Suatu Pagi di Kota Tua

Waktu turun dari busway, saya dan Fatur langsung melihat ke atas dengan agak heran. Ya, pagi itu langitnya biru. Hal yang jarang kami lihat di Jakarta. Mungkin karena malam sebelumnya hujan turun dengan deras? Jadi, debu dan polusi yang biasanya bikin langit Jakarta selalu berwarna kelabu jatuh ke bumi.

Kami lalu jalan kaki menyusuri paving block ke arah utara. Di kiri dan kanan jalan, berderet tenda-tenda pelukis dan penjual barang-barang kerajinan. Di belakang mereka, menjulang jajaran gedung-gedung bertingkat kuno dengan jendela-jendela dan pintu-pintu besar berterali. Tampaknya jauh lebih tertata daripada terakhir saya lihat tahun 2008 lalu.

Bangunan tadi mengingatkan saya pada beberapa buku yang pernah saya baca. Konon, dulu Batavia merupakan kota dengan gedung-gedung indah sampai dijuluki Ratu Asia oleh orang-orang Eropa. Kota ini dulu dibangun tahun 1619 oleh Jan Pietersz Coen dengan tenaga kerja budak dan tawanan perang. Kabarnya, banyak pekerja yang tewas oleh malaria. Ironisnya, para pekerja ini meninggal tanpa pernah tercatat namanya dalam sejarah. Hanya nama Sang Gubernur Jendral yang tertulis di buku-buku dan dihafal oleh anak-anak sekolah.

Kami cuma lewat di depan Museum Wayang. Seingat saya, bangunan yang dibangun tahun 1912 ini beberapa tahun lalu warnanya oranye. Tujuan kami hari ini hunting foto sambil jalan-jalan dengan rute dari Taman Fatahillah sampai ke Sunda Kelapa.

Waktu sarapan di pinggir jalan, ada serombongan orang melewati kami. Isinya seorang model dengan periasnya diikuti fotografer dan beberapa asisten yang membawakan lampu dan peralatan fotografi. Sepertinya Kota Tua merupakan salah satu obyek latar belakang foto paling populer di Jakarta. Tiap kali ke sana, saya hampir selalu bertemu dengan orang yang sedang melakukan sesi pemotretan.
Kami foto-foto dengan latar Museum Sejarah Jakarta dari Taman Fatahillah. Ironisnya, tempat tadi nggak mirip taman. Sangat gersang dan panas. Kayaknya lebih menyenangkan kalau ditanami pohon-pohon. Jadi teduh buat jalan-jalan. Fatur asyik mengatur tripod, seperti biasa, untuk memoto dirinya sendiri dengan latar musium 🙂

Saya lebih tertarik untuk memoto sepeda-sepeda yang disewakan. Warnanya lucu-lucu, ada pink, hijau, biru, putih, dan ungu. Uniknya lagi, tiap sepeda dilengkapi dengan dua buah topi dengan warna sama seperti sepedanya. Biasanya, satu topi perempuan dengan hiasan pita atau bunga, dan satu topi untuk laki-laki. Sepertinya para pemilik sepeda tahu kalau orang Indonesia nggak suka panas-panas karena takut hitam.

Kami kemudian berjalan kaki menuju pelabuhan Sunda Kelapa. Kami mampir bentar buat moto (kalo Fatur sih foto narsis dengan bantuan tripodnya) di jembatan Kota Intan. Bangunan ini waktu dulu masih berfungsi, daun jembatannya akan naik jika ada perahu-perahu dagang lewat. Kalau malam, kawasan ini kelihatan lebih keren karena sungainya yang keruh tertutup warna malam. Dulu, saya pernah menikmati hal tadi waktu menginep di Hotel Batavia yang letaknya di seberang jembatan. Waktu malam, saya bengong di depan jendela untuk ngeliatin barisan lampu yang mirip kaya berlian. Gedung-gedung di sepanjang Kali Besar juga terlihat lebih anggun saat malam.
Sepertinya seru juga kalau sungainya dibersihkan lalu dipakai untuk wisata air. Katanya, jaman VOC dulu, Kali Besar airnya jernih. Selain kapal-kapal dagang yang sibuk hilir mudik, sungai juga dipakai penduduk setempat untuk mandi.

Bandingkan dengan kondisi Sungai Ciliwung saat ini. Bau comberan yang nggak enak banget! Mana air sungainya berwarna hitam kelam karena terlalu banyak sampah dibuang ke sungai. Kebayang nggak sih, kalau air ini yang jadi sumber air di PDAM Jakarta? Setelah diberi amonium sulfat untuk menjernihkan airnya. Dan dicampur dengan kaporit untuk matiin bakteri.

Serem nggak sih kalau minum air yang diolah dari limbah seperti itu? Tapi, di sisi lain, kalau yang kita minum air kemasan yang diambil dari mata air, itu nggak ramah buat banyak petani. Karena mata airnya dikuasai sama perusahaan air minum, petani-petani ini kesulitan mendapat air untuk sawahnya. Nggak jarang muncul konflik karena rebutan air.

Kami lalu jalan kaki menuju Menara Syahbandar yang dulu dibangun tahun 1640 sebagai menara peninjau. Gunanya untuk mengawasi Pelabuhan Sunda kelapa di sebelah utara dan Kota Batavia di sebelah selatan. Berhubung capek karena jalan kaki di cuaca yang panas sekali, kami numpang ngadem sambil duduk-duduk di kantor Musium Bahari. Di sana, kami ngobrol sama Pak Isa Patiraja yang kerja di museum. Beliau cerita tentang sejarah seputaran kawasan Kali Besar dan daerah Pasar Ikan. Kami bahkan dianterin naik ke atas menara. Padahal, hari Senin seharusnya museum libur. Horee…

Habis itu, kami lanjut jalan kaki ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Berhubung dah jam 11 an. Suasananya nggak terlalu ramai lagi. Hanya ada sedikit orang yang sedang menurunkan muatan dari kapal. Saya nggak betah banget deh lama-lama di tempat ini. Panasnya nggak nguatin juga debu beterbangan di mana-mana. Kayaknya kami kesiangan deh jalan-jalan di tempat ini.

Iklan

Para Pemuja Matahari

Saat mendengar judulnya, orang sering bertanya: “Ini novel tentang Suku Aztec, Maya, atau Inca ya?” Bukaann… Ini novel tentang remaja yang keliling Jawa sendirian. Kenapa judulnya Para Pemuja Matahari? Baca deh, ada kok di akhir novelnya 😛

Ceritanya, ada seorang mahasiswi berumur 19 tahun namanya Naia. Dia pamit untuk pergi ke tempat sepupunya di Jakarta. Saat seharusnya pulang, Naia pergi untuk mengelilingi Jawa. Dan mulailah dia jalan-jalan sendirian ke tempat-tempat yang dulu cuma pernah ia baca di koran dan majalah atau lihat di TV.

Waktu di Baduy, dia sempat kaget karena masyarakat sana beda banget sama buku-buku yang pernah ia baca. Saat Naia melanjutkan perjalanan ke Gunung Salak, dia bergabung dengan serombongan mahasiswa dan hilang.

Naia sempat hampir pulang, tapi ia merasa perjalanannya belum seberapa dan melanjutkan pergi ke Segara Anakan. Di tempat yang ada di Laguna Nusakambangan ini, ia bertemu dengan seorang nelayan yang masih sangat muda. Nelayan tadi harus putus sekolah untuk mencari nafkah buat keluarganya.

Perjalanannya kemudian berlanjut ke Semarang. Naia kemudian menyebrang ke Karimun Jawa dan bersenang-senang dengan seorang turis dari Inggris. Di penginapan, ia bertemu dengan serombongan turis lokal dan bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen.

Nah, itu tadi sedikit gambaran ceritanya. Kalau ingin tahu seperti apa cerita lengkapnya juga ilustrasi laiinya, baca saja di novelnya. Ayo cari di rak novel di toko buku terdekat. Atau, bisa dipesan lewat Lrwahyudyanti@yahoo.com atau 08170420500. Harganya didiskon dari Rp. 39.500 jadi Rp.30.000 (belum termasuk ongkos kirim).

“Dengan tutur kata yang sederhana, pengalaman perjalanan penulis dengan catatan sejarah dan kebudayaan setempat mampu membuat pembaca terhanyut..”Kioen Moe, General Manager Program and Development Metro TV

“Membaca novel ini membuat saya iri! Iri pada Naia yang udah keliling Jawa dan menikmati budaya plus pemandangan yang eksotis. Kapan ya bisa jalan-jalan kayak dia?” (Ken Terate, penulis teenlit).