketemu orang yang seumuran dengan saya tapi kelihatan jauh lebih tua. Habis, bebannya berat gitu.

Trus kalau tetep tinggal di desa, banyak yang nggak kuat jadi omongan tetangga, karena kelihatan kayak luntang-luntung banget. Dan, tiap kali ada tetangga punya hajat, mereka harus nyumbang. Pendapatan mereka yang engga seberapa dari bertani, habis tiap kali tetangganya nikah, meninggal, atau sunatan. Nggak jarang ada yang sampai ngutang-ngutang segala. Soalnya kalau nggak nyumbang, beritanya bakal nyebar sedesa!

Tiap kali ketemu cerita kaya gini, saya selalu ngerasa beruntung. Saya bisa milih kerjaan apa yang ingin saya lakukan. Engga kaya mereka yang selalu ngerasa: ya, ini memang sudah takdirku. Orangtuaku hidup seperti ini jadi besok paling kerjaanku juga nggak jauh-jauh dari mereka.

Ok, balik ke cerita petani di Ngepohsari. Mereka mau nanami hutan negara karena tanah miliknya terlalu sempit untuk ditanami tanaman pangan. Trus mereka ngerjain tanah di hutan negara dengan sistem yang namanya Hutan kemasyarakatan. Di sini petani dapat hak buat mengelola lahan hutan. Mereka nanemi hutan negara dengan tanaman kayu (kebanyakan jati) dan boleh memanfaatkan sela-sela tanaman jati untuk tanaman palawija. Trus nanti kalau tanaman jatinya dipanen, petani boleh dapat bagian 25%.

Sayangnya, meski petani-petani Hkm sudah punya ijin pengelolaan, mereka masih kesulitan melakukan penjarangan. Jadi ceritanya begini, pohon-pohon jati ini kalau bertambah besar, perlu dikurangi jumlahnya. Supaya nanti pertumbuhannya bisa maksimal. Biasanya yang ditebang pohon yang jelek kayunya. Petani-petani tadi masih harus ngajuin IUPHHK (Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu). Yang rada ribet dokumennya. Bulan Maret 2010, mereka pernah ngajuin ijin ini, tapi ditolak karena kurang dokumen SVLK. Tahun ini, petani di Ngepohsari ngajuin lagi, dan mpe kemarin saya ke sana, belum ada jawaban.

Susur Pantai Seruni

Gunungkidul punya banyak pantai yang masih alami. Salah satunya Pantai Seruni. Beberapa waktu lalu, saya sampai ke tempat ini karena “kecelakaan”. Waktu itu, saya mendapat ajakan kemping di pantai dari teman-teman Komunitas Canting. Berhubung lama tidak ke pantai, saya langsung mengiyakan tawaran tadi tanpa bertanya di mana lokasinya.

Jumat pukul 3 sore, kami berdelapan sampai di Pantai Sundak. Ternyata, di sini kami hanya akan menitipkan kendaraan kemudian berjalan kaki menyusur pantai selama dua jam ke Pantai Seruni. Saya cuma bengong. Awalnya saya berpikir kami akan kemping santai tanpa capai di pinggir pantai. Bayangan saya, kami hanya akan tidur-tidur ayam sambil menunggu matahari terbenam dan waktu makan. Mulailah kami berjalan menyusuri tepian pantai. Sebentar-sebentarkami harus berhenti karena ombak sore itu cukup tinggi. Saya agak kesulitan berjalan karena sandal yang saya pakai adalah sandal yang lebih cocok untuk dipakai jalan-jalan di kota! Berhubung sandal centil tadi terlalu licin, akhirnya saya memilih untuk bertelanjang kaki. Saat berjalan di batu atau pasir, hal tadi tidak menjadi masalah. Tapi tiap kali saya harus berjalan di atas karang tajam, kaki saya terasa sakit.

Sebenarnya, pemandangan di sebelah kiri saya cantik. Kami berkali-kali melalui pantai kecil berpasir putih dan sepi yang dikelilingi karang-karang tinggi menjulang. Cuma, saya tidak terlalu memperhatikan hal tadi. Selain capai, saya terlalu sibuk berpikir bahwa saya baru saja sembuh. Dan dokter menyuruh saya banyak beristirahat sampai akhir bulan.  Berhubung saya berjalan terlalu lambat, di tengah perjalanan, Azis berbaik hati meminjamkan sandalnya dan membawakan tas saya. Tapi tetep saja saya ditemani Yula, tertinggal jauh dibanding teman-teman yang lain.

Dua jam kemudian, akhirnya kami sampai juga. Beberapa teman langsung berteriak-teriak kegirangan. Pantai Seruni memiliki dua jenis pasir. Bagian atasnya tertutup oleh pasir putih berbutir besar. Di bagian bawah, pasirnya berwarna hitam kelam. Di beberapa bagian, pasir-pasir hitam ini terlihat di permukaan. Warnanya berkilauan cantik tiap kali terkena sinar bulan atau matahari. Pantai ini jarang didatangi orang karena akses ke sana sulit. Ia dikelilingi karang dan bukit dan jauh dari permukiman penduduk. Selama kami berada di sana, hanya ada pencari kerang atau ikan yang lewat. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari sebelah.

Salah satu alasan teman-teman memilih kemping di Pantai Seruni karena di sini ada air bersih. Di ujung pantai ada karang tinggi dengan peralon putih panjang. Peralon tadi bocor di beberapa bagian dan membuat banyak tetesan air. Beberapa cukup besar dan bisa dipakai untuk mengambil persediaan air bersih, menggosok gigi, dan mandi. Hal menyenangkan lain dari pantai ini adalah: di malam hari ada banyak kunang-kunang di sini.

Kami lalu mendirikan tenda di dekat gubuk pencari ikan. Saat dibuka, kami gembira karena mendapat tenda pinjaman yang masih baru. Tapi ternyata… tenda tadi agak ribet untuk dipasang. Ada terlalu banyak tali dan kait. Bayangkan, butuh waktu sekitar satu jam ditambah kehilangan 4 buah patok untuk bisa membuat tenda tadi berdiri. Catatan penting! Lain kali kalau meminjam tenda sekalian bawa pemiliknya supaya tidak pusing memasangnya.

Malamnya, Ika mendapat tugas memasak. Dia sempat ragu, karena sepertinya trangia yang kami bawa terlalu kecil untuk memasak nasi sesuai dengan ukuran perut kami berdelapan. Kami kemudian makan malam sambil membuat api unggun. Api yang kami buat lebih banyak matinya dan lebih banyak asap daripada apinya! Satu box kartu yang dibawa Aziz untuk main poker terpaksa kami korbankan untuk menyalakan api. Setelah makan, kami menyanyi dengan diiringi gitar Paman Dori. Entah kenapa, tiba-tiba kami melupakan banyak lagu. Kami lebih banyak berteriak-teriak pada bagian reff dan diam di bagian lainnya.

Jam 6 pagi, Yula, Ika, Izzah, dan Rina bermain air di pojokan pantai. Hendra memilih untuk jongkok di atas karang sambil memandangi laut. Sepertinya ia sedang mencari ide untuk membuat video yang bisa mengalahkan popularitas Briptu Norman.

Liburan di pantai ternyata membuat perut cepat lapar. Sekitar jam tujuh, kami masak mie dan makan roti. Setelah mengisi perut, semua teman bermain air. Berhubung niat saya ke pantai hanya ingin bermalas-malasan. Saya memilih tidur-tiduran di dagau milik pencari kerang. Tempatnya menyenangkan: sejuk dan suara ombak masih terdengar dari sini.

Teman-teman yang capai kemudian ikut-ikutan tidur siang sambil menunggu air surut supaya bisa menyusuri pantai. Ternyata air tidak surut sampai siang. Seorang pencari udang datang dan bercerita kalau saat ini ombak sedang tinggi-tingginya. Ia menyarankan supaya kami mengambil jalan darat, kemudian naik ojek ke Pantai Sundak karena air tidak akan surut sampai besok.

Beberapa teman tidak yakin dengan kata “dekat” versi bapak tersebut. Mereka juga takut tersasar karena belum pernah lewat jalan tadi. Akhirnya kami tetap pulang lewat pantai. Setelah berkemas, kami berangkat sekitar pukul setengah empat. Ombak sore itu lebih tinggi daripada kemarin saat kami berangkat. Kami lebih sering berhenti sambil menunggu ombak lewat. Baju saya basah kuyup terkena ombak. Bahkan, saya hampir terseret ombak. Berhubung saya benar-benar capai, akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek waktu sampai di pantai terakhir. Saya sampai duluan di Pantai Sundak dan memesan minum juga menyempatkan mandi sembari menunggu yang lain.

Kemping oii…

Awalnya, kami bertiga membayangkan akan kemping di pantai berpasir putih yang sepi pengunjung. Sepertinya menyenangkan, seharian tidur-tiduran sambil membaca buku di pinggir pantai. Kalau cuaca cerah, mungkin kami bisa melihat matahari terbit atau tenggelam yang cantik. Setelah bertanya-tanya pada beberapa teman, kami memilih Pantai Wediombo di Gunungkidul.

Pantai Wediombo di pagi hari

Kami berangkat dari Kota Solo sekitar jam 12 siang. Karena berpikir akan menghabiskan banyak waktu kalau menggunakan kereta, kami memilih naik bus. Entah kenapa, bus yang kami naiki sebentar-sebentar berhenti. Angkutan tadi juga berputar-putar di jalan tikus hingga kami baru sampai Jogja sekitar jam 3 sore. Setelah mampir di supermarket untuk belanja bahan makanan, kami naik bus dari Jalan Wonosari.

Sepertinya, kernet bus berpikir kami turis dari jauh saat melihat tenda dan ransel-ransel kami. Ia meminta masing-masing dari kami membayar sepuluh ribu rupiah. Kernet tadi sempat marah saat saya dan teman saya protes karena penumpang lain tidak membayar segitu.

Bus sampai di Terminal Wonosari sekitar pukul lima lebih. Sudah tidak ada lagi bus lain yang menuju Jepitu. Begitu turun dari bus, beberapa sopir angkot sewaan dan tukang ojek mengerumuni kami. Sopir-sopir tersebut memaksa mengantar kami dengan ongkos dua ratus ribu sampai pantai. Ada satu yang gayanya mirip preman mengutit kami sambil menurunkan harga sewa. Nggak ramah banget pokoknya.

Kami hampir memutuskan untuk mencari penginapan dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum besok pagi. Untung saja ada teman yang ibunya tinggal tak jauh dari sana menawarkan sopir untuk mengantar. Saat tahu kami ada yang mengantar, sopir angkot yang ngotot mengantar kami tadi berteriak kesal. Saat menunggu diantar, beberapa tukang ojek bertanya darimana asal kami. Mereka tidak percaya saat saya berkata saya orang Jogja. Setelah saya menggunakan Bahasa Kromo Alus, seorang tukang ojek ngotot berkata bahwa dua orang teman saya pasti orang Vietnam atau Filipina.

Ternyata, Pantai Wediombo tidak sesepi yang kami bayangkankan. Ada banyak rombongan kemping di sana. Kami lupa kalau tiap malam tahun baru, gunung dan pantai pasti penuh dengan rombongan kemping. Pantai juga ramai dengan warung penjual makanan. Ya ampun, tahu begitu kami tidak perlu membawa air minum berat-berat dari kota. Kami memilih untuk menggelar tenda di sebuah warung yang tidak dipakai berjualan untuk menghindari air pasang.

Sebelum makan malam, kami berjalan-jalan di pantai sambil menyalakan kembang api. Saat kembali ke tenda untuk tidur, datang serombongan orang lagi. Mereka membuat api unggun sambil menyanyi di dekat tenda kami. Kami tidak terlalu memedulikan mereka karena ngantuk.

Pagi harinya, pantai ramai oleh rombongan mahasiswa. Batal deh mandi pagi di laut. Kami kemudian memilih untuk sarapan. Tiba-tiba, pemilik warung datang. Kami terburu-buru makan lalu cepat-cepat membereskan tenda dan peralatan masak.

Kami memasang tenda dan menggelar matras di bawah pohon mahoni besar. Mulai pukul sepuluh, ada banyak rombongan dan keluarga datang. Kami bertiga terlihat seperti orang aneh yang kemping ditengah-tengah sekitar 300an orang. Rombongan lain sudah memberesi tendanya dan pulang.

Setelah jam 12 siang, air mulai pasang. Lagi-lagi kami memindahkan tenda. Sore harinya, pasang semakin tinggi dan kami memindahkan tenda lagi.

Pantai mulai sepi setelah pukul lima. Rombongan kami bertambah menjadi sembilan orang saat Jhon dan kawan-kawannya bergabung. Kami beramai-ramai menggelar matras di pinggir pantai sambil membuat api unggun.

Pagi harinya, pantai terlihat lebih menyenangkan karena hanya ada beberapa orang di sana. Senangnya bisa menyusuri pantai yang bersih dari ujung ke ujung tanpa memakai alas kaki. Kami bersembilan kemudian ramai-ramai sarapan dengan menu mie dan kepiting buruan tadi malam.

Setelah kenyang, kami bermain ombak. Seru, karena ombak di pantai ini kencang sekali. Beberapa orang bahkan mencoba surfing menggunakan matras. Permainan berganti menjadi lomba menangkap trangia saat peralatan masak yang hendak dicuci Manying terbawa ombak. Puas bermain air, kami bermain pasir.

Makan rame-rame. Ada yang pakai sumpit, sendok pinjaman, botol minum, dan ranting pohon.

Sekitar pukul sepuluh, pantai mulai ramai. Ada banyak rombongan bus dari luar kota datang dan kami memutuskan untuk pulang.