Suatu Hari di Kota Lama

Sumber: dianloves.me

Sumber: dianloves.me

Jika teman-teman hanya punya waktu terbatas untuk liburan di Semarang, datanglah ke Kota Lama. Selain mudah dijangkau, ia juga punya berbagai titik unik yang bercerita tentang masa lalu Semarang. Saran saya, tempat ini lebih asyik didatangi di pagi atau sore saat matahari tidak bersinar terik. Lebih seru lagi berkeliling dengan jalan kaki atau mengendarai sepeda dan becak. Saat melambat, teman-teman menikmati gedung-gedung tadi sambil membayangkan suasana kota tersebut beberapa ratus tahun lalu.

Kota ini tadinya dikenal dengan nama Kota Benteng Belanda. Banyak bangunannya berdiri pada tahun 1700an. Kota Lama penuh gedung-gedung dengan arsitektur eropa. Bangunannya tinggi-tinggi dan memiliki jendela besar. Kawasan tersebut menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20. Di sana ada Stasiun Tawang, kanal air, kantor pos, dan beberapa bangunan tua yang masih berfungsi hingga kini.

semarang 3

Salah satu bangunan yang terawat apik adalah Gereja Blenduk. Gereja tersebut dibangun pertama kali pada tahun 1753. Tidak sulit menemukan gereja ini. Kubah besar dengan warna merah batanya terlihat dari kejauhan. Kalau teman-teman beruntung, bisa mengintip isinya. Ada organ baroque dalam gereja.

Di seputar kota lama terdapat kawasan Pecinan. Dulu, Belanda memindahkan sebagian orang Cina pada tahun 1731 untuk mengawasi supaya mereka tidak memberontak. Karena dahulu dihuni banyak penganut Kong Hu Chu, kawasan ini memiliki sekitar dua puluhan kelenteng. Yang paling besar kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng ini didatangi paling banyak pengunjung karena letaknya strategis dan memiliki 33 dewa. Tay Kak Sie dibangun tahun 1746 untuk memuja Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih. Selain untuk beribadah, kini banyak orang datang ke kelenteng untuk berwisata. Warna merah menyala yang mendominasi membuat kelenteng dan warna emas di sebagian besar dewa dan aksesorisnya menarik dilihat.

semarang 5

Kalau teman-teman beruntung datang ke tempat ini saat akhir pekan, mampirlah ke pasar semawis. Di sana warung-warung tenda berjejeran. Seru lo jalan kaki menyusuri para pedagang. Sambil melihat dan mencicipi kue-kue dan berbagai masakan peranakan di sana. Saya paling suka beli kue mochi. Lupa merknya, tapi itu mochi paling enak yang pernah saya makan. Saat imlek, pasar semawis lebih ramai. Saya pernah sengaja dari Jogja datang ke sana hanya untuk menyaksikan pertunjukan wayang potehi.

Di kawasan pecinan, bekas-bekas budaya tionghoa banyak terlihat di Gg Cilik. Selain kelenteng, di sana ada pembuat hiasan makam. Mulai pagi hingga sore hari ada beberapa pekerja memahat batu. Di sana juga terdapat pembuat rumah arwah. Itu lo, rumah-rumahan kertas yang sering ada di film-film Cina. Yang dibakar sebagai bakti seorang anak kepada leluhurnya. Konon supaya orang yang meninggal memiliki rumah di sana. Selain rumah, biasanya ada pembakaran uang-uangan dan mobil-mobilan juga. Rumah yang dibuat dengan rangka bambu ini biasanya lengkap dengan boneka pembantu rumah tangga dan peralatan masak mini. Harga per setnya sekitar satu juta.

semarang 2

Di kawasan Pecinan ini masih banyak rumah kuno yang dihuni. Saya suka melihat bangunan yang berlumut. Beberapa memasang hio, cermin, atau lambang ying dan yang di depan rumah. Di antara deretan rumah tadi ada bangunan bertingkat yang disebut Rumah Kopi. Bangunan warna putih yang tembok dan kayu-kayunya masih utuh ini tidak diketahui kapan dibangun. Konon jauh sebelum tahun 1800 an. Rumah ini milik Marga Tan yang merupakan salah satu pembangun Pecinan Semarang. Dulu dibangun oleh Tan Tiong Ie yang juga mendirikan perusahaan kopi Margo Rejo. Perusahaan ini membuat dan memasarkan kopi. Tan Tiong Ie merupakan keturunan Tionghoa pertama di Jawa yang bisa mengekpor kopi ke negara lain. Hingga kini, perusahaan tersebut masih menjual kopi tapi tidak sebanyak dahulu. Kini, mereka juga membuat permen kopi. Rasanya seperti gula-gula jaman dulu. Teman-teman bisa menemukan permen tadi di Toko Oen.

Semarang 4

Rumah Kopi ini masih dihuni cucu Tan Tiong Ie. Di dalamnya masih banyak dan furnitur-furnitur kayu yang umurnya ratusan tahun. Waktu datang ke rumah tadi, saya terpesona dengan Lian (pepatah) yang dipasang di dinding. Kalimat tersebut dipahat di kayu besar. Salah satunya berbunyi kalau diterjemahkan kira-kira begini: sebaik-baiknya anak kaya lebih baik anak pintar. Sebenarnya masih ada banyak sudut unik dari kawasan ini. Cobalah datang dan buktikan sendiri.

Semarang 1

Banner Lomba Utama

Jelajah Semarang Bersama Goodreads Indonesia

Sabtu, 7 Juni lalu Goodreads Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke 7. Ada sekitar 50an penggemar buku dari beberapa kota ikut jadi tim hore di acara bertajuk “Jelajah Semarang dalam kenangan”. Sekitar jam delapan, trotoar di depan Balaikota Semarang sudah ramai oleh mahluk-mahluk berisik. Yang dari Semarang memakai kaus warna kuning ngejreng. Ada juga pemilik kaus pink dan ungu. Lalu, para anggota senior Goodreads Indonesia dengan kaos warna merah yang tidak kalah mencolok saat foto bareng. Sebenarnya, Goodreads Jogja juga punya kaos. Tapi saya tidak memakainya karena sudah jadi baju tidur 😀 Sambil menunggu yang lain datang, kami makan coklat yang dibawa oleh Ibutio dari Bandung. Enak lo pudingnya. Apalagi gratisan.

Rombongan kemudian berangkat ke kelenteng Tay Kak Sie dengan dua mobil dan satu bus. Waktu kami sampai di Gang Lombok, Pecinan, Mas Pra mulai cerita tentang sejarah kelenteng tadi. Sepertinya kami cuma mendengarkan kalau bangunan tadi dibangun tahun 1746. Setelahnya kami terlalu sibuk menyebar untuk foto-foto.

Kelenteng Tay Kak Sie SemarangIya, warna merah menyala yang mendominasi kelenteng dan warna emas di sebagian besar dewa dan aksesorisnya menarik untuk difoto atau sebagai latar foto narsis 😛 Di kawasan pecinan sebenarnya ada puluhan kelenteng. Tapi kelenteng Tay Kak Sie yang paling banyak didatangi orang karena letaknya strategis dan punya paling banyak dewa. Kelenteng yang awalnya didirikan untuk memuja Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih ini memiliki 33 dewa.
Beberapa teman tidak tega saat melihat puluhan burung kecil dalam kurungan di depan pintu kelenteng. Kami melepas beberapa ekor karena kasihan. Cukup dengan membayar 1.500 rupian per ekor. Penganut Kong Hu chu percaya kalau melepaskan burung yang dikurung itu akan mendatangkan karma baik. Beberapa bahkan bilang kalau hal tersebut bisa dilakukan sambil mengucapkan permohonan.

Meskipun katanya acara jalan-jalan, kami naik bus lagi ke tujuan kedua. Lokasinya di Gg Cilik yang masih kawasan pecinan juga. Kiri kanan jalan yang kami lalui masih banyak rumah dua lantai yang dibangun sekitar tahun 1700 an. Dulu, orang-orang Tionghoa di Semarang dipindahkan ke daerah ini setelah ada pembrontakan Tionghoa di Batavia tahun 1740.

Kami pergi ke tempat pembuat rumah arwah. Itu rumah-rumahan yang terbuat dari kertas. Yang nanti dibakar sebagai bakti seorang anak kepada leluhurnya. Konon supaya almarhum memiliki rumah di sana. Selain rumah, biasanya ada pembakaran uang-uangan dan mobil-mobilan juga. Waktu kami ke sana, ada beberapa pekerja sedang memasang kertas di kerangka bambu. Di salah satu rumah yang sudah jadi ada pembantu. Waktu saya iseng mengintip dapurnya, ada panci dan alat penggorengan kecil dari plastik di dalamnya. Pembuat rumah arwah bilang harga satu setnya sekitar satu juta.

rumah arwahRencananya, teman-teman Semarang mau mengajak kami ke pabrik nisan dan kecap yang ada di dekat Gg cilik. Sayang, kami tidak bisa masuk ke sana. Akhirnya kami pergi ke Rumah Kopi. Dahulu tempat ini disebut kebon karang karang karang karena halamannya penuh dengan karang. Kita ditemani oleh Ibu Inge yang dulu lahir dan besar di rumah ini. Bangunan warna putih yang tembok dan kayu-kayunya masih utuh ini tidak diketahui kapan dibangun. Konon jauh sebelum tahun 1800 an. Rumah ini miliki Marga Tan yang merupakan salah satu pembangun Pecinan Semarang.

Ibu Inge bercerita kalau opanya Tan Tiong Ie pendiri perusahaan kopi Margo Rejo. Perusahaan ini membuat dan memasarkan kopi. Tan Tiong Ie merupakan keturunan Tionghoa pertama di Jawa yang bisa mengekpor kopi ke negara lain. Hingga kini, perusahaan tersebut masih menjual kopi meski tidak sebanyak dahulu.
Kami masuk ke dalam rumah dan terpesona melihat furnitur-furnitur kayu yang umurnya ratusan tahun. Saya naksir sama Lian (pepatah) yang dipasang di dinding. Salah satunya berbunyi kalau diterjemahkan kira-kira begini: sebaik-baiknya anak kaya lebih baik anak pintar.

Rumah Kopi SemarangRombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Taman Sri Gunting yang ada di samping Gereja Blenduk. Setelah makan siang bersama, ada kuis berhadiah buku. Berhubung buku dari sponsor lebih banyak daripada jumlah peserta, semua kebagian. Tetap saja berebut menebak karena ingin lebih dahulu memilih buku. Lalu ada hadiah buku-buku tambahan dari sumbangan perorangan. Kejamnya, pertanyaannya seputar kapan kopdar Goodread di Jakarta. Lah, kita yang di daerah atau baru gabung kan ahistoris. Tapi lumayan pulang bisa bawa buku-buku gratisan termasuk Semarang citybooks yang ada di goodybag.