Berkah Sri Getuk untuk Warga Bleberan

Gerbang

Jika ada teman berlibur ke Jogja, saya kerap mengajak mereka ke Air Terjun Sri Gentuk. Bagi saya, tempat tersebut bukan sekadar lokasi wisata. Kawasan Sri Getuk merupakan hasil kerja keras warga yang didukung oleh banyak pihak. Mulai dari desa, pemerintah sampai CSR BNI. Saya senang menceritakan perubahan yang kawasan tersebut alami kepada teman-teman.

Saya pertama kali datang ke Desa Bleberan pada tahun 2006. Saat itu, penduduk setempat tidak menganggap air terjun dan gua di desanya sebagai sesuatu yang menarik. Sesekali, satu dua turis datang. Orang luar enggan singgah karena jalan setapak menuju desa susah dilewati. Jalan tersebut becek tiap kali musim hujan tiba. Selain itu, untuk apa berkunjung ke daerah yang tandus dan kering?

Keadaan mulai berubah sejak warga mengemas desanya menjadi obyek wisata. Ide tersebut muncul dari Tri Harjono yang beberapa waktu lalu menjabat sebagai kepala desa. Sekitar tahun 2007 an, ia mengajak warganya bekerja bakti merapikan kawasan air terjun. Untuk mendapat dukungan penduduk, ia datang ke pertemuan-pertemuan dusun dan menyampaikan mimpinya. Awalnya, masyarakat tidak tertarik. Masyarakat belum melihat keuntungan yang akan mereka dapat. Bagi mereka, air terjun tersebut sudah lama ada dan belum pernah memberikan pemasukan.

Air terjun sri getuk

Dengan bantuan perangkat desa, Pak Tri mulai menata kawasan tersebut menjadi tempat wisata. Masyarakat membentuk paguyuban pengelola wisata. Mereka bergotong royong membuat tangga supaya air terjun mudah dijangkau. Dahulu, untuk mencapai air terjun orang harus berjalan melalui persawahan. Rute tersebut tidak memungkinkan pengunjung melihat perbukitan kars yang menyusun kawasan tersebut. Kontur batuan unik yang ada di kiri dan kanan sungai baru terlihat saat orang menyusuri sungai.

Paguyuban kemudian memiliki ide untuk membuat rakit. Mereka meminjam uang dari tokoh masyarakat sebagai modal. Percobaan membuat perahu tersebut sempat gagal dua kali. Perahu yang didesain warga tidak bisa berjalan sembari membawa beban menyusuri sungai. Sampai Pak Marjuni, salah seorang anggota paguyuban mendapat ide untuk memperbaikinya. Ia mengadopsi rakit yang dipergunakan pengangkut kayu dan pupuk di Sungai Kampar.

sri getuk

Para pengelola Sri Getuk kemudian membuat web untuk mempromosikan tempat wisata tersebut. Mereka juga memasang iklan di beberapa majalah. Mulailah pengunjung berdatangan. Warga, dengan bantuan kabupaten membuka tempat wisata tersebut secara resmi pada tahun 2009. Berbagai kesenian daerah tampil di acara tersebut untuk menarik pengunjung. Mereka juga mendatangkan wartawan untuk meliput lokasi tersebut.

Lama kelamaan, wisatawan mulai banyak berkunjung. Mereka memoto air terjun dan menyebarkan melalui media sosial. Hal tersebut mengundang orang lain untuk datang. Kini, Sri Getuk dikunjungi ratusan orang tiap hari. Jumlah tersebut bisa mencapai ribuan orang tiap akhir pekan. Pada hari biasa pengunjung membayar 7.000 rupiah. Biaya tersebut belum termasuk ongkos parkir.

Kini, obyek wisata tersebut mendatangkan pemasukan bagi desa. Termasuk 80 orang warga yang bekerja di sana. Mereka terdiri dari pengelola wisata, tukang parkir, penarik perahu, penjaga tiket masuk, hingga petugas kebersihan. Sejak Sri Getuk menjadi tujuan wisata, jumlah warga yang merantau untuk bekerja berkurang. Anak-anak muda yang lulus sekolah bisa bekerja di sana. Para pengelola wisata berusaha menata kawasan supaya lebih banyak warga bisa terlibat. Setelah lokasi ini menjadi ramai, warga mulai berjualan makanan dan minuman. Dahulu mereka hanya membuka dagangannya saat akhir pekan saja. Jumlahnya pun hanya satu dua. Supaya terorganisir, paguyuban membuat deretan warung. Bangunannya merupakan bantuan dari BNI.

Saya kagum mendengar bagaimana warga berpikir jauh ke depan. Mereka membatasi orang luar untuk berinvestasi di sana. Beberapa tahun lalu, desa menolak pemodal dari luar yang hendak membeli tanah warga untuk membangun hotel. Pemerintah desa tidak ingin penduduk lokal kalah oleh pemodal dari luar.

Setelah air terjun mulai tertata, lokasi tersebut mengundang berbagai bantuan. Termasuk Corporate Social Responsibility BNI. Selain membangun warung diseputaran lokasi, BNI menambah jumlah perahu dan membuat gapura tempat penjualan tiket. Selain membangun infrastruktur, BNI juga memberikan bantuan berupa serangkaian pelatihan. Mulai dari pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pemandu lokal sampai cara mengemas pangan lokal. Dengan demikian bisa menjual wingko, kripik, dan tiwul untuk oleh-oleh.

Libur lebaran kemarin, saya kembali mengunjungi Sri Getuk. Kawasan tersebut penuh dengan pengunjung. Ratusan bus, mobil, dan motor menyemut di tempat parkir. Dalam sehari, pengelola mendapat pemasukan lebih dari dua puluh juta rupiah hanya dari tiket masuk. 40-an pedagang yang berjualan di seputaran obyek wisata juga kecipratan rejeki. Dagangan mereka laris karena tiap hari ada lebih dari 2000 pengunjung. Tentu saja sebagian berbelanja. Pembangunan-pembangunan bantuan dari pihak luar membuat lokasi tadi tetap nyaman meski ada ribuan orang datang.

Iklan

Sekolah itu (seharusnya) Menyenangkan

Sekolah Alam Ciganjur

Sejak melihat anak-anak yang belajar dengan gembira di Sekolah Alam, saya ingin bertemu perumus metode pendidikan tersebut. Namanya Lendo Novo. Awalnya, ia berkuliah di bidang perminyakan. Ketertarikan Lendo Novo terhadap dunia pendidikan dimulai pada tahun 1989.

Waktu ia dipenjara karena meminta Presiden Suharto turun. Tentara yang menginterogasinya berkomentar “Kalian itu kuliah baru S2 saja sudah berani melawan Pemerintah. Mereka punya mentri-mentri yang gelarnya Professor dan Doktor.” Kalimat tersebut memunculkan serangkaian pertanyaan. Kenapa masyarakat Indonesia menghargai orang berdasar kepintaran, harta, popularitas, atau fisik yang indah? Orang kemudian mencari jalan pintas karena ingin dihargai. Ada yang korupsi karena ingin kaya. Ada yang membeli gelar atau mencontek karena ingin dianggap pintar. Dan orang-orang yang ingin fisik rupawan melakukan operasi plastik.

Lendo Novo kemudian mempertanyakan seperti apakah orang yang paling berharga di mata Tuhan. Sebagai penganut Islam, ia mencari rujukan di Al Quran. Ia menemukan bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang bertakwa dan paling berguna. Lendo Novo kemudian berpikir untuk mengubah cara pandang yang ada di masyarakat. Caranya: melalui pendidikan.

Lendo Novo

Ia kemudian membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Lendo Novo melihat Jepang, Jerman, dan Singapura maju karena memiliki sikap-sikap seperti jujur, adil, disiplin, dan bekerja keras. Mulailah ia merancang sebuah sekolah yang 80% kurikulumnya berupa pendidikan karakter. Lendo percaya ilmu seperti Matematika bisa dipelajari kapan saja. Berbeda dengan karakter yang harus dilatih sejak dini. Karena setelah dewasa, sifat seseorang sudah terbentuk dan susah berubah.

Kurikulum sekolah alam mengacu pada Al Quran dan hadis. Ia memperkaya metodenya dengan berbagai bacaan seperti sekolah Toto Chan, Mahatma Gandhi, Paulo Freire dan lain-lain. Intinya, manusia tercipta untuk menjadi kalifah—pemimpin—di muka bumi. Jadi ia harus memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk mengelola alam.

Ada 4 pilar yang menjadi dasar pengajaran sekolah alam. Tahu cara tunduk kepada Tuhan, tahu cara tunduk mahluk lain kepada Tuhan, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Berbeda dengan sekolah umum yang banyak menghapal, murid-murid sekolah alam lebih belajar lewat praktek. Seperti saat belajar tentang pohon. Mereka akan langsung melihat tumbuhannya. Murid-murid kemudian mengamati bagaimana pohon tersebut hidup dari air dan sinar matahari dan mendiskusikannya. Saat belajar dengan cara tersebut melatih logika seorang anak. Supaya proses belajar terjadi dengan baik, sekolah perlu menciptakan suasana yang menyenangkan.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Sekolah alam pertama berdiri tahun 1998. Kini, metode pembelajarannya diadopsi oleh sekitar 2000 an sekolah. Masing-masing sekolah tersebut mengembangkan kurikulum sesuai lokasi masing-masing sekolah. Saat ini ada School of Universe di Parung yang menjadi semacam sekolah model bagi sekolah alam. Di sana, metode-metode pengajaran diuji terus-menerus.

Saat merumuskan sekolah alam, Lendo Novo ingin membuat sekolah yang menerima keberagaman muridnya. Dulu, Lendo sering dihukum di sekolah karena tidak bisa diam. Orangtuanya bahkan pernah membawanya ke psikiater. Ia juga memiliki kakak yang diffable dan bersekolah SLB. Di sekolah alam, anak yang berbeda seperti dirinya dan kakaknya bisa bersekolah sama-sama. Tanpa dilabeli bodoh atau nakal.

Masih banyak hal belum saya tuliskan di sini. Halaman blog ini terlalu kecil untuk membuat satu tulisan utuh tentang Sekolah Alam. Saya harap, saya akan menuliskan kelanjutan masih perlu melihat praktek pembelajarannya di sekolah. Semoga saya bisa melanjutkan menuliskan hal tersebut.

Jebakan Batman di Pusat Perbelanjaan

Sumber foto: everystockphoto

Sumber foto: everystockphoto

Bulan pertama pindah rumah, saya dan suami punya kebiasaan baru: belanja. Dalam seminggu, kami bisa dua sampai tiga kali ke pusat perbelanjaan. Karena rumah yang kami tempati awalnya masih kosong, kami seperti punya alasan untuk mengisinya. Apalagi rumah kami hanya 500 meter dari sebuah supermarket. Kami sering sore-sore jalan kaki ke sana untuk berbelanja.

Dulu, saya bukan tipe yang suka ke mall atau pusat perbelanjaan besar. Sebagai penganut ekonomi kerakyatan, saya lebih memilih berbelanja ke toko kecil atau perajinnya langsung. Setidaknya saya membantu mereka untuk menafkahi keluarganya. Tapi, karena kami harus belanja barang dalam jenis beragam, hipermart menawarkan lebih banyak pilihan. Kami tidak perlu pergi ke beberapa toko jika butuh berbagai macam barang.

Sayangnya, kami sering khilaf. Saat pulang, kami bisa saja membawa pot bunga, gelas, atau kabinet yang tidak kami butuhkan. Kami sering tidak sadar jika supermarket besar ditata supaya pengunjungnya nyaman. Saat mengelilinginya, kita sering memasukkan barang tidak penting ke keranjang belanja. Kereta dorong yang muat lebih banyak barang dan meringankan bawaan memperparah hal tersebut.

Saya sering lupa kalau supermarket sengaja menata barang agar kita membeli lebih banyak dari yang kita butuh. Mereka tahu kalau sesuatu yang terlihat mencolok perhatian mata akan cenderung membuat kita membelinya. Karena itu meja kasir penuh permen dan barang kecil yang sering kita ambil tanpa pikir panjang. Hal tersebut membuat saya mulai membawa daftar belanjaan. Jumlah barang tidak penting yang saya beli mulai berkurang.

Dulu, saya tidak pernah mengecek harga saat membayar di kasir. Saya mulai melakukannya setelah sadar ada barang-barang yang harganya lebih mahal daripada dugaan kami. Waktu itu, saya iseng mengecek struk belanja barang yang kami beli dalam sebulan. Untuk sekadar tahu pemborosan apa yang sudah kami lakukan.

Saya baru sadar kalau kami berkali-kali membeli barang yang harganya lebih mahal dari merk lain. Ada coklat bubuk dengan harga lebih dari 60 ribu. Padahal barang sejenis rata-rata harganya dibawah dua puluh ribu. Ada garam sehat seharga 54 ribu. Padahal, garam biasanya hanya beberapa ribu rupiah. Minuman ringan seharga 80 ribu. Tempat garam dengan harga hampir seratus ribu rupiah. Dan masih banyak lagi. Seingat saya, kami tidak pernah melihat angka tersebut di rak. Sejak saat itu saya mulai memerhatikan harga saat kasir menjumlah belanjaan. Saya kemudian menemui harga barang di rak berbeda dengan di kasir.

Gara-gara tiap minggu main ke sebuah hipermart, kami jadi hobi melihat harga barang. Tiap minggu, pasti ada barang yang didiskon. Kelihatannya sih jadi lebih murah dan menggoda orang untuk membeli. Padahal kalau mau membandingkan, di pasar kami melihat barang yang sama dengan harga lebih murah. Mana ada orang jualan yang ingin rugi? Saya juga mulai menunda membeli suatu barang kalau sekadar ingin. Siapa tahu di tempat lain ada barang dengan harga lebih murah atau pilihan model lebih bagus.

Anak Hebat Hasil Didikan Orangtua Cerdas

???????????????????????????????Kutipan tadi saya dapat waktu datang ke Festival Teknologi Pendidikan di Museum Pendidikan Indonesia. Saya setuju sekali, karena guru pertama seorang anak adalah orangtuanya. Karena ibu secara emosional lebih dekat dengan anaknya, peran ibu sangat besar dalam perkembangan anak.
Saya jadi teringat saat beberapa bulan lalu datang ke acara Suara Anak. Di sana saya terpesona dengan anak-anak yang menjadi pembicara di acara tersebut. Umur mereka masih belia. Antara 7 hingga 12 tahun. Tapi mereka sarat dengan prestasi. Ada yang memenangkan lomba di luar negeri, pernah tampil di tivi, atau sudah menerbitkan buku. Hebatnya, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan jika besar nanti. Seorang anak bercerita kalau ia ingin menjadi wartawan di National Geography, anak lain ingin menjadi perenang profesional di tingkat internasional. Jujur saja saya iri. Karena saya dan kebanyakan orang baru tahu apa yang akan kami lakukan setelah dewasa dan bekerja.
Sayangnya, kebanyakan anak-anak tadi ada di latar belakang yang sama. Mereka datang dari keluarga menengah ke atas. Dengan orangtua (terutama ibu) yang cerdas. Saya bilang sayang karena tidak semua anak seberuntung mereka. Saya kerap kali menemui orangtua yang menitipkan anaknya ke sekolahan. Mereka berpikir kalau sekolah akan mendidik anaknya. Sebagian orangtua yang saya tahu berpikir jika anaknya berprestasi secara akademis, mereka akan mendapat pekerjaan yang baik.

Sepertinya, hidup tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah formal. Juga ada banyak hal yang diajarkan di sekolah tidak berguna untuk hidup.
Saya sering bertemu dengan orangtua yang kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Menurut saya, hal tersebut masih lumayan. Setidaknya mereka akan berusaha mencari informasi cara mendidik anak. Lebih banyak lagi orangtua yang hanya sekadar mengikuti insting atau meniru cara orang disekelilingnya mendidik anak.

Anak dan menggambar

Saya berkali-kali melihat orangtua membelikan barang mahal untuk anaknya. Hal tersebut merupakan cara menunjukkan kasih sayang. Mereka tidak sadar jika hal tersebut akan membentuk anaknya menjadi materalistis. Menilai segala hal dengan uang. Ironisnya, untuk membayar barang-barang tadi banyak orangtua yang terlalu sibuk bekerja. Dan menitipkan anaknya kepada pembantu. Bagaimana dengan Anda? Tipe orangtua seperti apakah Anda? Atau jika belum punya anak, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang cerdas?

Bertualang dan Tuliskan Ceritamu

travelblogger25 Oktober lalu, saya dan Firsta (admin discoveryourindonesia) menjadi narasumber tentang travel dan blogging di Jagongan Media Rakyat. Sebelum acara, beberapa panitia berkomentar acaranya bakal didatangi banyak orang. Kami hanya tertawa. Undangan yang menyebar di media sosial kadang susah diprediksi. Dari sekian orang yang ikut membagikan flyer kami posting di dunia maya, belum tentu mereka datang.
Acaranya mulai jam tiga lebih. Firsta presentasi lebih dahulu. Awalnya, ada 20-an orang hadir. Lama kelamaan, peserta bertambah hingga ruangan penuh. Firsta mulai bercerita tentang blognya yang berusia satu tahun. Ia membuat discoveryourIndonesia setelah berjalan-jalan di luar negeri. Orang yang ia temui banyak yang bertanya: di mana itu Indonesia? Sebelah mananya Bali? Karena blognya bertujuan memperkenalkan Indonesia ke wisatawan asing, Firsta menulis dalam Bahasa Inggris.
Firsta kemudian bercerita tentang perjalanannya ke Myanmar. Mulai dari gambaran umum Myanmar, cara mengurus visa, sampai lokasi favoritnya di sana. Presentasinya berlanjut dengan tips merawat blog. Mulai dari menemukan konten yang menarik hingga mendapatkan pembaca lewat google dan media sosial. Untuk sebuah blog yang baru berusia satu tahun lebih, menurut saya, discoveryourindonesia dikelola dengan baik. Mungkin karena latar belakang Firsta marketing, ia mengerti pentingnya branding dan konsistensi. Sepertinya, ia mempraktekkan hal itu dalam mengelola blog.

Snorkling di Maluku
Setelah itu, gantian saya bercerita tentang kegiatan jalan-jalan dan menulis saya. Awalnya saya membuat blog sekadar untuk berlatih menulis. Lama kelamaan, saya ingin punya domain sendiri. Blog www.kotakpermen.com berisi jurnal perjalanan saya di sana. Meskipun demikian, saya masih sering menulis catatan perjalanan di blog gratisan. Karena saya punya komitmen untuk selalu memperbaharui tulisan di blog lama.
Saya kemudian bercerita tentang beberapa yang pernah saya datangi di Indonesia. Cerita dari Aceh sampai Papua tadi punya benang merah: Indonesia itu kaya tapi punya banyak cerita sedih. Kalau di Sumatra, saya mengambil contoh di tiga tempat. Salah satunya Lampung. Setelah berkunjung ke Perusahaan Ulu Belu, saya baru tahu kalau Indonesia itu produsen kopi nomer 4 dunia. Ironisnya, kita lebih banyak mengonsumsi kopi instan yang banyak campuran zat kimia dan gulanya. Di Lampung juga, saya bertemu dengan sekelompok petani kopi. Mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan ijin untuk mengelola hutan yang kini mereka jadikan perkebunan kopi. Cerita saya kemudian berpindah ke pulau-pulau lain. Kebanyakan ceritanya tentang tempat yang punya sumber daya alam melimpah tapi hanya dikuasai oleh segelintir orang.
Setelah mengunjungi banyak tempat, saya merasa menulis saja tidak cukup. Saya ingin meninggalkan sesuatu untuk orang yang pernah saya datangi. Karena saya tertarik dengan pendidikan, saya dan beberapa teman kemudian membuat program bernama berbagibuku. Program yang webnya sedang dalam proses pembuatan ini, mengumpulkan buku untuk perpustakaan komunitas. Terutama untuk komunitas yang jauh dari kota atau memiliki program mendidik anak tidak mampu. Silahkan hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com jika ingin tahu lebih lanjut.
Saya ingin mengajak orang membaca buku karena sekolah, apalagi di luar Jawa, sangat tidak mengajarkan bagaimana cara hidup. Tahun lalu, waktu pergi ke Maluku, saya melihat anak SD yang diajar cara menabung di bank. Padahal, bisa jadi anak-anak tadi tidak pernah ke bank yang letaknya ratusan kilo dari desanya. Apa yang mau ditabung? Orangtua mereka hidup dari mengumpulkan hasil hutan. Mereka hanya menjual hasilnya jika berlebih. Sistem barter masih berlaku di sana. Aneh saja memaksa mereka menghafal fungsi bank.
Saya kemudian sedikit bercerita tentang bagaimana cara memperbaiki menulis. Menurut saya, menulis itu proses. Seseorang butuh waktu bertahun-tahun untuk punya tulisan yang menarik. Orang yang terbiasa menulis pun belum tentu punya tulisan yang enak dibaca. Mereka harus rajin membaca supaya bisa membedakan kalimat yang menarik dan tidak.
Saat sesi tanya jawab, kami mendapat banyak pertanyaan seputar perjalanan dan menulis. Saya melihat beberapa peserta menuliskan jawaban-jawaban kami. Senang rasanya melihat ada yang datang jauh-jauh di tengah cuaca panas. Mereka masih mendengarkan cerita kami hingga acara berakhir. Bahkan, saya masih menjawab pertanyaan beberapa orang di luar acara diskusi. Obrolannya beragam. Ada yang bertanya, apakah tidak berbahaya bagi seorang perempuan pergi jauh? Bagaimanakah cara memilih sudut pandang cerita yang menarik? Sampai bagaimana cara mendokumentasikan perjalanan. Sepertinya para peserta ingin melihat lebih banyak tempat. Tapi, beberapa masih takut berkunjung ke tempat asing. Ada juga yang beranggapan jalan-jalan itu mahal. Jalan-jalan itu menyenangkan, kita akan melihat ada banyak hal yang tidak kita dapat melalui media massa atau sekolah. Jadi, kapan kau akan jalan-jalan?

Mengatur Uang untuk Masa Depan

Nenek dan cucunya, MalukuSejak kuliah, saya tidak tertarik memilih pekerjaan dengan alasan ada gaji bulanan dan pensiun. Bagi saya, pekerjaan itu seharusnya tempat untuk belajar dan berkenalan dengan banyak orang. Pekerjaan yang baik itu memberi manfaat untuk orang lain dan bumi yang saya tinggali. Saya bukan tipe yang mau menjual waktu hanya untuk membayar tagihan. Beda dengan orangtua dan kerabat saya. Yang selalu memaksa saya menjadi PNS karena pekerjaan tersebut “aman”.

Menurut saya, pensiun bisa dicari dengan cara lain. Saya tahu bahwa saya tidak mungkin bekerja selamanya. Kelak, ada masa dimana saya bisa menghabiskan masa tua tanpa bekerja. Dengan cukup uang untuk membayar tagihan dan jalan-jalan. Dahulu, saya menyasati hal tersebut dengan menyisihkan sepertiga pendapatan untuk ditabung. Hingga lama-lama saya sadar, uang yang saya tabungkan lima tahun lalu, nilainya tidak sebesar dulu. Katakanlah, waktu itu dengan uang satu juta rupiah, saya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Saya masih bisa belanja baju, sesekali pergi ke bioskop, dan makan malam di restoran. Sekarang, dengan uang yang sama, saya harus mengurangi beberapa kesenangan. Bagaimana lima tahun nanti? Tabungan saya sekarang bisakah dipakai untuk membayar biaya hidup dengan layak saat saya tua nanti?

Tanjung Aan Lombok

Saya baru sadar kalau tabungan per tahun memberi bunga di bawah 4 %. Sedangkan angka inflasi yang saya lihat di http://www.bi.go.id seringkali diatas 5% Itu artinya, uang yang saya sisihkan sejak lima tahun lalu, jauh berkurang nilainya saat saya memutuskan untuk pensiun 30 tahun lagi. Saya tidak mau saat menjadi nenek nanti merepotkan anak dan cucu saya. Saya juga tidak mau nanti terpaksa harus bekerja karena tidak menyiapkan dari sekarang.

Saya kemudian memisahkan uang saya. Yang ditabung itu untuk keperluan sehari-hari. Untuk nanti jangka menengah yang akan saya pakai kurang dari 5 tahun atau saat keperluan mendadak, saya simpan dalam bentuk deposito yang tidak kena pinalti saat dicairkan. Tapi, saya belum punya bayangan cara menyimpan uang dalam jangka pajang.

Saya bertanya ke beberapa teman cara apa yang mereka lakukan untuk menjamin masa tuanya. Banyak yang belum memikirkan hal tersebut. Beberapa santai karena mereka PNS atau bekerja untuk perusahaan yang memberikan pensiun. Saat kemudian mencari info mengenai asuransi melalui google, saya menemukan web Allianz. Saya memilih membaca info asuransi dari perusahaan tadi karena mereka merupakan salah satu perusahaan asuransi dengan kinerja positif. Dengan dukungan lebih dari 1,200 karyawan dan melayani lebih dari 4 juta tertanggung di Indonesia, Allianz layak dimasukkan ke daftar pertimbangan jika nanti saya memutuskan berasuransi.

Membaca produk-produknya, membuat saya berpikir tentang hidup yang tidak bisa diduga. Bagaimana nanti kalau saya punya anak dan meninggal sebelum ia dewasa? Siapa yang akan menanggung biaya hidupnya? Saya jadi teringat seorang teman. Beberapa tahun lalu, suaminya meninggal tiba-tiba karena serangan jantung. Ia sempat shock. Sebelum hilang sedihnya atas kematian suaminya, ia harus membayar cicilan rumah. Padahal, teman saya sudah bertahun-tahun tidak bekerja. Bagaimana kalau hal tersebut terjadi pada saya?

Saya juga semakin berpikir mengenai pentingnya asuransi yang bisa menanggung biaya saat berobat ke rumah sakit. Semua orang pasti berharap selalu sehat. Tapi kadang, ada kejadian yang tidak diharapkan. Seperti ipar sepupu saya. Beberapa bulan lalu, ia jatuh dari motor. Padahal, ia hanya pergi ke warung untuk membelikan susu keponakannya. Ia harus menjalani operasi karena tangan kanannya retak. Keluarganya harus menguras tabungan untuk biaya rumah sakit yang mencapai lebih dari 20 juta rupiah. Angka yang cukup besar. Andai saja ia bisa mengklaimkan biaya tersebut ke perusahaan asuransi. Di sisi lain, perusahaan asuransi juga mendapat keuntungan jika memiliki banyak nasabah. Mereka bisa memutarkan uang tersebut untuk mendapat laba.

Sepertinya, saya harus datang ke kantor perusahaan asuransi terdekat untuk mendapat info lebih detail tentang asuransi apa saja yang saya butuhkan. Lebih cepat lebih baik, karena saya tidak tahu apa yang menimpa diri saya nanti. Lebih baik berjaga-jaga sebelum hal buruk terjadi.

Pekerjaan Impian

Seorang kenalan bercerita jika ia bosan dengan pekerjaannya. Katanya, pekerjaan itu tidak sesuai dengan bakatnya. Gajinya juga tidak memadai. Ia kemudian bertanya bagaimana cara mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan. Maksudnya, yang sesuai dengan hobinya sekaligus mendapat banyak uang.

Saya sempat bingung menjawabnya. Awalnya sempat ingin jujur berkata: Memang ada pekerjaan yang gampang, bikin senang, dan dibayar mahal? Kalau pun ada, itu butuh proses bertahun-tahun. Dan, tidak semua orang rela berkorban untuk mencapai hal tadi. Saya kemudian balas bertanya ke teman tadi. Selama ini, sejauh apa usaha yang ia lakukan supaya orang tahu jika ia ahli di suatu bidang? Sudahkah ia memiliki portofolio dan menawarkan jasanya ke orang-orang yang mungkin akan membayarnya? Dan, ia menjawab belum untuk semua pertanyaan saya.

Pembuat Film DokumenterCerita sejenis sering sekali saya dengar atau baca di grup sebuah komunitas. Ada saja yang bertanya, bagaimana caranya mendapat uang dari ngeblog, atau membuat film. Dengan catatan: cara cepat dan mudah. Sayangnya, selama ini saya belum pernah menemukan cara instan untuk dibayar melakukan hal yang seseorang suka. Semua kenalan saya, mulai programmer, komikus, pembuat film, sampai blogger butuh waktu bertahun-tahun untuk dicari klien.

Banyak yang tadinya pekerja kantoran dan hampir menyerah untuk bekerja lepas karena awal karirnya seret pemasukan. Tidak sedikit juga rekan saya yang keluar dari pekerjaannya untuk meraih karir impian dan terpaksa kembali ke pekerjaan yang menawarkan gaji bulanan. Yang meski tidak sesuai dengan keinginan mereka, menawarkan uang untuk membayar cicilan.

Ngobrol-ngobrol tentang proses, saya jadi ingat cerita Ika Koentjoro. Seorang ibu rumah tangga yang memutuskan menjadikan ngeblog sebagai profesi. Mbak Ika ini mulai ngeblog sejak tahun 2011. Awalnya ia hanya iseng latihan menulis. Lama-lama, ia berfikir bagaimana cara supaya kegiatannya ini tidak sekadar membuang waktu tapi juga menghasilkan uang. Mulailah ia belajar mengenai cara menarik orang supaya membaca blognya. Semakin banyak pengunjung artinya semakin tinggi kemungkinan ia dibayar untuk menulis reviuw. Setelah memutuskan untuk mendapat pendapatan dari ngeblog, Mbak Ika menggunakan domain berbayar. Ia juga lebih rajin menulis.

Selain itu, Mbak Ika sering mengikuti lomba. Katanya, ikut lomba itu semi untung-untungan. Mungkin dari 40 an lomba yang ia ikuti, hanya beberapa yang ia menangkan. Ada banyak faktor seseorang menang lomba. Mulai dari selera juri atau saingan lain. Setidaknya, tiap ikut lomba, hal tadi menarik pengunjung untuk membaca. Kalau menang lomba, akan meningkatkan namanya di kalangan blogger. Mbak Ika bilang, ia butuh waktu bertahun-tahun untuk selalu mendapat penghasilan dari hobinya tadi. Tidak ada yang namanya hobi menjadi uang dalam waktu singkat.