Ibadah di Pusat Perbelanjaan

Tiap bulan puasa, ada hal yang pasti: harga sembako naik. Artinya, bulan ini orang lebih banyak berbelanja kebutuhan sehari-hari. Orang-orang di sekitar saya tiap bulan puasa cenderung lebih banyak memasak.  Ada tambahan makanan seperti es buah atau makanan manis saat berbuka. Selain itu mereka juga mengonsumsi lebih banyak daging. Aneh, bukankah katanya puasa itu meminta untuk menahan hawa nafsu? Iya, selama siang (sebagian besar umat Islam) menahan lapar dan kadang marah. Tapi setelah berbuka kemudian menjadi kesempatan untuk berpesta. Kenapa? Apa karena bulan puasa hanya satu bulan dalam setahun?

Belanja bajuDi bulan ini juga, pusat perbelanjaan lebih banyak dikunjungi orang. Perhatikan saja penuhnya tempat parkir dan antrian memanjang di kasir. Apalagi mendekati lebaran. Berbagai pusat perbelanjaan meminta masyarakat untuk membuang uangnya. Mereka menawarkan berbagai diskon. Yang diserbu masyarakat dengan pikiran kapan lagi bisa punya barang bagus. Padahal, mana ada toko yang mau rugi? Tetap saja mereka masih untung.

Justru pembelanja yang rugi karena membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Entah kenapa, ada semacam keharusan untuk membeli baju baru saat lebaran. Untung saya beberapa tahun terakhir ini tidak latah berbelanja. Saya sedang berusaha untuk membedakan antara butuh dan ingin.Tapi tetap saja saya tidak bisa menghindar dari menyuguhkan terlalu banyak makanan saat hari raya. Beberapa kerabat membelikan makanan ringan yang selalu tidak pernah habis hingga beberapa bulan setelah lebaran.

Hari raya merupakan saat bertemu keluarga dan kerabat jauh. Ironisnya, saat itu menjadi ajang menunjukkan harta milik. Pernahkah anda memperhatikan, saat bulan puasa, toko emas lebih ramai? Ada yang memakai perhiasan saat lebaran dan menjualnya kembali setelah usai. Apakah ini kemenangan? Bahkan ada pula yang membeli mobil baru untuk lebaran.

Yuk mulai kurangi hal yang tidak perlu. Bumi tidak bertambah luas. Barang-barang yang tidak terpakai dan sisa tadi akan menjadi sampah. Kita berbuat baik pada bumi saat hanya mengambil secukupnya saja.

Dress to Impress

Seorang teman bercerita dia baru saja mengunjungi sebuah mall di Bekasi. Di pusat perbelanjaan tadi ada ketentuan untuk berbaju rapi. Teman saya sempat melihat seorang ibu-ibu dengan baju daster dan sandal jepit diusir oleh satpam. Padahal, bisa jadi kan si ibu tadi bermaksud belanja? Tidak seperti teman saya yang berbaju keren tapi nggak punya duit dan cuma sekadar cuci mata? 😀

Saya jadi teringat kata dua mantan bos saya. Mereka sangat memperhatikan penampilan. Menurut keduanya, bagaimana seseorang bisa dinilai isinya jika sampulnya saja sudah tidak menarik dilihat. Meskipun saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat tadi, saya senang terlihat cantik. Sekarang, saya merasa baju yang baik itu penting untuk kenyamananan kita. Catat, bagus tidak ada hubungannya dengan merk. Juga tidak harus barang mahal. Menggunakan barang-barang yang baik merupakan penghargaan ke diri sendiri. Rasa nyaman dengan yang kita pakai akan meningkatkan rasa percaya diri. Dan, secara tidak langsung akan membuat kita melakukan sesuatu dengan lebih baik.

Teman-teman sering merasa tidak, ada banyak orang masih memakai baju dalam yang sudah lusuh atau bahkan berlubang. Mereka beranggapan baju tadi ada di dalam dan tidak kelihatan. Sayangnya, banyak yang tidak sadar kalau badan kita juga punya perasaan. Coba deh bandingkan saat memakai baju dalam yang sudah tidak layak pakai dengan yang masih bagus. Beda kan?

Tapi, saya juga tidak tertarik dengan orang yang cuma bagus luarnya saja. Fisik keren, percuma kalau tidak diimbangi dengan otak yang bagus dan kelakuan yang menyenangkan. Siapa sih yang mau berlama-lama berkumpul dengan mahluk cantik yang nggak nyambung diajak ngobrol? Ok, mahluk yang fisiknya indah memang menyenangkan dilihat, tapi kalo kelakuannya nggak asyik, siapa yang mo dekat-dekat?

Meskipun saya memilih baju untuk kenyamanan diri sendiri. Kadang ada aturan dari luar yang mau nggak mau “harus” ditaati. Saat ada di lingkungan pesantren, saya yang biasanya memakai rok pendek berganti baju panjang. Dan sepertinya, saya mulai harus mempertimbangkan untuk memakai sepatu di acara resmi. Beberapa waktu lalu, saat mengerjakan publikasi untuk acara peresmian CSR sebuah bank, saya sempat ditegur karena memakai sandal. Menurut si bapak, untuk acara formal seharusnya mengenakan sepatu. Kalo bukan klien, saya akan bilang, saya mikir pakai otak bukan dengan sepatu, sambil cengengesan. Tapi, sepertinya saya perlu berjaga-jaga kalau lain kali ada acara resmi lain. Bisa jadi sandal yang saya anggap sopan tidak berlaku di mata orang lain. Mungkin, saya nyari sepatu di Zalora saja ya? Sepertinya akan lebih irit waktu daripada harus keluar-masuk beberapa toko untuk memilih model yang cocok.