Perpustakaan Keliling di Desa Borobudur

Minggu, 14 Agustus lalu, Javlec Junior punya acara perpustakaan keliling di Desa Borobudur lagi. Kali ini, ada empat orang relawan. Selain saya ada Anta, Natty, dan Daniel yang menemani sekitar lima puluh anak usia SD menggambar, mendongeng, dan melipat kertas.

Senengnya lihat adik-adik di Dusun Ngaran 2 antusias bermain bersama. Entah kenapa, saat menggambar, hampir semua anak menggambar gunung. Mereka baru mengganti menggambar obyek lain saat kami minta. Itu pun mencontek gambar ilustrasi dari buku cerita anak. Ternyata, adik-adik ini ingin bisa menggambar banyak hal, tapi mereka bingung harus mulai dari menggambar apa. Akhirnya, kami janjian supaya tema pertemuan berikutnya piknik sambil belajar menggambar. Sepertinya bakal seru. Ada yang mau jadi relawan mengajar menggambar?

Selain adik-adik usia SD, ada belasan remaja putri dan ibu-ibu bergabung. Mereka asyik membaca buku tentang memasak dan pengetahuan umum. Anta sengaja membawa buku-buku jenis ini karena di pertemuan sebelumnya, beberapa ibu-ibu yang menanyakan buku-buku jenis ini. Ok, kami usahakan di pertemuan selanjutnya ada lebih banyak buku umum supaya ibu-ibu bisa ikutan baca. Ada yang mau nyumbang atau bantu mengumpulkan buku?

Menjelang buka, kelompok-kelompok kecil tadi digabung menjadi satu. Ramai sekali. Sempat ada keributan karena ada seorang anak yang menangis karena diganggu teman-temannya. Sebenarnya, kami menyiapkan beberapa hadiah untuk adik-adik yang berani maju ke depan untuk bercerita tentang gambarnya atau buku yang mereka baca. Berhubung pada belum berani untuk maju kedepan, akhirnya kami membuat pe-er menulis. Adik-adik yang mengumpulkan tulisan waktu pertemuan berikutnya, akan mendapatkan hadiah tadi. Sebelum buka, ada sesi peminjaman buku. Kali ini Romi yang jadi petugas perpusnya.

Kami lalu berbuka bersama dengan makanan yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu dan sumbangan dari Wini dan Indra. Terimakasih πŸ˜€

Sehabis buka, kami diundang makan malam di rumah ibu Eli, salah seorang kader desa. Di sana sudah ada bapak sekretaris desa, ibu anggota BPD dan beberapa orang Kepala Dusun. Intinya, mereka menyambut baik rencana kami untuk membuat perpustakaan. Bahkan, kami ditawari tempat untuk membuat perpustakan yang permanen. Ada ibu yang menawarkan puluhan bukunya untuk dijadikan satu. Lumayanlah, buat nambah koleksi buku.

Mereka malah meminta supaya kegiatan perpustakaannya diadakan tiap minggu. Pengen sih, mungkin nanti kalau ada lebih banyak relawan yang mau membantu atau kalau pemuda yang tinggal di seputaran candi gabung.

Kami juga sempat ngobrol-ngobrol tentang kondisi masyarakat di seputaran Desa Borobudur. Ironis sekali. Masyarakat di sana banyak yang miskin padahal di desa tadi punya obyek wisata yang didatangi 2,7 juta pengunjung pertahunnya. Itung aja berapa duit masuk kalo tiket masuk ke candi buat turis lokal 23 ribu. Dari sekian banyak uang tadi, pengelola candi cuma nyumbang 70 juta setahun ke desa. Trus ada banyak cerita tentang penduduk yang kehilangan tanah tempat mencari nafkahnya pas dulu candi dijadiin tempat wisata. Sekarang juga tanah-tanah penduduk banyak yang berpindah tangan. Karena miskin, banyak penduduk lokal yang ngejual tanahnya saat diiming-imingi uang sama pendatang.

Berhubung sudah kenyang dan sudah malam, kami pulang sekitar jam delapanan. Sampai ketemu bulan depan πŸ™‚

Iklan

Berhari Minggu di Desa Borobudur

Horee… akhirnya perpustakaan keliling di Desa Borobudur mulai jalan juga tanggal 17 Juli kemarin. Saya sempat deg-degan, khawatir jangan-jangan nanti tidak ada anak kecil yang mau bergabung. Bagaimana nanti kalau kami dicuekin? Beberapa waktu sebelumnya, waktu saya menemui beberapa orang tentang niat saya untuk membuat perpustakaan, banyak yang berkata kalau anak-anak di sana tidak suka membaca.

Dari Jogja, kami janjian untuk ketemu jam 1.30 di Terminal Jombor. Sekitar jam 2, ada 8 orang: saya, Kurnia, Hendra, Ika, Tosse, Dedy, Anta, dan Galuh berkumpul. Kami akhirnya naik mobil milik perpustakaan guru bangsa. Kebayang nggak seh, ada 8 orang di satu mobil yang juga penuh dengan rak dan buku-buku?

Kami sempat berputar-putar di Desa Borobudur,gara-gara saya sok tahu dengan lokasinya. Kami akhirnya sampai ke Dusun Ngaran Dua setelah berkali-kali bertanya. Maafkan saya πŸ™‚

Di Dusun Ngaran Dua, kami berhenti di sebuah masjid. Anak-anak kecil mulai berkumpul setelah bapak pengurus masjid mengumumkan ada kegiatan bermain. Dengan bantuan beberapa ibu-ibu, kami pun mulai menggelar tikar di lapangan masjid.
Setelah berkenalan, adik-adik tadi mendengarkan dongeng Hendra tentang Genji Gajah yang sombong. Sumpah deh, ceritanya kadang ngaco. Kami yang mendengarkan di belakang kadang geleng-geleng. Tapi sepertinya adik-adik sangat menikmati. Mereka sering sekali berkomentar dan kadang tertawa terbahak-bahak tiap kali Hendra melucu.

Selesai mendengar cerita, adik-adik tadi dibagi menjadi kelompok membaca dan menggambar. Yang memilih membaca, langsung berlarian ke rak-rak buku dan memilih buku. Yang menggambar, mengantri untuk mendapat kertas gambar dan pinjaman crayon warna. Ada banyak anak kecil yang bergabung. Jumlah total mereka lebih dari empat puluh orang. Nggak nyangka sambutannya ramai juga. Senengnya.

Baru sebentar mereka asyik dengan kegiatan barunya, tiba-tiba hujan turun. Wuaa… tanpa dikomando, adik-adik tadi langsung kabur ke dalam masjid. Kami ber delapan pun kalang kabut mengangkut buku-buku ke dalam.

Adik-adik yang menggambar ditemani oleh Kurnia, kartunis pencipta komik koel. Awalnya, mereka menggambar bebas. Entah kenapa, hampir semuanya menggambar gunung. Waktu saya tanya beberapa anak kenapa memilih objek tadi, rata-rata mereka menjawab: suka. Beberapa anak kemudian mengikuti Kurnia menggambar hewan-hewan. Ada kucing, gajah dan sinpanse. Saking sukanya menggambar, adik-adik ini sampai kehabisan kertas karena mereka lebih dari sekali mebuat gambar!

Yang membaca, juga asyik dengan bukunya. Beberapa bolak-balik ke rak buku untuk menukar buku yang selesai di baca. Banyak yang belum lancar membaca kemudian membaca keras-keras sambil mengeja. Kami membacakan buku untuk adik-adik yang belum bisa membaca. Serunya lagi, ada banyak orangtua yang datang untuk melihat anak-anaknya. Mereka senang ada kegiatan untuk anaknya πŸ™‚

Saking serunya, kami tidak sadar kalau hari sudah terlalu sore. Terpaksa deh acara diakhiri. Sebelum pulang, adik-adik ini meminjam buku. Berhubung buku bawaan kami yang boleh dipinjam jumlahnya terbatas, terpaksa satu anak hanya boleh meminjam satu buku. Banyak anak yang protes. Ya, nanti klo bukunya sudah banyak boleh deh minjam lebih dari satu. Ada yang mau nyumbang buku anak?

Ceritanya, perpustakaan keliling ini bagian dari programnya Javlec Junior. Klo anak-anak di seputaran Borobudur sudah tertarik dengan buku-buku dan kegiatan belajar bareng, nanti akan ada perpustakaan yang permanen.

Perpustakaan Daerah yang Merana

Minggu lalu, saya pergi ke sebuah perpustakaan daerah untuk mendaftarkan beberapa perpustakaan dusun. Saya sempat ngobrol dengan salah seorang petugas perpustakaan. Sebut saja Bapak A.

Bapak A bercerita kalau perpustakaan daerah memiliki banyak kendala yang berkaitan dengan birokrasi. Dalam satu tahun, mereka mendapat anggaran 200 juta untuk membeli buku. Anggaran ini hanya bisa dipakai sekali dalam setahun. Jika ada buku baru, perpustakaan harus menunggu pada saat anggaran turun. Jadi, jangan pernah berharap bisa membaca buku baru di perpustakaan daerah. Pembeliannya pun melalui tender. Sering terjadi, judul buku yang ingin dibeli perpustakaan tidak bisa seluruhnya dipenuhi.

Bapak A bercerita perpustakaan daerah melayani paket peminjaman buku untuk perpustakaan komunitas. Perpustakaan daerah meminjamkan 100 buah buku ke perpustakaan komunitas. Buku-buku ini diputar tiap bulan dengan perpustakaan komunitas di tempat lain.

Saya tertarik dan ingin mendaftarkan perpustakaan dusun dampingan saya untuk paket peminjaman buku. Saya bertanya pada Bapak A, buku seperti apa saja yang bisa dipinjamkan? Bisakah kami meminta buku dengan judul tertentu? Bapak A menjawab tidak bisa. Perpustakaan daerah memiliki SDM terbatas. Mereka tidak punya waktu untuk memilihkan buku. Jadi seratus buku yang akan dipinjamkan tergantung pada stok buku yang ada.

Saat saya bertanya bisakah kami mengajukan jenis buku yang ingin kami pinjam? Bapak A juga berkata, β€œSilakan saja mengajukan. Tapi jangan berharap banyak bisa terpenuhi. Kami tidak punya banyak tenaga untuk itu.” Bapak A kemudian bercerita tentang pegawai-pegawai di perpustakaan. Mereka adalah tipe pegawai negeri yang tidak mengenal sistem imbalan dan hukuman. Bekerja rajin atau malas, gaji yang mereka terima sama saja tiap bulan. Sejak tahun 2007, perpustakaan daerah tersebut berusaha membuat komputerisasi katalog untuk semua koleksi bukunya. Sistem ini nantinya akan mempercepat dan mempermudah proses peminjaman buku. Bapak A pesimis kalau katalogisasi buku bisa selesai tahun 2008. Pegawai perpus dibayar lembur berdasarkan jam bukan pekerjaan yang bisa mereka selesaikan. Jadi sama saja jika dalam satu jam mereka bisa menyelesaikan lima atau duapuluh buku.

Saya kemudian bercerita tentang museum-museum yang pernah saya kunjungi. Banyak yang tidak terawat. Petugasnya pun malas-malasan. Sepertinya karena mereka juga tidak mendapatkan imbalan dan hukuman atas pekerjaannya. Bapak A bercerita jika perpustakaan dan museum adalah sarana umum yang tidak menguntungkan untuk para pengambil kebijakan. Para pengambil kebijakan lebih memilih untuk memberikan porsi besar ke dinas-dinas yang bisa mendatangkan uang bagi mereka jika nanti ada proyek. Bapak A juga berkata, para pengambil kebijakan ini jarang ada yang tertarik dengan dinas-dinas yang mencerdaskan banyak orang. Mereka justru takut kalau nanti semakin banyak orang cerdas, semakin banyak orang yang memprotes kebijakan yang dibuat pejabat.

Kami kemudian mengambil kesimpulan kalau orang Indonesia itu tidak benar-benar religius. Mereka hanya melakukan ibadah dalam bentuk ritual. Kebanyakan orang Indonesia tidak mengenal konsep kerja itu ibadah. Mereka juga tidak ingat suatu saat nanti mereka akan mati dan dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatannya.