Terumbu Karang, Rusa, Banteng, dan Merak Liar di Baluran

 

Beberapa waktu lalu, saya bersama tiga orang teman ingin melihat penyu bertelur di Taman Nasional Meru Betiri. Sayang, medan menuju tempat tadi sulit untuk dicapai pada bulan Desember sehingga kami mengganti tujuan. Kami memilih untuk pergi ke Taman Nasional Baluran di Banyuwangi, Jawa Timur.

Karena ingin menghemat biaya (baca: pelit), kami berangkat dengan Kereta Api ekonomi Sri Tanjung. Kereta ini berangkat pukul 07.30 dari Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta.  Kereta mulai menjadi tidak nyaman selepas pukul 11 siang. Panas dan gerah sekali karena ada terlalu banyak orang berdesakan dalam kereta. Saya sampai berteriak kegirangan saat ada tukang es krim lewat!

Lama-kelamaan, kami mulai mati gaya dan bingung mau ngapain. Kebayang nggak sih, duduk di bangku keras selama 15 jam sambil sesekali disikut orang lewat? Atau kami yang kurang kreatif saja tidak punya ide untuk menghabiskan waktu? Padahal kalau saja kami mau mengamen, waktu 15 jam itu lebih dari cukup untuk balik modal (FYI: harga tiket Jogja-Banyuwangi cuma 35 ribu). Toh banyak pengamen di kereta yang suaranya ancur berat. Saya saja sempat berpikir mau memberi uang selama mereka tidak menyanyi.

Kereta mulai sepi sehabis Stasiun Jember. Saat, memasuki Banyuwangi, beberapa penumpang yang tersisa disuruh pindah ke gerbong paling depan dan petugas mulai mematikan lampu. Kami merasa beruntung karena kebetulan naik di gerbong yang masih baru. Karena gerbong lain yang kami lewati baunya pesing sekali. Masa bayar 35 ribu buat perjalanan sejauh itu mau berharap banyak!

Kereta sampai di stasiun terakhir sekitar jam 11 lebih. Kami  kemudian berjalan kaki menuju penginapan yang tidak jauh dari sana. Menurut petugas kereta, di losmen ini kamar ber-AC dengan kamar mandi dalam sewanya cuma 60 ribu. Awalnya, kami sempat berpikir akan mendapat kamar yang bersih dan nyaman dengan asumsi ada banyak penginapan murah di Jawa Timur. Ternyata, kami salah besar. Kamar kami sempit sekali. Memang sih ada kamar mandi dalam dan AC. Tapi pintunya rusak dan AC-nya jika dinyalakan justru menyebar debu ke seluruh ruangan.

Pagi sehabis sarapan, kami menyewa angkot menuju Baluran. Di pintu masuk, kami ditawari penginapan di Bekol dengan harga mulai 35 ribu per orang atau di Pantai Bama dengan harga 300 ribu per cottage. Karena ingin melihat matahari terbit dan berenang pagi-pagi, kami memilih untuk menginap terlebih dahulu di pinggir pantai.

Saat melintasi hutan menuju Pantai Bama, kami sempat berhenti berkali-kali dan turun dari angkot sambil berteriak-teriak kegirangan gara-gara melihat ayam hutan. Sepertinya ini efek dari perjalanan lama yang membosankan, segala sesuatunya kemudian terlihat lebih indah.  Termasuk ayam hutan yang aslinya tidak jauh berbeda dengan ayam kampung biasa.

Waktu kami sampai di penginapan Bama, penjaganyanya berkata kalau mereka tidak menyediakan makan. Biasanya, tamu yang menginap menelpon dulu beberapa hari sebelumnya. Untung saja penjaganya mau berbaik hati memasak untuk kami selama kami menginap di Baluran. Mereka bahkan mencarikan kerang, ikan, dan cumi-cumi sebagai lauk.

Kami memesan perahu untuk melihat terumbu karang selepas makan siang. Karena tidak sabar melihat pantai dengan ombak tenang, kami berenang-renang di depan cottage duluan.  Sayang, di sana banyak sampah sisa air minum kemasan. Siang harinya kami naik perahu untuk melihat tempat penanaman terumbu karang yang letaknya tidak terlalu jauh dari pantai. Kebanyakan terdiri dari karang-karang keras. Ada beberapa yang berwarna kuning, biru, dan merah. Meski jumlahnya tidak banyak, di sini ada berbagai macam ikan warna-warni. Mungkin karena terlalu capai dan kurang tidur, saya sempat memberi makan ikan-ikan dengan mutahan makan siang saya.

Sore harinya, pantai mulai sepi. Hanya ada kami berempat! Mungkin karena ini bukan musim liburan, jarang ada orang berkunjung. Tapi kami senang karena merasa seperti punya pantai pribadi. Kami hanya harus berhati-hati dengan gerombolan monyet nakal yang suka mencuri makanan.

Keesokan harinya, kami bangun pagi untuk melihat matahari terbit. Sayangnya, langit terlalu berawan sehingga hanya terlihat warna merah di atas cakrawala. Laut surut jauh sekali sehingga kami tidak bisa berenang pagi-pagi. Saat asyik berjalan-jalan di pinggir pantai sambil melihat monyet mencari ikan, dari jauh kami melihat puluhan titik-titik di sisi lain pantai. Kami lalu berlari menyusuri pantai dengan kaki telanjang saat mengetahui titik tadi puluhan ekor rusa. Saat kami bisa sedikit dekat, rusa-rusa ini berlari membentuk barisan menuju hutan. Kami berjalan pulang pelan-pelan karena batu dan karang-karang mati yang tadinya tidak kami hiraukan sekarang terasa menyakitkan.

Sebelumnya, kami berencana untuk menyusuri hutan dengan ditemani pemandu. Sayang, hujan deras tadi malam membuat jalan setapak penuh lumpur dan susah untuk dilewati. Akhirnya kami berjalan kaki sejauh tiga kilo ke Savana Bekol. Ada banyak jenis burung hinggap di pepohonan sepanjang perjalanan. Kami berkali-kali melihat kingfisher dan hornbill. Sampai di penginapan, setelah makan siang kami tertidur  karena kecapaian.

Sore harinya kami berjalan-jalan ke savana. Berhubung kecil kemungkinan untuk melihat kerbau atau banteng di musim hujan, kami memilih untuk mengejar-ngejar merak. Mereka seringkali bersembunyi di gerombolan tanaman akasia yang memenuhi tepian savana. Kami sempat masuk ke sela-sela tanaman berduri ini supaya bisa melihat merak, ayam hutan, atau kupu-kupu dari dekat. Lengan dan kaki kami berkali-kali tergores duri akasia. Tanaman ini berasal dari Afrika. Pada tahun 70an, tanaman ini didatangkan untuk mencegah Savana Bekol yang sering terbakar tiap musim kemarau. Sayangnya, sekarang pohon ini justru menguasai savana dan pihak taman nasional mengeluarkan banyak biaya untuk memangkasnya tiap tahun.

Menjelang magrib, kami duduk di tepi jalan setapak dekat lokasi yang menurut petugas ada sarang meraknya. Masih penasaran untuk melihat burung cantik ini dari dekat. Malangnya, nyamuk di sana ganas-ganas. Berhubung saya punya kadar kolesterol tinggi, nyamuk menyukai darah saya dan saya tidak betah berlama-lama di sana. Saya harus cukup puas mendengar nyanyian parau merak dari jauh saat matahari mulai terbenam.

Hari terakhir. Sehabis mandi pagi, saya berjalan-jalan ke savana karena petugas berkata ada seekor kerbau melintas. Saya ingin mengambil fotonya dari dekat. Tapi niat tersebut batal saat saya ingat kalau ada dua kemungkinan seekor binatang terpisah dari kawanannya. Ia sedang hamil atau mantan pemimpin yang dibuang dari kawanannya yang biasanya lebih buas. Berhubung kerbau tadi tidak kelihatan berperut buncit, saya pun batal mendekat.

Sopir angkot menjemput kami. Ia kemudian mengantar kami ke ATM karena kami kehabisan uang gara-gara tidak memasukkan uang makan saat menghitung perkiraan biaya. Akhirnya kami pulang naik bus PATAS supaya bisa tidur.

Iklan