Cerita Padi di Tiga Negara

Padi di Manggarai, FloresPertanian bukan lagi lahan pencari nafkah yang menjanjikan. Hal tersebut menyebabkan jumlah petani kecil berkurang. Lahan-lahan pertanian kemudian beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, atau mall yang memberikan uang lebih. Lalu, bagaimana nasib kita ke depannya? Dengan penduduk bumi yang diperkirakan berjumlah 9 milyar orang pada 2050, mampukah nanti lahan pertanian yang tersisa mencukupi kebutuhan sekian banyak mulut?

Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan dalam riset kolaboratif yang dilakukan alumni Asian Public Intelectual. Ekoningtyas Margu Wardani dan 4 orang rekannya melakukan penelitian mengenai padi di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Riset yang dipublikasikan dalam bentuk pameran foto ini memilih padi sebagai subyek penelitiannya karena komoditas ini ditanam di hampir semua benua. Beras merupakan hasil pertanian penting yang dikonsumsi hampir separuh penduduk bumi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada beras. Kita yang dahulu memiliki beragam bahan makanan pokok, kini mulai meninggalkan jagung, sagu, ketela, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia pengimpor beras. Impor komoditas pertanian juga dilakukan pemerintah untuk menjaga harga produk pertanian tetap rendah. Padahal dari sisi petani kebijakan tersebut merugikan dan membuat orang enggan bertani.

Di Indonesia meski harga padi organik lebih tinggi, tidak banyak petani mau menanamnya. Lahan-lahan pertanian terlanjur mengandung banyak zat kimia. Untuk menjadi lahan organik, tanah butuh tiga hingga lima tahun untuk mengembalikan kesuburannya. Selama masa itu, produktivitas padi turun.

Thailand yang dikenal sebagai negara pengekspor beras pun petaninya belum sejahtera. Sarana produksi pertanian kerap lebih mahal daripada harga jual produk. Petani yang tidak mampu membayar hutang lama-lama menjual lahannya karena terlilit hutang. Di lokasi penelitian, para petani beralih ke organik karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di Ogawa, Jepang, pertanian organik tidak lepas dari seorang tokoh bernama Yoshinori Kaneko. Ia kembali ke pertanian organik pada tahun 71 karena melihat kerusakan lingkungan. Ia mengajarkan peranian organik kepada para petani muda yang kebanyakan berasal dari kota. Mereka memilih menjadi petani karena bahagia bisa hidup harmonis dengan alam dan terhubung dengan konsumen berasnya. Kaneko berprinsip bahwa “Uang tidak membuat kita hidup. Kita hidup karena makanan yang kita makan.” Istrinya menambahkan bahwa jangan pernah berharap pada pemerintah. Lebih baik para petani menanam apa yang mereka makan. Setelah itu, sebarkan dengan berbagi makanan sehatmu.

Senada dengan Kaneko, Prof. PM. Laksono dalam pembukaan pameran menyarankan tentang kemandirian pangan. Menurutnya, tiap orang sebaiknya bertani sendiri untuk mencukupi kebutuhan dapur. Beliau sendiri menggarap sepetak lahan untuk dimasak sendiri. Lalu, adakah teman-teman yang mau kembali menjadi petani? Saya pun mulai dengan menanam sayur di pekarangan rumah.

Iklan

Bertualang dan Tuliskan Ceritamu

travelblogger25 Oktober lalu, saya dan Firsta (admin discoveryourindonesia) menjadi narasumber tentang travel dan blogging di Jagongan Media Rakyat. Sebelum acara, beberapa panitia berkomentar acaranya bakal didatangi banyak orang. Kami hanya tertawa. Undangan yang menyebar di media sosial kadang susah diprediksi. Dari sekian orang yang ikut membagikan flyer kami posting di dunia maya, belum tentu mereka datang.
Acaranya mulai jam tiga lebih. Firsta presentasi lebih dahulu. Awalnya, ada 20-an orang hadir. Lama kelamaan, peserta bertambah hingga ruangan penuh. Firsta mulai bercerita tentang blognya yang berusia satu tahun. Ia membuat discoveryourIndonesia setelah berjalan-jalan di luar negeri. Orang yang ia temui banyak yang bertanya: di mana itu Indonesia? Sebelah mananya Bali? Karena blognya bertujuan memperkenalkan Indonesia ke wisatawan asing, Firsta menulis dalam Bahasa Inggris.
Firsta kemudian bercerita tentang perjalanannya ke Myanmar. Mulai dari gambaran umum Myanmar, cara mengurus visa, sampai lokasi favoritnya di sana. Presentasinya berlanjut dengan tips merawat blog. Mulai dari menemukan konten yang menarik hingga mendapatkan pembaca lewat google dan media sosial. Untuk sebuah blog yang baru berusia satu tahun lebih, menurut saya, discoveryourindonesia dikelola dengan baik. Mungkin karena latar belakang Firsta marketing, ia mengerti pentingnya branding dan konsistensi. Sepertinya, ia mempraktekkan hal itu dalam mengelola blog.

Snorkling di Maluku
Setelah itu, gantian saya bercerita tentang kegiatan jalan-jalan dan menulis saya. Awalnya saya membuat blog sekadar untuk berlatih menulis. Lama kelamaan, saya ingin punya domain sendiri. Blog www.kotakpermen.com berisi jurnal perjalanan saya di sana. Meskipun demikian, saya masih sering menulis catatan perjalanan di blog gratisan. Karena saya punya komitmen untuk selalu memperbaharui tulisan di blog lama.
Saya kemudian bercerita tentang beberapa yang pernah saya datangi di Indonesia. Cerita dari Aceh sampai Papua tadi punya benang merah: Indonesia itu kaya tapi punya banyak cerita sedih. Kalau di Sumatra, saya mengambil contoh di tiga tempat. Salah satunya Lampung. Setelah berkunjung ke Perusahaan Ulu Belu, saya baru tahu kalau Indonesia itu produsen kopi nomer 4 dunia. Ironisnya, kita lebih banyak mengonsumsi kopi instan yang banyak campuran zat kimia dan gulanya. Di Lampung juga, saya bertemu dengan sekelompok petani kopi. Mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan ijin untuk mengelola hutan yang kini mereka jadikan perkebunan kopi. Cerita saya kemudian berpindah ke pulau-pulau lain. Kebanyakan ceritanya tentang tempat yang punya sumber daya alam melimpah tapi hanya dikuasai oleh segelintir orang.
Setelah mengunjungi banyak tempat, saya merasa menulis saja tidak cukup. Saya ingin meninggalkan sesuatu untuk orang yang pernah saya datangi. Karena saya tertarik dengan pendidikan, saya dan beberapa teman kemudian membuat program bernama berbagibuku. Program yang webnya sedang dalam proses pembuatan ini, mengumpulkan buku untuk perpustakaan komunitas. Terutama untuk komunitas yang jauh dari kota atau memiliki program mendidik anak tidak mampu. Silahkan hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com jika ingin tahu lebih lanjut.
Saya ingin mengajak orang membaca buku karena sekolah, apalagi di luar Jawa, sangat tidak mengajarkan bagaimana cara hidup. Tahun lalu, waktu pergi ke Maluku, saya melihat anak SD yang diajar cara menabung di bank. Padahal, bisa jadi anak-anak tadi tidak pernah ke bank yang letaknya ratusan kilo dari desanya. Apa yang mau ditabung? Orangtua mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan. Mereka hanya menjual hasilnya jika berlebih. Sistem barter masih berlaku di sana. Aneh saja memaksa mereka menghafal fungsi bank.
Saya kemudian sedikit bercerita tentang bagaimana cara memperbaiki menulis. Menurut saya, menulis itu proses. Seseorang butuh waktu bertahun-tahun untuk punya tulisan yang menarik. Orang yang terbiasa menulis pun belum tentu punya tulisan yang enak dibaca. Mereka harus rajin membaca supaya bisa membedakan kalimat yang menarik dan tidak.
Saat sesi tanya jawab, kami mendapat banyak pertanyaan seputar perjalanan dan menulis. Saya melihat beberapa peserta menuliskan jawaban-jawaban kami. Senang rasanya melihat ada yang datang jauh-jauh di tengah cuaca panas. Mereka masih mendengarkan cerita kami hingga acara berakhir. Bahkan, saya masih menjawab pertanyaan beberapa orang di luar acara diskusi. Obrolannya beragam. Ada yang bertanya, apakah tidak berbahaya bagi seorang perempuan pergi jauh? Bagaimanakah cara memilih sudut pandang cerita yang menarik? Sampai bagaimana cara mendokumentasikan perjalanan. Sepertinya para peserta ingin melihat lebih banyak tempat. Tapi, beberapa masih takut berkunjung ke tempat asing. Ada juga yang beranggapan jalan-jalan itu mahal. Jalan-jalan itu menyenangkan, kita akan melihat ada banyak hal yang tidak kita dapat melalui media massa atau sekolah. Jadi, kapan kau akan jalan-jalan?

Yang Ketu7uh

Saya langsung mencatat di agenda saat mendengar Yang Ketu7uh mulai tayang 25 September lalu. Jarang ada film dokumenter bisa diputar di bioskop. Film ini bercerita mengenai masyarakat kelas bawah di tengah hiruk-pikuk pemilihan presiden ke-7. Ada ibu Nita, janda berusia 60 tahun yang menjadi buruh cuci. Sutara, tukang ojek yang tinggal di Jakarta sejak tahun 88. Suparno, pekerja bangunan yang tinggal di gang sempit. Juga Amri Jalalen, seorang petani di daerah Indramayu. Yang Ketu7uh

Cerita ke empat orang ini berselang-seling dengan rekam jejak dua kandidat calon presiden. Mulai dari Jokowi yang tahun 2006 lalu masih menjadi walikota Solo. Ia ikut kerja bakti saat memerintahkan anak buahnya membersihkan kota. Di lain pihak, Prabowo yang berkali-kali mengikuti pemilihan presiden. Tahun demi tahun berlalu hingga tahun 2014, Indonesia kembali merayakan pesta demokrasi. Cuplikan-cuplikan gambar menampilkan para politisi partai melakukan berbagai cara yang kadang norak supaya rakyat memilih mereka. Hingga akhirnya dua kandidat presiden berhadapan. Di debat presiden, Jokowi mempromosikan kartu-kartunya sedangkan Prabowo menyebut-nyebut kebocoran negara.
Dan, setelah Jokowi, sang Presiden Ketu7uh terpilih, lima orang ini sama halnya seperti orang-orang lain di Indonesia. Kembali ke kesibukan sehari-hari. Mencari nafkah. Dan mungkin, mereka terlupakan oleh para politisi yang hanya membutuhkan suara mereka saat pemilu tiba.
Saat menonton film ini, saya miris melihat Suparno yang tinggal di bedeng bersama ratusan kepala keluarga lain. Mereka menempati ruangan berukuran 1,75x 3,8 m. Di ruangan tadi, ia harus berbagi dengan istri dan anak-anaknya untuk melakukan berbagai aktivitas. Mereka terpaksa mandi dan buang air kecil di depan “rumah”. Tanpa menghiraukan orang lalu-lalang karena tidak ada ruangan lagi. Saya jadi bertanya, pernahkah dua capres (dan partai politikdibelakangnya) memikirkan mereka setelah menjabat? Memang kalau mereka memilih, apakah hal tersebut akan merubah nasib mereka?
Di Indramayu sana ada tokoh lain. Amri Jalalen dan tetangga-tetangganya merupakan petani tanpa tanah yang menggarap hutan negara. Mereka berpendapat seharusnya pemerintah memperhatikan kepentingan rakyat. Tanah milik pemerintah itu bukannya disewakan ke perusahaan, tapi digarap oleh penduduk yang butuh pekerjaan.
Saat film usai, saya pribadi melihat ada yang kurang. Film ini tidak terlalu tampak menggambarkan bagaimana rakyat kecil tadi menaruh harapan ke salah satu calon.

 

Di sekitar saya (dan sepertinya di seluruh Indonesia) orang-orang sibuk menjagokan kandidat pilihannya. Tak jarang, perbedaan ini menimbulkan perdebatan. Bukan hanya di dunia maya, di dunia nyata pun saya kerap melihat saling menghina karena berbeda pilihan presiden.
Yang saya tidak habis pikir, ada ulama-ulama lokal yang mengharamkan memilih salah satu capres. Mereka menyebarkan kebencian lewat pengajian-pengajian. Ia menakut-nakuti penduduk bahwa salah satu capres akan mempersulit pemeluk agama Islam. Di lingkungan saya, banyak yang memercayai kebohongan ini karena sudah menyimpan sentimen agama. Juga bagaimana seluruh penjuru kota penuh sampah visual akibat baliho caleg dan capres.

Lepas dari kekurangannya, Yang Ketu7uh layak untuk ditontong lima, sepuluh, atau kelak saat ada pemilu lagi. Ia menyimpan pesan bahwa siapapun presidennya, keinginan tokoh-tokoh film ini (dan kita juga) sederhana kok. Kami ingin supaya harga barang terjangkau, biaya pendidikan bisa diakses semua, dan masyarakat miskin pun bisa mendapat sarana kesehatan yang layak.

Merapi vs Teror Media

Sejak akhir Oktober lalu, saya sering mendapat pertanyaan dari kerabat dan teman yang ada di luar kota tentang apakah letusan Merapi sampai di tempat saya. Awalnya, saya malah tidak terlalu tahu kalau Merapi meletus lagi. Pada waktu Merapi meletus pertama kalinya pada tanggal 26 Oktober, saya sedang ada acara di daerah pinggiran kota. Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sama sekali tidak menonton TV, tidak sempat membaca koran, dan hanya menggunakan internet untuk mengecek email karena sinyal sering putus. Saya selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan nada santai. Itu cuma media massa yang melebih-lebihkan berita. Merapi tiap empat atau lima tahun sekali meletus dan awan panasnya tidak pernah lebih dari 10 kilo meter dari puncak. Rumah saya jaraknya masih 24 kilo dari puncaknya. Paling parah, kami hanya akan terkena hujan abu.

Pemberitaan di media massa semakin menghebat saat Mbah Marijan, juru kunci merapi yang menjadi selebritis karena saat Merapi meletus tahun 2006 menolak mengungsi dan selamat, ditemukan meninggal terkena awan panas. Apalagi ada banyak artis datang ke pengungsian untuk memberikan bantuan secara langsung. Mentawai yang pada saat hampir bersamaan terkena gempa dan tsunami sempat tidak terdengar beritanya karena lokasinya yang sulit membuatnya tidak terekspose media.
Gara-gara gencarnya pemberitaan media massa, beberapa teman saya mulai was-was apabila pergi ke arah utara. Mereka yang memiliki keluarga di luar kota selalu dipesan oleh keluarganya supaya menjauhi Merapi. Bahkan, banyak yang mulai pulang kampung karena merasa tidak aman di kota ini. Koran mulai dipenuhi judul dan berita bombastis seperti: Merapi aneh, warga panik, Merapi luar biasa, masih bisa meletus sewaktu-waktu dengan kekuatan yang tidak bisa diprediksi. Televisi pun tidak jauh berbeda.

Kamis tengah malam (tanggal 4 menuju 5), saya terbangun karena perasaan saya tidak enak. Saya mendengar adik saya sedang ngobrol di telepon dengan temannya. Temannya yang tinggal di luar kota bertanya apakah kami baik-baik saja karena saat ini Merapi meletus hebat. Adik saya menyalakan TV dan memilih sebuah stasiun TV yang terdepan dalam mengaburkan (bukan salah tulis, mereka memang suka memberitakan kabar kabur). Di TV, reporter berada di pinggir jalan raya, dibelakangnya penuh dengan orang-orang panik dan berusaha pergi ke selatan. Reporter tersebut memberitakan kalau Jogja di radius 20 kilometer sudah tidak aman lagi. Saya cuma melihat sepintas berita tersebut dan lebih tertarik kembali tidur karena beranggapan berita tersebut cuma gosip yang sengaja didramatisir untuk menaikkan rating.

Beberapa jam kemudian, datang seorang ibu paruh baya sambil menangis. Ia berasal dari Dusun Bronggang, Cangkringan (rumah kakek saya yang sekarang tidak ditempati ada di desa tersebut, tetangga-tetangga kakek banyak yang tahu rumah kami karena saat lebaran banyak yang bertamu ke rumah). Ibu tadi bercerita kalau rumah-rumah tetangganya banyak yang terbakar akibat lontaran batu-batu dari merapi. Agak siangan, anak dan suaminya datang menyusul. Kemudian datang lagi dua keluarga dari dusun yang sama.

Karena mereka ingin tahu kabar tetangga dan kerabatnya, kami bersama-sama menonton TV. Selama sehari penuh, kami disuguhi pemandangan mencekam: rumah-rumah roboh dan terbakar, mayat-mayat gosong, dan orang-orang yang panik naik ke truk. Hingga sore hari, semua stasiun TV mengulang-ulang berita tentang desa-desa yang dipenuhi abu yang masih mengepul dan tim evakuasi yang dikejar awan panas. Mereka tidak menyebut gambar tadi diambil jam berapa. Pernyataan bahwa Merapi akan meletus lagi dengan kekuatan yang belum bisa diprediksi berkali-kali terdengar. Tamu-tamu kami akhirnya memutuskan untuk menjemput kerabatnya yang mereka lihat di TV dibawa ke rumah sakit kemudian memilih untuk mengungsi keluar kota.

Sepanjang hari, jalan raya di dekat komplek perumahan saya lebih ramai oleh orang-orang ngebut ke arah selatan sembari membawa tas-tas besar. Malam harinya, ada dua keluarga lain datang untuk menginap. Mereka berasal dari Dusun Candi yang letaknya sekitar 17 kilometer dari Puncak merapi. Kedua keluarga ini bercerita kalau desanya sudah seperti kota mati. Tetangga-tetangga mereka pergi mengungsi karena ketakutan Merapi akan meletus hebat.

Hari Sabtu, saya menjemput adik perempuan saya di Stasiun Tugu. Sepanjang perjalanan, saya melihat orang-orang beramai-ramai menonton (dan memoto) Sungai Code yang meluap. Karena adik saya mencari beberapa barang yang akan dia bawa ke Purworejo keesokan harinya, kami pergi ke beberapa pusat perbelanjaan. Jalan Malioboro yang biasanya tiap malam minggu ramai dan kadang macet, kali itu tampat sedikit lengang. Sepertinya turis mulai ketakutan untuk datang ke Jogja.

Saya mendapat telepon dari beberapa teman. Sepertinya mereka baru saja melihat TV yang menceritakan tentang korban-korban letusan merapi. Kebanyakan teman saya berpikir kalau letusan Merapi menghancurkan sebagian besar Kota Jogja. Lucunya, salah satu telepon tadi datang dari seorang teman yang biasanya saat menelepon atau bersms selalu bercerita tentang dirinya. Aneh rasanya, tiba-tiba kali ini dia menanyakan apakah saya baik-baik saja? (Saya masih menganggap dia teman karena tiap kali ke kotanya, saya dapat tebengan dan wisata kuliner gratis). Saya cuma menjawab dengan santai: Jogja bagian tengah dan selatan masih normal-normal saja. Saat ini saya sedang berbelanja di Jalan Solo. Di sini banyak orang yang sepertinya tidak terpengaruh dengan Merapi. Buktinya, tempat bilyar dan hiburan yang barusan saya lewati parkirnya penuh.
Hari minggu, saya melihat beberapa tetangga memasukan barang-barangnya ke mobil dan pergi mengungsi. Beberapa ketakutan karena ada sebuah stasiun TV yang meramalkan Merapi akan meletus lebih hebat lagi. Kebetulan sejak siang hari Merapi meletus dan suara gemuruhnya terdengar di kejauhan. Awalnya saya masih santai-santai saja waktu beberapa teman yang pulang kampung bertanya kenapa saya belum mengungsi padahal rumah saya masih berada di wilayah utara.

Sore harinya, saya bersepeda keliling komplek dan desa sebelah. Blok di belakang rumah saya yang biasanya tiap minggu sore ramai oleh anak kecil dan pengasuhnya, tiba-tiba sunyi. Hanya ada satu rumah yang pintu gerbangnya tidak terkunci dan masih ada mobil di garasinya.

Sampai malam hari, suara gemuruh masih terdengar. Saya dan adik laki-laki saya mengamati ikan-ikan yang ada di kolam samping rumah. Adik saya ngotot kalau ikan-ikan tadi tampak panik (sebelumnya, tiap kali ada letusan, ikan-ikan tadi ada di permukaan dan bergerombol). Kami kemudian berdiri di depan pintu gerbang rumah. Suasana malam itu sunyi sekali. Anjing tetangga yang menyalak terus-terusan membuat kami bertambah panik. Tetangga samping rumah saya juga sudah mengungsi ke luar kota. Sejak pagi tidak ada satupun pekerjanya yang tampak. Tiba-tiba, mobil tetangga yang ada di pojok jalan melintas di depan kami, sepertinya mereka juga hendak mengungsi. Gimana nggak jadi paranoid coba?

Kami mulai merasa tidak nyaman. Saya mulai berpikir bagaimana jika rasa takut banyak orang terhadap letusan hebat malah akan menarik Merapi untuk benar-benar meletus? Wilayah sekeliling saya saat ini menjadi kantong-kantong pengungsian. Jika Merapi meletus, pasti mereka akan dievakuasi beramai-ramai. Dan kami akan terjebak di tengah-tengah orang-orang panik.

Saya dan adik saya kemudian berkemas-kemas dan pergi ke rumah saudara yang berada di daerah Bantul. Sampai di sana, kami menertawakan kepanikan saya dan adik saya. Sejak saat itu, saya berusaha menghindari menonton TV. Meski logika saya berkata rumah saya masih ada di kawasan aman, terus menerus melihat gambar rumah rusak dan mayat-mayat yang dievakuasi membuat saya khawatir.