Cerita Padi di Tiga Negara

Padi di Manggarai, FloresPertanian bukan lagi lahan pencari nafkah yang menjanjikan. Hal tersebut menyebabkan jumlah petani kecil berkurang. Lahan-lahan pertanian kemudian beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, atau mall yang memberikan uang lebih. Lalu, bagaimana nasib kita ke depannya? Dengan penduduk bumi yang diperkirakan berjumlah 9 milyar orang pada 2050, mampukah nanti lahan pertanian yang tersisa mencukupi kebutuhan sekian banyak mulut?

Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan dalam riset kolaboratif yang dilakukan alumni Asian Public Intelectual. Ekoningtyas Margu Wardani dan 4 orang rekannya melakukan penelitian mengenai padi di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Riset yang dipublikasikan dalam bentuk pameran foto ini memilih padi sebagai subyek penelitiannya karena komoditas ini ditanam di hampir semua benua. Beras merupakan hasil pertanian penting yang dikonsumsi hampir separuh penduduk bumi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada beras. Kita yang dahulu memiliki beragam bahan makanan pokok, kini mulai meninggalkan jagung, sagu, ketela, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia pengimpor beras. Impor komoditas pertanian juga dilakukan pemerintah untuk menjaga harga produk pertanian tetap rendah. Padahal dari sisi petani kebijakan tersebut merugikan dan membuat orang enggan bertani.

Di Indonesia meski harga padi organik lebih tinggi, tidak banyak petani mau menanamnya. Lahan-lahan pertanian terlanjur mengandung banyak zat kimia. Untuk menjadi lahan organik, tanah butuh tiga hingga lima tahun untuk mengembalikan kesuburannya. Selama masa itu, produktivitas padi turun.

Thailand yang dikenal sebagai negara pengekspor beras pun petaninya belum sejahtera. Sarana produksi pertanian kerap lebih mahal daripada harga jual produk. Petani yang tidak mampu membayar hutang lama-lama menjual lahannya karena terlilit hutang. Di lokasi penelitian, para petani beralih ke organik karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di Ogawa, Jepang, pertanian organik tidak lepas dari seorang tokoh bernama Yoshinori Kaneko. Ia kembali ke pertanian organik pada tahun 71 karena melihat kerusakan lingkungan. Ia mengajarkan peranian organik kepada para petani muda yang kebanyakan berasal dari kota. Mereka memilih menjadi petani karena bahagia bisa hidup harmonis dengan alam dan terhubung dengan konsumen berasnya. Kaneko berprinsip bahwa “Uang tidak membuat kita hidup. Kita hidup karena makanan yang kita makan.” Istrinya menambahkan bahwa jangan pernah berharap pada pemerintah. Lebih baik para petani menanam apa yang mereka makan. Setelah itu, sebarkan dengan berbagi makanan sehatmu.

Senada dengan Kaneko, Prof. PM. Laksono dalam pembukaan pameran menyarankan tentang kemandirian pangan. Menurutnya, tiap orang sebaiknya bertani sendiri untuk mencukupi kebutuhan dapur. Beliau sendiri menggarap sepetak lahan untuk dimasak sendiri. Lalu, adakah teman-teman yang mau kembali menjadi petani? Saya pun mulai dengan menanam sayur di pekarangan rumah.

Belanja Sampai Mati!

“Orang Indonesia itu kaya-kaya ya? Aku tadi lihat orang belanja ratusan ribu rupiah cuma untuk ember! Kenapa nggak beli di tempat lain saja?” Kalimat tadi keluar dari mulut adik saya yang setahun ini tinggal di Australia. Dia pulang ke Jogja dan datang ke sebuah pusat perbelanjaan mahal. Di sana, ia melihat orang-orang mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk barang remeh seperti kain pel atau baju bayi yang hanya muat dipakai beberapa minggu. Padahal bisa saja mereka berbelanja barang sejenis di tempat lain dengan harga jauh lebih murah.

belanja baju
Adik saya heran. Katanya di Indonesia (terutama Jogja tempat orangtua kami tinggal) gaji penduduknya kecil. Tapi selalu saja ada banyak pembeli barang-barang mahal di pusat perbelanjaan tadi. Dia yang mendapat pemasukan dalam dolar saja masih berhitung sebelum membeli barang.
Saya jadi ingat sebuah desa yang pernah saya datangi di Jambi. Desa tersebut masih saja menjadi sasaran program pengentasan kemiskinan. Padahal, jika dipikir, sebagian penduduk desa tadi punya lahan yang cukup luas. Rata-rata memiliki tanah lebih dari 1,5 hektar dengan tanaman karet, pinang, kopi, atau sawit. Logikanya, pendapatan mereka per tahun lebih dari cukup. Selain itu mereka bisa memanfaatkan lahan untuk bertanam sayur. Supaya mereka tidak perlu membeli sayuran. Bukankah hal tersebut cukup menghemat?

besi putih maluku
Sayang yang saya lihat tidak demikian. Mereka tetap saja merasa kekurangan uang. Seorang teman yang tinggal di tempat tersebut bercerita, penduduk di sana tidak miskin. Mereka hanya terlalu boros. Saat panen, mereka cepat sekali membeli barang. Tukang kredit kendaraan, perhiasan dan peralatan rumah tangga memperparah hal tersebut. Penduduk mudah membeli barang karena ada iming-iming pembayarannya bisa dicicil. Jadi, sebenarnya mereka butuh program pengentasan kemiskinan atau manajemen keuangan?
Sepertinya membedakan antara ingin dan butuh bukan hal yang gampang. Saya pun masih sering gagal menahan diri untuk belanja barang tidak penting. Saya gampang tergoda membeli barang yang akhirnya tidak pernah terpakai. Entah kenapa, saya sering memulai suatu kegiatan dengan membeli barang. Seperti jika saya ingin membuat scrapbook, saya memulainya dengan belanja belasan alat tulis, kertas, dan buku panduan. Padahal, seharusnya saya bisa memakai barang apa saja yang ada di sekitar saya. Belanja barang remeh tersebut tanpa sadar jika dikumpulkan nominalnya menjadi banyak juga. Seharusnya saya bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna.

Anak Hebat Hasil Didikan Orangtua Cerdas

???????????????????????????????Kutipan tadi saya dapat waktu datang ke Festival Teknologi Pendidikan di Museum Pendidikan Indonesia. Saya setuju sekali, karena guru pertama seorang anak adalah orangtuanya. Karena ibu secara emosional lebih dekat dengan anaknya, peran ibu sangat besar dalam perkembangan anak.
Saya jadi teringat saat beberapa bulan lalu datang ke acara Suara Anak. Di sana saya terpesona dengan anak-anak yang menjadi pembicara di acara tersebut. Umur mereka masih belia. Antara 7 hingga 12 tahun. Tapi mereka sarat dengan prestasi. Ada yang memenangkan lomba di luar negeri, pernah tampil di tivi, atau sudah menerbitkan buku. Hebatnya, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan jika besar nanti. Seorang anak bercerita kalau ia ingin menjadi wartawan di National Geography, anak lain ingin menjadi perenang profesional di tingkat internasional. Jujur saja saya iri. Karena saya dan kebanyakan orang baru tahu apa yang akan kami lakukan setelah dewasa dan bekerja.
Sayangnya, kebanyakan anak-anak tadi ada di latar belakang yang sama. Mereka datang dari keluarga menengah ke atas. Dengan orangtua (terutama ibu) yang cerdas. Saya bilang sayang karena tidak semua anak seberuntung mereka. Saya kerap kali menemui orangtua yang menitipkan anaknya ke sekolahan. Mereka berpikir kalau sekolah akan mendidik anaknya. Sebagian orangtua yang saya tahu berpikir jika anaknya berprestasi secara akademis, mereka akan mendapat pekerjaan yang baik.

Sepertinya, hidup tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah formal. Juga ada banyak hal yang diajarkan di sekolah tidak berguna untuk hidup.
Saya sering bertemu dengan orangtua yang kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Menurut saya, hal tersebut masih lumayan. Setidaknya mereka akan berusaha mencari informasi cara mendidik anak. Lebih banyak lagi orangtua yang hanya sekadar mengikuti insting atau meniru cara orang disekelilingnya mendidik anak.

Anak dan menggambar

Saya berkali-kali melihat orangtua membelikan barang mahal untuk anaknya. Hal tersebut merupakan cara menunjukkan kasih sayang. Mereka tidak sadar jika hal tersebut akan membentuk anaknya menjadi materalistis. Menilai segala hal dengan uang. Ironisnya, untuk membayar barang-barang tadi banyak orangtua yang terlalu sibuk bekerja. Dan menitipkan anaknya kepada pembantu. Bagaimana dengan Anda? Tipe orangtua seperti apakah Anda? Atau jika belum punya anak, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang cerdas?

Wiraswasta Minim Modal

Secangkir kopiMemiliki usaha tidak harus menunggu kaya dahulu. Setidaknya itu yang saya tangkap dari dua pembicara yang berbagi cerita di acara Kopi dan Kewirausahaan Sosial. Acara yang diselenggarakan oleh Prodi Sosiologi UAJY tersebut menghadirkan Denny Neilment dan Khyushu Firmansyah. Kedua pemilik warung kopi ini bercerita mengenai bagaimana mereka merintis usaha kopinya.

Saya kebagian menjadi moderator sesinya Mas Denny. Mas Denny yang berasal dari Padang ini memulai bisnisnya waktu kuliah di UII. Tahun 2003, ia dan lima orang temannya membuka warung kopi karena sama-sama menyukai kopi. Mereka kemudian mencoba mencari sponsor karena tidak memiliki modal. Bukan hal yang mudah ternyata. 30 proposal pendanaan yang mereka sebar ditolak. Kelimanya kemudian mengganti cara mencari dana. Mereka berusaha mendekati teman-temannya yang anak orang kaya untuk mendanai warung kopinya.
Setahun berjalan, Mas Denny lulus kuliah. Orangtuanya di Padang meminta supaya Mas Denny menggunakan ijasahnya untuk mencari pekerjaan yang lebih mapan. Mas Denny memilih untuk meneruskan bisnisnya. Teman-teman Mas Denny kemudian beralih ke usaha lain. Kini, pria berusia 35 tahun tersebut mengelola perusahaan yang memiliki 12 cabang Kedai Kopi dan satu premium café dengan nama It’s Coffe. Warung-warung kopi tersebut selain menyediakan kopi juga menyediakan minuman dan makanan lain. Supaya para pelanggannya bisa mengajak orang lain yang bukan peminum kopi untuk nongkrong di Kedai Kopi. Konsumen mereka didominasi oleh mahasiswa.

???????????????????????????????

Pembicara kedua lebih dikenal dengan nama Pepeng. Sesi Mas Pepeng dipandu oleh Mbak Rina. Awalnya, Pepeng tidak memiliki latar belakang kopi maupun bisnis. Ia tadinya belajar di sekolah penerbangan. Pepeng juga sempat bekerja mengelola web sebuah perusahaan. Karena merasa hidupnya stagnan, ia keluar dari pekerjaannya. Pepeng mengenal kopi saat melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Indonesia. Tempat yang ia datangi banyak yang menjadi daerah penghasil kopi. Awalnya, ia sekadar tertarik membeli kopi untuk oleh-oleh. Lama kelamaan, mulailah dirinya mempelajari literature tentang kopi dan cara membuat kopi.

Klinik kopi ia dirikan dengan modal alat-alat senilai 6 juta rupiah. Ia tidak mengeluarkan uang untuk menyewa tempat karena ia meminjam Pusat Studi Lingkungan milik Universitas Sanata Dharma. Sebagai gantinya, Klinik Kopi memberikan sebagian keuntungan kepada pengelola tempat tersebut. Pepeng mulai mengaktifkan seluruh media sosialnya. Karena promosi yang gencar, orang mulai tertarik untuk datang.

Sesi Mas Pepeng penuh dengan cerita. Mulai dari orang-orang yang datang ke kedainya untuk minum kopi sampai perjalanan ke daerah-daerah penghasil kopi. Ia bercerita tentang petani-petani kopi yang tidak pernah mencicipi kopi yang mereka tanam. Jaman belanda dulu, buruh kopi dilarang mengonsumsi kopi. Mereka minum daun kopi yang disebut tawa. Bulan lalu, Mas Pepeng pergi ke Papua. Di sana ia mengajarkan bagaimana cara menanam dan memetik kopi yang benar ke petani kopi di Wamena. Tiap kali datang ke tempat penghasil kopi, ia membuatkan kopi untuk para petaninya. Menurutnya, jika seorang petani bisa merasakan enaknya ngopi, mereka akan menjaga kualitas kopinya.

Kedua pembicara tersebut ingin supaya masyarakat beralih ke kopi sungguhan. Ironis jika negeri yang menjadi penghasil kopi nomer tiga dunia penduduknya konsumen kopi instan. Vietnam kini lebih maju di bidang perkopian. Padahal dahulu petani-petani kopi mereka datang ke Indonesia untuk belajar bagaimana cara menanam kopi. Sekarang, dengan luas perkebunan yang lebih sempit, hasil panen pertahun kopi Vietnam lebih tinggi dibanding Indonesia.

Suramadu, Putri Cantik yang Masih Tertidur

Matahari Terbit MaduraMeski berkali-kali singgah di Surabaya, baru tahun lalu saya melintasi Jembatan Suramadu. Gara-gara ingin melihat matahari terbit di jembatan terpanjang di Indonesia tersebut, saya sengaja berangkat malam dari Jogja. Sayang, saya tidak menemukan lokasi yang tepat untuk mengambil gambar. Terpaksa saya harus puas mengambil matahari terbit dari pinggir jalan. Padahal, jika bisa mengambil foto dengan latar Suramadu, saya akan mempromosikan jembatan tadi secara gratis ke teman-teman melalui media sosial. Bayangkan jika ribuan turis melakukan hal yang sama.

Di Jogja, ada beberapa tempat wisata yang ramai sejak para turis menyebarkan foto-fotonya di dunia maya. Salah satunya Kalibiru. Beberapa tahun yang lalu, penduduk desa ini belum menganggap wisata sebagai sumber mata pencaharian. Kini, mereka mendapat pemasukan lebih dari 50 juta rupiah tiap bulannya. Jumlah besar untuk sebuah desa yang awalnya mengandalkan pertanian. Angka tersebut sumbangan dari tiket masuk. Penduduk masih mendapat pemasukan dari parkir atau penjualan makanan. Kunjungan turis meningkat sejak pengelola wisata membuat tempat duduk di atas pohon. Pengunjung kemudian dengan senang hati memamerkan foto-foto seperti ini di media sosial.

Suramadu bisa mengadopsi hal tersebut. Pengelola wisata perlu membuat semacam gardu pandang tempat pengunjung berfoto dengan latar belakang konstruksi jembatan. Karena turis menyukai foto matahari terbit dan terbenam, ada baiknya pembuatan gardu pandang ini mempertimbangkan hal tersebut. Lokasi foto narsis tersebut harus unik supaya orang lain tergoda untuk berkunjung.

Saat melewati Suramadu, saya melihat turis-turis hanya sekadar mampir. Mereka berkendara dari arah Surabaya dan singgah sejenak di Madura. Sebagian cukup lewat sebentar di Pulau Garam kemudian berputar balik. Beberapa lanjut untuk menikmati wisata kuliner bebek atau berbelanja di sentra batik yang jaraknya tak lebih dari satu kilo dari jembatan. Sayang sekali. Karena Madura punya banyak potensi wisata yang bisa menahan turis untuk berkunjung lebih lama. Hal tersebut hanya perlu dikemas supaya terlihat menarik.

Jual Batik Madura

Selama ini, pengunjung Suramadu cukup singgah sebentar di Madura karena mereka kurang mendapat informasi. Banyak yang tidak terlalu tahu hal-hal unik di Pulau Madura. Kalaupun tahu, kadang orang kesulitan menemukan transportasi umum menuju tempat tersebut. Gardu Pandang Suramadu perlu memajang foto-foto lokasi wisata dan budaya Madura. Foto-foto tersebut lengkap dengan peta transportasi ke sana. Termasuk transportasi alternatif seperti mobil pengangkat sayur yang membawa penumpang dari pasar ke desa-desa.
Saya dan beberapa teman belum kesampaian berlibur di Pulau Kangean. Padahal, kami sudah bertahun-tahun memasukkan Kangean ke daftar liburan. Hingga kini, kami masih ragu berangkat karena ada terlalu banyak info yang berbeda mengenai jadwal kapal. Supaya informasi mengenai Madura bisa diakses lebih banyak orang, perlu web khusus untuk wisata. Portal ini juga menyediakan sarana tempat calon pengunjung bisa bertanya mengenai penginapan dan jadwal karapan sapi.
Kadang sekadar memajang foto tidak cukup untuk mengundang orang untuk datang. Portal wisata tersebut juga perlu dilengkapi dengan cerita tentang Madura. Seperti saat mempromosikan batik Madura. Alangkah baiknya jika foto tersebut lengkap dengan cerita mengenai cara pembuatannya atau sejarah motif sebuah batik. Detail-detail seperti berapa tahun seorang pembatik berlatih untuk menghasilkan goresan yang halus perlu ada dalam cerita tersebut. Saat seseorang mengerti rumitnya membuat selembar batik tulis dengan banyak detail, ia tidak akan keberatan membeli dengan harga layak.
Untuk memastikan supaya lebih banyak orang berkunjung, portal wisata tersebut perlu dilengkapi dengan perkiraan anggaran. Bagi sebagian orang, berlibur merupakan hal mahal. Calon turis jenis ini perlu tahu berapa banyak anggaran yang akan mereka keluarkan. Portal wisata Suramadu perlu memberikan beberapa contoh rute serta perkiraan anggaran untuk berlibur. Rute ini perlu mempertimbangkan jika turis memiliki standar ekonomi yang berbeda. Jadi, ada paket wisata hemat yang isinya menggunakan transportasi umum dan penginapan dengan harga di bawah seratus ribu per hari. Juga rute untuk calon turis kelas menengah dan atas.

Angkutan umum Surabaya
Orang datang kembali ke sebuah tempat wisata atau merekomendasikan ke orang lain apabila mereka menyukai tempat tersebut. Untuk itu, para pengelola wisata perlu melayani pengunjung dengan baik. Orang-orang yang bergerak di bidang wisata harus menyadari jika perlakuan mereka terhadap turis akan mempengaruhi jumlah kunjungan berikutnya. Pemda atau Dinas Wisata perlu berinvestasi dalam mendidik para pengelola wisata. Mereka perlu menyadarkan penduduk lokal mengenai pentingnya merawat lokasi wisata. Hal ini butuh waktu bertahun-tahun. Karena biasanya, penduduk lokal enggan melakukan sesuatu yang efeknya tidak langsung terasa.

Suatu Hari Di Museum Batik Yogyakarta

???????????????????????????????

Sabtu, 22 November lalu, saya dan beberapa teman di Komunitas Goodreads datang ke Museum Batik. Beberapa teman sempat tersasar. Ternyata, museum yang beralamat di Jl Dr Sutomo 13 A, Bausasran, ini letaknya tidak di pinggir jalan raya.
Museum ini didirikan oleh Almarhum Hadi Nugroho dan istrinya Dewi Sukaningsih. Keduanya dahulu pemilik pabrik batik. Setelah lebih dari dua puluh tahun mengoleksi batik, mereka kemudian membuka museum ini pada tahun 1978. Kini, Museum Batik Yogyakarta memiliki sekitar 600 koleksi kain batik dan 800 peralatan membatik.
Mas Didik yang menemani kami berkeliling menjelaskan tentang jenis-jenis batik dan tahapan pembuatannya. Kami mulai dari melihat bingkai berisi berbagai macam canting. Ada sekitar dua puluhan canting dan goresan malam yang ia hasilkan. Canting fungsinya seperti pena. Ia menjadi alat untuk menggoreskan malam yang dipanaskan ke kain. Tiap ukuran menghasilkan goresan berbeda. Biasanya, di pasaran hanya ada 3 ukuran canting.

???????????????????????????????

Bagian kedua berisi bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatan batik. Malam, lilin yang dipakai untuk menggambar di kain, terbuat dari sarang lebah. Selain itu malam juga mengandung damar mata kucing atau gondorukem. Di rak bahan juga terdapat berbagai kayu dan tanaman yang menghasikan pewarna. Jaman dahulu, batik dibuat dengan pewarna alam. Proses pewarnaan kain jaman dahulu membutuhkan berkali-kali pencelupan. Setelah itu, warna dikunci dengan zat yang terbuat dari kapur atau bunga tanjung. Kini, untuk alasan kepraktisan, banyak batik yang dibuat dengan pewarna buatan pabrik.

Kain-kain dalam museum ini banyak yang berusia tua. Saya berkali-kali melihat kain yang diperkirakan dibuat akhir tahun 1800 atau awal tahun 1900 an. Museum mengganti koleksinya tiap tiga bulan sekali. Kain yang baru saja dipajang mengalami perlakuan khusus sebelum masuk ruang perawatan. Ia terlebih dahulu direndam di air hangat untuk mematikan jamur. Kain kemudian diasap dengan ratus. Apabila rusak, kain diperbaiki sebelum masuk ruang penyimpanan. Untuk menjaga supaya tidak dimakan ngengat, kain disimpan dengan akar wangi.

Selama mengelilingi museum, kami berkali-kali terpesona melihat detail kain batik. Ada beberapa yang punya titik-tikik seukuran milipen 1 mili. Bayangkan, titik tadi dibuat dengan canting. Si pembuatnya pasti sangat ahli karena bisa menitikkan malam dengan ukuran sekecil tadi. Kami melototi kain-kain lama yang dibuat dengan garis sangat halus. Entah berapa bulan yang dibutuhkan pembuatnya untuk menyelesaikan sebuah kain. Jaman dahulu, batik dipakai sebagai penanda status sosial seseorang. Para saudagar kaya dan kaum bangsawan menggunakan kain batik yang ditulis dengan halus. Semakin halus dan rumit pola sebuah kain, harganya semakin mahal.

???????????????????????????????

Di sana, kami juga melihat batik pagi-sore. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut kain batik yang memiliki dua pola sangat kontras di satu kain. Kadang, warnanya juga berbeda jauh. Ternyata, kain batik jenis ini muncul pada masa Jepang. Pada saat itu, kain susah dicari. Orang-orang lebih berpikir untuk memenuhi kebutuhan pangannya terlebih dahulu. Untuk itu, muncul dua pola dalam satu kain. Supaya kain tersebut bias dipakai di dua acara berbeda.

Museum Batik juga memiliki koleksi sulaman. Kebanyakan wajah pahlawan atau tokoh dunia. Pembuat sulaman tersebut meniru wajah Sukarno, Diponegoro, dan yang lain dari poster. Karya paling besar di ruangan tersebut adalah sulaman penyaliban Yesus. Oleh Museum Rekor Indonesia, sulaman ini mendapat penghargaan sebagai kerajinan tangan terpanjang. Ibu Dewi Nugroho membuat sulaman itu selama kurang lebih tiga tahun. Beliau mengerjakan sulaman tersebut saat menunggui suaminya yang sakit stroke.

Kursus Membuat Batik Lukis
Museum ini punya banyak cerita yang tidak cukup ditulis di satu artikel pendek. Lebih baik, teman-teman datang langsung ke Museum Batik untuk melihat koleksinya. Museum ini buka tiap senin sampai sabtu dari pukul 09.00 sampai 15.00. Kadang, pengunjung juga bisa melihat pengrajin sedang membatik. Museum ini juga menyediakan kursus singkat jika pengunjung tertarik membuat lukisan batik.

Bertualang dan Tuliskan Ceritamu

travelblogger25 Oktober lalu, saya dan Firsta (admin discoveryourindonesia) menjadi narasumber tentang travel dan blogging di Jagongan Media Rakyat. Sebelum acara, beberapa panitia berkomentar acaranya bakal didatangi banyak orang. Kami hanya tertawa. Undangan yang menyebar di media sosial kadang susah diprediksi. Dari sekian orang yang ikut membagikan flyer kami posting di dunia maya, belum tentu mereka datang.
Acaranya mulai jam tiga lebih. Firsta presentasi lebih dahulu. Awalnya, ada 20-an orang hadir. Lama kelamaan, peserta bertambah hingga ruangan penuh. Firsta mulai bercerita tentang blognya yang berusia satu tahun. Ia membuat discoveryourIndonesia setelah berjalan-jalan di luar negeri. Orang yang ia temui banyak yang bertanya: di mana itu Indonesia? Sebelah mananya Bali? Karena blognya bertujuan memperkenalkan Indonesia ke wisatawan asing, Firsta menulis dalam Bahasa Inggris.
Firsta kemudian bercerita tentang perjalanannya ke Myanmar. Mulai dari gambaran umum Myanmar, cara mengurus visa, sampai lokasi favoritnya di sana. Presentasinya berlanjut dengan tips merawat blog. Mulai dari menemukan konten yang menarik hingga mendapatkan pembaca lewat google dan media sosial. Untuk sebuah blog yang baru berusia satu tahun lebih, menurut saya, discoveryourindonesia dikelola dengan baik. Mungkin karena latar belakang Firsta marketing, ia mengerti pentingnya branding dan konsistensi. Sepertinya, ia mempraktekkan hal itu dalam mengelola blog.

Snorkling di Maluku
Setelah itu, gantian saya bercerita tentang kegiatan jalan-jalan dan menulis saya. Awalnya saya membuat blog sekadar untuk berlatih menulis. Lama kelamaan, saya ingin punya domain sendiri. Blog www.kotakpermen.com berisi jurnal perjalanan saya di sana. Meskipun demikian, saya masih sering menulis catatan perjalanan di blog gratisan. Karena saya punya komitmen untuk selalu memperbaharui tulisan di blog lama.
Saya kemudian bercerita tentang beberapa yang pernah saya datangi di Indonesia. Cerita dari Aceh sampai Papua tadi punya benang merah: Indonesia itu kaya tapi punya banyak cerita sedih. Kalau di Sumatra, saya mengambil contoh di tiga tempat. Salah satunya Lampung. Setelah berkunjung ke Perusahaan Ulu Belu, saya baru tahu kalau Indonesia itu produsen kopi nomer 4 dunia. Ironisnya, kita lebih banyak mengonsumsi kopi instan yang banyak campuran zat kimia dan gulanya. Di Lampung juga, saya bertemu dengan sekelompok petani kopi. Mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan ijin untuk mengelola hutan yang kini mereka jadikan perkebunan kopi. Cerita saya kemudian berpindah ke pulau-pulau lain. Kebanyakan ceritanya tentang tempat yang punya sumber daya alam melimpah tapi hanya dikuasai oleh segelintir orang.
Setelah mengunjungi banyak tempat, saya merasa menulis saja tidak cukup. Saya ingin meninggalkan sesuatu untuk orang yang pernah saya datangi. Karena saya tertarik dengan pendidikan, saya dan beberapa teman kemudian membuat program bernama berbagibuku. Program yang webnya sedang dalam proses pembuatan ini, mengumpulkan buku untuk perpustakaan komunitas. Terutama untuk komunitas yang jauh dari kota atau memiliki program mendidik anak tidak mampu. Silahkan hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com jika ingin tahu lebih lanjut.
Saya ingin mengajak orang membaca buku karena sekolah, apalagi di luar Jawa, sangat tidak mengajarkan bagaimana cara hidup. Tahun lalu, waktu pergi ke Maluku, saya melihat anak SD yang diajar cara menabung di bank. Padahal, bisa jadi anak-anak tadi tidak pernah ke bank yang letaknya ratusan kilo dari desanya. Apa yang mau ditabung? Orangtua mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan. Mereka hanya menjual hasilnya jika berlebih. Sistem barter masih berlaku di sana. Aneh saja memaksa mereka menghafal fungsi bank.
Saya kemudian sedikit bercerita tentang bagaimana cara memperbaiki menulis. Menurut saya, menulis itu proses. Seseorang butuh waktu bertahun-tahun untuk punya tulisan yang menarik. Orang yang terbiasa menulis pun belum tentu punya tulisan yang enak dibaca. Mereka harus rajin membaca supaya bisa membedakan kalimat yang menarik dan tidak.
Saat sesi tanya jawab, kami mendapat banyak pertanyaan seputar perjalanan dan menulis. Saya melihat beberapa peserta menuliskan jawaban-jawaban kami. Senang rasanya melihat ada yang datang jauh-jauh di tengah cuaca panas. Mereka masih mendengarkan cerita kami hingga acara berakhir. Bahkan, saya masih menjawab pertanyaan beberapa orang di luar acara diskusi. Obrolannya beragam. Ada yang bertanya, apakah tidak berbahaya bagi seorang perempuan pergi jauh? Bagaimanakah cara memilih sudut pandang cerita yang menarik? Sampai bagaimana cara mendokumentasikan perjalanan. Sepertinya para peserta ingin melihat lebih banyak tempat. Tapi, beberapa masih takut berkunjung ke tempat asing. Ada juga yang beranggapan jalan-jalan itu mahal. Jalan-jalan itu menyenangkan, kita akan melihat ada banyak hal yang tidak kita dapat melalui media massa atau sekolah. Jadi, kapan kau akan jalan-jalan?