Pahlawan Dengan Tanda Jasa

Waktu membalik-balik sebuah majalah, saya melewatkan artikel tentang seorang pahlawan. Biasanya, saya menyukai cerita tentang orang-orang yang rela mendonasikan waktu dan uangnya untuk menyelamatkan dunia. Tapi tidak untuk tokoh satu ini. Beberapa kali saya sempat membaca atau menonton koran dan tv memuji habis ia sebagai seorang inspirator. Tapi orang-orang yang pernah bekerja dengannya menyatakan sosok tadi tidak setulus itu. Ada banyak sisi gelap tokoh tersebut yang belum ditampilkan oleh media.

Dulu, sewaktu masih naif (sekarang agak tidak terlalu), saya percaya ada orang-orang yang rela menyumbangkan hidupnya untuk orang lain. Awalnya, saya selalu terpesona saat membaca atau menonton cerita tentang orang-orang berbuat baik tanpa pamrih. Bahkan, saya sempat punya mimpi untuk mengumpulkan cerita tentang para pahlawan ini supaya orang lain meniru mereka.

Setelah bertemu dengan banyak orang dan mulai belajar tentang sistem ekonomi, saya mulai melihat bahwa ada banyak alasan orang melakukan sesuatu. Satu demi satu pahlawan yang pernah saya temui ternyata tidak selurus yang saya dengar sebelumnya. Pahlawan juga manusia. Mereka harus membayar tagihan tiap bulan dan butuh pengakuan (baca: pujian) dari orang lain.

Saya pernah menonton film tentang seorang penyelamat lingkungan. Versi filmnya, bertahun-tahun, Bapak A mengajak tetangga dan kerabatnya untuk membuat hutan supaya desanya selamat dari bencana alam. Karena penasaran dan kagum, saya berusaha menemui Bapak A. Saya tidak sempat bertemu langsung dengannya. Penduduk desa yang saya temui bercerita kalau si A tidak sehebat bayangan saya. Konon, tokoh tadi awalnya melakukan penanaman pohon karena dibayar sebuah LSM. Penduduk desa yang lain membantunya karena ada iming-iming jika mereka membangun hutan akan ada bantuan dari pemerintah atau pihak luar.

Cerita serupa berkali-kali saya temui. Ada seorang seniman yang kata media melestarikan peninggalan leluhur. Setelah bertemu langsung dan ngobrol berjam-jam, saya baru sadar ia melakukan hal tersebut lebih karena mencari nafkah. Lain waktu, saya mendengar tentang seseorang yang mendapat penghargaan karena berhasil memberdayakan penduduk desanya. Saat menjadi pembicara di berbagai seminar, ia selalu menggembor-gemborkan tentang pemberdayaan masyarakat. Ironisnya, di desanya hanya segelintir orang yang terlibat. Penduduk desa lain tidak tahu apa yang ia lakukan.

Menggambar bersama

Media massa sering kali dianggap sebagai sumber yang dapat dipercaya. Padahal, bisa jadi wartawannya terjebak ingin membuat cerita yang heroik. Ia perlu mendramatisir ceritanya supaya dimuat oleh media massa. Ia harus bersaing dengan wartawan lain karena ruangan di media terbatas.

Lalu, apakah orang yang benar-benar baik itu tidak ada? Tidak juga. Bertemu dengan banyak orang membuat saya belajar kalau manusia itu tidak hitam dan putih. Tiap orang baik memiliki sisi buruk, begitu juga sebaliknya. Sampai sekarang saya masih membaca buku biografi. Tapi tidak mempercayai seluruh isi beritanya begitu saja. Setidaknya saya masih mendapat cerita, dibalik kesuksesan atau nama besar seseorang, selalu ada banyak kerja keras.

Iklan

Merapi vs Teror Media

Sejak akhir Oktober lalu, saya sering mendapat pertanyaan dari kerabat dan teman yang ada di luar kota tentang apakah letusan Merapi sampai di tempat saya. Awalnya, saya malah tidak terlalu tahu kalau Merapi meletus lagi. Pada waktu Merapi meletus pertama kalinya pada tanggal 26 Oktober, saya sedang ada acara di daerah pinggiran kota. Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sama sekali tidak menonton TV, tidak sempat membaca koran, dan hanya menggunakan internet untuk mengecek email karena sinyal sering putus. Saya selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan nada santai. Itu cuma media massa yang melebih-lebihkan berita. Merapi tiap empat atau lima tahun sekali meletus dan awan panasnya tidak pernah lebih dari 10 kilo meter dari puncak. Rumah saya jaraknya masih 24 kilo dari puncaknya. Paling parah, kami hanya akan terkena hujan abu.

Pemberitaan di media massa semakin menghebat saat Mbah Marijan, juru kunci merapi yang menjadi selebritis karena saat Merapi meletus tahun 2006 menolak mengungsi dan selamat, ditemukan meninggal terkena awan panas. Apalagi ada banyak artis datang ke pengungsian untuk memberikan bantuan secara langsung. Mentawai yang pada saat hampir bersamaan terkena gempa dan tsunami sempat tidak terdengar beritanya karena lokasinya yang sulit membuatnya tidak terekspose media.
Gara-gara gencarnya pemberitaan media massa, beberapa teman saya mulai was-was apabila pergi ke arah utara. Mereka yang memiliki keluarga di luar kota selalu dipesan oleh keluarganya supaya menjauhi Merapi. Bahkan, banyak yang mulai pulang kampung karena merasa tidak aman di kota ini. Koran mulai dipenuhi judul dan berita bombastis seperti: Merapi aneh, warga panik, Merapi luar biasa, masih bisa meletus sewaktu-waktu dengan kekuatan yang tidak bisa diprediksi. Televisi pun tidak jauh berbeda.

Kamis tengah malam (tanggal 4 menuju 5), saya terbangun karena perasaan saya tidak enak. Saya mendengar adik saya sedang ngobrol di telepon dengan temannya. Temannya yang tinggal di luar kota bertanya apakah kami baik-baik saja karena saat ini Merapi meletus hebat. Adik saya menyalakan TV dan memilih sebuah stasiun TV yang terdepan dalam mengaburkan (bukan salah tulis, mereka memang suka memberitakan kabar kabur). Di TV, reporter berada di pinggir jalan raya, dibelakangnya penuh dengan orang-orang panik dan berusaha pergi ke selatan. Reporter tersebut memberitakan kalau Jogja di radius 20 kilometer sudah tidak aman lagi. Saya cuma melihat sepintas berita tersebut dan lebih tertarik kembali tidur karena beranggapan berita tersebut cuma gosip yang sengaja didramatisir untuk menaikkan rating.

Beberapa jam kemudian, datang seorang ibu paruh baya sambil menangis. Ia berasal dari Dusun Bronggang, Cangkringan (rumah kakek saya yang sekarang tidak ditempati ada di desa tersebut, tetangga-tetangga kakek banyak yang tahu rumah kami karena saat lebaran banyak yang bertamu ke rumah). Ibu tadi bercerita kalau rumah-rumah tetangganya banyak yang terbakar akibat lontaran batu-batu dari merapi. Agak siangan, anak dan suaminya datang menyusul. Kemudian datang lagi dua keluarga dari dusun yang sama.

Karena mereka ingin tahu kabar tetangga dan kerabatnya, kami bersama-sama menonton TV. Selama sehari penuh, kami disuguhi pemandangan mencekam: rumah-rumah roboh dan terbakar, mayat-mayat gosong, dan orang-orang yang panik naik ke truk. Hingga sore hari, semua stasiun TV mengulang-ulang berita tentang desa-desa yang dipenuhi abu yang masih mengepul dan tim evakuasi yang dikejar awan panas. Mereka tidak menyebut gambar tadi diambil jam berapa. Pernyataan bahwa Merapi akan meletus lagi dengan kekuatan yang belum bisa diprediksi berkali-kali terdengar. Tamu-tamu kami akhirnya memutuskan untuk menjemput kerabatnya yang mereka lihat di TV dibawa ke rumah sakit kemudian memilih untuk mengungsi keluar kota.

Sepanjang hari, jalan raya di dekat komplek perumahan saya lebih ramai oleh orang-orang ngebut ke arah selatan sembari membawa tas-tas besar. Malam harinya, ada dua keluarga lain datang untuk menginap. Mereka berasal dari Dusun Candi yang letaknya sekitar 17 kilometer dari Puncak merapi. Kedua keluarga ini bercerita kalau desanya sudah seperti kota mati. Tetangga-tetangga mereka pergi mengungsi karena ketakutan Merapi akan meletus hebat.

Hari Sabtu, saya menjemput adik perempuan saya di Stasiun Tugu. Sepanjang perjalanan, saya melihat orang-orang beramai-ramai menonton (dan memoto) Sungai Code yang meluap. Karena adik saya mencari beberapa barang yang akan dia bawa ke Purworejo keesokan harinya, kami pergi ke beberapa pusat perbelanjaan. Jalan Malioboro yang biasanya tiap malam minggu ramai dan kadang macet, kali itu tampat sedikit lengang. Sepertinya turis mulai ketakutan untuk datang ke Jogja.

Saya mendapat telepon dari beberapa teman. Sepertinya mereka baru saja melihat TV yang menceritakan tentang korban-korban letusan merapi. Kebanyakan teman saya berpikir kalau letusan Merapi menghancurkan sebagian besar Kota Jogja. Lucunya, salah satu telepon tadi datang dari seorang teman yang biasanya saat menelepon atau bersms selalu bercerita tentang dirinya. Aneh rasanya, tiba-tiba kali ini dia menanyakan apakah saya baik-baik saja? (Saya masih menganggap dia teman karena tiap kali ke kotanya, saya dapat tebengan dan wisata kuliner gratis). Saya cuma menjawab dengan santai: Jogja bagian tengah dan selatan masih normal-normal saja. Saat ini saya sedang berbelanja di Jalan Solo. Di sini banyak orang yang sepertinya tidak terpengaruh dengan Merapi. Buktinya, tempat bilyar dan hiburan yang barusan saya lewati parkirnya penuh.
Hari minggu, saya melihat beberapa tetangga memasukan barang-barangnya ke mobil dan pergi mengungsi. Beberapa ketakutan karena ada sebuah stasiun TV yang meramalkan Merapi akan meletus lebih hebat lagi. Kebetulan sejak siang hari Merapi meletus dan suara gemuruhnya terdengar di kejauhan. Awalnya saya masih santai-santai saja waktu beberapa teman yang pulang kampung bertanya kenapa saya belum mengungsi padahal rumah saya masih berada di wilayah utara.

Sore harinya, saya bersepeda keliling komplek dan desa sebelah. Blok di belakang rumah saya yang biasanya tiap minggu sore ramai oleh anak kecil dan pengasuhnya, tiba-tiba sunyi. Hanya ada satu rumah yang pintu gerbangnya tidak terkunci dan masih ada mobil di garasinya.

Sampai malam hari, suara gemuruh masih terdengar. Saya dan adik laki-laki saya mengamati ikan-ikan yang ada di kolam samping rumah. Adik saya ngotot kalau ikan-ikan tadi tampak panik (sebelumnya, tiap kali ada letusan, ikan-ikan tadi ada di permukaan dan bergerombol). Kami kemudian berdiri di depan pintu gerbang rumah. Suasana malam itu sunyi sekali. Anjing tetangga yang menyalak terus-terusan membuat kami bertambah panik. Tetangga samping rumah saya juga sudah mengungsi ke luar kota. Sejak pagi tidak ada satupun pekerjanya yang tampak. Tiba-tiba, mobil tetangga yang ada di pojok jalan melintas di depan kami, sepertinya mereka juga hendak mengungsi. Gimana nggak jadi paranoid coba?

Kami mulai merasa tidak nyaman. Saya mulai berpikir bagaimana jika rasa takut banyak orang terhadap letusan hebat malah akan menarik Merapi untuk benar-benar meletus? Wilayah sekeliling saya saat ini menjadi kantong-kantong pengungsian. Jika Merapi meletus, pasti mereka akan dievakuasi beramai-ramai. Dan kami akan terjebak di tengah-tengah orang-orang panik.

Saya dan adik saya kemudian berkemas-kemas dan pergi ke rumah saudara yang berada di daerah Bantul. Sampai di sana, kami menertawakan kepanikan saya dan adik saya. Sejak saat itu, saya berusaha menghindari menonton TV. Meski logika saya berkata rumah saya masih ada di kawasan aman, terus menerus melihat gambar rumah rusak dan mayat-mayat yang dievakuasi membuat saya khawatir.