Satu hari Menonton Para Games di Solo

Hari Minggu, 18 Desember kemarin, rombongan dari Komunitas Blogger Jogja pergi beramai-ramai ke Solo. Yeah, kami mau jalan bareng sembari meliput ASEAN Para Games (APG). Buat yang belum tahu, APG itu kompetisi olahraga dua tahunan khusus untuk atlet difabel (saya lebih suka kata ini daripada frase “penyandang cacat” yang kedengarannya ngerendahin). Acara yang diikuti oleh sebelas negara anggota ASEAN ini diadakan setelah SEA Games di negara yang sama. Kali ini, APG diadakan di Kota Solo dari tanggal 12 hingga 22 Desember 2011.

Kami sampai di Stadion Manahan yang jadi salah satu lokasi pertandingan pukul 10 lebih. Teman-teman, seperti biasa, sebelum nyari lokasi heboh foto-foto dulu. Habis itu, kami nonton pertandingan atletik. Ternyata, kami datang kesiangan. Pertandingannya dah mulai dari tadi. Sekarang tinggal buntutnya, dan banyak penonton yang udah pada pulang.

Waktu pertandingan kedua, saya dan beberapa teman memutuskan untuk melihat pertandingan lain. Akhirnya kami milih untuk lihat pertandingan angkat beban yang lokasinya dekat dengan Stadiun Manahan. Kami sempat muter-muter untuk nyari jalan keluar. Berhubung jalan tembusnya ditutup, dan terlalu jauh kalau jalan kaki ke pintu depan stadiun, kami milih untuk loncat lewat jendela bangunan mirip gardu ronda. 😀

Kami sampai di gedung pertandingan sekitar jam dua lebih. Kursi di sana lumayan penuh. Uniknya, di sini kursi roda bertebaran di mana-mana. Sambil nunggu pertandingan yang dimulai jam 3, saya ngobrol sama Arawan, alet putri dari Thailand. Mbaknya ramah banget, meski dia bilang Bahasa Inggrisnya nggak bagus, dia berusaha ngejawab pertanyaan-pertanyaan saya. Yah, meski banyak dijawab dengan senyuman karena keterbatasan Bahasa Inggrisnya. Setidaknya yang bisa saya tangkap kira-kira begini: Arawan kenal dengan olahraga angkat besi sekitar delapan tahun yang lalu. Dia tertarik dengan olahraga ini karena selain dapet banyak teman, dia juga merasa lebih kuat. Selama ini, karena dia nggak bisa jalan sejak lahir, orang-orang di sekelilingnya nganggep dia lemah.

Waktu Arawan cerita tentang kerjaannya yang jadi wiraswasta karena susah buat kerja di bidang formal, saya teringat cerita teman yang tuna netra. Namanya Melisa. Dia pernah mengalami kesulitan nyari sekolah karena tuna netra. Sekolah-sekolah umum pada nggak mau nerima murid yang beda. Mamanya kekeuh nggak mau masukin Melisa ke SLB karena takut nanti anaknya akan berakhir jadi tukang pijat atau pembuat kerajinan tangan. Mamanya Melisa sampai nemuin satu per satu kepala sekolah. Tanya, apakah mereka mau nerima anaknya. Akhirnya, Melisa diterima di sebuah sekolah umum. Masalah nggak selesai di sini, orang tua murid nggak mau anaknya sekelas sama seorang tuna netra. Dia dituduh memperlambat proses belajar-mengajar. Meski akhirnya nilai Melisa diatas rata-rata teman sekelasnya (yeah dia berusaha keras untuk itu), tetep aja ada khekawatiran dari orangtua murid.

Saya pernah ngelihat langsung Melisa didiskriminasi. Karena Bahasa Inggris Melisa bagus, saya minta tolong untuk menerjemahkan sebuah laporan. Saat tahu penerjemahnya tuna netra, seorang rekan sekantor saya langsung nggak percaya kemampuannya. Tanpa melihat latar belakang pekerjaan dan hasil terjemahan Melisa, rekan kantor tadi langsung menghakimi pasti bakal ada banyak kesalahan. Tega ya? Dan kejadian seperti ini sepertinya hal yang umum terjadi. Ada banyak difabel yang langsung dianggap lemah dan tidak kompeten melakukan sesuatu karena mereka engga punya anggota tubuh yang lengkap. Picik banget kan?

Selama nunggu pertandingan, saya juga sempat ngobrol dengan Zulkifly, ketua National Paralympic Committee (yayasan untuk atlet difabel) di Sumatera Utara. Bapak yang dulu mantan atlet panahan ini cerita kalau acara-acara semacam Para Games ini bikin banyak difabel jadi kenal dunia luar. Dia yang tangan kirinya nggak utuh jadi bisa berkunjung ke banyak tempat di Indonesia dan pernah juga ke Korea karena jadi atlet olahraga panahan. Kata Pak Zulkifly, ada banyak orang difabel yang kebanyakan tinggal di rumah karena selain mereka punya mobilitas terbatas, keluarganya banyak yang ngelarang mereka keluar-keluar karena takut kalau kejadian apa-apa. Mereka dianggap lebih lemah.

Pak Zulkifli juga cerita kalau nggak mudah untuk ngajak seorang difabel untuk jadi atlet. Banyak yang minder ketemu dengan orang-orang yang “normal”. Mereka harus punya motivasi sendiri, seperti pengen punya banyak teman, pengen lihat dunia, supaya sungguh-sungguh berlatih. Tapi, setelah seorang difabel menjadi atlet apalagi memenangkan sebuah pertandingan, dia akan menjadi lebih percaya diri.

Pas jam 3, acara dimulai. Atlet-atlet angkat beban pada baris di depan penonton. Saya hampir nangis waktu lihat sebagian besar atlet ini pakai kursi roda. Tiba-tiba saya merasa beruntung, punya dua kaki yang lengkap yang bisa bawa saya jalan-jalan ke tempat sulit.

Saya salut sama mereka yang masih tetap bertanding dan punya prestasi. Padahal untuk naik ke panggung aja, mereka harus pakai kursi roda dan didorong orang lain. Tiap kali ada seorang atlet maju, saya tepuk tangan keras-keras. Saya nggak peduli mereka berhasil angkat beban atau gagal, saya tetap tepuk tangan. Bagi saya, mereka bisa ada di panggung tadi untuk bertanding sudah merupakan hal yang hebat.

Iklan

Don’t judge the food by it queue

Di jalan menuju kantor saya, ada warung sate kambing yang ramai sekali. Tiap kali berangkat ke kerja, saya selalu melihat parkiran di depannya penuh sampai ke jalan raya. Saking larisnya, warung itu selalu tutup sebelum jam makan siang.

Suatu hari, saya berangkat ke kantor terlalu pagi (masih jam 8 kurang maksudnya :P). Karena penasaran, saya iseng mampir sarapan di warung sate tersebut.  Saya memesan gule dengan asumsi lebih cepat disajikan daripada sate. Setelah menunggu lama, akhirnya gulai kambing yang saya pesan datang juga. Saya menghabiskan menu tadi dengan agak kecewa. Rasanya tidak sesuai dengan panjang antreannya. Sampai di kantor, saya memulai survei kecil pada teman-teman yang pernah mencoba makan di warung tersebut. Tidak ada satupun yang menyebut kalau masakan di sana enak. Aneh bukan?

Itu bukan kali pertama saya “tertipu” oleh antrean rumah makan. Dulu saya pernah penasaran dengan gudeg di sebuah gang. Saya dan teman saya datang ke warung gudeg tersebut sekitar pukul sebelas malam.  Kami batal makan karena malas melihat antreannya. Pembelinya selain memenuhi gang juga memanjang hingga puluhan meter di jalan raya. Beberapa hari kemudian, saya dan teman lain sengaja datang ke sana pukul delapan malam. Kami pikir, jika datang lebih awal, antreannya masih sedikit. Ternyata, waktu kami datang warungnya malah belum buka. Hanya ada seorang bapak dan ibu yang sedang menyiapkan api dan peralatan makan. Kami pergi ke rumah makan lain untuk makan malam sambil menunggu warung gudeg tadi buka. Saat kami kembali ke tempat tadi sekitar pukul sembilan, antreannya sudah panjang sekali. Karena tidak yakin akan sabar mengantre, kami memilih untuk pulang.

Akhirnya, kami kesampaian makan di sana beberapa hari kemudian. Kami bersama dua orang teman. Kebetulan malam itu hujan baru saja turun. Orang jadi malas datang ke warung lesehan.  Selain becek, atap terpal bongkar pasang warung tidak bisa melindungi pembelinya dari tetesan air hujan. Selain kami, malam itu hanya ada beberapa pembeli. Sehabis makan, saya dan dua orang teman sempat berdiskusi mengenai rasa dan panjangnya antrean saat hari biasa. Kami bertiga memberi rating dua dari empat bintang untuk gudeg itu. Rasanya standar sekali. Ada banyak gudeg lain di Jogja yang jauh lebih enak. Hanya satu orang teman yang berkata  gudeg tadi enak. Sayangnya, teman yang satu ini tidak valid sebagai juri lomba memasak. Ia hanya mengenal dua kategori makanan: enak dan enak sekali. Untuknya, besarnya porsi makanan lebih penting daripada rasanya.

Saya juga pernah penasaran sekali dengan gudeg ceker di depan SMA 1 Solo. Seorang teman yang hobi berwisata kuliner sering bercerita tentang betapa enaknya gudeg tadi. Kalau sedang kurang kerjaan, ia pergi ke Solo malam-malam hanya untuk makan gudeg! Katanya lagi, gudeg tadi hanya buka jam 12 malam dan selalu habis sebelum pukul empat pagi. Gimana nggak ngiler coba? Kebetulan, saya sedang ada acara di Solo. Saya mengajak beberapa teman untuk membuktikan cerita tentang gudeg tadi. Kami sengaja bergadang dan pergi ke tempat tadi waktu tengah malam. Ternyata, warung tadi baru buka sekitar jam satu. Kami lalu menunggu warung tadi buka sambil nongkrong di angkringan depan kampus UNY.

Kami kemudian kembali untuk makan gudek. Rasanya memang enak, tapi saya tidak akan mau lagi bergadang hanya untuk sekadar makan gudeg. Sebelum pulang, saya sempat manyun, di banner warug gudeg tadi ada tulisan: ia punya cabang di jalan dekat hotel. Dan cabang tadi buka jam 7 malam! Males banget nggak seh? Padahal besok kami harus bangun pagi untuk pulang!

Meskipun sering tertipu dengan antrean makanan. Saya tidak pernah kapok iseng berhenti di warung makan yang parkirannya penuh. Entahlah, sepertinya rumah makan yang ramai selalu menggoda untuk dicoba. Beberapa hari yang lalu misalnya, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berhenti di sebuah warung bakmi jawa hanya karena melihat kursinya penuh pengunjung. Saya lupa, bakmi jawa bukan makanan yang tepat dipesan saat kelaparan. Saya hampir terharu saat seorang pelayan mengantarkan bakmi pesanan saya. Bayangkan! Lebih dari satu jam saya menunggu. Bakmi jawa tadi enak. Rasa telur dan bumbunya sangat menyatu di kuahnya. Tapi yaa… nyiksa nunggunya itu loo.