Liburan Bersama Para Kutu Buku

Sabtu kemarin, saya terpaksa mandi pagi lagi. Kali ini gara-gara mau pergi ke Semarang buat kumpul bareng teman-teman Goodreades dari Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Dari Jogja, saya berangkat dengan mobil sewaan bareng Daniel, Iyut (plus Petra putrinya), Natty, Kurnia, dan Mas Kus yang nyetir mobil.

Kemarin, rencananya kita mau citiwalk mulai jam 9 pagi di Kota Lama. Tapi, rutenya diubah. Kami janjian buat ketemuan di Kelenteng Sam Po Kong. Rombongan dari Jogja jadi yang pertama datang. Kami rada kecewa waktu sampai di sini. Untuk masuk ke kelentengnya, pengunjung harus bayar dua kali. Yang pertama, untuk masuk pelataran kelenteng. Klo yang itu sih masih bisa ditoleransi,tiap pengunjung cuma kena Rp 3.000. Trus setelah masuk halaman, ada loket lagi. Pengunjung harus bayar Rp 20.000 kalau mau ke kelentengnya. Males banget ga? Apalagi dulu kan gratis.

Akhirnya kami duduk-duduk di salah satu gazebo. Sambil bantuin Petra ngabisin camilan bekalnya. Rombongan dari kota lain trus nyusul satu-satu. Nggak ada satu pun dari kami yang masuk ke kelenteng. Kami cuma foto-foto narsis sambil berjemur di lapangan.

Abis itu, kami ditraktir sama Mas Tono makan siang di Restoran Semarang. Sebagai gantinya, kami rame-rame nyanyiin lagu selamat ulangtahun. Restoran yang dikelola sama sejarahwan Jongkie Tio ini nawarin menu peranakan yang jadul. Trus mereka punya interior yang unik. Saya suka bagian dinding yang penuh dengan foto-foto tempo dulu dan artikel-artikel koran tentang resto ini. Restoran ini saya masukan jadi salah satu lokasi di novel Para Pemuja Matahari lo.

Habis makan, kami pergi ke taman KB. Di sana, kami gelar tiker dan mulai tukeran cerita tentang kegiatan-kegiatan Komunitas Goodreads Indonesia. Sebelum ajang tukeran cerita, kami maksa Mas Tono sebagai wakil dari tuan rumah buat ngasih kata sambutan. Ternyata dia cuma bilang: Selamat Datang. Udah, gitu aja. Nggak pake basa-basi, kata-kata mutiara, atau apalah. Dia sendiri ngaku klo itu kata sambutan yang singkat, pendek, jelas dan jelek.

Habis itu, kami kenalan pakai games ngapalin nama. Aturannya begini: Saya mulai dari menyebutkan nama, makanan dan buku favorit. Nah, teman di kiri saya sebelum menyebutkan makanan dan buku favoritnya, harus mengulang perkenalan saya. Hal tadi dilakukan berulang-ulang, jadi orang yang ada di sebelah kiri harus menghapal nama banyak orang. Acara berlanjut dengan bagi-bagi doorprize, yang seperti biasa didominasi oleh buku. Kalo pengen dapet doorprize, kami harus nebak waktu seseorang cerita tentang sinopsis sebuah buku. Orang yang dapet doorprize gantian ngasih sinopsis yang harus ditebak orang lain. Seperti biasa, habis itu kami foto-foto.

Beberapa teman dari Semarang harus pulang karena pada punya acara lain. Rombongan kemudian dibagi jadi dua. Teman-teman dari kota lain pergi ke karoke, dan rombongan dari Jogja pergi dulu ke Books! Yeah, sejak dari Jogja kami dah ribut-ribut pengen ke sini.

Books penuh dengan buku (ya iyalah, namanya juga toko buku :P) impor. Ada banyak buku keren di sini yang harganya murah karena bekas. Pokoknya bikin ngiler deh. Apalagi kebanyakan kondisinya masih bagus. Cuma… buku-buku di sini penataannya rada ga keorganisir. Kami harus mantengin satu per satu rak buku. Baca satu per satu judul buku sebelum nentuin mana yang pengen dibeli. Pokoknya lain kali harus balik ke sini lagi buat berburu buku.

Sekitar jam 5, kami nyusul ke Nav buat karokean. Daniel langsung duduk deket mic buat nunggu giliran nyanyi. Kalau Kurnia langsung mojok dan nyari posisi buat tidur. Ruangan tempat karoke yang adem memang nyaman setelah berpanas-panas di luar. Kmrin seh janjiannya tema karokean kali ini adalah lagu-lagu dari grup vocal. Berhubungan pada kehabisan ide, akhirnya lagu yang dipilih nggak ada temanya.

Jam tujuh, kami pulang supaya nggak terlalu malam sampai Jogja. Rencananya kami mau makan di jalan. Di jalan kami nggak nemu tempat makan yang kayaknya enak. Kami sampai di daerah Magelang sekitar setengah sepuluhan malem dan warung-warung makan dah pada tutup. Akhirnya kami makan di warung Lamongan di pinggir jalan. Saking lapernya, kepala tu dah mulai berkunang-kunang. Pas mulai makan, menunya berasa enak banget. Nggak tau itu beneran enak atau gara-gara perut kami minta diisi ya?

Iklan

Don’t judge the food by it queue

Di jalan menuju kantor saya, ada warung sate kambing yang ramai sekali. Tiap kali berangkat ke kerja, saya selalu melihat parkiran di depannya penuh sampai ke jalan raya. Saking larisnya, warung itu selalu tutup sebelum jam makan siang.

Suatu hari, saya berangkat ke kantor terlalu pagi (masih jam 8 kurang maksudnya :P). Karena penasaran, saya iseng mampir sarapan di warung sate tersebut.  Saya memesan gule dengan asumsi lebih cepat disajikan daripada sate. Setelah menunggu lama, akhirnya gulai kambing yang saya pesan datang juga. Saya menghabiskan menu tadi dengan agak kecewa. Rasanya tidak sesuai dengan panjang antreannya. Sampai di kantor, saya memulai survei kecil pada teman-teman yang pernah mencoba makan di warung tersebut. Tidak ada satupun yang menyebut kalau masakan di sana enak. Aneh bukan?

Itu bukan kali pertama saya “tertipu” oleh antrean rumah makan. Dulu saya pernah penasaran dengan gudeg di sebuah gang. Saya dan teman saya datang ke warung gudeg tersebut sekitar pukul sebelas malam.  Kami batal makan karena malas melihat antreannya. Pembelinya selain memenuhi gang juga memanjang hingga puluhan meter di jalan raya. Beberapa hari kemudian, saya dan teman lain sengaja datang ke sana pukul delapan malam. Kami pikir, jika datang lebih awal, antreannya masih sedikit. Ternyata, waktu kami datang warungnya malah belum buka. Hanya ada seorang bapak dan ibu yang sedang menyiapkan api dan peralatan makan. Kami pergi ke rumah makan lain untuk makan malam sambil menunggu warung gudeg tadi buka. Saat kami kembali ke tempat tadi sekitar pukul sembilan, antreannya sudah panjang sekali. Karena tidak yakin akan sabar mengantre, kami memilih untuk pulang.

Akhirnya, kami kesampaian makan di sana beberapa hari kemudian. Kami bersama dua orang teman. Kebetulan malam itu hujan baru saja turun. Orang jadi malas datang ke warung lesehan.  Selain becek, atap terpal bongkar pasang warung tidak bisa melindungi pembelinya dari tetesan air hujan. Selain kami, malam itu hanya ada beberapa pembeli. Sehabis makan, saya dan dua orang teman sempat berdiskusi mengenai rasa dan panjangnya antrean saat hari biasa. Kami bertiga memberi rating dua dari empat bintang untuk gudeg itu. Rasanya standar sekali. Ada banyak gudeg lain di Jogja yang jauh lebih enak. Hanya satu orang teman yang berkata  gudeg tadi enak. Sayangnya, teman yang satu ini tidak valid sebagai juri lomba memasak. Ia hanya mengenal dua kategori makanan: enak dan enak sekali. Untuknya, besarnya porsi makanan lebih penting daripada rasanya.

Saya juga pernah penasaran sekali dengan gudeg ceker di depan SMA 1 Solo. Seorang teman yang hobi berwisata kuliner sering bercerita tentang betapa enaknya gudeg tadi. Kalau sedang kurang kerjaan, ia pergi ke Solo malam-malam hanya untuk makan gudeg! Katanya lagi, gudeg tadi hanya buka jam 12 malam dan selalu habis sebelum pukul empat pagi. Gimana nggak ngiler coba? Kebetulan, saya sedang ada acara di Solo. Saya mengajak beberapa teman untuk membuktikan cerita tentang gudeg tadi. Kami sengaja bergadang dan pergi ke tempat tadi waktu tengah malam. Ternyata, warung tadi baru buka sekitar jam satu. Kami lalu menunggu warung tadi buka sambil nongkrong di angkringan depan kampus UNY.

Kami kemudian kembali untuk makan gudek. Rasanya memang enak, tapi saya tidak akan mau lagi bergadang hanya untuk sekadar makan gudeg. Sebelum pulang, saya sempat manyun, di banner warug gudeg tadi ada tulisan: ia punya cabang di jalan dekat hotel. Dan cabang tadi buka jam 7 malam! Males banget nggak seh? Padahal besok kami harus bangun pagi untuk pulang!

Meskipun sering tertipu dengan antrean makanan. Saya tidak pernah kapok iseng berhenti di warung makan yang parkirannya penuh. Entahlah, sepertinya rumah makan yang ramai selalu menggoda untuk dicoba. Beberapa hari yang lalu misalnya, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berhenti di sebuah warung bakmi jawa hanya karena melihat kursinya penuh pengunjung. Saya lupa, bakmi jawa bukan makanan yang tepat dipesan saat kelaparan. Saya hampir terharu saat seorang pelayan mengantarkan bakmi pesanan saya. Bayangkan! Lebih dari satu jam saya menunggu. Bakmi jawa tadi enak. Rasa telur dan bumbunya sangat menyatu di kuahnya. Tapi yaa… nyiksa nunggunya itu loo.