Guru Bangsa Tjokroaminoto, Gambar Cantik dengan Cerita Begitulah

Dok. 21cineplex

Dok. 21cineplex

Sejak pertama melihat iklannya, saya dan suami memutuskan harus menonton film ini. Alasannya sederhana: saya suka pengambilan gambarnya yang cantik. Untuk cerita, saya tidak terlalu berharap banyak. Mengangkat kehidupan seorang tokoh besar dalam waktu 160 menit bukan hal mudah. Hal tersebut membutuhkan riset panjang. Juga penulis skenario yang sangat hebat. Untuk bisa menceritakan bagaimana Tjokroaminoto mempengaruhi kaum terjajah untuk mengimpikan kemerdekaan.
Film Tjokroaminoto bertutur tentang seorang pria jawa terdidik. Dia berasal dari keluarga bangsawan yang menikahi putri Bupati. Ia bisa saja hidup enak dan tutup mata terhadap nasib saudara sebangsanya. Tapi, Tjokro gelisah melihat bangsanya ditindas oleh orang-orang dari negeri sebrang. Ia beranggapan jika pengetahuan bisa memberi bangsa ini harga diri untuk sejajar dengan orang asing. Oleh karena itu, ia memilih bekerja sebagai pemimpin redaksi surat kabar. Dan kemudian bergabung dengan Syarikat Islam.
Untuk penonton yang tidak tahu sejarah seperti saya, film ini tidak memberikan gambaran jelas siapa itu Tjokroaminoto. Juga seberapa penting perannya di pergerakan Indonesia. Ya, di film tadi ada penggambaran ia memimpin majalah. Aktif di kegiatan Serikat Islam. Kata pekerja domestiknya, suka menolong. Tjokro juga suka berdiskusi dengan anak-anak muda. Tapi di logika saya, apakah hal-hal tadi cukup untuk menjelaskan peran penting Tjokroaminoto di pergerakan kemerdekaan?
Saya juga melihat alur film ini lambat. Beberapa penonton mulai asyik dengan gadgetnya di pertengahan film. Kenapa tidak mendramatisir adegan supaya kami tetap fokus? Kenapa justru ada adegan-adegan yang buat saya tidak membawa alur maju. Seperti penari balet di rumah Gubernur Belanda atau Tjokro datang ke pertunjukan musik. Kalau memang iya dulu Tjokroaminoto melakukan hal tersebut, apa gunanya ditampilkan di film? Apakah hal tersebut memperkuat sosok Tjokro sebagai guru bangsa?
Saya juga terganggu dengan kemunculan seorang Stella. Loper koran yang diperankan oleh Chelsea Islan ini digambarkan sebagai seorang peranakan. Ia melarikan diri saat ayah Belandanya hendak membawa pulang ke negri asalnya. Stella tidak merasa dia orang Belanda. Loper koran cantik ini berkali-kali mendatangi Tjokroaminoto. Untuk menanyakan bagaimanakah nanti masa depan Indonesia. Juga menanyakan apakah dirinya bisa menyebut diri sebagai pribumi? Di logika saya, janggal ada seorang loper koran tiba-tiba bertanya kepada orang asing yang sangat sibuk. Apalagi orang ini pria terhormat.
Saya juga heran dengan adegan rakyat berkumpul mengelu-elukan saat Tjokro bergabung dengan Syarikat Islam. Kaum miskin juga mengerumuni rumah Tjokro pada saat istri Tjokro sekarat. Mereka meminta kejelasan tentang masa depan pemerintahan sendiri. Tjokroaminoto dianggap seperti seorang Ratu Adil. Untuk saya, adegan-adegan tadi akan logis jika sebelumnya memperlihatkan dengan kuat apa saja yang sudah Tjokro lakukan untuk bangsa ini.
Kalau disuruh memberi rating. Saya memberi nilai 3 dari 5. Sekali lagi, saya bisa menikmati film sampai akhir karena saya menyukai baju-baju dan make up pemerannya. Juga setting rumah-rumah jaman dulu. Cantik.

Air dan Api: Pemadam Kebakaran itu Pekerjaan Mulia

Poster Air dan Api

Poster Air dan Api

Kemarin, tanggal 30 Maret, saya dan Gugun memutuskan untuk menonton film Air dan Api. Awalnya, film tadi sama sekali tidak ada di daftar nonton kami. Kami memilih film Indonesia secara acak untuk merayakan Hari Film Nasional.
Film tersebut bercerita tentang sekelompok pemadam kebakaran. Tiga tokoh utama dalam film, Sisi, Dipo, dan Radit masuk menjadi pemadam kebakaran karena alas an yang berbeda. Dipo yang anak pengusaha kaya, ingin memiliki pekerjaan menolong sesama. Ia bosan kuliah di sekolah bisnis dan memilih menjadi pemadam kebakaran. Radit, seorang tukang bikin onar, dipaksa ayahnya untuk jadi pemadam kebakaran. Menurut sang ayah, pekerjaan tersebut akan membuat Radit lebih bertanggung jawab. Sedangkan Sisi ingin menjadi pemadam kebakaran untuk meneruskan jejak ayahnya.
Film tadi cukup menarik untuk ditonton. Setidaknya, temanya bukan sekadar kisah cinta cengeng atau rebutan harta ala sinetron. Beberapa adegan lucu mewarnai film. Meski di beberapa tempat terlihat aneh. Bagi saya, komedi yang tidak pada tempatnya mengurangi betapa pemadam kebakaran itu pekerjaan yang mulia.

Lalu, ada adegan-adegan yang tidak logis. Seperti waktu Dipo dan teman-teman hendak menyelamatkan korban banjir. Entah darimana muncul rakit yang tiba-tiba bisa mereka gunakan.

Tapi, film ini membuka mata saya tentang profesi mulia yang tidak popular di Indonesia. Saya baru tahu kalau pemadam kebakaran juga bertugas mencegah orang bunuh diri. Mereka juga diturunkan untuk mengevakuasi korban banjir. Saya malah jadi langsung berpikir. Di Indonesia, berapa banyak ya pemadam kebakaran? Apakah jumlahnya layak? Dengan tanggung jawab sebesar itu, apakah jam kerja mereka siap untuk menjaga stamina jika sewaktu-waktu muncul bencana? Pemadam kebakaran juga manusia. Apa jika letih mereka bisa menjalankan tugas dengan baik?

Tugas pemadam kebakaran ternyata sangat luas. Mulai dari menghentikan demo hingga mencegah orang untuk bunuh diri. Hal tersebut membutuhkan kemampuan negosiasi yang baik. Apakah pemadam kebakaran di Indonesia memiliki bekal untuk itu? Selain keahlian, saya jadi bertanya apakah pemadam kebakaran di Indonesia memiliki peralatan yang layak? Apakah mereka mendapat berbagai macam pelatihan supaya bisa menyelamatkan orang dan bukannya menjadi korban? Film ini membuat saya ingin bertemu pemadam kebakaran sungguhan. Saya ingin mendengar langsung cerita tentang profesi mulia ini.

Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Cerita Padi di Tiga Negara

Padi di Manggarai, FloresPertanian bukan lagi lahan pencari nafkah yang menjanjikan. Hal tersebut menyebabkan jumlah petani kecil berkurang. Lahan-lahan pertanian kemudian beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, atau mall yang memberikan uang lebih. Lalu, bagaimana nasib kita ke depannya? Dengan penduduk bumi yang diperkirakan berjumlah 9 milyar orang pada 2050, mampukah nanti lahan pertanian yang tersisa mencukupi kebutuhan sekian banyak mulut?

Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan dalam riset kolaboratif yang dilakukan alumni Asian Public Intelectual. Ekoningtyas Margu Wardani dan 4 orang rekannya melakukan penelitian mengenai padi di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Riset yang dipublikasikan dalam bentuk pameran foto ini memilih padi sebagai subyek penelitiannya karena komoditas ini ditanam di hampir semua benua. Beras merupakan hasil pertanian penting yang dikonsumsi hampir separuh penduduk bumi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada beras. Kita yang dahulu memiliki beragam bahan makanan pokok, kini mulai meninggalkan jagung, sagu, ketela, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia pengimpor beras. Impor komoditas pertanian juga dilakukan pemerintah untuk menjaga harga produk pertanian tetap rendah. Padahal dari sisi petani kebijakan tersebut merugikan dan membuat orang enggan bertani.

Di Indonesia meski harga padi organik lebih tinggi, tidak banyak petani mau menanamnya. Lahan-lahan pertanian terlanjur mengandung banyak zat kimia. Untuk menjadi lahan organik, tanah butuh tiga hingga lima tahun untuk mengembalikan kesuburannya. Selama masa itu, produktivitas padi turun.

Thailand yang dikenal sebagai negara pengekspor beras pun petaninya belum sejahtera. Sarana produksi pertanian kerap lebih mahal daripada harga jual produk. Petani yang tidak mampu membayar hutang lama-lama menjual lahannya karena terlilit hutang. Di lokasi penelitian, para petani beralih ke organik karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di Ogawa, Jepang, pertanian organik tidak lepas dari seorang tokoh bernama Yoshinori Kaneko. Ia kembali ke pertanian organik pada tahun 71 karena melihat kerusakan lingkungan. Ia mengajarkan peranian organik kepada para petani muda yang kebanyakan berasal dari kota. Mereka memilih menjadi petani karena bahagia bisa hidup harmonis dengan alam dan terhubung dengan konsumen berasnya. Kaneko berprinsip bahwa “Uang tidak membuat kita hidup. Kita hidup karena makanan yang kita makan.” Istrinya menambahkan bahwa jangan pernah berharap pada pemerintah. Lebih baik para petani menanam apa yang mereka makan. Setelah itu, sebarkan dengan berbagi makanan sehatmu.

Senada dengan Kaneko, Prof. PM. Laksono dalam pembukaan pameran menyarankan tentang kemandirian pangan. Menurutnya, tiap orang sebaiknya bertani sendiri untuk mencukupi kebutuhan dapur. Beliau sendiri menggarap sepetak lahan untuk dimasak sendiri. Lalu, adakah teman-teman yang mau kembali menjadi petani? Saya pun mulai dengan menanam sayur di pekarangan rumah.

Belanja Sampai Mati!

“Orang Indonesia itu kaya-kaya ya? Aku tadi lihat orang belanja ratusan ribu rupiah cuma untuk ember! Kenapa nggak beli di tempat lain saja?” Kalimat tadi keluar dari mulut adik saya yang setahun ini tinggal di Australia. Dia pulang ke Jogja dan datang ke sebuah pusat perbelanjaan mahal. Di sana, ia melihat orang-orang mengeluarkan ratusan ribu rupiah hanya untuk barang remeh seperti kain pel atau baju bayi yang hanya muat dipakai beberapa minggu. Padahal bisa saja mereka berbelanja barang sejenis di tempat lain dengan harga jauh lebih murah.

belanja baju
Adik saya heran. Katanya di Indonesia (terutama Jogja tempat orangtua kami tinggal) gaji penduduknya kecil. Tapi selalu saja ada banyak pembeli barang-barang mahal di pusat perbelanjaan tadi. Dia yang mendapat pemasukan dalam dolar saja masih berhitung sebelum membeli barang.
Saya jadi ingat sebuah desa yang pernah saya datangi di Jambi. Desa tersebut masih saja menjadi sasaran program pengentasan kemiskinan. Padahal, jika dipikir, sebagian penduduk desa tadi punya lahan yang cukup luas. Rata-rata memiliki tanah lebih dari 1,5 hektar dengan tanaman karet, pinang, kopi, atau sawit. Logikanya, pendapatan mereka per tahun lebih dari cukup. Selain itu mereka bisa memanfaatkan lahan untuk bertanam sayur. Supaya mereka tidak perlu membeli sayuran. Bukankah hal tersebut cukup menghemat?

besi putih maluku
Sayang yang saya lihat tidak demikian. Mereka tetap saja merasa kekurangan uang. Seorang teman yang tinggal di tempat tersebut bercerita, penduduk di sana tidak miskin. Mereka hanya terlalu boros. Saat panen, mereka cepat sekali membeli barang. Tukang kredit kendaraan, perhiasan dan peralatan rumah tangga memperparah hal tersebut. Penduduk mudah membeli barang karena ada iming-iming pembayarannya bisa dicicil. Jadi, sebenarnya mereka butuh program pengentasan kemiskinan atau manajemen keuangan?
Sepertinya membedakan antara ingin dan butuh bukan hal yang gampang. Saya pun masih sering gagal menahan diri untuk belanja barang tidak penting. Saya gampang tergoda membeli barang yang akhirnya tidak pernah terpakai. Entah kenapa, saya sering memulai suatu kegiatan dengan membeli barang. Seperti jika saya ingin membuat scrapbook, saya memulainya dengan belanja belasan alat tulis, kertas, dan buku panduan. Padahal, seharusnya saya bisa memakai barang apa saja yang ada di sekitar saya. Belanja barang remeh tersebut tanpa sadar jika dikumpulkan nominalnya menjadi banyak juga. Seharusnya saya bisa memanfaatkannya untuk hal yang lebih berguna.

Anak Hebat Hasil Didikan Orangtua Cerdas

???????????????????????????????Kutipan tadi saya dapat waktu datang ke Festival Teknologi Pendidikan di Museum Pendidikan Indonesia. Saya setuju sekali, karena guru pertama seorang anak adalah orangtuanya. Karena ibu secara emosional lebih dekat dengan anaknya, peran ibu sangat besar dalam perkembangan anak.
Saya jadi teringat saat beberapa bulan lalu datang ke acara Suara Anak. Di sana saya terpesona dengan anak-anak yang menjadi pembicara di acara tersebut. Umur mereka masih belia. Antara 7 hingga 12 tahun. Tapi mereka sarat dengan prestasi. Ada yang memenangkan lomba di luar negeri, pernah tampil di tivi, atau sudah menerbitkan buku. Hebatnya, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan jika besar nanti. Seorang anak bercerita kalau ia ingin menjadi wartawan di National Geography, anak lain ingin menjadi perenang profesional di tingkat internasional. Jujur saja saya iri. Karena saya dan kebanyakan orang baru tahu apa yang akan kami lakukan setelah dewasa dan bekerja.
Sayangnya, kebanyakan anak-anak tadi ada di latar belakang yang sama. Mereka datang dari keluarga menengah ke atas. Dengan orangtua (terutama ibu) yang cerdas. Saya bilang sayang karena tidak semua anak seberuntung mereka. Saya kerap kali menemui orangtua yang menitipkan anaknya ke sekolahan. Mereka berpikir kalau sekolah akan mendidik anaknya. Sebagian orangtua yang saya tahu berpikir jika anaknya berprestasi secara akademis, mereka akan mendapat pekerjaan yang baik.

Sepertinya, hidup tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah formal. Juga ada banyak hal yang diajarkan di sekolah tidak berguna untuk hidup.
Saya sering bertemu dengan orangtua yang kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Menurut saya, hal tersebut masih lumayan. Setidaknya mereka akan berusaha mencari informasi cara mendidik anak. Lebih banyak lagi orangtua yang hanya sekadar mengikuti insting atau meniru cara orang disekelilingnya mendidik anak.

Anak dan menggambar

Saya berkali-kali melihat orangtua membelikan barang mahal untuk anaknya. Hal tersebut merupakan cara menunjukkan kasih sayang. Mereka tidak sadar jika hal tersebut akan membentuk anaknya menjadi materalistis. Menilai segala hal dengan uang. Ironisnya, untuk membayar barang-barang tadi banyak orangtua yang terlalu sibuk bekerja. Dan menitipkan anaknya kepada pembantu. Bagaimana dengan Anda? Tipe orangtua seperti apakah Anda? Atau jika belum punya anak, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang cerdas?

Wiraswasta Minim Modal

Secangkir kopiMemiliki usaha tidak harus menunggu kaya dahulu. Setidaknya itu yang saya tangkap dari dua pembicara yang berbagi cerita di acara Kopi dan Kewirausahaan Sosial. Acara yang diselenggarakan oleh Prodi Sosiologi UAJY tersebut menghadirkan Denny Neilment dan Khyushu Firmansyah. Kedua pemilik warung kopi ini bercerita mengenai bagaimana mereka merintis usaha kopinya.

Saya kebagian menjadi moderator sesinya Mas Denny. Mas Denny yang berasal dari Padang ini memulai bisnisnya waktu kuliah di UII. Tahun 2003, ia dan lima orang temannya membuka warung kopi karena sama-sama menyukai kopi. Mereka kemudian mencoba mencari sponsor karena tidak memiliki modal. Bukan hal yang mudah ternyata. 30 proposal pendanaan yang mereka sebar ditolak. Kelimanya kemudian mengganti cara mencari dana. Mereka berusaha mendekati teman-temannya yang anak orang kaya untuk mendanai warung kopinya.
Setahun berjalan, Mas Denny lulus kuliah. Orangtuanya di Padang meminta supaya Mas Denny menggunakan ijasahnya untuk mencari pekerjaan yang lebih mapan. Mas Denny memilih untuk meneruskan bisnisnya. Teman-teman Mas Denny kemudian beralih ke usaha lain. Kini, pria berusia 35 tahun tersebut mengelola perusahaan yang memiliki 12 cabang Kedai Kopi dan satu premium café dengan nama It’s Coffe. Warung-warung kopi tersebut selain menyediakan kopi juga menyediakan minuman dan makanan lain. Supaya para pelanggannya bisa mengajak orang lain yang bukan peminum kopi untuk nongkrong di Kedai Kopi. Konsumen mereka didominasi oleh mahasiswa.

???????????????????????????????

Pembicara kedua lebih dikenal dengan nama Pepeng. Sesi Mas Pepeng dipandu oleh Mbak Rina. Awalnya, Pepeng tidak memiliki latar belakang kopi maupun bisnis. Ia tadinya belajar di sekolah penerbangan. Pepeng juga sempat bekerja mengelola web sebuah perusahaan. Karena merasa hidupnya stagnan, ia keluar dari pekerjaannya. Pepeng mengenal kopi saat melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Indonesia. Tempat yang ia datangi banyak yang menjadi daerah penghasil kopi. Awalnya, ia sekadar tertarik membeli kopi untuk oleh-oleh. Lama kelamaan, mulailah dirinya mempelajari literature tentang kopi dan cara membuat kopi.

Klinik kopi ia dirikan dengan modal alat-alat senilai 6 juta rupiah. Ia tidak mengeluarkan uang untuk menyewa tempat karena ia meminjam Pusat Studi Lingkungan milik Universitas Sanata Dharma. Sebagai gantinya, Klinik Kopi memberikan sebagian keuntungan kepada pengelola tempat tersebut. Pepeng mulai mengaktifkan seluruh media sosialnya. Karena promosi yang gencar, orang mulai tertarik untuk datang.

Sesi Mas Pepeng penuh dengan cerita. Mulai dari orang-orang yang datang ke kedainya untuk minum kopi sampai perjalanan ke daerah-daerah penghasil kopi. Ia bercerita tentang petani-petani kopi yang tidak pernah mencicipi kopi yang mereka tanam. Jaman belanda dulu, buruh kopi dilarang mengonsumsi kopi. Mereka minum daun kopi yang disebut tawa. Bulan lalu, Mas Pepeng pergi ke Papua. Di sana ia mengajarkan bagaimana cara menanam dan memetik kopi yang benar ke petani kopi di Wamena. Tiap kali datang ke tempat penghasil kopi, ia membuatkan kopi untuk para petaninya. Menurutnya, jika seorang petani bisa merasakan enaknya ngopi, mereka akan menjaga kualitas kopinya.

Kedua pembicara tersebut ingin supaya masyarakat beralih ke kopi sungguhan. Ironis jika negeri yang menjadi penghasil kopi nomer tiga dunia penduduknya konsumen kopi instan. Vietnam kini lebih maju di bidang perkopian. Padahal dahulu petani-petani kopi mereka datang ke Indonesia untuk belajar bagaimana cara menanam kopi. Sekarang, dengan luas perkebunan yang lebih sempit, hasil panen pertahun kopi Vietnam lebih tinggi dibanding Indonesia.