Read A Loud di TK Pembina

Bulan lalu, Mbak Kantri mengirim pesan. Ia bertanya apakah komunitas Goodreads Indonesia wilayah Jogja membacakan buku di sekolah. Mbak Kantri kemudian bercerita. Ia sedang mencari teman untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Selama ini, mendongeng untuk anak-anak biasanya hanya mengandalkan lisan. Ia ingin ada kegiatan membacakan buku dengan menarik, supaya anak-anak menyukai buku. Ibu yang dulu pernah mengajar di Lazuardi Global Islamic School ini percaya kalau anak usia dini perbendaharaan katanya terbatas. Mereka membutuhkan benda yang nyata atau peraga visual untuk memahami apa yang diceritakan.

Membaca bukuObrolan tersebut berlanjut di Ma-Buk, acara bulanan GRI Jogja yang isinya makan-makan sembari bertukar cerita seputar buku. Mbak Kantri menawarkan untuk memulai kegiatan baca buku tersebut di TK Pembina, Umbulharjo. Ia berharap supaya acara tersebut menjadi kegiatan rutin.

Kami kemudian bertukar cerita tentang budaya membaca di Indonesia. Buku baru dianggap sebagai hal penting bagi segelintir orang. Banyak yang berpendapat gemar membaca itu bukan hal yang perlu. Ironisnya, kadang pendapat tadi muncul dari orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan. Tahun lalu, saya pernah punya kegiatan membacakan buku di sebuah penitipan anak. Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola penitipan anak tersebut menghentikan kegiatan itu. Alasannya, membaca buku tidak ada di kurikulum.

Mendongeng untuk anak
Tidak sekali dua kali saya menemui anak-anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran. Orangtua masih berpikir hal tersebut membuang waktu. Mbak Dewi bercerita jika di sekolah anaknya ada buku-buku cerita untuk dibaca sebagai selingan. Berbeda dengan jaman ia kecil atau mungkin sekolah lain. Guru akan menyita jika ada yang ketahuan membawa buku cerita ke sekolah. Padahal, buku itu sumber ilmu pengetahuan. Membiasakan menyukai buku-buku berat harus dimulai dari menyukai buku-buku yang sederhana dahulu. Dan hal tersebut ditanamkan sejak kecil.
Akhirnya, kami memulai kegiatan membacakan buku tanggal 15 September lalu. Sebenarnya, ada 14 orang yang konfirmasi datang. Sayang, kami lupa mengingatkan mereka beberapa hari sebelum acara. Ada 7 orang yang datang untuk membacakan buku. Karena beberapa relawan datang terlambat, kami memulainya di satu kelas saja. Supaya masing-masing relawan tidak kerepotan menghadapi terlalu banyak anak. Kami tidak menyangka jika anak-anak di sana antusias dengan buku.

Pendidikan usia dini
Seusai membacakan buku, beberapa teman berpikir sepertinya kegiatan ini perlu dilanjutkan. Hal tersebut akan dibahas saat Ma-Buk akhir bulan ini. Rencananya, kami akan memanen sayuran organik di Taman Bacaan Mata Aksara. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 13,5. Ada yang tertarik ikut? Jika ada lebih banyak orang, kegiatan ini bisa berjalan rutin. Hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com untuk agenda berikutnya. Atau, silahkan bergabung di grup https://www.facebook.com/groups/179962022020876/ untuk info Ma-Buk berikutnya: Ayo berteman sambil merayakan buku 🙂

Hari Minggu di Rumah Hebat Indonesia

Minggu kemarin saya pergi ke Solo untuk acara Rumah Hebat Indonesia (RHI). RHI itu semacam komunitas yang berlokasi di daerah Banjarsari, Surakarta. Sejak tahun 2013 lalu, sekumpulan mahasiswa UNS memanfaatkan bangunan yang awalnya kantor Autism Care Indonesia untuk sejumlah kegiatan anak. Ada sekitar 50an relawan yang sebagian besar mahasiswa UNS bergabung di komunitas ini. Tiap sore, mereka bergantian menemani anak-anak SD sampai SMP di sekitar rumah RHI untuk belajar dan punya karya. Kegiatannya mulai dari les pelajaran, Bahasa Inggris, sampai kelas kreatif seperti perkusi, teater, dan melukis. Keren banget.

Rumah Hebat Indonesia

Hari minggu lalu RHI kedatangan tamu dari BEM Unnes dan BEM UNS. Di sela-sela kunjungan tadi, mereka mengadakan sesi berbagi rutin yang namanya Mengejar Inspirasi. Kali ini, ada 3 pembicara yang bercerita tentang kegiatan sosialnya. Saya kebagian menutup acara berbagi tadi. Jujur saja, saya sempat bingung juga mau cerita apa. Ya, saya memang punya banyak kegiatan. Tapi bisa dibilang, dibanding teman-teman di RHI saya nggak terlalu konsisten.

Jadi, saya mulai dengan pengakuan dosa. Saya suka dengan kegiatan seperti mengajak anak-anak membaca. Saya percaya kalau kebiasaan membaca itu harus ditanamkan sejak kecil. Dulu, saya pernah melakukan perpustakaan keliling di beberapa lokasi. Juga membacakan buku buat anak-anak di  sebuah tempat penitipan anak. Berhubung kegiatan-kegiatan tadi membutuhkan banyak konsistensi dan energi. Akhirnya berhenti di tengah jalan.
Aslinya, saya ingin punya sekolah alam. Saya suka banget bikin film dokumenter. Saya ingin di sekolah saya nanti ada film-film buatan saya tentang cara hidup orang-orang di Indonesia. Tapi, saya tidak tahu kapan bisa punya uang, waktu luang, atau cukup pintar untuk mewujudkan hal tadi. Daripada menunggu, lebih baik saya melakukan sesuatu yang saya bisa dulu. Salah satunya lewat menulis di blog.

Saya menulis karena saya peduli. Banyak orang di sekeliling saya terlalu sibuk membayar tagihan. Kadang mereka lupa hal yang mereka lakukan merugikan orang lain. Terlalu banyak orang bependapat seharusnya pemerintah ini dan itu. Sampai kapan kita akan menunggu pemerintah memperbaiki segalanya? Bukankah lebih baik kita melakukan sesuatu? Tiap orang punya cara masing-masing. Kita hanya perlu lebih banyak menggunakan otak dan peduli.