Belajar Menyenangkan di Museum

Museum Jogja Perjuangan

Saya percaya seseorang bisa mengumpulkan lebih banyak informasi ketika ia belajar dengan menggunakan seluruh indranya. Salah satu caranya dengan mengunjungi museum. Beruntung saya tinggal dan besar di Jogja yang memiliki beragam museum. Beberapa diantaranya menarik untuk dikunjungi.

Saya masih teringat saat dua tahun lalu mengajak 50-an murid sebuah penitipan anak ke Museum Dirgantara. Saya dan beberapa teman, menemani balita-balita tersebut belajar tentang transportasi. Di sana, mereka gembira bisa berlarian sambil menyentuh pesawat. Beberapa bahkan bisa dinaiki. Kami berteriak-teriak kagum saat melihat film tentang sekelompok penerbang. Seusai berkeliling, kami menggambar bersama. Anak-anak tersebut kemudian menceritakan kembali pengalamannya melihat benda-benda yang bisa terbang itu.

Museum Dirgantara Jogja

Museum perlu penataan yang cantik untuk membuat orang terkesan. Hal tersebut membuat pengunjungnya mengajak orang lain untuk datang. Museum Kolong Tangga merupakan salah satu museum yang kerap saya promosikan. Saya pernah mengajak editor Koran Tempo Makassar ke tempat tersebut. Karena terpesona dengan mainan-mainan yang pernah ia lihat pada waktu kecil, ia kemudian menulis untuk korannya. Ia mengundang orang lain untuk berkunjung ke sana. Bukankah hal tersebut merupakan promosi yang baik?

Museum Jogja Kolong Tangga

Barang-barang di museum adalah benda mati. Ia baru akan menarik dan punya “nyawa” saat ada pendongeng yang baik. Saya menemukan hal tersebut di Museum Batik. Waktu itu saya mengajak teman-teman dari Komunitas Goodread. Guide kami bisa menceritakan dengan baik tentang sejarah batik dan peralatan yang digunakan untuk membuatnya. Kami baru tahu kalau canting itu jumlahnya belasan macam. Lebih banyak daripada yang kami lihat di pasaran. Kami juga terpesona melihat batik kuno yang ditulis dengan sangat halus. Titik-titiknya seukuran pena satu mili. Jaman sekarang sudah tidak ada lagi pembatik setrampil itu.

Museum Batik Jogja

Jogja masih memiliki banyak museum lain. Saya harap museum lebih banyak berbenah untuk menarik pengunjung. Hal tersebut bisa tercapai jika museum memiliki pengelola-pengelola cerdas dan mencintai pekerjaannya. Mereka perlu membaca banyak buku supaya memiliki informasi untuk disampaikan ke pengunjung. Ia juga harus memiliki ketrampilan untuk membuat informasi tersebut menarik. Sebagai referensi, pengelola museum perlu banyak mempelajari cara museum lain menarik pengunjung. Internet mempermudah hal tersebut. Semoga ke depannya, para pengelola ini bisa mengubah museum jadi tempat menyenangkan. Saya tunggu.

#RayakanIndonesiamu dan Sebarkan Berita Baik.

Andri Rizki Putra

Kondisi berbangsa dan bernegara di Indonesia kini dalam keadaan memprihatinkan. Masyarakat begitu mudah menyebar berita yang tidak jelas kebenarannya di media sosial. Untuk mengingatkan kita akan pentingnya menyikapi hal tersebut, Penerbit Mizan mengadakan acara bertema “Rayakan Indonesiamu: Ribuan Pulau Kebaikan”. Diskusi yang berlangsung pada tanggal 10 Juni 2015 lalu merupakan pembuka dari peringatan 32 tahun Penerbit Mizan. Dalam acara tersebut, beberapa tokoh yang telah menyebar kebaikan di Indonesia hadir untuk berbagi cerita.

Ada Andry Rizki Putra yang mendirikan Yayasan Pemimpin Anak Bangsa. Di usianya yang belum genap 25 tahun, ia sudah mendirikan 3 buah sekolah. Lembaga yang berdiri tahun 2012 tersebut telah meluluskan lebih dari 200-an murid. Latar belakang murid tersebut kebanyakan yang dari masyarakat kalangan bawah. Ada pedagang asongan, sopir angkot, hingga asisten rumah tangga.

Kepedulian Rizki pada dunia pendidikan berawal pada tahun 2006. Saat mengerjakan UN untuk kelulusan SMPnya, ia melihat beberapa rekan sekolahnya mencontek. Ironisnya, kecurangan tadi didukung oleh para guru. Guru-gurunya ingin supaya nilai ujian murid tinggi untuk mempertahankan status favorit sekolah. Trauma dengan sistem pendidikan formal, ia memutuskan berhenti sekolah formal setelah beberapa bulan duduk di bangku SMA. Menurutnya, sistem pendidikan yang berlaku saat ini hanya mengejar nilai dan mengabaikan hal penting seperti kejujuran. Ia memutuskan untuk belajar otodidak dan mengikuti kejar paket C. Hal tersebut kemudian menginsipari dirinya untuk membuat sekolahnya sendiri selepas lulus dari Fakultas Hukum UI.

Rayakan Indonesia Penerbit Mizan

Hadir juga Shafiq Pontoh yang aktif di Indonesia berkibar, Ayah Asi, dan Indonesia Berkebun. Ia mengajak kita untuk berkampanye menahan jempol. Kita harus berhari-hati sebelum memutuskan untuk menyebar sesuatu di media sosial. Shafiq mengingatkan kita untuk menyebar info hanya dari akun yang bisa dipercaya. Abaikan saja akun anonim. Mereka dibayar mahal untuk mempengaruhi masyarakat demi kepentingan golongan tertentu. Lebih baik kita memposting kegiatan-kegiatan positif yang kita lakukan untuk mengimbangi banyaknya berita negatif di media sosial.

Shafiq bercerita bahwa kadang pengambil kebijakan justru tidak bijak dalam menyikapi konten negatif. Dulu, konten pornografi jarang menduduki top pencarian tertinggi di Indonesia. Sejak seorang mentri menggembar-gemborkan blokir situs porno. Orang-orang justru penasaran dan mencari tahu. Hal tersebut menaikkan jumlah pengunjung situs porno.

Senada dengan Shafiq, Haidar Baqir juga memprihatinkan hal tersebut. Ia khawatir dengan begitu gampangnya masyarakat meneruskan berita yang belum tentu benar. Ia miris melihat orang-orang yang mengkritik suatu hal tetapi justru membuat orang lain tahu mengenai hal tersebut. Menurut Haidar, orang-orang yang ingin merusak Indonesia ini jumahnya sedikit. Tapi kita justru membuatnya besar dengan membantu menyebarkan berita tersebut.

Ceo Mizan ini juga menceritakan programnya yang bernama Islam Cinta. Isinya buku-buku dan film yang menceritakan toleransi. Haidar berkata jika Allah menciptakan manusia dalam berbagai suku dan bangsa. Kenapa kita berusaha menyeragamkannya? Perselisihan itu timbul bukan karena perbedaan. Ia muncul karena tidak adanya komunikasi.

Diskusi tersebut masih menampilkan beberapa tokoh lain yang banyak berkarya. Obrolan tersebut ditutup oleh penampilan Pidi Baiq, Imam Besar The Panas Dalam. Ia membuat hadirin tertawa dengan celotehannya seputar perjalanan Negara Panas Dalam. Disela-sela ceritanya, ia berkomentar tentang mengapa kita selalu mempermasalahkan perbedaan? Ia juga mengatakan bahwa nasionalisme itu tidak berhenti di batas Negara. Kita merupakan bagian dari dunia. Islam adalah “Rahkmatan lil Alamin” bukan “Rahmatan lil Indonesia”. Pidi menutup sesinya dengan wejangan: “Berkaryalah supaya kamu bisa mengangkat derajat ibumu. Supaya ia merasa bangga pernah melahirkanmu. Berkaryalah supaya anakmu bangga dengan siapa orangtuanya. Karena meresa tidak hanya sekadar butuh materi.

Jebakan Batman di Pusat Perbelanjaan

Sumber foto: everystockphoto

Sumber foto: everystockphoto

Bulan pertama pindah rumah, saya dan suami punya kebiasaan baru: belanja. Dalam seminggu, kami bisa dua sampai tiga kali ke pusat perbelanjaan. Karena rumah yang kami tempati awalnya masih kosong, kami seperti punya alasan untuk mengisinya. Apalagi rumah kami hanya 500 meter dari sebuah supermarket. Kami sering sore-sore jalan kaki ke sana untuk berbelanja.

Dulu, saya bukan tipe yang suka ke mall atau pusat perbelanjaan besar. Sebagai penganut ekonomi kerakyatan, saya lebih memilih berbelanja ke toko kecil atau perajinnya langsung. Setidaknya saya membantu mereka untuk menafkahi keluarganya. Tapi, karena kami harus belanja barang dalam jenis beragam, hipermart menawarkan lebih banyak pilihan. Kami tidak perlu pergi ke beberapa toko jika butuh berbagai macam barang.

Sayangnya, kami sering khilaf. Saat pulang, kami bisa saja membawa pot bunga, gelas, atau kabinet yang tidak kami butuhkan. Kami sering tidak sadar jika supermarket besar ditata supaya pengunjungnya nyaman. Saat mengelilinginya, kita sering memasukkan barang tidak penting ke keranjang belanja. Kereta dorong yang muat lebih banyak barang dan meringankan bawaan memperparah hal tersebut.

Saya sering lupa kalau supermarket sengaja menata barang agar kita membeli lebih banyak dari yang kita butuh. Mereka tahu kalau sesuatu yang terlihat mencolok perhatian mata akan cenderung membuat kita membelinya. Karena itu meja kasir penuh permen dan barang kecil yang sering kita ambil tanpa pikir panjang. Hal tersebut membuat saya mulai membawa daftar belanjaan. Jumlah barang tidak penting yang saya beli mulai berkurang.

Dulu, saya tidak pernah mengecek harga saat membayar di kasir. Saya mulai melakukannya setelah sadar ada barang-barang yang harganya lebih mahal daripada dugaan kami. Waktu itu, saya iseng mengecek struk belanja barang yang kami beli dalam sebulan. Untuk sekadar tahu pemborosan apa yang sudah kami lakukan.

Saya baru sadar kalau kami berkali-kali membeli barang yang harganya lebih mahal dari merk lain. Ada coklat bubuk dengan harga lebih dari 60 ribu. Padahal barang sejenis rata-rata harganya dibawah dua puluh ribu. Ada garam sehat seharga 54 ribu. Padahal, garam biasanya hanya beberapa ribu rupiah. Minuman ringan seharga 80 ribu. Tempat garam dengan harga hampir seratus ribu rupiah. Dan masih banyak lagi. Seingat saya, kami tidak pernah melihat angka tersebut di rak. Sejak saat itu saya mulai memerhatikan harga saat kasir menjumlah belanjaan. Saya kemudian menemui harga barang di rak berbeda dengan di kasir.

Gara-gara tiap minggu main ke sebuah hipermart, kami jadi hobi melihat harga barang. Tiap minggu, pasti ada barang yang didiskon. Kelihatannya sih jadi lebih murah dan menggoda orang untuk membeli. Padahal kalau mau membandingkan, di pasar kami melihat barang yang sama dengan harga lebih murah. Mana ada orang jualan yang ingin rugi? Saya juga mulai menunda membeli suatu barang kalau sekadar ingin. Siapa tahu di tempat lain ada barang dengan harga lebih murah atau pilihan model lebih bagus.

Cerita Padi di Tiga Negara

Padi di Manggarai, FloresPertanian bukan lagi lahan pencari nafkah yang menjanjikan. Hal tersebut menyebabkan jumlah petani kecil berkurang. Lahan-lahan pertanian kemudian beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, atau mall yang memberikan uang lebih. Lalu, bagaimana nasib kita ke depannya? Dengan penduduk bumi yang diperkirakan berjumlah 9 milyar orang pada 2050, mampukah nanti lahan pertanian yang tersisa mencukupi kebutuhan sekian banyak mulut?

Hal tersebut menjadi salah satu keprihatinan dalam riset kolaboratif yang dilakukan alumni Asian Public Intelectual. Ekoningtyas Margu Wardani dan 4 orang rekannya melakukan penelitian mengenai padi di Indonesia, Jepang, dan Thailand. Riset yang dipublikasikan dalam bentuk pameran foto ini memilih padi sebagai subyek penelitiannya karena komoditas ini ditanam di hampir semua benua. Beras merupakan hasil pertanian penting yang dikonsumsi hampir separuh penduduk bumi.

Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat tergantung pada beras. Kita yang dahulu memiliki beragam bahan makanan pokok, kini mulai meninggalkan jagung, sagu, ketela, dan lainnya. Hal tersebut menjadikan Indonesia pengimpor beras. Impor komoditas pertanian juga dilakukan pemerintah untuk menjaga harga produk pertanian tetap rendah. Padahal dari sisi petani kebijakan tersebut merugikan dan membuat orang enggan bertani.

Di Indonesia meski harga padi organik lebih tinggi, tidak banyak petani mau menanamnya. Lahan-lahan pertanian terlanjur mengandung banyak zat kimia. Untuk menjadi lahan organik, tanah butuh tiga hingga lima tahun untuk mengembalikan kesuburannya. Selama masa itu, produktivitas padi turun.

Thailand yang dikenal sebagai negara pengekspor beras pun petaninya belum sejahtera. Sarana produksi pertanian kerap lebih mahal daripada harga jual produk. Petani yang tidak mampu membayar hutang lama-lama menjual lahannya karena terlilit hutang. Di lokasi penelitian, para petani beralih ke organik karena memiliki nilai jual lebih tinggi.

Di Ogawa, Jepang, pertanian organik tidak lepas dari seorang tokoh bernama Yoshinori Kaneko. Ia kembali ke pertanian organik pada tahun 71 karena melihat kerusakan lingkungan. Ia mengajarkan peranian organik kepada para petani muda yang kebanyakan berasal dari kota. Mereka memilih menjadi petani karena bahagia bisa hidup harmonis dengan alam dan terhubung dengan konsumen berasnya. Kaneko berprinsip bahwa “Uang tidak membuat kita hidup. Kita hidup karena makanan yang kita makan.” Istrinya menambahkan bahwa jangan pernah berharap pada pemerintah. Lebih baik para petani menanam apa yang mereka makan. Setelah itu, sebarkan dengan berbagi makanan sehatmu.

Senada dengan Kaneko, Prof. PM. Laksono dalam pembukaan pameran menyarankan tentang kemandirian pangan. Menurutnya, tiap orang sebaiknya bertani sendiri untuk mencukupi kebutuhan dapur. Beliau sendiri menggarap sepetak lahan untuk dimasak sendiri. Lalu, adakah teman-teman yang mau kembali menjadi petani? Saya pun mulai dengan menanam sayur di pekarangan rumah.

Wiraswasta Minim Modal

Secangkir kopiMemiliki usaha tidak harus menunggu kaya dahulu. Setidaknya itu yang saya tangkap dari dua pembicara yang berbagi cerita di acara Kopi dan Kewirausahaan Sosial. Acara yang diselenggarakan oleh Prodi Sosiologi UAJY tersebut menghadirkan Denny Neilment dan Khyushu Firmansyah. Kedua pemilik warung kopi ini bercerita mengenai bagaimana mereka merintis usaha kopinya.

Saya kebagian menjadi moderator sesinya Mas Denny. Mas Denny yang berasal dari Padang ini memulai bisnisnya waktu kuliah di UII. Tahun 2003, ia dan lima orang temannya membuka warung kopi karena sama-sama menyukai kopi. Mereka kemudian mencoba mencari sponsor karena tidak memiliki modal. Bukan hal yang mudah ternyata. 30 proposal pendanaan yang mereka sebar ditolak. Kelimanya kemudian mengganti cara mencari dana. Mereka berusaha mendekati teman-temannya yang anak orang kaya untuk mendanai warung kopinya.
Setahun berjalan, Mas Denny lulus kuliah. Orangtuanya di Padang meminta supaya Mas Denny menggunakan ijasahnya untuk mencari pekerjaan yang lebih mapan. Mas Denny memilih untuk meneruskan bisnisnya. Teman-teman Mas Denny kemudian beralih ke usaha lain. Kini, pria berusia 35 tahun tersebut mengelola perusahaan yang memiliki 12 cabang Kedai Kopi dan satu premium café dengan nama It’s Coffe. Warung-warung kopi tersebut selain menyediakan kopi juga menyediakan minuman dan makanan lain. Supaya para pelanggannya bisa mengajak orang lain yang bukan peminum kopi untuk nongkrong di Kedai Kopi. Konsumen mereka didominasi oleh mahasiswa.

???????????????????????????????

Pembicara kedua lebih dikenal dengan nama Pepeng. Sesi Mas Pepeng dipandu oleh Mbak Rina. Awalnya, Pepeng tidak memiliki latar belakang kopi maupun bisnis. Ia tadinya belajar di sekolah penerbangan. Pepeng juga sempat bekerja mengelola web sebuah perusahaan. Karena merasa hidupnya stagnan, ia keluar dari pekerjaannya. Pepeng mengenal kopi saat melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di Indonesia. Tempat yang ia datangi banyak yang menjadi daerah penghasil kopi. Awalnya, ia sekadar tertarik membeli kopi untuk oleh-oleh. Lama kelamaan, mulailah dirinya mempelajari literature tentang kopi dan cara membuat kopi.

Klinik kopi ia dirikan dengan modal alat-alat senilai 6 juta rupiah. Ia tidak mengeluarkan uang untuk menyewa tempat karena ia meminjam Pusat Studi Lingkungan milik Universitas Sanata Dharma. Sebagai gantinya, Klinik Kopi memberikan sebagian keuntungan kepada pengelola tempat tersebut. Pepeng mulai mengaktifkan seluruh media sosialnya. Karena promosi yang gencar, orang mulai tertarik untuk datang.

Sesi Mas Pepeng penuh dengan cerita. Mulai dari orang-orang yang datang ke kedainya untuk minum kopi sampai perjalanan ke daerah-daerah penghasil kopi. Ia bercerita tentang petani-petani kopi yang tidak pernah mencicipi kopi yang mereka tanam. Jaman belanda dulu, buruh kopi dilarang mengonsumsi kopi. Mereka minum daun kopi yang disebut tawa. Bulan lalu, Mas Pepeng pergi ke Papua. Di sana ia mengajarkan bagaimana cara menanam dan memetik kopi yang benar ke petani kopi di Wamena. Tiap kali datang ke tempat penghasil kopi, ia membuatkan kopi untuk para petaninya. Menurutnya, jika seorang petani bisa merasakan enaknya ngopi, mereka akan menjaga kualitas kopinya.

Kedua pembicara tersebut ingin supaya masyarakat beralih ke kopi sungguhan. Ironis jika negeri yang menjadi penghasil kopi nomer tiga dunia penduduknya konsumen kopi instan. Vietnam kini lebih maju di bidang perkopian. Padahal dahulu petani-petani kopi mereka datang ke Indonesia untuk belajar bagaimana cara menanam kopi. Sekarang, dengan luas perkebunan yang lebih sempit, hasil panen pertahun kopi Vietnam lebih tinggi dibanding Indonesia.

Suramadu, Putri Cantik yang Masih Tertidur

Matahari Terbit MaduraMeski berkali-kali singgah di Surabaya, baru tahun lalu saya melintasi Jembatan Suramadu. Gara-gara ingin melihat matahari terbit di jembatan terpanjang di Indonesia tersebut, saya sengaja berangkat malam dari Jogja. Sayang, saya tidak menemukan lokasi yang tepat untuk mengambil gambar. Terpaksa saya harus puas mengambil matahari terbit dari pinggir jalan. Padahal, jika bisa mengambil foto dengan latar Suramadu, saya akan mempromosikan jembatan tadi secara gratis ke teman-teman melalui media sosial. Bayangkan jika ribuan turis melakukan hal yang sama.

Di Jogja, ada beberapa tempat wisata yang ramai sejak para turis menyebarkan foto-fotonya di dunia maya. Salah satunya Kalibiru. Beberapa tahun yang lalu, penduduk desa ini belum menganggap wisata sebagai sumber mata pencaharian. Kini, mereka mendapat pemasukan lebih dari 50 juta rupiah tiap bulannya. Jumlah besar untuk sebuah desa yang awalnya mengandalkan pertanian. Angka tersebut sumbangan dari tiket masuk. Penduduk masih mendapat pemasukan dari parkir atau penjualan makanan. Kunjungan turis meningkat sejak pengelola wisata membuat tempat duduk di atas pohon. Pengunjung kemudian dengan senang hati memamerkan foto-foto seperti ini di media sosial.

Suramadu bisa mengadopsi hal tersebut. Pengelola wisata perlu membuat semacam gardu pandang tempat pengunjung berfoto dengan latar belakang konstruksi jembatan. Karena turis menyukai foto matahari terbit dan terbenam, ada baiknya pembuatan gardu pandang ini mempertimbangkan hal tersebut. Lokasi foto narsis tersebut harus unik supaya orang lain tergoda untuk berkunjung.

Saat melewati Suramadu, saya melihat turis-turis hanya sekadar mampir. Mereka berkendara dari arah Surabaya dan singgah sejenak di Madura. Sebagian cukup lewat sebentar di Pulau Garam kemudian berputar balik. Beberapa lanjut untuk menikmati wisata kuliner bebek atau berbelanja di sentra batik yang jaraknya tak lebih dari satu kilo dari jembatan. Sayang sekali. Karena Madura punya banyak potensi wisata yang bisa menahan turis untuk berkunjung lebih lama. Hal tersebut hanya perlu dikemas supaya terlihat menarik.

Jual Batik Madura

Selama ini, pengunjung Suramadu cukup singgah sebentar di Madura karena mereka kurang mendapat informasi. Banyak yang tidak terlalu tahu hal-hal unik di Pulau Madura. Kalaupun tahu, kadang orang kesulitan menemukan transportasi umum menuju tempat tersebut. Gardu Pandang Suramadu perlu memajang foto-foto lokasi wisata dan budaya Madura. Foto-foto tersebut lengkap dengan peta transportasi ke sana. Termasuk transportasi alternatif seperti mobil pengangkat sayur yang membawa penumpang dari pasar ke desa-desa.
Saya dan beberapa teman belum kesampaian berlibur di Pulau Kangean. Padahal, kami sudah bertahun-tahun memasukkan Kangean ke daftar liburan. Hingga kini, kami masih ragu berangkat karena ada terlalu banyak info yang berbeda mengenai jadwal kapal. Supaya informasi mengenai Madura bisa diakses lebih banyak orang, perlu web khusus untuk wisata. Portal ini juga menyediakan sarana tempat calon pengunjung bisa bertanya mengenai penginapan dan jadwal karapan sapi.
Kadang sekadar memajang foto tidak cukup untuk mengundang orang untuk datang. Portal wisata tersebut juga perlu dilengkapi dengan cerita tentang Madura. Seperti saat mempromosikan batik Madura. Alangkah baiknya jika foto tersebut lengkap dengan cerita mengenai cara pembuatannya atau sejarah motif sebuah batik. Detail-detail seperti berapa tahun seorang pembatik berlatih untuk menghasilkan goresan yang halus perlu ada dalam cerita tersebut. Saat seseorang mengerti rumitnya membuat selembar batik tulis dengan banyak detail, ia tidak akan keberatan membeli dengan harga layak.
Untuk memastikan supaya lebih banyak orang berkunjung, portal wisata tersebut perlu dilengkapi dengan perkiraan anggaran. Bagi sebagian orang, berlibur merupakan hal mahal. Calon turis jenis ini perlu tahu berapa banyak anggaran yang akan mereka keluarkan. Portal wisata Suramadu perlu memberikan beberapa contoh rute serta perkiraan anggaran untuk berlibur. Rute ini perlu mempertimbangkan jika turis memiliki standar ekonomi yang berbeda. Jadi, ada paket wisata hemat yang isinya menggunakan transportasi umum dan penginapan dengan harga di bawah seratus ribu per hari. Juga rute untuk calon turis kelas menengah dan atas.

Angkutan umum Surabaya
Orang datang kembali ke sebuah tempat wisata atau merekomendasikan ke orang lain apabila mereka menyukai tempat tersebut. Untuk itu, para pengelola wisata perlu melayani pengunjung dengan baik. Orang-orang yang bergerak di bidang wisata harus menyadari jika perlakuan mereka terhadap turis akan mempengaruhi jumlah kunjungan berikutnya. Pemda atau Dinas Wisata perlu berinvestasi dalam mendidik para pengelola wisata. Mereka perlu menyadarkan penduduk lokal mengenai pentingnya merawat lokasi wisata. Hal ini butuh waktu bertahun-tahun. Karena biasanya, penduduk lokal enggan melakukan sesuatu yang efeknya tidak langsung terasa.

Suatu Hari Di Museum Batik Yogyakarta

???????????????????????????????

Sabtu, 22 November lalu, saya dan beberapa teman di Komunitas Goodreads datang ke Museum Batik. Beberapa teman sempat tersasar. Ternyata, museum yang beralamat di Jl Dr Sutomo 13 A, Bausasran, ini letaknya tidak di pinggir jalan raya.
Museum ini didirikan oleh Almarhum Hadi Nugroho dan istrinya Dewi Sukaningsih. Keduanya dahulu pemilik pabrik batik. Setelah lebih dari dua puluh tahun mengoleksi batik, mereka kemudian membuka museum ini pada tahun 1978. Kini, Museum Batik Yogyakarta memiliki sekitar 600 koleksi kain batik dan 800 peralatan membatik.
Mas Didik yang menemani kami berkeliling menjelaskan tentang jenis-jenis batik dan tahapan pembuatannya. Kami mulai dari melihat bingkai berisi berbagai macam canting. Ada sekitar dua puluhan canting dan goresan malam yang ia hasilkan. Canting fungsinya seperti pena. Ia menjadi alat untuk menggoreskan malam yang dipanaskan ke kain. Tiap ukuran menghasilkan goresan berbeda. Biasanya, di pasaran hanya ada 3 ukuran canting.

???????????????????????????????

Bagian kedua berisi bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatan batik. Malam, lilin yang dipakai untuk menggambar di kain, terbuat dari sarang lebah. Selain itu malam juga mengandung damar mata kucing atau gondorukem. Di rak bahan juga terdapat berbagai kayu dan tanaman yang menghasikan pewarna. Jaman dahulu, batik dibuat dengan pewarna alam. Proses pewarnaan kain jaman dahulu membutuhkan berkali-kali pencelupan. Setelah itu, warna dikunci dengan zat yang terbuat dari kapur atau bunga tanjung. Kini, untuk alasan kepraktisan, banyak batik yang dibuat dengan pewarna buatan pabrik.

Kain-kain dalam museum ini banyak yang berusia tua. Saya berkali-kali melihat kain yang diperkirakan dibuat akhir tahun 1800 atau awal tahun 1900 an. Museum mengganti koleksinya tiap tiga bulan sekali. Kain yang baru saja dipajang mengalami perlakuan khusus sebelum masuk ruang perawatan. Ia terlebih dahulu direndam di air hangat untuk mematikan jamur. Kain kemudian diasap dengan ratus. Apabila rusak, kain diperbaiki sebelum masuk ruang penyimpanan. Untuk menjaga supaya tidak dimakan ngengat, kain disimpan dengan akar wangi.

Selama mengelilingi museum, kami berkali-kali terpesona melihat detail kain batik. Ada beberapa yang punya titik-tikik seukuran milipen 1 mili. Bayangkan, titik tadi dibuat dengan canting. Si pembuatnya pasti sangat ahli karena bisa menitikkan malam dengan ukuran sekecil tadi. Kami melototi kain-kain lama yang dibuat dengan garis sangat halus. Entah berapa bulan yang dibutuhkan pembuatnya untuk menyelesaikan sebuah kain. Jaman dahulu, batik dipakai sebagai penanda status sosial seseorang. Para saudagar kaya dan kaum bangsawan menggunakan kain batik yang ditulis dengan halus. Semakin halus dan rumit pola sebuah kain, harganya semakin mahal.

???????????????????????????????

Di sana, kami juga melihat batik pagi-sore. Istilah tersebut digunakan untuk menyebut kain batik yang memiliki dua pola sangat kontras di satu kain. Kadang, warnanya juga berbeda jauh. Ternyata, kain batik jenis ini muncul pada masa Jepang. Pada saat itu, kain susah dicari. Orang-orang lebih berpikir untuk memenuhi kebutuhan pangannya terlebih dahulu. Untuk itu, muncul dua pola dalam satu kain. Supaya kain tersebut bias dipakai di dua acara berbeda.

Museum Batik juga memiliki koleksi sulaman. Kebanyakan wajah pahlawan atau tokoh dunia. Pembuat sulaman tersebut meniru wajah Sukarno, Diponegoro, dan yang lain dari poster. Karya paling besar di ruangan tersebut adalah sulaman penyaliban Yesus. Oleh Museum Rekor Indonesia, sulaman ini mendapat penghargaan sebagai kerajinan tangan terpanjang. Ibu Dewi Nugroho membuat sulaman itu selama kurang lebih tiga tahun. Beliau mengerjakan sulaman tersebut saat menunggui suaminya yang sakit stroke.

Kursus Membuat Batik Lukis
Museum ini punya banyak cerita yang tidak cukup ditulis di satu artikel pendek. Lebih baik, teman-teman datang langsung ke Museum Batik untuk melihat koleksinya. Museum ini buka tiap senin sampai sabtu dari pukul 09.00 sampai 15.00. Kadang, pengunjung juga bisa melihat pengrajin sedang membatik. Museum ini juga menyediakan kursus singkat jika pengunjung tertarik membuat lukisan batik.