Toba Dreams, cerita tentang keluarga dan hasrat untuk kaya

Toba Dreams, cerita tentang keluarga dan hasrat untuk kaya

Film ini satu dari sedikit film yang tidak saya protes begitu keluar dari bioskop. Saya suka cara Benny Setiawan menyutradarai dan menulis skenarionya. Toba Dreams bercerita tentang Sersan Tebe (Mathias Muchus) yang mengakhiri jabatannya di Angkatan darat. Setelah pensiun, ia harus keluar dari rumah dinas. Karena pendapatannya tidak lagi cukup untuk bertahan di Jakarta, ia mengajak ketiga anaknya pulang ke Toba.

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

Keinginan tersebut ditentang oleh Ronggur (Vino G Bastian), anak pertamanya. Ia enggan tinggal di kampung. Selain itu, kekasihnya tinggal di Jakarta. Setelah melalui perdebatan panjang, keluarga ini tetap pindah ke Toba. Anak-anak Tebe kesulitan beradaptasi dengan fasilitas yang kurang. Konflik timbul karena Ronggur marah dan mencari-cari masalah. Sampai suatu hari, ia mabuk dan membuat ayahnya murka. Ronggur kemudian kabur dan memutuskan kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, kekasihnya ternyata sudah memiliki pria lain. Rongur kemudian tinggal di rumah Tomi, temannya. Keluarga Tomi harus menanggung malu karena sang ayah korupsi. Sambil mencari pekerjaan, ia menjadi supir taksi. Hingga akhirnya, ia terjebak menjadi pengantar narkoba. Ronggur kemudian menjadi kaya raya dan hendak menunjukkan kepada sang ayah jika ia sukses.

Saya menikmati menonton film ini karena alurnya menarik. Pada awal film, penonton kerap tertawa oleh adegan-adegan lucu dan percakapan yang cerdas. Baru pada pertengahan cerita, kelucuan tersebut berkurang karena penonton sudah terlibat dalam drama yang terbangun.

Selain itu, dua tokoh utama film berakting bagus. Mathias Muchus bisa memerankan ayah yang pemarah dan otoriter. Vino G Bastian juga bisa menghidupkan pemuda yang pemberontak, keras kepala, dan angkuh.

Meskipun demikian, film ini tidak luput dari keanehan logika bercerita. Ada beberapa hal yang tidak masuk akal. Seperti pada saat Tebe sekeluarga pulang ke Toba. Ia berpidato seolah-olah penduduk Toba masyarakat yang udik dan perlu diubah. Begitu datang, penduduk langsung mengikuti anjurannya untuk bekerja bakti. Di dunia nyata, butuh proses lama untuk menyuruh sebuah komunitas berlaku di luar kebiasaannya.

Poster film. Diambil dari google

Poster film. Diambil dari google

Yang kedua, saat pertama kali Coki-anak Rongur makan bersama dengan Tebe dan keluarganya. Coki yang baru berumur lima tahun diminta memimpin doa. Ia yang dididik dengan cara Islam berkata jika caranya berdoa berbeda dengan keluarga Tebe yang Nasrani. Hal yang aneh karena umur anak lima tahun umumnya belum tahu apa itu konsep agama. Akan lebih masuk akal Coki berdoa dengan cara Islam dan anggota keluarga yang lain kaget mendengarnya.

Kalau menurut saya, judul film ini kurang tepat. Sebelum menonton, saya sempat berpikir ceritanya tetang seorang yang lahir di Toba dan berusaha untuk mengejar cita-citanya di tengah keterbatasan. Atau tentang seseorang yang pulang ke Toba untuk membangun daerahnya. Dugaan saya salah. Ceritanya lebih banyak tentang konflik ayah dan anak. Juga pencarian jati diri di kota besar.

Setidaknya saya senang. Di tengah film Indonesia yang menjual cerita hantu, komedi, atau percintaan yang begitu-begitu saja, ada film yang berbeda. Semoga kedepannya akan ada lebih banyak lagi film Indonesia yang mengangkat tema hubungan antar manusia.

Guru Bangsa Tjokroaminoto, Gambar Cantik dengan Cerita Begitulah

Dok. 21cineplex

Dok. 21cineplex

Sejak pertama melihat iklannya, saya dan suami memutuskan harus menonton film ini. Alasannya sederhana: saya suka pengambilan gambarnya yang cantik. Untuk cerita, saya tidak terlalu berharap banyak. Mengangkat kehidupan seorang tokoh besar dalam waktu 160 menit bukan hal mudah. Hal tersebut membutuhkan riset panjang. Juga penulis skenario yang sangat hebat. Untuk bisa menceritakan bagaimana Tjokroaminoto mempengaruhi kaum terjajah untuk mengimpikan kemerdekaan.
Film Tjokroaminoto bertutur tentang seorang pria jawa terdidik. Dia berasal dari keluarga bangsawan yang menikahi putri Bupati. Ia bisa saja hidup enak dan tutup mata terhadap nasib saudara sebangsanya. Tapi, Tjokro gelisah melihat bangsanya ditindas oleh orang-orang dari negeri sebrang. Ia beranggapan jika pengetahuan bisa memberi bangsa ini harga diri untuk sejajar dengan orang asing. Oleh karena itu, ia memilih bekerja sebagai pemimpin redaksi surat kabar. Dan kemudian bergabung dengan Syarikat Islam.
Untuk penonton yang tidak tahu sejarah seperti saya, film ini tidak memberikan gambaran jelas siapa itu Tjokroaminoto. Juga seberapa penting perannya di pergerakan Indonesia. Ya, di film tadi ada penggambaran ia memimpin majalah. Aktif di kegiatan Serikat Islam. Kata pekerja domestiknya, suka menolong. Tjokro juga suka berdiskusi dengan anak-anak muda. Tapi di logika saya, apakah hal-hal tadi cukup untuk menjelaskan peran penting Tjokroaminoto di pergerakan kemerdekaan?
Saya juga melihat alur film ini lambat. Beberapa penonton mulai asyik dengan gadgetnya di pertengahan film. Kenapa tidak mendramatisir adegan supaya kami tetap fokus? Kenapa justru ada adegan-adegan yang buat saya tidak membawa alur maju. Seperti penari balet di rumah Gubernur Belanda atau Tjokro datang ke pertunjukan musik. Kalau memang iya dulu Tjokroaminoto melakukan hal tersebut, apa gunanya ditampilkan di film? Apakah hal tersebut memperkuat sosok Tjokro sebagai guru bangsa?
Saya juga terganggu dengan kemunculan seorang Stella. Loper koran yang diperankan oleh Chelsea Islan ini digambarkan sebagai seorang peranakan. Ia melarikan diri saat ayah Belandanya hendak membawa pulang ke negri asalnya. Stella tidak merasa dia orang Belanda. Loper koran cantik ini berkali-kali mendatangi Tjokroaminoto. Untuk menanyakan bagaimanakah nanti masa depan Indonesia. Juga menanyakan apakah dirinya bisa menyebut diri sebagai pribumi? Di logika saya, janggal ada seorang loper koran tiba-tiba bertanya kepada orang asing yang sangat sibuk. Apalagi orang ini pria terhormat.
Saya juga heran dengan adegan rakyat berkumpul mengelu-elukan saat Tjokro bergabung dengan Syarikat Islam. Kaum miskin juga mengerumuni rumah Tjokro pada saat istri Tjokro sekarat. Mereka meminta kejelasan tentang masa depan pemerintahan sendiri. Tjokroaminoto dianggap seperti seorang Ratu Adil. Untuk saya, adegan-adegan tadi akan logis jika sebelumnya memperlihatkan dengan kuat apa saja yang sudah Tjokro lakukan untuk bangsa ini.
Kalau disuruh memberi rating. Saya memberi nilai 3 dari 5. Sekali lagi, saya bisa menikmati film sampai akhir karena saya menyukai baju-baju dan make up pemerannya. Juga setting rumah-rumah jaman dulu. Cantik.

Air dan Api: Pemadam Kebakaran itu Pekerjaan Mulia

Poster Air dan Api

Poster Air dan Api

Kemarin, tanggal 30 Maret, saya dan Gugun memutuskan untuk menonton film Air dan Api. Awalnya, film tadi sama sekali tidak ada di daftar nonton kami. Kami memilih film Indonesia secara acak untuk merayakan Hari Film Nasional.
Film tersebut bercerita tentang sekelompok pemadam kebakaran. Tiga tokoh utama dalam film, Sisi, Dipo, dan Radit masuk menjadi pemadam kebakaran karena alas an yang berbeda. Dipo yang anak pengusaha kaya, ingin memiliki pekerjaan menolong sesama. Ia bosan kuliah di sekolah bisnis dan memilih menjadi pemadam kebakaran. Radit, seorang tukang bikin onar, dipaksa ayahnya untuk jadi pemadam kebakaran. Menurut sang ayah, pekerjaan tersebut akan membuat Radit lebih bertanggung jawab. Sedangkan Sisi ingin menjadi pemadam kebakaran untuk meneruskan jejak ayahnya.
Film tadi cukup menarik untuk ditonton. Setidaknya, temanya bukan sekadar kisah cinta cengeng atau rebutan harta ala sinetron. Beberapa adegan lucu mewarnai film. Meski di beberapa tempat terlihat aneh. Bagi saya, komedi yang tidak pada tempatnya mengurangi betapa pemadam kebakaran itu pekerjaan yang mulia.

Lalu, ada adegan-adegan yang tidak logis. Seperti waktu Dipo dan teman-teman hendak menyelamatkan korban banjir. Entah darimana muncul rakit yang tiba-tiba bisa mereka gunakan.

Tapi, film ini membuka mata saya tentang profesi mulia yang tidak popular di Indonesia. Saya baru tahu kalau pemadam kebakaran juga bertugas mencegah orang bunuh diri. Mereka juga diturunkan untuk mengevakuasi korban banjir. Saya malah jadi langsung berpikir. Di Indonesia, berapa banyak ya pemadam kebakaran? Apakah jumlahnya layak? Dengan tanggung jawab sebesar itu, apakah jam kerja mereka siap untuk menjaga stamina jika sewaktu-waktu muncul bencana? Pemadam kebakaran juga manusia. Apa jika letih mereka bisa menjalankan tugas dengan baik?

Tugas pemadam kebakaran ternyata sangat luas. Mulai dari menghentikan demo hingga mencegah orang untuk bunuh diri. Hal tersebut membutuhkan kemampuan negosiasi yang baik. Apakah pemadam kebakaran di Indonesia memiliki bekal untuk itu? Selain keahlian, saya jadi bertanya apakah pemadam kebakaran di Indonesia memiliki peralatan yang layak? Apakah mereka mendapat berbagai macam pelatihan supaya bisa menyelamatkan orang dan bukannya menjadi korban? Film ini membuat saya ingin bertemu pemadam kebakaran sungguhan. Saya ingin mendengar langsung cerita tentang profesi mulia ini.

Yang Ketu7uh

Saya langsung mencatat di agenda saat mendengar Yang Ketu7uh mulai tayang 25 September lalu. Jarang ada film dokumenter bisa diputar di bioskop. Film ini bercerita mengenai masyarakat kelas bawah di tengah hiruk-pikuk pemilihan presiden ke-7. Ada ibu Nita, janda berusia 60 tahun yang menjadi buruh cuci. Sutara, tukang ojek yang tinggal di Jakarta sejak tahun 88. Suparno, pekerja bangunan yang tinggal di gang sempit. Juga Amri Jalalen, seorang petani di daerah Indramayu. Yang Ketu7uh

Cerita ke empat orang ini berselang-seling dengan rekam jejak dua kandidat calon presiden. Mulai dari Jokowi yang tahun 2006 lalu masih menjadi walikota Solo. Ia ikut kerja bakti saat memerintahkan anak buahnya membersihkan kota. Di lain pihak, Prabowo yang berkali-kali mengikuti pemilihan presiden. Tahun demi tahun berlalu hingga tahun 2014, Indonesia kembali merayakan pesta demokrasi. Cuplikan-cuplikan gambar menampilkan para politisi partai melakukan berbagai cara yang kadang norak supaya rakyat memilih mereka. Hingga akhirnya dua kandidat presiden berhadapan. Di debat presiden, Jokowi mempromosikan kartu-kartunya sedangkan Prabowo menyebut-nyebut kebocoran negara.
Dan, setelah Jokowi, sang Presiden Ketu7uh terpilih, lima orang ini sama halnya seperti orang-orang lain di Indonesia. Kembali ke kesibukan sehari-hari. Mencari nafkah. Dan mungkin, mereka terlupakan oleh para politisi yang hanya membutuhkan suara mereka saat pemilu tiba.
Saat menonton film ini, saya miris melihat Suparno yang tinggal di bedeng bersama ratusan kepala keluarga lain. Mereka menempati ruangan berukuran 1,75x 3,8 m. Di ruangan tadi, ia harus berbagi dengan istri dan anak-anaknya untuk melakukan berbagai aktivitas. Mereka terpaksa mandi dan buang air kecil di depan “rumah”. Tanpa menghiraukan orang lalu-lalang karena tidak ada ruangan lagi. Saya jadi bertanya, pernahkah dua capres (dan partai politikdibelakangnya) memikirkan mereka setelah menjabat? Memang kalau mereka memilih, apakah hal tersebut akan merubah nasib mereka?
Di Indramayu sana ada tokoh lain. Amri Jalalen dan tetangga-tetangganya merupakan petani tanpa tanah yang menggarap hutan negara. Mereka berpendapat seharusnya pemerintah memperhatikan kepentingan rakyat. Tanah milik pemerintah itu bukannya disewakan ke perusahaan, tapi digarap oleh penduduk yang butuh pekerjaan.
Saat film usai, saya pribadi melihat ada yang kurang. Film ini tidak terlalu tampak menggambarkan bagaimana rakyat kecil tadi menaruh harapan ke salah satu calon.

 

Di sekitar saya (dan sepertinya di seluruh Indonesia) orang-orang sibuk menjagokan kandidat pilihannya. Tak jarang, perbedaan ini menimbulkan perdebatan. Bukan hanya di dunia maya, di dunia nyata pun saya kerap melihat saling menghina karena berbeda pilihan presiden.
Yang saya tidak habis pikir, ada ulama-ulama lokal yang mengharamkan memilih salah satu capres. Mereka menyebarkan kebencian lewat pengajian-pengajian. Ia menakut-nakuti penduduk bahwa salah satu capres akan mempersulit pemeluk agama Islam. Di lingkungan saya, banyak yang memercayai kebohongan ini karena sudah menyimpan sentimen agama. Juga bagaimana seluruh penjuru kota penuh sampah visual akibat baliho caleg dan capres.

Lepas dari kekurangannya, Yang Ketu7uh layak untuk ditontong lima, sepuluh, atau kelak saat ada pemilu lagi. Ia menyimpan pesan bahwa siapapun presidennya, keinginan tokoh-tokoh film ini (dan kita juga) sederhana kok. Kami ingin supaya harga barang terjangkau, biaya pendidikan bisa diakses semua, dan masyarakat miskin pun bisa mendapat sarana kesehatan yang layak.

Indonesia dalam buku “Ring of Fire”

Membaca Ring of Fire yang ditulis Lawrance dan Lorne Blair lagi-lagi membuat saya iri. Sepertinya, buku-buku bagus tentang Indonesia yang saya temui kebanyakan disusun oleh orang asing. Salah satunya, buku ini. Jurnal tersebut merupakan rangkuman dari 9 perjalanan di Indonesia yang mereka lakukan selama sepuluh tahun. Awalnya, Blair bersaudara memulai perjalanan untuk memfilmkan burung cendrawasih kuning besar.
Tahun 1971 Indonesia merupakan kepulauan yang tidak begitu terdengar di Barat. Keduanya ingin memfilmkan suku-suku yang jarang melakukan kontak dengan orang luar. Dulu, para pembuat peta jarang menampilkan kepulauan ini secara utuh.

Snorkling di Maluku
Kedua bersaudara tersebut memulai perjalanannya di Sulawesi Selatan. Saat menunggu kapal pinisi yang berlayar ke Aru, mereka singgah di Toraja. Blair bersaudara mengikuti pemakaman mahal seorang raja. Mereka sempat memfilmkan emas dan harta karun yang ikut dikubur di tau-tau bersama raja-raja terdahulu.
Blair bersaudara butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan pinisi ke Aru. Jarang ada yang pergi ke sana sembari membawa banyak muatan. Keduanya akhirnya menemukan seorang saudagar Tionghoa yang setuju mengirim barang dagangan ke Aru. Akhirnya, mereka berlayar selama 9 bulan bersama 16 pelaut Bugis yang sebagian besar belum pernah ke Aru. Di tengah perjalanan dengan jaraknya 4000 kilometer, mereka hampir dirampok oleh awak kapalnya sendiri.
Sebelum melakukan perjalan tersebut, Blair bersaudara membaca perjalanan Alfred Russel Wallace di kepulauan rempah-rempah. Sepertinya mereka kagum pada Wallace hingga berkali-kali mengutip bukunya. Salah satu hal yang mendorong keduanya nekad berlayar dengan pinisi karena mereka penasaran dengan kehebatan para pelaut bugis. Pelaut bugis di masa lampau terkenal karena membuat perahu-perahu besar hanya dengan senjata parang.
Cerita kemudian beralih ke ekpedisi Lorne Blair di Asmat. Ia penasaran tentang nasib Michael Rockefeller yang hilang di pada tahun 1961. Putra mantan wakil presiden Amerika tersebut sampai kini tidak jelas jenasahnya di mana. Michael pergi ke Papua dalam rangka mengumpulkan tiang-tiang ukir yang dipakai suku Asmat. Ia kemudian menghilang di sungai. Lorne menemukan beberapa cerita kalau Michael dibunuh. Ia menjadi pengganti nyawa penduduk lokal yang terbunuh oleh orang kulit putih.
Selama proses pembuatan film dokumenternya, Lorne berkali-kali berpikir akan dibunuh tuan rumahnya. Tapi ia juga menikmati hidup di dunia yang berbeda dengan tempat asalnya. Ia bahkan telanjang bulat untuk berbaur dengan penduduk asli. Tiap hari Lorne makan sagu, ikan, kerang, biawak, babi hutan, ulat, dan marsupialia pohon yang langka. Ia bahkan mengikuti upacara aneh karena diangkat anak oleh seorang penduduk lokal.
Ekspedisi selanjutnya berpindah ke Pulau Komodo. Lawrence beberapa kali mengunjungi pulau tempat kadal raksasa tersebut bersama Kapal Lindblad Explorer. Ekspedisi tersebut merupakan kapal mewah dengan laboratorium dan perpustakaan. Didalamnya penuh makanan dan anggur terbaik. Berbagai ahli dipekerjakan untuk memenuhi keingintahuan para bangsawan atau pengusaha kaya yang menjadi penumpangnya. Semenjak banyak turis ingin melihat komodo di habitat asalnya, hewan tersebut berubah. Komodo yang tadinya mahluk pemburu soliter menjadi mahluk pemalas. Mereka kemudian hidup bergerombol sembari menunggu makanan yang akan diantarkan oleh para penonton.
Petualangan kemudian berlanjut di Pulau Sumba. Di sana Blair bersaudara mengejar tarian perang dan penguburan raja. Perjalanan kemudian berpindah saat keduanya menjelajahi Kalimantan untuk menemukan Suku Punan yang masih hidup mengembara. Mereka ditemani oleh Suku Punan yang sudah menetap dan mencari nafkah dari berdagang cula badak. Saat itu Kalimantan merupakan pulau yang blum terjelajahi bagian tengahnya. Banyak yang tidak tahu ada apa di sana.
Saya menyukai buku tersebut meski keduanya beranggapan Indonesia adalah negeri dunia ketiga yang liar. Blair bersaudara memiliki romantisme jika di pedalaman Indonesia waktu berhenti berputar. Tanpa sadar mereka berkali-kali menyatakan jika Indonesia adalah negeri penuh dukun dan penyihir. Suku-suku pengayau dengan ritual berdarah-darah masih ada di sini. Saya masih belum melihat tentang keseharian orang-orang biasa yang mereka temui.
Satu hal yang saya setujui dari mereka: Indonesia sangat minim dalam dokumentasi terutama film. Sampai saat ini. Bisa bantu saya untuk mulai mendokumentasikan Indonesia? Klik like di link ini supaya saya bisa keliling Sumba. Rencananya, saya ingin membuat video diary tentang perjalanan tersebut dan orang-orang biasa yang saya temui. Nanti, tulisan perjalanannya juga bisa dilihat blog perjalanan saya kotak permen.
Hingga selesai membaca buku tadi, saya masih iri dengan mereka yang bisa menjelajahi negeri tempat saya lahir dan besar ini. Beberapa tempat yang didatangi kedua bersaudara tadi juga pernah saya datangi. Sayang, saya hanya memiliki waktu dan dana yang terbatas untuk setiap kunjungan. Setidaknya semakin banyak saya mengunjungi pelosok Indonesia, ada banyak hal yang saya pelajari. Saya semakin tahu kalau negeri ini kaya alam dan budayanya. Sayang banyak manusianya yang tidak mau bersusah payah untuk mengelola kekayaan tadi. Lebih menyedihkan lagi, ada banyak orang pintar yang saya temui memilih untuk memperkaya dirinya sendiri. Juga banyak perusahaan yang mengeruk kekayaan tanpa memikirkan masyarakat dan lingkungan.

Jelajah Semarang Bersama Goodreads Indonesia

Sabtu, 7 Juni lalu Goodreads Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke 7. Ada sekitar 50an penggemar buku dari beberapa kota ikut jadi tim hore di acara bertajuk “Jelajah Semarang dalam kenangan”. Sekitar jam delapan, trotoar di depan Balaikota Semarang sudah ramai oleh mahluk-mahluk berisik. Yang dari Semarang memakai kaus warna kuning ngejreng. Ada juga pemilik kaus pink dan ungu. Lalu, para anggota senior Goodreads Indonesia dengan kaos warna merah yang tidak kalah mencolok saat foto bareng. Sebenarnya, Goodreads Jogja juga punya kaos. Tapi saya tidak memakainya karena sudah jadi baju tidur 😀 Sambil menunggu yang lain datang, kami makan coklat yang dibawa oleh Ibutio dari Bandung. Enak lo pudingnya. Apalagi gratisan.

Rombongan kemudian berangkat ke kelenteng Tay Kak Sie dengan dua mobil dan satu bus. Waktu kami sampai di Gang Lombok, Pecinan, Mas Pra mulai cerita tentang sejarah kelenteng tadi. Sepertinya kami cuma mendengarkan kalau bangunan tadi dibangun tahun 1746. Setelahnya kami terlalu sibuk menyebar untuk foto-foto.

Kelenteng Tay Kak Sie SemarangIya, warna merah menyala yang mendominasi kelenteng dan warna emas di sebagian besar dewa dan aksesorisnya menarik untuk difoto atau sebagai latar foto narsis 😛 Di kawasan pecinan sebenarnya ada puluhan kelenteng. Tapi kelenteng Tay Kak Sie yang paling banyak didatangi orang karena letaknya strategis dan punya paling banyak dewa. Kelenteng yang awalnya didirikan untuk memuja Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih ini memiliki 33 dewa.
Beberapa teman tidak tega saat melihat puluhan burung kecil dalam kurungan di depan pintu kelenteng. Kami melepas beberapa ekor karena kasihan. Cukup dengan membayar 1.500 rupian per ekor. Penganut Kong Hu chu percaya kalau melepaskan burung yang dikurung itu akan mendatangkan karma baik. Beberapa bahkan bilang kalau hal tersebut bisa dilakukan sambil mengucapkan permohonan.

Meskipun katanya acara jalan-jalan, kami naik bus lagi ke tujuan kedua. Lokasinya di Gg Cilik yang masih kawasan pecinan juga. Kiri kanan jalan yang kami lalui masih banyak rumah dua lantai yang dibangun sekitar tahun 1700 an. Dulu, orang-orang Tionghoa di Semarang dipindahkan ke daerah ini setelah ada pembrontakan Tionghoa di Batavia tahun 1740.

Kami pergi ke tempat pembuat rumah arwah. Itu rumah-rumahan yang terbuat dari kertas. Yang nanti dibakar sebagai bakti seorang anak kepada leluhurnya. Konon supaya almarhum memiliki rumah di sana. Selain rumah, biasanya ada pembakaran uang-uangan dan mobil-mobilan juga. Waktu kami ke sana, ada beberapa pekerja sedang memasang kertas di kerangka bambu. Di salah satu rumah yang sudah jadi ada pembantu. Waktu saya iseng mengintip dapurnya, ada panci dan alat penggorengan kecil dari plastik di dalamnya. Pembuat rumah arwah bilang harga satu setnya sekitar satu juta.

rumah arwahRencananya, teman-teman Semarang mau mengajak kami ke pabrik nisan dan kecap yang ada di dekat Gg cilik. Sayang, kami tidak bisa masuk ke sana. Akhirnya kami pergi ke Rumah Kopi. Dahulu tempat ini disebut kebon karang karang karang karena halamannya penuh dengan karang. Kita ditemani oleh Ibu Inge yang dulu lahir dan besar di rumah ini. Bangunan warna putih yang tembok dan kayu-kayunya masih utuh ini tidak diketahui kapan dibangun. Konon jauh sebelum tahun 1800 an. Rumah ini miliki Marga Tan yang merupakan salah satu pembangun Pecinan Semarang.

Ibu Inge bercerita kalau opanya Tan Tiong Ie pendiri perusahaan kopi Margo Rejo. Perusahaan ini membuat dan memasarkan kopi. Tan Tiong Ie merupakan keturunan Tionghoa pertama di Jawa yang bisa mengekpor kopi ke negara lain. Hingga kini, perusahaan tersebut masih menjual kopi meski tidak sebanyak dahulu.
Kami masuk ke dalam rumah dan terpesona melihat furnitur-furnitur kayu yang umurnya ratusan tahun. Saya naksir sama Lian (pepatah) yang dipasang di dinding. Salah satunya berbunyi kalau diterjemahkan kira-kira begini: sebaik-baiknya anak kaya lebih baik anak pintar.

Rumah Kopi SemarangRombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Taman Sri Gunting yang ada di samping Gereja Blenduk. Setelah makan siang bersama, ada kuis berhadiah buku. Berhubung buku dari sponsor lebih banyak daripada jumlah peserta, semua kebagian. Tetap saja berebut menebak karena ingin lebih dahulu memilih buku. Lalu ada hadiah buku-buku tambahan dari sumbangan perorangan. Kejamnya, pertanyaannya seputar kapan kopdar Goodread di Jakarta. Lah, kita yang di daerah atau baru gabung kan ahistoris. Tapi lumayan pulang bisa bawa buku-buku gratisan termasuk Semarang citybooks yang ada di goodybag.

 

Harga Sebuah Karya

Seorang teman, sebut saja Entus, bercerita kalau menerima tawaran untuk mengerjakan sebuah program TV. Entus sempat menolak mengerjakan tontonan tersebut karena anggarannya terlalu kecil. Ia akhirnya mengambil program tadi karena timnya sedang membutuhkan uang.
Saya jadi teringat saat membaca majalah milik sebuah perusahaan beberapa waktu lalu. Majalah yang dikelola seorang penulis senior di sebuah komunitas tadi tampilannya jelek. Warna dan foto yang dipakai seperti asal pasang. Sebagian besar artikelnya berantakan. Banyak salah ketik dan tulisannya tidak menarik. Terlalu fatal mengingat penanggung jawabnya bukan penulis kemarin sore.

Saya kemudian bertanya, apakah pembuatan terbitan tersebut mepet waktunya? Si penulis dengan santainya menjawab jika perusahaan pemesan majalah tidak menghargai seni. Mereka membayar rendah satu paket mulai dari penulisan, editing, hingga desain majalah. Saya, langsung tidak menaruh hormat pada penulis tadi. Menurut saya, saat mengatakan iya untuk sebuah pekerjaan artinya tidak ada lagi alasan untuk mengerjakan dengan separuh hati. Kata iya artinya saya tidak lagi memikirkan berapa banyak saya dibayar. Bagaimanapun juga, nama saya akan tercantum di karya tadi. Bukankah pekerjaan yang bagus bisa saya pakai untuk mencari klien baru?

Saya dan penulis tadi kemudian ngobrol tentang hal lain. Ia menawarkan jasanya jika suatu saat nanti saya membutuhkan sesuatu yang berkaitan dengan komunitas buku. Saya hanya tersenyum dan berkata sedang tidak punya rencana.  Padahal, kalaupun ada, saya tidak tertarik mempekerjakan orang yang hanya semata-mata bekerja untuk uang. Saya tidak yakin hasil kerjanya akan bagus.

Di lain waktu, seorang teman bercerita kalau ia gagal psikotes di sebuah perusahaan media. Saya heran, setahu saya, ia baru satu bulan bekerja di tempat sekarang. Terlalu cepat untuk melamar kerja di tempat lain. Menurut Anggi, tempat kerjanya sekarang menyenangkan. Sayang gajinya terlalu kecil. Saya kemudian bertanya, mungkin tidak untuk menego gaji? Anggi bilang, kemungkinan tersebut ada setelah program yang ia tangani sekarang selesai.

Kami kemudian ngobrol tentang bekerja sebaik mungkin sebagai bukti kalau kita menyukuri apa yang kita punya. Bukankah saat kita senang bekerja, sesuatu akan terasa lebih ringan? Bukankah karya yang bagus pasti akan menarik perhatian orang? Kalau sudah saatnya, tawaran akan datang sendiri kok. Bukankah suatu pekerjaan yang baik akan membawa kita naik kelas? Yang artinya, ada orang yang mau membayar lebih mahal.