Merapi vs Teror Media

Sejak akhir Oktober lalu, saya sering mendapat pertanyaan dari kerabat dan teman yang ada di luar kota tentang apakah letusan Merapi sampai di tempat saya. Awalnya, saya malah tidak terlalu tahu kalau Merapi meletus lagi. Pada waktu Merapi meletus pertama kalinya pada tanggal 26 Oktober, saya sedang ada acara di daerah pinggiran kota. Sejak beberapa hari sebelumnya, saya sama sekali tidak menonton TV, tidak sempat membaca koran, dan hanya menggunakan internet untuk mengecek email karena sinyal sering putus. Saya selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan nada santai. Itu cuma media massa yang melebih-lebihkan berita. Merapi tiap empat atau lima tahun sekali meletus dan awan panasnya tidak pernah lebih dari 10 kilo meter dari puncak. Rumah saya jaraknya masih 24 kilo dari puncaknya. Paling parah, kami hanya akan terkena hujan abu.

Pemberitaan di media massa semakin menghebat saat Mbah Marijan, juru kunci merapi yang menjadi selebritis karena saat Merapi meletus tahun 2006 menolak mengungsi dan selamat, ditemukan meninggal terkena awan panas. Apalagi ada banyak artis datang ke pengungsian untuk memberikan bantuan secara langsung. Mentawai yang pada saat hampir bersamaan terkena gempa dan tsunami sempat tidak terdengar beritanya karena lokasinya yang sulit membuatnya tidak terekspose media.
Gara-gara gencarnya pemberitaan media massa, beberapa teman saya mulai was-was apabila pergi ke arah utara. Mereka yang memiliki keluarga di luar kota selalu dipesan oleh keluarganya supaya menjauhi Merapi. Bahkan, banyak yang mulai pulang kampung karena merasa tidak aman di kota ini. Koran mulai dipenuhi judul dan berita bombastis seperti: Merapi aneh, warga panik, Merapi luar biasa, masih bisa meletus sewaktu-waktu dengan kekuatan yang tidak bisa diprediksi. Televisi pun tidak jauh berbeda.

Kamis tengah malam (tanggal 4 menuju 5), saya terbangun karena perasaan saya tidak enak. Saya mendengar adik saya sedang ngobrol di telepon dengan temannya. Temannya yang tinggal di luar kota bertanya apakah kami baik-baik saja karena saat ini Merapi meletus hebat. Adik saya menyalakan TV dan memilih sebuah stasiun TV yang terdepan dalam mengaburkan (bukan salah tulis, mereka memang suka memberitakan kabar kabur). Di TV, reporter berada di pinggir jalan raya, dibelakangnya penuh dengan orang-orang panik dan berusaha pergi ke selatan. Reporter tersebut memberitakan kalau Jogja di radius 20 kilometer sudah tidak aman lagi. Saya cuma melihat sepintas berita tersebut dan lebih tertarik kembali tidur karena beranggapan berita tersebut cuma gosip yang sengaja didramatisir untuk menaikkan rating.

Beberapa jam kemudian, datang seorang ibu paruh baya sambil menangis. Ia berasal dari Dusun Bronggang, Cangkringan (rumah kakek saya yang sekarang tidak ditempati ada di desa tersebut, tetangga-tetangga kakek banyak yang tahu rumah kami karena saat lebaran banyak yang bertamu ke rumah). Ibu tadi bercerita kalau rumah-rumah tetangganya banyak yang terbakar akibat lontaran batu-batu dari merapi. Agak siangan, anak dan suaminya datang menyusul. Kemudian datang lagi dua keluarga dari dusun yang sama.

Karena mereka ingin tahu kabar tetangga dan kerabatnya, kami bersama-sama menonton TV. Selama sehari penuh, kami disuguhi pemandangan mencekam: rumah-rumah roboh dan terbakar, mayat-mayat gosong, dan orang-orang yang panik naik ke truk. Hingga sore hari, semua stasiun TV mengulang-ulang berita tentang desa-desa yang dipenuhi abu yang masih mengepul dan tim evakuasi yang dikejar awan panas. Mereka tidak menyebut gambar tadi diambil jam berapa. Pernyataan bahwa Merapi akan meletus lagi dengan kekuatan yang belum bisa diprediksi berkali-kali terdengar. Tamu-tamu kami akhirnya memutuskan untuk menjemput kerabatnya yang mereka lihat di TV dibawa ke rumah sakit kemudian memilih untuk mengungsi keluar kota.

Sepanjang hari, jalan raya di dekat komplek perumahan saya lebih ramai oleh orang-orang ngebut ke arah selatan sembari membawa tas-tas besar. Malam harinya, ada dua keluarga lain datang untuk menginap. Mereka berasal dari Dusun Candi yang letaknya sekitar 17 kilometer dari Puncak merapi. Kedua keluarga ini bercerita kalau desanya sudah seperti kota mati. Tetangga-tetangga mereka pergi mengungsi karena ketakutan Merapi akan meletus hebat.

Hari Sabtu, saya menjemput adik perempuan saya di Stasiun Tugu. Sepanjang perjalanan, saya melihat orang-orang beramai-ramai menonton (dan memoto) Sungai Code yang meluap. Karena adik saya mencari beberapa barang yang akan dia bawa ke Purworejo keesokan harinya, kami pergi ke beberapa pusat perbelanjaan. Jalan Malioboro yang biasanya tiap malam minggu ramai dan kadang macet, kali itu tampat sedikit lengang. Sepertinya turis mulai ketakutan untuk datang ke Jogja.

Saya mendapat telepon dari beberapa teman. Sepertinya mereka baru saja melihat TV yang menceritakan tentang korban-korban letusan merapi. Kebanyakan teman saya berpikir kalau letusan Merapi menghancurkan sebagian besar Kota Jogja. Lucunya, salah satu telepon tadi datang dari seorang teman yang biasanya saat menelepon atau bersms selalu bercerita tentang dirinya. Aneh rasanya, tiba-tiba kali ini dia menanyakan apakah saya baik-baik saja? (Saya masih menganggap dia teman karena tiap kali ke kotanya, saya dapat tebengan dan wisata kuliner gratis). Saya cuma menjawab dengan santai: Jogja bagian tengah dan selatan masih normal-normal saja. Saat ini saya sedang berbelanja di Jalan Solo. Di sini banyak orang yang sepertinya tidak terpengaruh dengan Merapi. Buktinya, tempat bilyar dan hiburan yang barusan saya lewati parkirnya penuh.
Hari minggu, saya melihat beberapa tetangga memasukan barang-barangnya ke mobil dan pergi mengungsi. Beberapa ketakutan karena ada sebuah stasiun TV yang meramalkan Merapi akan meletus lebih hebat lagi. Kebetulan sejak siang hari Merapi meletus dan suara gemuruhnya terdengar di kejauhan. Awalnya saya masih santai-santai saja waktu beberapa teman yang pulang kampung bertanya kenapa saya belum mengungsi padahal rumah saya masih berada di wilayah utara.

Sore harinya, saya bersepeda keliling komplek dan desa sebelah. Blok di belakang rumah saya yang biasanya tiap minggu sore ramai oleh anak kecil dan pengasuhnya, tiba-tiba sunyi. Hanya ada satu rumah yang pintu gerbangnya tidak terkunci dan masih ada mobil di garasinya.

Sampai malam hari, suara gemuruh masih terdengar. Saya dan adik laki-laki saya mengamati ikan-ikan yang ada di kolam samping rumah. Adik saya ngotot kalau ikan-ikan tadi tampak panik (sebelumnya, tiap kali ada letusan, ikan-ikan tadi ada di permukaan dan bergerombol). Kami kemudian berdiri di depan pintu gerbang rumah. Suasana malam itu sunyi sekali. Anjing tetangga yang menyalak terus-terusan membuat kami bertambah panik. Tetangga samping rumah saya juga sudah mengungsi ke luar kota. Sejak pagi tidak ada satupun pekerjanya yang tampak. Tiba-tiba, mobil tetangga yang ada di pojok jalan melintas di depan kami, sepertinya mereka juga hendak mengungsi. Gimana nggak jadi paranoid coba?

Kami mulai merasa tidak nyaman. Saya mulai berpikir bagaimana jika rasa takut banyak orang terhadap letusan hebat malah akan menarik Merapi untuk benar-benar meletus? Wilayah sekeliling saya saat ini menjadi kantong-kantong pengungsian. Jika Merapi meletus, pasti mereka akan dievakuasi beramai-ramai. Dan kami akan terjebak di tengah-tengah orang-orang panik.

Saya dan adik saya kemudian berkemas-kemas dan pergi ke rumah saudara yang berada di daerah Bantul. Sampai di sana, kami menertawakan kepanikan saya dan adik saya. Sejak saat itu, saya berusaha menghindari menonton TV. Meski logika saya berkata rumah saya masih ada di kawasan aman, terus menerus melihat gambar rumah rusak dan mayat-mayat yang dievakuasi membuat saya khawatir.

17 thoughts on “Merapi vs Teror Media

  1. iya,, TV tuh kadang berlebihan banget,,
    kuliahku aja terpaksa diliburkan karena temen-temenku banyak yang ditarik ma orang tuanya ke luar kota…
    pembantu juga ikutan ngungsi sampe2 aku punya kerjaan tambahan.

  2. Pas Merapi meletus besar kedua kalinya, tivi2 emang heboh banget memberitakannya. Bangun pagi2 langsung disuguhin kengerian macam itu, langsung deh telp adik yg tinggal di Jogja. Ternyata disana masih baik2 saja, tidak parah spt yg dibayangkan. Demi rating, mereka sampai ‘sukses’ bikin orang2 seluruh Indonesia panik.
    Moga2 dibekukannya Silet, bisa bikin acara2 tivi lain nyadar utk ga sembarangan menyiarkan berita ttg bencana……

  3. saya membayangkan seandainya saya kerja di televisi, mungkin saya juga suka bikin berita yang lebih heboh dari sebenarnya. kalo dikomplain saya akan bilang “ dilihat dari sudut pandang berita, angle yg bagus ya yang serem begini”

  4. sejak malam merapi erupsi besar hingga hujan pasir sampai ke wilayah rumah tidak terbesit sedikitpun niatan untuk melarikan diri atau mengungsi, yang ada adalah “bagaimana nasib saudara saudara yang berada di sekitar merapi”, ” apa yang bisa aku lakukan untuk mereka”

    banyak telepon dan sms maupun pertanyaan2 lewat YM tentang kondisi jogja. aku jawab semuanya normal. orang orang di DIY bagian selatan dan di sekitarku malah seolah acuh tak acuh dengan kejadian yang ada.
    tetangga tetanggaku malah sibuk mencari dana untuk membantu para pengungsi dan tidak berfikir untuk melarikan diri atau mengungsi. ada juga tetangga desaku yang mempersiapkan lokasi dan mengkoordinasikan teman teman muda untuk menerima pengungsi; salut untuk mereka.

    aku sempat berada di kaki merapi saat letusan besar merapi yang dibilang katanya membumbung tinggi sampai 8km itu, tidak ada niatan kabur dan panik yang ada aku takjub akan kebesaran Yang Maha Kuasa dan betapa besar kuasa-Nya.

    kubesarkan hatiku untuk ikut membujuk para penghuni wilayah di sekitar ring 15 KM dari puncak untuk mau turun. esoknya aku dengar malam harinya awan panas meluncur hingga jarak 13 KM (di sisi timur selatan merapi, aku di sisi barat selatan) dari puncak merapi. banyak korban yang meninggal karenanya (padahal sudah sejak 2 hari sebelumnya mereka sudah diminta mengosongkan lokasi)

    ramai awak media menjadikannya sebagai sasaran mencari berita, semua memang serba mencekam saat itu, prediksi prediksi tentang erupsi menjadikan jogja menjadi kota yang seolah olah tidak aman sama sekali. jogja menjadi sepi….

    tapi ketika kita berserah kepada-Nya dan percaya bahwa tidak ada satupun yang buruk yang datang dari pada-Nya, saya dan keluargapun merasa tetap aman dan nyaman berada di jarak 25 Km dari puncak merapi.

    salah satu cara kami untuk merasanya nyaman adalah : “TIDAK MENONTON MEDIA TV” ha ha ha

  5. Tapi lumayan juga, jadi banyak orang yg tergugah untuk memberikan sumbangan/bantuan.
    Coba kalau tidak dipomosikan, mungkin SBY pun tidak akan sampai ngantor di Jogja.

    • Terimakasih sudah mampir. Iya, sisi positifnya banyak orang tergugah. Tapi saya tidak setuju soal SBY ngantor di Jogja. Seingat saya, nggak ngaruh tu.

  6. Hallo prend, ini saya Yuli (IRE)

    Wah keren tulisannya he he he

    Btw, kami juga mengalami hal yang hampir sama dengan pengalaman Lutfi. Sejak letusan Merapi yang tanggal 5 (Jumat), terus-terusan hp saya dan istri berulang kali menjerit-jerit, menerima panggilan dan sms dari seberang Jogja, terutama dari keluarga yang ada di Madiun. Mereka begitu mengkawatirkan keselamatan kami, setelah melihat liputan berita live yang ditayangkan oleh banyak stasiun TV swasta.

    Apalagi, setelah mereka (terutama mertua) mengetahui bahwa, kami tidak/belum memutuskan untuk mengungsi, mereka ribut dan memarahi kami, karena dinilai tidak peduli dengan resiko yang bisa terjadi.

    Lebih-lebih, setelah ada ramalan paranormal yang tayangkan oleh SILET, keluarga kami yang ada di Madiun semakin panik. Mereka “memerintahkan” kami untuk segera mudik ke Madiun. Ha ha ha terang saja kami kebingungan dan kehabisa energi untuk menjelaskan kepada mereka bahwa ramalan yang seperti itu tidaklah perlu dikawatirkan. Namanya juga orang tua, mereka tidak begitu saja bisa menerima alasan kami, karena itu pula akhirnya kami mengikuti anjurannya, meskipun kami memutuskan untuk tidak mudik Madiun, tapi cukup sedikit menjauh ke arah selatan, kami mengungsi ke Banguntapan Bantul he he he …

    • Awalnya saya sempat berharap dengan banyaknya protes terhadap cara media massa menyampaikan berita, akan ada evaluasi tentang media massa secara keseluruhan. Sayangnya, setelah kasus silet, sepertinya tidak ada kelanjutannya.

  7. Haha. Kuakui, aku salah satu orang yang sibuk mencoba menelepon dan mengirim SMS ke Lutfi ketika masa-masa Merapi meletus tahun lalu. Panik juga, karena cerita-cerita dari kepala sekolah tempatku mengajar tentang warga desa kampung halamannya yang harus mengungsi di bawah hujan bebatuan panas dan abu tebal. Senang bahwa ternyata itu cuma kerjaannya para makhluk pertelevisian. Tapi kesal juga, karena pemberitaan miring di TV (ga pernah baca koran atau dengar radio sejak lama, dan TV pun jarang) bikin aku di Jakarta kelabakan selama masa erupsi Merapi itu. Mana sekolah sudah mau UAS dan aku jadi ketua panitianya… Haha. Senang deh waktu itu sudah berlalu!

    Still, turut berdukacita bagi yang keluarganya meninggal dalam bencana alam ini, dan/atau yang kehilangan segala harta bendanya di bawah awan panas atau longsoran lahar dingin. Semoga diterima di sisi Tuhan, dan yang ditinggalkan dikuatkan.

    Rey

    PS: Wah, sampai sekarang juga yang di Mentawai ga ada beritanya.😦 Sayang sekali… Kasihan banget tuh yang di sana, kekurangan segalanya. (Hmm. Gimana ya kalo SBY ngantor di Padang? ;))

  8. Ping-balik: Lembaga (yang katanya Sakti) Bernama Media Massa |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s