Sekolah itu (seharusnya) Menyenangkan

Sekolah Alam Ciganjur

Sejak melihat anak-anak yang belajar dengan gembira di Sekolah Alam, saya ingin bertemu perumus metode pendidikan tersebut. Namanya Lendo Novo. Awalnya, ia berkuliah di bidang perminyakan. Ketertarikan Lendo Novo terhadap dunia pendidikan dimulai pada tahun 1989.

Waktu ia dipenjara karena meminta Presiden Suharto turun. Tentara yang menginterogasinya berkomentar “Kalian itu kuliah baru S2 saja sudah berani melawan Pemerintah. Mereka punya mentri-mentri yang gelarnya Professor dan Doktor.” Kalimat tersebut memunculkan serangkaian pertanyaan. Kenapa masyarakat Indonesia menghargai orang berdasar kepintaran, harta, popularitas, atau fisik yang indah? Orang kemudian mencari jalan pintas karena ingin dihargai. Ada yang korupsi karena ingin kaya. Ada yang membeli gelar atau mencontek karena ingin dianggap pintar. Dan orang-orang yang ingin fisik rupawan melakukan operasi plastik.

Lendo Novo kemudian mempertanyakan seperti apakah orang yang paling berharga di mata Tuhan. Sebagai penganut Islam, ia mencari rujukan di Al Quran. Ia menemukan bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang bertakwa dan paling berguna. Lendo Novo kemudian berpikir untuk mengubah cara pandang yang ada di masyarakat. Caranya: melalui pendidikan.

Lendo Novo

Ia kemudian membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Lendo Novo melihat Jepang, Jerman, dan Singapura maju karena memiliki sikap-sikap seperti jujur, adil, disiplin, dan bekerja keras. Mulailah ia merancang sebuah sekolah yang 80% kurikulumnya berupa pendidikan karakter. Lendo percaya ilmu seperti Matematika bisa dipelajari kapan saja. Berbeda dengan karakter yang harus dilatih sejak dini. Karena setelah dewasa, sifat seseorang sudah terbentuk dan susah berubah.

Kurikulum sekolah alam mengacu pada Al Quran dan hadis. Ia memperkaya metodenya dengan berbagai bacaan seperti sekolah Toto Chan, Mahatma Gandhi, Paulo Freire dan lain-lain. Intinya, manusia tercipta untuk menjadi kalifah—pemimpin—di muka bumi. Jadi ia harus memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk mengelola alam.

Ada 4 pilar yang menjadi dasar pengajaran sekolah alam. Tahu cara tunduk kepada Tuhan, tahu cara tunduk mahluk lain kepada Tuhan, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Berbeda dengan sekolah umum yang banyak menghapal, murid-murid sekolah alam lebih belajar lewat praktek. Seperti saat belajar tentang pohon. Mereka akan langsung melihat tumbuhannya. Murid-murid kemudian mengamati bagaimana pohon tersebut hidup dari air dan sinar matahari dan mendiskusikannya. Saat belajar dengan cara tersebut melatih logika seorang anak. Supaya proses belajar terjadi dengan baik, sekolah perlu menciptakan suasana yang menyenangkan.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Sekolah alam pertama berdiri tahun 1998. Kini, metode pembelajarannya diadopsi oleh sekitar 2000 an sekolah. Masing-masing sekolah tersebut mengembangkan kurikulum sesuai lokasi masing-masing sekolah. Saat ini ada School of Universe di Parung yang menjadi semacam sekolah model bagi sekolah alam. Di sana, metode-metode pengajaran diuji terus-menerus.

Saat merumuskan sekolah alam, Lendo Novo ingin membuat sekolah yang menerima keberagaman muridnya. Dulu, Lendo sering dihukum di sekolah karena tidak bisa diam. Orangtuanya bahkan pernah membawanya ke psikiater. Ia juga memiliki kakak yang diffable dan bersekolah SLB. Di sekolah alam, anak yang berbeda seperti dirinya dan kakaknya bisa bersekolah sama-sama. Tanpa dilabeli bodoh atau nakal.

Masih banyak hal belum saya tuliskan di sini. Halaman blog ini terlalu kecil untuk membuat satu tulisan utuh tentang Sekolah Alam. Saya harap, saya akan menuliskan kelanjutan masih perlu melihat praktek pembelajarannya di sekolah. Semoga saya bisa melanjutkan menuliskan hal tersebut.

Cerita Padi di Tiga Negara

Padi di Manggarai, FloresPertanian bukan lagi lahan pencari nafkah yang menjanjikan. Hal tersebut menyebabkan jumlah petani kecil berkurang. Lahan-lahan pertanian kemudian beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, atau mall yang memberikan uang lebih. Lalu, bagaimana nasib kita ke depannya? Dengan penduduk bumi yang diperkirakan berjumlah 9 milyar orang pada 2050, mampukah nanti lahan pertanian yang tersisa mencukupi kebutuhan sekian banyak mulut?

Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan dalam riset kolaboratif yang dilakukan alumni Asian Public Intelectual. Ekoningtyas Margu Wardani dan 4 orang rekannya melakukan penelitian mengenai padi di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Riset yang dipublikasikan dalam bentuk pameran foto ini memilih padi sebagai subyek penelitiannya karena komoditas ini ditanam di hampir semua benua. Beras merupakan hasil pertanian penting yang dikonsumsi hampir separuh penduduk bumi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada beras. Kita yang dahulu memiliki beragam bahan makanan pokok, kini mulai meninggalkan jagung, sagu, ketela, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia pengimpor beras. Impor komoditas pertanian juga dilakukan pemerintah untuk menjaga harga produk pertanian tetap rendah. Padahal dari sisi petani kebijakan tersebut merugikan dan membuat orang enggan bertani.

Di Indonesia meski harga padi organik lebih tinggi, tidak banyak petani mau menanamnya. Lahan-lahan pertanian terlanjur mengandung banyak zat kimia. Untuk menjadi lahan organik, tanah butuh tiga hingga lima tahun untuk mengembalikan kesuburannya. Selama masa itu, produktivitas padi turun.

Thailand yang dikenal sebagai negara pengekspor beras pun petaninya belum sejahtera. Sarana produksi pertanian kerap lebih mahal daripada harga jual produk. Petani yang tidak mampu membayar hutang lama-lama menjual lahannya karena terlilit hutang. Di lokasi penelitian, para petani beralih ke organik karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di Ogawa, Jepang, pertanian organik tidak lepas dari seorang tokoh bernama Yoshinori Kaneko. Ia kembali ke pertanian organik pada tahun 71 karena melihat kerusakan lingkungan. Ia mengajarkan peranian organik kepada para petani muda yang kebanyakan berasal dari kota. Mereka memilih menjadi petani karena bahagia bisa hidup harmonis dengan alam dan terhubung dengan konsumen berasnya. Kaneko berprinsip bahwa “Uang tidak membuat kita hidup. Kita hidup karena makanan yang kita makan.” Istrinya menambahkan bahwa jangan pernah berharap pada pemerintah. Lebih baik para petani menanam apa yang mereka makan. Setelah itu, sebarkan dengan berbagi makanan sehatmu.

Senada dengan Kaneko, Prof. PM. Laksono dalam pembukaan pameran menyarankan tentang kemandirian pangan. Menurutnya, tiap orang sebaiknya bertani sendiri untuk mencukupi kebutuhan dapur. Beliau sendiri menggarap sepetak lahan untuk dimasak sendiri. Lalu, adakah teman-teman yang mau kembali menjadi petani? Saya pun mulai dengan menanam sayur di pekarangan rumah.

Belanja Sampai Mati!

“Orang Indonesia itu kaya-kaya ya? Aku tadi lihat orang belanja ratusan ribu rupiah cuma untuk ember! Kenapa nggak beli di tempat lain saja?” Kalimat tadi keluar dari mulut adik saya yang setahun ini tinggal di Australia. Dia pulang ke Jogja dan datang ke sebuah pusat perbelanjaan mahal. Di sana, ia melihat orang-orang mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk barang remeh seperti kain pel atau baju bayi yang hanya muat dipakai beberapa minggu. Padahal bisa saja mereka berbelanja barang sejenis di tempat lain dengan harga jauh lebih murah.

belanja baju
Adik saya heran. Katanya di Indonesia (terutama Jogja tempat orangtua kami tinggal) gaji penduduknya kecil. Tapi selalu saja ada banyak pembeli barang-barang mahal di pusat perbelanjaan tadi. Dia yang mendapat pemasukan dalam dolar saja masih berhitung sebelum membeli barang.
Saya jadi ingat sebuah desa yang pernah saya datangi di Jambi. Desa tersebut masih saja menjadi sasaran program pengentasan kemiskinan. Padahal, jika dipikir, sebagian penduduk desa tadi punya lahan yang cukup luas. Rata-rata memiliki tanah lebih dari 1,5 hektar dengan tanaman karet, pinang, kopi, atau sawit. Logikanya, pendapatan mereka per tahun lebih dari cukup. Selain itu mereka bisa memanfaatkan lahan untuk bertanam sayur. Supaya mereka tidak perlu membeli sayuran. Bukankah hal tersebut cukup menghemat?

besi putih maluku
Sayang yang saya lihat tidak demikian. Mereka tetap saja merasa kekurangan uang. Seorang teman yang tinggal di tempat tersebut bercerita, penduduk di sana tidak miskin. Mereka hanya terlalu boros. Saat panen, mereka cepat sekali membeli barang. Tukang kredit kendaraan, perhiasan dan peralatan rumah tangga memperparah hal tersebut. Penduduk mudah membeli barang karena ada iming-iming pembayarannya bisa dicicil. Jadi, sebenarnya mereka butuh program pengentasan kemiskinan atau manajemen keuangan?
Sepertinya membedakan antara ingin dan butuh bukan hal yang gampang. Saya pun masih sering gagal menahan diri untuk belanja barang tidak penting. Saya gampang tergoda membeli barang yang akhirnya tidak pernah terpakai. Entah kenapa, saya sering memulai suatu kegiatan dengan membeli barang. Seperti jika saya ingin membuat scrapbook, saya memulainya dengan belanja belasan alat tulis, kertas, dan buku panduan. Padahal, seharusnya saya bisa memakai barang apa saja yang ada di sekitar saya. Belanja barang remeh tersebut tanpa sadar jika dikumpulkan nominalnya menjadi banyak juga. Seharusnya saya bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna.

Icip-icip Yummy di Cupuwatu Resto

Gara-gara melihat iklan tentang manuk londo di sepanjang Jalan Solo, saya penasaran dengan rasanya. Menu andalan Resto Cupuwatu tadi masuk ke daftar kuliner Jogja yang ingin saya icipi. Dan, hari ini saya berkesempatan menikmati kuliner khas Yogyakarta bersama blogger-blogger lain.

Kata malon dipakai untuk menyebut burung yang berasal dari Perancis. Di sana, unggas ini lebih dikenal dengan nama franch quail. Malon kemudian diternakkan di Jogja. Menurut flyer yang saya baca, burung ini proteinnya lebih tinggi dari bebek. Tapi penikmatnya tidak perlu khawatir karena kolesterolnya lebih rendah jika dibandingkan dengan bebek. Kuliner Jogja

Kami mulai datang untuk mencicipi kuliner khas Yogyakarta ini mulai pukul 11 siang. Saya memesan Malon Bumbu Kuning dan Es Campur. Berhubung saya mendapat meja nomer satu. Pesanan saya yang pertama datang. Hore.. saya bisa makan sebelum blogger lain.
Waktu pelayan mengantarkan piring ke meja, saya langsung membaui kunyit dan rempah-rempahnya. Hangat dan manis. Langsung saja cepat-cepat saya makan. Saya memilih untuk menikmatinya langsung dengan tangan. Lebih enak untuk menguliti daging tanpa garpu dan sendok. Malon bumbu kuning ini rempah-rempahnya terasa sampai ke tulang-tulang. Kata public relation Cupuwatu, Malon butuh lebih lama dimasak. Ia diungkep lebih lama daripada unggas lain supaya empuk. Si mbak benar, saya bisa mengunyah tulang leher dan kepala malon. Rasanya gurih.

Selain menu yang dimakan para blogger, Cupuwatu Resto mendisplay ke delapan menu Malon di sekeliling ruangan. Berbagai menu malon-malon ini ditata di piring-piring dengan latar patung loro blonyo dan punokawan. Selain 8 menu malon, ada dua menu tambahan yang disajikan di tampah. Jadi pengen nyoba yang lain.

Kuliner khas Jogja

Saya langsung berbaik hati menawarkan malon yang saya pesan ke mbak Ika yang duduk di samping saya. Modus, padahal sebenarnya saya ingin gantian mencoba Malon Pekingnya 😛 Dan, rasa rempah masakan tadi kuat sekali. Bau kayu manisnya langsung tercium. Makanan tadi juga dilengkapi dengan saos rempah-rempah manis.

Berhubung saya masih penasaran dengan menu yang lain, saya sengaja menyapa blogger-blogger yang ada di meja lain. Selain untuk bertukar kabar, tentu saja untuk mencicipi menu yang berbeda. Saya sempat mencoba Malon BBQ yang menjadi menu terfavorit di restoran ingin menjadi tujuan baru kuliner khas Yogyakarta. Rasanya seperti ayam bakar. Cuma lebih manis dan ada rasa madunya. Ke delapan menu Malon tadi dibrandol dengan harga mulai 23.500 rupiah. Rata-rata menu berharga 27.500 rupiah. Harga yang cukup terjangkau jika dibanding dengan rasanya. Hanya Gudeg Kendil Malon yang harganya jauh berbeda. Satu kendil harganya 110.000 rupiah. Gudeg ini bisa dijadikan oleh-oleh karena tahan hingga 48 jam.

Sebenarnya saya masih ingin mencoba nasi kebuli dan sego wiwit. Kedua menu tadi disajikan dalam menu besar dalam sebuah tampah. Sepertinya enak. Pengen nyobain pas ada acara . Bisa delivery order ga ya?

BxPKhzECEAA2_Vc

Negeri Dangdut Indonesia

Akhir-akhir ini saya mulai teracuni oleh lagu-lagu dangdut koplo. Ceritanya, tiap kali pergi beramai-ramai dengan teman kantor ke Gunungkidul, mobil penuh dengan lagu seperti Oplosan, Di Reject, Pokoke Goyang, sampai Capek Deh. Saya yang pilih-pilih lagu, biasanya menolak mendengarkan lagu cengeng. Saya percaya perilaku seseorang dibentuk oleh apa yang ia lihat, baca, dan dengar sehari-hari. Nah, berhubung lagu dangdut koplo itu kebanyakan cengeng dan hobi mengasihani diri sendiri, saya tidak pernah menaruh satu pun di playlist saya.

Berhubung tiap minggu lebih dari dua jam saya berulang-ulang lagu yang itu-itu saja, lama kelamaan saya mulai hafal liriknya. Kata bos saya sih, lirik tadi cerminan masyarakat kelas bawah. Hal-hal seperti diduakan, kesepian karena si suami atau istri harus mencari nafkah di luar kota kemudian diselingkuhi, merupakan hal-hal yang lumrah terjadi. Pendengarnya merasa lagu-lagu seperti tadi merupakan cerminan hidupnya.

Ya, di desa-desa Pulau Jawa cerita tadi jamak terjadi. Karena desa tidak memberikan banyak lapangan pekerjaan, penduduk usia kerja harus bekerja di kota-kota terdekat. Tapi kenapa sebagian besar liriknya mengasihani diri sendiri? Kenapa tidak menceritakan betapa seseorang bekerja keras demi keluarga atau karena ia ingin anaknya punya hidup yang lebih baik? Atau, mengasihani diri sendiri mungkin mental sebagian besar masyarakat Indonesia?

Dangdut koploSaya pernah sekali menonton pertunjukan dangdut. Itu pun tidak sengaja. Awalnya, saya dan sepupu saya berniat berenang di sebuah mata air. Kami tidak tahu kalau di sana sedang ada pertunjukkan dangdut. Berhubung kami sudah terlanjur menempuh perjalanan lebih dari 3 jam kami cuek saja berenang di tengah ratusan orang yang sedang bergoyang. Beberapa sambil minum. Di panggung, ada beberapa orang penyanyi bergantian menyanyi. Dandanannya 11-12. Baju sangat ketat dan minim dengan warna norak dan make-up tebal. Kata bos saya lagi, untuk masyarakat kelas bawah, datang ke pertunjukan merupakan obat untuk beban hidupnya. Setidaknya, sejenak mereka lupa kalau punya hutang atau entah besok makan apa.

Setelah menjadi pengamat lirik lagu, saya tertarik dengan lirik “Oplosan”. Dibanding yang lain isinya mendidik. Tentang anjuran untuk berhenti membuang uang untuk mengonsumsi minuman keras. Bukannya kalau ingin menyampaikan sesuatu harus menggunakan cara yang menghibur supaya bisa diterima masyakakat? Sepertinya saya harus mulai mengenali selera masyarakat. Dan saya mulai dengan mulai menikmati lagu dangdut. Baiklah, besok waktu karokean, lagu Roar- Katy Pery akan berubah menjadi di rejectnya Jenita Janet.

Curhat Pak Tani

“Petani itu pekerjaan mulia. Mereka menyediakan pangan untuk semua orang di dunia. Tapi kok nasibnya tidak baik ya? Sengsara dan miskin. Saya sendiri mau mengaku petani rasanya kok malu. Tidak sebangga kalau punya pekerjaan lain,” tutur Sumadi, seorang petani hutan yang tinggal di daerah Panggang, Gunungkidul.

Pak Sumadi, dan hampir seluruh penduduk Desa Girisuko hidup dari bertani. Wilayah mereka, tanahnya subur. Kata Pak Sumadi, tanaman apapun bisa tumbuh dengan baik. Sayang, air hanya ada di musim penghujan. Saat musim kemarau, jangankan untuk bertani, untuk konsumsi sehari-hari pun, mereka harus membeli. Ada program bantuan air dari pemerintah dan pihak swasta. Tapi itu tidak cukup, masing-masing keluarga petani berjumlah empat orang, tiap musim kemarau harus membeli empat hingga delapan tangki air dengan harga sekitar 125 hingga 180 ribu rupiah.

Karena petani-petani di Girisuko dan sekitarnya hanya bisa bercocok tanam saat musim penghujan, mereka panen di waktu yang sama. Akibatnya, harga produk pertanian jatuh. Saya sempat bertanya kepada Pak sumadi, pernahkah mereka mencoba mencari sumber air? Bukankah jika mereka bisa bercocok tanam sepanjang tahun harga komuditas pertanian lebih stabil?

Kata Pak Sumadi, air yang ada di kawasan Panggang langsung masuk ke sungai-sungai bawah tanah. Yang dalamnya bisa sampai ratusan meter. Sejauh ini, belum pernah ada yang mencoba mengambil air tersebut. Mungkin, kalaupun bisa, biaya yang dikeluarkan akan sangat mahal, tidak terjangkau oleh petani-petani yang pendapatan per bulannya kurang dari satu juta rupiah.

Dulu, saat Habibie menjadi presiden, pernah ada pembangunan saluran air dari PDAM. Pralon tadi sudah sampai ke desa. Sayangnya, air hanya keluar saat pemasangan pralon selesai. Hingga kini, saluran air tersebut tidak pernah digunakan.

Beberapa tetangga Pak Sumadi kemudian bergabung. Kami ngobrol tentang banyak hal mulai dari tingkat pendidikan, akses jalan, akses informasi, hingga petani yang lebih memilih membeli bibit dari pabrik. Inti dari obrolan tadi, mereka memang turun-temurun miskin. Saya jadi teringat cerita tentang banyaknya program penanggulangan kemiskinan yang tidak berhasil mengurangi angka kemiskinan. Rata-rata program tadi hanya melihat kemiskinan dari satu sisi. Satu tindakan, dianggap bisa mengurangi kemiskinan. Kalau dianalogikan, seperti penderita kanker yang makan obat penghilang nyeri. Hal tersebut tidak menyembuhkan kankernya.

Selama ini saya juga sering mendengar, petani miskin karena sempitnya lahan yang dimiliki. Apakah masalah kemiskinan selesai begitu mereka diberi hak untuk memiliki atau mengelola lahan yang lebih luas? Sepertinya tidak. Saya teringat tahun 2012 lalu saat membuat film dokumenter di Desa Sambeng, Boyolali. Setelah masyarakat mendapat hak kelola hutan, masing-masing petani bisa memanfaatkan ¼ hektar lahan untuk bertani. Beberapa pengurus bahkan mendapat lahan hingga satu hektar. Apakah mereka kemudian sejahtera? Tidak juga. Petani-petani di Sambeng menanami lahannya dengan jagung, ketela, dan kacang yang harga jualnya rendah. Mereka tidak berani menanam komoditas lain yang harga jualnya lebih tinggi karena takut gagal. Juga tidak mengolah hasil panen tersebut untuk mendapat harga jual yang lebih tinggi.

Pendapatan mereka memang meningkat, mereka juga bisa menghemat pengeluaran dengan memasak sayuran dari kebun. Itu artinya mengurangi uang belanja. Tapi bagaimana dengan biaya sekolah yang harus dikeluarkan untuk anaknya? Belum lagi biaya kesehatan yang semakin mahal? Petani-petani di Sambeng menyelesaikan masalah tersebut dengan mencari tambahan penghasilan. Mereka menggarap lahan Perhutani di tempat lain. Yang ditanam tetap saja jagung, ketela, dan kacang.

Saya jadi teringat dulu sewaktu masih mengelola perpustakaan keliling. Saya dan beberapa teman pernah mengajak anak-anak petani di sebuah desa untuk menggambar dan bercerita tentang cita-citanya. Guru adalah cita-cita paling banyak disebut. Kenapa? Di desa tersebut guru profesi yang terhormat. Pegawai negeri yang punya pendapatan bulanan dan ada jaminan pensiun. Banyak orangtua yang berpesan kepada anaknya, sekolah yang pintar dan setinggi mungkin. Supaya bisa mendapat pekerjaan yang baik. Jangan seperti orangtuamu yang “hanya” petani. Lah, kalau sudah tidak ada orang lagi yang mau jadi petani, nanti bagaimana kita makan? Mau impor terus-terusan?

Saya percaya kalau, nasib seseorang berubah saat ia merubah cara berpikirnya. Hal tersebut butuh proses bertahun-tahun. Ada banyak hal yang mempengaruhi cara berpikir seseorang? Lalu ini tugas siapa? Pemerintah? Bukankah seharusnya kita punya tanggung jawab sosial untuk membantu orang lain? Saya jadi kembali bertanya ke diri saya sendiri. Apa ya yang sudah pernah saya lakukan untuk mereka ya?