Topeng Lara

Neta meraih majalah remaja yang baru saja diantarkan tukang koran dengan malas-malasan. Ia kemudian duduk di kursi ruang tamu dan mulai membaca. Sampul majalah tadi memperlihatkan seorang gadis cantik seumuran dirinya sedang tersenyum di bawah poster besar sebuah film yang baru saja dibintanginya. Neta langsung membuka halaman tempat wawancara dengan model cantik bernama Kartika Larasati tadi.

“Saya sih seneng banget dapat kesempatan main film. Saya jadi punya kesempatan untuk membuktikan saya juga memiliki bakat akting. Awalnya, saya tidak menyangka kalo Om Pras (Anindito Prastomo, sutradara film—red) menawari saya. Bingung juga. Saya sempat menolak, takut kalo hasilnya mengecewakan. Tapi rasanya sayang melewatkan kesempatan. Belum tentu ada lagi yang mau menawari saya.”

Neta tersenyum membaca wawancara tadi. Ia meneruskan membaca. Isinya tentang wartawan majalah yang memuji-muji Lara sebagai seleb yang rendah hati, murah senyum, pintar, dan lain-lain. Nih orang muna banget. Neta mulai menggeleng-gelengkan kepala saat membaca aktifitas Kartika Larasati yang baru saja diangkat menjadi duta HIV/ AIDS.

Belum selesai Neta membaca majalah, terdengar suara seseorang memanggilnya. Tak lama kemudian masuk seorang gadis berambut ikal muncul. “Haiiiiii….. Jadi jalan-jalan ga?”

Neta menoleh ke arah suara tadi. “Hallo. Siapa suruh kamu masuk?”

Gadis tadi langsung nyelonong duduk di samping Neta dan menarik majalah yang sedang dibacanya.

“Sejak kapan aku butuh permisi kalau ke rumah kamu? Majalah di rumahku belum datang, kok tempatmu sudah? Eh, aku cantik ya?”

Neta menatap Lara, “Aku heran, kok bisa-bisanya cewe kaya kamu ditulis seleb yang rendah hati, dan banyak sanjungan yang engga banget.”

Lara tertawa dan membaca keras-keras artikel mengenai dirinya. “Saat ini, Kartika termasuk seleb yang mementingkan urusan sekolahnya. Ia sering menolak tawaran syuting atau pemotretan jika bertabrakan dengan jadwal sekolahnya. Cewek cantik yang satu ini jago lho di sekolahnya! Rangkingnya engga pernah lebih dari lima besar.”

Neta menggeleng-gelengkan kepalannya. “Seingatku. Aku kenal kamu lebih dari sepuluh tahun. Kita juga sekelas pas SD dan SMP. Menurutku, sekitar delapan puluh persen berita dalam surat kabar tadi boong banget. ”

“Bukan boong. Tapi jaga image. Seleb mana sih yang engga pernah nutupin aibnya.” Lara kemudian melemparkan majalah tadi ke meja. “Jadi nemenin aku belanja ga? Ntar aku traktir makan.”

***

Mereka kemudian pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Lara menarik tangan Neta ke arah restoran fastfood.

“Nggak mau ah. Aku nggak suka makanan nggak sehat,” tolak Neta.

“Tapi aku belum sarapan.”

“Ke warung di depan jalan aja yu? Aku pengen makan gado-gado.”

Lara mengikuti saran Neta. Tak lama kemudian, keduanya duduk di bangku kayu warung gado-gado yang terletak di samping tempat parkir pusat perbelanjaan tadi.

“Kenyang…” kata Lara sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia kemudian menegakkan punggung dan mengambil sebungkus rokok dari tas mungilnya.

Neta terbelalak saat melihat Lara mulai mengisap rokoknya, “Sejak kapan kau merokok?”

“Barusan,” jawab Lara enteng.

“Bukannya kamu tahu, ngerokok itu engga baik untuk kesehatan? Kau sendiri bilang Papa kamu meninggal gara-gara penyakit paru-paru.”

“Papa kan perokok berat. Aku cuma kalo lagi pengen aja,” bela Lara.

Neta menatap Lara. Banyak hal yang berubah dari dirinya sejak menjadi model. Dulu… Neta masih ingat saat pertama kali Lara pindah ke sekolahnya waktu kelas lima SD. Lara menangis karena ditinggal ibunya. Neta sebagai ketua kelas berusaha mendiamkannya. Neta juga pindah duduk di bangku sebelah Lara. Lara kecil sangat pemalu dan takut bertemu banyak orang. Ia selalu menundukkan badannya. Ia sering diejek karena terlalu tinggi. Berbeda dengan Lara yang sekarang. Ia sangat penuh percaya diri dan tidak takut lagi saat harus tampil di muka umum.

Lara anak pertama dari dua bersaudara. Ia memiliki seorang adik laki-laki. Sejak kecil, Lara dimasukkan ke les modeling dan menyanyi. Kata Lara, dulu mamanya ingin jadi artis tapi tidak kesampaian. Mamanya hanya bisa jadi penyanyi di café-café dan pertunjukan-pertunjukan kecil tiap malam tahun baru atau peringatan Agustusan. Dan sekarang, ia menyuruh anaknya meraih semua mimpi yang dulu gagal ia raih.

“Kartika ya?” tanya dua orang gadis.

“Bukan. Nama saya Lara.”

Kedua gadis tadi pergi sambil berbisik-bisik. Neta mendengar sepenggal percakapan mereka. “Tu. Bukan. Cuma mirip. Mana mungkin Kartika pake baju seperti itu. Makan di warung pinggir jalan dan merokok lagi.”

Neta menatap Lara. Hari ini ia mengenakan t-shirt yang sangat kedodoran dan celana jeans belel yang usianya lebih dari empat tahun. Rambut keritingnya diikat berbentuk cepol. Rara terlihat sangat berbeda dengan penampilannya di televisi atau di majalah.

“Denger nggak tadi mereka ngomongin apa? Aneh, masa mentang-mentang aku model, aku harus pake baju rapi trus pake make-up tiap hari. Siapa juga yang mengharuskan kalo model nggak boleh makan di pinggir jalan?” Lara mengembuskan rokoknya. “Udah yuk. Jalan.”

Lara dan Neta berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka tampak sangat kontras. Lara yang tingginya 176 senti dengan baju kucelnya beriringan dengan Neta yang mungil dan memakai rok putih berenda-renda.

“Eh liat. Ada sepatu lucu banget.” Rara menarik Neta ke arah counter sepatu.

“Bagus nggak?” kata Lara sambil menunjukkan sebuah sepatu lari berwarna kuning menyala.

Neta meraih label harga. Tertulis angka 759.000 rupiah. “Kau mau beli?”

“Ya.”

“Nggak sayang tu. Warnanya sulit dipaduin sama baju-baju kamu. Trus bukannya bulan lalu kamu baru saja beli sepatu lari?”

“Ga pa-pa. Aku ada duit kok.”

“Masalahnya bukan kamu punya duit apa engga. Kamu tu nggak butuh. Akhir-akhir ini kamu sering beli barang gara-gara laper mata. Sayang. Daripada buat beli sepatu mending kau sumbangin ke mana gitu. Di Indonesia ada lebih dari empatpuluh juta keluarga yang penghasilan sebulannya kurang dari harga sepatu tadi. Mending uangnya ditabung.”

Lara mengembalikan sepatu tadi ke tempatnya sambil mendengus. “Apa gunanya sih punya duit tapi engga boleh dipake?”

Neta diam saja melihat Lara yang mulai uring-uringan. Akhir-akhir ini memang Lara mudah marah. Mungkin dia terlalu capek dengan bermacam kegiatan. Dalam seminggu ia harus menjalani belasan pemotretan dan pengambilan gambar. Masih ditambah lagi harus belajar untuk sekolah dan les.

“Kau baik-baik aja?”

“Maksudmu?”

“Tingkah kamu akhir-akhir ini aneh.”

“Aku bosan. Aku pengen berhenti jadi model. Tapi engga dibolehin sama Mama. Mama bilang, aku engga bersyukur dikasi tubuh tinggi dan wajah cantik. Trus Mama juga bilang dia engga sanggup ngebiayain aku kuliah. Jadi aku harus cari duit sendiri.”

Neta diam saja saat Lara mulai mengeluh. Mulai dari jadwalnya yang padat hingga ia jarang tidur siang. Beberapa teman SMUnya yang selalu menganggapnya seleb sombong dan tidak pernah mau ikut acara sekolah. Dan lain-lain. Pantas kamu sekarang jadi keranjingan belanja. Aslinya kamu tu bosan dan butuh pelampiasan. Sayangnya belanja itu engga nyelesaiin masalah. Kamu malah jadi semakin bermasalah karena punya penyakit baru: Ngabisin uang untuk sesuatu yang engga berguna! Hal ini bisa bikin kamu semakin terikat sama uang. Gimana kalo nanti kamu dah nggak laku lagi jadi model?

Neta menatap wajah cantik Lara yang murung. Dulu, ia sering iri. Lara memiliki kulit putih, hidung manjung, dan bulu mata yang lentik. Wajahnya unik karena ayahnya keturunan Arab. Neta juga pernah iri waktu Lara memenangan lomba kecantikan yang diadakan sebuah majalah remaja. Berkat lomba itu, Lara menjadi model ekslusif untuk sebuah produk kosmetik remaja terkenal. Dan secara berturut-turut, Lara ditawari menjadi bintang iklan sampai main sinetron. Malah, kemarin ia baru saja meluncurkan sebuah film layar lebar. Tapi ternyata, hidup Lara tidak semenyenangkan yang Neta pikirkan.

Neta juga berfikir. Jangan-jangan semua selebritis yang ia baca di majalah, koran atau dengar beritannya di televisi seperti Lara? Terlihat penuh senyum dan gembira di foto, vidio klip, atau iklan dengan wajah cantik hasil berjam-jam tersiksa di salon. Tapi sebenarnya mereka sangat bosan dengan aktifitas sehari-harinya. Sampai banyak selebritis terlibat dengan kecanduan minuman keras dan obat-obatan. Bukankah kedua barang yang merusak tubuh itu hanya dikonsumsi oleh orang-orang yang tidak bahagia? Orang-orang yang butuh pelarian dari hidupnya yang tidak menyenangkan? Neta teringat cerita Lara tentang beberapa temannya sesama model yang pemabuk atau pecandu narkoba.

Lucunya, hal-hal buruk tentang para model tadi jarang diungkap media—kecuali kalau mereka tertangkap polisi saat membawa obat. Berita-berita di media massa sering menyanjung para selebritis yang dengan mudahnya menghasilkan uang untuk membeli baju bermerk dan mobil mewah. Seolah-oleh seleb itu mahluk hebat yang layak ditiru gaya hidupnya.

Hal yang sama juga terjadi pada Lara. Neta sering membantunya mengumpulkan kliping tentang Lara dari koran dan majalah. Biasannya berita-berita tadi terlalu melebih-lebihkan. Lara tidak sebaik dan sekeren yang diberitakan. Sering kali mereka berdua tertawa terbahak-bahak tiap kali membaca berita tersebut. Banyak orang tertipu dengan citra yang sengaja Lara perlihatkan di depan umum. Lara yang sebenarnya hanya seorang gadis yang kesepian karena tidak punya banyak waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Harus berpura-pura ramah dan tersenyum pada semua orang. Dan tertekan karena mamanya terlalu terobsesi memiliki anak yang terkenal.

Lara yang dulu gadis sederhana, kini menjadi Lara yang seenaknya. Kadang, Lara sendiri selalu ingin menjadi yang terbaik. Ia tidak pernah rela dikalahkan orang lain. Ia tidak pernah mau bertemu gadis lain yang lebih cantik dari dirinya. Ia selalu mencari-cari kesalahan atau kejelekan gadis cantik lainnya. Bukankah itu tanda bahwa ia sebenarnya tidak bahagia dengan hidupnya? Neta pernah ingin menasehati Lara. Tapi ia malu. Kadang dirinya sendiri juga memiliki sifat iri. Dan diantara semua gadis di dunia ini, ia paling iri dengan teman dekatnya sendiri—Lara.

Iklan

Mimpi-mimpi Arietta

Sudah setengah jam Arietta duduk di depan laptop mungilnya. Ia bingung. Guru Bahasa Indonesianya memberikan tugas mengarang dengan tema “Siapa aku? Dan apa yang akan aku lakukan di masa yang akan datang.” Hanya ada satu paragraf pendek terketik di monitor.

Namaku Arietta Tambunan. Bulan Januari nanti, aku berusia 17 tahun. Setelah lulus SMA nanti, aku ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada. Aku ingin mengambil jurusan kedokteran supaya nanti bisa menjadi dokter. Kenapa? Karena ayahku seorang dokter dan direktur sebuah rumah sakit. Ayah ingin aku dan kakakku meneruskan profesinya. Saat ini kakak bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI dan sedang menyelesaikan skripsinya.

Cuma segini? Pendek dan jelek banget. Protes Arietta dalam hati. Bu Indri pasti mikir lamaa…. banget untuk ngasih nilai ke karangan ini. Kayaknya, nilai lima saja sangat, sangat, sangat, belum layak. Aduhhh… kenapa sih harus ada tugas mengarang.

Arietta kemudian memasukkan lagu-lagu baru ke play list Musicmatch-nya. Dalam hati ia bertanya: Apa benar aku ingin menjadi dokter? Sepertinya itu keinginan orangtuaku.

Arietta melamun. Ia ingat Ayahnya yang dokter dan direktur sebuah rumah sakit bersalin. Ayah sangat ingin semua anaknya meneruskan pekerjaannya. Oh iya, aku bisa menambah cerita tentang awal keinginanku menjadi dokter.

Ayahku seorang dokter. Ia juga direktur rumah sakit di daerah Tebet. Waktu aku masih kecil, ayah sering mengajakku pergi ke rumah sakitnya. Di sana aku menemani Ayah membaca-baca berkas pasiennya. Aku juga sering berkeliling. Melihat-lihat banyak hal. Mulai dari ibu-ibu hamil yang diantar suaminya sampai ibu-ibu yang didorong dengan tempat tidur beroda ke ruang operasi.

Arietta membaca ulang rangkaian kata yang ia hasilkan. Paragraf ini kelihatan aneh! Kayaknya nggak terlalu nyambung. Bagian mana ya yang harus diubah? Aduuhhh… Arietta mengeluh dalam hati. Ia jarang sekali menulis, nyaris tidak pernah malah. Sekarang ia kebingungan saat harus menulis.

Arietta kemudian teringat kata-kata Bu Indri. Ibu ini selain mengajar Bahasa Indonesia juga menulis. Tulisannya bermacam-macam dan tersebar di banyak koran, majalah, dan jurnal. Kebanyakan tentang kebudayaan, pendidikan, hingga cerpen. Bu Indri selalu berkata, jika ingin menulis, tulis apa saja yang ada dikepalamu. Jangan berfikir tulisan itu jelek. Tulis saja. Curahkan semuannya. Nanti setelah selesai, baru baca ulang tulisan tadi dan perbaiki. Kepandaian mengarang itu tidak sekali jadi. Orang harus banyak berlatih untuk menjadi ahli.

Arietta kembali ke karangannya. Ia membuat karangan baru.

Namaku Arietta Tambunan. Aku anak terakhir dari dua bersaudara. Aku tinggal bersama orangtua dan kakak laki-lakiku di sebuah perumahan mewah di Permata Hijau. Aku dan kakakku sangat beruntung karena memiliki seorang Ayah yang bekerja sebagai dokter sekaligus direktur sebuah rumah sakit bersalin.

Rumah sakit bersalin milik Ayah sangat ramai dikunjungi orang sehingga Ayah mendapat banyak uang. Ayah ingin suatu hari nanti, kakak dan aku menggantikannya. Saat ini, kakaku bersekolah di Fakultas Kedokteran Umum UI. Ayah juga ingin dua tahun lagi aku memilih jurusan Kedokteran Umum.

Awalnya, aku tidak keberatan. Sepertinya menjadi dokter pekerjaan yang sangat bergengsi di mata masyarakat. Dan aku rasa, aku cukup mampu untuk masuk di jurusan Kedokteran. Aku masuk di kelas aksel dan nilaiku selalu masuk lima besar.

Tapi, kadang aku sering ragu. Apa benar aku ingin menjadi dokter? Waktu aku kecil, aku sering diajak Ayah ke kantornya. Aku selalu kagum melihat Ayah. Ia terlihat lebih keren dengan jubah putihnya. Perawat, asisten dokter, dan semua orang di rumah sakit selalu tampak hormat dan segan jika ayah lewat.

Arietta membaca karangannya, tiba-tiba tangannya ingin mengganti beberapa kalimat yang kelihatan janggal. Bahasanya juga aneh. Tapi ia teringat nasihat Bu Indri. “Tulis apa saja yang ada di otakmu. Mengedit itu bagian terakhir jika tulisan sudah jadi. Jika sebentar-sebentar kamu menganti kalimat karena rasanya ada yang aneh, akan memakan waktu. Kamu bisa lupa apa yang ada di benakmu.”

Tapi kadang aku ingin menjadi seorang arkeolog. Ya. Aku ingin menjadi peneliti yang menggali-gali peninggalan masa lampau. Keinginan ini akibat aku menonton film Indiana Jones. Awalnya, waktu SMP, aku membaca komik Yu Asagiri. Ceritanya tentang petualangan seorang anak perempuan Jepang di pelosok Amerika Latin. Ia memiliki medali bergambar naga yang konon merupakan kunci dari harta karun Suku Indian Maya. Aku sangat terpesona dengan komik itu. Aku bahkan pernah bermimpi menjadi tokoh utama dalam komik tadi. Di belakang komiknya, Yu Asagiri berkata kalau ia terinspirasi dari film Indiana Jones.

Aku kemudian menyewa semua VCD Indiana Jones. Keren Sekali. Ceritanya tentang Indiana Jones, seorang dosen arkeologi tampan yang berkeliling banyak tempat. Mulai dari Mesir, pedalaman India, hingga Benua Asia untuk mengumpulkan benda-benda dari masa lampau. Aku ingin sekali seperti Indy. Bertualang ke banyak tempat terpencil yang indah.

Selama bertahun-tahun, keinginan itu terpendam. Hingga akhirnya aku sadar. Pekerjaan menjadi arkeolog tidak seperti komik dan film yang aku baca atau tonton. Kebanyakan arkeolog menghabiskan waktunya dengan penelitian di perpustakaan. Dan, aku akan sangat tidak menyukainya. Aku benci membaca.

Arietta membaca kembali tulisannya. Tangannya gatal ingin mengganti beberapa kata. Terutama pada bagian peralihan antara keinginannya untuk menjadi dokter berpindah pada arkeolog. Tapi niat itu diurungkannya. Ingat. Tulis. Tulis. Tulis. Karangan ini lebih bagus daripada karangan pertama.

Aku kemudian kembali lagi ke dunia nyata. Aku akan menjadi dokter.

Tapi, akhir-akhir ini aku bertanya pada diriku sendiri. Apa aku benar-benar ingin menjadi dokter? Sepertinya aku takut dan akan pingsan saat melihat darah. Aku juga sering bertanya pada diriku sendiri. Apa alasanku ingin menjadi dokter? Karena pekerjaan itu bergengsi? Entahlah. Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa menolong orang banyak. Menjadi dokter mungkin membantu banyak orang. Tapi jika aku menjadi dokter, aku pasti bekerja di rumah sakit Ayah. Itu berarti, orang harus membayar mahal untuk aku tolong.

Tiba-tiba saja aku berfikir ingin menjadi penulis. Aku ingin seperti Seno Gumira Aji Dharma yang bercerita tentang orang-orang yang tertindas. Atau seperti Pram yang berkisah tentang mimpi dan harapan Kartini yang membuatku ingin menjadi seseorang yang bisa berguna bagi banyak orang. Aku ingin punya tulisan yang bisa membuat seseorang menjadi lebih baik. Aku ingin suatu saat nanti, saat membaca tulisanku, orang akan menangis dan terpacu untuk melakukan sesuatu yang baik.

Aku ingin menjadi pengarang gara-gara terpesona setelah membaca “The Alchemist-nya Paulo Coelho. Buku itu bercerita tentang seorang anak gembala yang mengejar mimpinya untuk mendapatkan harta karun di dekat Piramid. Untuk mengejar mimpinya, Santiago—nama gembala tadi—harus melewati gurun, bertemu perampok. Santiago juga berkali-kali nyaris patah semangat. Tapi ia selalu teringat mimpinya dan berusaha mengejar kembali mimpinya. Ada satu kalimat yang sangat berkesan untukku, kalimat yang diucapkan seorang Raja Tua kepada Santiago, “Jika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta akan bersatu untuk membantu orang itu mewujudkan mimpinya.”

Arietta tersenyum. Ia mulai mendapatkan ide untuk tulisannya. Saat ini ia merasa sangat bersemangat dan ingin mengetik secepat mungkin. Ia tidak peduli dengan terlalu banyak kata yang ia ulang. Pokoknya menulis.

Sebelum membaca buku ini, aku sangat tidak suka membaca. Aku hanya mau membaca komik atau cerpen yang ada di majalah remaja langganan. Aku membaca The Alchemist karena terpaksa. Bu Indri—guru Bahasa Indonesiaku—memberi tugas meresensi novel. Kupilih novel tadi secara acak dari rak di toko buku. Aku benar-benar tidak tahu novel apa yang layak diresensi. The Alchemist kuambil karena melihat tulisan “Best Seller, Diterjemahkan dalam 23 bahasa,” dan ada banyak pujian tentang buku tersebut. Biasanya, buku-buku best seller itu menyenangkan untuk dibaca.

Kubaca buku itu berkali-kali. Aku juga mulai membaca novel-novel lain. Pengarang favoritku: Sidney Seldon. Aku selalu berharap bisa berkeliling ke kota-kota besar di dunia seperti tokoh utama dalam novel-novel tersebut. Bertemu dengan orang-orang pandai dan licik dan mengalami petualangan menegangkan bersama musuh terselubung. Aku suka cara Sidney bertutur. Cara ia menggambarkan pekerjaan tokoh utama dan suasana tempat membuatku merasa cerita itu nyata.

Aku juga menyukai novel-novel Jostein Gaarder. Terutama yang berjudul Mistery Soliter. Ada banyak novel yang menurutku bagus. Seperti: Animal Farm-nya George Orwel, Les Mirables dan Maximum City-nya Victor Hugo, Gadis Pantai karangan Pram, Ca Bau Kan milik Remy Silado, sampai Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kadang, aku sampai menangis terbawa oleh cerita para pengarang tadi. Aku begitu terpesona dengan cara pengarang tadi bercerita.

Aku ingin seperti mereka—pengarang-pengarang tadi. Bukunya dibaca banyak orang di seluruh dunia dan bisa membuat pembacanya terinspirasi. Sayang, aku belum berani untuk mulai menulis. Aku terlalu takut salah dan tulisanku jelek. Padahal, segala sesuatu pasti dimulai tidak langsung sempurna. Sama seperti waktu kita belajar berjalan. Kita pasti jatuh berkali-kali sebelum bisa berjalan. Aku akan menulis dan menulis. Mulai hari ini aku akan mencoba memulainya. Setelah menyelaesaikan tugas ini, aku akan berlatih menulis. Mulai dari menulis hal-hal yang aku alami tiap hari. Hingga suatu saat nanti, aku cukup berani untuk mengirimkan tulisanku ke majalah.

Arietta tersenyum. Ia membaca sejenak tulisannya. Belum bagus. Tapi tidak apa-apa. Arietta kemudian teringat kalau ia memiliki buku Quantum Writing. Ia bertekad untuk membaca buku itu untuk medapat ide mengedit tulisan ini. Ia juga bertekad untuk belajar EYD. Sepertinya, ada banyak salah pemakaian tanda baca ditulisannya. Ya. Aku ingin menjadi pengarang. Untuk itu aku harus mulai menulis.