Infotainment yang tidak menghibur apalagi memberi pengetahuan

Seorang teman di kantor tiba-tiba iseng menyetel TV. Kami yang sedang bosan akhirnya ikut-ikutan menonton. Lebih dari setengah jam, kami menghabiskan waktu untuk melihat acara nggak penting: berita keretakan rumah tangga Farat Abbas. Di layar kaca, sama sekali tidak ada pernyataan dari Farhat atau pun istrinya kalau pernikahan mereka bermasalah. Si pembuat berita seenaknya menafsirkan hal tersebut dari Farhat yang tidak datang ke acara pernikahan putrinya. Aneh bukan? Menyimpulkan sesuatu tanpa ada sumber. Lalu, berkali-kali si pembawa acara menggunakan kata “mungkin”. Setahu saya, itu tidak bisa dikategorikan sebuah berita.

Saya lebih heran lagi karena di Indonesia, acara sejenis itu disebut infotainment. Sepenangkapan saya, info itu artinya sesuatu yang penting atau membuat cerdas. Si A ribut dengan si B, perselingkuhan si C, koleksi tas D, liburan si E, bagian mana yang membuat penontonnya pintar ya? Penting? Tanpa tahu itu pun hidup saya masih baik-baik saja. Lalu kata entertainment. Itu lebih aneh lagi, mendapat hiburan dari kabar perceraian. Yang sakit itu yang meliput atau yang menonton ya?

Sepertinya, hampir tiap hari, stasiun-stasiun TV nasional menayangkan hal tersebut. Karena mengejar rating? Saya lupa siapa yang pernah berkata kalau stasiun TV malas berpikir jika selera pasar bisa dibentuk. Bukankah penonton TV menyukai infotainment karena mereka disuguhi hal tersebut berkali-kali. Seorang kenalan mengiyakan kalimat tadi. Setelah menikah, ia keluar dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga. Di rumah, dia hanya punya dua teman: wajan dan remote TV. Tidak ada pilihan lain (mungkin lebih tepatnya tidak ada ide lain) untuk membunuh waktu sambil menunggu suaminya pulang. Bisa jadi, hal yang sama terjadi di penonton-penonton acara nggak jelas tadi. Hanya karena stasiun TV menyuguhkan. Bukankah sesuatu yang dilakukan berkali-kali akan menciptakan kebiasaan?

Beberapa hari lalu, seorang teman membuka percakapan dengan berita jika Cristine Junsung bercerai lagi. Dengan berapi-api dia berkomentar tentang pernikahan Cristine yang baru berumur beberapa bulan. Ia juga berkomentar mengenai suami Cristine yang umurnya jauh lebih tua. Saya cuma bisa bengong. Teman saya bercerita seolah-olah dia mengenal Cristine! Padahal, bertemu saja belum pernah. Dan sepertinya cerita yang sama bisa kita temui dengan mudah di seluruh Indonesia. Saya cuma berpikir, kalau kita tiap hari sibuk menghabiskan waktu dengan hal tidak penting, kita lupa ada banyak hal penting yang seharusnya kerjakan. Saya percaya, sikap seseorang ditentukan oleh apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Kalau tiap hari diberi tontonan sampah seperti itu, bagaimana Indonesia bisa jadi bangsa yang cerdas?

5 thoughts on “Infotainment yang tidak menghibur apalagi memberi pengetahuan

  1. Hahaha…
    Saya sih jarang liat TV lokal. Paling kalau ada JKT48 aja baru nonton :lol

    Kalau TV lokal sendiri sih sekarang lebih suka nonton acara sejenis Mata Najwa, Kick Andy, dkk.

    Kalau nggak ada acara itu baru beralih nonton NHK World, Discovery Channel, Bloomberg TV.

  2. Ping-balik: Lembaga (yang katanya Sakti) Bernama Media Massa |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s