Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Iklan

Buku untuk Teman di Desa Bonto Tapalang

Minggu lalu, saya jalan-jalan ke hutan desa di daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tempat ini keren. Gunung Lompo Batang dan jurang-jurang tertutup pepohonan hijau menjadi pemandangan desa-desa di sana. Di beberapa tempat, laut biru terlihat di kejauhan. Kiri dan kanan jalan penuh dengan kebun-kebun kopi penduduk. Saya suka mengamati rumah-rumah penduduk. Sebagian besar rumah panggung dari kayu.

Rumah panggung sulawesi selatan

Adam, teman saya, mengajak singgah ke Madrasah Aliyah (sekolah Islam setingkat SMA) di Desa Bonto Tapalang. Kami bertemu dengan Ahmad, salah seorang guru di sana. Kata Ahmad, madrasah tersebut baru buka tahun 2011. Seminggu sekali, Ahmad mengajar Sejarah Kebudayaan Islam. Di luar itu, ia dan Eka—istrinya mengajak murid-muridnya berdiskusi di asrama yang letaknya di sebelah rumah mereka. Eka yang masih kuliah di UNM, mengajar Geografi di sekolah yang sama.

Ahmad bercerita kalau ia lulusan S1 pertama di desanya. Awalnya, ia mengambil Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan lulus tahun 2007. Ia sempat mengajar di SD kemudian melanjutkan kuliah di Janeponto. Setelah menikahi putri pemilik yayasan yang menaungi sekolah Islam setingkat SD, SMP, dan SMA, ia mengajar kembali. Selain mengajar, Ahmad bertani. Ia menanam kopi, cengkeh, dan cabai. Ia memilih untuk mengajar di desanya karena guru-guru di sana tidak punya semangat mengajar. Selain itu, mereka hanya mengajarkan apa yang ada di buku teks saja.

Waktu datang ke sana, saya sempat ditodong untuk mengajak murid-murid di sana ngobrol tentang pentingnya buku. Akhirnya saya memilih untuk bercerita. Biasanya, saya membacakan buku, atau bercerita sambil menunjukkan slide berisi foto-foto pendukung cerita. Karena tidak ada persiapan, saya menggambar peta di papan tulis. Ceritanya dimulai dari waktu kecil, saya sering mendengar kalau Indonesia itu negeri yang sangat kaya. Terdiri lebih dari 17.000 ribu pulau dan ratusan bahasa serta suku bangsa. Saya dulu suka menonton film anak 1000 pulau. Juga membaca buku-buku tentang adat istiadat dan keindahan alam Indonesia. Dan bermimpi bisa datang ke tempat-tempat tadi.

Dan hal tersebut terwujud setelah bekerja. Saya mulai bisa melihat tempat-tempat yang awalnya hanya saya dengar ceritanya saja. Mulai dari snorkling di Pulau Weh dan melihat nol kilometer Indonesia. Mengunjungi perkebunan dan hutan di Sumatra. Naik kereta api di kota-kota di Jawa. Mencoba rakit bambu di Kalimantan. Datang ke Lombok hanya karena penasaran dengan cacing yang keluar setahun sekali dan enak dimakan. Terpesona saat bisa datang ke Papua dan bertemu penduduk lokalnya yang warna kulit dan rambutnya berbeda.
Murid-murid di sana mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali mereka bingung karena tidak tahu apa yang saya ceritakan. Bayangkan, murid-murid SMA tadi tidak tahu apa itu terumbu karang. Padahal, tempat tinggal mereka hanya beberapa jam dari Pulau Selayar yang orang dari jauh datang hanya untuk menyelam. Saya juga harus mendeskripsikan apa itu kereta api, karena mereka tidak punya bayangan kalau ada benda besar dari besi yang bisa dinaiki ratusan orang. Saya juga sempat bingung waktu menjelaskan Jogja, tempat asal saya, ada di mana.

Saya agak tidak yakin waktu bilang sebelum bisa pergi ke tempat lain, bacalah buku supaya tahu ada apa di luar sana. Jarang ada orang keluar masuk desa ini. Mertua Ahmad berkata kalau saya orang Jogja pertama yang datang ke sana. Bisa jadi. Kalau tidak kenal teman-teman di LSM Balang, saya juga tidak mungkin sampai sana. Hal itu juga yang menyebabkan di Bonto Tapalang susah untuk mendapatkan buku. Perpustakaan desa tidak jelas kapan buka. Untuk membeli buku, toko buku terdekat ada di Makassar yang jaraknya ratusan kilometer. Sepertinya, orangtua mereka juga enggan membelikan buku di luar buku pelajaran.

Sekolah desa hutanAhmad, istri, dan mertuanya akan membuka perpustakaan di asrama sekolah. Supaya murid-murid di sana bisa membaca buku di luar buku pelajaran. Adam dan teman-temannya di LSM balang, juga sedang membantu mereka mengumpulkan buku. Teman-teman ada yang tertarik membantu? Bisa hubungi Adam di a.kurniawan@balanginstitut.org . Di beberapa desa hutan lain di Indonesia, beberapa teman saya juga sedang membangun perpustakaan. Kalau teman-teman punya buku yang bisa disumbangkan untuk mereka, silahkan hubungi saya. Terimakasih sebelumnya.

Cerita Kopi Ulubelu

Kami hore-hore bisa sampai ke Sekretariat Bersama Kelompok Tani Sumber Rejeki dengan selamat. Untuk sebagian rombongan yang pertama kali ke hutan di PegununganUlu Belu, Tanggamus, Lampung, perjalanan sebelumnya terlalu mengerikan. Kami butuh waktu lebih dari dua jam hanya untuk menempuh perjalanan 9 kilometer. Jalan setapak yang kami kadang hanya berupa parit yang lebarnya kurang dari satu meter. Di boncengan tukang ojek, saya hanya bisa berdoa semoga kaki saya tidak terbentur batu. Atau tidak terjatuh di jurang yang ada di kanan jalan. Gunung, hutan, dan kebun kopi di kiri dan kanan kami sebenarnya indah, tapi saya terlalu panik untuk menikmatinya. Berkali-kali, wartawan dan rombongan tamu memilih untuk turun dari boncengan dan berjalan kaki. Meski para tukang ojek berkata “Percaya saja sama kami” para penumpang kadang masih jalan kaki.

Sesampainya di lokasi, saya langsung membersihkan badan. Tangan dan kaki saya penuh dengan memar dan baret gara-gara terpeleset.  Tiba-tiba saya sangat bersyukur. Bagi saya, perjalanan ini hanya permainan. Beda dengan ratusan petani hutan yang mengelola 499,63 hektar hutan lindung di Pegunungan Ulubelu, Tanggamus. Mereka sehari-harinya harus melalui jalan tersebut (bahkan lebih jauh lagi) untuk mencari nafkah.

Pak Amin, ketua kelompok Sumber Rejeki membuka dengan ucapan selamat datang. Ia kemudian bercerita tentang Gapoktan Sumber Rejeki yang berdiri tahun 1999. Tahun 2007, kelompok tani  yang beranggota 365 orang ini mendapat ijin pengelolaan selama 35 tahun yang bisa diperpanjang.

Sebelum ada ijin, anggota kelompok mengelola hutan dengan asal-asalan. Mereka enggan menginvestasikan waktu dan uangnya karena tidak yakin bisa memperoleh hasilnya. Sebelum mendapat ijin pengelolaan sementara tahun 2000, para petani hutan tersebut harus kucing-kucingan dengan aparatur negara. Mereka kerapkali diusir dengan kekerasan. Di sisi lain, hutan tidak terawat dan banyak ditumbuhi alang-alang yang mudah terbakar.

Semenjak ada program HKm, kesejahteraan petani hutan meningkat. Satu hektar lahan kira-kira bisa menghasilkan antara satu hingga satu setengah ton kopi. Komoditas yang dipanen antara bulan Maret hingga Agustus tersebut dijual dengan harga 16.000 hingga 23.000 per kilogram. “Salah satu pertanda kami sejahtera itu terlihat dari kemampuan para petani menyekolahkan anak. Dulu, sebelum ada ijin, kami ragu menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Jangan-jangan nanti tanaman yang kita urus tahun depan sudah tidak bisa dipanen. Bagaimana kalau anak terlanjur sekolah, apa bisa bayar biayanya? Sekarang, banyak yang menyekolahkan anak sampai kuliah. Beda dengan dulu yang mau beli beras saja kesulitan,” tutur seorang petani hutan yang menemui kami.

Di tengah-tengah petani yang bercerita peningkatan pendapatan setelah mereka mengelola hutan, seorang peserta dari Kesatuan Pengelola Hutan Lindung “protes”. Menurutnya, petani salah karena menjadikan hutan lindung sebagai perkebunan kopi. Ia berpendapat petani harus ikut aturan dimana dalam satu hektar lahan harus ada 400 batang tanaman kayu. Sepertinya ada yang aneh! Setahu saya, tugas KPHL itu merencanakan hingga menjalankan pengelolaan hutan. Bukankah seharusnya mereka melakukan susuatu supaya kondisi hutan membaik? Pernah petugas yang protes tadi membantu para petani yang buta hukum dan mungkin miskin akses informasi? Petani-petani tadi taunya cuma menanam dan memanen pohon kopi untuk bayar sekolah dan makan tiap hari. Kalau nggak dikasih contoh (juga bibit), jangan berharap banyak deh.

Kalau mengutip kata Irfan Bachtiar, konsultan kehutanan,  fungsi hutan lindung itu sebagai penyangga tata air dan kesuburan tanah. Selama kopi atau tanaman lain yang ada masih bisa mengikat air, itu tidak jadi masalah. Menurut Swari Utami Dewi, kopi jauh lebih baik daripada hutan dijadikan kebun kelapa sawit. Lalu, pemberian hak kelola hutan pada masyarakat itu mengurangi konflik atas tanah.

Ok, tanaman monokultur memang tidak baik untuk kesuburan tanah. Kalau mengikuti pasal 33, pemerintah (di sini Departemen Kehutanan) wajib membantu petani-petani bagaimana cara mengelola lahan dengan baik. Termasuk didalamnya memberikan bantuan bibit tanaman keras.
Saya lebih salut dengan upaya pihak swasta mitra para petani HKm Sumber Rejeki. Salah satunya PT Ulubelu Cofco Abadi. Perusahaan exportir kopi milik pasangan suami istri Rinaldi Hartono dan Elmira Tjahja. Sehari setelah melihat Pegunungan Ulu Belu, saya mampir ke warung kopi mereka. Saya bertemu dengan Bu Elmira yang menceritakan awal mula usaha mereka. Tahun 2009, mereka yang tadinya tinggal di Amerika pulang untuk mengurus orangtuanya. Mereka kemudian mulai berbisnis kopi pada tahun 2010.

Keduanya merupakan keturunan pedagang kopi dari Talang Padang. Bedanya, kakek nenek keduanya sekadar pengumpul kopi yang kemudian menjualnya. Sejak keduanya memutuskan untuk serius di bidang perkopian, mereka berusaha untuk mendapat sertifikat 4C (Common Code for Coffee Community) supaya kopinya diakui secara internasional. Untuk itu, kopi mereka harus mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan dan ekonomi dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran kopi-nya. Salah satu alasan mereka tertarik berbisnis kopi adalah rasa miris karena kopi Lampung yang robusta tidak dianggap di percaturan kopi internasional yang memuja kopi jenis arabika. Selain itu, kopi Indonesia dianggap bermutu buruk. Karenanya harga kopi dari Indonesia lebih rendah dari kopi dari negara lain. Dan lebih menyedihkan lagi, perdagangan kopi di Lampung dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.

Suami-istri ini menerapkan prinsip kewirausahaan sosial dalam berbisnis. Untuk mengajarkan kepada petani cara menanam kopi yang baik, mereka bermitra dengan Universitas Lampung. Perusahaan ini mulai tahun 2012 mulai melakukan penanaman kayu keras seperti medang, suriah, cempaka, mimbri, durian, mangga, pala, hingga pete di hutan yang dikelola petani mitranya. Mereka percaya jika pola penanaman monokultur ke depannya akan merusak kualitas dan kuantitas kopi.

Baru tahun lalu perusahaan Ulu Belu mengemas kopi untuk dijual dalam bentuk bubuk. Sebelum mengemas produk tersebut, mereka mencari cara supaya kopi bisa tahan lama tanpa memasukkan pengawet kimia ke dalamnya.  Saya sempat bertanya, perdagangan kopi yang mereka lakukan butuh investasi waktu dan uang bertahun-tahun. Bisa dibilang, mereka awalnya tidak tahu bagaimana bisnis ini akan berlanjut. Saya suka dengan jawaban, ibu Elmira, si pemiliknya ” Kalau kita ingin berbuat baik, sejahat-jahatnya orang masih ada Tuhan yang jaga.”

Waktu Bu Elmira bercerita tentang produknya yang hanya berisi kopi murni tanpa bahan kimia atau gula, saya jadi ingat pertanyan teman yang berasal dari Australia beberapa tahun lalu. Ia heran kenapa Indonesia yang negara penghasil kopi nomer empat dunia, penduduknya mengkonsumsi kopi instan. Begini saudara-saudara, kopi adalah komoditas mahal. Kopi-kopi dengan mutu bagus tidak beredar luas di pasaran karena mahal. Kebanyakan kopi lokal sudah dicampur dengan jagung, beras, atau, mentega. Belum lagi perusahaan lokal tidak memiliki distribusi dan modal yang bagus.

Oh iya, ini video yang saya ambil waktu ke Pegunungan Ulu Belu untuk gambaran seperti apa medannya.

Dongeng Tentang Hutan Indonesia

Di web Greenpeace Indonesia, saya membaca tulisan lama tentang Indonesia yang pernah tercatat sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di Guinness World Records. Tahun 2000 hingga 2005, laju deforestasi Indonesia berkisar pada angka 1,8 juta hektar/ tahun. Angka tadi menyebabkan banyak hutan alam musnah. Setengah dari sisanya masih terancam keberadaannya antara lain oleh penebangan komersil, kebakaran hutan, dan pembukaan hutan untuk kebun kelapa sawit.

Saya jadi teringat waktu ke Flores dengan rute dari Maumere ke Labuhan Bajo. Sebelumnya, saya pernah beranggapan seluruh Flores kering kerontang. Ternyata saya salah! Kami melewati gunung-gunung hijau. Bahkan, teman saya yang aktivis lingkungan di Austaria berkali-kali takjub dan bilang tempat ini keren.

Kota Bajawa di Flores

Kota Bajawa di Flores

Sayangnya, di daerah Manggarai, hutan cantik tadi berlubang-lubang akibat tambang. Karena ingin tahu kondisi masyarakat di sekitar tambang, saya mengikuti Pater lokal ke desa untuk sosialisasi tolak tambang. Kami berangkat malam-malam ke pertemuan warga. Di sana, Pater sempat berdebat dengan beberapa warga. Salah satunya, seorang bapak yang barusan pulang merantau. Dia bilang, desanya nggak maju-maju dan penduduknya semiskin saat dia pergi merantau. Menurutnya, kalau ada tambang mangan, orang-orang akan dapat pekerjaan. Perusahaan juga akan membangun jalan untuk penduduk desa.

Flores, Manggarai

Gereja desa di Manggarai

Saya sempat gondok banget. Enak aja dia bikin seolah-olah perusahan tambang itu pahlawan. Beberapa penduduk desa, termasuk tetua yang mabuk termakan ucapannya. Saya lalu cerita tentang liburan saya ke Bangka beberapa waktu sebelumnya. Di sana, dua teman saya membuat film dokumenter tentang tambang. Ada banyak lubang-lubang besar bekas tambang di mana-mana. Apakah penduduk lokal bisa kaya dari tambang? Tidak. Yang diuntungkan dari tambang cuma pemilik modal. Penduduk lokal memang mendapat upah dan pekerjaan. Tapi resikonya tinggi. Banyak yang meninggal kerena kecelakaan. Setelah timah di suatu tempat habis ditambang, si pemilik modal pergi. Mana mau mereka mengeluarkan uang untuk mengembalikan lubang-lubang tadi.

Pagi harinya, Pater Simon mengisi kebaktian minggu di Gereja dekat calon tambang. Pater yang berceramah tentang bahaya tambang menyuruh saya bergabung. Saya sempat bengong waktu Pater meminta saya maju ke mimbar. Saya tidak menyangka bakal ditodong “memberi pencerahan” 😀 Selain ini kali pertama saya ke gereja, saya nggak pede karena belum mandi. Di depan mimbar, saya bingung dilihatin sekitar 70an orang asing. Akhirnya saya bilang kira-kira seperti ini: “Hai, saya Lutfi, dari Jogja. Kemarin, dalam perjalanan kemari saya lewat hutan-hutan. Hutan tadi cantik, beda banget dengan hutan-hutan di Jawa. Di tempat kami, sebagian besar hutan isinya tanaman sejenis. Banyak yang gundul malah. Sayang saja kalau hutan tadi harus ditebangi karena mau ditambang. Buat nanam pohon sampai besar saja butuh puluhan tahun. Apalagi sampai nanti jadi ekosistem lengkap dengan hewan didalamnya. Saya tidak tahu berapa uang yang dibutuhkan untuk mengembalikan hutan ini seperti semula.”

Selamatkan Harimau

Ya, saat hutan rusak, ada binatang yang terancam punah. Greenpeace memilih harimau sumatra sebagai maskot protect paradise karena sekarang jumlahnya tinggal 400an ekor. Bisa jadi, kalau hutan rusak, mereka akan menyusul harimau jawa yang punah duluan. Waktu ke Aceh, saya dan beberapa teman sedih melihat sisa hutan dibakar. Sayang banget, padahal hutan tadi sepertinya dulu keren. Selama di Aceh, kami lewat banyak hutan lain yang masih bagus. Kami sering mampir ke hutan untuk menghirup udara segar atau iseng bermain. Semoga saja tidak menyusul hutan yang dibakar tadi. Kata penduduk sekitar, hutan yang dibakar tadi akan diubah menjadi perkebunan sawit. Dulu, saat hutannya masih bagus, katanya sering ada harimau lewat di jalan setapak tengah hutan. Entah sekarang mereka ada di mana.

Hutan rusak di Aceh Barat

Cerita tadi hanya segelintir dari dongeng sedih hutan. Ada jauh lebih banyak cerita lain yang infonya hanya diketahui di lingkup kecil. Data Departemen Kehutanan tahun 2012 menyebutkan jika 136.173.847,98 hektar lahan (60%) dari luas Indonesia adalah hutan negara. Dari keseluruhan lahan yang berada di bawah Dephut tersebut, 33.915.418 hektar ijin pengelolaannya dikuasai oleh 535 perusahaan. Wilayah tersebut rawan kasus kejahatan kehutanan di sana. Lalu, bagaimana cara kita ikut ambil bagian dalam menghentikan kerusakan hutan? Sesuatu yang mungkin menurut kita nun jauh di sana. Ada banyak cara kok. Salah satunya dengan menyampaikan berita tentang hutan. Saat suatu isu dibicarakan banyak orang, para pengambil kebijakan akan lebih berhati-hati untuk memutuskan sesuatu. Karena mereka merasa diawasi. Kita juga bisa mulai mencari daftar produk yang dihasilkan dari perusakan hutan. Jika ada banyak orang mengurangi pemakaian produk tadi, produsennya pasti akan berusaha lebih ramah bumi.

Suatu Akhir Pekan di Mandalamekar

Sabtu 2 Juni lalu, sekitar jam setengah sepuluh malam, saya dan rombongan memulai permainan mencari jejak menuju Desa Mandalamekar. Berhubung sopir kami cuma ngerti Kota Tasikmalaya, kami sempat kebingungan baca ancer-ancer dari Pak Yana, Kepala Desa Mandalamekar. Awalnya kami sempat terharu waktu beberapa orang di Kota Tasik bilang kalau butuh waktu sekitar tiga jam buat sampai ke desa tadi. Ya ampun, kami kan dah jalan sejak jam 9 pagi dari Jogja.
Kami sempat nggak yakin waktu dibilang belok kanan di perempatan Jamupu. Soalnya jalannya kecil, berbatu-batu, dan nanjak. Sopir kami tiba-tiba jadi serius, karena jalan yang kami lewati tu naik turun dan jelek banget. Berasa kaya di luar jawa deh. Dan, kami baru sampai desanya setelah jam satu lebih. Di sana, ada panggung yang masih ramai acara dangdutan dangdut.

Saya berangkat bareng teman kantor Javlec, Mas Exwan dan Mas Panji. Juga Pak Widodo dan Bayu dari Masyarakat Peduli media. Rencananya, kami mo gabung di Festival Jadul. Saya penasaran banget sama festival tadi sejak sebulan yang lalu. Gara-garanya Mas Jalu, Mas Yossy, dan Mas Suryaden yang jadi SC acara tadi cerita kalau mereka mo ngajakin ratusan perangkat desa dari seluruh Jawa buat ketemuan di desa pegunungan yang sinyalnya susah.

Sebagian besar peserta datang dari desa-desa yang gabung di Gerakan Desa Membangun. Kebanyakan, desa tadi pada punya web yang dikelola bareng-bareng penduduk desa. Isinya mulai dari kegiatan yang ada di desa, profil warga, sampai kehidupan sehari-hari warga pedesaan. Saya pernah buka beberapa web, dan banyak yang dalam seminggu punya beberapa tulisan. Meski beberapa web tata bahasanya kacau, saya salut. Nggak banyak masyarakat di daerah pedesaan yang terbatas aksesnya ke internet, makai teknologi informasi.

Berhubung saya dah kebanyakan bolos, jadilah saya membujuk-bujuk temen-temen di kantor supaya Javlec ikut ambil bagian di acara tadi. Supaya kalau pergi ke sana dianggap sebagai tugas 😀

Hari Minggu, kami berangkat rada telat ke Balai desa. Di panggung dah ada beberapa kepala desa cerita tentang Gerakan Desa Membangun. Habis itu ada sesi temanya Kebijakan TIK Perdesaan. Di sana, Mas Yossy cerita tentang pembuatan sofware-software lokal supaya orang-orang nggak perlu beli software dari luar. Trus ada ajakan juga supaya banyak belajar dan ngajak orang lain pakai teknologi informasi. Masih di sesi tadi ada Pak Boni dari Kominfo dan Banyumurti dari relawan TIK cerita tentang seputaran penggunaan internet.

Di hari kedua ada 7 Workshop kelas. Materinya macem-macem. Isinya seputaran melek teknologi informasi, media alternatif, juga pengelolaan sumber daya alam untuk meningkatkan perekonomian desa. Berhubung Javlec ikutan bagi cerita tentang pengelolaan Hutan Jawa yang dilakukan mitra-mitranya, saya ikutan ndengerin waktu mas Exwan presentasi. Yang gabung di kelas tadi kebanyakan masyarakat yang hidup di seputaran hutan. Sebagian besar pendengarnya serius banget. Bentar-bentar omongan Mas Exwan dicatet. Di sesi tanya jawab, banyak yang curhat tentang mereka yang tinggal di deket hutan negara tapi cuma punya akses terbatas ke hutan.


Malemnya, ada talkshow tentang pentingnya masyarakat bisa mengakses informasi seputaran pemerintahan lokal. Di samping panggung, ada tenda-tenda tempat peserta bisa pamer produk atau kegiatan lembaganya. Standnya buruh migran rame dengan orang-orang yang beli tempe mendoan khas Banyumas. Saya ikutan ngantre gara-gara Bayu cerita kalau di timeline Jadulfest ada yang ngetwit tempe mendoannya enak. Saya baru tahu kalau mendoan itu diambil dari kata “mendo” yang artinya setengah matang. Tadinya, setahu saya mendoan itu tempe yang digoreng pakai tepung.

Senin pagi, sebelum acara saya jalan-jalan dulu keliling desa. Tempatnya sejuk karena banyak pohon. Trus di belakang rumah-rumah penduduk banyak sawah-sawah. Katanya sih penduduk di sana mulai balik lagi ke pertanian organik. Trus, banyak rumah-rumah penduduk yang punya kolam ikan.

Rada siangan, di Balai Desa ada diskusi nasional tentang pengelolaan dan sumber daya desa. Pembicaranya banyak. Yang saya inget sih Bu Avi dari Kemitraan, beberapa kepala desa, dan Bupati Wonosobo. Budiman Sujadmiko yang ikutan jadi pembicara jadi kaya artis. Banyak yang ngedeketin beliau buat foto bareng.

Hari terakhir, pas Hari Lingkungan Hidup, ada acara penanaman pohon sambil jalan-jalan di Hutan Karangsoak yang masih jadi bagian dari Desa Mandala Mekar. Berhubung saya naik kereta jam 10, saya nggak sempat ikut. Kayaknya saya masih pengen main ke desa ini lagi. Tapi nanti kalo pas bisa libur agak panjang. Penasaran pengen lihat hutan sama nyusur gua-gua di sana. Trus sekalian mampir ke Kampung Naga dan trekking di Gunung Galunggung.

Suatu Hari berkunjung ke Hutan berbatu di Gunungkidul

Beberapa bulan ini, saya bakal sering jalan-jalan di hutan-hutan di Pulau Jawa. Kali ini bukan untuk main, tapi buat kerjaan. Ceritanya, saya sedang nyusun buku tentang pengelolaan hutan oleh masyarakat di Jawa.

Hutan pertama yang saya datangi ada di daerah Ngepohsari, Semanu, Gunungkidul. Berhubung waktu itu sedang ada pelatihan di sana, jadilah saya pergi bersama beberapa teman sekantor. Berhubung waktu itu lagi kehabisan ide muter lagu apa, entah kenapa tiba-tiba kami muter DVDnya Cherrybelle.

Dan, perjalanan diisi dengan ngedengerin info nggak penting banget. Mulai dari bagaimana Cherrybelle terbentuk, apa saja hobi personilnya, trus bagaimana sifat-sifat mereka. Hallooo, kayaknya bumi nggak bakal berhenti deh kalau saya nggak tahu kalau mereka terbentuk tanggal 27 Februari 2011 (tuh kan, mpe apal info nggak banget ini).

Sebenarnya, saya pernah beberapa kali datang ke hutan negara ini. Kalau pas lagi ke sana, kadang disuguhi makanan aneh-aneh. Kaya belalang goreng. Enak sih, cuma dulu pas pertama makan rasanya aneh. Gimana gitu, nelen mahluk yang bentuknya kaya topengnya ksatria baja hitam melotot.

Dulu sih waktu pertama kali lihat lokasi hutannya, saya takjub. Kok ada sih orang yang mau-maunya nanami tanah yang permukaannya batu doang? Apalagi tanah di sana jenisnya lempung yang engga subur. Apa hasilnya sebanding dengan capenya?

Waktu ngobrol-ngobrol dengan petani hutan di sana, cerita mereka seragam. Mereka mau nanami hutan tadi karena nggak punya (mungkin lebih tepat dibilang nggak tahu) alternatif cari nafkah lain.

Dulunya, lahan yang sekarang tertutup oleh pohon jati itu hamparan baru beralang-alang. Petani-petani di sana butuh waktu sekitar dua tahun supaya batu-batu tadi tersusun jadi teras-teras dan ada tanah untuk ditanami. Waktu enam bulan diolah, sebenarnya lahan tadi dah bisa ditanami, cuma hasilnya belum maksimal.

Jadi inget cerita Mbak yang kerja di rumah. Dulu, saya pernah tanya ke Mbak kenapa begitu lulus SMP (malah ada juga yang lulus SD) lalu pada kerja di luar kota. Kebanyakan karena mereka engga punya ketrampilan, biasanya kerja jadi pembantu rumah tangga atau di pabrik. Mereka bilang, kerja di luar, meskipun banyak yang jam kerjanya capek dan digaji rendah, masih lebih mending daripada bertani. Yang tiap hari kepanasan dan harus nyangkul berat. Pantesan, saya sering ketemu orang yang seumuran dengan saya tapi kelihatan jauh lebih tua. Habis, bebannya berat gitu.

Trus kalau tetep tinggal di desa, banyak yang nggak kuat jadi omongan tetangga, karena kelihatan kayak luntang-luntung banget. Dan, tiap kali ada tetangga punya hajat, mereka harus nyumbang. Pendapatan mereka yang engga seberapa dari bertani, habis tiap kali tetangganya nikah, meninggal, atau sunatan. Nggak jarang ada yang sampai ngutang-ngutang segala. Soalnya kalau nggak nyumbang, beritanya bakal nyebar sedesa!

Tiap kali ketemu cerita kaya gini, saya selalu ngerasa beruntung. Saya bisa milih kerjaan apa yang ingin saya lakukan. Engga kaya mereka yang selalu ngerasa: ya, ini memang sudah takdirku. Orangtuaku hidup seperti ini jadi besok paling kerjaanku juga nggak jauh-jauh dari mereka.

Ok, balik ke cerita petani di Ngepohsari. Mereka mau nanami hutan negara karena tanah miliknya terlalu sempit untuk ditanami tanaman pangan. Trus mereka ngerjain tanah di hutan negara dengan sistem yang namanya Hutan kemasyarakatan. Di sini petani dapat hak buat mengelola lahan hutan. Mereka nanemi hutan negara dengan tanaman kayu (kebanyakan jati) dan boleh memanfaatkan sela-sela tanaman jati untuk tanaman palawija. Trus nanti kalau tanaman jatinya dipanen, petani boleh dapat bagian 25%.

Sayangnya, meski petani-petani Hkm sudah punya ijin pengelolaan, mereka masih kesulitan melakukan penjarangan. Jadi ceritanya begini, pohon-pohon jati ini kalau bertambah besar, perlu dikurangi jumlahnya. Supaya nanti pertumbuhannya bisa maksimal. Biasanya yang ditebang pohon yang jelek kayunya. Petani-petani tadi masih harus ngajuin IUPHHK (Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu). Yang rada ribet dokumennya. Bulan Maret 2010, mereka pernah ngajuin ijin ini, tapi ditolak karena kurang dokumen SVLK. Tahun ini, petani di Ngepohsari ngajuin lagi, dan mpe kemarin saya ke sana, belum ada jawaban.