Toba Dreams, cerita tentang keluarga dan hasrat untuk kaya

Toba Dreams, cerita tentang keluarga dan hasrat untuk kaya

Film ini satu dari sedikit film yang tidak saya protes begitu keluar dari bioskop. Saya suka cara Benny Setiawan menyutradarai dan menulis skenarionya. Toba Dreams bercerita tentang Sersan Tebe (Mathias Muchus) yang mengakhiri jabatannya di Angkatan darat. Setelah pensiun, ia harus keluar dari rumah dinas. Karena pendapatannya tidak lagi cukup untuk bertahan di Jakarta, ia mengajak ketiga anaknya pulang ke Toba.

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

Keinginan tersebut ditentang oleh Ronggur (Vino G Bastian), anak pertamanya. Ia enggan tinggal di kampung. Selain itu, kekasihnya tinggal di Jakarta. Setelah melalui perdebatan panjang, keluarga ini tetap pindah ke Toba. Anak-anak Tebe kesulitan beradaptasi dengan fasilitas yang kurang. Konflik timbul karena Ronggur marah dan mencari-cari masalah. Sampai suatu hari, ia mabuk dan membuat ayahnya murka. Ronggur kemudian kabur dan memutuskan kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, kekasihnya ternyata sudah memiliki pria lain. Rongur kemudian tinggal di rumah Tomi, temannya. Keluarga Tomi harus menanggung malu karena sang ayah korupsi. Sambil mencari pekerjaan, ia menjadi supir taksi. Hingga akhirnya, ia terjebak menjadi pengantar narkoba. Ronggur kemudian menjadi kaya raya dan hendak menunjukkan kepada sang ayah jika ia sukses.

Saya menikmati menonton film ini karena alurnya menarik. Pada awal film, penonton kerap tertawa oleh adegan-adegan lucu dan percakapan yang cerdas. Baru pada pertengahan cerita, kelucuan tersebut berkurang karena penonton sudah terlibat dalam drama yang terbangun.

Selain itu, dua tokoh utama film berakting bagus. Mathias Muchus bisa memerankan ayah yang pemarah dan otoriter. Vino G Bastian juga bisa menghidupkan pemuda yang pemberontak, keras kepala, dan angkuh.

Meskipun demikian, film ini tidak luput dari keanehan logika bercerita. Ada beberapa hal yang tidak masuk akal. Seperti pada saat Tebe sekeluarga pulang ke Toba. Ia berpidato seolah-olah penduduk Toba masyarakat yang udik dan perlu diubah. Begitu datang, penduduk langsung mengikuti anjurannya untuk bekerja bakti. Di dunia nyata, butuh proses lama untuk menyuruh sebuah komunitas berlaku di luar kebiasaannya.

Poster film. Diambil dari google

Poster film. Diambil dari google

Yang kedua, saat pertama kali Coki-anak Rongur makan bersama dengan Tebe dan keluarganya. Coki yang baru berumur lima tahun diminta memimpin doa. Ia yang dididik dengan cara Islam berkata jika caranya berdoa berbeda dengan keluarga Tebe yang Nasrani. Hal yang aneh karena umur anak lima tahun umumnya belum tahu apa itu konsep agama. Akan lebih masuk akal Coki berdoa dengan cara Islam dan anggota keluarga yang lain kaget mendengarnya.

Kalau menurut saya, judul film ini kurang tepat. Sebelum menonton, saya sempat berpikir ceritanya tetang seorang yang lahir di Toba dan berusaha untuk mengejar cita-citanya di tengah keterbatasan. Atau tentang seseorang yang pulang ke Toba untuk membangun daerahnya. Dugaan saya salah. Ceritanya lebih banyak tentang konflik ayah dan anak. Juga pencarian jati diri di kota besar.

Setidaknya saya senang. Di tengah film Indonesia yang menjual cerita hantu, komedi, atau percintaan yang begitu-begitu saja, ada film yang berbeda. Semoga kedepannya akan ada lebih banyak lagi film Indonesia yang mengangkat tema hubungan antar manusia.

Guru Bangsa Tjokroaminoto, Gambar Cantik dengan Cerita Begitulah

Dok. 21cineplex

Dok. 21cineplex

Sejak pertama melihat iklannya, saya dan suami memutuskan harus menonton film ini. Alasannya sederhana: saya suka pengambilan gambarnya yang cantik. Untuk cerita, saya tidak terlalu berharap banyak. Mengangkat kehidupan seorang tokoh besar dalam waktu 160 menit bukan hal mudah. Hal tersebut membutuhkan riset panjang. Juga penulis skenario yang sangat hebat. Untuk bisa menceritakan bagaimana Tjokroaminoto mempengaruhi kaum terjajah untuk mengimpikan kemerdekaan.
Film Tjokroaminoto bertutur tentang seorang pria jawa terdidik. Dia berasal dari keluarga bangsawan yang menikahi putri Bupati. Ia bisa saja hidup enak dan tutup mata terhadap nasib saudara sebangsanya. Tapi, Tjokro gelisah melihat bangsanya ditindas oleh orang-orang dari negeri sebrang. Ia beranggapan jika pengetahuan bisa memberi bangsa ini harga diri untuk sejajar dengan orang asing. Oleh karena itu, ia memilih bekerja sebagai pemimpin redaksi surat kabar. Dan kemudian bergabung dengan Syarikat Islam.
Untuk penonton yang tidak tahu sejarah seperti saya, film ini tidak memberikan gambaran jelas siapa itu Tjokroaminoto. Juga seberapa penting perannya di pergerakan Indonesia. Ya, di film tadi ada penggambaran ia memimpin majalah. Aktif di kegiatan Serikat Islam. Kata pekerja domestiknya, suka menolong. Tjokro juga suka berdiskusi dengan anak-anak muda. Tapi di logika saya, apakah hal-hal tadi cukup untuk menjelaskan peran penting Tjokroaminoto di pergerakan kemerdekaan?
Saya juga melihat alur film ini lambat. Beberapa penonton mulai asyik dengan gadgetnya di pertengahan film. Kenapa tidak mendramatisir adegan supaya kami tetap fokus? Kenapa justru ada adegan-adegan yang buat saya tidak membawa alur maju. Seperti penari balet di rumah Gubernur Belanda atau Tjokro datang ke pertunjukan musik. Kalau memang iya dulu Tjokroaminoto melakukan hal tersebut, apa gunanya ditampilkan di film? Apakah hal tersebut memperkuat sosok Tjokro sebagai guru bangsa?
Saya juga terganggu dengan kemunculan seorang Stella. Loper koran yang diperankan oleh Chelsea Islan ini digambarkan sebagai seorang peranakan. Ia melarikan diri saat ayah Belandanya hendak membawa pulang ke negri asalnya. Stella tidak merasa dia orang Belanda. Loper koran cantik ini berkali-kali mendatangi Tjokroaminoto. Untuk menanyakan bagaimanakah nanti masa depan Indonesia. Juga menanyakan apakah dirinya bisa menyebut diri sebagai pribumi? Di logika saya, janggal ada seorang loper koran tiba-tiba bertanya kepada orang asing yang sangat sibuk. Apalagi orang ini pria terhormat.
Saya juga heran dengan adegan rakyat berkumpul mengelu-elukan saat Tjokro bergabung dengan Syarikat Islam. Kaum miskin juga mengerumuni rumah Tjokro pada saat istri Tjokro sekarat. Mereka meminta kejelasan tentang masa depan pemerintahan sendiri. Tjokroaminoto dianggap seperti seorang Ratu Adil. Untuk saya, adegan-adegan tadi akan logis jika sebelumnya memperlihatkan dengan kuat apa saja yang sudah Tjokro lakukan untuk bangsa ini.
Kalau disuruh memberi rating. Saya memberi nilai 3 dari 5. Sekali lagi, saya bisa menikmati film sampai akhir karena saya menyukai baju-baju dan make up pemerannya. Juga setting rumah-rumah jaman dulu. Cantik.

Air dan Api: Pemadam Kebakaran itu Pekerjaan Mulia

Poster Air dan Api

Poster Air dan Api

Kemarin, tanggal 30 Maret, saya dan Gugun memutuskan untuk menonton film Air dan Api. Awalnya, film tadi sama sekali tidak ada di daftar nonton kami. Kami memilih film Indonesia secara acak untuk merayakan Hari Film Nasional.
Film tersebut bercerita tentang sekelompok pemadam kebakaran. Tiga tokoh utama dalam film, Sisi, Dipo, dan Radit masuk menjadi pemadam kebakaran karena alas an yang berbeda. Dipo yang anak pengusaha kaya, ingin memiliki pekerjaan menolong sesama. Ia bosan kuliah di sekolah bisnis dan memilih menjadi pemadam kebakaran. Radit, seorang tukang bikin onar, dipaksa ayahnya untuk jadi pemadam kebakaran. Menurut sang ayah, pekerjaan tersebut akan membuat Radit lebih bertanggung jawab. Sedangkan Sisi ingin menjadi pemadam kebakaran untuk meneruskan jejak ayahnya.
Film tadi cukup menarik untuk ditonton. Setidaknya, temanya bukan sekadar kisah cinta cengeng atau rebutan harta ala sinetron. Beberapa adegan lucu mewarnai film. Meski di beberapa tempat terlihat aneh. Bagi saya, komedi yang tidak pada tempatnya mengurangi betapa pemadam kebakaran itu pekerjaan yang mulia.

Lalu, ada adegan-adegan yang tidak logis. Seperti waktu Dipo dan teman-teman hendak menyelamatkan korban banjir. Entah darimana muncul rakit yang tiba-tiba bisa mereka gunakan.

Tapi, film ini membuka mata saya tentang profesi mulia yang tidak popular di Indonesia. Saya baru tahu kalau pemadam kebakaran juga bertugas mencegah orang bunuh diri. Mereka juga diturunkan untuk mengevakuasi korban banjir. Saya malah jadi langsung berpikir. Di Indonesia, berapa banyak ya pemadam kebakaran? Apakah jumlahnya layak? Dengan tanggung jawab sebesar itu, apakah jam kerja mereka siap untuk menjaga stamina jika sewaktu-waktu muncul bencana? Pemadam kebakaran juga manusia. Apa jika letih mereka bisa menjalankan tugas dengan baik?

Tugas pemadam kebakaran ternyata sangat luas. Mulai dari menghentikan demo hingga mencegah orang untuk bunuh diri. Hal tersebut membutuhkan kemampuan negosiasi yang baik. Apakah pemadam kebakaran di Indonesia memiliki bekal untuk itu? Selain keahlian, saya jadi bertanya apakah pemadam kebakaran di Indonesia memiliki peralatan yang layak? Apakah mereka mendapat berbagai macam pelatihan supaya bisa menyelamatkan orang dan bukannya menjadi korban? Film ini membuat saya ingin bertemu pemadam kebakaran sungguhan. Saya ingin mendengar langsung cerita tentang profesi mulia ini.

Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Cerita Padi di Tiga Negara

Padi di Manggarai, FloresPertanian bukan lagi lahan pencari nafkah yang menjanjikan. Hal tersebut menyebabkan jumlah petani kecil berkurang. Lahan-lahan pertanian kemudian beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, atau mall yang memberikan uang lebih. Lalu, bagaimana nasib kita ke depannya? Dengan penduduk bumi yang diperkirakan berjumlah 9 milyar orang pada 2050, mampukah nanti lahan pertanian yang tersisa mencukupi kebutuhan sekian banyak mulut?

Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan dalam riset kolaboratif yang dilakukan alumni Asian Public Intelectual. Ekoningtyas Margu Wardani dan 4 orang rekannya melakukan penelitian mengenai padi di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Riset yang dipublikasikan dalam bentuk pameran foto ini memilih padi sebagai subyek penelitiannya karena komoditas ini ditanam di hampir semua benua. Beras merupakan hasil pertanian penting yang dikonsumsi hampir separuh penduduk bumi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada beras. Kita yang dahulu memiliki beragam bahan makanan pokok, kini mulai meninggalkan jagung, sagu, ketela, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia pengimpor beras. Impor komoditas pertanian juga dilakukan pemerintah untuk menjaga harga produk pertanian tetap rendah. Padahal dari sisi petani kebijakan tersebut merugikan dan membuat orang enggan bertani.

Di Indonesia meski harga padi organik lebih tinggi, tidak banyak petani mau menanamnya. Lahan-lahan pertanian terlanjur mengandung banyak zat kimia. Untuk menjadi lahan organik, tanah butuh tiga hingga lima tahun untuk mengembalikan kesuburannya. Selama masa itu, produktivitas padi turun.

Thailand yang dikenal sebagai negara pengekspor beras pun petaninya belum sejahtera. Sarana produksi pertanian kerap lebih mahal daripada harga jual produk. Petani yang tidak mampu membayar hutang lama-lama menjual lahannya karena terlilit hutang. Di lokasi penelitian, para petani beralih ke organik karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di Ogawa, Jepang, pertanian organik tidak lepas dari seorang tokoh bernama Yoshinori Kaneko. Ia kembali ke pertanian organik pada tahun 71 karena melihat kerusakan lingkungan. Ia mengajarkan peranian organik kepada para petani muda yang kebanyakan berasal dari kota. Mereka memilih menjadi petani karena bahagia bisa hidup harmonis dengan alam dan terhubung dengan konsumen berasnya. Kaneko berprinsip bahwa “Uang tidak membuat kita hidup. Kita hidup karena makanan yang kita makan.” Istrinya menambahkan bahwa jangan pernah berharap pada pemerintah. Lebih baik para petani menanam apa yang mereka makan. Setelah itu, sebarkan dengan berbagi makanan sehatmu.

Senada dengan Kaneko, Prof. PM. Laksono dalam pembukaan pameran menyarankan tentang kemandirian pangan. Menurutnya, tiap orang sebaiknya bertani sendiri untuk mencukupi kebutuhan dapur. Beliau sendiri menggarap sepetak lahan untuk dimasak sendiri. Lalu, adakah teman-teman yang mau kembali menjadi petani? Saya pun mulai dengan menanam sayur di pekarangan rumah.

Belanja Sampai Mati!

“Orang Indonesia itu kaya-kaya ya? Aku tadi lihat orang belanja ratusan ribu rupiah cuma untuk ember! Kenapa nggak beli di tempat lain saja?” Kalimat tadi keluar dari mulut adik saya yang setahun ini tinggal di Australia. Dia pulang ke Jogja dan datang ke sebuah pusat perbelanjaan mahal. Di sana, ia melihat orang-orang mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk barang remeh seperti kain pel atau baju bayi yang hanya muat dipakai beberapa minggu. Padahal bisa saja mereka berbelanja barang sejenis di tempat lain dengan harga jauh lebih murah.

belanja baju
Adik saya heran. Katanya di Indonesia (terutama Jogja tempat orangtua kami tinggal) gaji penduduknya kecil. Tapi selalu saja ada banyak pembeli barang-barang mahal di pusat perbelanjaan tadi. Dia yang mendapat pemasukan dalam dolar saja masih berhitung sebelum membeli barang.
Saya jadi ingat sebuah desa yang pernah saya datangi di Jambi. Desa tersebut masih saja menjadi sasaran program pengentasan kemiskinan. Padahal, jika dipikir, sebagian penduduk desa tadi punya lahan yang cukup luas. Rata-rata memiliki tanah lebih dari 1,5 hektar dengan tanaman karet, pinang, kopi, atau sawit. Logikanya, pendapatan mereka per tahun lebih dari cukup. Selain itu mereka bisa memanfaatkan lahan untuk bertanam sayur. Supaya mereka tidak perlu membeli sayuran. Bukankah hal tersebut cukup menghemat?

besi putih maluku
Sayang yang saya lihat tidak demikian. Mereka tetap saja merasa kekurangan uang. Seorang teman yang tinggal di tempat tersebut bercerita, penduduk di sana tidak miskin. Mereka hanya terlalu boros. Saat panen, mereka cepat sekali membeli barang. Tukang kredit kendaraan, perhiasan dan peralatan rumah tangga memperparah hal tersebut. Penduduk mudah membeli barang karena ada iming-iming pembayarannya bisa dicicil. Jadi, sebenarnya mereka butuh program pengentasan kemiskinan atau manajemen keuangan?
Sepertinya membedakan antara ingin dan butuh bukan hal yang gampang. Saya pun masih sering gagal menahan diri untuk belanja barang tidak penting. Saya gampang tergoda membeli barang yang akhirnya tidak pernah terpakai. Entah kenapa, saya sering memulai suatu kegiatan dengan membeli barang. Seperti jika saya ingin membuat scrapbook, saya memulainya dengan belanja belasan alat tulis, kertas, dan buku panduan. Padahal, seharusnya saya bisa memakai barang apa saja yang ada di sekitar saya. Belanja barang remeh tersebut tanpa sadar jika dikumpulkan nominalnya menjadi banyak juga. Seharusnya saya bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna.

Anak Hebat Hasil Didikan Orangtua Cerdas

???????????????????????????????Kutipan tadi saya dapat waktu datang ke Festival Teknologi Pendidikan di Museum Pendidikan Indonesia. Saya setuju sekali, karena guru pertama seorang anak adalah orangtuanya. Karena ibu secara emosional lebih dekat dengan anaknya, peran ibu sangat besar dalam perkembangan anak.
Saya jadi teringat saat beberapa bulan lalu datang ke acara Suara Anak. Di sana saya terpesona dengan anak-anak yang menjadi pembicara di acara tersebut. Umur mereka masih belia. Antara 7 hingga 12 tahun. Tapi mereka sarat dengan prestasi. Ada yang memenangkan lomba di luar negeri, pernah tampil di tivi, atau sudah menerbitkan buku. Hebatnya, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan jika besar nanti. Seorang anak bercerita kalau ia ingin menjadi wartawan di National Geography, anak lain ingin menjadi perenang profesional di tingkat internasional. Jujur saja saya iri. Karena saya dan kebanyakan orang baru tahu apa yang akan kami lakukan setelah dewasa dan bekerja.
Sayangnya, kebanyakan anak-anak tadi ada di latar belakang yang sama. Mereka datang dari keluarga menengah ke atas. Dengan orangtua (terutama ibu) yang cerdas. Saya bilang sayang karena tidak semua anak seberuntung mereka. Saya kerap kali menemui orangtua yang menitipkan anaknya ke sekolahan. Mereka berpikir kalau sekolah akan mendidik anaknya. Sebagian orangtua yang saya tahu berpikir jika anaknya berprestasi secara akademis, mereka akan mendapat pekerjaan yang baik.

Sepertinya, hidup tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah formal. Juga ada banyak hal yang diajarkan di sekolah tidak berguna untuk hidup.
Saya sering bertemu dengan orangtua yang kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Menurut saya, hal tersebut masih lumayan. Setidaknya mereka akan berusaha mencari informasi cara mendidik anak. Lebih banyak lagi orangtua yang hanya sekadar mengikuti insting atau meniru cara orang disekelilingnya mendidik anak.

Anak dan menggambar

Saya berkali-kali melihat orangtua membelikan barang mahal untuk anaknya. Hal tersebut merupakan cara menunjukkan kasih sayang. Mereka tidak sadar jika hal tersebut akan membentuk anaknya menjadi materalistis. Menilai segala hal dengan uang. Ironisnya, untuk membayar barang-barang tadi banyak orangtua yang terlalu sibuk bekerja. Dan menitipkan anaknya kepada pembantu. Bagaimana dengan Anda? Tipe orangtua seperti apakah Anda? Atau jika belum punya anak, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang cerdas?