Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Sekolah itu (seharusnya) Mengajar Berpikir Kritis

Andi, kenalan yang tinggal di Jambi, bercerita kalau ia sedang mengumpulkan bahan tentang sekolah alam. Ia membuka sekolah untuk Suku Anak Dalam di wilayah Taman Nasional Bukit 30. Ia merasa bahwa lingkungan tempat Suku Anak Dalam tinggal kaya sumber daya alam. Sayang mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelola hal tersebut. Ia tertarik untuk membuat sekolah yang mengajak muridnya memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh sekolah formal.

Mendongeng untuk anak
Saya jadi teringat tiap kali berkunjung ke luar Jawa atau daerah yang jauh dari kota. Saya miris melihat buku pelajaran yang dibuat Pulau Jawa digunakan oleh sekolah-sekolah dari Aceh sampai Papua. Bisa jadi, si pembuat tidak tahu latar belakang calon pengguna bukunya yang beraneka ragam. Bayangkan seorang anak di pedalaman Maluku diajar cara menabung di bank. Padahal, orangtua dan tetangganya hidup dari berburu dan meramu. Orang-orang disekelilingnya tidak akrab dengan konsep uang. Bisa jadi mereka malah belum pernah melihat wujud bank karena lokasi terdekatnya ratusan kilo. Padahal mereka tidak pernah keluar dari kampung. Atau seorang anak di pelosok Papua yang harus menghafal fungsi internet. Padahal belum tentu ada komputer di wilayahnya. Dan, masih banyak lagi cerita seputar sekolah yang memisahkan muridnya dengan lingkungan.
Menurut saya, seharusnya sekolah bukan tempat menyeragamkan seorang murid. Sekolah yang baik mengajak muridnya berpikir kritis. Membuat anak-anak didiknya beranggapan jika belajar itu menyenangkan. Sehingga mereka rajin mencari tahu tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking. Yang entah apa gunanya untuk hidup. Kelak, saat tumbuh dewasa, murid-murid yang terbiasa berpikir kritis akan menjadi orang yang gemar bertanya. Mereka juga cenderung akan melakukan sesuatu jika merasa ada yang salah dengan lingkungannya. Tentunya, sekolah seperti ini butuh guru yang memang cinta mengajar dan ingin berbagi. Bukan sekadar guru yang memilih pekerjaan tadi semata untuk mencari nafkah. Berhubung guru ini harus cerdas, sekolah wajib menyuplai mereka dengan berbagai macam buku.

foto by Valens Riyadi

foto by Valens Riyadi

Sekolah yang keren idealnya lengkap dengan perpustakaan. Ada berbagai macam buku di sana. Mulai dari buku-buku cerita dengan gambar menarik hingga ensiklopedi yang berisi ilmu pengetahuan. Guru mengajak murid-muridnya menyukai buku dan banyak membaca. Tidak harus dimulai dengan buku-buku yang berat. Membiasakan membaca bisa dimulai dengan bacaan-bacaan ringan atau komik. Lama-lama, seseorang yang terbiasa membaca buku akan mengembangkan jenis bacaannya. Kelak, ia akan membaca berbagai jenis buku.
Sayangnya, di Indonesia, sekolah semacam itu belum bisa berkembang. Sekolah-sekolah formal masih harus mengikuti kurikulum yang telah ditentukan dari pusat. Yang belum memberikan ruang untuk keanekaragaman. Saya lebih setuju dengan pendapat jika sekolah dan guru pertama seorang anak itu keluarganya. Sekolah formal bukan tempat menitipkan anak untuk dididik. Untuk menciptakan keluarga-keluarga yang bisa menjadi guru, kita perlu membiasakan diri untuk terus belajar. Banyak membaca buku, rajin datang ke diskusi, pergi ke museum, dan menonton film-film bagus. Mari, berusaha lebih pintar supaya kita bisa menjadi sekolah untuk (calon) anak kita. Lebih baik lagi kalau kita bisa membagi kepandaian itu dengan lingkungan.

Give Away Sekolah Impian

http://”//www.youtube.com/embed/qmcZpviA_wM”

Buku untuk Teman di Desa Bonto Tapalang

Minggu lalu, saya jalan-jalan ke hutan desa di daerah Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tempat ini keren. Gunung Lompo Batang dan jurang-jurang tertutup pepohonan hijau menjadi pemandangan desa-desa di sana. Di beberapa tempat, laut biru terlihat di kejauhan. Kiri dan kanan jalan penuh dengan kebun-kebun kopi penduduk. Saya suka mengamati rumah-rumah penduduk. Sebagian besar rumah panggung dari kayu.

Rumah panggung sulawesi selatan

Adam, teman saya, mengajak singgah ke Madrasah Aliyah (sekolah Islam setingkat SMA) di Desa Bonto Tapalang. Kami bertemu dengan Ahmad, salah seorang guru di sana. Kata Ahmad, madrasah tersebut baru buka tahun 2011. Seminggu sekali, Ahmad mengajar Sejarah Kebudayaan Islam. Di luar itu, ia dan Eka—istrinya mengajak murid-muridnya berdiskusi di asrama yang letaknya di sebelah rumah mereka. Eka yang masih kuliah di UNM, mengajar Geografi di sekolah yang sama.

Ahmad bercerita kalau ia lulusan S1 pertama di desanya. Awalnya, ia mengambil Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan lulus tahun 2007. Ia sempat mengajar di SD kemudian melanjutkan kuliah di Janeponto. Setelah menikahi putri pemilik yayasan yang menaungi sekolah Islam setingkat SD, SMP, dan SMA, ia mengajar kembali. Selain mengajar, Ahmad bertani. Ia menanam kopi, cengkeh, dan cabai. Ia memilih untuk mengajar di desanya karena guru-guru di sana tidak punya semangat mengajar. Selain itu, mereka hanya mengajarkan apa yang ada di buku teks saja.

Waktu datang ke sana, saya sempat ditodong untuk mengajak murid-murid di sana ngobrol tentang pentingnya buku. Akhirnya saya memilih untuk bercerita. Biasanya, saya membacakan buku, atau bercerita sambil menunjukkan slide berisi foto-foto pendukung cerita. Karena tidak ada persiapan, saya menggambar peta di papan tulis. Ceritanya dimulai dari waktu kecil, saya sering mendengar kalau Indonesia itu negeri yang sangat kaya. Terdiri lebih dari 17.000 ribu pulau dan ratusan bahasa serta suku bangsa. Saya dulu suka menonton film anak 1000 pulau. Juga membaca buku-buku tentang adat istiadat dan keindahan alam Indonesia. Dan bermimpi bisa datang ke tempat-tempat tadi.

Dan hal tersebut terwujud setelah bekerja. Saya mulai bisa melihat tempat-tempat yang awalnya hanya saya dengar ceritanya saja. Mulai dari snorkling di Pulau Weh dan melihat nol kilometer Indonesia. Mengunjungi perkebunan dan hutan di Sumatra. Naik kereta api di kota-kota di Jawa. Mencoba rakit bambu di Kalimantan. Datang ke Lombok hanya karena penasaran dengan cacing yang keluar setahun sekali dan enak dimakan. Terpesona saat bisa datang ke Papua dan bertemu penduduk lokalnya yang warna kulit dan rambutnya berbeda.
Murid-murid di sana mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Sesekali mereka bingung karena tidak tahu apa yang saya ceritakan. Bayangkan, murid-murid SMA tadi tidak tahu apa itu terumbu karang. Padahal, tempat tinggal mereka hanya beberapa jam dari Pulau Selayar yang orang dari jauh datang hanya untuk menyelam. Saya juga harus mendeskripsikan apa itu kereta api, karena mereka tidak punya bayangan kalau ada benda besar dari besi yang bisa dinaiki ratusan orang. Saya juga sempat bingung waktu menjelaskan Jogja, tempat asal saya, ada di mana.

Saya agak tidak yakin waktu bilang sebelum bisa pergi ke tempat lain, bacalah buku supaya tahu ada apa di luar sana. Jarang ada orang keluar masuk desa ini. Mertua Ahmad berkata kalau saya orang Jogja pertama yang datang ke sana. Bisa jadi. Kalau tidak kenal teman-teman di LSM Balang, saya juga tidak mungkin sampai sana. Hal itu juga yang menyebabkan di Bonto Tapalang susah untuk mendapatkan buku. Perpustakaan desa tidak jelas kapan buka. Untuk membeli buku, toko buku terdekat ada di Makassar yang jaraknya ratusan kilometer. Sepertinya, orangtua mereka juga enggan membelikan buku di luar buku pelajaran.

Sekolah desa hutanAhmad, istri, dan mertuanya akan membuka perpustakaan di asrama sekolah. Supaya murid-murid di sana bisa membaca buku di luar buku pelajaran. Adam dan teman-temannya di LSM balang, juga sedang membantu mereka mengumpulkan buku. Teman-teman ada yang tertarik membantu? Bisa hubungi Adam di a.kurniawan@balanginstitut.org . Di beberapa desa hutan lain di Indonesia, beberapa teman saya juga sedang membangun perpustakaan. Kalau teman-teman punya buku yang bisa disumbangkan untuk mereka, silahkan hubungi saya. Terimakasih sebelumnya.

Baca Buku, Yuk! Karena Sekolah Saja Tidak Cukup

Hari minggu lalu, Goodreads Jogja dan 1001 buku mengadakan ngobrol bareng mengenai dunia pendidikan dan budaya membaca. Acara tersebut menjadi bagian dari Booklover Festivalnya Radio buku. Ceritanya, ide obrolan ini dimulai dari keprihatinan teman-teman dengan dunia pendidikan (formal) di Indonesia. Selama ini, pendidikan cenderung dipersempit menjadi sekolah. Orangtua menitipkan anak-anaknya ke sekolah dan berpikir bahwa mendidik itu tugas sekolah. Padahal, seharusnya orangtua yang diberi amanah untuk mendidik anak. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking.

diskusi buku di radio buku

Ada 4 pembicara yang memulai diskusi. Mas Anto yang bekerja di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, Mas Adi yang menjadi Komite Sekolah TK dan SD Model, Mbak Tata yang praktisi anak dan Pendidikan, lalu Mas Ganjar yang relawan literasi di 1001 buku. Mas Anto bercerita pengalamannya waktu berbicara di depan guru dan kepala sekolah RSBI. Dia iseng bertanya kapan mereka terakhir baca buku di luar buku umum. Jawabannya: waktu kuliah. Kebayang ga, menurut dinas pendidikan, guru yang ada di RSBI itu guru bagus. Buku itu salah satu cara mendapat pengetahuan. Kalo yang bagus saja tidak menganggap buku penting, guru-guru dengan level dibawahnya seperti apa?

Obrolan kemudian berlanjut ke ironi kurikulum 2013. Kurikulum yang bagus tadi tidak diimbangi oleh guru-guru sekolah yang siap untuk mengajarkan hal tersebut. Memperbaiki kurikulum tanpa menyiapkan guru itu seperti punya mobil bagus dengan sopir tidak terampil. Guru-guru di sekolah formal, rata-rata terbiasa mengajar satu arah. Guru berbicara dan murid mendengar. Banyak yang menjadi guru karena menganggapnya pekerjaan bukan panggilan jiwa.

Sekolah memperlakukan anak-anak yang unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda dianggap sebagai barang kodian. Mereka disamaratakan kemampuannya dan dipaksa untuk menguasai hal yang sama. Selain itu, sekolah juga menjadi menara gading. Mereka membuat murid tidak mengenali lingkungan sekitarnya karena hal yang diajarkan tidak membumi.

Sedangkan untuk membudayakan membaca di sekolah, sekolah-sekolah umum memiliki perpustakaan dengan koleksi buku membosankan. Perpustakaan bahkan menjadi tempat penyimpanan buku paket. Yang dikeluarkan tiap tahun ajaran baru. Kalaupun ada dana Bantuan Operasional Sekolah, pihak sekolah cenderung dipakai untuk membangun fisik daripada membeli buku. Bukankah guru dan kepala sekolahnya sendiri tidak peduli dengan buku?

Sebagai bagian dari mendidik, di beberapa tempat muncul gerakan-gerakan literasi. Muncul orang-orang dan komunitas yang menyediakan bacaan dan mengajak lingkungan sekitar untuk membaca. Berhubung membaca itu sebuah kebiasaan, sebaiknya ia ditanamkan sejak dini. Sayang, masih sedikit buku anak yang bagus dan punya muatan lokal.

Obrolan yang berjalan 3 jam tadi tidak menawarkan solusi untuk memperbaiki dunia pendidikan. Terlalu banyak masalah dan mungkin saat ini buang-buang energi kalau mau merubah sistem pendidikan. Setidaknya, kalau kita tahu pendidikan formal di Indonesia bermasalah, kita bisa memilih cara untuk menyikapinya. Mendidik itu tugas pertama orangtua dan keluarga itu sekolah pertama. Kalau pun nanti akan menitipkan anak ke sekolah, orangtua dan keluarganya harus tahu bahwa sekolah saja tidak cukup. Salah satu cara supaya menjadi pendidik yang baik, orang harus punya banyak referensi untuk mengajar. Buku merupakan salah satu sumber untuk mengisi pengetahuan para pendidik dan calon pendidik.

Buku yang Membuat Bodoh

Saat berkunjung ke sebuah taman bacaan bersama beberapa rekan, penjaganya bercerita tentang pengunjung yang tidak lagi datang. Bocah SD tersebut dilarang orangtuanya membaca buku selain buku pelajaran. Menurut orangtuanya, buku cerita hanya akan mengganggu konsentrasi belajar si anak. Harus dihilangkan supaya nilainya baik.

Sering mendengar komentar senada tidak? Atau bahkan pernah ada di posisi bocah SD tadi? Saya juga sempat mengalami hal tersebut. Dulu, orangtua saya melarang membaca komik di luar hari libur. Mendekati ujian, orangtua saya bahkan mengancam akan membakar koleksi komik saya kalau saya menyentuhnya. Berhubung dulu tidak ada larangan main ke rumah teman, biasanya saya pergi berjam-jam untuk membaca buku. Dan, ada banyak rekan mengalami kejadian serupa saat kecil.

belajar membaca

Saya jadi ingat waktu menjadi narasumber di sebuah stasiun radio. Seorang pendengar mengeluhkan budaya membaca yang rendah di Indonesia. Ia menyayangkan hal tersebut karena ada banyak pengetahuan tersimpan dalam buku. Saya menjawab wajar saja kalau budaya membaca rendah. Budaya membaca buku terbentuk dari kebiasaan dan harus diupayakan sejak kecil. Membaca tidak harus dimulai dari mengonsumsi buku-buku berat. Saya jadi teringat waktu akhir tahun lalu harus mengakhiri kegiatan membacakan buku di sebuah tempat penitipan anak. Tahu tidak alasannya? Ibu pengawas tempat penitipan anak tersebut menganggap membaca buku tidak ada hubungannnya dengan kurikulum. Bagaimana membaca bisa jadi budaya kalau begitu?

Dahulu, buku-buku awal yang saya baca juga bukan buku bermutu. Kebanyakan komik yang isinya hanya hiburan dan bisa dibilang tidak mendidik. Tapi, hal tersebut membuat saya tahu buku itu menyenangkan. Semakin dewasa, buku bacaan saya berkembang. Saya mulai meninggalkan komik dan berubah membaca novel. Baru akhir-akhir ini saya tertarik segala macam buku mulai dari antropologi, filsafat, psikologi, sampai geografi. Nah, kalau saat masih kecil saja dilarang-larang membaca, mana mau mereka membaca buku yang lebih berat setelah dewasa.

Membaca buku
Kenapa ada pelabelan buku yang boleh dibaca dan tidak untuk anak-anak? Banyak orangtua yang memaksa anak-anaknya menghapal buku pelajaran yang bisa meningkatkan nilai anaknya di sekolahan. Tapi tidak untuk semua buku di luar hal tadi. Sebagian besar orangtua terlalu khawatir tentang masa depan anaknya. Mereka was-was kalau anaknya tidak mendapat sekolah yang baik, saat dewasa mereka tidak akan mendapat pekerjaan yang baik. Yang nanti tidak cukup untuk membayar tagihan dan biaya hidup yang semakin melambung.

Berhubung pendidikan di Indonesia masih menganut sistem menyediakan pekerja untuk industri, ada kasta dalam kurikulum. Hal-hal ilmu komputer, kedokteran, fisika, dan teknik menjadi lebih tinggi daripada seni atau bahasa yang katanya “tidak punya masa depan cerah”. Buntutnya, sekolah kemudian mencetak orang-orang yang tidak peka dengan kondisi lingkungannya. Karena mereka tidak diajar untuk berpikir tentang siapa dirinya. Juga apa yang harus ia lakukan untuk menyikapi lingkungannya.