Suatu Akhir Pekan di Mandalamekar

Sabtu 2 Juni lalu, sekitar jam setengah sepuluh malam, saya dan rombongan memulai permainan mencari jejak menuju Desa Mandalamekar. Berhubung sopir kami cuma ngerti Kota Tasikmalaya, kami sempat kebingungan baca ancer-ancer dari Pak Yana, Kepala Desa Mandalamekar. Awalnya kami sempat terharu waktu beberapa orang di Kota Tasik bilang kalau butuh waktu sekitar tiga jam buat sampai ke desa tadi. Ya ampun, kami kan dah jalan sejak jam 9 pagi dari Jogja.
Kami sempat nggak yakin waktu dibilang belok kanan di perempatan Jamupu. Soalnya jalannya kecil, berbatu-batu, dan nanjak. Sopir kami tiba-tiba jadi serius, karena jalan yang kami lewati tu naik turun dan jelek banget. Berasa kaya di luar jawa deh. Dan, kami baru sampai desanya setelah jam satu lebih. Di sana, ada panggung yang masih ramai acara dangdutan dangdut.

Saya berangkat bareng teman kantor Javlec, Mas Exwan dan Mas Panji. Juga Pak Widodo dan Bayu dari Masyarakat Peduli media. Rencananya, kami mo gabung di Festival Jadul. Saya penasaran banget sama festival tadi sejak sebulan yang lalu. Gara-garanya Mas Jalu, Mas Yossy, dan Mas Suryaden yang jadi SC acara tadi cerita kalau mereka mo ngajakin ratusan perangkat desa dari seluruh Jawa buat ketemuan di desa pegunungan yang sinyalnya susah.

Sebagian besar peserta datang dari desa-desa yang gabung di Gerakan Desa Membangun. Kebanyakan, desa tadi pada punya web yang dikelola bareng-bareng penduduk desa. Isinya mulai dari kegiatan yang ada di desa, profil warga, sampai kehidupan sehari-hari warga pedesaan. Saya pernah buka beberapa web, dan banyak yang dalam seminggu punya beberapa tulisan. Meski beberapa web tata bahasanya kacau, saya salut. Nggak banyak masyarakat di daerah pedesaan yang terbatas aksesnya ke internet, makai teknologi informasi.

Berhubung saya dah kebanyakan bolos, jadilah saya membujuk-bujuk temen-temen di kantor supaya Javlec ikut ambil bagian di acara tadi. Supaya kalau pergi ke sana dianggap sebagai tugas 😀

Hari Minggu, kami berangkat rada telat ke Balai desa. Di panggung dah ada beberapa kepala desa cerita tentang Gerakan Desa Membangun. Habis itu ada sesi temanya Kebijakan TIK Perdesaan. Di sana, Mas Yossy cerita tentang pembuatan sofware-software lokal supaya orang-orang nggak perlu beli software dari luar. Trus ada ajakan juga supaya banyak belajar dan ngajak orang lain pakai teknologi informasi. Masih di sesi tadi ada Pak Boni dari Kominfo dan Banyumurti dari relawan TIK cerita tentang seputaran penggunaan internet.

Di hari kedua ada 7 Workshop kelas. Materinya macem-macem. Isinya seputaran melek teknologi informasi, media alternatif, juga pengelolaan sumber daya alam untuk meningkatkan perekonomian desa. Berhubung Javlec ikutan bagi cerita tentang pengelolaan Hutan Jawa yang dilakukan mitra-mitranya, saya ikutan ndengerin waktu mas Exwan presentasi. Yang gabung di kelas tadi kebanyakan masyarakat yang hidup di seputaran hutan. Sebagian besar pendengarnya serius banget. Bentar-bentar omongan Mas Exwan dicatet. Di sesi tanya jawab, banyak yang curhat tentang mereka yang tinggal di deket hutan negara tapi cuma punya akses terbatas ke hutan.


Malemnya, ada talkshow tentang pentingnya masyarakat bisa mengakses informasi seputaran pemerintahan lokal. Di samping panggung, ada tenda-tenda tempat peserta bisa pamer produk atau kegiatan lembaganya. Standnya buruh migran rame dengan orang-orang yang beli tempe mendoan khas Banyumas. Saya ikutan ngantre gara-gara Bayu cerita kalau di timeline Jadulfest ada yang ngetwit tempe mendoannya enak. Saya baru tahu kalau mendoan itu diambil dari kata “mendo” yang artinya setengah matang. Tadinya, setahu saya mendoan itu tempe yang digoreng pakai tepung.

Senin pagi, sebelum acara saya jalan-jalan dulu keliling desa. Tempatnya sejuk karena banyak pohon. Trus di belakang rumah-rumah penduduk banyak sawah-sawah. Katanya sih penduduk di sana mulai balik lagi ke pertanian organik. Trus, banyak rumah-rumah penduduk yang punya kolam ikan.

Rada siangan, di Balai Desa ada diskusi nasional tentang pengelolaan dan sumber daya desa. Pembicaranya banyak. Yang saya inget sih Bu Avi dari Kemitraan, beberapa kepala desa, dan Bupati Wonosobo. Budiman Sujadmiko yang ikutan jadi pembicara jadi kaya artis. Banyak yang ngedeketin beliau buat foto bareng.

Hari terakhir, pas Hari Lingkungan Hidup, ada acara penanaman pohon sambil jalan-jalan di Hutan Karangsoak yang masih jadi bagian dari Desa Mandala Mekar. Berhubung saya naik kereta jam 10, saya nggak sempat ikut. Kayaknya saya masih pengen main ke desa ini lagi. Tapi nanti kalo pas bisa libur agak panjang. Penasaran pengen lihat hutan sama nyusur gua-gua di sana. Trus sekalian mampir ke Kampung Naga dan trekking di Gunung Galunggung.

Iklan

Suatu Kamis di Joglo Abang

Kamis, 12 April lalu blogger-blogger di Jogja berkumpul di Joglo Abang. Ada acara ngobrol-ngobrol seputaran dunia digital yang diadain sama IBN dan XL. Kegiatan masih jadi satu dengan rangkaian peresmian BTS XL yang sudah lebih dari 30.000.

Lagi-lagi, di sini saya jadi mc dadakan. Waktu sesi pertama, Pak Roger, Pak Indra, Mas Bimo, dan Mas Rendra ngasih presentasi tentang XL. Mulai dari tarif khusus yang XL berikan buat komunitas, layanan data, sampai Hotrod 3G+.

Habis itu ada Handri Pangestiaji, pendirinya situs pencari usaha jasa www.promoote.com Di situs tadi, kita bisa nyari jasa-jasa seperti laundry, guru les privat, sampai tukang sedot wc berdasar lokasi. Untuk sementara, data situsnya masih di seputaran Jakarta. Handri ini cerita pengalamannya bikin usaha digital dan dapat investor. Dia bilang, memulai usaha di bidang jasa cenderung lebih mudah untuk dilakukan. Karena hal tadi bisa dimulai dari hobi. Trus modalnya juga relatif lebih sedikit daripada dagang. Selain itu, usaha jasa bisa diawali tanpa punya infrastruktur seperti toko atau mobil. Dan, ide buat bikin usaha ini cukup dari peka sama hal-hal yang ada di sekitar kita aja. Dulu, Handri kepikiran bikin promoote gara-gara kesulitan nyari pembantu.

Lalu ada Daeng Ipul dari Makasar. Dia nanti yang akan jadi Ketua Panitia Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makasar. Sebelum presentasi tentang rencananya, Daeng Ipul cerita tentang Kota Makasar sambil ngelihatin foto-foto. Dia, dan blogger-blogger di Makasar pengen nunjukin kalau kota tadi isinya bukan cuma tukang demo dan tawur aja. Berhubung kalau acara Kopdar isinya diskusi berhari-hari di ruangan itu membosankan, bakal ada acara jalan-jalan ke pulau kecil deket makasar oi. Yang pengen ikut, acaranya masih bulan November kok, jadi masih ada 7 bulan buat nabung buat beli tiket.

Mas Suryaden dan Mas Yossy habis itu cerita tentang http://festivaljadul.desamembangun.or.id/

Acara yang diadain nanti tanggal 2 sampai 5 Juni 2012 ini jadi ajang tempat berkumpulnya desa-desa di kawasan Jawa Selatan. Selama ini, daerah tersebut lebih miskin. Infrastruktur dan fasilitas kesehatan juga pendidikan di selatan Jawa cenderung kalah jauh jika dibandingkan dengan daerah Utara. Tapi ternyata, ada desa-desa yang melek IT. Mereka berusaha memakai pengelolaan informasi untuk memajukan desanya. Ada yang pernah dapat penghargaan internasional juga lo. Buat teman-teman yang peduli dengan desa, gabung yuk di festivalnya? Cara paling sederhana buat ambil bagian adalah dengan datang dan cerita tentang acara ini. Mau bantuin saweran buat acaranya juga boleh banget. Di web tadi ada kontak orang-orang yang bisa dihubungi kok.

Sebelum acara berakhir, Mbak Rika dari IBN cerita tentang rencana pengembangan IBN. Dia juga bilang kalau Indonesia itu pasar IT yang besar. Kata Mbak Rika, anggaran iklan untuk dunia digital di Indonesia tu sekitar 1,5 juta dolar. Dan, baru 5% yang terserap. Artinya, masih banyak peluang buat dapat pendapatan dari internet dan kawan-kawannya. Kalau untuk IBN sendiri, setelah tahun lalu dapat tambahan dana dari East Ventures, mereka sempat didatangi 8 ventures internasional lain yang tertarik buat kerjasama.

Ps: Foto-foto ini ngopi punya Mas Suryaden. Saya kemarin nggak sempat ngambil foto