Suatu Hari Kami Bercerita tentang Cita-cita

Minggu ini Perpus Keliling Javlec Junior punya acara lagi di Desa Borobudur, Magelang. Tema kali ini adalah cita-cita. Sambil menunggu, teman-temannya berkumpul, anak-anak yang datang lebih dulu mulai membaca buku. Saat saya mulai menyalakan LCD projektor untuk mengecek tampilannya. Adik-adik tadi kegirangan karena punya “mainan baru”. Benda tadi rupanya masih asing di sana. Mereka menggunakan cahaya dari lampu projector untuk membuat bayangan dan bermain-main dengannya.

Setelah sekitar 40-an anak datang, acara dimulai. Kali ini giliran saya bercerita. Saya mulai dengan menunjukkan sebuah peta Indonesia besar dan bertanya ada berapa jumlah pulau. Rata-rata menjawab dalam angka ratusan. Mereka sempat heran waktu saya berkata angkanya lebih dari 17.000. Banyak ya? Kalau tiap bulan datang ke satu pulau pun nggak akan habis-habis.

Saya lalu bercerita kalau dulu waktu kecil, ingin sekali berkeliling Indonesia. Tapi sepertinya nggak mungkin. Tiket pesawat itu mahal. Ternyata, waktu saya mulai bekerja dan mulai bisa menabung, saya mulai mendapat beberapa kesempatan untuk bepergian ke banyak tempat di Indonesia. Mungkin belum semua tempat di Indonesia saya singgahi, tapi setidaknya sudah cukup banyak tempat. Saya mulai menunjukkan foto-foto tempat yang pernah saya kunjungi sambil bercerita apa saja yang pernah saya lihat.

Saat melihat foto Aceh, anak-anak tadi terpesona dengan pantai-pantai cantik di sana. Mereka juga heran saat mendengar cerita tentang banyaknya sapi berkeliaran di mana-mana. Lalu, waktu di Flores, mereka heran saat melihat pulau tadi tidak segersang yang ada di televisi. Waktu saya menunjukkan foto-foto Papua, mereka tertawa saat melihat babi yang ada di halaman sekolah bersama anak-anak berseragam merah-putih.

Saya kemudian menunjukkan sebuah buku berjudul Bocah Penjinak Angin. Buku itu ditulis berdasar kisah nyata tentang seorang anak yang membuat listrik dari kincir angin. Hebatnya, dia berasal dari Malawi, negara miskin di Afrika yang waktu itu langka listrik.
Karena miskin, anak ini terpaksa putus sekolah. Tapi dia tetap pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Suatu hari, ia membaca tentang kincir angin yang bisa membuat listrik. Ia tertarik untuk mencobanya. Ia dianggap gila saat mengumpulkan barang-barang bekas untuk membangun kincir angin. Hingga akhirnya, ia berhasil.
Kincir angin ini didengar oleh seorang yang menulis di web. Ada seorang profesor membaca hal ini dan menyekolahkan anak ini. Anak ini kemudian diundang ke banyak negara untuk bercerita tentang kincir anginnya. Termasuk datang ke negeri tempat kincir angin yang ia lihat di bukunya. Keren kan ceritanya? Buku bisa membantu seseorang belajar tentang banyak hal. Yuk, mulai baca buku.

Kami kemudian menggambar bersama, temanya tentang cita-cita. Setelah selesai menggambar, entah siapa yang memulai, gambar-gambar tadi ditempel di dinding. Satu per satu anak maju untuk bercerita tentang cita-citanya. Ada Rizal yang ingin jadi koki karena suka makan. Ia yang berbadan gemuk ingin mencicipi makanan dari berbagai daerah. Lalu, Dimas tiba-tiba bercerita tentang sejarah Borobudur sambil menggenggam tangannya seperti seolah-olah memegang mic. Ternyata, ia ingin menjadi guide supaya bisa punya banyak kenalan dari negeri lain. Ada juga Wisnu yang ingin menjadi pemain Bulutangkis. Syalsa yang suka menyanyi dan pernah beberapa kali ikut lomba ingin menjadi penyanyi. Dia bahkan menyanyikan potongan lagu D’Massive: Jangan menyerah di depan. Ada juga Arden dan Deni yang ingin jadi tentara dan polisi. Profesi favorit adalah guru. Ada Rara, Ela, dan Fani yang kalau besar nanti ingin mengajar. Saya heran saat melihat sebuah gambar gunung. Lho, bukannya kali ini tema cerita kita tentang cita-cita. Ternyata, itu gambar milik Teguh. Dia bercita-cita ingin jadi penambang batu karena pernah diajak melihat pasir lahar merapi.

Tiap kali anak-anak ini maju, saya selalu bertanya kenapa mereka ingin memilih cita-cita tadi. Ternyata, banyak yang menjawab karena melihat hal tersebut di televisi. Eh? Padahal kebanyakan acara TV nggak bagus buat anak-anak. Berani bertaruh tiap malam mereka pasti ikut orangtuanya nonton sinetron yang engga mutu. Tadinya, kami ingin bermain bersama seusai bercerita. Sayang, sudah hampir pukul duabelas. Sebentar lagi masjid yang kami gunakan untuk bermain akan didatangi orang-orang yang hendak shalat. Akhirnya, kami melakukan peminjaman buku. Kali ini, Fani yang bertanggungjawab atas buku-buku yang dipinjam temannya. Puluhan buku anak lainnya kami antar ke rumah Fani. Siapa tahu ada anak lain yang ingin meminjam.

Setelah itu, kami pergi ke Dusun Maitan yang ada di Desa Borobudur juga. Di sana, kami mengantarkan satu kardus buku anak sumbangan yang dikumpulkan oleh Komunitas Kelapa. Terimakasih. Di rumah Pak Udin, sudah ada buku-buku sumbangan lain. Meski belum dibuka secara resmi, sudah ada tetangga-tetangganya yang meminjam buku. Saat ini kami masih mengumpulkan buku umum (seperti buku kesehatan, psikologi populer, dan memasak) untuk ibu-ibu, juga buku agama. Ada yang mau membantu mengumpulkan buku?

Bermain Bersama di Desa Borobudur :)

Horeee…. Javlec Junior punya acara perpustakaan keliling lagi di Desa Borobudur. Sore itu, saya ditemani Anta, Galuh, dan Uci memakai mobil milik Perpustakaan Guru Bangsa. Waktu kami datang, sekitar tiga puluhan anak SD bergabung. Mereka sibuk memilih dan membaca-baca buku yang mereka suka. Beberapa meminta relawan untuk membacakan buku.
Saat kami mengeluarkan peralatan gambar, adik-adik tadi langsung berebut. Uci sampai kewalahan berteriak menyuruh mereka mengantri. Hebatnya, kali ini gambar mereka sangat beragam. Bukan cuma gambar dua buah gunung dengan matahari terbit di tengah-tengah seperti biasanya. Ada yang menggambar pesawat, kapal, ikan, pelangi, bunga, pokoknya macem-macem deh.

Setelah semua menyelesaikan gambarnya, kami bermain “Beruang Mengamuk”. Jadi permainannya begini: gara-gara hutan di tebangi, beruang kehilangan tempat mencari makan. Ia kemudian menyerang penduduk desa yang punya ladang di pinggir hutan.

Waktu beruang datang dan menggeram, anak-anak yang jadi penduduk desa harus pura-pura mati atau berpegangan ke temannya yang jadi pohon. Kalau ada penduduk desa yang pura-pura mati tertawa saat digelitik beruang, dia ikut berubah jadi beruang. Nah, kalau anak yang jadi pohon, dia harus mengangkat kedua tanganya tinggi-tinggi. Kalau nanti tangannya jatuh, ia dan penduduk desa yang berpegangan padanya ikut jadi beruang. Semua pemain harus berhenti saat Uci yang jadi burung, bernyanyi. Si beruang kembali ke hutan dan penduduk desa kembali bekerja.

Setelah menunjuk salah satu anak untuk jadi beruang dan empat orang jadi pohon, permainan dimulai. Ribut banget. Semuanya pada teriak-teriak pas si beruang datang. Permainan yang seharusnya penuh dengan acara orang pura-pura mati, entah kenapa bisa berubah jadi main kejar-kejaran. Saking ramainya, saat Uci si burung bercuit-cuit (dia bingung gimana mo nyanyinya jadi diubah jadi cuitan), nggak ada yang ngedengerin. Akhirnya permainan selesai dengan semua orang berubah jadi beruang 😀

Permainan kedua dimulai dengan penggantian beruang. Beruang kali ini sepertinya sangat menikmati perannya. Dia semangat sekali waktu merangkak-rangkak sambil menggeram-geram. Yang jadi penduduk desanya sebagian langsung pura-pura mati. Anehnya, sebagian anak tiba-tiba pada lari ke pojokan dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Heh? Kami tertawa karena di aturan permainan kan nggak ada pernyataan klo penduduk desa bisa berubah jadi pohon? 😀

Berhubung sudah jam setengah enam, permainan dibubarkan. Sebelum pulang, sebagian adik-adik meminjam buku buat dibaca di rumah. Ada beberapa yang meminta, supaya minggu depan kami datang lagi. Pengen sih, semoga tahun depan bisa punya acara tiap minggu.
Sebelum pulang, kami mampir dulu ke tempat Ibu Eli untuk ngobrol tentang rencana bikin perpustakaan yang permanen. Supaya klo adik-adik ini mau minjem buku, engga harus nunggu kami datang.

Nah, temen-temen ada nggak yang mau bantuin kami ngumpulin buku anak? Atau mau jadi relawan perpustakaan keliling? Hubungi saya di Lrwahyudyanti@yahoo.com ya? Teman-teman juga bisa mendukung kami untuk memenangkan hibah dari sebuah bank. Caranya, masuk ke link lalu klik box bergambar twitter, fb, dan atau like. Terimakasih buat Wini, Indra, Ike, Mas Tezar, dan Mas Manteb buat donasinya.

Berhari Minggu di Candi

Minggu 11 September kemarin Javlec Junior punya acara lagi. Kali ini menggambar bersama di Pelataran Candi Borobudur. Kali ini saya ditemani Apied, Lio, Kurnia, Erik, Niken, dan Rendi yang memang tukang gambar.

Waktu kami datang langsung dikerubuti sama adik-adik. He..he..he.. Mereka tu dah nunggu sejak jam 8 padahal kmrin saya bilang kalau kami akan datang jam 9. Mana pakai molor gara-gara saya meninggalkan sesuatu di rumah. Jadi maluu…

Rencana awalnya, kami mau jalan bareng-bareng ke candi. Berhubung ada penduduk yang nawarin nganter pake pick upnya, ya sudah, adek-adeknya rame-rame naik di belakang. Wuih.. ribut banget! Pada rebutan naik ke belakang bak mau jadi yang berangkat duluan. Malah ada yang pakai nangis segala karena dipikir ditinggal sama teman-temannya.

Kami masuk ke kawasan candi lewat Hotel Manohara. Waktu sampai, kami nyari tempat teduh buat menggambar ramai-ramai. Sebelumnya, adek-adeknya diitung dulu supaya nanti nggak ada yang tercecer 😀 Lima puluh anak lebih kan repot klo nanti pada lari entah ke mana. Apalagi waktu itu candi rame banget pengunjungnya.

Akhirnya kami membagi kelompok berdasar umur. Adek-adek yang sekolah di TK menggambar bareng Niken. Temanya menggambar bebas. Di kelompok ini pada main corat-coret. Saat ditanya, mereka bilang yang digambar itu ular, pohon, rumah, batu, bintang, sama ada juga yang ngambar tukang ojek! Imajenatif banget ya? Saya baru tahu kemarin karena di acara sebelumnya, anak-anak TK nggak pernah menggambar. Mereka biasanya memilih bergabung dengan kelompok mendongeng atau melipat kertas.

Beda banget sama teman-temannya yang lebih tua. Di pertemuan-pertemuan sebelumnya, hampir seluruhnya menggambar dua buah gunung yang ada sawahnya. Mungkin karena mereka terbiasa diseragamkan? Lalu tiap kali pelajaran menggambar gurunya selalu ngasih contoh gambar gunung? Saya jadi ingat cita-cita jaman kecil dulu. Dulu, saya pengen jadi mentri pendidikan. Gara-gara ngelihat di sampul buku pelajaran tiap kali ganti mentri pasti ganti kurikulum. Entah kenapa saya beranggapan kalau jadi mentri pendidikan, saya bisa seenaknya menghapus pelajaran-pelajaran yang nggak nyenengin. Yah, dengan demikian saya menyelamatkan banyak anak di Indonesia yang bosan setengah mati dipaksa duduk berjam-jam tiap hari di sekolah.

Kelompok anak kelas 1 sampai 3 SD, ikut Lio menggambar bareng. Pertama-tama, mereka membuat gambar pohon. Setelah itu, mereka bersama-sama menggambar rumah dan halaman dan menggambar biri-biri. Di kelompok ini sempat ada rebutan crayon warna hitam. Awalnya, adik-adik ini beranggapan menggambar garis tepi itu harus dengan warna hitam.

Anak kelas 4 dan 5 karena jumlahnya banyak, dipecah menjadi dua kelompok. Yang pertama ikut Apied. Awalnya mereka menggambar bermacam-macam hewan yang gayanya kartun banget. Bentuknya mirip tokoh-tokoh di desain tshirt yang biasa dibuat Apied. Ntah kenapa lalu gambarnya berubah menjadi tokoh-tokoh di kartun Spongebob. Ada satu adek yang gambarnya beda. Awalnya saya pikir dia ngambar sawah dengan pohon-pohon dengan seekor hewan berwarna oranye. Dengan lugunya saya bertanya: “Itu gambar sapi ya?” Dan, saya merasa bersalah karena menurut pembuatnya, itu gambar serigala.

Kelompok kedua, bergabung dengan Kurnia. Awalnya mereka menjiplak jarinya dan memberi muka dan rambut di masing-masing jari hingga jadi keluarga jari. Setelah itu mereka bersama-sama menggambar sawah yang ada orang-orangan berbaju merah.

Anak-anak kelas lima ke atas menggambar ditemani Erik dan Rendi. Setelah dibagi, mereka langsung lari menggambar di dekat pertunjukan barongsai. Ada yang menggambar barongsay, ada yang menggambar layang-layang, dan ada juga yang menggambar candi.

Sekitar jam 12an, acara selesai. Saatnya mengeluarkan buku-buku untuk dipinjam. Biasanya, adik-adik ini memilih salah satu temannya untuk menjadi petugas perpus. Si petugas ini yang bertugas mencatat buku yang dipinjam dan nanti mengumpulkan buku sebelum kami datang lagi. Berhubung sudah terlalu siang, kali ini kami tidak mengadakan pemilihan. Ada seorang adek berumur 3 tahun berteriak-teriak heboh. “Ini siapa nanti yang bertanggungjawab!” 😀

Setelah mereka pulang, kami ramai-ramai makan siang di bawah pohon. Berhubung hari masih terlalu siang untuk balik ke Jogja, kami jalan-jalan dulu keliling candi. Dan seperti biasa isinya penuh dengan sesi foto-foto narsis. Seperti ini 😀

Candi Borobudur siang itu panaaassss…. sekali. Berhubung kami hampir mengalami dehidrasi, kami cuma keliling di satu tingkat. Sebelum keluar, kami dibeliin legen (minuman dari nira kelapa) sama Kurnia. Bapak penjualnya ngambil langsung dari pohonnya lo. Dia sampai tiga kali naik turun pohon untuk kami.

Berhubung sudah sore dan capai, kami harus pulang. Makasih temen-temen dah mau jadi relawan. Terimakasih juga untuk Wini, Indra, dan Ice yang dah nyumbang buat beli alat gambar dan sewa mobil. 😀