Suatu Hari di Kopdar Blogger Nusantara 2012

Sekitar jam satu tengah malam, pesawat yang saya naiki sampai di Bandara Hasannudin, Makasar. Saya terharu waktu ada tiga panitia Kopdar Blogger Nusantara nungguin. Baik banget, jam segitu masih mau ngejemput. Ternyata, saya bukan satu-satunya yang dateng di jam engga enak. Kami masih nungguin satu blogger lagi dari Bekasi. Namanya Indah Juli yang akhirnya jadi teman sekamar saya.

Tadinya, saya mikir kalo penginapan dan lokasi kopdarnya tu jadi satu. Niatnya sih mo gantiin bobo sampe siang trus datang nelat. Ternyata, lokasinya di tempat lain. Berhubung nggak nyatet alamat dan males nyasar, saya ngikut bus ke TKP.

Sampai di lokasi acara, para blogger pada heboh rame-rame. Bukannya rebutan buat dapet tempat duduk yang strategis, mereka lebih sibuk foto-foto di backdrop yang ada di belakang. Acara lalu dibuka sama tari-tarian khas Sulawesi Selatan. Musiknya yang keras cukup bikin batal ngantuk.

Sesi pertama, ada blogpreneurship dan cerita tentang Blood4life. Waktu itu, penonton masih pada duduk manis di kursinya. Semakin siang, peserta mulai mundur dan nyebar ke boot pameran yang ada di belakang. Abis, kalo cuma dengar orang ceramah, kita kan nggak usah jauh-jauh terbang ke Makasar.

Kita malah pada bergerombol dan kenalan sama blogger-blogger dari daerah lain. Yeah, itu kan yang seharusnya disebut kopdar. Selain reunian sama blogger lain yang dulu datang di BN 2011 atau acara lain, saya kenalan dengan banyak teman baru. Dari Ende ada Tuteh yang rame dan Fauzia yang kalau ada orang cerita pasti ditimpali sampai Z. Ada juga Abang Agus Lahinta yang saya penasaran banget kerjaannya apa karena dia sangat rapiii sekaliiii… Lalu ada Om Bisot yang sok mengenal dan dikenal semua blogger 😀 Saya lupa minta tanda-tangan.

Saya juga ketemu sama orang-orang yang selama ini cuma tahu namanya di dunia maya. Mulai Lelaki Bugis yang hobi menggalau. Almascatie seleb blogger yang tadinya saya pikir cewek (terbalik dengan Anaz-kia yang ternyata cewek). Juga ada Hendri dari Solo yang dicintai semua orang karena menyenangkan buat dibully. Pokoknya kalau disebut satu-satu nggak cukup deh posting sepuluh halaman.
Nyenengin pokoknya ketemu sama banyak orang. Tuker-tukeran cerita tentang kegiatan, dan moga aja sih ntar bisa ada yang tukeran program. Beberapa blogger yang saya temui ternyata punya kegiatan yang nggak jauh-jauh dari nyumbang buku, bikin perpus, atau ngajakin anak-anak kecil membaca. Kayaknya banyak yang ngerasa kalau ada banyak hal yang nggak beres di Indonesia. Dan salah satu cara memperbaikinya adalah ngasih akses pengetahuan ke sebanyak mungkin orang.

Pas acara malem, baru mulai kerasa yang namanya kopdar. Ada acara kenal-kenalan antar komunitas. Serunya lagi, acaranya sambil makan masakan khas Makasar yang yummy. Ada songkolo yang isinya ketan itam dengan lauk ikan teri dan parutan kelapa. Juga pallu basa yang isinya nasi santan mirip kaya lontong yang dimakan dengan daging sapi dan kuah.

Hari kedua kita berangkat ke pantai Akarena ramai-ramai. Di sana, main-mainan kaya jaman kita kecil dulu. Mulai dari gobak sodor, enggrang, boliblol sampai lompat tali. Ternyata di daerah lain juga pada punya mainan tadi. Namanya aja yang beda.

Aslinya sih asyik. Tapi panasnya itu loooo… Nggak nguatin. Setelah capek, laper, dan keringetan, kita pada nongkrong di warung. Saya sempat ngicipin pisang epe. Itu pisang bakar dipenyet yang dikasih saus karamel ada rasa durennya.

Habis itu bus lanjut ke Fort Rotterdam. Kayaknya dari semua rombongan cuma saya deh yang menyempatkan diri masuk museum I La Galigo. Yang lainnya pada jauh cinta sama jendela dan pintunya. Beberapa malah sempat-sempatnya bikin foto dengan gaya ala gaya pre wed. Sebelum pulang ke penginapan, sebagian jalan ke jalan Somba Opu buat beli oleh-oleh. Sisanya, yang ga kuat panas pada terkapar di selasar benteng yang adem.

Kemping oii…

Awalnya, kami bertiga membayangkan akan kemping di pantai berpasir putih yang sepi pengunjung. Sepertinya menyenangkan, seharian tidur-tiduran sambil membaca buku di pinggir pantai. Kalau cuaca cerah, mungkin kami bisa melihat matahari terbit atau tenggelam yang cantik. Setelah bertanya-tanya pada beberapa teman, kami memilih Pantai Wediombo di Gunungkidul.

Pantai Wediombo di pagi hari

Kami berangkat dari Kota Solo sekitar jam 12 siang. Karena berpikir akan menghabiskan banyak waktu kalau menggunakan kereta, kami memilih naik bus. Entah kenapa, bus yang kami naiki sebentar-sebentar berhenti. Angkutan tadi juga berputar-putar di jalan tikus hingga kami baru sampai Jogja sekitar jam 3 sore. Setelah mampir di supermarket untuk belanja bahan makanan, kami naik bus dari Jalan Wonosari.

Sepertinya, kernet bus berpikir kami turis dari jauh saat melihat tenda dan ransel-ransel kami. Ia meminta masing-masing dari kami membayar sepuluh ribu rupiah. Kernet tadi sempat marah saat saya dan teman saya protes karena penumpang lain tidak membayar segitu.

Bus sampai di Terminal Wonosari sekitar pukul lima lebih. Sudah tidak ada lagi bus lain yang menuju Jepitu. Begitu turun dari bus, beberapa sopir angkot sewaan dan tukang ojek mengerumuni kami. Sopir-sopir tersebut memaksa mengantar kami dengan ongkos dua ratus ribu sampai pantai. Ada satu yang gayanya mirip preman mengutit kami sambil menurunkan harga sewa. Nggak ramah banget pokoknya.

Kami hampir memutuskan untuk mencari penginapan dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum besok pagi. Untung saja ada teman yang ibunya tinggal tak jauh dari sana menawarkan sopir untuk mengantar. Saat tahu kami ada yang mengantar, sopir angkot yang ngotot mengantar kami tadi berteriak kesal. Saat menunggu diantar, beberapa tukang ojek bertanya darimana asal kami. Mereka tidak percaya saat saya berkata saya orang Jogja. Setelah saya menggunakan Bahasa Kromo Alus, seorang tukang ojek ngotot berkata bahwa dua orang teman saya pasti orang Vietnam atau Filipina.

Ternyata, Pantai Wediombo tidak sesepi yang kami bayangkankan. Ada banyak rombongan kemping di sana. Kami lupa kalau tiap malam tahun baru, gunung dan pantai pasti penuh dengan rombongan kemping. Pantai juga ramai dengan warung penjual makanan. Ya ampun, tahu begitu kami tidak perlu membawa air minum berat-berat dari kota. Kami memilih untuk menggelar tenda di sebuah warung yang tidak dipakai berjualan untuk menghindari air pasang.

Sebelum makan malam, kami berjalan-jalan di pantai sambil menyalakan kembang api. Saat kembali ke tenda untuk tidur, datang serombongan orang lagi. Mereka membuat api unggun sambil menyanyi di dekat tenda kami. Kami tidak terlalu memedulikan mereka karena ngantuk.

Pagi harinya, pantai ramai oleh rombongan mahasiswa. Batal deh mandi pagi di laut. Kami kemudian memilih untuk sarapan. Tiba-tiba, pemilik warung datang. Kami terburu-buru makan lalu cepat-cepat membereskan tenda dan peralatan masak.

Kami memasang tenda dan menggelar matras di bawah pohon mahoni besar. Mulai pukul sepuluh, ada banyak rombongan dan keluarga datang. Kami bertiga terlihat seperti orang aneh yang kemping ditengah-tengah sekitar 300an orang. Rombongan lain sudah memberesi tendanya dan pulang.

Setelah jam 12 siang, air mulai pasang. Lagi-lagi kami memindahkan tenda. Sore harinya, pasang semakin tinggi dan kami memindahkan tenda lagi.

Pantai mulai sepi setelah pukul lima. Rombongan kami bertambah menjadi sembilan orang saat Jhon dan kawan-kawannya bergabung. Kami beramai-ramai menggelar matras di pinggir pantai sambil membuat api unggun.

Pagi harinya, pantai terlihat lebih menyenangkan karena hanya ada beberapa orang di sana. Senangnya bisa menyusuri pantai yang bersih dari ujung ke ujung tanpa memakai alas kaki. Kami bersembilan kemudian ramai-ramai sarapan dengan menu mie dan kepiting buruan tadi malam.

Setelah kenyang, kami bermain ombak. Seru, karena ombak di pantai ini kencang sekali. Beberapa orang bahkan mencoba surfing menggunakan matras. Permainan berganti menjadi lomba menangkap trangia saat peralatan masak yang hendak dicuci Manying terbawa ombak. Puas bermain air, kami bermain pasir.

Makan rame-rame. Ada yang pakai sumpit, sendok pinjaman, botol minum, dan ranting pohon.

Sekitar pukul sepuluh, pantai mulai ramai. Ada banyak rombongan bus dari luar kota datang dan kami memutuskan untuk pulang.