Merayakan Buku di Mata Aksara

Minggu, 12 Oktober, lalu puluhan ibu-ibu dan anaknya yang rata-rata berusia balita memenuhi lantai dua mata Aksara. Sebenarnya, acara berjudul “Membangun Budaya Baca di Keluarga” tersebut ditujukan bagi para orangtua. Untuk mengingatkan kembali jika membaca itu penting untuk masa depan anaknya. Entah kenapa, acara berbau pendidikan anak lebih menarik bagi ibu-ibu.

 

Saat si ibu ngobrol tentang membaca di lantai dua, Mbah Bad mengajak anak-anak mereka berkebun. Mbah Bad membawa bungkus benih. Ia mengajak adek-adek yang datang mengenal buah-buahan dan sayuran. Ia menunjukkan gambar sayur dan buah-buahan pada seluruh peserta. Adek-adek tadi selain menyebut nama buah dan sayuran yang ditunjuk juga bercerita mana saja yang pernah mereka makan.
Rombongan kemudian pergi ke kebun organik di lantai 3. Beberapa ibu menemani anaknya karena mereka masih takut ditinggal. Waktu melihat kebun, beberapa langsung memetik sisa tomat yang belum dipanen. Warna merah tomat memang menggoda untuk dimakan. Akhirnya, sesi berkebun menjadi sesi bermain tanah. Lucu lo, melihat anak usia 2 sampai 4 tahun mencampur pupuk dan tanah. Saya tidak tahu apakah mereka menaati contoh Mbah Bad. Yang pasti mereka asyik mengisi polybag dengan bibit. Sesudah selesai, anak-anak tadi mencuci tangan. Namanya anak-anak, sempat-sempatnya bermain air. Mereka kemudian turun bergabung dengan ibu-ibunya.
Lantai dua kemudian menjadi hiruk pikuk. Saat Mas Sholahuddin Nurazmy dan Pak Muchsin Kalida bercerita tentang pentingnya menulis, anak-anak ini bermain trampolin atau menggambar. Sambil berceloteh dan berteriak. Sepertinya peserta diskusi tidak merasa terganggu. Mereka mendengarkan cerita kedua pemateri. Diskusi mengenai pentingnya membaca kemudian bergeser menjadi obrolan tentang menulis. Kedua pembicara mengatakan jika menulis itu bisa dimulai dari mana saja. Gunakan media apa saja yang paling mudah ditemui. Bisa mulai dari menulis di buku atau sekadar status facebook. Bercerita juga tidak harus tentang hal yang wah atau besar. Kejadian yang dialami setiap hari juga bisa kok menjadi bahan tulisan. Yang penting, mulailah menulis.
Mas Adi, pengelola Mata Aksara, menambahkan ide menulis bisa didapat dari membaca buku. Ia melanjutkan kalau banyak buku yang bisa dipinjam di sana. Seseorang yang banyak membaca buku, akan lebih mudah mendapat inspirasi untuk menulis.

Setelah diskusi berakhir, ibu-ibu tersebut berlatih menulis. Temanya tentang buku yang bisa mereka bacakan untuk anaknya sebelum tidur. Meski banyak yang mengaku tidak tahu darimana harus mengawali menulis, mereka terlihat serius. Sepertinya, melihat besarnya antusiasime ibu-ibu, acara ini akan ada kelanjutannya. Setelah acara, beberapa masih tinggal untuk membaca buku. Ada juga yang bertanya jam berapa taman bacaan buka supaya bisa kembali untuk meminjam buku. Sepertinya, perlu lebih banyak perpustakaan-perpustakaan komunitas mandiri yang bisa mengajak lingkungannya melek literasi. Supaya lebih banyak orang membaca di Indonesia.

Iklan

Perpustakaan Keliling di Desa Borobudur

Minggu, 14 Agustus lalu, Javlec Junior punya acara perpustakaan keliling di Desa Borobudur lagi. Kali ini, ada empat orang relawan. Selain saya ada Anta, Natty, dan Daniel yang menemani sekitar lima puluh anak usia SD menggambar, mendongeng, dan melipat kertas.

Senengnya lihat adik-adik di Dusun Ngaran 2 antusias bermain bersama. Entah kenapa, saat menggambar, hampir semua anak menggambar gunung. Mereka baru mengganti menggambar obyek lain saat kami minta. Itu pun mencontek gambar ilustrasi dari buku cerita anak. Ternyata, adik-adik ini ingin bisa menggambar banyak hal, tapi mereka bingung harus mulai dari menggambar apa. Akhirnya, kami janjian supaya tema pertemuan berikutnya piknik sambil belajar menggambar. Sepertinya bakal seru. Ada yang mau jadi relawan mengajar menggambar?

Selain adik-adik usia SD, ada belasan remaja putri dan ibu-ibu bergabung. Mereka asyik membaca buku tentang memasak dan pengetahuan umum. Anta sengaja membawa buku-buku jenis ini karena di pertemuan sebelumnya, beberapa ibu-ibu yang menanyakan buku-buku jenis ini. Ok, kami usahakan di pertemuan selanjutnya ada lebih banyak buku umum supaya ibu-ibu bisa ikutan baca. Ada yang mau nyumbang atau bantu mengumpulkan buku?

Menjelang buka, kelompok-kelompok kecil tadi digabung menjadi satu. Ramai sekali. Sempat ada keributan karena ada seorang anak yang menangis karena diganggu teman-temannya. Sebenarnya, kami menyiapkan beberapa hadiah untuk adik-adik yang berani maju ke depan untuk bercerita tentang gambarnya atau buku yang mereka baca. Berhubung pada belum berani untuk maju kedepan, akhirnya kami membuat pe-er menulis. Adik-adik yang mengumpulkan tulisan waktu pertemuan berikutnya, akan mendapatkan hadiah tadi. Sebelum buka, ada sesi peminjaman buku. Kali ini Romi yang jadi petugas perpusnya.

Kami lalu berbuka bersama dengan makanan yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu dan sumbangan dari Wini dan Indra. Terimakasih 😀

Sehabis buka, kami diundang makan malam di rumah ibu Eli, salah seorang kader desa. Di sana sudah ada bapak sekretaris desa, ibu anggota BPD dan beberapa orang Kepala Dusun. Intinya, mereka menyambut baik rencana kami untuk membuat perpustakaan. Bahkan, kami ditawari tempat untuk membuat perpustakan yang permanen. Ada ibu yang menawarkan puluhan bukunya untuk dijadikan satu. Lumayanlah, buat nambah koleksi buku.

Mereka malah meminta supaya kegiatan perpustakaannya diadakan tiap minggu. Pengen sih, mungkin nanti kalau ada lebih banyak relawan yang mau membantu atau kalau pemuda yang tinggal di seputaran candi gabung.

Kami juga sempat ngobrol-ngobrol tentang kondisi masyarakat di seputaran Desa Borobudur. Ironis sekali. Masyarakat di sana banyak yang miskin padahal di desa tadi punya obyek wisata yang didatangi 2,7 juta pengunjung pertahunnya. Itung aja berapa duit masuk kalo tiket masuk ke candi buat turis lokal 23 ribu. Dari sekian banyak uang tadi, pengelola candi cuma nyumbang 70 juta setahun ke desa. Trus ada banyak cerita tentang penduduk yang kehilangan tanah tempat mencari nafkahnya pas dulu candi dijadiin tempat wisata. Sekarang juga tanah-tanah penduduk banyak yang berpindah tangan. Karena miskin, banyak penduduk lokal yang ngejual tanahnya saat diiming-imingi uang sama pendatang.

Berhubung sudah kenyang dan sudah malam, kami pulang sekitar jam delapanan. Sampai ketemu bulan depan 🙂