Susur Pantai Seruni

Gunungkidul punya banyak pantai yang masih alami. Salah satunya Pantai Seruni. Beberapa waktu lalu, saya sampai ke tempat ini karena “kecelakaan”. Waktu itu, saya mendapat ajakan kemping di pantai dari teman-teman Komunitas Canting. Berhubung lama tidak ke pantai, saya langsung mengiyakan tawaran tadi tanpa bertanya di mana lokasinya.

Jumat pukul 3 sore, kami berdelapan sampai di Pantai Sundak. Ternyata, di sini kami hanya akan menitipkan kendaraan kemudian berjalan kaki menyusur pantai selama dua jam ke Pantai Seruni. Saya cuma bengong. Awalnya saya berpikir kami akan kemping santai tanpa capai di pinggir pantai. Bayangan saya, kami hanya akan tidur-tidur ayam sambil menunggu matahari terbenam dan waktu makan. Mulailah kami berjalan menyusuri tepian pantai. Sebentar-sebentarkami harus berhenti karena ombak sore itu cukup tinggi. Saya agak kesulitan berjalan karena sandal yang saya pakai adalah sandal yang lebih cocok untuk dipakai jalan-jalan di kota! Berhubung sandal centil tadi terlalu licin, akhirnya saya memilih untuk bertelanjang kaki. Saat berjalan di batu atau pasir, hal tadi tidak menjadi masalah. Tapi tiap kali saya harus berjalan di atas karang tajam, kaki saya terasa sakit.

Sebenarnya, pemandangan di sebelah kiri saya cantik. Kami berkali-kali melalui pantai kecil berpasir putih dan sepi yang dikelilingi karang-karang tinggi menjulang. Cuma, saya tidak terlalu memperhatikan hal tadi. Selain capai, saya terlalu sibuk berpikir bahwa saya baru saja sembuh. Dan dokter menyuruh saya banyak beristirahat sampai akhir bulan.  Berhubung saya berjalan terlalu lambat, di tengah perjalanan, Azis berbaik hati meminjamkan sandalnya dan membawakan tas saya. Tapi tetep saja saya ditemani Yula, tertinggal jauh dibanding teman-teman yang lain.

Dua jam kemudian, akhirnya kami sampai juga. Beberapa teman langsung berteriak-teriak kegirangan. Pantai Seruni memiliki dua jenis pasir. Bagian atasnya tertutup oleh pasir putih berbutir besar. Di bagian bawah, pasirnya berwarna hitam kelam. Di beberapa bagian, pasir-pasir hitam ini terlihat di permukaan. Warnanya berkilauan cantik tiap kali terkena sinar bulan atau matahari. Pantai ini jarang didatangi orang karena akses ke sana sulit. Ia dikelilingi karang dan bukit dan jauh dari permukiman penduduk. Selama kami berada di sana, hanya ada pencari kerang atau ikan yang lewat. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari sebelah.

Salah satu alasan teman-teman memilih kemping di Pantai Seruni karena di sini ada air bersih. Di ujung pantai ada karang tinggi dengan peralon putih panjang. Peralon tadi bocor di beberapa bagian dan membuat banyak tetesan air. Beberapa cukup besar dan bisa dipakai untuk mengambil persediaan air bersih, menggosok gigi, dan mandi. Hal menyenangkan lain dari pantai ini adalah: di malam hari ada banyak kunang-kunang di sini.

Kami lalu mendirikan tenda di dekat gubuk pencari ikan. Saat dibuka, kami gembira karena mendapat tenda pinjaman yang masih baru. Tapi ternyata… tenda tadi agak ribet untuk dipasang. Ada terlalu banyak tali dan kait. Bayangkan, butuh waktu sekitar satu jam ditambah kehilangan 4 buah patok untuk bisa membuat tenda tadi berdiri. Catatan penting! Lain kali kalau meminjam tenda sekalian bawa pemiliknya supaya tidak pusing memasangnya.

Malamnya, Ika mendapat tugas memasak. Dia sempat ragu, karena sepertinya trangia yang kami bawa terlalu kecil untuk memasak nasi sesuai dengan ukuran perut kami berdelapan. Kami kemudian makan malam sambil membuat api unggun. Api yang kami buat lebih banyak matinya dan lebih banyak asap daripada apinya! Satu box kartu yang dibawa Aziz untuk main poker terpaksa kami korbankan untuk menyalakan api. Setelah makan, kami menyanyi dengan diiringi gitar Paman Dori. Entah kenapa, tiba-tiba kami melupakan banyak lagu. Kami lebih banyak berteriak-teriak pada bagian reff dan diam di bagian lainnya.

Jam 6 pagi, Yula, Ika, Izzah, dan Rina bermain air di pojokan pantai. Hendra memilih untuk jongkok di atas karang sambil memandangi laut. Sepertinya ia sedang mencari ide untuk membuat video yang bisa mengalahkan popularitas Briptu Norman.

Liburan di pantai ternyata membuat perut cepat lapar. Sekitar jam tujuh, kami masak mie dan makan roti. Setelah mengisi perut, semua teman bermain air. Berhubung niat saya ke pantai hanya ingin bermalas-malasan. Saya memilih tidur-tiduran di dagau milik pencari kerang. Tempatnya menyenangkan: sejuk dan suara ombak masih terdengar dari sini.

Teman-teman yang capai kemudian ikut-ikutan tidur siang sambil menunggu air surut supaya bisa menyusuri pantai. Ternyata air tidak surut sampai siang. Seorang pencari udang datang dan bercerita kalau saat ini ombak sedang tinggi-tingginya. Ia menyarankan supaya kami mengambil jalan darat, kemudian naik ojek ke Pantai Sundak karena air tidak akan surut sampai besok.

Beberapa teman tidak yakin dengan kata “dekat” versi bapak tersebut. Mereka juga takut tersasar karena belum pernah lewat jalan tadi. Akhirnya kami tetap pulang lewat pantai. Setelah berkemas, kami berangkat sekitar pukul setengah empat. Ombak sore itu lebih tinggi daripada kemarin saat kami berangkat. Kami lebih sering berhenti sambil menunggu ombak lewat. Baju saya basah kuyup terkena ombak. Bahkan, saya hampir terseret ombak. Berhubung saya benar-benar capai, akhirnya saya memutuskan untuk naik ojek waktu sampai di pantai terakhir. Saya sampai duluan di Pantai Sundak dan memesan minum juga menyempatkan mandi sembari menunggu yang lain.

Iklan

Kemping oii…

Awalnya, kami bertiga membayangkan akan kemping di pantai berpasir putih yang sepi pengunjung. Sepertinya menyenangkan, seharian tidur-tiduran sambil membaca buku di pinggir pantai. Kalau cuaca cerah, mungkin kami bisa melihat matahari terbit atau tenggelam yang cantik. Setelah bertanya-tanya pada beberapa teman, kami memilih Pantai Wediombo di Gunungkidul.

Pantai Wediombo di pagi hari

Kami berangkat dari Kota Solo sekitar jam 12 siang. Karena berpikir akan menghabiskan banyak waktu kalau menggunakan kereta, kami memilih naik bus. Entah kenapa, bus yang kami naiki sebentar-sebentar berhenti. Angkutan tadi juga berputar-putar di jalan tikus hingga kami baru sampai Jogja sekitar jam 3 sore. Setelah mampir di supermarket untuk belanja bahan makanan, kami naik bus dari Jalan Wonosari.

Sepertinya, kernet bus berpikir kami turis dari jauh saat melihat tenda dan ransel-ransel kami. Ia meminta masing-masing dari kami membayar sepuluh ribu rupiah. Kernet tadi sempat marah saat saya dan teman saya protes karena penumpang lain tidak membayar segitu.

Bus sampai di Terminal Wonosari sekitar pukul lima lebih. Sudah tidak ada lagi bus lain yang menuju Jepitu. Begitu turun dari bus, beberapa sopir angkot sewaan dan tukang ojek mengerumuni kami. Sopir-sopir tersebut memaksa mengantar kami dengan ongkos dua ratus ribu sampai pantai. Ada satu yang gayanya mirip preman mengutit kami sambil menurunkan harga sewa. Nggak ramah banget pokoknya.

Kami hampir memutuskan untuk mencari penginapan dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum besok pagi. Untung saja ada teman yang ibunya tinggal tak jauh dari sana menawarkan sopir untuk mengantar. Saat tahu kami ada yang mengantar, sopir angkot yang ngotot mengantar kami tadi berteriak kesal. Saat menunggu diantar, beberapa tukang ojek bertanya darimana asal kami. Mereka tidak percaya saat saya berkata saya orang Jogja. Setelah saya menggunakan Bahasa Kromo Alus, seorang tukang ojek ngotot berkata bahwa dua orang teman saya pasti orang Vietnam atau Filipina.

Ternyata, Pantai Wediombo tidak sesepi yang kami bayangkankan. Ada banyak rombongan kemping di sana. Kami lupa kalau tiap malam tahun baru, gunung dan pantai pasti penuh dengan rombongan kemping. Pantai juga ramai dengan warung penjual makanan. Ya ampun, tahu begitu kami tidak perlu membawa air minum berat-berat dari kota. Kami memilih untuk menggelar tenda di sebuah warung yang tidak dipakai berjualan untuk menghindari air pasang.

Sebelum makan malam, kami berjalan-jalan di pantai sambil menyalakan kembang api. Saat kembali ke tenda untuk tidur, datang serombongan orang lagi. Mereka membuat api unggun sambil menyanyi di dekat tenda kami. Kami tidak terlalu memedulikan mereka karena ngantuk.

Pagi harinya, pantai ramai oleh rombongan mahasiswa. Batal deh mandi pagi di laut. Kami kemudian memilih untuk sarapan. Tiba-tiba, pemilik warung datang. Kami terburu-buru makan lalu cepat-cepat membereskan tenda dan peralatan masak.

Kami memasang tenda dan menggelar matras di bawah pohon mahoni besar. Mulai pukul sepuluh, ada banyak rombongan dan keluarga datang. Kami bertiga terlihat seperti orang aneh yang kemping ditengah-tengah sekitar 300an orang. Rombongan lain sudah memberesi tendanya dan pulang.

Setelah jam 12 siang, air mulai pasang. Lagi-lagi kami memindahkan tenda. Sore harinya, pasang semakin tinggi dan kami memindahkan tenda lagi.

Pantai mulai sepi setelah pukul lima. Rombongan kami bertambah menjadi sembilan orang saat Jhon dan kawan-kawannya bergabung. Kami beramai-ramai menggelar matras di pinggir pantai sambil membuat api unggun.

Pagi harinya, pantai terlihat lebih menyenangkan karena hanya ada beberapa orang di sana. Senangnya bisa menyusuri pantai yang bersih dari ujung ke ujung tanpa memakai alas kaki. Kami bersembilan kemudian ramai-ramai sarapan dengan menu mie dan kepiting buruan tadi malam.

Setelah kenyang, kami bermain ombak. Seru, karena ombak di pantai ini kencang sekali. Beberapa orang bahkan mencoba surfing menggunakan matras. Permainan berganti menjadi lomba menangkap trangia saat peralatan masak yang hendak dicuci Manying terbawa ombak. Puas bermain air, kami bermain pasir.

Makan rame-rame. Ada yang pakai sumpit, sendok pinjaman, botol minum, dan ranting pohon.

Sekitar pukul sepuluh, pantai mulai ramai. Ada banyak rombongan bus dari luar kota datang dan kami memutuskan untuk pulang.