Pekerjaan Impian

Seorang kenalan bercerita jika ia bosan dengan pekerjaannya. Katanya, pekerjaan itu tidak sesuai dengan bakatnya. Gajinya juga tidak memadai. Ia kemudian bertanya bagaimana cara mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan. Maksudnya, yang sesuai dengan hobinya sekaligus mendapat banyak uang.

Saya sempat bingung menjawabnya. Awalnya sempat ingin jujur berkata: Memang ada pekerjaan yang gampang, bikin senang, dan dibayar mahal? Kalau pun ada, itu butuh proses bertahun-tahun. Dan, tidak semua orang rela berkorban untuk mencapai hal tadi. Saya kemudian balas bertanya ke teman tadi. Selama ini, sejauh apa usaha yang ia lakukan supaya orang tahu jika ia ahli di suatu bidang? Sudahkah ia memiliki portofolio dan menawarkan jasanya ke orang-orang yang mungkin akan membayarnya? Dan, ia menjawab belum untuk semua pertanyaan saya.

Pembuat Film DokumenterCerita sejenis sering sekali saya dengar atau baca di grup sebuah komunitas. Ada saja yang bertanya, bagaimana caranya mendapat uang dari ngeblog, atau membuat film. Dengan catatan: cara cepat dan mudah. Sayangnya, selama ini saya belum pernah menemukan cara instan untuk dibayar melakukan hal yang seseorang suka. Semua kenalan saya, mulai programmer, komikus, pembuat film, sampai blogger butuh waktu bertahun-tahun untuk dicari klien.

Banyak yang tadinya pekerja kantoran dan hampir menyerah untuk bekerja lepas karena awal karirnya seret pemasukan. Tidak sedikit juga rekan saya yang keluar dari pekerjaannya untuk meraih karir impian dan terpaksa kembali ke pekerjaan yang menawarkan gaji bulanan. Yang meski tidak sesuai dengan keinginan mereka, menawarkan uang untuk membayar cicilan.

Ngobrol-ngobrol tentang proses, saya jadi ingat cerita Ika Koentjoro. Seorang ibu rumah tangga yang memutuskan menjadikan ngeblog sebagai profesi. Mbak Ika ini mulai ngeblog sejak tahun 2011. Awalnya ia hanya iseng latihan menulis. Lama-lama, ia berfikir bagaimana cara supaya kegiatannya ini tidak sekadar membuang waktu tapi juga menghasilkan uang. Mulailah ia belajar mengenai cara menarik orang supaya membaca blognya. Semakin banyak pengunjung artinya semakin tinggi kemungkinan ia dibayar untuk menulis reviuw. Setelah memutuskan untuk mendapat pendapatan dari ngeblog, Mbak Ika menggunakan domain berbayar. Ia juga lebih rajin menulis.

Selain itu, Mbak Ika sering mengikuti lomba. Katanya, ikut lomba itu semi untung-untungan. Mungkin dari 40 an lomba yang ia ikuti, hanya beberapa yang ia menangkan. Ada banyak faktor seseorang menang lomba. Mulai dari selera juri atau saingan lain. Setidaknya, tiap ikut lomba, hal tadi menarik pengunjung untuk membaca. Kalau menang lomba, akan meningkatkan namanya di kalangan blogger. Mbak Ika bilang, ia butuh waktu bertahun-tahun untuk selalu mendapat penghasilan dari hobinya tadi. Tidak ada yang namanya hobi menjadi uang dalam waktu singkat.

Internet dan Buku untuk Sanggar Belajar Borobudur

Saya punya daftar Resolusi 2012 yang panjang. Ada satu yang sebenarnya keinginan lama yang dulu sempat saya takut untuk penuhi. Bikin sanggar belajar di Desa Borobudur. Ya, sebuah ruang publik yang lengkap dengan perpustakaan, dan internet tempat penduduk di Desa Borobudur bisa tahu tentang dunia luar.

Cerita ini dimulai sekitar tahun 2002 lalu. Waktu itu, saya sempat tinggal di dekat Candi Borobudur. Dulu, saya dan teman-teman sering bikin les sore untuk anak-anak SD di sore hari. Sesekali, kami jalan-jalan ke candi, sawah, atau bukit bareng anak-anak kecil di sana sambil bacain buku-buku cerita untuk mereka. Entah kenapa, saya suka kawasan di seputaran Candi Borobudur. Saya berharap suatu saat bisa bikin sekolah informal di sana.

Tapi hidup terus berjalan. Saya harus nglanjutin kuliah, kerja, sibuk ngejar beasiswa, dan mulai melupakan mimpi tadi. Selain itu, dulu sempat berpikir kalau harus punya banyak uang kalau ingin mimpi tadi terwujud. Dan, sepertinya hal tadi jauh dari jangkauan saya.

Sekitar tahun 2009, saat punya waktu luang, saya jadi relawan di beberapa sanggar belajar. Lama-lama saya teringat mimpi yang dulu belum pernah terwujud. Keinginan tadi semakin kuat waktu nonton acara Waisak tahun 2010. Saya, bareng Top x dan Lio waktu itu salah baca jadwal perayaan Waisak. Karena kebingungan, kami berputar-putar Desa Borobudur untuk nyari info tentang perayaannya. Kami sempat berheni sebentar untuk melihat-lihat sawah-sawah yang dikelilingi perbukitan. Dan, saya jadi mulai membayangkan, sepertinya menyenangkan punya sekolah di sini.


Saya kemudian mulai menghubungi kenalan-kenalan yang pernah punya aktivitas di seputaran Borobudur untuk mencari informasi. Ada beberapa tidak membalas pertanyaan saya. Mungkin mereka terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk meladeni saya. Akhirnya saya bertemu dengan Pak Kun, dosen sebuah PTS di Jogja, yang pernah menjadi fasilitator sebuah kegiatan di Borobudur. Dari Pak Kun, saya mendengar cerita tentang ironi di Desa Borobudur. Dia bilang tentang Candi Borobudur yang dikunjungi 2,5 juta turis tiap tahunnya tapi masyarakat di sekitarnya miskin. Mereka yang rata-rata hidup sebagai petani, kebanyakan tidak mendapatkan keuntungan dari pariwisata. Malah, tiap tahun ada saja penduduk yang kehilangan tanah sumber mata pencaharian mereka karena banyak pendatang yang tertarik untuk membelinya.

Waktu saya cerita tentang Desa Borobudur tadi ke kantor, rekan-rekan saya mendukung supaya ada kegiatan di sana dengan nama Javlec Junior. Karena, kami belum mendapat donatur, programnya bisa dimulai dari membuat perpustakaan keliling untuk anak yang tidak memakan banyak biaya.

Berhubung saya butuh banyak teman untuk menjalankan perpustakaan tadi, saya mengajak teman-teman dari Komunitas Canting yang memang punya kegiatan sejenis di tempat lain. Ajakan saya untuk mengadakan perpustakaan keliling untuk anak di Desa Borobudur ternyata juga disambut baik oleh Anta dari Perpustakaan Guru Bangsa. Ia yang menjadi perantara kami untuk meminjam mobil perpustakaan keliling. Berhubung buku-buku perpustakaan keliling tadi kebanyakan bukan buku untuk anak, kami juga meminjam buku dari perpustakaan anak Yayasan SATUNAMA.

Kegiatan perpustakaan keliling kemudian berjalan dengan bantuan dari banyak teman. Ada yang menyumbang waktu untuk jadi relawan, ada juga yang memberikan donasi berupa buku dan uang untuk operasional perpustakaan.

http://telkomspeedy.com”
http://telkomspeedy.com



Lama-kelamaan, banyak penduduk di Desa Borobudur menyambut baik perpustakaan ini. Mulai muncul ide untuk mengubahnya menjadi perpustakaan permanen supaya lebih banyak warga yang bisa mengakses buku, dan ada lebih banyak kegiatan. Kami mulai sering ngobrol tentang kemungkinan mengubah supaya perpustakaannya bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak kalangan.

Masalah terbesar di Desa Borobudur adalah warganya kebanyakan petani miskin. Rata-rata kepemilikan lahan mereka sekitar seribu meter persegi. Apabila tanah tadi ditanami palawija seperti ketela, cabai, dan pepaya, pendapatannya belum cukup layak untuk menafkahi sebuah keluarga yang berisi empat atau lima orang.
Masalah tadi, akan terpecahkan jika penduduk memiliki banyak informasi tentang alternatif mata pencahariaan. Mereka mungkin bisa memanfaatkan peluang dari pariwisata jika mendapat banyak info tentang dunia di luar Desa Borobudur. Dan, kami percaya jika menyediakan sebuah sanggar belajar yang berisi buku, internet, dan berbagai kegiatan pelatihan seputar peluang usaha merupakan jawaban dari masalah tadi. Tahun 2012 ini, kami sedang mengupayakan supaya hal tadi terwujud.

Teman-teman bisa membantu kami mempercepat berdirinya sanggar belajar ini. Saat ini, warga Dusun Maitan menyediakan sebuah bangunan untuk diubah menjadi sanggar belajar. Teman-teman bisa membantu mulai dari menyumbang buku anak atau buku pengetahuan umum dan ketrampilan (seperti kesehatan, memasak, dan menjahit). Atau jadi relawan saat ada kegiatan belajar dan bermain. Hubungi saya di email Lrwahyudyanti[at]yahoo.com untuk info lebih lanjut.

Satu hari Menonton Para Games di Solo

Hari Minggu, 18 Desember kemarin, rombongan dari Komunitas Blogger Jogja pergi beramai-ramai ke Solo. Yeah, kami mau jalan bareng sembari meliput ASEAN Para Games (APG). Buat yang belum tahu, APG itu kompetisi olahraga dua tahunan khusus untuk atlet difabel (saya lebih suka kata ini daripada frase “penyandang cacat” yang kedengarannya ngerendahin). Acara yang diikuti oleh sebelas negara anggota ASEAN ini diadakan setelah SEA Games di negara yang sama. Kali ini, APG diadakan di Kota Solo dari tanggal 12 hingga 22 Desember 2011.

Kami sampai di Stadion Manahan yang jadi salah satu lokasi pertandingan pukul 10 lebih. Teman-teman, seperti biasa, sebelum nyari lokasi heboh foto-foto dulu. Habis itu, kami nonton pertandingan atletik. Ternyata, kami datang kesiangan. Pertandingannya dah mulai dari tadi. Sekarang tinggal buntutnya, dan banyak penonton yang udah pada pulang.

Waktu pertandingan kedua, saya dan beberapa teman memutuskan untuk melihat pertandingan lain. Akhirnya kami milih untuk lihat pertandingan angkat beban yang lokasinya dekat dengan Stadiun Manahan. Kami sempat muter-muter untuk nyari jalan keluar. Berhubung jalan tembusnya ditutup, dan terlalu jauh kalau jalan kaki ke pintu depan stadiun, kami milih untuk loncat lewat jendela bangunan mirip gardu ronda. 😀

Kami sampai di gedung pertandingan sekitar jam dua lebih. Kursi di sana lumayan penuh. Uniknya, di sini kursi roda bertebaran di mana-mana. Sambil nunggu pertandingan yang dimulai jam 3, saya ngobrol sama Arawan, alet putri dari Thailand. Mbaknya ramah banget, meski dia bilang Bahasa Inggrisnya nggak bagus, dia berusaha ngejawab pertanyaan-pertanyaan saya. Yah, meski banyak dijawab dengan senyuman karena keterbatasan Bahasa Inggrisnya. Setidaknya yang bisa saya tangkap kira-kira begini: Arawan kenal dengan olahraga angkat besi sekitar delapan tahun yang lalu. Dia tertarik dengan olahraga ini karena selain dapet banyak teman, dia juga merasa lebih kuat. Selama ini, karena dia nggak bisa jalan sejak lahir, orang-orang di sekelilingnya nganggep dia lemah.

Waktu Arawan cerita tentang kerjaannya yang jadi wiraswasta karena susah buat kerja di bidang formal, saya teringat cerita teman yang tuna netra. Namanya Melisa. Dia pernah mengalami kesulitan nyari sekolah karena tuna netra. Sekolah-sekolah umum pada nggak mau nerima murid yang beda. Mamanya kekeuh nggak mau masukin Melisa ke SLB karena takut nanti anaknya akan berakhir jadi tukang pijat atau pembuat kerajinan tangan. Mamanya Melisa sampai nemuin satu per satu kepala sekolah. Tanya, apakah mereka mau nerima anaknya. Akhirnya, Melisa diterima di sebuah sekolah umum. Masalah nggak selesai di sini, orang tua murid nggak mau anaknya sekelas sama seorang tuna netra. Dia dituduh memperlambat proses belajar-mengajar. Meski akhirnya nilai Melisa diatas rata-rata teman sekelasnya (yeah dia berusaha keras untuk itu), tetep aja ada khekawatiran dari orangtua murid.

Saya pernah ngelihat langsung Melisa didiskriminasi. Karena Bahasa Inggris Melisa bagus, saya minta tolong untuk menerjemahkan sebuah laporan. Saat tahu penerjemahnya tuna netra, seorang rekan sekantor saya langsung nggak percaya kemampuannya. Tanpa melihat latar belakang pekerjaan dan hasil terjemahan Melisa, rekan kantor tadi langsung menghakimi pasti bakal ada banyak kesalahan. Tega ya? Dan kejadian seperti ini sepertinya hal yang umum terjadi. Ada banyak difabel yang langsung dianggap lemah dan tidak kompeten melakukan sesuatu karena mereka engga punya anggota tubuh yang lengkap. Picik banget kan?

Selama nunggu pertandingan, saya juga sempat ngobrol dengan Zulkifly, ketua National Paralympic Committee (yayasan untuk atlet difabel) di Sumatera Utara. Bapak yang dulu mantan atlet panahan ini cerita kalau acara-acara semacam Para Games ini bikin banyak difabel jadi kenal dunia luar. Dia yang tangan kirinya nggak utuh jadi bisa berkunjung ke banyak tempat di Indonesia dan pernah juga ke Korea karena jadi atlet olahraga panahan. Kata Pak Zulkifly, ada banyak orang difabel yang kebanyakan tinggal di rumah karena selain mereka punya mobilitas terbatas, keluarganya banyak yang ngelarang mereka keluar-keluar karena takut kalau kejadian apa-apa. Mereka dianggap lebih lemah.

Pak Zulkifli juga cerita kalau nggak mudah untuk ngajak seorang difabel untuk jadi atlet. Banyak yang minder ketemu dengan orang-orang yang “normal”. Mereka harus punya motivasi sendiri, seperti pengen punya banyak teman, pengen lihat dunia, supaya sungguh-sungguh berlatih. Tapi, setelah seorang difabel menjadi atlet apalagi memenangkan sebuah pertandingan, dia akan menjadi lebih percaya diri.

Pas jam 3, acara dimulai. Atlet-atlet angkat beban pada baris di depan penonton. Saya hampir nangis waktu lihat sebagian besar atlet ini pakai kursi roda. Tiba-tiba saya merasa beruntung, punya dua kaki yang lengkap yang bisa bawa saya jalan-jalan ke tempat sulit.

Saya salut sama mereka yang masih tetap bertanding dan punya prestasi. Padahal untuk naik ke panggung aja, mereka harus pakai kursi roda dan didorong orang lain. Tiap kali ada seorang atlet maju, saya tepuk tangan keras-keras. Saya nggak peduli mereka berhasil angkat beban atau gagal, saya tetap tepuk tangan. Bagi saya, mereka bisa ada di panggung tadi untuk bertanding sudah merupakan hal yang hebat.

Mimpi-mimpi Arietta

Sudah setengah jam Arietta duduk di depan laptop mungilnya. Ia bingung. Guru Bahasa Indonesianya memberikan tugas mengarang dengan tema “Siapa aku? Dan apa yang akan aku lakukan di masa yang akan datang.” Hanya ada satu paragraf pendek terketik di monitor.

Namaku Arietta Tambunan. Bulan Januari nanti, aku berusia 17 tahun. Setelah lulus SMA nanti, aku ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada. Aku ingin mengambil jurusan kedokteran supaya nanti bisa menjadi dokter. Kenapa? Karena ayahku seorang dokter dan direktur sebuah rumah sakit. Ayah ingin aku dan kakakku meneruskan profesinya. Saat ini kakak bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI dan sedang menyelesaikan skripsinya.

Cuma segini? Pendek dan jelek banget. Protes Arietta dalam hati. Bu Indri pasti mikir lamaa…. banget untuk ngasih nilai ke karangan ini. Kayaknya, nilai lima saja sangat, sangat, sangat, belum layak. Aduhhh… kenapa sih harus ada tugas mengarang.

Arietta kemudian memasukkan lagu-lagu baru ke play list Musicmatch-nya. Dalam hati ia bertanya: Apa benar aku ingin menjadi dokter? Sepertinya itu keinginan orangtuaku.

Arietta melamun. Ia ingat Ayahnya yang dokter dan direktur sebuah rumah sakit bersalin. Ayah sangat ingin semua anaknya meneruskan pekerjaannya. Oh iya, aku bisa menambah cerita tentang awal keinginanku menjadi dokter.

Ayahku seorang dokter. Ia juga direktur rumah sakit di daerah Tebet. Waktu aku masih kecil, ayah sering mengajakku pergi ke rumah sakitnya. Di sana aku menemani Ayah membaca-baca berkas pasiennya. Aku juga sering berkeliling. Melihat-lihat banyak hal. Mulai dari ibu-ibu hamil yang diantar suaminya sampai ibu-ibu yang didorong dengan tempat tidur beroda ke ruang operasi.

Arietta membaca ulang rangkaian kata yang ia hasilkan. Paragraf ini kelihatan aneh! Kayaknya nggak terlalu nyambung. Bagian mana ya yang harus diubah? Aduuhhh… Arietta mengeluh dalam hati. Ia jarang sekali menulis, nyaris tidak pernah malah. Sekarang ia kebingungan saat harus menulis.

Arietta kemudian teringat kata-kata Bu Indri. Ibu ini selain mengajar Bahasa Indonesia juga menulis. Tulisannya bermacam-macam dan tersebar di banyak koran, majalah, dan jurnal. Kebanyakan tentang kebudayaan, pendidikan, hingga cerpen. Bu Indri selalu berkata, jika ingin menulis, tulis apa saja yang ada dikepalamu. Jangan berfikir tulisan itu jelek. Tulis saja. Curahkan semuannya. Nanti setelah selesai, baru baca ulang tulisan tadi dan perbaiki. Kepandaian mengarang itu tidak sekali jadi. Orang harus banyak berlatih untuk menjadi ahli.

Arietta kembali ke karangannya. Ia membuat karangan baru.

Namaku Arietta Tambunan. Aku anak terakhir dari dua bersaudara. Aku tinggal bersama orangtua dan kakak laki-lakiku di sebuah perumahan mewah di Permata Hijau. Aku dan kakakku sangat beruntung karena memiliki seorang Ayah yang bekerja sebagai dokter sekaligus direktur sebuah rumah sakit bersalin.

Rumah sakit bersalin milik Ayah sangat ramai dikunjungi orang sehingga Ayah mendapat banyak uang. Ayah ingin suatu hari nanti, kakak dan aku menggantikannya. Saat ini, kakaku bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI. Ayah juga ingin dua tahun lagi aku memilih jurusan Kedokteran Umum.

Awalnya, aku tidak keberatan. Sepertinya menjadi dokter pekerjaan yang sangat bergengsi di mata masyarakat. Dan aku rasa, aku cukup mampu untuk masuk di jurusan Kedokteran. Aku masuk di kelas aksel dan nilaiku selalu masuk lima besar.

Tapi, kadang aku sering ragu. Apa benar aku ingin menjadi dokter? Waktu aku kecil, aku sering diajak Ayah ke kantornya. Aku selalu kagum melihat Ayah. Ia terlihat lebih keren dengan jubah putihnya. Perawat, asisten dokter, dan semua orang di rumah sakit selalu tampak hormat dan segan jika ayah lewat.

Arietta membaca karangannya, tiba-tiba tangannya ingin mengganti beberapa kalimat yang kelihatan janggal. Bahasanya juga aneh. Tapi ia teringat nasihat Bu Indri. “Tulis apa saja yang ada di otakmu. Mengedit itu bagian terakhir jika tulisan sudah jadi. Jika sebentar-sebentar kamu menganti kalimat karena rasanya ada yang aneh, akan memakan waktu. Kamu bisa lupa apa yang ada di benakmu.”

Tapi kadang aku ingin menjadi seorang arkeolog. Ya. Aku ingin menjadi peneliti yang menggali-gali peninggalan masa lampau. Keinginan ini akibat aku menonton film Indiana Jones. Awalnya, waktu SMP, aku membaca komik Yu Asagiri. Ceritanya tentang petualangan seorang anak perempuan Jepang di pelosok Amerika Latin. Ia memiliki medali bergambar naga yang konon merupakan kunci dari harta karun Suku Indian Maya. Aku sangat terpesona dengan komik itu. Aku bahkan pernah bermimpi menjadi tokoh utama dalam komik tadi. Di belakang komiknya, Yu Asagiri berkata kalau ia terinspirasi dari film Indiana Jones.

Aku kemudian menyewa semua VCD Indiana Jones. Keren Sekali. Ceritanya tentang Indiana Jones, seorang dosen arkeologi tampan yang berkeliling banyak tempat. Mulai dari Mesir, pedalaman India, hingga Benua Asia untuk mengumpulkan benda-benda dari masa lampau. Aku ingin sekali seperti Indy. Bertualang ke banyak tempat terpencil yang indah.

Selama bertahun-tahun, keinginan itu terpendam. Hingga akhirnya aku sadar. Pekerjaan menjadi arkeolog tidak seperti komik dan film yang aku baca atau tonton. Kebanyakan arkeolog menghabiskan waktunya dengan penelitian di perpustakaan. Dan, aku akan sangat tidak menyukainya. Aku benci membaca.

Arietta membaca kembali tulisannya. Tangannya gatal ingin mengganti beberapa kata. Terutama pada bagian peralihan antara keinginannya untuk menjadi dokter berpindah pada arkeolog. Tapi niat itu diurungkannya. Ingat. Tulis. Tulis. Tulis. Karangan ini lebih bagus daripada karangan pertama.

Aku kemudian kembali lagi ke dunia nyata. Aku akan menjadi dokter.

Tapi, akhir-akhir ini aku bertanya pada diriku sendiri. Apa aku benar-benar ingin menjadi dokter? Sepertinya aku takut dan akan pingsan saat melihat darah. Aku juga sering bertanya pada diriku sendiri. Apa alasanku ingin menjadi dokter? Karena pekerjaan itu bergengsi? Entahlah. Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong orang banyak. Menjadi dokter mungkin membantu banyak orang. Tapi jika aku menjadi dokter, aku pasti bekerja di rumah sakit Ayah. Itu berarti, orang harus membayar mahal untuk aku tolong.

Tiba-tiba saja aku berfikir ingin menjadi penulis. Aku ingin seperti Seno Gumira Aji Dharma yang bercerita tentang orang-orang yang tertindas. Atau seperti Pram yang berkisah tentang mimpi dan harapan Kartini yang membuatku ingin menjadi seseorang yang bisa berguna bagi banyak orang. Aku ingin punya tulisan yang bisa membuat seseorang menjadi lebih baik. Aku ingin suatu saat nanti, saat membaca tulisanku, orang akan menangis dan terpacu untuk melakukan sesuatu yang baik.

Aku ingin menjadi pengarang gara-gara terpesona setelah membaca “The Alchemist-nya Paulo Coelho. Buku itu bercerita tentang seorang anak gembala yang mengejar mimpinya untuk mendapatkan harta karun di dekat Piramid. Untuk mengejar mimpinya, Santiago—nama gembala tadi—harus melewati gurun, bertemu perampok. Santiago juga berkali-kali nyaris patah semangat. Tapi ia selalu teringat mimpinya dan berusaha mengejar kembali mimpinya. Ada satu kalimat yang sangat berkesan untukku, kalimat yang diucapkan seorang Raja Tua kepada Santiago, “Jika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bersatu untuk membantu orang itu mewujudkan mimpinya.”

Arietta tersenyum. Ia mulai mendapatkan ide untuk tulisannya. Saat ini ia merasa sangat bersemangat dan ingin mengetik secepat mungkin. Ia tidak peduli dengan terlalu banyak kata yang ia ulang. Pokoknya menulis.

Sebelum membaca buku ini, aku sangat tidak suka membaca. Aku hanya mau membaca komik atau cerpen yang ada di majalah remaja langganan. Aku membaca The Alchemist karena terpaksa. Bu Indri—guru Bahasa Indonesiaku—memberi tugas meresensi novel. Kupilih novel tadi secara acak dari rak di toko buku. Aku benar-benar tidak tahu novel apa yang layak diresensi. The Alchemist kuambil karena melihat tulisan “Best Seller, Diterjemahkan dalam 23 bahasa,” dan ada banyak pujian tentang buku tersebut. Biasanya, buku-buku best seller itu menyenangkan untuk dibaca.

Kubaca buku itu berkali-kali. Aku juga mulai membaca novel-novel lain. Pengarang favoritku: Sidney Seldon. Aku selalu berharap bisa berkeliling ke kota-kota besar di dunia seperti tokoh utama dalam novel-novel tersebut. Bertemu dengan orang-orang pandai dan licik dan mengalami petualangan menegangkan bersama musuh terselubung. Aku suka cara Sidney bertutur. Cara ia menggambarkan pekerjaan tokoh utama dan suasana tempat membuatku merasa cerita itu nyata.

Aku juga menyukai novel-novel Jostein Gaarder. Terutama yang berjudul Mistery Soliter. Ada banyak novel yang menurutku bagus. Seperti: Animal Farm-nya George Orwel, Les Mirables dan Maximum City-nya Victor Hugo, Gadis Pantai karangan Pram, Ca Bau Kan milik Remy Silado, sampai Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kadang, aku sampai menangis terbawa oleh cerita para pengarang tadi. Aku begitu terpesona dengan cara pengarang tadi bercerita.

Aku ingin seperti mereka—pengarang-pengarang tadi. Bukunya dibaca banyak orang di seluruh dunia dan bisa membuat pembacanya terinspirasi. Sayang, aku belum berani untuk mulai menulis. Aku terlalu takut salah dan tulisanku jelek. Padahal, segala sesuatu pasti dimulai tidak langsung sempurna. Sama seperti waktu kita belajar berjalan. Kita pasti jatuh berkali-kali sebelum bisa berjalan. Aku akan menulis dan menulis. Mulai hari ini aku akan mencoba memulainya. Setelah menyelaesaikan tugas ini, aku akan berlatih menulis. Mulai dari menulis hal-hal yang aku alami tiap hari. Hingga suatu saat nanti, aku cukup berani untuk mengirimkan tulisanku ke majalah.

Arietta tersenyum. Ia membaca sejenak tulisannya. Belum bagus. Tapi tidak apa-apa. Arietta kemudian teringat kalau ia memiliki buku Quantum Writing. Ia bertekad untuk membaca buku itu untuk medapat ide mengedit tulisan ini. Ia juga bertekad untuk belajar EYD. Sepertinya, ada banyak salah pemakaian tanda baca ditulisannya. Ya. Aku ingin menjadi pengarang. Untuk itu aku harus mulai menulis.