Merayakan Buku di Mata Aksara

Minggu, 12 Oktober, lalu puluhan ibu-ibu dan anaknya yang rata-rata berusia balita memenuhi lantai dua mata Aksara. Sebenarnya, acara berjudul “Membangun Budaya Baca di Keluarga” tersebut ditujukan bagi para orangtua. Untuk mengingatkan kembali jika membaca itu penting untuk masa depan anaknya. Entah kenapa, acara berbau pendidikan anak lebih menarik bagi ibu-ibu.

 

Saat si ibu ngobrol tentang membaca di lantai dua, Mbah Bad mengajak anak-anak mereka berkebun. Mbah Bad membawa bungkus benih. Ia mengajak adek-adek yang datang mengenal buah-buahan dan sayuran. Ia menunjukkan gambar sayur dan buah-buahan pada seluruh peserta. Adek-adek tadi selain menyebut nama buah dan sayuran yang ditunjuk juga bercerita mana saja yang pernah mereka makan.
Rombongan kemudian pergi ke kebun organik di lantai 3. Beberapa ibu menemani anaknya karena mereka masih takut ditinggal. Waktu melihat kebun, beberapa langsung memetik sisa tomat yang belum dipanen. Warna merah tomat memang menggoda untuk dimakan. Akhirnya, sesi berkebun menjadi sesi bermain tanah. Lucu lo, melihat anak usia 2 sampai 4 tahun mencampur pupuk dan tanah. Saya tidak tahu apakah mereka menaati contoh Mbah Bad. Yang pasti mereka asyik mengisi polybag dengan bibit. Sesudah selesai, anak-anak tadi mencuci tangan. Namanya anak-anak, sempat-sempatnya bermain air. Mereka kemudian turun bergabung dengan ibu-ibunya.
Lantai dua kemudian menjadi hiruk pikuk. Saat Mas Sholahuddin Nurazmy dan Pak Muchsin Kalida bercerita tentang pentingnya menulis, anak-anak ini bermain trampolin atau menggambar. Sambil berceloteh dan berteriak. Sepertinya peserta diskusi tidak merasa terganggu. Mereka mendengarkan cerita kedua pemateri. Diskusi mengenai pentingnya membaca kemudian bergeser menjadi obrolan tentang menulis. Kedua pembicara mengatakan jika menulis itu bisa dimulai dari mana saja. Gunakan media apa saja yang paling mudah ditemui. Bisa mulai dari menulis di buku atau sekadar status facebook. Bercerita juga tidak harus tentang hal yang wah atau besar. Kejadian yang dialami setiap hari juga bisa kok menjadi bahan tulisan. Yang penting, mulailah menulis.
Mas Adi, pengelola Mata Aksara, menambahkan ide menulis bisa didapat dari membaca buku. Ia melanjutkan kalau banyak buku yang bisa dipinjam di sana. Seseorang yang banyak membaca buku, akan lebih mudah mendapat inspirasi untuk menulis.

Setelah diskusi berakhir, ibu-ibu tersebut berlatih menulis. Temanya tentang buku yang bisa mereka bacakan untuk anaknya sebelum tidur. Meski banyak yang mengaku tidak tahu darimana harus mengawali menulis, mereka terlihat serius. Sepertinya, melihat besarnya antusiasime ibu-ibu, acara ini akan ada kelanjutannya. Setelah acara, beberapa masih tinggal untuk membaca buku. Ada juga yang bertanya jam berapa taman bacaan buka supaya bisa kembali untuk meminjam buku. Sepertinya, perlu lebih banyak perpustakaan-perpustakaan komunitas mandiri yang bisa mengajak lingkungannya melek literasi. Supaya lebih banyak orang membaca di Indonesia.

Baca Buku, Yuk! Karena Sekolah Saja Tidak Cukup

Hari minggu lalu, Goodreads Jogja dan 1001 buku mengadakan ngobrol bareng mengenai dunia pendidikan dan budaya membaca. Acara tersebut menjadi bagian dari Booklover Festivalnya Radio buku. Ceritanya, ide obrolan ini dimulai dari keprihatinan teman-teman dengan dunia pendidikan (formal) di Indonesia. Selama ini, pendidikan cenderung dipersempit menjadi sekolah. Orangtua menitipkan anak-anaknya ke sekolah dan berpikir bahwa mendidik itu tugas sekolah. Padahal, seharusnya orangtua yang diberi amanah untuk mendidik anak. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking.

diskusi buku di radio buku

Ada 4 pembicara yang memulai diskusi. Mas Anto yang bekerja di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, Mas Adi yang menjadi Komite Sekolah TK dan SD Model, Mbak Tata yang praktisi anak dan Pendidikan, lalu Mas Ganjar yang relawan literasi di 1001 buku. Mas Anto bercerita pengalamannya waktu berbicara di depan guru dan kepala sekolah RSBI. Dia iseng bertanya kapan mereka terakhir baca buku di luar buku umum. Jawabannya: waktu kuliah. Kebayang ga, menurut dinas pendidikan, guru yang ada di RSBI itu guru bagus. Buku itu salah satu cara mendapat pengetahuan. Kalo yang bagus saja tidak menganggap buku penting, guru-guru dengan level dibawahnya seperti apa?

Obrolan kemudian berlanjut ke ironi kurikulum 2013. Kurikulum yang bagus tadi tidak diimbangi oleh guru-guru sekolah yang siap untuk mengajarkan hal tersebut. Memperbaiki kurikulum tanpa menyiapkan guru itu seperti punya mobil bagus dengan sopir tidak terampil. Guru-guru di sekolah formal, rata-rata terbiasa mengajar satu arah. Guru berbicara dan murid mendengar. Banyak yang menjadi guru karena menganggapnya pekerjaan bukan panggilan jiwa.

Sekolah memperlakukan anak-anak yang unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda dianggap sebagai barang kodian. Mereka disamaratakan kemampuannya dan dipaksa untuk menguasai hal yang sama. Selain itu, sekolah juga menjadi menara gading. Mereka membuat murid tidak mengenali lingkungan sekitarnya karena hal yang diajarkan tidak membumi.

Sedangkan untuk membudayakan membaca di sekolah, sekolah-sekolah umum memiliki perpustakaan dengan koleksi buku membosankan. Perpustakaan bahkan menjadi tempat penyimpanan buku paket. Yang dikeluarkan tiap tahun ajaran baru. Kalaupun ada dana Bantuan Operasional Sekolah, pihak sekolah cenderung dipakai untuk membangun fisik daripada membeli buku. Bukankah guru dan kepala sekolahnya sendiri tidak peduli dengan buku?

Sebagai bagian dari mendidik, di beberapa tempat muncul gerakan-gerakan literasi. Muncul orang-orang dan komunitas yang menyediakan bacaan dan mengajak lingkungan sekitar untuk membaca. Berhubung membaca itu sebuah kebiasaan, sebaiknya ia ditanamkan sejak dini. Sayang, masih sedikit buku anak yang bagus dan punya muatan lokal.

Obrolan yang berjalan 3 jam tadi tidak menawarkan solusi untuk memperbaiki dunia pendidikan. Terlalu banyak masalah dan mungkin saat ini buang-buang energi kalau mau merubah sistem pendidikan. Setidaknya, kalau kita tahu pendidikan formal di Indonesia bermasalah, kita bisa memilih cara untuk menyikapinya. Mendidik itu tugas pertama orangtua dan keluarga itu sekolah pertama. Kalau pun nanti akan menitipkan anak ke sekolah, orangtua dan keluarganya harus tahu bahwa sekolah saja tidak cukup. Salah satu cara supaya menjadi pendidik yang baik, orang harus punya banyak referensi untuk mengajar. Buku merupakan salah satu sumber untuk mengisi pengetahuan para pendidik dan calon pendidik.

Kadang, Niat Baik Saja Tidak Cukup

Seorang kenalan, kita sebut saja Fajar, mengirim pesan kalau ia akan datang ke Jogja. Fajar meminta nomer teman lain yang pernah menawarkan buku hibah. Kata Fajar, ia sudah berjanji pada pengunjung kecil perpustakaannya akan ada buku baru.

Sebelumnya, saya terkesan dengan kegiatan Fajar. Ia membuka perpustakaan dan mengadakan kegiatan seperti menari dan mendongeng untuk anak di sebuah desa. Saya berusaha membantu dengan memberi info tentang sebuah hibah buku. Tapi caranya meminta tolong tidak lagi membuat saya bersimpati. Ia membuat kesan seolah-olah orang lain harus membantunya. Ia tidak memikirkan bahwa si pemberi hibah sedang berlibur. Buku-buku tersebut ada di kantor. Butuh waktu untuk menyiapkan.

Fajar juga tidak berpikir ada puluhan taman bacaan lain yang menginginkan buku tersebut. Perpustakaan lain lebih dahulu mengirimkan permohonan. Banyak yang lokasi perpustakaannya lebih terpencil. Bisa jadi mereka lebih kesulitan mengakses buku.

Saya jadi teringat niat baik yang pernah dilakukan beberapa teman. Kadang, niat tersebut tidak diikuti oleh cara yang baik. Terlalu sering orang berpikir mengenai tujuan yang ingin mereka capai tanpa memikirkan efeknya untuk orang lain. Tidak hanya satu atau dua kali si pelaku niat baik ini memanipulasi orang lain. Mereka membuat orang lain merasa bersalah jika tidak bergabung.

Saya juga pernah melakukan hal yang sama. Beberapa tahun lalu, saya ingin membuat perpustakaan di sebuah desa. Saya mengeluarkan banyak energi dan waktu untuk mengumpulkan buku dan membuat kegiatan. Niat saya baik, saya ingin membuat anak-anak di desa tadi menyukai buku. Desa mereka jauh dari kota. Buku bagi orangtua mereka yang petani merupakan barang mahal. Jika ada perpustakaan, harapan saya, anak-anak di sana bisa membaca buku dengan mudah.

perpustakaan dan buku

Sayangnya saya lupa jika buku itu benda mati .Kalau tidak dibarengi dengan komitmen untuk datang secara rutin sembari mengadakan kegiatan bermain, percuma. Buku-buku tadi kemudian menumpuk di rak buku seorang tokoh desa. Tidak ada penduduk lokal yang punya waktu luang untuk mengajak penduduk lain melakukan kegiatan membaca.

Bukan hanya saya. Orang-orang di sekitar saya sering melakukan hal yang mereka pikir baik. Tanpa berpikir dari sudut pandang orang yang mendapat bantuan. Atau orang-orang lain yang mereka mintai tolong untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Kadang saya bertanya, apakah benar saya dan mereka tulus? Ataukah kami hanya ingin terlihat baik? Entahlah.
Sekarang saya memilih untuk melakukan sesuatu yang sederhana. Hal yang bisa saya jaga komitmennya untuk melakukan hal tadi secara terus menerus. Seperti menulis di blog, membantu taman bacaan teman yang sudah berjalan. Sambil menunggu nanti ada hal besar yang bisa saya kerjakan. Semoga lebih cepat.

 

Suatu Hari Di Tempat Penitipan Anak Beringharjo

Sabtu kemarin, teman-teman dari Goodreads Jogja main-main di Tempat Penitipan Anak yang lokasinya di selatan Pasar Beringharjo. Kami ditemani Mbah Bad yang membawa perpustakaan keliling motor milik Mata Aksara.

306090_10151579939521011_584013613_n

Acara dimulai sekitar pukul sepuluh. Waktu kami masuk ke ruang tengah, sudah ada sekitar 40an anak duduk rapi dan manis. Saya sempat agak bengong juga karena sebagian besar anaknya umurnya sekitar dua tahunan. Padahal, beberapa minggu sebelumnya waktu ke sana, sepertinya anak-anak di sana rada gedean. Jadi lebih mudah kalau diajak menggambar dan membaca.

Saya sempat agak grogi waktu membuka acara. Entah kenapa, anak-anaknya pada anteng-anteng banget. Hening gitu. Padahal biasanya saya dicintai dan populer di kalangan anak-anak kecil lo 😀 Halah. Anak-anak tadi baru ngasih respon setelah Ari masuk ruangan. Mungkin, Ari mirip boneka beruang ramah jadi disukai anak-anak.

Adek-adek TPA mulai tertarik bermain saat Dody ngajak mereka buat main-main. Kami berhitung sambil menyanyi bareng-bareng. Semua anak berpasang-pasangan sambil menyanyi. Mbak Dewi, Meita, dan Sofi, dan saya ikut-ikutan menyanyi. Kita cuek-cuek aja meski nyanyiannya salah-salah. Mas Valen dan Ari muter-muter buat moto.

Habis itu, adek-adeknya dibagi supaya lebih gampang saat dibacain buku. Sempat ramai, waktu kita nurunin buku-buku pinjeman dari Mata Aksara, adek-adeknya pada nggak sabar milih buku. Sesi ngebagi kelompoknya jadi agak berantakan.

30541_10151579939106011_2109619045_n

Tapi senang juga. Nggak nyangka, biasanya, kalau saya punya kegiatan dengan anak-anak kecil, mereka lebih tertarik diajak main bersama. Buku itu pilihan terakhir.

Kami lalu dibagi dalam empat kelompok untuk bacain buku buat adek-adek ini. Tapi banyak juga yang ambil buku sendiri buat dilihat-lihat gambarnya. Setelah bosan baca buku, kami menggambar bersama. Ken Terate dan Niken Anggrek datang untuk ikutan baca buku.

7286_10151579939986011_1850016567_n

Sebelum pulang, Bu Tini, pengelola TPA nanya, bisa nggak acara ini diadakan rutin. Secara pribadi sih saya tertarik kalau ini bisa jadi kegiatan rutin. Sebelumnya, beberapa teman di Goodreads juga melontarkan ide soal punya kampanye baca yang berlanjut. Jadi, siapa aja yang tertarik bikin acara ini lagi? Bikin supaya jadi kegiatan rutin sekali sebulan yuk.

Foto dari kamera Dody Wibowo

Suatu Hari Kami Bercerita tentang Cita-cita

Minggu ini Perpus Keliling Javlec Junior punya acara lagi di Desa Borobudur, Magelang. Tema kali ini adalah cita-cita. Sambil menunggu, teman-temannya berkumpul, anak-anak yang datang lebih dulu mulai membaca buku. Saat saya mulai menyalakan LCD projektor untuk mengecek tampilannya. Adik-adik tadi kegirangan karena punya “mainan baru”. Benda tadi rupanya masih asing di sana. Mereka menggunakan cahaya dari lampu projector untuk membuat bayangan dan bermain-main dengannya.

Setelah sekitar 40-an anak datang, acara dimulai. Kali ini giliran saya bercerita. Saya mulai dengan menunjukkan sebuah peta Indonesia besar dan bertanya ada berapa jumlah pulau. Rata-rata menjawab dalam angka ratusan. Mereka sempat heran waktu saya berkata angkanya lebih dari 17.000. Banyak ya? Kalau tiap bulan datang ke satu pulau pun nggak akan habis-habis.

Saya lalu bercerita kalau dulu waktu kecil, ingin sekali berkeliling Indonesia. Tapi sepertinya nggak mungkin. Tiket pesawat itu mahal. Ternyata, waktu saya mulai bekerja dan mulai bisa menabung, saya mulai mendapat beberapa kesempatan untuk bepergian ke banyak tempat di Indonesia. Mungkin belum semua tempat di Indonesia saya singgahi, tapi setidaknya sudah cukup banyak tempat. Saya mulai menunjukkan foto-foto tempat yang pernah saya kunjungi sambil bercerita apa saja yang pernah saya lihat.

Saat melihat foto Aceh, anak-anak tadi terpesona dengan pantai-pantai cantik di sana. Mereka juga heran saat mendengar cerita tentang banyaknya sapi berkeliaran di mana-mana. Lalu, waktu di Flores, mereka heran saat melihat pulau tadi tidak segersang yang ada di televisi. Waktu saya menunjukkan foto-foto Papua, mereka tertawa saat melihat babi yang ada di halaman sekolah bersama anak-anak berseragam merah-putih.

Saya kemudian menunjukkan sebuah buku berjudul Bocah Penjinak Angin. Buku itu ditulis berdasar kisah nyata tentang seorang anak yang membuat listrik dari kincir angin. Hebatnya, dia berasal dari Malawi, negara miskin di Afrika yang waktu itu langka listrik.
Karena miskin, anak ini terpaksa putus sekolah. Tapi dia tetap pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Suatu hari, ia membaca tentang kincir angin yang bisa membuat listrik. Ia tertarik untuk mencobanya. Ia dianggap gila saat mengumpulkan barang-barang bekas untuk membangun kincir angin. Hingga akhirnya, ia berhasil.
Kincir angin ini didengar oleh seorang yang menulis di web. Ada seorang profesor membaca hal ini dan menyekolahkan anak ini. Anak ini kemudian diundang ke banyak negara untuk bercerita tentang kincir anginnya. Termasuk datang ke negeri tempat kincir angin yang ia lihat di bukunya. Keren kan ceritanya? Buku bisa membantu seseorang belajar tentang banyak hal. Yuk, mulai baca buku.

Kami kemudian menggambar bersama, temanya tentang cita-cita. Setelah selesai menggambar, entah siapa yang memulai, gambar-gambar tadi ditempel di dinding. Satu per satu anak maju untuk bercerita tentang cita-citanya. Ada Rizal yang ingin jadi koki karena suka makan. Ia yang berbadan gemuk ingin mencicipi makanan dari berbagai daerah. Lalu, Dimas tiba-tiba bercerita tentang sejarah Borobudur sambil menggenggam tangannya seperti seolah-olah memegang mic. Ternyata, ia ingin menjadi guide supaya bisa punya banyak kenalan dari negeri lain. Ada juga Wisnu yang ingin menjadi pemain Bulutangkis. Syalsa yang suka menyanyi dan pernah beberapa kali ikut lomba ingin menjadi penyanyi. Dia bahkan menyanyikan potongan lagu D’Massive: Jangan menyerah di depan. Ada juga Arden dan Deni yang ingin jadi tentara dan polisi. Profesi favorit adalah guru. Ada Rara, Ela, dan Fani yang kalau besar nanti ingin mengajar. Saya heran saat melihat sebuah gambar gunung. Lho, bukannya kali ini tema cerita kita tentang cita-cita. Ternyata, itu gambar milik Teguh. Dia bercita-cita ingin jadi penambang batu karena pernah diajak melihat pasir lahar merapi.

Tiap kali anak-anak ini maju, saya selalu bertanya kenapa mereka ingin memilih cita-cita tadi. Ternyata, banyak yang menjawab karena melihat hal tersebut di televisi. Eh? Padahal kebanyakan acara TV nggak bagus buat anak-anak. Berani bertaruh tiap malam mereka pasti ikut orangtuanya nonton sinetron yang engga mutu. Tadinya, kami ingin bermain bersama seusai bercerita. Sayang, sudah hampir pukul duabelas. Sebentar lagi masjid yang kami gunakan untuk bermain akan didatangi orang-orang yang hendak shalat. Akhirnya, kami melakukan peminjaman buku. Kali ini, Fani yang bertanggungjawab atas buku-buku yang dipinjam temannya. Puluhan buku anak lainnya kami antar ke rumah Fani. Siapa tahu ada anak lain yang ingin meminjam.

Setelah itu, kami pergi ke Dusun Maitan yang ada di Desa Borobudur juga. Di sana, kami mengantarkan satu kardus buku anak sumbangan yang dikumpulkan oleh Komunitas Kelapa. Terimakasih. Di rumah Pak Udin, sudah ada buku-buku sumbangan lain. Meski belum dibuka secara resmi, sudah ada tetangga-tetangganya yang meminjam buku. Saat ini kami masih mengumpulkan buku umum (seperti buku kesehatan, psikologi populer, dan memasak) untuk ibu-ibu, juga buku agama. Ada yang mau membantu mengumpulkan buku?

Bermain sambil Menulis Bersama

Horee… main-main lagi bareng perpustakaan keliling di Dusun Ngaran Dua, Borobudur. Setelah sebelum-sebelumnya kegiatan Javlec Junior lebih banyak diisi dengan menggambar. Sore kemarin, kita bikin acara menulis bersama. Temanya tentang perpustakaan dan buku.

Awalnya, adik-adik ini banyak yang kebingungan. Mereka pada nggak pede mau nulis apa karena selama ini di sekolah jarang ada acara menulis. Beberapa bilang takut klo tulisannya jelek. Ada juga yang begitu nulis langsung dicoret lagi karena nggak yakin sama tulisannya. Kami berkali-kali bilang kalau tulisan itu nggak ada yang bagus atau jelek. Adanya cuma tulisan yang nyenengin dibaca karena penulisnya sering-sering menulis.

Tapi ada juga adik kelas empat SD yang langsung nulis banyak banget. Awalnya, saya sempat terkagum-kagum. Dulu kan, waktu seumuran dia kan saya baru bisa baca. Cuma, habis itu saya bengong gara-gara tulisannya tentang perempuan yang mati di rumah kosong. Hah? Kayaknya ini efek kebanyakan nonton sinetron dan film horor.

Karena nggak semua yang datang bisa menulis, adik-adik yang masih kelas satu atau dua SD tetep menggambar bebas. Setelah selesai, semua gambar-gambar tadi di serahkan ke Mbak Rina. Buat ditentuin siapa yang sungguh-sungguh nulis dan layak dapet hadiah.

Habis itu, drg (tumben saya nyebut gelar :D) Taufik ngajakin adik-adik ini ngobrol tentang cara merawat gigi supaya engga berlubang. Tentang makanan apa aja yang bikin gigi lebih cepat berlubang. Di akhir obrolan, ada kuis berhadiah sikat gigi.

Kita trus rame-rame main tebak cermin. Mereka semua dibagi dua grup yang duduk saling membelakangi. Nah, tugas ketua menirukan hewan yang nama-namanya sudah disiapkan oleh Mega. Ketua kelompok lain niruin gerakan tadi dan anggotanya diskusi untuk nebak itu hewan apa. Rame deh.

Berhubung pas sesi pertama nilai mereka seri. Akrinya ada babak tambahan. Yang ternyata, seri juga. Taufik akhirnya ngasih pertanyaan terakhir. Dia lari-lari keliling sambil ngepak-ngepakin sayap. Kelompok A nebak itu elang, kelompok B nebak kupu-kupu. Waktu taufik bilang kalau tadi adalah ikan terbang, semua protes ga terima. Akhirnya nggak ada yang menang deh.

Sebenarnya kita masih pengen main-main lagi. Sayang dah jam setengah enam. Ya sudah, sesi kemudian ditutup dengan peminjaman buku. Oh iya, teman-teman kalau tertarik jadi relawan, hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com ya? Kami akan menyambut dengan senang hati kalau teman-teman bantuin kami ngumpulin buku anak. Terimakasih sebelumnya.

Bermain Bersama di Desa Borobudur :)

Horeee…. Javlec Junior punya acara perpustakaan keliling lagi di Desa Borobudur. Sore itu, saya ditemani Anta, Galuh, dan Uci memakai mobil milik Perpustakaan Guru Bangsa. Waktu kami datang, sekitar tiga puluhan anak SD bergabung. Mereka sibuk memilih dan membaca-baca buku yang mereka suka. Beberapa meminta relawan untuk membacakan buku.
Saat kami mengeluarkan peralatan gambar, adik-adik tadi langsung berebut. Uci sampai kewalahan berteriak menyuruh mereka mengantri. Hebatnya, kali ini gambar mereka sangat beragam. Bukan cuma gambar dua buah gunung dengan matahari terbit di tengah-tengah seperti biasanya. Ada yang menggambar pesawat, kapal, ikan, pelangi, bunga, pokoknya macem-macem deh.

Setelah semua menyelesaikan gambarnya, kami bermain “Beruang Mengamuk”. Jadi permainannya begini: gara-gara hutan di tebangi, beruang kehilangan tempat mencari makan. Ia kemudian menyerang penduduk desa yang punya ladang di pinggir hutan.

Waktu beruang datang dan menggeram, anak-anak yang jadi penduduk desa harus pura-pura mati atau berpegangan ke temannya yang jadi pohon. Kalau ada penduduk desa yang pura-pura mati tertawa saat digelitik beruang, dia ikut berubah jadi beruang. Nah, kalau anak yang jadi pohon, dia harus mengangkat kedua tanganya tinggi-tinggi. Kalau nanti tangannya jatuh, ia dan penduduk desa yang berpegangan padanya ikut jadi beruang. Semua pemain harus berhenti saat Uci yang jadi burung, bernyanyi. Si beruang kembali ke hutan dan penduduk desa kembali bekerja.

Setelah menunjuk salah satu anak untuk jadi beruang dan empat orang jadi pohon, permainan dimulai. Ribut banget. Semuanya pada teriak-teriak pas si beruang datang. Permainan yang seharusnya penuh dengan acara orang pura-pura mati, entah kenapa bisa berubah jadi main kejar-kejaran. Saking ramainya, saat Uci si burung bercuit-cuit (dia bingung gimana mo nyanyinya jadi diubah jadi cuitan), nggak ada yang ngedengerin. Akhirnya permainan selesai dengan semua orang berubah jadi beruang 😀

Permainan kedua dimulai dengan penggantian beruang. Beruang kali ini sepertinya sangat menikmati perannya. Dia semangat sekali waktu merangkak-rangkak sambil menggeram-geram. Yang jadi penduduk desanya sebagian langsung pura-pura mati. Anehnya, sebagian anak tiba-tiba pada lari ke pojokan dan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Heh? Kami tertawa karena di aturan permainan kan nggak ada pernyataan klo penduduk desa bisa berubah jadi pohon? 😀

Berhubung sudah jam setengah enam, permainan dibubarkan. Sebelum pulang, sebagian adik-adik meminjam buku buat dibaca di rumah. Ada beberapa yang meminta, supaya minggu depan kami datang lagi. Pengen sih, semoga tahun depan bisa punya acara tiap minggu.
Sebelum pulang, kami mampir dulu ke tempat Ibu Eli untuk ngobrol tentang rencana bikin perpustakaan yang permanen. Supaya klo adik-adik ini mau minjem buku, engga harus nunggu kami datang.

Nah, temen-temen ada nggak yang mau bantuin kami ngumpulin buku anak? Atau mau jadi relawan perpustakaan keliling? Hubungi saya di Lrwahyudyanti@yahoo.com ya? Teman-teman juga bisa mendukung kami untuk memenangkan hibah dari sebuah bank. Caranya, masuk ke link lalu klik box bergambar twitter, fb, dan atau like. Terimakasih buat Wini, Indra, Ike, Mas Tezar, dan Mas Manteb buat donasinya.