Negeri Dangdut Indonesia

Akhir-akhir ini saya mulai teracuni oleh lagu-lagu dangdut koplo. Ceritanya, tiap kali pergi beramai-ramai dengan teman kantor ke Gunungkidul, mobil penuh dengan lagu seperti Oplosan, Di Reject, Pokoke Goyang, sampai Capek Deh. Saya yang pilih-pilih lagu, biasanya menolak mendengarkan lagu cengeng. Saya percaya perilaku seseorang dibentuk oleh apa yang ia lihat, baca, dan dengar sehari-hari. Nah, berhubung lagu dangdut koplo itu kebanyakan cengeng dan hobi mengasihani diri sendiri, saya tidak pernah menaruh satu pun di playlist saya.

Berhubung tiap minggu lebih dari dua jam saya berulang-ulang lagu yang itu-itu saja, lama kelamaan saya mulai hafal liriknya. Kata bos saya sih, lirik tadi cerminan masyarakat kelas bawah. Hal-hal seperti diduakan, kesepian karena si suami atau istri harus mencari nafkah di luar kota kemudian diselingkuhi, merupakan hal-hal yang lumrah terjadi. Pendengarnya merasa lagu-lagu seperti tadi merupakan cerminan hidupnya.

Ya, di desa-desa Pulau Jawa cerita tadi jamak terjadi. Karena desa tidak memberikan banyak lapangan pekerjaan, penduduk usia kerja harus bekerja di kota-kota terdekat. Tapi kenapa sebagian besar liriknya mengasihani diri sendiri? Kenapa tidak menceritakan betapa seseorang bekerja keras demi keluarga atau karena ia ingin anaknya punya hidup yang lebih baik? Atau, mengasihani diri sendiri mungkin mental sebagian besar masyarakat Indonesia?

Dangdut koploSaya pernah sekali menonton pertunjukan dangdut. Itu pun tidak sengaja. Awalnya, saya dan sepupu saya berniat berenang di sebuah mata air. Kami tidak tahu kalau di sana sedang ada pertunjukkan dangdut. Berhubung kami sudah terlanjur menempuh perjalanan lebih dari 3 jam kami cuek saja berenang di tengah ratusan orang yang sedang bergoyang. Beberapa sambil minum. Di panggung, ada beberapa orang penyanyi bergantian menyanyi. Dandanannya 11-12. Baju sangat ketat dan minim dengan warna norak dan make-up tebal. Kata bos saya lagi, untuk masyarakat kelas bawah, datang ke pertunjukan merupakan obat untuk beban hidupnya. Setidaknya, sejenak mereka lupa kalau punya hutang atau entah besok makan apa.

Setelah menjadi pengamat lirik lagu, saya tertarik dengan lirik “Oplosan”. Dibanding yang lain isinya mendidik. Tentang anjuran untuk berhenti membuang uang untuk mengonsumsi minuman keras. Bukannya kalau ingin menyampaikan sesuatu harus menggunakan cara yang menghibur supaya bisa diterima masyakakat? Sepertinya saya harus mulai mengenali selera masyarakat. Dan saya mulai dengan mulai menikmati lagu dangdut. Baiklah, besok waktu karokean, lagu Roar- Katy Pery akan berubah menjadi di rejectnya Jenita Janet.

Iklan

Infotainment yang tidak menghibur apalagi memberi pengetahuan

Seorang teman di kantor tiba-tiba iseng menyetel TV. Kami yang sedang bosan akhirnya ikut-ikutan menonton. Lebih dari setengah jam, kami menghabiskan waktu untuk melihat acara nggak penting: berita keretakan rumah tangga Farat Abbas. Di layar kaca, sama sekali tidak ada pernyataan dari Farhat atau pun istrinya kalau pernikahan mereka bermasalah. Si pembuat berita seenaknya menafsirkan hal tersebut dari Farhat yang tidak datang ke acara pernikahan putrinya. Aneh bukan? Menyimpulkan sesuatu tanpa ada sumber. Lalu, berkali-kali si pembawa acara menggunakan kata “mungkin”. Setahu saya, itu tidak bisa dikategorikan sebuah berita.

Saya lebih heran lagi karena di Indonesia, acara sejenis itu disebut infotainment. Sepenangkapan saya, info itu artinya sesuatu yang penting atau membuat cerdas. Si A ribut dengan si B, perselingkuhan si C, koleksi tas D, liburan si E, bagian mana yang membuat penontonnya pintar ya? Penting? Tanpa tahu itu pun hidup saya masih baik-baik saja. Lalu kata entertainment. Itu lebih aneh lagi, mendapat hiburan dari kabar perceraian. Yang sakit itu yang meliput atau yang menonton ya?

Sepertinya, hampir tiap hari, stasiun-stasiun TV nasional menayangkan hal tersebut. Karena mengejar rating? Saya lupa siapa yang pernah berkata kalau stasiun TV malas berpikir jika selera pasar bisa dibentuk. Bukankah penonton TV menyukai infotainment karena mereka disuguhi hal tersebut berkali-kali. Seorang kenalan mengiyakan kalimat tadi. Setelah menikah, ia keluar dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Di rumah, dia hanya punya dua teman: wajan dan remote TV. Tidak ada pilihan lain (mungkin lebih tepatnya tidak ada ide lain) untuk membunuh waktu sambil menunggu suaminya pulang. Bisa jadi, hal yang sama terjadi di penonton-penonton acara nggak jelas tadi. Hanya karena stasiun TV menyuguhkan. Bukankah sesuatu yang dilakukan berkali-kali akan menciptakan kebiasaan?

Beberapa hari lalu, seorang teman membuka percakapan dengan berita jika Cristine Junsung bercerai lagi. Dengan berapi-api dia berkomentar tentang pernikahan Cristine yang baru berumur beberapa bulan. Ia juga berkomentar mengenai suami Cristine yang umurnya jauh lebih tua. Saya cuma bisa bengong. Teman saya bercerita seolah-olah dia mengenal Cristine! Padahal, bertemu saja belum pernah. Dan sepertinya cerita yang sama bisa kita temui dengan mudah di seluruh Indonesia. Saya cuma berpikir, kalau kita tiap hari sibuk menghabiskan waktu dengan hal tidak penting, kita lupa ada banyak hal penting yang seharusnya kerjakan. Saya percaya, sikap seseorang ditentukan oleh apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Kalau tiap hari diberi tontonan sampah seperti itu, bagaimana Indonesia bisa jadi bangsa yang cerdas?

Cantik vs sandal hak tinggi

Konon katanya, perempuan lebih dituntut untuk menjadi cantik. Kadang, mereka kemudian suka menyakiti dirinya untuk disebut cantik. Salah satunya saat memilih alas kaki. Untuk saya pribadi, hal pertama yang saya pertimbangkan saat membeli alas kaki adalah kenyamanan saat dipakai. Tak heran jika seluruh sandal dan sepatu saya berhak rata. Tapi saya pernah sekali terpaksa membeli sepatu berhak tinggi karena “diharuskan tampil cantik” tadi. Ceritanya begini, waktu itu saya mendapat undangan untuk hadir di sebuah acara resmi yang diadakan oleh sebuah stasiun televisi. Penyelenggara mengatakan mereka menyiapkan kebaya, aksesoris, dan perias wajah. Mereka juga berpesan supaya saya memakai sepatu hak tinggi dengan warna netral.

Saya sempat kaget waktu mendengar kata: “Wajib memakai sepatu hak tinggi”. Aduh nggak kebayang deh jalan dengan sepatu yang nggak nyaman ini. Seumur hidup, saya baru satu kali memakai sepatu hak tinggi. Itu pun sudah lima tahun sebelumnya pada pesta pernikahan salah seorang sepupu saya.

Awalnya saya sempat protes dan membayangankan kalau kaki saya akan lecet. Juga tidak nyaman karena tidak bisa dipakai lari-lari. Karena saya tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, saya mencoba memakainya sebelum acara untuk pergi makan malam. Saya tidak mau nanti mempermalukan diriku dengan terjatuh. Selama acara makan malam tadi, saya tersiksa karena memakai sandal milik adik yang tinggi haknya 7 senti! Sangat tidak menyenangkan karena saya harus berjalan pelan-pelan. Kaki saya juga pegal karena harus berjinjit! Sepanjang makan malam, saya mengutuk mahluk kejam yang menciptakan benda tadi.

Menurut saya, memakai sepatu hak tinggi itu konyol. Untuk apa sih rela menyakiti diri sendiri? Setahu saya, manusia awalnya menciptakan sepatu untuk melindungi kakinya. Karena manusia punya telapak kaki yang datar, seharusnya kakinya juga dilindungi oleh sepatu datar. Bukan sepatu hak tinggi yang lekuknya tidak sesuai dengan tulang kaki. Lama-kelamaan, pemakaian sepatu hak tinggi akan menyebabkan sakit punggung dan tulang kaki bengkok.

Seminggu sebelum acara dimulai, saya sakit. Kaki saya bengkak dan dokter tidak mengijinkan saya memakai sepatu hak tinggi. Masalah belum selesai karena tiga hari sebelum acara, saya baru teringat kalau tidak memiliki sandal “resmi” bisa dipakai ke sebuah pesta. Saya pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli sandal. Ternyata….  90% sandal pesta yang ada di pusat perbelanjaan tersebut punya hak! Karena tidak menemukan barang yang saya cari, saya pergi ke toko sepatu lain. Malangnya, di toko sepatu lain juga sama. Sandal-sandal pesta yang ada juga berhak minimal lima senti. Saya keluar masuk lebih dari enam toko hingga akhirnya menemukan sebuah sandal pesta yang meskipun ada haknya, masih cukup nyaman untuk dipakai.

Yang lebih menyebalkan lagi, harga rata-rata sandal tadi diatas 200 ribu! Menurut saya, sayang sekali kalau harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sandal sekali pakai. Itu baru satu sepatu. Tiba-tiba saya teringat ada banyak perempuan yang ingin dibilang modis memiliki berbuah-buah sepatu. Mereka selalu menyesuaikan sepatunya dengan warna dan model bajunya. Kenapa? Karena mereka terbiasa dijejali jika perempuan terlihat lebih cantik dengan sepatu hak tinggi. Majalah dan televisi yang mereka konsumsi tiap hari juga menyarankan jika masing-masing bentuk sepatu itu hanya pantas jika dipadukan dengan jenis baju tertentu. Jadi, seorang perempuan harus memiliki berjenis-jenis sepatu. Tanpa mereka sadar kalau mereka hanya menguntungkan produsen sepatu.

Pada waktu acara di stasiun TV tadi, lagi-lagi saya mengalami hal yang tidak menyenangkan. Harus memakai make-up. Bayangkan, tiga jam sebelum acara dimulai, saya harus duduk manis di depan kaca. Saya terpaksa pasrah saat seorang penata rias mencoret-coret muka saya. Entah apa saja yang ia sapukan di wajah. Yang pasti sebelum memakai bedak, ia mengoleskan beberapa lapis cairan berwarna coklat dan kuning. Kelopak mata saya juga berkali-kali disapu dengan beberapa warna. Selain itu si penata rias ini juga menggariskan pensil alis di mata. Rasanya perih sekali. Ia juga menambahkan cairan lengket maskara yang membuat mata berat. Saya cuma bisa menolak saat perias ini menawarkan untuk memakai bulu mata palsu.

Yang paling menyebalkan. Semua pria yang ada di tempat tersebut tidak ada yang memakai make-up. Hanya perempuan yang diharuskan memakai make-up. Konon katanya, make-up ini membuat seorang perempuan terlihat lebih cantik. Nggak adil kan? Kenapa hanya perempuan yang harus terlihat cantik? Bukankah itu membuat dia seperti barang?

Kenapa itu menjadi hal yang sepertinya harus? Selama ini saya tidak pernah memakai make-up. Saya merasa hidup saya baik-baik saja tanpa make-up. Saya selalu beranggapan bahwa saya tidak perlu mengikuti para model atau artis supaya dipuji cantik. Saya sudah merasa sudah cantik tanpa harus menutupi wajah dengan barang kimia yang entah apa saja penyusunnya (Sombong itu perlu daripada minder :P). Siapa tahu produsen kosmetik tadi memasukkan hal aneh yang bisa merusak kulit saya kelak.

Ps: foto diambil dari butikmewah.com

Agnes Monika, Manusia Indonesia, dan Negro Amerika

Beberapa waktu lalu, saya membaca berita di sebuah surat kabar online tentang rencana kepergian Agnes Monika ke Amerika. Di bawah berita tersebut muncul berbagai tanggapan. Kebanyakan isinya menghujat tentang perilaku Agnes yang selalu membangga-banggakan Amerika.

Agnes bukan satu-satunya pemuja Barat, banyak selebriti dan kaum kaya di Indonesia yang dengan bangga bercerita kalau mereka liburan di luar negeri atau memakai produk buatan luar negri. Lucunya, “bule” minded ini juga dialami oleh orang-orang terdidik Indonesia. Sering sekali kita dengar atau baca seorang profesor atau ahli apa mengagung-agungkan teori dari luar (padahal belum tentu teori itu cocok diterapkan di Indonesia).

Mungkinkah karena Indonesia terlalu lama dijajah oleh bangsa kulit putih sehingga kita beranggapan semua produk dari Bule-bule ini lebih hebat?

Saya jadi teringat biografi Malcom X yang pernah saya baca. Pada tahun 40 an, orang-orang kulit hitam dianggap lebih rendah dari orang kulit putih. Orang-orang kulit putih terbiasa memperlakukan orang kulit hitam seperti budak. Negro Amerika pun merasa mereka lebih hina dari kulit putih dan berusaha untuk meniru orang kulit putih. Mereka terobsesi bahwa dengan kulit yang lebih terang bisa mengangkat status mereka. Para negro kemudian melakukan berbagai cara supaya mirip kulit putih. Seperti meluruskan dan mengubah warna rambut mereka. Malcom X berpendapat hal itu sangat konyol, apapun yang mereka lakukan, seorang negro tetaplah negro. Berusaha meniru kulit putih hanya menghilangkan identitas mereka.

Bukankah hal yang sama terjadi di Indonesia? Terutama di kalangan menengah ke atas. Banyak orang Indonesia yang membeli barang buatan luar negri hanya untuk gengsi. Bayangkan, di negara yang 27,1% penduduknya miskin masih banyak orang berlomba-lomba untuk membeli barang yang menurut mereka mahal demi status. Kapan kita bisa maju?

Untuk Anda yang merasa sebagai orang Indonesia. Saya minta banggalah pada negara Anda. Ya, mungkin banyak hal di Indonesia yang masih minus, tapi anda lahir, besar, dan mencari nafkah di Indonesia kan? Daripada anda menghujat negeri sendiri dan memuja negri orang lain, lebih baik, lakukan sesuatu untuk merubah Indonesia. Hal ini bisa dimulai dari cara sederhana seperti memakai barang buatan Indonesia.

 

Salam dan semoga hari ini indah,