Don’t judge the food by it queue

Di jalan menuju kantor saya, ada warung sate kambing yang ramai sekali. Tiap kali berangkat ke kerja, saya selalu melihat parkiran di depannya penuh sampai ke jalan raya. Saking larisnya, warung itu selalu tutup sebelum jam makan siang.

Suatu hari, saya berangkat ke kantor terlalu pagi (masih jam 8 kurang maksudnya :P). Karena penasaran, saya iseng mampir sarapan di warung sate tersebut.  Saya memesan gule dengan asumsi lebih cepat disajikan daripada sate. Setelah menunggu lama, akhirnya gulai kambing yang saya pesan datang juga. Saya menghabiskan menu tadi dengan agak kecewa. Rasanya tidak sesuai dengan panjang antreannya. Sampai di kantor, saya memulai survei kecil pada teman-teman yang pernah mencoba makan di warung tersebut. Tidak ada satupun yang menyebut kalau masakan di sana enak. Aneh bukan?

Itu bukan kali pertama saya “tertipu” oleh antrean rumah makan. Dulu saya pernah penasaran dengan gudeg di sebuah gang. Saya dan teman saya datang ke warung gudeg tersebut sekitar pukul sebelas malam.  Kami batal makan karena malas melihat antreannya. Pembelinya selain memenuhi gang juga memanjang hingga puluhan meter di jalan raya. Beberapa hari kemudian, saya dan teman lain sengaja datang ke sana pukul delapan malam. Kami pikir, jika datang lebih awal, antreannya masih sedikit. Ternyata, waktu kami datang warungnya malah belum buka. Hanya ada seorang bapak dan ibu yang sedang menyiapkan api dan peralatan makan. Kami pergi ke rumah makan lain untuk makan malam sambil menunggu warung gudeg tadi buka. Saat kami kembali ke tempat tadi sekitar pukul sembilan, antreannya sudah panjang sekali. Karena tidak yakin akan sabar mengantre, kami memilih untuk pulang.

Akhirnya, kami kesampaian makan di sana beberapa hari kemudian. Kami bersama dua orang teman. Kebetulan malam itu hujan baru saja turun. Orang jadi malas datang ke warung lesehan.  Selain becek, atap terpal bongkar pasang warung tidak bisa melindungi pembelinya dari tetesan air hujan. Selain kami, malam itu hanya ada beberapa pembeli. Sehabis makan, saya dan dua orang teman sempat berdiskusi mengenai rasa dan panjangnya antrean saat hari biasa. Kami bertiga memberi rating dua dari empat bintang untuk gudeg itu. Rasanya standar sekali. Ada banyak gudeg lain di Jogja yang jauh lebih enak. Hanya satu orang teman yang berkata  gudeg tadi enak. Sayangnya, teman yang satu ini tidak valid sebagai juri lomba memasak. Ia hanya mengenal dua kategori makanan: enak dan enak sekali. Untuknya, besarnya porsi makanan lebih penting daripada rasanya.

Saya juga pernah penasaran sekali dengan gudeg ceker di depan SMA 1 Solo. Seorang teman yang hobi berwisata kuliner sering bercerita tentang betapa enaknya gudeg tadi. Kalau sedang kurang kerjaan, ia pergi ke Solo malam-malam hanya untuk makan gudeg! Katanya lagi, gudeg tadi hanya buka jam 12 malam dan selalu habis sebelum pukul empat pagi. Gimana nggak ngiler coba? Kebetulan, saya sedang ada acara di Solo. Saya mengajak beberapa teman untuk membuktikan cerita tentang gudeg tadi. Kami sengaja bergadang dan pergi ke tempat tadi waktu tengah malam. Ternyata, warung tadi baru buka sekitar jam satu. Kami lalu menunggu warung tadi buka sambil nongkrong di angkringan depan kampus UNY.

Kami kemudian kembali untuk makan gudek. Rasanya memang enak, tapi saya tidak akan mau lagi bergadang hanya untuk sekadar makan gudeg. Sebelum pulang, saya sempat manyun, di banner warug gudeg tadi ada tulisan: ia punya cabang di jalan dekat hotel. Dan cabang tadi buka jam 7 malam! Males banget nggak seh? Padahal besok kami harus bangun pagi untuk pulang!

Meskipun sering tertipu dengan antrean makanan. Saya tidak pernah kapok iseng berhenti di warung makan yang parkirannya penuh. Entahlah, sepertinya rumah makan yang ramai selalu menggoda untuk dicoba. Beberapa hari yang lalu misalnya, dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berhenti di sebuah warung bakmi jawa hanya karena melihat kursinya penuh pengunjung. Saya lupa, bakmi jawa bukan makanan yang tepat dipesan saat kelaparan. Saya hampir terharu saat seorang pelayan mengantarkan bakmi pesanan saya. Bayangkan! Lebih dari satu jam saya menunggu. Bakmi jawa tadi enak. Rasa telur dan bumbunya sangat menyatu di kuahnya. Tapi yaa… nyiksa nunggunya itu loo.