Buku yang Membuat Bodoh

Saat berkunjung ke sebuah taman bacaan bersama beberapa rekan, penjaganya bercerita tentang pengunjung yang tidak lagi datang. Bocah SD tersebut dilarang orangtuanya membaca buku selain buku pelajaran. Menurut orangtuanya, buku cerita hanya akan mengganggu konsentrasi belajar si anak. Harus dihilangkan supaya nilainya baik.

Sering mendengar komentar senada tidak? Atau bahkan pernah ada di posisi bocah SD tadi? Saya juga sempat mengalami hal tersebut. Dulu, orangtua saya melarang membaca komik di luar hari libur. Mendekati ujian, orangtua saya bahkan mengancam akan membakar koleksi komik saya kalau saya menyentuhnya. Berhubung dulu tidak ada larangan main ke rumah teman, biasanya saya pergi berjam-jam untuk membaca buku. Dan, ada banyak rekan mengalami kejadian serupa saat kecil.

belajar membaca

Saya jadi ingat waktu menjadi narasumber di sebuah stasiun radio. Seorang pendengar mengeluhkan budaya membaca yang rendah di Indonesia. Ia menyayangkan hal tersebut karena ada banyak pengetahuan tersimpan dalam buku. Saya menjawab wajar saja kalau budaya membaca rendah. Budaya membaca buku terbentuk dari kebiasaan dan harus diupayakan sejak kecil. Membaca tidak harus dimulai dari mengonsumsi buku-buku berat. Saya jadi teringat waktu akhir tahun lalu harus mengakhiri kegiatan membacakan buku di sebuah tempat penitipan anak. Tahu tidak alasannya? Ibu pengawas tempat penitipan anak tersebut menganggap membaca buku tidak ada hubungannnya dengan kurikulum. Bagaimana membaca bisa jadi budaya kalau begitu?

Dahulu, buku-buku awal yang saya baca juga bukan buku bermutu. Kebanyakan komik yang isinya hanya hiburan dan bisa dibilang tidak mendidik. Tapi, hal tersebut membuat saya tahu buku itu menyenangkan. Semakin dewasa, buku bacaan saya berkembang. Saya mulai meninggalkan komik dan berubah membaca novel. Baru akhir-akhir ini saya tertarik segala macam buku mulai dari antropologi, filsafat, psikologi, sampai geografi. Nah, kalau saat masih kecil saja dilarang-larang membaca, mana mau mereka membaca buku yang lebih berat setelah dewasa.

Membaca buku
Kenapa ada pelabelan buku yang boleh dibaca dan tidak untuk anak-anak? Banyak orangtua yang memaksa anak-anaknya menghapal buku pelajaran yang bisa meningkatkan nilai anaknya di sekolahan. Tapi tidak untuk semua buku di luar hal tadi. Sebagian besar orangtua terlalu khawatir tentang masa depan anaknya. Mereka was-was kalau anaknya tidak mendapat sekolah yang baik, saat dewasa mereka tidak akan mendapat pekerjaan yang baik. Yang nanti tidak cukup untuk membayar tagihan dan biaya hidup yang semakin melambung.

Berhubung pendidikan di Indonesia masih menganut sistem menyediakan pekerja untuk industri, ada kasta dalam kurikulum. Hal-hal ilmu komputer, kedokteran, fisika, dan teknik menjadi lebih tinggi daripada seni atau bahasa yang katanya “tidak punya masa depan cerah”. Buntutnya, sekolah kemudian mencetak orang-orang yang tidak peka dengan kondisi lingkungannya. Karena mereka tidak diajar untuk berpikir tentang siapa dirinya. Juga apa yang harus ia lakukan untuk menyikapi lingkungannya.

Iklan