Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Iklan

Anak Hebat Hasil Didikan Orangtua Cerdas

???????????????????????????????Kutipan tadi saya dapat waktu datang ke Festival Teknologi Pendidikan di Museum Pendidikan Indonesia. Saya setuju sekali, karena guru pertama seorang anak adalah orangtuanya. Karena ibu secara emosional lebih dekat dengan anaknya, peran ibu sangat besar dalam perkembangan anak.
Saya jadi teringat saat beberapa bulan lalu datang ke acara Suara Anak. Di sana saya terpesona dengan anak-anak yang menjadi pembicara di acara tersebut. Umur mereka masih belia. Antara 7 hingga 12 tahun. Tapi mereka sarat dengan prestasi. Ada yang memenangkan lomba di luar negeri, pernah tampil di tivi, atau sudah menerbitkan buku. Hebatnya, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan jika besar nanti. Seorang anak bercerita kalau ia ingin menjadi wartawan di National Geography, anak lain ingin menjadi perenang profesional di tingkat internasional. Jujur saja saya iri. Karena saya dan kebanyakan orang baru tahu apa yang akan kami lakukan setelah dewasa dan bekerja.
Sayangnya, kebanyakan anak-anak tadi ada di latar belakang yang sama. Mereka datang dari keluarga menengah ke atas. Dengan orangtua (terutama ibu) yang cerdas. Saya bilang sayang karena tidak semua anak seberuntung mereka. Saya kerap kali menemui orangtua yang menitipkan anaknya ke sekolahan. Mereka berpikir kalau sekolah akan mendidik anaknya. Sebagian orangtua yang saya tahu berpikir jika anaknya berprestasi secara akademis, mereka akan mendapat pekerjaan yang baik.

Sepertinya, hidup tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah formal. Juga ada banyak hal yang diajarkan di sekolah tidak berguna untuk hidup.
Saya sering bertemu dengan orangtua yang kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Menurut saya, hal tersebut masih lumayan. Setidaknya mereka akan berusaha mencari informasi cara mendidik anak. Lebih banyak lagi orangtua yang hanya sekadar mengikuti insting atau meniru cara orang disekelilingnya mendidik anak.

Anak dan menggambar

Saya berkali-kali melihat orangtua membelikan barang mahal untuk anaknya. Hal tersebut merupakan cara menunjukkan kasih sayang. Mereka tidak sadar jika hal tersebut akan membentuk anaknya menjadi materalistis. Menilai segala hal dengan uang. Ironisnya, untuk membayar barang-barang tadi banyak orangtua yang terlalu sibuk bekerja. Dan menitipkan anaknya kepada pembantu. Bagaimana dengan Anda? Tipe orangtua seperti apakah Anda? Atau jika belum punya anak, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang cerdas?

Read A Loud di TK Pembina

Bulan lalu, Mbak Kantri mengirim pesan. Ia bertanya apakah komunitas Goodreads Indonesia wilayah Jogja membacakan buku di sekolah. Mbak Kantri kemudian bercerita. Ia sedang mencari teman untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Selama ini, mendongeng untuk anak-anak biasanya hanya mengandalkan lisan. Ia ingin ada kegiatan membacakan buku dengan menarik, supaya anak-anak menyukai buku. Ibu yang dulu pernah mengajar di Lazuardi Global Islamic School ini percaya kalau anak usia dini perbendaharaan katanya terbatas. Mereka membutuhkan benda yang nyata atau peraga visual untuk memahami apa yang diceritakan.

Membaca bukuObrolan tersebut berlanjut di Ma-Buk, acara bulanan GRI Jogja yang isinya makan-makan sembari bertukar cerita seputar buku. Mbak Kantri menawarkan untuk memulai kegiatan baca buku tersebut di TK Pembina, Umbulharjo. Ia berharap supaya acara tersebut menjadi kegiatan rutin.

Kami kemudian bertukar cerita tentang budaya membaca di Indonesia. Buku baru dianggap sebagai hal penting bagi segelintir orang. Banyak yang berpendapat gemar membaca itu bukan hal yang perlu. Ironisnya, kadang pendapat tadi muncul dari orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan. Tahun lalu, saya pernah punya kegiatan membacakan buku di sebuah penitipan anak. Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola penitipan anak tersebut menghentikan kegiatan itu. Alasannya, membaca buku tidak ada di kurikulum.

Mendongeng untuk anak
Tidak sekali dua kali saya menemui anak-anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran. Orangtua masih berpikir hal tersebut membuang waktu. Mbak Dewi bercerita jika di sekolah anaknya ada buku-buku cerita untuk dibaca sebagai selingan. Berbeda dengan jaman ia kecil atau mungkin sekolah lain. Guru akan menyita jika ada yang ketahuan membawa buku cerita ke sekolah. Padahal, buku itu sumber ilmu pengetahuan. Membiasakan menyukai buku-buku berat harus dimulai dari menyukai buku-buku yang sederhana dahulu. Dan hal tersebut ditanamkan sejak kecil.
Akhirnya, kami memulai kegiatan membacakan buku tanggal 15 September lalu. Sebenarnya, ada 14 orang yang konfirmasi datang. Sayang, kami lupa mengingatkan mereka beberapa hari sebelum acara. Ada 7 orang yang datang untuk membacakan buku. Karena beberapa relawan datang terlambat, kami memulainya di satu kelas saja. Supaya masing-masing relawan tidak kerepotan menghadapi terlalu banyak anak. Kami tidak menyangka jika anak-anak di sana antusias dengan buku.

Pendidikan usia dini
Seusai membacakan buku, beberapa teman berpikir sepertinya kegiatan ini perlu dilanjutkan. Hal tersebut akan dibahas saat Ma-Buk akhir bulan ini. Rencananya, kami akan memanen sayuran organik di Taman Bacaan Mata Aksara. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 13,5. Ada yang tertarik ikut? Jika ada lebih banyak orang, kegiatan ini bisa berjalan rutin. Hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com untuk agenda berikutnya. Atau, silahkan bergabung di grup https://www.facebook.com/groups/179962022020876/ untuk info Ma-Buk berikutnya: Ayo berteman sambil merayakan buku 🙂

Drama itu Cukup Ada di Sinetron Saja

Saya selalu berusaha sibuk atau keluar kota saat seorang kenalan, sebut saja Bunga ingin bertemu. Bukannya sombong, lama-kelamaan saya bosan mendengarkan tragedi hidupnya. Mulai dari punya pacar playboy tapi dia terlanjur cinta mati, ibu yang hobi mencela apapun tindakannya, juga teman-temannya yang menikam dari belakang. Untuk mendukung ceritanya, tidak jarang Bunga menangis tersedu-sedu. Kalau sedang baik hati, saya jadi pendengar yang baik. Kalau sedang kumat sinisnya, saya hanya berkomentar: “Kamu ke psikolog saja deh”. Ditambah dengan ceramah standar: “Hei, di dunia ini ada lebih dari 7 milyar orang. Banyak yang anggota tubuhnya tidak lengkap atau dibuang orangtuanya tapi tidak secengeng kamu.”

Dan, orang yang saya kenal hobi mengasihani diri sendiri bukan hanya Bunga. Hampir tiap minggu ada kenalan atau teman yang tahu-tahu mengirim pesan tentang kisah sedihnya. Mulai dari aku sakit lo, tadi tidak sempat makan karena terlalu keras bekerja, sampai seorang istri yang masih belum bisa melupakan mantan suami padahal ia sudah menikah lagi. Apa hubungannya dengan saya?

Kata teman saya, ada orang-orang punya kecenderungan menjadi drama queen. Ia kemudian bercerita tentang seseorang yang pernah membuat heboh teman sekantor gara-gara pura-pura buta. Si mbak ini juga pernah beberapa kali meminta teman-temannya datang ke acara ganti agama hanya untuk mendapat perhatian.
Kalau mengutip dari Physyc Central, penyakit ini namanya hisrionic personality. Definisinya begini:
Histrionic personality disorder is characterized by a long-standing pattern of attention seeking behavior and extreme emotionality. Someone with histrionic personality disorder wants to be the center of attention in any group of people, and feel uncomfortable when they are not. While often lively, interesting and sometimes dramatic, they have difficulty when people aren’t focused exclusively on them.
Itu histeria kelas berat yang sudah masuk dalam kategori sakit jiwa. Ada juga histeria ringan yang sering kita temui di sekitar kita. Bisa jadi kita termasuk di dalamnya. Pengidap histeria ini sering menampilkan dirinya sebagai “korban” atau “ratu”. Entah kenapa, pelakunya lebih banyak perempuan. Mungkin karena perempuan cenderung makhluk sosial yang butuh pengakuan dari orang lain? Balik ke ratu atau raja drama, bukankah tiap hari media sosial kita penuh tukang sampah yang berkeluh kesah. Orang-orang ingin mengabarkan pada dunia kalau dirinya orang paling malang sedunia. Atau orang-orang yang memiliki pencitraan ini lo saya, mahluk keren karena melakukan ini dan itu.
Waktu makan malam dengan teman, kami menganalisis (ini bahasa keren dari merumpi) tentang beberapa kenalan kami yang hobi menjadi pusat perhatian. Ada yang suka menelfon atau meminta pertolongan lawan jenisnya tanpa alasan jelas. Dan, entah kenapa, orang-orang yang kami absen ini populer di komunitasnya atau di dunia maya. Mereka punya kegiatan sosial dan sering mendapat pujian karena hal tadi. Beberapa bahkan pernah mendapat penghargaan untuk aktivitas sosialnya. Yang kalau dilihat lebih dekat, kegiatan sosialnya tidak sehebat koar-koarnya di dunia maya. Saya tidak tahu mereka sadar atau tidak, orang-orang ini suka memanipulasi orang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka juga suka menyenang-nyenangkan orang lain dengan harapan mendapat perhatian.

Kasihan ya Indonesia. Pantas Indonesia tidak maju-maju. Pada sibuk mendapat nama supaya kelihatan keren dan menjadi pusat perhatian. Biasanya, drama queen atau king ini hanya mau membantu saat ia diuntungkan. Ia juga hanya mau mendengar hal-hal yang berkaitan dengan dirinya atau kelompoknya.

Anak Papua

Ada banyak teori mengenai kenapa seseorang punya kepribadian histeria. Kepribadian ini tidak disebabkan oleh hal tunggal. Kemungkinan paling besar perilaku tersebut efek dari perlakuan orangtua atau lingkungan terdekat pada usia belia. Iya, karena kepribadian seseorang terbentuk pada masana kanak-kanaknya. Cara seseorang memperlakukan orang lain merupakan proyeksi dari kekurangan yang ia dapat waktu kecil.
Saya kemudian bercerita ke teman, kalau saya tidak menyukai orang-orang yang kami bicarakan tadi. Mungkin, karena saya terbiasa menjadi satu-satunya perempuan atau menjadi yang paling muda di sebuah komunitas atau organisasi. Sepertinya, saya merasa tersaingi saat ada orang lain menjadi pusat perhatian. Mungkin, saya juga punya bakat histeria.

Buku yang Membuat Bodoh

Saat berkunjung ke sebuah taman bacaan bersama beberapa rekan, penjaganya bercerita tentang pengunjung yang tidak lagi datang. Bocah SD tersebut dilarang orangtuanya membaca buku selain buku pelajaran. Menurut orangtuanya, buku cerita hanya akan mengganggu konsentrasi belajar si anak. Harus dihilangkan supaya nilainya baik.

Sering mendengar komentar senada tidak? Atau bahkan pernah ada di posisi bocah SD tadi? Saya juga sempat mengalami hal tersebut. Dulu, orangtua saya melarang membaca komik di luar hari libur. Mendekati ujian, orangtua saya bahkan mengancam akan membakar koleksi komik saya kalau saya menyentuhnya. Berhubung dulu tidak ada larangan main ke rumah teman, biasanya saya pergi berjam-jam untuk membaca buku. Dan, ada banyak rekan mengalami kejadian serupa saat kecil.

belajar membaca

Saya jadi ingat waktu menjadi narasumber di sebuah stasiun radio. Seorang pendengar mengeluhkan budaya membaca yang rendah di Indonesia. Ia menyayangkan hal tersebut karena ada banyak pengetahuan tersimpan dalam buku. Saya menjawab wajar saja kalau budaya membaca rendah. Budaya membaca buku terbentuk dari kebiasaan dan harus diupayakan sejak kecil. Membaca tidak harus dimulai dari mengonsumsi buku-buku berat. Saya jadi teringat waktu akhir tahun lalu harus mengakhiri kegiatan membacakan buku di sebuah tempat penitipan anak. Tahu tidak alasannya? Ibu pengawas tempat penitipan anak tersebut menganggap membaca buku tidak ada hubungannnya dengan kurikulum. Bagaimana membaca bisa jadi budaya kalau begitu?

Dahulu, buku-buku awal yang saya baca juga bukan buku bermutu. Kebanyakan komik yang isinya hanya hiburan dan bisa dibilang tidak mendidik. Tapi, hal tersebut membuat saya tahu buku itu menyenangkan. Semakin dewasa, buku bacaan saya berkembang. Saya mulai meninggalkan komik dan berubah membaca novel. Baru akhir-akhir ini saya tertarik segala macam buku mulai dari antropologi, filsafat, psikologi, sampai geografi. Nah, kalau saat masih kecil saja dilarang-larang membaca, mana mau mereka membaca buku yang lebih berat setelah dewasa.

Membaca buku
Kenapa ada pelabelan buku yang boleh dibaca dan tidak untuk anak-anak? Banyak orangtua yang memaksa anak-anaknya menghapal buku pelajaran yang bisa meningkatkan nilai anaknya di sekolahan. Tapi tidak untuk semua buku di luar hal tadi. Sebagian besar orangtua terlalu khawatir tentang masa depan anaknya. Mereka was-was kalau anaknya tidak mendapat sekolah yang baik, saat dewasa mereka tidak akan mendapat pekerjaan yang baik. Yang nanti tidak cukup untuk membayar tagihan dan biaya hidup yang semakin melambung.

Berhubung pendidikan di Indonesia masih menganut sistem menyediakan pekerja untuk industri, ada kasta dalam kurikulum. Hal-hal ilmu komputer, kedokteran, fisika, dan teknik menjadi lebih tinggi daripada seni atau bahasa yang katanya “tidak punya masa depan cerah”. Buntutnya, sekolah kemudian mencetak orang-orang yang tidak peka dengan kondisi lingkungannya. Karena mereka tidak diajar untuk berpikir tentang siapa dirinya. Juga apa yang harus ia lakukan untuk menyikapi lingkungannya.

Bermain di Museum Dirgantara

Horee… Jadi penjaga anak paruh waktu lagi. Sabtu kemarin, Mbak Tita dari Matatours mengundang anak-anak di Tempat Penitipan Anak Bringharjo untuk jalan-jalan ke Museum Dirgantara. Berhubung rencananya  sudah diumumkan sekitar dua bulan lalu, guru-guru TPA memakai acara tadi untuk “menjinakkan” anak-anak. Jadi, tiap kali ada yang berantem atau ribut parah, beberapa guru mengancam. Yang nakal nggak boleh ikutan pergi lihat pesawat. Lumayan bikin krucil-krucil yang lucu itu nurut. 😀

ImageAslinya, kami janjian berangkat jam 8.30. Supaya nggak ngaret dan tunggu-tungguan, kami yang mau nemeni main sengaja datang jam delapan. Ternyataa… mereka sudah siap sejak tadi. Tapi, tetep aja berangkatnya butuh waktu lama. Nggak gampang ngajakin anak-anak umur dua sampai lima tahun yang jumlahnya 50 orang itu. Pas jalan ke bus yang diparkir dekat Benteng Vredenburg, turis-turis yang lewat pada gemes sama mahluk-mahluk kecil ini. Ada yang iseng megang kepala, nyubit, sampai moto.
Di parkiran museum sudah ada bus-bus besar. Halaman luarnya sesak dengan rombongan sekolah. Kalau dilihat dari mobilnya, banyak yang dari luar kota. Berhubung dalam museum pasti penuh dan nggak asik kalo berjubelan, Mbak Tita ngajakin main di luar dulu.

Niat awalnya, kita mau duduk-duduk di dekat salah satu pesawat sambil menggambar bersama dan baca buku. Baru sejam kemudian pas museumnya mulai sepi, kita masuk. Ternyata… kali ini anak-anaknya cepat banget selesai menggambarnya. Habis itu mereka juga bosen dibacain buku. Akhirnya, isinya jadi acara bebas main-main.

ImageAda yang rame-rame muterin roda pesawat, ada yang nglemparin kodok. Kalo ngelihatin mereka, kayaknya bahagia itu sederhana banget. Susahnya adalah, mereka lari ke mana-mana. Ada satu anak, namanya Ata lari ke selokan. Diikuti teman-teman lainnya. Mereka bengong di pinggir selokan sambil memuji itu sungai yang indah. Saya bingung, mau bilang selokan dan sungai itu beda. Tapi setelah mereka lihatin dengan tampang: memang bedanya seperti apa? Akhirnya saya ngalah. Ya udah, anggep aja itu sungai. Habis itu beberapa anak ngelihatin riak-riak di air yang dibuat sama serangga sambil teriak-teriak “Ada ikaaan. Ada Ikannn…” Saya bingung lagi mo ngejelasin kalau itu bukan ikan.

Akhirnya, kami masuk juga ke dalam museum. Supaya nggak ilang, adik-adik tadi dibagi dalam lima kelompok. Masing-masing kelompok jalan bareng-bareng sambil bikin ular-ularan. Supaya nggak bosen, kita nyanyi-nyanyi naik kereta api.
Di dalam museum, anak-anaknya pada heboh tiap kali lihat pesawat-pesawat yang besar. Foto di dinding, miniatur seragam, atau pesawat kecilnya dicuekin. Ruang yang paling menarik buat mereka itu hanggar yang isinya pesawat-pesawat kuno. Pada seneng dan berebut buat naik helikopter, reruntuhan pesawat, sama truk-truk kuno. Sayangnya, hanggar tadi atapnya dari seng. Panasnya ampun deh. Kita yang gede-gede nggak kuat terlalu lama di dalam. Akhirnya, kami ngajakin mereka pindah ke ruang berikutnya.
Sayang, ruangan berikut yang isinya maket-maket nggak terlalu menarik buat para balita ini. Akhirnya kami pergi ke ruang audio visual. Pas mau masuk, kami kalah cepat sama rombongan dari SD. Mereka sudah menduduki semua kursi di ruangan. Kita ngalah deh trus pada duduk di lantai.

ImagePas lampunya dimatiin, anak-anak SD tadi pada jejeritan lebay. Si Bapak yang muter film sampai ngancam filmnya nggak bakal dimulai kalo nggak berhenti teriak. Kami, sempat khawatir kalo adek-adek TPA takut dan nangis, ternyata enggak.
Film dimulai dan penonton mulai tepuk tangan. Ceritanya tentang pesawat-pesawat yang berakrobat di udara dan bikin formasi. Selama lima belas menit film diputar, ruangan berkali-kali penuh suara kagum dan tepuk tangan.

Kami pun keluar dan mulai makan siang. Menunya nasi kuning yang dibuat sama asisten rumah tangganya Mbak Tita. Sehabis makan, bus yang bawa kami pulang belum datang. Anak-anaknya mulai lari ke mana-mana. Berhubung ibu-ibu yang tadi ngawal mereka dah kecapean. Gantian saya, Phie, dan Bayu yang nungguin. Ribut banget oi. Pada rebutan pengen naik jeep dan minta digendong karena nggak bisa manjat. Jadilah kami gantian menggendong krucil-krucil. Awalnya sih nyenengin. Lama-lama capek juga. Baru kerasa pagi setelah bangun tidur besoknya. Lengan saya sakit. Akhirnya, busnya datang juga setelah sejaman ditunggu. Pulang deh.

ImageUntuk teman-teman yang tertarik menemani anak-anak di Tempat Penitipan Anak Beringharjo di hari sabtu, hubungi saya di Lrwahyudyanti[at]yahoo.com? Untuk sementara, baca buku dan menggambar di TPA baru rutin tiap sabtu minggu ketiga. Kadang, ada acara lain di luar itu. Teman-teman juga bisa membantu kami dengan cara mengumpulkan buku anak bekas.

Suatu Hari Di Tempat Penitipan Anak Beringharjo

Sabtu kemarin, teman-teman dari Goodreads Jogja main-main di Tempat Penitipan Anak yang lokasinya di selatan Pasar Beringharjo. Kami ditemani Mbah Bad yang membawa perpustakaan keliling motor milik Mata Aksara.

306090_10151579939521011_584013613_n

Acara dimulai sekitar pukul sepuluh. Waktu kami masuk ke ruang tengah, sudah ada sekitar 40an anak duduk rapi dan manis. Saya sempat agak bengong juga karena sebagian besar anaknya umurnya sekitar dua tahunan. Padahal, beberapa minggu sebelumnya waktu ke sana, sepertinya anak-anak di sana rada gedean. Jadi lebih mudah kalau diajak menggambar dan membaca.

Saya sempat agak grogi waktu membuka acara. Entah kenapa, anak-anaknya pada anteng-anteng banget. Hening gitu. Padahal biasanya saya dicintai dan populer di kalangan anak-anak kecil lo 😀 Halah. Anak-anak tadi baru ngasih respon setelah Ari masuk ruangan. Mungkin, Ari mirip boneka beruang ramah jadi disukai anak-anak.

Adek-adek TPA mulai tertarik bermain saat Dody ngajak mereka buat main-main. Kami berhitung sambil menyanyi bareng-bareng. Semua anak berpasang-pasangan sambil menyanyi. Mbak Dewi, Meita, dan Sofi, dan saya ikut-ikutan menyanyi. Kita cuek-cuek aja meski nyanyiannya salah-salah. Mas Valen dan Ari muter-muter buat moto.

Habis itu, adek-adeknya dibagi supaya lebih gampang saat dibacain buku. Sempat ramai, waktu kita nurunin buku-buku pinjeman dari Mata Aksara, adek-adeknya pada nggak sabar milih buku. Sesi ngebagi kelompoknya jadi agak berantakan.

30541_10151579939106011_2109619045_n

Tapi senang juga. Nggak nyangka, biasanya, kalau saya punya kegiatan dengan anak-anak kecil, mereka lebih tertarik diajak main bersama. Buku itu pilihan terakhir.

Kami lalu dibagi dalam empat kelompok untuk bacain buku buat adek-adek ini. Tapi banyak juga yang ambil buku sendiri buat dilihat-lihat gambarnya. Setelah bosan baca buku, kami menggambar bersama. Ken Terate dan Niken Anggrek datang untuk ikutan baca buku.

7286_10151579939986011_1850016567_n

Sebelum pulang, Bu Tini, pengelola TPA nanya, bisa nggak acara ini diadakan rutin. Secara pribadi sih saya tertarik kalau ini bisa jadi kegiatan rutin. Sebelumnya, beberapa teman di Goodreads juga melontarkan ide soal punya kampanye baca yang berlanjut. Jadi, siapa aja yang tertarik bikin acara ini lagi? Bikin supaya jadi kegiatan rutin sekali sebulan yuk.

Foto dari kamera Dody Wibowo