Berkah Sri Getuk untuk Warga Bleberan

Gerbang

Jika ada teman berlibur ke Jogja, saya kerap mengajak mereka ke Air Terjun Sri Gentuk. Bagi saya, tempat tersebut bukan sekadar lokasi wisata. Kawasan Sri Getuk merupakan hasil kerja keras warga yang didukung oleh banyak pihak. Mulai dari desa, pemerintah sampai CSR BNI. Saya senang menceritakan perubahan yang kawasan tersebut alami kepada teman-teman.

Saya pertama kali datang ke Desa Bleberan pada tahun 2006. Saat itu, penduduk setempat tidak menganggap air terjun dan gua di desanya sebagai sesuatu yang menarik. Sesekali, satu dua turis datang. Orang luar enggan singgah karena jalan setapak menuju desa susah dilewati. Jalan tersebut becek tiap kali musim hujan tiba. Selain itu, untuk apa berkunjung ke daerah yang tandus dan kering?

Keadaan mulai berubah sejak warga mengemas desanya menjadi obyek wisata. Ide tersebut muncul dari Tri Harjono yang beberapa waktu lalu menjabat sebagai kepala desa. Sekitar tahun 2007 an, ia mengajak warganya bekerja bakti merapikan kawasan air terjun. Untuk mendapat dukungan penduduk, ia datang ke pertemuan-pertemuan dusun dan menyampaikan mimpinya. Awalnya, masyarakat tidak tertarik. Masyarakat belum melihat keuntungan yang akan mereka dapat. Bagi mereka, air terjun tersebut sudah lama ada dan belum pernah memberikan pemasukan.

Air terjun sri getuk

Dengan bantuan perangkat desa, Pak Tri mulai menata kawasan tersebut menjadi tempat wisata. Masyarakat membentuk paguyuban pengelola wisata. Mereka bergotong royong membuat tangga supaya air terjun mudah dijangkau. Dahulu, untuk mencapai air terjun orang harus berjalan melalui persawahan. Rute tersebut tidak memungkinkan pengunjung melihat perbukitan kars yang menyusun kawasan tersebut. Kontur batuan unik yang ada di kiri dan kanan sungai baru terlihat saat orang menyusuri sungai.

Paguyuban kemudian memiliki ide untuk membuat rakit. Mereka meminjam uang dari tokoh masyarakat sebagai modal. Percobaan membuat perahu tersebut sempat gagal dua kali. Perahu yang didesain warga tidak bisa berjalan sembari membawa beban menyusuri sungai. Sampai Pak Marjuni, salah seorang anggota paguyuban mendapat ide untuk memperbaikinya. Ia mengadopsi rakit yang dipergunakan pengangkut kayu dan pupuk di Sungai Kampar.

sri getuk

Para pengelola Sri Getuk kemudian membuat web untuk mempromosikan tempat wisata tersebut. Mereka juga memasang iklan di beberapa majalah. Mulailah pengunjung berdatangan. Warga, dengan bantuan kabupaten membuka tempat wisata tersebut secara resmi pada tahun 2009. Berbagai kesenian daerah tampil di acara tersebut untuk menarik pengunjung. Mereka juga mendatangkan wartawan untuk meliput lokasi tersebut.

Lama kelamaan, wisatawan mulai banyak berkunjung. Mereka memoto air terjun dan menyebarkan melalui media sosial. Hal tersebut mengundang orang lain untuk datang. Kini, Sri Getuk dikunjungi ratusan orang tiap hari. Jumlah tersebut bisa mencapai ribuan orang tiap akhir pekan. Pada hari biasa pengunjung membayar 7.000 rupiah. Biaya tersebut belum termasuk ongkos parkir.

Kini, obyek wisata tersebut mendatangkan pemasukan bagi desa. Termasuk 80 orang warga yang bekerja di sana. Mereka terdiri dari pengelola wisata, tukang parkir, penarik perahu, penjaga tiket masuk, hingga petugas kebersihan. Sejak Sri Getuk menjadi tujuan wisata, jumlah warga yang merantau untuk bekerja berkurang. Anak-anak muda yang lulus sekolah bisa bekerja di sana. Para pengelola wisata berusaha menata kawasan supaya lebih banyak warga bisa terlibat. Setelah lokasi ini menjadi ramai, warga mulai berjualan makanan dan minuman. Dahulu mereka hanya membuka dagangannya saat akhir pekan saja. Jumlahnya pun hanya satu dua. Supaya terorganisir, paguyuban membuat deretan warung. Bangunannya merupakan bantuan dari BNI.

Saya kagum mendengar bagaimana warga berpikir jauh ke depan. Mereka membatasi orang luar untuk berinvestasi di sana. Beberapa tahun lalu, desa menolak pemodal dari luar yang hendak membeli tanah warga untuk membangun hotel. Pemerintah desa tidak ingin penduduk lokal kalah oleh pemodal dari luar.

Setelah air terjun mulai tertata, lokasi tersebut mengundang berbagai bantuan. Termasuk Corporate Social Responsibility BNI. Selain membangun warung diseputaran lokasi, BNI menambah jumlah perahu dan membuat gapura tempat penjualan tiket. Selain membangun infrastruktur, BNI juga memberikan bantuan berupa serangkaian pelatihan. Mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pemandu lokal sampai cara mengemas pangan lokal. Dengan demikian bisa menjual wingko, kripik, dan tiwul untuk oleh-oleh.

Libur lebaran kemarin, saya kembali mengunjungi Sri Getuk. Kawasan tersebut penuh dengan pengunjung. Ratusan bus, mobil, dan motor menyemut di tempat parkir. Dalam sehari, pengelola mendapat pemasukan lebih dari dua puluh juta rupiah hanya dari tiket masuk. 40-an pedagang yang berjualan di seputaran obyek wisata juga kecipratan rejeki. Dagangan mereka laris karena tiap hari ada lebih dari 2000 pengunjung. Tentu saja sebagian berbelanja. Pembangunan-pembangunan bantuan dari pihak luar membuat lokasi tadi tetap nyaman meski ada ribuan orang datang.

Suatu Hari di Kota Lama

Sumber: dianloves.me

Sumber: dianloves.me

Jika teman-teman hanya punya waktu terbatas untuk liburan di Semarang, datanglah ke Kota Lama. Selain mudah dijangkau, ia juga punya berbagai titik unik yang bercerita tentang masa lalu Semarang. Saran saya, tempat ini lebih asyik didatangi di pagi atau sore saat matahari tidak bersinar terik. Lebih seru lagi berkeliling dengan jalan kaki atau mengendarai sepeda dan becak. Saat melambat, teman-teman menikmati gedung-gedung tadi sambil membayangkan suasana kota tersebut beberapa ratus tahun lalu.

Kota ini tadinya dikenal dengan nama Kota Benteng Belanda. Banyak bangunannya berdiri pada tahun 1700an. Kota Lama penuh gedung-gedung dengan arsitektur eropa. Bangunannya tinggi-tinggi dan memiliki jendela besar. Kawasan tersebut menjadi pusat perdagangan pada abad 19-20. Di sana ada Stasiun Tawang, kanal air, kantor pos, dan beberapa bangunan tua yang masih berfungsi hingga kini.

semarang 3

Salah satu bangunan yang terawat apik adalah Gereja Blenduk. Gereja tersebut dibangun pertama kali pada tahun 1753. Tidak sulit menemukan gereja ini. Kubah besar dengan warna merah batanya terlihat dari kejauhan. Kalau teman-teman beruntung, bisa mengintip isinya. Ada organ baroque dalam gereja.

Di seputar kota lama terdapat kawasan Pecinan. Dulu, Belanda memindahkan sebagian orang Cina pada tahun 1731 untuk mengawasi supaya mereka tidak memberontak. Karena dahulu dihuni banyak penganut Kong Hu Chu, kawasan ini memiliki sekitar dua puluhan kelenteng. Yang paling besar kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng ini didatangi paling banyak pengunjung karena letaknya strategis dan memiliki 33 dewa. Tay Kak Sie dibangun tahun 1746 untuk memuja Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih. Selain untuk beribadah, kini banyak orang datang ke kelenteng untuk berwisata. Warna merah menyala yang mendominasi membuat kelenteng dan warna emas di sebagian besar dewa dan aksesorisnya menarik dilihat.

semarang 5

Kalau teman-teman beruntung datang ke tempat ini saat akhir pekan, mampirlah ke pasar semawis. Di sana warung-warung tenda berjejeran. Seru lo jalan kaki menyusuri para pedagang. Sambil melihat dan mencicipi kue-kue dan berbagai masakan peranakan di sana. Saya paling suka beli kue mochi. Lupa merknya, tapi itu mochi paling enak yang pernah saya makan. Saat imlek, pasar semawis lebih ramai. Saya pernah sengaja dari Jogja datang ke sana hanya untuk menyaksikan pertunjukan wayang potehi.

Di kawasan pecinan, bekas-bekas budaya tionghoa banyak terlihat di Gg Cilik. Selain kelenteng, di sana ada pembuat hiasan makam. Mulai pagi hingga sore hari ada beberapa pekerja memahat batu. Di sana juga terdapat pembuat rumah arwah. Itu lo, rumah-rumahan kertas yang sering ada di film-film Cina. Yang dibakar sebagai bakti seorang anak kepada leluhurnya. Konon supaya orang yang meninggal memiliki rumah di sana. Selain rumah, biasanya ada pembakaran uang-uangan dan mobil-mobilan juga. Rumah yang dibuat dengan rangka bambu ini biasanya lengkap dengan boneka pembantu rumah tangga dan peralatan masak mini. Harga per setnya sekitar satu juta.

semarang 2

Di kawasan Pecinan ini masih banyak rumah kuno yang dihuni. Saya suka melihat bangunan yang berlumut. Beberapa memasang hio, cermin, atau lambang ying dan yang di depan rumah. Di antara deretan rumah tadi ada bangunan bertingkat yang disebut Rumah Kopi. Bangunan warna putih yang tembok dan kayu-kayunya masih utuh ini tidak diketahui kapan dibangun. Konon jauh sebelum tahun 1800 an. Rumah ini milik Marga Tan yang merupakan salah satu pembangun Pecinan Semarang. Dulu dibangun oleh Tan Tiong Ie yang juga mendirikan perusahaan kopi Margo Rejo. Perusahaan ini membuat dan memasarkan kopi. Tan Tiong Ie merupakan keturunan Tionghoa pertama di Jawa yang bisa mengekpor kopi ke negara lain. Hingga kini, perusahaan tersebut masih menjual kopi tapi tidak sebanyak dahulu. Kini, mereka juga membuat permen kopi. Rasanya seperti gula-gula jaman dulu. Teman-teman bisa menemukan permen tadi di Toko Oen.

Semarang 4

Rumah Kopi ini masih dihuni cucu Tan Tiong Ie. Di dalamnya masih banyak dan furnitur-furnitur kayu yang umurnya ratusan tahun. Waktu datang ke rumah tadi, saya terpesona dengan Lian (pepatah) yang dipasang di dinding. Kalimat tersebut dipahat di kayu besar. Salah satunya berbunyi kalau diterjemahkan kira-kira begini: sebaik-baiknya anak kaya lebih baik anak pintar. Sebenarnya masih ada banyak sudut unik dari kawasan ini. Cobalah datang dan buktikan sendiri.

Semarang 1

Banner Lomba Utama

Sekolah itu (seharusnya) Menyenangkan

Sekolah Alam Ciganjur

Sejak melihat anak-anak yang belajar dengan gembira di Sekolah Alam, saya ingin bertemu perumus metode pendidikan tersebut. Namanya Lendo Novo. Awalnya, ia berkuliah di bidang perminyakan. Ketertarikan Lendo Novo terhadap dunia pendidikan dimulai pada tahun 1989.

Waktu ia dipenjara karena meminta Presiden Suharto turun. Tentara yang menginterogasinya berkomentar “Kalian itu kuliah baru S2 saja sudah berani melawan Pemerintah. Mereka punya mentri-mentri yang gelarnya Professor dan Doktor.” Kalimat tersebut memunculkan serangkaian pertanyaan. Kenapa masyarakat Indonesia menghargai orang berdasar kepintaran, harta, popularitas, atau fisik yang indah? Orang kemudian mencari jalan pintas karena ingin dihargai. Ada yang korupsi karena ingin kaya. Ada yang membeli gelar atau mencontek karena ingin dianggap pintar. Dan orang-orang yang ingin fisik rupawan melakukan operasi plastik.

Lendo Novo kemudian mempertanyakan seperti apakah orang yang paling berharga di mata Tuhan. Sebagai penganut Islam, ia mencari rujukan di Al Quran. Ia menemukan bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang bertakwa dan paling berguna. Lendo Novo kemudian berpikir untuk mengubah cara pandang yang ada di masyarakat. Caranya: melalui pendidikan.

Lendo Novo

Ia kemudian membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Lendo Novo melihat Jepang, Jerman, dan Singapura maju karena memiliki sikap-sikap seperti jujur, adil, disiplin, dan bekerja keras. Mulailah ia merancang sebuah sekolah yang 80% kurikulumnya berupa pendidikan karakter. Lendo percaya ilmu seperti Matematika bisa dipelajari kapan saja. Berbeda dengan karakter yang harus dilatih sejak dini. Karena setelah dewasa, sifat seseorang sudah terbentuk dan susah berubah.

Kurikulum sekolah alam mengacu pada Al Quran dan hadis. Ia memperkaya metodenya dengan berbagai bacaan seperti sekolah Toto Chan, Mahatma Gandhi, Paulo Freire dan lain-lain. Intinya, manusia tercipta untuk menjadi kalifah—pemimpin—di muka bumi. Jadi ia harus memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk mengelola alam.

Ada 4 pilar yang menjadi dasar pengajaran sekolah alam. Tahu cara tunduk kepada Tuhan, tahu cara tunduk mahluk lain kepada Tuhan, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Berbeda dengan sekolah umum yang banyak menghapal, murid-murid sekolah alam lebih belajar lewat praktek. Seperti saat belajar tentang pohon. Mereka akan langsung melihat tumbuhannya. Murid-murid kemudian mengamati bagaimana pohon tersebut hidup dari air dan sinar matahari dan mendiskusikannya. Saat belajar dengan cara tersebut melatih logika seorang anak. Supaya proses belajar terjadi dengan baik, sekolah perlu menciptakan suasana yang menyenangkan.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Sekolah alam pertama berdiri tahun 1998. Kini, metode pembelajarannya diadopsi oleh sekitar 2000 an sekolah. Masing-masing sekolah tersebut mengembangkan kurikulum sesuai lokasi masing-masing sekolah. Saat ini ada School of Universe di Parung yang menjadi semacam sekolah model bagi sekolah alam. Di sana, metode-metode pengajaran diuji terus-menerus.

Saat merumuskan sekolah alam, Lendo Novo ingin membuat sekolah yang menerima keberagaman muridnya. Dulu, Lendo sering dihukum di sekolah karena tidak bisa diam. Orangtuanya bahkan pernah membawanya ke psikiater. Ia juga memiliki kakak yang diffable dan bersekolah SLB. Di sekolah alam, anak yang berbeda seperti dirinya dan kakaknya bisa bersekolah sama-sama. Tanpa dilabeli bodoh atau nakal.

Masih banyak hal belum saya tuliskan di sini. Halaman blog ini terlalu kecil untuk membuat satu tulisan utuh tentang Sekolah Alam. Saya harap, saya akan menuliskan kelanjutan masih perlu melihat praktek pembelajarannya di sekolah. Semoga saya bisa melanjutkan menuliskan hal tersebut.

Belajar Menyenangkan di Museum

Museum Jogja Perjuangan

Saya percaya seseorang bisa mengumpulkan lebih banyak informasi ketika ia belajar dengan menggunakan seluruh indranya. Salah satu caranya dengan mengunjungi museum. Beruntung saya tinggal dan besar di Jogja yang memiliki beragam museum. Beberapa diantaranya menarik untuk dikunjungi.

Saya masih teringat saat dua tahun lalu mengajak 50-an murid sebuah penitipan anak ke Museum Dirgantara. Saya dan beberapa teman, menemani balita-balita tersebut belajar tentang transportasi. Di sana, mereka gembira bisa berlarian sambil menyentuh pesawat. Beberapa bahkan bisa dinaiki. Kami berteriak-teriak kagum saat melihat film tentang sekelompok penerbang. Seusai berkeliling, kami menggambar bersama. Anak-anak tersebut kemudian menceritakan kembali pengalamannya melihat benda-benda yang bisa terbang itu.

Museum Dirgantara Jogja

Museum perlu penataan yang cantik untuk membuat orang terkesan. Hal tersebut membuat pengunjungnya mengajak orang lain untuk datang. Museum Kolong Tangga merupakan salah satu museum yang kerap saya promosikan. Saya pernah mengajak editor Koran Tempo Makassar ke tempat tersebut. Karena terpesona dengan mainan-mainan yang pernah ia lihat pada waktu kecil, ia kemudian menulis untuk korannya. Ia mengundang orang lain untuk berkunjung ke sana. Bukankah hal tersebut merupakan promosi yang baik?

Museum Jogja Kolong Tangga

Barang-barang di museum adalah benda mati. Ia baru akan menarik dan punya “nyawa” saat ada pendongeng yang baik. Saya menemukan hal tersebut di Museum Batik. Waktu itu saya mengajak teman-teman dari Komunitas Goodread. Guide kami bisa menceritakan dengan baik tentang sejarah batik dan peralatan yang digunakan untuk membuatnya. Kami baru tahu kalau canting itu jumlahnya belasan macam. Lebih banyak daripada yang kami lihat di pasaran. Kami juga terpesona melihat batik kuno yang ditulis dengan sangat halus. Titik-titiknya seukuran pena satu mili. Jaman sekarang sudah tidak ada lagi pembatik setrampil itu.

Museum Batik Jogja

Jogja masih memiliki banyak museum lain. Saya harap museum lebih banyak berbenah untuk menarik pengunjung. Hal tersebut bisa tercapai jika museum memiliki pengelola-pengelola cerdas dan mencintai pekerjaannya. Mereka perlu membaca banyak buku supaya memiliki informasi untuk disampaikan ke pengunjung. Ia juga harus memiliki ketrampilan untuk membuat informasi tersebut menarik. Sebagai referensi, pengelola museum perlu banyak mempelajari cara museum lain menarik pengunjung. Internet mempermudah hal tersebut. Semoga ke depannya, para pengelola ini bisa mengubah museum jadi tempat menyenangkan. Saya tunggu.

#RayakanIndonesiamu dan Sebarkan Berita Baik.

Andri Rizki Putra

Kondisi berbangsa dan bernegara di Indonesia kini dalam keadaan memprihatinkan. Masyarakat begitu mudah menyebar berita yang tidak jelas kebenarannya di media sosial. Untuk mengingatkan kita akan pentingnya menyikapi hal tersebut, Penerbit Mizan mengadakan acara bertema “Rayakan Indonesiamu: Ribuan Pulau Kebaikan”. Diskusi yang berlangsung pada tanggal 10 Juni 2015 lalu merupakan pembuka dari peringatan 32 tahun Penerbit Mizan. Dalam acara tersebut, beberapa tokoh yang telah menyebar kebaikan di Indonesia hadir untuk berbagi cerita.

Ada Andry Rizki Putra yang mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Di usianya yang belum genap 25 tahun, ia sudah mendirikan 3 buah sekolah. Lembaga yang berdiri tahun 2012 tersebut telah meluluskan lebih dari 200-an murid. Latar belakang murid tersebut kebanyakan yang dari masyarakat kalangan bawah. Ada pedagang asongan, sopir angkot, hingga asisten rumah tangga.

Kepedulian Rizki pada dunia pendidikan berawal pada tahun 2006. Saat mengerjakan UN untuk kelulusan SMPnya, ia melihat beberapa rekan sekolahnya mencontek. Ironisnya, kecurangan tadi didukung oleh para guru. Guru-gurunya ingin supaya nilai ujian murid tinggi untuk mempertahankan status favorit sekolah. Trauma dengan sistem pendidikan formal, ia memutuskan berhenti sekolah formal setelah beberapa bulan duduk di bangku SMA. Menurutnya, sistem pendidikan yang berlaku saat ini hanya mengejar nilai dan mengabaikan hal penting seperti kejujuran. Ia memutuskan untuk belajar otodidak dan mengikuti kejar paket C. Hal tersebut kemudian menginsipari dirinya untuk membuat sekolahnya sendiri selepas lulus dari Fakultas Hukum UI.

Rayakan Indonesia Penerbit Mizan

Hadir juga Shafiq Pontoh yang aktif di Indonesia berkibar, Ayah Asi, dan Indonesia Berkebun. Ia mengajak kita untuk berkampanye menahan jempol. Kita harus berhari-hati sebelum memutuskan untuk menyebar sesuatu di media sosial. Shafiq mengingatkan kita untuk menyebar info hanya dari akun yang bisa dipercaya. Abaikan saja akun anonim. Mereka dibayar mahal untuk mempengaruhi masyarakat demi kepentingan golongan tertentu. Lebih baik kita memposting kegiatan-kegiatan positif yang kita lakukan untuk mengimbangi banyaknya berita negatif di media sosial.

Shafiq bercerita bahwa kadang pengambil kebijakan justru tidak bijak dalam menyikapi konten negatif. Dulu, konten pornografi jarang menduduki top pencarian tertinggi di Indonesia. Sejak seorang mentri menggembar-gemborkan blokir situs porno. Orang-orang justru penasaran dan mencari tahu. Hal tersebut menaikkan jumlah pengunjung situs porno.

Senada dengan Shafiq, Haidar Baqir juga memprihatinkan hal tersebut. Ia khawatir dengan begitu gampangnya masyarakat meneruskan berita yang belum tentu benar. Ia miris melihat orang-orang yang mengkritik suatu hal tetapi justru membuat orang lain tahu mengenai hal tersebut. Menurut Haidar, orang-orang yang ingin merusak Indonesia ini jumahnya sedikit. Tapi kita justru membuatnya besar dengan membantu menyebarkan berita tersebut.

Ceo Mizan ini juga menceritakan programnya yang bernama Islam Cinta. Isinya buku-buku dan film yang menceritakan toleransi. Haidar berkata jika Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku dan bangsa. Kenapa kita berusaha menyeragamkannya? Perselisihan itu timbul bukan karena perbedaan. Ia muncul karena tidak adanya komunikasi.

Diskusi tersebut masih menampilkan beberapa tokoh lain yang banyak berkarya. Obrolan tersebut ditutup oleh penampilan Pidi Baiq, Imam Besar The Panas Dalam. Ia membuat hadirin tertawa dengan celotehannya seputar perjalanan Negara Panas Dalam. Disela-sela ceritanya, ia berkomentar tentang mengapa kita selalu mempermasalahkan perbedaan? Ia juga mengatakan bahwa nasionalisme itu tidak berhenti di batas Negara. Kita merupakan bagian dari dunia. Islam adalah “Rahkmatan lil Alamin” bukan “Rahmatan lil Indonesia”. Pidi menutup sesinya dengan wejangan: “Berkaryalah supaya kamu bisa mengangkat derajat ibumu. Supaya ia merasa bangga pernah melahirkanmu. Berkaryalah supaya anakmu bangga dengan siapa orangtuanya. Karena meresa tidak hanya sekadar butuh materi.

Jebakan Batman di Pusat Perbelanjaan

Sumber foto: everystockphoto

Sumber foto: everystockphoto

Bulan pertama pindah rumah, saya dan suami punya kebiasaan baru: belanja. Dalam seminggu, kami bisa dua sampai tiga kali ke pusat perbelanjaan. Karena rumah yang kami tempati awalnya masih kosong, kami seperti punya alasan untuk mengisinya. Apalagi rumah kami hanya 500 meter dari sebuah supermarket. Kami sering sore-sore jalan kaki ke sana untuk berbelanja.

Dulu, saya bukan tipe yang suka ke mall atau pusat perbelanjaan besar. Sebagai penganut ekonomi kerakyatan, saya lebih memilih berbelanja ke toko kecil atau perajinnya langsung. Setidaknya saya membantu mereka untuk menafkahi keluarganya. Tapi, karena kami harus belanja barang dalam jenis beragam, hipermart menawarkan lebih banyak pilihan. Kami tidak perlu pergi ke beberapa toko jika butuh berbagai macam barang.

Sayangnya, kami sering khilaf. Saat pulang, kami bisa saja membawa pot bunga, gelas, atau kabinet yang tidak kami butuhkan. Kami sering tidak sadar jika supermarket besar ditata supaya pengunjungnya nyaman. Saat mengelilinginya, kita sering memasukkan barang tidak penting ke keranjang belanja. Kereta dorong yang muat lebih banyak barang dan meringankan bawaan memperparah hal tersebut.

Saya sering lupa kalau supermarket sengaja menata barang agar kita membeli lebih banyak dari yang kita butuh. Mereka tahu kalau sesuatu yang terlihat mencolok perhatian mata akan cenderung membuat kita membelinya. Karena itu meja kasir penuh permen dan barang kecil yang sering kita ambil tanpa pikir panjang. Hal tersebut membuat saya mulai membawa daftar belanjaan. Jumlah barang tidak penting yang saya beli mulai berkurang.

Dulu, saya tidak pernah mengecek harga saat membayar di kasir. Saya mulai melakukannya setelah sadar ada barang-barang yang harganya lebih mahal daripada dugaan kami. Waktu itu, saya iseng mengecek struk belanja barang yang kami beli dalam sebulan. Untuk sekadar tahu pemborosan apa yang sudah kami lakukan.

Saya baru sadar kalau kami berkali-kali membeli barang yang harganya lebih mahal dari merk lain. Ada coklat bubuk dengan harga lebih dari 60 ribu. Padahal barang sejenis rata-rata harganya dibawah dua puluh ribu. Ada garam sehat seharga 54 ribu. Padahal, garam biasanya hanya beberapa ribu rupiah. Minuman ringan seharga 80 ribu. Tempat garam dengan harga hampir seratus ribu rupiah. Dan masih banyak lagi. Seingat saya, kami tidak pernah melihat angka tersebut di rak. Sejak saat itu saya mulai memerhatikan harga saat kasir menjumlah belanjaan. Saya kemudian menemui harga barang di rak berbeda dengan di kasir.

Gara-gara tiap minggu main ke sebuah hipermart, kami jadi hobi melihat harga barang. Tiap minggu, pasti ada barang yang didiskon. Kelihatannya sih jadi lebih murah dan menggoda orang untuk membeli. Padahal kalau mau membandingkan, di pasar kami melihat barang yang sama dengan harga lebih murah. Mana ada orang jualan yang ingin rugi? Saya juga mulai menunda membeli suatu barang kalau sekadar ingin. Siapa tahu di tempat lain ada barang dengan harga lebih murah atau pilihan model lebih bagus.

Toba Dreams, cerita tentang keluarga dan hasrat untuk kaya

Toba Dreams, cerita tentang keluarga dan hasrat untuk kaya

Film ini satu dari sedikit film yang tidak saya protes begitu keluar dari bioskop. Saya suka cara Benny Setiawan menyutradarai dan menulis skenarionya. Toba Dreams bercerita tentang Sersan Tebe (Mathias Muchus) yang mengakhiri jabatannya di Angkatan darat. Setelah pensiun, ia harus keluar dari rumah dinas. Karena pendapatannya tidak lagi cukup untuk bertahan di Jakarta, ia mengajak ketiga anaknya pulang ke Toba.

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

Keinginan tersebut ditentang oleh Ronggur (Vino G Bastian), anak pertamanya. Ia enggan tinggal di kampung. Selain itu, kekasihnya tinggal di Jakarta. Setelah melalui perdebatan panjang, keluarga ini tetap pindah ke Toba. Anak-anak Tebe kesulitan beradaptasi dengan fasilitas yang kurang. Konflik timbul karena Ronggur marah dan mencari-cari masalah. Sampai suatu hari, ia mabuk dan membuat ayahnya murka. Ronggur kemudian kabur dan memutuskan kembali ke Jakarta.

Di Jakarta, kekasihnya ternyata sudah memiliki pria lain. Rongur kemudian tinggal di rumah Tomi, temannya. Keluarga Tomi harus menanggung malu karena sang ayah korupsi. Sambil mencari pekerjaan, ia menjadi supir taksi. Hingga akhirnya, ia terjebak menjadi pengantar narkoba. Ronggur kemudian menjadi kaya raya dan hendak menunjukkan kepada sang ayah jika ia sukses.

Saya menikmati menonton film ini karena alurnya menarik. Pada awal film, penonton kerap tertawa oleh adegan-adegan lucu dan percakapan yang cerdas. Baru pada pertengahan cerita, kelucuan tersebut berkurang karena penonton sudah terlibat dalam drama yang terbangun.

Selain itu, dua tokoh utama film berakting bagus. Mathias Muchus bisa memerankan ayah yang pemarah dan otoriter. Vino G Bastian juga bisa menghidupkan pemuda yang pemberontak, keras kepala, dan angkuh.

Meskipun demikian, film ini tidak luput dari keanehan logika bercerita. Ada beberapa hal yang tidak masuk akal. Seperti pada saat Tebe sekeluarga pulang ke Toba. Ia berpidato seolah-olah penduduk Toba masyarakat yang udik dan perlu diubah. Begitu datang, penduduk langsung mengikuti anjurannya untuk bekerja bakti. Di dunia nyata, butuh proses lama untuk menyuruh sebuah komunitas berlaku di luar kebiasaannya.

Poster film. Diambil dari google

Poster film. Diambil dari google

Yang kedua, saat pertama kali Coki-anak Rongur makan bersama dengan Tebe dan keluarganya. Coki yang baru berumur lima tahun diminta memimpin doa. Ia yang dididik dengan cara Islam berkata jika caranya berdoa berbeda dengan keluarga Tebe yang Nasrani. Hal yang aneh karena umur anak lima tahun umumnya belum tahu apa itu konsep agama. Akan lebih masuk akal Coki berdoa dengan cara Islam dan anggota keluarga yang lain kaget mendengarnya.

Kalau menurut saya, judul film ini kurang tepat. Sebelum menonton, saya sempat berpikir ceritanya tetang seorang yang lahir di Toba dan berusaha untuk mengejar cita-citanya di tengah keterbatasan. Atau tentang seseorang yang pulang ke Toba untuk membangun daerahnya. Dugaan saya salah. Ceritanya lebih banyak tentang konflik ayah dan anak. Juga pencarian jati diri di kota besar.

Setidaknya saya senang. Di tengah film Indonesia yang menjual cerita hantu, komedi, atau percintaan yang begitu-begitu saja, ada film yang berbeda. Semoga kedepannya akan ada lebih banyak lagi film Indonesia yang mengangkat tema hubungan antar manusia.