Saya Butuh Dokter Bukan Sales Obat

Saya mulai paranoid waktu penglihatan saya kabur selama beberapa hari. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke sebuah klinik mata. Di ruang tunggu, saya hampir pulang karena antriannya panjang. Setelah menunggu sekitar setengah jam, petugas bertanya dokter mana yang saya pilih. Berhubung benci mengantri, saya mengambil dokter dengan antrian pasien “hanya” 20 orang. Dokter jaga lain pasiennya ada yang sampai 70-an orang.

Saya mulai panik saat melihat pasien-pasien dengan mata diperban keluar-masuk ruang periksa. Bagi saya, mata organ yang sangat berharga. Hampir semua hobi dan pekerjaan yang saya lakukan menggunakan mata. Bagaimana kalau nanti ada apa-apa dengan mata saya?

Di ruang tunggu saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu muda. Ia bertanya mata saya kenapa. Dan, ceritanya membuat saya bertambah panik. Sejak setahun lalu, matanya terkena virus. Awalnya, pandangannya hanya kabur dan semakin lama semakin tidak jelas. Katanya, sekarang sudah membaik setelah tiap bulan ia berobat. Ia juga bilang, ada tetangganya yang matanya kena virus dan kabur permanen. Saya cuma diam dan shock. Bagaimana kalau nanti saya benar-benar tidak bisa melihat?

Setelah lebih dari tiga jam menunggu bonus hampir kelaparan, nama saya dipanggil juga. Seorang suster mengecek mata kiri dan kanan saya. Dan, saya disuruh menunggu lagi. Tidak terlalu lama, nama saya dipanggil lagi untuk menemui seorang dokter. Saya berjumpa dengan seorang dokter. Dia bertanya apa keluhan saya. Setelah melihat-lihat kedua mata saya, dokter tadi dengan santainya bilang itu hanya mata kering. Bu dokter kemudian menuliskan resep. Ia baru berkata kalau di mata saya ada luka akibat terkena debu yang menyebabkan air di mata saya tidak merata. Kalimat tadi muncul setelah saya tanya. Total ngobrol kami hanya lima menit.

Di kasir, saya harus mengeluarkan 130 ribu rupiah. Coba tebak, isi resepnya apa? Obat tetes mata dan copy resep. Si apoteker berkata kalau kopi resep tadi bisa dipakai saat membeli tetes mata lain. Saya kan bingung. Saya tidak mendapat info sampai kapan saya boleh membeli dan memakai obat tetes mata yang sama? Bukannya obat tetes mata tidak boleh dipakai terus-menerus? Saya juga tidak tahu bagaimana cara mencegah supaya mata saya kering selain dengan menggunakan obat tetes mata.
Ini entah ke berapa kalinya saya kesal dengan dokter. Bukan sekali dua kali, saya bertemu dokter yang memperlakukan pasiennya tidak manusiawi. Maksudnya, kami ke dokter karena kami ingin tahu apa yang salah dengan badan kami. Sepertinya saya berharap terlalu banyak karena sebagian (besar) dokter yang saya temui sekadar menganggap pasiennya sebagai lahan pencari uang. Saat membuat resep, beberapa yang saya temui tidak memberi tahu apa efek samping dari obat. Mereka juga tidak memberi tahu saya jika ada pilihan obat lain dengan komposisi sama dengan harga lebih murah.

Apa bedanya dengan sales obat? Saya ingin dokter yang punya filosofi seperti dr. Tan Shot Yen. Di bukunya “Saya Ingin Sehat dan Sembuh” ia berkata kalau tugas dokter itu bukan mengobati. Tapi ia menjaga supaya pasien tidak sakit dengan cara mengajarkan cara hidup yang sehat.