Sekolah itu (seharusnya) Menyenangkan

Sekolah Alam Ciganjur

Sejak melihat anak-anak yang belajar dengan gembira di Sekolah Alam, saya ingin bertemu perumus metode pendidikan tersebut. Namanya Lendo Novo. Awalnya, ia berkuliah di bidang perminyakan. Ketertarikan Lendo Novo terhadap dunia pendidikan dimulai pada tahun 1989.

Waktu ia dipenjara karena meminta Presiden Suharto turun. Tentara yang menginterogasinya berkomentar “Kalian itu kuliah baru S2 saja sudah berani melawan Pemerintah. Mereka punya mentri-mentri yang gelarnya Professor dan Doktor.” Kalimat tersebut memunculkan serangkaian pertanyaan. Kenapa masyarakat Indonesia menghargai orang berdasar kepintaran, harta, popularitas, atau fisik yang indah? Orang kemudian mencari jalan pintas karena ingin dihargai. Ada yang korupsi karena ingin kaya. Ada yang membeli gelar atau mencontek karena ingin dianggap pintar. Dan orang-orang yang ingin fisik rupawan melakukan operasi plastik.

Lendo Novo kemudian mempertanyakan seperti apakah orang yang paling berharga di mata Tuhan. Sebagai penganut Islam, ia mencari rujukan di Al Quran. Ia menemukan bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang bertakwa dan paling berguna. Lendo Novo kemudian berpikir untuk mengubah cara pandang yang ada di masyarakat. Caranya: melalui pendidikan.

Lendo Novo

Ia kemudian membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju. Lendo Novo melihat Jepang, Jerman, dan Singapura maju karena memiliki sikap-sikap seperti jujur, adil, disiplin, dan bekerja keras. Mulailah ia merancang sebuah sekolah yang 80% kurikulumnya berupa pendidikan karakter. Lendo percaya ilmu seperti Matematika bisa dipelajari kapan saja. Berbeda dengan karakter yang harus dilatih sejak dini. Karena setelah dewasa, sifat seseorang sudah terbentuk dan susah berubah.

Kurikulum sekolah alam mengacu pada Al Quran dan hadis. Ia memperkaya metodenya dengan berbagai bacaan seperti sekolah Toto Chan, Mahatma Gandhi, Paulo Freire dan lain-lain. Intinya, manusia tercipta untuk menjadi kalifah—pemimpin—di muka bumi. Jadi ia harus memiliki kecerdasan dan kemampuan untuk mengelola alam.

Ada 4 pilar yang menjadi dasar pengajaran sekolah alam. Tahu cara tunduk kepada Tuhan, tahu cara tunduk mahluk lain kepada Tuhan, kepemimpinan, dan kewirausahaan. Berbeda dengan sekolah umum yang banyak menghapal, murid-murid sekolah alam lebih belajar lewat praktek. Seperti saat belajar tentang pohon. Mereka akan langsung melihat tumbuhannya. Murid-murid kemudian mengamati bagaimana pohon tersebut hidup dari air dan sinar matahari dan mendiskusikannya. Saat belajar dengan cara tersebut melatih logika seorang anak. Supaya proses belajar terjadi dengan baik, sekolah perlu menciptakan suasana yang menyenangkan.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Sekolah alam pertama berdiri tahun 1998. Kini, metode pembelajarannya diadopsi oleh sekitar 2000 an sekolah. Masing-masing sekolah tersebut mengembangkan kurikulum sesuai lokasi masing-masing sekolah. Saat ini ada School of Universe di Parung yang menjadi semacam sekolah model bagi sekolah alam. Di sana, metode-metode pengajaran diuji terus-menerus.

Saat merumuskan sekolah alam, Lendo Novo ingin membuat sekolah yang menerima keberagaman muridnya. Dulu, Lendo sering dihukum di sekolah karena tidak bisa diam. Orangtuanya bahkan pernah membawanya ke psikiater. Ia juga memiliki kakak yang diffable dan bersekolah SLB. Di sekolah alam, anak yang berbeda seperti dirinya dan kakaknya bisa bersekolah sama-sama. Tanpa dilabeli bodoh atau nakal.

Masih banyak hal belum saya tuliskan di sini. Halaman blog ini terlalu kecil untuk membuat satu tulisan utuh tentang Sekolah Alam. Saya harap, saya akan menuliskan kelanjutan masih perlu melihat praktek pembelajarannya di sekolah. Semoga saya bisa melanjutkan menuliskan hal tersebut.

Iklan

Belajar Menyenangkan di Museum

Museum Jogja Perjuangan

Saya percaya seseorang bisa mengumpulkan lebih banyak informasi ketika ia belajar dengan menggunakan seluruh indranya. Salah satu caranya dengan mengunjungi museum. Beruntung saya tinggal dan besar di Jogja yang memiliki beragam museum. Beberapa diantaranya menarik untuk dikunjungi.

Saya masih teringat saat dua tahun lalu mengajak 50-an murid sebuah penitipan anak ke Museum Dirgantara. Saya dan beberapa teman, menemani balita-balita tersebut belajar tentang transportasi. Di sana, mereka gembira bisa berlarian sambil menyentuh pesawat. Beberapa bahkan bisa dinaiki. Kami berteriak-teriak kagum saat melihat film tentang sekelompok penerbang. Seusai berkeliling, kami menggambar bersama. Anak-anak tersebut kemudian menceritakan kembali pengalamannya melihat benda-benda yang bisa terbang itu.

Museum Dirgantara Jogja

Museum perlu penataan yang cantik untuk membuat orang terkesan. Hal tersebut membuat pengunjungnya mengajak orang lain untuk datang. Museum Kolong Tangga merupakan salah satu museum yang kerap saya promosikan. Saya pernah mengajak editor Koran Tempo Makassar ke tempat tersebut. Karena terpesona dengan mainan-mainan yang pernah ia lihat pada waktu kecil, ia kemudian menulis untuk korannya. Ia mengundang orang lain untuk berkunjung ke sana. Bukankah hal tersebut merupakan promosi yang baik?

Museum Jogja Kolong Tangga

Barang-barang di museum adalah benda mati. Ia baru akan menarik dan punya “nyawa” saat ada pendongeng yang baik. Saya menemukan hal tersebut di Museum Batik. Waktu itu saya mengajak teman-teman dari Komunitas Goodread. Guide kami bisa menceritakan dengan baik tentang sejarah batik dan peralatan yang digunakan untuk membuatnya. Kami baru tahu kalau canting itu jumlahnya belasan macam. Lebih banyak daripada yang kami lihat di pasaran. Kami juga terpesona melihat batik kuno yang ditulis dengan sangat halus. Titik-titiknya seukuran pena satu mili. Jaman sekarang sudah tidak ada lagi pembatik setrampil itu.

Museum Batik Jogja

Jogja masih memiliki banyak museum lain. Saya harap museum lebih banyak berbenah untuk menarik pengunjung. Hal tersebut bisa tercapai jika museum memiliki pengelola-pengelola cerdas dan mencintai pekerjaannya. Mereka perlu membaca banyak buku supaya memiliki informasi untuk disampaikan ke pengunjung. Ia juga harus memiliki ketrampilan untuk membuat informasi tersebut menarik. Sebagai referensi, pengelola museum perlu banyak mempelajari cara museum lain menarik pengunjung. Internet mempermudah hal tersebut. Semoga ke depannya, para pengelola ini bisa mengubah museum jadi tempat menyenangkan. Saya tunggu.

Sekolah Keren di Tepi Hutan

Saat datang ke Sekolah Alam Baturaden, saya iri dengan murid-murid di sana. Mereka punya banyak kesempatan untuk menghirup udara segar sambil berlari-larian. Sekolah tersebut terletak di antara hutan pinus. Bangunannya hanya sekadar tempat berteduh. Murid- murid bahkan bisa membawa papan tulis dan alat belajar ke luar ruangan. Bayangan tentang kelas membosankan tempat murid dikurung untuk menghapal tidak saya temui di sini.

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam yang ramah anak

Sekolah Alam Baturaden baru berusia sekitar 4 tahun. Pendirinya, Ibu Mira, awalnya merasa tidak nyaman memasukkan anaknya ke sekolah umum. Anak tertuanya terlalu aktif. Oleh guru biasa, anaknya akan mendapat label “nakal”. Awalnya, Ibu Mira tertarik dengan konsep homeschooling. Namun, hal tersebut ditentang oleh suaminya. Menurut suaminya, seorang anak perlu memiliki banyak teman untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.
Ibu Mira kemudian berkenalan dengan konsep sekolah alam yang digagas oleh Lendo Novo. Ia dan suaminya kemudian mencari cara supaya bisa mendirikan sekolah di hutan yang dikelola Perhutani. Gagasan tersebut membawa mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Penduduk kemudian membantu mereka mendapatkan ijin penggunaan tanah di tengah hutan pinus Baturaden.
Awalnya, murid Sekolah Alam Baturaden hanya 18 orang. Mereka sempat dianggap aneh karena berbeda dengan sekolah umumnya. Mulai dari tidak ada seragam sampai bangunannya terletak di tepi hutan. Dari segi metode pengajaran, sekolah ini berbeda dengan sekolah formal. Sekolah Alam Baturaden menilai tiap anak unik. Tidak seperti sekolah biasa yang menyamaratakan kemampuan murid. Masing-masing murid mendapat perlakuan berbeda. Saya sempat melihat seorang penderita down sindrom bermain di tengah rekan sebayanya. Ternyata, sekolah ini juga menerima beberapa murid difabel. Supaya anak berkebutuhan khusus tersebut bisa berbaur dengan murid lain, mereka mendapatkan guru pendamping.

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Murid sekolah alam memainkan roket buatan mereka

Saat melihat kegiatan belajar, saya merasa guru-guru di sana menikmati interaksi dengan muridnya. Hal tersebut diiyakan oleh orangtua murid yang saya temui. Katanya, ia tidak pernah melihat guru memarahi murid. Untuk mendapatkan pengajar yang sama visinya, sekolah memberlakukan magang selama enam bulan. Kepribadian seorang calon guru dinilai selama masa tersebut. Di sini, guru disebut dengan fasilitator. Mereka orang-orang dewasa yang percaya bahwa tiap anak merupakan calon pemimpin di muka bumi. Tugasnya bukan menjejali anak dengan pelajaran. Fasilitator berfungsi menemani murid-murid belajar berfikir. Selain fasilitator tetap, murid-murid di Sekolah Alam Baturaden juga diajar oleh guru tamu. Mereka praktisi yang bercerita pada anak-anak mengenai profesinya.
Selain pelajaran logika dan akhlak, Sekolah Alam Baturaden menitik beratkan pelajaran berbisnis. Apapun cita-cita si anak kelak, sekolah beranggapan kemampuan berbisnis merupakan bekal yang baik. Dengan berbisnis, seseorang akan belajar cara berelasi dengan orang lain, cara meraih sesuatu, hingga cara menyelesaikan konflik.
Sekolah Alam Baturaden percaya sekolah adalah rumah kedua bagi anak didiknya. Sekolah bukan tempat menitipkan anak di mana orangtuanya bisa lepas tangan. Untuk itu, hampir tiap bulan mereka mengadakan pertemuan dengan orangtua murid untuk menyamakan persepsi. Wali murid juga wajib mengikuti sesi parenting tiap bulannya. Ada juga kelas psikologi supaya orangtua mengetahui seperti apa tahapan perkembangan anak dan rencana pembelajaran di sekolah.
Satu nilai lebih dari sekolah ini adalah keragaman latar belakang muridnya. Anak pedagang asongan hingga anak anggota dewan bisa bersekolah di sini. 40% muridnya berasal dari golongan tidak mampu. Untuk membuat biaya bulanan yang terjangkau, biaya operasional sekolah masih disubsidi yayasan.

Saung tempat belajar

Saung tempat belajar

Ibu Mira bercerita jika di Indonesia sekarang ada duaratus-an sekolah alam. Meskipun pada prinsipnya mereka menggunakan ajaran Lendo Novo, tiap sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri. Tiap sekolah mengutamakan materi lokal yang ada di lingkungan sekitar. Para murid belajar belajar dengan cara seperti menanam pohon atau berinteraksi langsung dengan binatang.

Anak Hebat Hasil Didikan Orangtua Cerdas

???????????????????????????????Kutipan tadi saya dapat waktu datang ke Festival Teknologi Pendidikan di Museum Pendidikan Indonesia. Saya setuju sekali, karena guru pertama seorang anak adalah orangtuanya. Karena ibu secara emosional lebih dekat dengan anaknya, peran ibu sangat besar dalam perkembangan anak.
Saya jadi teringat saat beberapa bulan lalu datang ke acara Suara Anak. Di sana saya terpesona dengan anak-anak yang menjadi pembicara di acara tersebut. Umur mereka masih belia. Antara 7 hingga 12 tahun. Tapi mereka sarat dengan prestasi. Ada yang memenangkan lomba di luar negeri, pernah tampil di tivi, atau sudah menerbitkan buku. Hebatnya, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan jika besar nanti. Seorang anak bercerita kalau ia ingin menjadi wartawan di National Geography, anak lain ingin menjadi perenang profesional di tingkat internasional. Jujur saja saya iri. Karena saya dan kebanyakan orang baru tahu apa yang akan kami lakukan setelah dewasa dan bekerja.
Sayangnya, kebanyakan anak-anak tadi ada di latar belakang yang sama. Mereka datang dari keluarga menengah ke atas. Dengan orangtua (terutama ibu) yang cerdas. Saya bilang sayang karena tidak semua anak seberuntung mereka. Saya kerap kali menemui orangtua yang menitipkan anaknya ke sekolahan. Mereka berpikir kalau sekolah akan mendidik anaknya. Sebagian orangtua yang saya tahu berpikir jika anaknya berprestasi secara akademis, mereka akan mendapat pekerjaan yang baik.

Sepertinya, hidup tidak sesederhana itu. Ada banyak hal yang tidak diajarkan di sekolah formal. Juga ada banyak hal yang diajarkan di sekolah tidak berguna untuk hidup.
Saya sering bertemu dengan orangtua yang kebingungan bagaimana cara mendidik anaknya. Menurut saya, hal tersebut masih lumayan. Setidaknya mereka akan berusaha mencari informasi cara mendidik anak. Lebih banyak lagi orangtua yang hanya sekadar mengikuti insting atau meniru cara orang disekelilingnya mendidik anak.

Anak dan menggambar

Saya berkali-kali melihat orangtua membelikan barang mahal untuk anaknya. Hal tersebut merupakan cara menunjukkan kasih sayang. Mereka tidak sadar jika hal tersebut akan membentuk anaknya menjadi materalistis. Menilai segala hal dengan uang. Ironisnya, untuk membayar barang-barang tadi banyak orangtua yang terlalu sibuk bekerja. Dan menitipkan anaknya kepada pembantu. Bagaimana dengan Anda? Tipe orangtua seperti apakah Anda? Atau jika belum punya anak, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang cerdas?

Merayakan Buku di Mata Aksara

Minggu, 12 Oktober, lalu puluhan ibu-ibu dan anaknya yang rata-rata berusia balita memenuhi lantai dua mata Aksara. Sebenarnya, acara berjudul “Membangun Budaya Baca di Keluarga” tersebut ditujukan bagi para orangtua. Untuk mengingatkan kembali jika membaca itu penting untuk masa depan anaknya. Entah kenapa, acara berbau pendidikan anak lebih menarik bagi ibu-ibu.

 

Saat si ibu ngobrol tentang membaca di lantai dua, Mbah Bad mengajak anak-anak mereka berkebun. Mbah Bad membawa bungkus benih. Ia mengajak adek-adek yang datang mengenal buah-buahan dan sayuran. Ia menunjukkan gambar sayur dan buah-buahan pada seluruh peserta. Adek-adek tadi selain menyebut nama buah dan sayuran yang ditunjuk juga bercerita mana saja yang pernah mereka makan.
Rombongan kemudian pergi ke kebun organik di lantai 3. Beberapa ibu menemani anaknya karena mereka masih takut ditinggal. Waktu melihat kebun, beberapa langsung memetik sisa tomat yang belum dipanen. Warna merah tomat memang menggoda untuk dimakan. Akhirnya, sesi berkebun menjadi sesi bermain tanah. Lucu lo, melihat anak usia 2 sampai 4 tahun mencampur pupuk dan tanah. Saya tidak tahu apakah mereka menaati contoh Mbah Bad. Yang pasti mereka asyik mengisi polybag dengan bibit. Sesudah selesai, anak-anak tadi mencuci tangan. Namanya anak-anak, sempat-sempatnya bermain air. Mereka kemudian turun bergabung dengan ibu-ibunya.
Lantai dua kemudian menjadi hiruk pikuk. Saat Mas Sholahuddin Nurazmy dan Pak Muchsin Kalida bercerita tentang pentingnya menulis, anak-anak ini bermain trampolin atau menggambar. Sambil berceloteh dan berteriak. Sepertinya peserta diskusi tidak merasa terganggu. Mereka mendengarkan cerita kedua pemateri. Diskusi mengenai pentingnya membaca kemudian bergeser menjadi obrolan tentang menulis. Kedua pembicara mengatakan jika menulis itu bisa dimulai dari mana saja. Gunakan media apa saja yang paling mudah ditemui. Bisa mulai dari menulis di buku atau sekadar status facebook. Bercerita juga tidak harus tentang hal yang wah atau besar. Kejadian yang dialami setiap hari juga bisa kok menjadi bahan tulisan. Yang penting, mulailah menulis.
Mas Adi, pengelola Mata Aksara, menambahkan ide menulis bisa didapat dari membaca buku. Ia melanjutkan kalau banyak buku yang bisa dipinjam di sana. Seseorang yang banyak membaca buku, akan lebih mudah mendapat inspirasi untuk menulis.

Setelah diskusi berakhir, ibu-ibu tersebut berlatih menulis. Temanya tentang buku yang bisa mereka bacakan untuk anaknya sebelum tidur. Meski banyak yang mengaku tidak tahu darimana harus mengawali menulis, mereka terlihat serius. Sepertinya, melihat besarnya antusiasime ibu-ibu, acara ini akan ada kelanjutannya. Setelah acara, beberapa masih tinggal untuk membaca buku. Ada juga yang bertanya jam berapa taman bacaan buka supaya bisa kembali untuk meminjam buku. Sepertinya, perlu lebih banyak perpustakaan-perpustakaan komunitas mandiri yang bisa mengajak lingkungannya melek literasi. Supaya lebih banyak orang membaca di Indonesia.

Sekolah itu (seharusnya) Mengajar Berpikir Kritis

Andi, kenalan yang tinggal di Jambi, bercerita kalau ia sedang mengumpulkan bahan tentang sekolah alam. Ia membuka sekolah untuk Suku Anak Dalam di wilayah Taman Nasional Bukit 30. Ia merasa bahwa lingkungan tempat Suku Anak Dalam tinggal kaya sumber daya alam. Sayang mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengelola hal tersebut. Ia tertarik untuk membuat sekolah yang mengajak muridnya memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Sesuatu yang tidak diajarkan oleh sekolah formal.

Mendongeng untuk anak
Saya jadi teringat tiap kali berkunjung ke luar Jawa atau daerah yang jauh dari kota. Saya miris melihat buku pelajaran yang dibuat Pulau Jawa digunakan oleh sekolah-sekolah dari Aceh sampai Papua. Bisa jadi, si pembuat tidak tahu latar belakang calon pengguna bukunya yang beraneka ragam. Bayangkan seorang anak di pedalaman Maluku diajar cara menabung di bank. Padahal, orangtua dan tetangganya hidup dari berburu dan meramu. Orang-orang disekelilingnya tidak akrab dengan konsep uang. Bisa jadi mereka malah belum pernah melihat wujud bank karena lokasi terdekatnya ratusan kilo. Padahal mereka tidak pernah keluar dari kampung. Atau seorang anak di pelosok Papua yang harus menghafal fungsi internet. Padahal belum tentu ada komputer di wilayahnya. Dan, masih banyak lagi cerita seputar sekolah yang memisahkan muridnya dengan lingkungan.
Menurut saya, seharusnya sekolah bukan tempat menyeragamkan seorang murid. Sekolah yang baik mengajak muridnya berpikir kritis. Membuat anak-anak didiknya beranggapan jika belajar itu menyenangkan. Sehingga mereka rajin mencari tahu tentang hal-hal yang ada di sekelilingnya. Pendidikan itu proses membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak sekadar mengerjakan setumpuk peer dan berlomba untuk mendapat rangking. Yang entah apa gunanya untuk hidup. Kelak, saat tumbuh dewasa, murid-murid yang terbiasa berpikir kritis akan menjadi orang yang gemar bertanya. Mereka juga cenderung akan melakukan sesuatu jika merasa ada yang salah dengan lingkungannya. Tentunya, sekolah seperti ini butuh guru yang memang cinta mengajar dan ingin berbagi. Bukan sekadar guru yang memilih pekerjaan tadi semata untuk mencari nafkah. Berhubung guru ini harus cerdas, sekolah wajib menyuplai mereka dengan berbagai macam buku.

foto by Valens Riyadi

foto by Valens Riyadi

Sekolah yang keren idealnya lengkap dengan perpustakaan. Ada berbagai macam buku di sana. Mulai dari buku-buku cerita dengan gambar menarik hingga ensiklopedi yang berisi ilmu pengetahuan. Guru mengajak murid-muridnya menyukai buku dan banyak membaca. Tidak harus dimulai dengan buku-buku yang berat. Membiasakan membaca bisa dimulai dengan bacaan-bacaan ringan atau komik. Lama-lama, seseorang yang terbiasa membaca buku akan mengembangkan jenis bacaannya. Kelak, ia akan membaca berbagai jenis buku.
Sayangnya, di Indonesia, sekolah semacam itu belum bisa berkembang. Sekolah-sekolah formal masih harus mengikuti kurikulum yang telah ditentukan dari pusat. Yang belum memberikan ruang untuk keanekaragaman. Saya lebih setuju dengan pendapat jika sekolah dan guru pertama seorang anak itu keluarganya. Sekolah formal bukan tempat menitipkan anak untuk dididik. Untuk menciptakan keluarga-keluarga yang bisa menjadi guru, kita perlu membiasakan diri untuk terus belajar. Banyak membaca buku, rajin datang ke diskusi, pergi ke museum, dan menonton film-film bagus. Mari, berusaha lebih pintar supaya kita bisa menjadi sekolah untuk (calon) anak kita. Lebih baik lagi kalau kita bisa membagi kepandaian itu dengan lingkungan.

Give Away Sekolah Impian

http://”//www.youtube.com/embed/qmcZpviA_wM”

Read A Loud di TK Pembina

Bulan lalu, Mbak Kantri mengirim pesan. Ia bertanya apakah komunitas Goodreads Indonesia wilayah Jogja membacakan buku di sekolah. Mbak Kantri kemudian bercerita. Ia sedang mencari teman untuk mengenalkan buku ke anak-anak. Selama ini, mendongeng untuk anak-anak biasanya hanya mengandalkan lisan. Ia ingin ada kegiatan membacakan buku dengan menarik, supaya anak-anak menyukai buku. Ibu yang dulu pernah mengajar di Lazuardi Global Islamic School ini percaya kalau anak usia dini perbendaharaan katanya terbatas. Mereka membutuhkan benda yang nyata atau peraga visual untuk memahami apa yang diceritakan.

Membaca bukuObrolan tersebut berlanjut di Ma-Buk, acara bulanan GRI Jogja yang isinya makan-makan sembari bertukar cerita seputar buku. Mbak Kantri menawarkan untuk memulai kegiatan baca buku tersebut di TK Pembina, Umbulharjo. Ia berharap supaya acara tersebut menjadi kegiatan rutin.

Kami kemudian bertukar cerita tentang budaya membaca di Indonesia. Buku baru dianggap sebagai hal penting bagi segelintir orang. Banyak yang berpendapat gemar membaca itu bukan hal yang perlu. Ironisnya, kadang pendapat tadi muncul dari orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan. Tahun lalu, saya pernah punya kegiatan membacakan buku di sebuah penitipan anak. Setelah berjalan beberapa bulan, pengelola penitipan anak tersebut menghentikan kegiatan itu. Alasannya, membaca buku tidak ada di kurikulum.

Mendongeng untuk anak
Tidak sekali dua kali saya menemui anak-anak yang dilarang membaca buku di luar buku pelajaran. Orangtua masih berpikir hal tersebut membuang waktu. Mbak Dewi bercerita jika di sekolah anaknya ada buku-buku cerita untuk dibaca sebagai selingan. Berbeda dengan jaman ia kecil atau mungkin sekolah lain. Guru akan menyita jika ada yang ketahuan membawa buku cerita ke sekolah. Padahal, buku itu sumber ilmu pengetahuan. Membiasakan menyukai buku-buku berat harus dimulai dari menyukai buku-buku yang sederhana dahulu. Dan hal tersebut ditanamkan sejak kecil.
Akhirnya, kami memulai kegiatan membacakan buku tanggal 15 September lalu. Sebenarnya, ada 14 orang yang konfirmasi datang. Sayang, kami lupa mengingatkan mereka beberapa hari sebelum acara. Ada 7 orang yang datang untuk membacakan buku. Karena beberapa relawan datang terlambat, kami memulainya di satu kelas saja. Supaya masing-masing relawan tidak kerepotan menghadapi terlalu banyak anak. Kami tidak menyangka jika anak-anak di sana antusias dengan buku.

Pendidikan usia dini
Seusai membacakan buku, beberapa teman berpikir sepertinya kegiatan ini perlu dilanjutkan. Hal tersebut akan dibahas saat Ma-Buk akhir bulan ini. Rencananya, kami akan memanen sayuran organik di Taman Bacaan Mata Aksara. Lokasinya di Jalan Kaliurang Km 13,5. Ada yang tertarik ikut? Jika ada lebih banyak orang, kegiatan ini bisa berjalan rutin. Hubungi saya di Lrwahyudyanti(at)yahoo.com untuk agenda berikutnya. Atau, silahkan bergabung di grup https://www.facebook.com/groups/179962022020876/ untuk info Ma-Buk berikutnya: Ayo berteman sambil merayakan buku 🙂