Berbuat Baiklah dan Dunia akan Membalas, Begitu Juga Sebaliknya

“Hah, kamu kok betah jalan sama orang itu?” komentar seorang teman saat saya bercerita pergi dengan seseorang. Teman-teman yang lain kemudian menimpali dengan komentar sejenis. Kenalan kami, sebut saja Anggun, kami labeli sebagai pembuat masalah. Ia suka seenaknya mengatur orang lain. Anggun juga labil, ia tidak segan-segan memaki jika orang lain bertindak tidak sesuai yang dia inginkan.

Saya kemudian bercerita tentang Anggun yang tidak punya teman. Saya kasihan, dia tidak pernah mendapat contoh bagaimana memperlakukan orang lain. Wajar saja kalo kemudian Anggun menjadi orang yang menyebalkan. Mungkin, jika ada yang mau jadi temannya, Anggun jadi anak yang lebih ramah. Komentar semua teman yang pernah berinteraksi dengan Anggun sama: “Siapa sih yang mau temenan dengan mahluk labil seperti itu.”

Di sisi lain, Anggun pernah bercerita, dia menjadi korban bullying di kampusnya. Saya tidak pernah bertemu dengan teman di kampusnya, tapi melihat cara dia membentak-bentak semua orang, siapa sih yang tidak balas berteriak? Lalu, biasanya orang akan berkata ke orang lain, jangan dekat-dekat mahluk satu itu.
Anehnya, Anggun sama sekali tidak pernah merasa jika ia bermasalah. Dia tidak pernah sadar kalau orang akan membalas perlakuannya. Ada hukum timbal balik di dunia. Apa perlakuan kita terhadap dunia, akan dibalas dengan dengan hal setimpal. Jadi, kalau ada seseorang yang selalu bermasalah dengan orang lain, yang salah dia, bukan dunia.

Bukan hanya Anggun, orang cenderung menyalahkan dunia luarnya. Dulu, saya juga pernah mengalami hal tersebut. Hampir tiap tahun saya pindah kerja karena saya tidak menyukai orang-orang yang ada di sekeliling saya. Memang sebagian orang yang pernah bekerja dengan saya menyebalkan. Tapi, level menyebalkan mereka bisa jadi berkurang jika saya bisa menahan diri. Kalau saya tidak menyerang balik, orang pasti akan bertingkah laku lebih baik.
Tapi sepertinya lebih mudah menyalahkan dunia, menyalakan orangtua, dan menyalahkan pemerintah atas semua hal yang terjadi pada diri kita. Saya jadi ingat minggu lalu waktu saat menjadi narasumber di acara “Blogger bicara Hutan” yang diselenggarakan Greenpeace. Seorang mahasiswa bertanya, apakah saya pernah membuat tulisan-tulisan yang mempertanyakan kebijakan pemerintah. Saya balik bertanya, kenapa harus menunggu kebijakan pemerintah? Sepertinya, orang-orang yang ada di pemerintahan terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Kenapa kita tidak mulai membuat perubahan yang kita inginkan dari diri kita sendiri? Kalau kita blogger, tulis itu di blog. Ajak orang-orang yang ada di sekeliling kita. Kalau semua orang menunggu pemerintah berbuat sesuatu, kapan ada perubahan.

Perusahaan Jahat Perusak Bumi

Sewaktu Bakrie membeli saham Path, beritanya langsung ramai di media sosial. Entah berapa banyak orang sibuk mencerca, kecewa, dan bahkan mengatakan langsung meng-un-install aplikasi tersebut. Alasan orang-orang tadi kurang lebih sama. Bakrie seharusnya bertanggungjawab karena perusahaannya menyebabkan Porong terendam lumpur. Kenapa ia memilih untuk berinvestasi padahal masih punya hutang dengan penduduk yang kehilangan rumah dan lahan.

Kenapa hanya Bakrie? Bukannya ada banyak pengusaha-pengusaha yang memperkaya dirinya dengan cara menyengsarakan banyak orang? Saya bukan ahli isu perburuhan. Di logika saya, ada banyak perusahaan yang pemiliknya bergelimang harta karena mempekerjakan buruhnya dengan jam kerja panjang, gaji tidak layak, dan mungkin kesehatan mereka terganggu karena terpapar suara berisik mesin terus menerus atau bahan kimia. Nah,apakah teman-teman yakin laptop, hp, jam tangan, sepatu dan kosmetik yang kalian pakai itu dibuat dengan memperhatikan pekerjanya?

Dengan alasan kepraktisan, kadang kita suka memilih suatu barang yang kita tahu pemiliknya tidak manusiawi. Saya sendiri sampai saat ini selalu membeli air galon produk tertentu. Karena saya malas merebus air. Sebenarnya, saya bisa saja membeli penyaring air, tapi harga awalnya terlalu mahal. Padahal saya sering mendengar di tempat- tempat perusahaan tadi mendirikan pabrik, selalu muncul konflik. Setelah sumber airnya dikuasai oleh perusahaan tersebut, petani sekitar kesulitan untuk mengairi sawahnya.

Saya jadi ingat saat tahun lalu bertemu dengan banyak pegiat hutan di sebuah acara yang membahas mengenai kejahatan kehutanan. Di berbagai wilayah di Indonesia, ada banyak perusahaan yang melakukan penyerobotan lahan, pengemplangan pajak, alih fungsi lahan, hingga pembunuhan saat menjalankan bisnisnya. Mengerikan. Dan, masih banyak contoh yang bisa kita temui di sekeliling kita tentang perusahaan-perusahaan berusaha mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa mempertimbangkan efeknya.

Sepertinya, menuntut pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tadi, terlalu lama. Lalu, apakah kita hanya diam saja? Tidak. Ada banyak cara yang kita lakukan untuk mengurangi dampak buruk perusahaan jahat. Menjadi konsumen cerdas. Kita berusaha sebisa mungkin menggunakan barang karena butuh,bukan karena ingin dan terlihat keren. Sebarkan hal ini ke orang-orang yang ada di lingkaran pengaruh kita. Jika membuat karya, tulis atau filmkan. Semakin banyak konsumen cerdas, sebuah perusahaan akan semakin berpikir untuk mengambil keuntungan di atas penderitaan orang lain.

Selama ini, saya cenderung suka menolak tawaran untuk bergabung dengan MLM. Saya hanya mau menjadi anggota mlm yang produknya memang saya butuh dan saya pakai. Saya tidak mau “memaksa” orang lain membeli barang yang mereka tidak butuh dengan iming-iming, kalau kau ikut, nanti kau bisa kaya. Sadar nggak sih berapa banyak uang yang kita dapat dan berapa yang perusahaan MLM dapat? Jika kita menjadi anggota MLM dan berhenti, tidak ada uang lagi masuk. Tapi perusahaan tetap mendapat pembelian dari orang-orang yang sudah kita rekrut.

Suatu hari di Hutan Jati Gunungkidul

Jumat, sore tanggal 14 Desember saya dan Timur datang ke Sekretariatnya Kelompok Tani Hutan Sedyo Lestari di Desa Karangasem, Paliyan, Gunungkidul. Rencananya kami ngerjain dokumentasi peringatan 5 tahun Hutan Kemasyarakatan. Jadi ceritanya mulai tahun 1995, masyarakat di Gunungkidul dan Kulonprogo nanemi hutan negara pake pola Hutan Kemasyarakatan. Dulu mereka mau ngelakuin itu karena dapat imbalan bertumpangsari dan kelak dapet bagian saat kayu jati yang ditanam panen.

tari topeng  gunungkidul

Tanggal 15 Desember 2007, petani-petani hutan ini dapat ijin tetap pengelolaan hutan. Sayangnya, ijin tadi cuma untuk pemanfaatan kawasan hutan negara. Agar bisa memanfaatkan kayu di kawasan hutan, mereka masih butuh ijin kayu. Pohon-pohon yang ditanam kebanyakan antara tahun 2000 mpe 2001 kemarin tu dah mulai berdesakan. Sebagian harus dijarangi supaya pohon yang bagus-bagus bisa besar. Berhubung ijin kayunya lama nggak turun-turun, petani yang bergabung di Paguyuban Petani HKm akhirnya mutusin untuk bikin peringatan 5 tahun.

Pas kami datang, acara ternyata baru dimulai malam hari. Tenda-tenda tempat seharusnya pameran masih kosong. Habis magrib, barulah tenda-tenda tadi keisi dengan produk petani hutan mulai dari berbagai makanan olahan dari umbi-umbian, mebel, sampai kerajinan kayu. Malam hari sekitar pukul 7, acara dimulai dengan pidato-pidato. Salah satunya dari Bupati Gunungkidul yang juga mendukung program HKm. Habis itu pertunjukan wayangnya dimulai. Ceritanya tentang Semar Mbangun Khayangan. Berhubung saya engga bisa menikmati wayang, akhirnya saya dan Timur pulang ke rumah Bu Rokhimah, tempat kami menginap setelah mengambil gambar buat stock film.

wayang semar mbangun khayangan

Besok paginya, kami balik lagi ke lokasi acara. Sekitar jam 9 pagi, ada sekitar 20 jip berjajar di jalan raya. Rombongan lalu jalan nyusuri jalan raya ke arah Panggang. Lewat jalan-jalan berkelok-kelok yang kiri kanannya hutan jati. Seru! Sebenarnya, hampir tiap bulan saya lewat jalan-jalan tadi. Tapi naik jip rame-rame tu rasanya beda.

Pertama, kami berhenti di Wana Wisata Watu Payung di daerah Girisuko. Selain disambut oleh tarian jathilan, rombongan disuguhi makanan dari ketela yang diolah macem-macem. Tiwulnya enak banget.
Saya sama Timur lalu wawancara sama beberapa pengurus Kelompok Tani Sidomulyo. Mereka cerita tentang sejarah tempat wisata tadi. Dulu, tahun 2000-2001, hutan di daerah tadi sama kaya di daerah Gunungkidul lainnya: habis dijarah.

hutan gunungkidul

Pemerintah kemudian ngenalin program Hutan Kemasyarakatan. Peduduk rame-rame nanami hutan negara dengan tanaman jati karena dua hal. Awalnya mereka senang dapat lahan untuk pertanian. Trus ntar kalau kayu yang ditanam gede, mereka ngarepin dapet bagi hasil. Entah kenapa, tahun 2008 tiba-tiba tempat tadi ditetapkan jadi kawasan hutan lindung. Berhubung mereka nggak bisa ngarepin lagi hasil penjualan kayunya, masyarakat lalu ngubah lokasi tadi jadi tempat wisata.

Kebetulan lokasinya emang bagus. Ada di atas bukit dan bisa ngliat gunung-gunung dan lembah di sepanjang jalan. Trus nggak jauh dari sana juga ada air terjun. Masyarakat lalu swadaya buat bikin sarana seperti ruang pertemuan, gardu pandang, dan MCK. Sayangnya, duit mereka terbatas. Sarana yang dibangun belum bisa menampung lebih banyak orang. Efeknya, mereka sering nolak kalo mau dipakai outbond lebih dari 150 orang. Masyarakat di sana minta supaya pemerintah ngasih perhatian.

Habis itu kami jalan ke lokasi HKm lain lewat jalan berbatu. Sepanjang jalan kami lewat sama pohon-pohon yang berderet rapat. Sore hari, rombongan balik untuk acara potong tumpeng. Orang-orang mulai lesu gara-gara dapet berita kalo Pak Menhut batal datang hari seninnya.

4

Minggu pagi sebelum acara. Saya dan Timur jalan-jalan sama Bu Rokhimah ke hutan negara yang dia garap. Sambil direkam, Bu Rokhimah cerita kalau dulu di Gunungkidul itu susah cari kerjaan. Bapaknya dan tetangga sekitar yang kerja serabutan sering diupah sama orang Dinas Kehutanan untuk nebang kayu. Berhubung orang-orang mulai ngerti kalau kayu laku dijual, orang luar mulai nyuri kayu dan lama-kelamaan hutan gundul.

Program penghijauan yang dilakukan dulu-dulu pun engga berhasil. Karena tiap kali tanaman jati mulai besar, petani hutan pada njabut tanaman kayu supaya engga ngeganggu tanaman pertanian yang mereka tanam di bawahnya. Sejak Hutan Kemasyarakatan dikenalin di DIY, ada banyak masyarakat nanami hutan negara dengan tanaman kayu.

Dibandingin dengan program penghijauan lain, hutan negara yang ditanami dengan pola HKm tutupannya jauh lebih bagus. Petani penggarap lahan tadi jadi punya rasa memiliki. Mereka bikin kelompok buat ngeronda supaya engga ada pencuri kayu. Semenjak hutan negara tertutup sama pohon, sumber air di desa nggak lagi kering tiap kemarau.

Menhut Zulkifli Hasan

Agak siangan dikit kami datang ke lokasi acara buat sarasehan. Pembicara yang dateng ada Wakil Bupati Gunungkidul, Prof San Afri Awang (staff ahli menhut) sama Prof Suhardi (ahli pangan lokal tapi pas presentasi cerita tentang partainya). Sarasehan ini ngobrolin tentang perbaikan ekologi setelah muncul HKm. Di tengah-tengah acara, petani-petani pada minta supaya ijin kayunya cepat diturunkan. Kalau sampai akhir Desember engga ada kabar, mereka mau ramai-ramai ke Jakarta buat nemuin Menhut. Saya hampir ikutan pengen nangis waktu denger permintaan ini diucapin rame-rame. Ya, petani-petani ini dah lama banget nunggu ijinnya turun. Waktu awalnya denger menhut mau datang, mereka jadi berharap kalau ijin kayunya bakal ditanda-tangani.

Habis makan siang dan beres-beres, saya pulang ke Jogja bareng temen-temen dari Yayasan Shorea. Tiba-tiba ada telfon yang ngabarin kalau Pak Menhut besok siang jadi datang. Mas Puji yang nerima telfon awalnya sempat nggak percaya. Habis itu ia berusaha nelfon teman-teman di Gunungkidul buat nyiapin petani-petani buat datang besok. Mereka lalu masang lagi tenda, spanduk dan umbul-umbul yang barusan dibongkar.

Pas hari H, sebelum acara mulai hujan turun deres. Ratusan petani terutama dari seputaran Gunungkidul bela-belain datang. Habis pak Menhut pidato, mereka minta bareng-bareng supaya Menhut nandatangani ijin kayunya. Dannn… akhirnya ijin kayunya ditanda-tangani saat itu juga. Pada hore-hore sesudahnya.

Saya jadi inget waktu ngobrol sama Jastis Arimbar sebelumnya. Waktu saya cerita kalo di banyak tempat di Indonesia pengelolan hutan yang dilakukan sama masyarakat secara ekologi, sosial, dan ekonomi lebih bagus. Sayangnya, pengelolaan hutan jenis ini nggak populer. Yang tau cuma orang-orang kehutanan aja. Karena itu sering peraturan dan macem-macem engga ramah sama pengelolaan hutan jenis ini. Kalo kata Jastis sih, rata-rata petani hutan ini miskin dan engga berpendidikan. Mereka juga engga punya duit makanya susah nyari ijin lewat jalur hukum. Beda sama perusahaan-perusahaan yang mau ngelola hutan. Mereka bisa bayar pengacara untuk ngurus ijinnya supaya cepat turun. Moga aja sih ntar petani-petani hutan di tempat lain juga ngambil cara yang sama. Bareng-bareng bikin acara supaya mereka diperhatikan.

Akhir Pekan di Festival TIK, Bandung

Hari Jumat, sejak jam satu siang, saya dan Kang Kombor sudah duduk manis di warung angkringan di pinggir jalan. Kami nungguin bus relawan TIK yang datang dari Surabaya buat nanti berangkat bareng-bareng ke Bandung untuk datang ke http://fest.relawan-tik.org/. Ternyataa… AC bus mati di daerah Karanganyar. Jadi bus baru sampai Jogja jam lima lebih banyak!

Di dalam, sudah ada 28 blogger dan pegiat TIK. Jadi mirip kayak reunian karena sebagian pernah ketemuan di Kopdar Blogger Nusantara tahun lalu. Bus kemudian jalan dan berhenti beberapa kali untuk menjemput teman lain di Jawa Tengah.

Biasanya, Jogja-Bandung itu butuh waktu sekitar 9 jam lewat jalan darat. Berhubung bus ini sebentar-sebentar berhenti buat mampir ke pom bensin (toilet maksudnya), kami baru sampai Bandung sekitar jam 8 pagi. Waktu turun, saya langsung wawancarai Pak Novi yang jadi koordinator bus. Mukanya lusuh, kelihatan melas kalao direkam buat video diary saya 😀 Mas Novi cerita kalau teman-teman yang dari Jawa Timur pada janjian di Terminal Bugurasih jam 5. Sebelum setengah enam mereka berangkat. Dan, baru sampai Bandung 27 jam kemudian.
Habis itu kami jalan kaki ke wismanya Politeknik Telkom buat mandi dan naruh barang. Dan, tempat ini baru jadi saudara-saudara. Sebelum masuk ke kamar, kami dibekali ciduk, ember karena kamar mandinya sama sekali belum pernah dipakai. Trus kita juga dikasih poster bekas yang ternyata gunanya buat nutup jendela kamar mandi karena belum ada gordennya.

Habis sarapan, kami trus pergi ke aula lantai 3 buat upacara pembukaan. Di sana dah rame banget. Sepertinya ada lebih dari 300an orang ada. Saya dan beberapa teman yang datang telat sampe ga kebagian tempat duduk.

Di festival tadi, ada banyak banget seminar. Temanya berkisar tentang peran TIK dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Pembicaranya datang dari berbagai orang yang hidupnya dipermudah oleh TIK. Mulai dari orang-orang yang berbisnis makai internet dan sosial media, fotografer, animator, artis, sampai aktivis. Pokoknya banyak deh.

Waktu lihat daftar acara, saya sampai bingung mau milih yang mana. Banyak yang seru dan jadwalnya di jam yang sama. Berhubung saya memiliki kapasitas otak yang terbatas untuk menerima info, jadi saya memutuskan untuk mengikuti dua seminar tiap hari. Sisa waktunya, saya pakai buat nongkrong-nongkrong dengan kenalan lama dan kenalan baru yang datang dari hampir seluruh Indonesia.

Jadi begini ceritanya, berhubung dalam festival TIK ini ada munas, dari tiap propinsi ada satu perwakilan relawan yang dibiayai. Tapi ternyata banyak juga yang datang pakai biaya sendiri. Keren lo, saya ketemu dengan rombongan dari bangka (belitung) yang jumlahnya mpe 15 orang. Pokonya hore deh tambah kenalan.

Seminar pertama yang saya ikuti judulnya “Perkembangan TIK dan dampaknya bagi masyarakat.” Di sana ada Aswin Sasongko (Dirjen Aptika Keminfo), Wisit Atipayakoom (nama orang Thailand susah ya? Dari International Telecomunication Union) dan Itoc Tochija (walikota Cimahi). Isinya kira-kira pegini: pemakai internet di Indonesia tu besar. Pemakaian internet menyebabkan informasi cepat menyebar dan hal tadi punya dampak baik dan buruk. Ada semacam “kewajiban” bagi pemakai yang lebih tahu untuk mengedukasi orang lain supaya internet lebih banyak manfaatnya.

Habis itu saya ikut seminarnya Pak Onno tentang open BTS. Bahasa gampangnya gini deh: ada pemancar hp yang bisa dibikin sendiri dengan dana murah (jika dibandingkan dengan BTS operator yang harganya 3M maksudnya). Nah, BTS ini memungkinkan hape GSM menelepon tanpa operator seluler. Jadi, gratisan gitu. Acaranya rame, banyak peserta yang penasaran dan tanya-tanya. Pak Onno sendiri orangnya asyik. Dia cerita kalau saat ini masih tetap ngembangin open BTS. Sebelum makai software yang sekarang, dia berkali-kali gagal makai beberapa jenis software. Pak Onno juga pesen di tiap penelitian itu pasti bakal banyak salahnya. Tapi, seorang peneliti harus nyatet kegagalannya supaya bisa ngehasilin produk yang lebih baik.

Hari kedua saya ikut seminar judulnya Itpreneur. Pembicara pertama Bob Merdeka yang beberbagi cerita tentang gimana dulu mulai jualan maicih yang sekarang jadi trademark keripik pedas itu lewat twitter. Awalnya dia cuma punya 100 follower lo. Ada banyak orang yang ngelihat dia sekarang masih muda (umurnya masih 26) dan sukses dengan bisnisnya karena beruntung aja. Kata si Bob engga lo, dia cerita kalau dah mulai usaha sejak umurnya 19 tahun. Dia sempat berkali-kali gagal waktu jualan bermacam-macam produk. Trus ada Blontakpoer yang jualan teh yang promosinya terbantu oleh media sosial. Sekarang, tehnya bisa dijual di Kopitiam dan ekspor.
Ada lagi presentasi Pak Joddy Hernady, EGMnya PT Telkom. Dia cerita tentang berbagai aktivitas PT Telkom di dunia teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Telkom sekarang mengalokasikan sekian persen keuntungannya untuk mendanai industri kreatif. Mereka punya beberapa penghargaan dan fellowship untuk orang-orang yang bergerak di dunia digital. Jadi pengen daftar Indigo fellowship. Itu semacam beasiswa yang nyari ide-ide di dunia digital buat dikembangkan dan kalau layak nanti akan didanai.

Lalu yang terakhir pembicaranya Pak Nukman Luthfi dari Tangan di Atas. Dia dulunya marketingnya detik. Bapak ini cerita kalau dulu susah cari modal untuk perusahaan digital. Dulu, jarang ada perusahaan kecil karena butuh modal besar. Bapak ini ngajakin kita supaya jangan jadi sekedar pemakai internet. Ada banyak pengusaha yang masih muda dan bisa kaya karena memanfaatkan internet. Mulailah memakai internet untuk jadi sumber inspirasi bisnis sampai ke pamasaran.

Setelah itu saya ikut seminar lain. Temanya masih tentang bagaimana memanfaatkan TIK untuk berbisnis. Pembicara pertamanya Eddy Aji Poerwanto. Dia pemilik beberapa usaha yang pemasarannya lewat internet. Sekarang juga kerja sebagai konsultan IT. Bapak ini cerita tentang cara nyari peluang usaha dengan bantuan google dan cara supaya web kita dipercaya sama calon pembeli kalau asli. Trus ada muhammad Yasin yang jualan jasa aqiqah. Dia cerita bagaimana mengoptimasi web supaya muncul di halaman pertama google. Yupz, orang kan sekarang kalau nyari sesuatu pakai google.

Berhubung asyik dan banyak kenalan baru, nggak kerasa, tiba-tiba dah penutupan. Habis magrib kami pulang pakai bus lagi. Sepanjang perjalanan, kami ngobrol kapan bisa ketemuan lagi.

Ps: semua foto di atas dari kamera Wahyu Alam karena saya blum sempat mindah data.

Suatu Hari berkunjung ke Hutan berbatu di Gunungkidul

Beberapa bulan ini, saya bakal sering jalan-jalan di hutan-hutan di Pulau Jawa. Kali ini bukan untuk main, tapi buat kerjaan. Ceritanya, saya sedang nyusun buku tentang pengelolaan hutan oleh masyarakat di Jawa.

Hutan pertama yang saya datangi ada di daerah Ngepohsari, Semanu, Gunungkidul. Berhubung waktu itu sedang ada pelatihan di sana, jadilah saya pergi bersama beberapa teman sekantor. Berhubung waktu itu lagi kehabisan ide muter lagu apa, entah kenapa tiba-tiba kami muter DVDnya Cherrybelle.

Dan, perjalanan diisi dengan ngedengerin info nggak penting banget. Mulai dari bagaimana Cherrybelle terbentuk, apa saja hobi personilnya, trus bagaimana sifat-sifat mereka. Hallooo, kayaknya bumi nggak bakal berhenti deh kalau saya nggak tahu kalau mereka terbentuk tanggal 27 Februari 2011 (tuh kan, mpe apal info nggak banget ini).

Sebenarnya, saya pernah beberapa kali datang ke hutan negara ini. Kalau pas lagi ke sana, kadang disuguhi makanan aneh-aneh. Kaya belalang goreng. Enak sih, cuma dulu pas pertama makan rasanya aneh. Gimana gitu, nelen mahluk yang bentuknya kaya topengnya ksatria baja hitam melotot.

Dulu sih waktu pertama kali lihat lokasi hutannya, saya takjub. Kok ada sih orang yang mau-maunya nanami tanah yang permukaannya batu doang? Apalagi tanah di sana jenisnya lempung yang engga subur. Apa hasilnya sebanding dengan capenya?

Waktu ngobrol-ngobrol dengan petani hutan di sana, cerita mereka seragam. Mereka mau nanami hutan tadi karena nggak punya (mungkin lebih tepat dibilang nggak tahu) alternatif cari nafkah lain.

Dulunya, lahan yang sekarang tertutup oleh pohon jati itu hamparan baru beralang-alang. Petani-petani di sana butuh waktu sekitar dua tahun supaya batu-batu tadi tersusun jadi teras-teras dan ada tanah untuk ditanami. Waktu enam bulan diolah, sebenarnya lahan tadi dah bisa ditanami, cuma hasilnya belum maksimal.

Jadi inget cerita Mbak yang kerja di rumah. Dulu, saya pernah tanya ke Mbak kenapa begitu lulus SMP (malah ada juga yang lulus SD) lalu pada kerja di luar kota. Kebanyakan karena mereka engga punya ketrampilan, biasanya kerja jadi pembantu rumah tangga atau di pabrik. Mereka bilang, kerja di luar, meskipun banyak yang jam kerjanya capek dan digaji rendah, masih lebih mending daripada bertani. Yang tiap hari kepanasan dan harus nyangkul berat. Pantesan, saya sering ketemu orang yang seumuran dengan saya tapi kelihatan jauh lebih tua. Habis, bebannya berat gitu.

Trus kalau tetep tinggal di desa, banyak yang nggak kuat jadi omongan tetangga, karena kelihatan kayak luntang-luntung banget. Dan, tiap kali ada tetangga punya hajat, mereka harus nyumbang. Pendapatan mereka yang engga seberapa dari bertani, habis tiap kali tetangganya nikah, meninggal, atau sunatan. Nggak jarang ada yang sampai ngutang-ngutang segala. Soalnya kalau nggak nyumbang, beritanya bakal nyebar sedesa!

Tiap kali ketemu cerita kaya gini, saya selalu ngerasa beruntung. Saya bisa milih kerjaan apa yang ingin saya lakukan. Engga kaya mereka yang selalu ngerasa: ya, ini memang sudah takdirku. Orangtuaku hidup seperti ini jadi besok paling kerjaanku juga nggak jauh-jauh dari mereka.

Ok, balik ke cerita petani di Ngepohsari. Mereka mau nanami hutan negara karena tanah miliknya terlalu sempit untuk ditanami tanaman pangan. Trus mereka ngerjain tanah di hutan negara dengan sistem yang namanya Hutan kemasyarakatan. Di sini petani dapat hak buat mengelola lahan hutan. Mereka nanemi hutan negara dengan tanaman kayu (kebanyakan jati) dan boleh memanfaatkan sela-sela tanaman jati untuk tanaman palawija. Trus nanti kalau tanaman jatinya dipanen, petani boleh dapat bagian 25%.

Sayangnya, meski petani-petani Hkm sudah punya ijin pengelolaan, mereka masih kesulitan melakukan penjarangan. Jadi ceritanya begini, pohon-pohon jati ini kalau bertambah besar, perlu dikurangi jumlahnya. Supaya nanti pertumbuhannya bisa maksimal. Biasanya yang ditebang pohon yang jelek kayunya. Petani-petani tadi masih harus ngajuin IUPHHK (Ijin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu). Yang rada ribet dokumennya. Bulan Maret 2010, mereka pernah ngajuin ijin ini, tapi ditolak karena kurang dokumen SVLK. Tahun ini, petani di Ngepohsari ngajuin lagi, dan mpe kemarin saya ke sana, belum ada jawaban.