Mengatur Uang untuk Masa Depan

Nenek dan cucunya, MalukuSejak kuliah, saya tidak tertarik memilih pekerjaan dengan alasan ada gaji bulanan dan pensiun. Bagi saya, pekerjaan itu seharusnya tempat untuk belajar dan berkenalan dengan banyak orang. Pekerjaan yang baik itu memberi manfaat untuk orang lain dan bumi yang saya tinggali. Saya bukan tipe yang mau menjual waktu hanya untuk membayar tagihan. Beda dengan orangtua dan kerabat saya. Yang selalu memaksa saya menjadi PNS karena pekerjaan tersebut “aman”.

Menurut saya, pensiun bisa dicari dengan cara lain. Saya tahu bahwa saya tidak mungkin bekerja selamanya. Kelak, ada masa dimana saya bisa menghabiskan masa tua tanpa bekerja. Dengan cukup uang untuk membayar tagihan dan jalan-jalan. Dahulu, saya menyasati hal tersebut dengan menyisihkan sepertiga pendapatan untuk ditabung. Hingga lama-lama saya sadar, uang yang saya tabungkan lima tahun lalu, nilainya tidak sebesar dulu. Katakanlah, waktu itu dengan uang satu juta rupiah, saya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya masih bisa belanja baju, sesekali pergi ke bioskop, dan makan malam di restoran. Sekarang, dengan uang yang sama, saya harus mengurangi beberapa kesenangan. Bagaimana lima tahun nanti? Tabungan saya sekarang bisakah dipakai untuk membayar biaya hidup dengan layak saat saya tua nanti?

Tanjung Aan Lombok

Saya baru sadar kalau tabungan per tahun memberi bunga di bawah 4 %. Sedangkan angka inflasi yang saya lihat di http://www.bi.go.id seringkali diatas 5% Itu artinya, uang yang saya sisihkan sejak lima tahun lalu, jauh berkurang nilainya saat saya memutuskan untuk pensiun 30 tahun lagi. Saya tidak mau saat menjadi nenek nanti merepotkan anak dan cucu saya. Saya juga tidak mau nanti terpaksa harus bekerja karena tidak menyiapkan dari sekarang.

Saya kemudian memisahkan uang saya. Yang ditabung itu untuk keperluan sehari-hari. Untuk nanti jangka menengah yang akan saya pakai kurang dari 5 tahun atau saat keperluan mendadak, saya simpan dalam bentuk deposito yang tidak kena pinalti saat dicairkan. Tapi, saya belum punya bayangan cara menyimpan uang dalam jangka pajang.

Saya bertanya ke beberapa teman cara apa yang mereka lakukan untuk menjamin masa tuanya. Banyak yang belum memikirkan hal tersebut. Beberapa santai karena mereka PNS atau bekerja untuk perusahaan yang memberikan pensiun. Saat kemudian mencari info mengenai asuransi melalui google, saya menemukan web Allianz. Saya memilih membaca info asuransi dari perusahaan tadi karena mereka merupakan salah satu perusahaan asuransi dengan kinerja positif. Dengan dukungan lebih dari 1,200 karyawan dan melayani lebih dari 4 juta tertanggung di Indonesia, Allianz layak dimasukkan ke daftar pertimbangan jika nanti saya memutuskan berasuransi.

Membaca produk-produknya, membuat saya berpikir tentang hidup yang tidak bisa diduga. Bagaimana nanti kalau saya punya anak dan meninggal sebelum ia dewasa? Siapa yang akan menanggung biaya hidupnya? Saya jadi teringat seorang teman. Beberapa tahun lalu, suaminya meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Ia sempat shock. Sebelum hilang sedihnya atas kematian suaminya, ia harus membayar cicilan rumah. Padahal, teman saya sudah bertahun-tahun tidak bekerja. Bagaimana kalau hal tersebut terjadi pada saya?

Saya juga semakin berpikir mengenai pentingnya asuransi yang bisa menanggung biaya saat berobat ke rumah sakit. Semua orang pasti berharap selalu sehat. Tapi kadang, ada kejadian yang tidak diharapkan. Seperti ipar sepupu saya. Beberapa bulan lalu, ia jatuh dari motor. Padahal, ia hanya pergi ke warung untuk membelikan susu keponakannya. Ia harus menjalani operasi karena tangan kanannya retak. Keluarganya harus menguras tabungan untuk biaya rumah sakit yang mencapai lebih dari 20 juta rupiah. Angka yang cukup besar. Andai saja ia bisa mengklaimkan biaya tersebut ke perusahaan asuransi. Di sisi lain, perusahaan asuransi juga mendapat keuntungan jika memiliki banyak nasabah. Mereka bisa memutarkan uang tersebut untuk mendapat laba.

Sepertinya, saya harus datang ke kantor perusahaan asuransi terdekat untuk mendapat info lebih detail tentang asuransi apa saja yang saya butuhkan. Lebih cepat lebih baik, karena saya tidak tahu apa yang menimpa diri saya nanti. Lebih baik berjaga-jaga sebelum hal buruk terjadi.

Iklan

Tentang Para Pegiat Literasi

Beberapa waktu lalu saya mendapat undangan Rembug Budaya Baca dari Direktorat Jenderal PAUDNI, Kemendikbud. Saya girang saat pertama kali melihat daftar pesertanya. Ada pegiat literasi dari Aceh sampai Papua terdaftar di sana. Beberapa nama saya kenal baik dan tahu kegiatannya. Ada pula yang pernah saya lihat atau baca profilnya di media massa.

Di acara tersebut, saya banyak berkenalan dan ngobrol dengan teman baru dari daerah lain. Saya berkali-kali terharu mendengar cerita-cerita mereka. Banyak kisah seputar suka duka mengajak lingkungannya menyukai buku. Tapi, ada satu benang merah yang saya temui. Mereka memulainya dari jatuh cinta pada buku (beberapa juga menulis). Kemudian ingin supaya orang lain juga mengalami hal serupa.

Membaca Buku

Yang saya salut dari rekan-rekan ini, mereka memulainya dari niat ingin berbagi. Bukan karena ada program atau ingin mendapat uang. Mereka meyakini perbuatan baik akan mengundang banyak jalan atau pertolongan. Bisa jadi, perbuatan baik itu kelak mendatangkan teman dan rejeki.
Mbak Evi, pengelola Taman Bacaan Melati, pernah berkali-kali mengalami hal tersebut. Salah satunya dahulu sewaktu sanggar bacanya harus memperpanjang kontrakan. Waktu itu, mereka sedang tidak memiliki dana yang cukup untuk membayar sewa rumah di kawasan Jakarta Selatan. Tiba-tiba sebuah program televisi datang untuk melakukan syuting di lokasi tadi. Mereka memberikan sejumlah uang setelahnya. Dana tersebut akhirnya mereka gunakan untuk membayar uang sewa.

Rejeki juga tidak harus selalu berupa uang. Saya jadi teringat cerita Imhe, seorang pegiat literasi dari Makassar. Ia editor di sebuah koran yang mendapat tugas mengisi rubrik literasi. Ia sempat kebingungan karena harus mencari banyak tulisan tiap hari. Awalnya, hanya ada 5 orang penulis di Makassar yang mau membantunya untuk mengisi halaman tersebut. Lama kelamaan, peminat rubrik literasi meningkat. Mereka kemudian mengadakan berbagai kegiatan off air berkaitan dengan literasi. Workshop atau diskusi dengan berbagai tema ini lokasinya berpindah-pindah. Kebanyakan di kampus dan dengan mahasiswa sebagai relawan. Imhe dengan bangga bercerita bahwa mereka hanya cukup mengeluarkan uang sekitar satu juta rupiah untuk sebuah acara. Banyak orang yang menawarkan diri menjadi panitia tanpa dibayar.Tahun lalu, mereka menerbitkan sebuah buku kumpulan tulisan terpilih dari rubrik literasi. Dana penerbitan buku didapat dari menyisihkan honor pengisi rubrik tersebut.
Lalu ada Bapak Sergius Womsiwor dari SMP SMA Satu Atap Wasur. Ia mengelola sebuah sekolah berasrama. Saat ini, ada 800 orang anak bersekolah dan tinggal di sekolah yang letaknya di dalam Taman Nasional Wasur. Bapak itu dengan bangga menunjukkan rekaman tayangan televisi yang meliput dirinya. Intinya, lakukan sesuatu. Jika kamu bisa konsisten, orang akan tahu dan memberikan penghargaan.
Saya akhirnya juga bisa bertemu Ibu Kiswanti. Bu Kis awalnya tertarik membuka perpustakaan saat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Filipina. Ia kemudian membeli sepeda dan meminjamkan buku sembari berjualan jamu keliling. Lama-lama, koleksi bukunya bertambah. Setelah banyak media massa meliput tentang kegiatannya, seorang pengusaha kaya tertarik merekrutnya untuk bekerja di sebuah lembaga. Rekan lain yang datang di acara tersebut bercerita, dulu ia mengenal Bu Kis sejak masih tinggal di rumah gubuk hingga sekarang bisa membangun rumah layak huni dengan perpustakaan berisi ribuan buku.

Ada juga Pak Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di Salatiga. Sayang, saya belum sempat ngobrol banyak dengan beliau. Semoga suatu hari nanti saya punya waktu dan kesempatan untuk berkunjung ke lokasi mereka. Sepertinya akan ada lebih banyak cerita menarik yang bisa saya tulis atau buat film. Supaya orang-orang di tempat lain mengikuti jejak mereka. Selama ini saya percaya kegiatan membaca bisa menutup kekurangan dunia pendidikan. Bukankah lebih baik melakukan sesuatu daripada mengutuki sistem?

Harga Sebuah Karya

Seorang teman, sebut saja Entus, bercerita kalau menerima tawaran untuk mengerjakan sebuah program TV. Entus sempat menolak mengerjakan tontonan tersebut karena anggarannya terlalu kecil. Ia akhirnya mengambil program tadi karena timnya sedang membutuhkan uang.
Saya jadi teringat saat membaca majalah milik sebuah perusahaan beberapa waktu lalu. Majalah yang dikelola seorang penulis senior di sebuah komunitas tadi tampilannya jelek. Warna dan foto yang dipakai seperti asal pasang. Sebagian besar artikelnya berantakan. Banyak salah ketik dan tulisannya tidak menarik. Terlalu fatal mengingat penanggung jawabnya bukan penulis kemarin sore.

Saya kemudian bertanya, apakah pembuatan terbitan tersebut mepet waktunya? Si penulis dengan santainya menjawab jika perusahaan pemesan majalah tidak menghargai seni. Mereka membayar rendah satu paket mulai dari penulisan, editing, hingga desain majalah. Saya, langsung tidak menaruh hormat pada penulis tadi. Menurut saya, saat mengatakan iya untuk sebuah pekerjaan artinya tidak ada lagi alasan untuk mengerjakan dengan separuh hati. Kata iya artinya saya tidak lagi memikirkan berapa banyak saya dibayar. Bagaimanapun juga, nama saya akan tercantum di karya tadi. Bukankah pekerjaan yang bagus bisa saya pakai untuk mencari klien baru?

Saya dan penulis tadi kemudian ngobrol tentang hal lain. Ia menawarkan jasanya jika suatu saat nanti saya membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan komunitas buku. Saya hanya tersenyum dan berkata sedang tidak punya rencana.  Padahal, kalaupun ada, saya tidak tertarik mempekerjakan orang yang hanya semata-mata bekerja untuk uang. Saya tidak yakin hasil kerjanya akan bagus.

Di lain waktu, seorang teman bercerita kalau ia gagal psikotes di sebuah perusahaan media. Saya heran, setahu saya, ia baru satu bulan bekerja di tempat sekarang. Terlalu cepat untuk melamar kerja di tempat lain. Menurut Anggi, tempat kerjanya sekarang menyenangkan. Sayang gajinya terlalu kecil. Saya kemudian bertanya, mungkin tidak untuk menego gaji? Anggi bilang, kemungkinan tersebut ada setelah program yang ia tangani sekarang selesai.

Kami kemudian ngobrol tentang bekerja sebaik mungkin sebagai bukti kalau kita menyukuri apa yang kita punya. Bukankah saat kita senang bekerja, sesuatu akan terasa lebih ringan? Bukankah karya yang bagus pasti akan menarik perhatian orang? Kalau sudah saatnya, tawaran akan datang sendiri kok. Bukankah suatu pekerjaan yang baik akan membawa kita naik kelas? Yang artinya, ada orang yang mau membayar lebih mahal.

Antara Hadiah, Suap, dan Ucapan Terimakasih

“Tidak, terimakasih. Saya sedang bekerja. Saya sudah digaji,” tutur Yamada, seorang staf Kedutaan Jepang saat teman saya memberikan batik. Ia berkali-kali mengucapkan terimakasih atas perhatian teman saya. Dan tetap tidak mau menerima hadiah tersebut meski teman saya berkata itu hanya sekadar cindera mata. Menurut teman saya, suatu hal yang wajar memberikan kenang-kenangan saat mengakhiri sebuah kerjasama. Hal tersebut bukan suap karena ia memberi hadiah setelah kerjasamanya berakhir. Bukan dalam bentuk uang atau barang berharga.

Saya salut dengan Yamada yang tegas menolak pemberian dalam bentuk apapun. Teman saya bercerita, sebelumnya Yamada pernah datang meninjau bantuan. Saat itu, teman saya mengundang makan. Bukankah di Indonesia saat kita kedatangan tamu dan menjamu adalah hal wajar? Tapi Yamada menolak, dia berkata dia mendapat biaya perjalanan dan menawarkan untuk membayari teman saya makan.

Keren ya? Berani menolak hadiah? Kalau saya pribadi, saya masih menerima hadiah selama itu masih wajar dan diberikan setelah kerjasama berakhir. Beda cerita kalau ada iming-iming di muka. Dulu, saya pernah mencetak kop surat untuk sebuah lembaga. Saya pergi ke sebuah percetakan yang sebelumnya pernah menawarkan kerjasama. Pemilik percetakan tadi tahu kalo lembaga tersebut akan mencetak publikasi lain dan saya yang mengerjakannya. Sewaktu membayar, pemilik percetakan tersebut berkata ada diskon yang tidak ia tulis di nota. Diskon tersebut untuk saya sebagai pembawa order. Ia juga berpesan supaya saya menggunakan jasanya saat mencetak untuk lembaga lain. Suatu ketika, saya butuh percetakan. Saat ada beberapa yang memberikan penawaran harga, saya langsung mencoret percetakan tadi dari daftar. Kalau cara dia mendapatkan sesuatu saja tidak jujur, saya tidak yakin jika nanti kami bekerjasama dia tidak memberikan barang dengan mutu lebih rendah.

Saya sering mendengar cerita tentang kewajiban memberi ucapan terimakasih saat mengerjakan proyek. Ada saja orang-orang yang meminta uang lelah padahal ia sama sekali tidak terlibat mengerjakan proyek tersebut. Kadang ada yang bercerita si pemberi pekerjaan mematok harus ada sekian persen dana yang diberikan ke kas pribadinya. Ada juga tidak menyebut angka tapi secara halus berkata pemberi proyek sudah melebihkan anggaran sehingga ada angka yang bisa untuk mereka. Saya sering heran mendengar alasan seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya. Katanya, gajinya terlalu kecil dan tidak cukup untuk gaya hidupnya (catat: bukan kebutuhan). Saya cuma diam, sebenarnya saya ingin bertanya: kalau memang gajinya kecil kenapa tidak mencari pekerjaan lain? Ada banyak orang yang mau menggantikan dirimu kok. Dan memang apa sih yang sudah kamu lakukan sehingga meminta dibayar besar? Kenapa tidak mencari hal lain untuk menambah pemasukan?

Cara Mudah Mencari Uang

Beberapa hari lalu, saya dan seorang teman sedang sarapan di kawasan Pasar Minggu. Seorang pengamen berbaju rapi datang dan mulai menyanyikan Use Somebody milik Kings of Leon. Tidak seperti pengamen lain yang sebelumnya bergantian singgah, ia benar-benar menyanyi untuk orang-orang yang sarapan di warung tenda.

Selesai satu lagu, mas-mas yang umurnya sekitar awal dua puluh tahun ini kemudian menyanyikan lagu Januari milik Glenn. Beberapa pengunjung mengulurkan uang ribuan ke dalam topinya. Termasuk saya dan teman saya. Selama kami makan, ada beberapa pengamen lewat, tapi kami hanya memberikan uang ke pengamen ini. Kami menikmati nyanyiannya dan ia layak untuk dibayar. Sepertinya, beberapa pengunjung lain juga berpikiran sama. Uang yang mereka berikan lebih banyak daripada recehan yang mereka berikan ke pengamen-pengamen sebelumnya.
Sebelumnya, ada dua orang waria mengamen. Mereka tidak benar-benar menyanyi. Hanya sesekali mulutnya menirukan lagu yang mereka putar dari tape sambil menari. Beberapa pengunjung memberikan uang sekadarnya. Sepertinya pengunjung terganggu dan ingin mereka cepat-cepat pergi.

Masih di Pasar Minggu, kami melihat seorang ibu membawa balita penderita hidrocephalus (penyakit yang menyebabkan kepala membesar akibat berisi cairan). Bayi kurus tersebut diletakkan di pinggir jalan. Banyak pejalan kaki yang menaruh rasa iba dan menaruh uang di samping bayi tersebut. Saya hanya bisa menatap ibu tadi sambil mengutuk. Tega sekali dia memanfaatkan penyakit seorang anak untuk meminta-minta. Saya bukan ahli kesehatan, tapi setidaknya seorang anak yang sakit seharusnya beristirahat di tempat yang nyaman. Bukan berjemur di luar ruangan dan penuh orang lalu-lalang lewat.

Pulang dari Pasar Minggu, saya menghubungi seorang teman yang bekerja di dinas sosial. Mungkin, kantornya mengambil tindakan pada ibu tadi. Kata teman saya, si ibu tadi memang sengaja menggunakan anaknya untuk mengemis. Dalam sehari, ia bisa mendapat uang lebih dari satu juta rupiah. Jumlah yang belum tentu ia dapat jika bekerja dengan jujur. Sayang, dinas sosial Jogja tidak bisa berbuat banyak karena ibu tadi warga Klaten.

Saya kemudian membandingkan ketiga orang tadi. Terlepas dari berapa banyak uang yang mereka hasilkan, saya lebih menyukai gaya si pengamen. Ia mendapat uang karena orang-orang merasa terhibur dengan perbuatannya. Si waria, mungkin ia mengamen karena tidak banyak pilihan pekerjaan untuknya. Sedikit orang yang mau mempekerjakan waria. Sedang si ibu, bisa jadi dalam sehari penghasilannya paling banyak. Tapi sampai kapan ia akan menipu orang-orang? Apakah memanfaatkan belas kasihan untuk mendapat uang itu hal yang baik untuk dilakukan?

Konon katanya, pada dasarnya manusia adalah mahluk yang serakah. Dia akan mencari pembenaran untuk memperoleh sebanyak mungkin keuntungan. Seperti kejadian yang saya temui kemarin. Ayah saya lupa memperpanjang sebuah surat. Seorang oknum berseragam yang mengetahui hal ini berusaha mencari kesempatan. Ia berkata ayah harus ke pengadilan. Saat melihat agama yang tercantum di tanda pengenal ayah, ia mengatakan akan membantu sesama muslim. Dengan syarat, ayah membayar sejumlah uang. Oknum tadi secara tersirat menyatakan kalau ayah pergi ke pengadilan, jumlah yang dibayar lebih banyak juga menghabiskan waktu.

Saya memintanya menunjukkan aturan yang menunjukkan kesalahan ayah saya. Oknum berseragam tadi memperlihatkan sebuah pasal di buku undang-undang. Saya merasa aneh karena pasal tersebut hanya menyatakan denda yang harus dibayar jika tidak memiliki surat. Sedangkan ayah saya hanya terlambat memperpanjang suratnya.
Saya menelfon seorang teman yang lebih tahu tentang hukum. Kata teman, oknum tadi hanya berusaha meminta uang. Teman saya menambahkan, surat yang terlambat diperpanjang urusannya dengan lembaga lain. Oknum berseragam tadi hanya bisa menindak seseorang yang tidak memiliki surat tersebut.

Saya mulai kesal karena oknum tadi mulai membawa-bawa nama Tuhan. Bapak tadi sadar nggak sih kalau digaji dengan uang pajak? Bukannya kalau dia punya agama seharusnya tidak berusaha memeras masyarakat? Saya menyatakan lebih baik ke pengadilan saja. Jelas uangnya dibayar ke negara. Saya tidak keberatan mengurusnya. Oknum tadi mulai marah dan mengancam untuk menyita mobil ayah. Saya tidak terima kemudian memoto oknum tadi. Saya bilang, saya tidak tahu hukum dan saya perlu bertanya ke orang yang paham. Saya mulai merekam dan mengatakan saya butuh bukti untuk ditunjukkan ke orang lain. Kalau memang benar ayah saya salah, apakah prosedurnya seperti yang ia lakukan. Oknum tadi mulai marah-marah. Mengatakan saya kurang ajar karena mengambil gambarnya tanpa ijin. Akhirnya ia melepaskan ayah saya tanpa berhasil mendapat uang sepeserpun.

Sekeping uang ratusan

Bulan Ramadhan lalu, ada seorang pengemis datang ke toko. Usianya mungkin sekitar empat puluhan tahun. Teman saya memberi sekeping uang seratus rupiah. Pengemis tadi tidak langsung pergi. Ia menunjuk sebotol minuman ringan dan sebatang rokok. Ia kemudian mengeluarkan recehan-recehan lain untuk membayar belanjaannya.

Pengemis tadi berlalu sambil menyedot minumannya. Saya langsung teringat sebuat cerita bahwa kefakiran dekat dengan kekufuran. Bapak tadi masih kuat untuk bekerja dan juga berpuasa, tetapi ia tidak melakukan keduannya. Bisa jadi, ia tidak berpuasa karena ia bukan seorang muslim. Tapi, ia tidak bekerja karena ia tidak bersyukur diberi tubuh yang sehat. Ia lebih memilih untuk menukar harga dirinya dengan recehan.

Ini bukan sepenuhnya salah si pengemis. Pare pemberi recehan juga ikut menyuburkan jumlah peminta-minta ini. Coba hitung, apabila seorang pengemis bisa mendapatkan dua ratus rumah yang memberinya sekeping uang ratusan, ditambah seratus orang di bis umum, dan seratus orang lagi di pinggir jalan atau di perempatan jalan. Jumlah uang yang ia dapat sama dengan lima ratus dikali seratus atau lima puluh ribu rupiah dalam sehari. Yang berarti, satu juta lima ratus ribu rupiah dalam sebulan.

Mungkin tidak setiap hari penghasilannya sebesar itu. tapi pendapatan seorang pengemis bisa mencapai satu juta rupiah setiap bulannya. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah ‘pekerjaan’ tanpa modal. Bukankah si pengemis ini tidak perlu bersekolah untuk mendapatkan ijazah yang dipakai untuk mencari kerja? Ia juga tidak perlu uang untuk membuka usaha. Sedangkan penghasilan yang ia dapat dalam sebulan melebihi pekerjaan tanpa keahlian lain jika dibandingkan dengan pembantu rumah tangga, buruh bangunan, atau kuli-kuli di pasar. Jadi jangan heran, kalau kita sering mendengar berita tentang anak-anak yang diculik untuk dijadikan pengemis.

Saya paling malas memberi uang recehan pada seorang pengemis, apalagi jika ia masih terlihat sehat. Saya lebih suka memberikan uang ke kotak amal yang dikelola badan yang jelas atau panti asuhan yang memang benar-benar ada. Teman saya sering protes. Katanya, ia memberi karena memeng niat bersedekah dan kebetulan ada uang. Jika si peminta-minta tadi tidak layak menerima, itu bukan salah pemberi. Saya balik protes, menurut saya memberi uang recehan langsung sangat tidak mendidik. Seorang pengemis akan merasa mendapat uang dengan mudah sehingga ia juga dengan mudah menghabiskannya. Pengemis tadi akan menggunakan uang pemberian kita untuk berfoya-foya.

Saya jadi teringat seorang anak jalanan yang pernah saya kenal. Ia dan kawan-kawannya tidak pernah berfikir untuk menabung. Apabila mendapat uang, sering uang itu akan habis pada hari yang sama. Tidak jarang uang tadi dipakai untuk membeli cat rambut, paku untuk menghiasi bajunya, rokok, dan lem atau minuman keras untuk mabuk. Saya sering berfikir, apakah mereka tidak ingin menabung untuk membuka suatu usaha?

Teman saya yang mendukung pemberian uang receh pada pengemis, berkata bahwa sedekah bisa dilakukan kapan saja. Tidak perlu menunggu-nunggu. Jadi, kalau ada sisa uang di kantong, berikan saja pada pengemis di pinggir jalan. Jika ditunda-tunda kita akan sering ingin menyumbang tapi selalu merasa uang tidak cukup. Saya jadi kaget. Saya teringat kalau selama ini jarang bersedekah. Saya sering menunggu memiliki uang cukup untuk disumbangkan. Sayangnya, saya kadang lupa untuk bersedekah. Atau kadang teringat, tetapi saya lebih memilih untuk menundannya. Kadang saya masih berfikir bahwa pendapatan saya yang tidak tentu apakah cukup untuk menutup pengeluaran saya selama sebulan?

Saya ingin bersedekah. Sedekah yang tidak memberatkan saya, tapi juga tidak membuat malas penerimanya. Kemudian, saya membuat celengan sedekah. Apabila saya berbelanja, dan ada kotak infak, atau sholat di masjid, saya berusaha untuk mengisinya. Meskipun dengan sekeping uang ratusan. Saya juga mengumpulkan recehan-recehan sisa belanja di rumah untuk nantinya disumbangkan. Kebiasaan ini ada bagusnya juga untuk diri saya. Saya jadi lebih berhati-hati dalam membeli barang. Saya akan mengurangi membeli barang karena merknya dan barang yang masuk dalam kategori ingin bukan butuh. Sisa belanja tadi bisa saya sedekahkan.

Saya harap, saya tidak sendirian. Muslim yang lain juga menyisihkan sedikit rejekinya dan mengisi kotak-kotak amal, bukan memberikannya langsung kepada pengemis. Bukankah sedikit dikali banyak orang akan menjadi banyak pula? Semoga, badan-badan amal mampu mengelola uang tadi dan menyalurkannya kepada yang berhak. Si penerima uang tidak sekedar menerima tetapi juga diberi kesadaran untuk mengelola uangnya sehingga ia mandiri. Tidak selamannya mengantungkan diri dari pemberian orang.